Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I do not take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning: Alternate Universe, genderbend!FurihataKouki, OOC, OC, simple-fluff, gary-stu, mary-sue, super cliché, fast pace, typo(s), absurd, super-duper crack slight pairing, etc.

.

Jika ada yang tidak Anda suka dari warning yang telah saya cantumkan, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca fanfiksi ini. Terima kasih atas pengertian Anda. :)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Yang membekas dan menjadi seberkas kenangan dalam memori Furihata Kouki, ialah Akashi Seijuurou memeluknya.

Sampai Furihata tersadar kala jemari Akashi lembut menyeka airmatanya, lengan Akashi menjaganya dalam dekapan, dan ia terlalu pilu untuk malu karena Akashi sampai membimbingnya masuk ke mobil. Furihata masih antara percaya dan tak percaya termangu di kursi penumpang.

Sungai yang menganak sepanjang jalanan pulang. Terbentang, bahkan ketika Furihata pikir takkan ada ujungnya.

Sepanjang jalan yang setelah ini terbenam dalam kenangan, Akashi tidak melepaskan genggaman tangan mereka.

Sekadar bersuara untuk bertanya kenapa Akashi yang berjanji untuk segera pulang dan beristirahat, tiba-tiba bisa ada di sana, Furihata pun tak bisa.

Tidak pula Furihata mampu mengucap maaf, berasumsi mungkin Akashi ingin memberikan kejutan manis untuk mengantarnya pulang—mungkin sepanjang jalan akan menggodanya dengan kata lain yang melelehkan hatinya—pada orang tuanya.

Yang ada, hanyalah Furihata, berkubang duka di spot tersudut terminal bus. Bergenang kenang tentang seseorang yang tentu saja bukan Akashi Seijuurou, dalam mobil pria calon suaminya itu.

Tangisnya reda dan telah diseka (baik oleh dirinya maupun Akashi) saat mereka sampai rumah. Hanya wajah sembab dibayang gelap malam yang tidak terjelaskan. Beruntung orang tuanya tidak cukup jeli untuk mengetahui, karena faktor usia menurunkan ketajaman indera mereka.

Akashi bertukar sapa dengan orangtuanya, sementara Furihata melirih terima kasih telah diantar, langsung masuk rumah tanpa menoleh lagi. Furihata menyambut ranjangnya yang dingin—tidak seperti pelukan Akashi—dan bergelung lesu semalaman.

Sayup-sayup deru mobil Akashi menderak aspal, terus menjauh, ditenggak derik jangkrik. Semua itu terdengar sampai kamarnya saat Furihata tengah menengadah ke langit-langit kamar.

Entah ia tidur atau tidak malam itu, yang jelas Furihata mandi di pagi hari dan lidahnya kian kelu menemukan nihil chat ataupun pesan singkat dari pria yang meminangnya.

Mengapa Akashi tidak bertanya apa-apa?

Pelengkap deritanya yang paling akhir, tentu saja ibundanya. Selalu punya cara untuk merusuhi. Mencerca Furihata dengan tanya, menuduh ia bertengkar dengan Akashi. Kata Ibu, Akashi terlihat kecewa dengan ketidaksopanannya langsung melenggang ke dalam rumah.

Mengapa ibunya tidak pernah mencoba menempatkan diri di posisinya?

Ah, percuma saja. Ibu pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Pagi ini, Furihata tetap membalas sapaan yang lain seceria yang ia biasa. Ikut tertawa (kendati kering) tatkala mendengar soal wajahnya yang mengerikan dikomentari karyawati lainnya. Berkantung mata dan amat hitam, benar-benar tidak mencerminkan martabat wanita karir Vorpal Sword sesuai klasifikas tinggi yang dicantumkan.

Persetan penampilan. Sejak kapan orang patah hati diwajibkan memerhatikan atribut yang mereka kenakan?

Hanya Aida dan Momoi yang tidak tertawa, entah kenapa. Furihata membiarkan mereka melempar pandangan tanya, membiarkan ketidakmampuan mereka menanyakan kondisinya.

Furihata sempat merebah setengah badan ke meja. Memikirkan bagaimana ia harus menyapa Akashi pagi ini dan menjelaskan apa yang terjadi nanti.

Matanya berat dan perih, dahinya berdenyut karena konstan terkerut. Entah karena menangis semalam—dan Furihata tidak ingat menangis sedramatis orang patah hati kebanyakan—atau karena tidak tidur semalaman, memikirkan betapa muak dirinya karena membodohi diri selama sepuluh tahun terakhir.

Semalam suntuk, tak ada lagi isak. Hanya yang mengalir tak kunjung berhenti; seperti bodohnya masih menyisakan perasaan terkutuk ini.

Atau mungkin juga muak pada dirinya sendiri karena debar klise, tanda ia telah begitu dalam jatuh cinta, tapi tetap bukan pada seseorang yang seharusnya berhak mendapatkan hatinya.

Furihata tersentak bangun mendengar sapaan santai grup wanita yang bekerja di luar ruang direktur itu, ketika mendengar nama calon suaminya disebut. Balasan sapaan dari suara kasual Akashi. Furihata berdiri saking terkejutnya.

Seketika penyesalan menyergapnya ketika menemukan bukan hanya ada teman-teman sekretariatnya, tapi juga para direktur yang mulai berdatangan—semuanya—kaget memandangnya.

Gerakannya itu mengejutkan semua orang yang ada di sana. Termasuk Akashi yang melebar sekilas matanya, sebelum dalam keahliah yang tak Furihata pahami—bagaimana bisa Akashi tenang saja kendati tidak tahu apa-apa—komposurnya kembali sekharismatik yang biasa.

"Se-selamat pa-pa-pagi." Furihata membungkuk dalam-dalam.

Sepersekian detik mata Akashi terpicing. Namun, dengan mata-mata lain yang mengamati mereka akan asumsi ia seringkali menyiksa semena-mena sekretarisnya ataupun tuduhan tak berdasar Furihata seringkali bertingkah genit padanya, Akashi hanya mengangguk tegas. "Selamat pagi."

"Pagi! Oi, oi, kau tidak apa-apa?"

"Selamat pagi juga, Furihata-san. Wajahmu pucat. Kau baik-baik saja?"

Kalau Kuroko yang observan menyadarinya, Furihata tidak heran. Jika Kagami juga turut menyadarinya, itu berarti kondisi buruknya memang seeksplisit itu di mata orang awam.

Furihata menghela semuanya dengan tawa. Sumbang di telinganya sendiri. "Hahaha. Sepertinya tidak begitu baik."

Asisten presdir Vorpal Sword memplester senyuman terlatih selama bertahun-tahun sebagai seorang sekretaris. "Mungkin ada sesuatu dalam Montblanc yang kemarin kumakan membuatku alergi."

"Montblanc?" Kuroko memiringkan kepala.

Momoi menubruknya keras, seperti anak kecil, lalu nyengir lebar dan mengabaikan omelan Aomine atas tingkahnya itu. "Kue yang enak sekali di kafe baru itu, Kuroko-kun."

"Sayang sekali kau alergi kue enak, Furi. Hidupmu kasihan sekali dikutuk seperti i—ouch!" Kagami meringis tatkala disikut dan dihunjam tatapan menghujat ancaman dari Aida.

Furihata merasa ada sesuatu yang meminjam mulut inosen Kagami untuk membenarkan, mungkin benar hidupnya memang dikutuk seperti itu.

Akan lebih baik dikutuk jadi batu. Mungkin tidak akan lebih mengenaskan seperti perasaan yang membatu pada satu orang saja, tapi dirimu tetap hidup seperti sedia kala.

Wanita jelang kepala tiga itu tersendat, teringat apa yang belum ia lakukan, lantas membiarkan yang lain masih berbincang. Furihata membungkuk dan mengangguk sopan untuk menyelinap masuk ke ruang direktur.

"Eeeh, tidak biasanya ruangan ini gelap sekali," seloroh Kise saat melengang di belakangnya untuk masuk ruangan para direktur.

Midorima membenarkan letak kacamatanya, melirik Furihata lalu berkata, "Lain kali, mana yang pribadi dan pekerjaan harus dapat kaupisahkan."

"Midorimacchi, jangan katakan begitu kalau kau tidak tahu—apalagi tidak pernah—mengalami apa yang tengah dialami Furihata-san," sahut Kise seraya mengikuti langkah panjang direktur dari Shutoku itu ke kantor mereka masing-masing.

Furihata mengangguk meski Midorima tidak melihatnya. Dia tidak marah, malah terkejut menyadari ternyata Midorima mengetahui yang biasanya mengurus ruang kerja utama para direktur adalah dirinya, dan kepekaan bahwa ia tengah ada masalah.

"Jangan memaksakan diri kalau kau sakit," saran Kagami seraya menepuk bahunya—dan Furihata tahu di balik wajah keras tertempa oleh bengisnya hidup pebisnis, tersimpan kebaikan di hatinya.

Kuroko melirik Murasakibara dan Aomine yang masih menguap malas, melengang ke bilik kerja masing-masing, lantas ia tersenyum pada wanita itu yang beranjak hendak menyibak gorden.

Sang bayangan sesungguhnya tidak ingin mencampuri urusan orang, tapi karena ini melibatkan kedua kawan terbaiknya di mana ia melihat melalu entri di inventori CCTV, keduanya pulang bersama suatu malam, Kuroko tidak bisa tidak penasaran.

"Ruangan ini satu-satunya ruangan direktur yang terasa hidup."

Furihata menarik gorden ke bingkai jendeka. Menatapi refleksi di kaca bening, ia tanpa sadar tertawa mengasihani diri sendiri dengan wajahnya yang semuram kelam awan. "Apa maksudmu, Kuroko?"

"Kau selalu menjaga ruangan Akashi-kun dengan baik." Kuroko melirik sekilas Akashi yang masuk dengan sebungkus bunga segar yang semua tahu selalu dibawa sekretarisnya untuk ditaruh di meja, lalu bertapak dalam diam ke mejanya sendiri. "Kalau saja kau tidak dipilih Akashi-kun jadi sekretarismu, aku pasti memilihmu sebagai sekretarisku."

Wanita tersebut sayangnya tidak melihat ketegangan yang membumbung di antara kedua pria yang tengah bertatapan.

Senyum simpul Kuroko dan sengat tajam gelimang manik heterokromik yang lama tidak menyeruak ke rongga mata Akashi, yang lenyap seketika tatkala sekretaris itu berputar menghadap keduanya.

"Terima kasih, Kuroko." Furihata berbaik hati tersenyum untuk salah satu kawannya itu.

Seulas senyum kasual menutupi kepuasan hasil observasinya sendiri, Kuroko menyelinap ke tempat di mana seharusnya ia bekerja.

Akashi melihat Furihata menghampiri bunga yang telah ia taruh di meja, tidak bertanya siapa yang membawakannya, lantas memulai ritual sederhananya itu setiap pagi. Pandangan mereka bertemu, dan Akashi tercekat melihat mata Furihata dilapis tangis bening yang tipis.

Kalau saja bisa—dan yang lain tidak ada—Akashi pasti sudah memeluk wanita itu lagi.

Andaikan Furihata masih tidak keberatan dengan status mereka—ah. Bahkan sebenarnya status mereka masih rancu. Bukan kekasih, bukan tunangan. Hanya sepasang yang sepakat untuk menikah dan berbagi hidup bersama.

"Kalau kau merasa tidak sehat, kau bisa minta izin untuk pulang." Akashi menyarankan, menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat mengacaukan hubungan mereka.

Furihata berdeham, menelan ganjalan janggal di kerongkongannya. "Nanti ga-gajiku dipotong," guraunya parau.

"Konsekuensi." Akashi mengabaikan tatapan ingin tahu di luar yang menguntit—mencurigai—mereka berdua dari balik kaca dengan memeriksa agenda kerjanya hari ini. "Lebih baik daripada kau sakit berhari-hari, hanya karena sehari memaksakan diri."

"Gajiku bi-bisa lebih banyak la-lagi terpotong."

"Benar. Atau kau bisa pulang cepat dan lekas beristirahat."

"A-aku me-mengerti."

Furihata membenahi meja yang dibersihkannya, menjejalkan bunga layu sesayu matanya hari ini ke kantung plastik, lantas membungkuk sekilas pada Akashi dan keluar dari ruangan.

Ini tidak seperti mereka berdua tidak menyadari ada terlalu banyak pasang mata dan telinga mematut mereka dalam perhatian dan menjustifikasi tindak-tanduk keduanya.

Kendati sesungguhnya ada yang teremban dengan penasaran, buncahan ketidakmengertian, dan ada yang begitu berat terbebani harus bercerita.

.

#~**~#

.

A Kuroko no Basket Fanfiction,

.

To be love

.

By: Light of Leviathan

.

#~**~#

.

"Akashi-kun."

Yang dipanggil menoleh dari layar infocus yang tengah menayangkan profil perusahaan pesaing produk mereka pada pemanggilnya. "Ya, Kuroko?"

Kuroko yang baru saja dari toilet terdiam, menimang bagaimana caranya ia harus menyampaikan hal ini, dan benarkah ada keterkaitan eksistensi tertentu itu dengan Akashi Seijuurou.

Melihat para direktur lainnya sedang saling berestimasi tentang profil perusahaan rival mereka untuk menghadapi persaingan pasar bebas Asia, Kuroko memutuskan mendekat untuk memastikan.

"Apa kau yang meminta Furihata-san untuk lembur meski kondisinya seperti itu?"

Mungkin bila yang bertanya bukan Kuroko, pemimpin bayangan di jajaran direksi Vorpal Sword, niscaya akan luput menyaksikan riak inkarakteristik di airmuka CEO Vorpal Sword tersebut.

"Aku malah memintanya untuk pulang cepat—" Perkataannya terhenti sendiri, Akashi membiarkan jawabannya tak terselesaikan karena ia lekas menyusupkan tangan ke saku jasnya untuk mengecek ponselnya.

Tidak ada pesan atau chat dari Furihata.

Akashi bergegas berdiri. Menepuk bahu Kuroko, isyarat dia pamit pergi sesaat, lantas melesap di antara kursi-kursi roda empuk tempat para direktur berkaji situasi serta kondisi di pasaran. Selarut ini, mereka masih saja menekuni potensi lawan bisnis.

Begitu malam melarut dan mayoritas pegawai telah tercerai-berai ke destinasi masing-masing, ruang utama sekaligus ruang kerja presiden direktur itu hanya diterangi dengan lampu temaram oranye kecoklatan di sudut-sudut.

Tetap tidak mengurangi intensitas keawasan sepasang mata Akashi untuk melihat keluar ruang yang telah remang, siluet seorang wanita masih duduk di meja kerja.

Wanita yang terkantuk-kantuk itu kepalanya terantuk ke meja. Mendengar bunyi pintu dibuka, ia menengadah. Wajah lelahnya agak mencerah. "Akashi-san."

Akashi lekas menutup pintu di belakang punggungnya. Dia menghampiri wanita yang tengah menatapnya dengan perubahan ekspresi signifikan. "Kenapa kau masih di sini?"

Pria itu mengejap mata, masih belum paham kenapa wanita itu tetap ada di sana dan bukan langsung pulang beristirahat. Lebih tidak paham lagi karena pertanyaan itu malah membuat ekspresi perempuan di hadapannya mengelam akan kekecewaan.

Furihata kecewa karena Akashi tidak mengerti, dia masih di sini karena menanti Akashi.

"... a-apa kau masih lama? Masih banyak pekerjaan?"Furihata tidak menjawab pertanyaannya.

Akashi melirik ke pintu. "Sebenarnya sudah selesai, tapi kami masih menganalisis Jabberwock."

Akashi mendekati wanita itu, merasa Furihata tidak nyaman karena duduk melengak padanya sementara ia berdiri dan menatapnya dari atas ke bawah, Akashi berlutut dengan satu kaki di hadapannya.

Mengetahui jika bertanya mengapa Furihata tidak menurutinya pasti tidak akan dijawab lagi, dengan pemahaman menyembul dalam dirinya, Akashi bertanya dengan suara halus, "Kau menungguku?"

Senyum Akashi terbit sedikit melihat Furihata mengangguk perlahan. Manis sekali calon istrinya, sayang tertuang terangnya duka di mata Furihata.

Furihata mengulurkan tangan, jemarinya menarik pelan jas di bagian lengan Akashi seraya berbisik, "Pu- ... lang."

Akashi memiringkan kepalanya sedikit, mata menyipit karena suara wanita di hadapannya terlalu lirih. "Apa?"

"Apa ... a-apa kau bisa pulang ..." Furihata nanar menatap calon suaminya, "... bersamaku?" Tarikan napasnya memberat, ia tidak ingin egois di saat seperti ini, karena itulahmengimbuh, "kalau kalian ma-masih lama menganalisis—"

"—kalau masih lama, apa kau akan pulang sendiri naik bus semalam ini?" tanya Akashi—lihai menyembunyikan asumsi yang meresahkannya—sesak ketika Furihata memandangnya sesedih itu.

Keduanya bertatapan selama sekon-sekon bermarathon, dan entah di mana garis finish-nya, Furihata dengan serakan memori dan cara Akashi menatap dengan harap, ia merasakan tangannya yang menyaingi dingin amukan cuaca di luar gedung meremas roknya.

Matanya menyiratkan resolusi. "A-aku akan menunggumu." Kemudian pandangannya menyayu, seperti suara Furihata yang menyendu, "... kita pulang bersama."

Akashi memandang lembut wanita yang selalu membuat asumsinya keliru, bukan pernyataan selalu benar khasnya karena ia tidak merasa wanita ini selalu benar. Tangannya bergerak meraih tangan dingin yang meremas rok, sesaat terpaku merasakan jemari tan ringan itu hampir beku oleh gigitan cuaca.

Akashi memaut Furihata, tatapnya melembut. "Tunggu aku."

Furihata terduduk di situ, tidak tahu perasaan macam apa yang ia rasakan saat ini. Gerit pahit hingga ke gusinya. Derit perih di hatinya yang tidak ternetralisir dengan kehadiran Akashi yang seperti matahari.

Tak seberapa lama Furihata menunggu ekuivalen dengan kenyataan bahwa tidak selamanya dia menunggu, pintu itu terbuka kembali.

Furihata mendongak, menemukan calon suaminya itu menjinjing tas kerja, menyerukan salam duluan pulang pada rekan kerjanya yang masih ada di dalam, kemudian menoleh padanya seraya mengangsurkan anggukan.

Furihata mungkin masih tetap duduk di situ seolah tubuhnya direkati lem untuk tidak berpisah dari kursinya, jika Akashi tidak meraih tangannya untuk bangkit, menyisip jemari mereka dalam genggaman yang membuatnya menggigit bibir dengan mata memanas.

Jika ia adalah dirinya yang biasa, Furihata akan mengelak—karena ini masih di kantor meski sudah begitu sepi. Namun, masih ada kepala-kepala bhineka warna itu di dalam sana, mungkin mata-mata beragam warna pun memata-matai mereka berdua.

Namun genggaman tangan Akashi yang kuat, menariknya untuk bangun seolah menyiratkan tarikan agar keluar dari keterpurukannya, sehingga Furihata membiarkan Akashi menuntunnya.

"A-Akashi-san, itu ... ma-masih ada CCTV."

Furihata tahu kebiasaan Akashi yang mematut dengan sudut-sudut mata. Kerlingan yang membuat Furihata merasa itu bukan karena Akashi tidak mau menatapnya seutuhnya, tapi terasa seperti rahasia yang selama ini Akashi sembunyikan saat memandangnya—rahasia yang kini dibagi dengannya.

(ada pendar sarat makna di mata magenta hanya untuknya.)

"Ruang pantaunya saja ada di dalam ruang Kuroko, dan dia penanggung jawabnya." Akashi hendak menukas geli lagi, tapi batal dengan realisasi yang Furihata maksud. Dia memandang genggaman mereka, lalu pada Furihata.

Jika wanita itu tidak menyukainya, Akashi tidak akan memaksa. Tidak ada yang lebih berat selain melihat mendung merundung airmuka wanita di sisinya, jadi Akashi (tidak berat. Tidak seberat itu, mungkin) perlahan-lahan melepaskan genggamannya.

Kembali seperti kemarin, di mana mereka berdiri menghadap lift, dan hanya punggung tangan mereka bersentuhan tanpa genggaman.

Furihata sadar bibirnya mengering. Dia hendak tertunduk, kecewa dengan tindakan Akashi, hingga matanya tertumbuk pada refleksi mereka di pintu lift dan perasaan yang sama terlihat dari ekspresi calon suaminya.

Bukankah pria ini telah melakukan begitu banyak hal untuk dirinya? Sederhana dan selalu bermakna. Tidak ada yang dilakukan Akashi selain berusaha untuk menjaganya.

Demi pria ini yang bersumpah untuk menjaganya sepenuh hati, Furihata melangkah mendekat, merapat pada seseorang yang tidak ia mengerti mengapa disanggupinya untuk menjadi istrinya.

"A- ... Akashi-san."

Jemari Furihata bergetar menyentuh jari-jari kapalan yang berkedut pelan. Memberanikan diri menggenggam tangan yang selama ini selalu berinisiatif lebih dulu dalam banyak hal untuk dirinya.

Akashi refleks menoleh, tercenung tatkala Furihata menyandarkan dahinya lagi ke punggung lengannya, persis seperti ketika menerima lamarannya beberapa waktu lalu.

"Bi-bisakah kita tidak langsung pu-pulang dulu? A-ada ... yang ingin kubicarakan denganmu. Kalau kau ti-tidak keberatan," bisik Furihata serak.

Lift berdenting tepat ketika suara cakap-cakap melibas senyap.

Sebelum sempat wanita biasa-biasa saja itu melarikan diri lagi darinya karena kemungkinan lonjakan perhatian yang tak perlu dari para interuptor, pria dilingkupi perfeksi itu menariknya masuk ke lift—

"Mana mungkin aku keberatan."

—dan tepat ketika pintu lift tertutup, Akashi Seijuurou menarik Furihata Kouki jatuh ke pelukannya.

.

#~**~#

.

Furihata tidak henti bergerak dalam posisi duduknya.

Gelisah.

Sedari tadi, mungkin seharian ini dia telah berusaha merangkai kata dan cerita untuk calon suaminya itu, tapi ia sama sekali tidak siap. Tidak dengan ingatan bahwa kisahnya akan menyakiti pria di sisinya yang tengah menyetir dengan satu tangan menggenggam tangannya.

Furihata memaling pandang ke samping pada setapak ruang kota yang terpapar di kaca, berkelit—dari Akashi yang ternyata menyadari lirikannya dihindari, pria itu memandangnya dari kaca.

Hanya dari kaca itulah mereka dapat bersitatap.

Furihata memandang ke depan, balas menggenggam tangan yang mengggenggamnya—membuatnya ingin memarahi diri sendiri karena merasa ketergantungan pada pria ini bukanlah hal yang buruk. Kesadaran ini sungguh hanya menambah frustrasi.

Ketika Akashi menepikan mobil di antara jajaran kawasan belanja yang tak pulas walau sudah selarut ini, ia menoleh pada calon istrinya yang membenamkan genggaman dalam balutan jasnya. Senyumnya terbit karena hal ini. Akashi kini mengerti mengapa puluhan pasang kekasih di luar sana juga senang melakukan hal seperti ini.

"Ke-kenapa di sini?"

Furihata terpaksa membalas tatapan langsung Akashi, meski ia masih tidak nyaman jika mereka berpandangan langsung dari mata ke mata.

Pria itu meringankan pandangan pada wanita yang ditatapnya di antara kegelapan dan jilatan lampu kendaraan. "Berikan aku nomor telepon rumah atau orangtuamu."

Furihata mencelos kaget. "U-untuk apa?"

"Kau akan pulang sangat terlambat. Orangtuamu akan mengkhawatirkanmu." Ibujari Akashi bergerak mengelus lekuk pembuluh di balik kulit lunak punggung tangan berjemari lentik.

"Ta-tapi, nanti ... a-apa yang bisa kukatakan pada mereka?"

"Biarkan aku yang bicara pada mereka."

Furihata mengulurkan ponselnya pada Akashi setelah menelusuri barisan kontak, memberikan nomor rumah keluarga dan orangtuanya. Diperhatikannya Akashi dengan satu tangan—karena satu tangan lagi menggamit tangannya—menyentuh kombinasi angka satu per satu lalu menelepon orangtuanya.

Meski sedikit, Furihata tanpa sadar menggigit bibir. Akashi bisa saja melepaskan tangannya dulu, tapi calon suaminya ini tidak melakukannya.

Furihata mendengus pelan tatkala mengamati bagaimana dengan santun Akashi menyapa orang tuanya. Suara nyaris melengking ibu terselip ke hening yang menggelinding dalam mobil Akashi.

Ibunya mana keberatan jika Akashi yang meminta izin untuk mengajaknya makan malam berdua. Soal Ayah, tinggal serahkan pada Ibu untuk membuat Ayah bungkam—mengerahkan segala cara untuk menyogoknya—dan membiarkan Ayah merajuk sendiri kalau memang tidak mengizinkan putri kesayangannya digandeng pria lain.

"Terima kasih," sahut Furihata lembut. Ada sesuatu yang melegakannya, usai Akashi mengucap selamat malam pada ibunya dan tersenyum seolah Akashi sendiri yang berterima kasih karena telah dipercaya menelepon orangtuanya.

Furihata menarik napas dalam, memastikan dirinya telah siap untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi kemarin malam.

Kalau dipikir kembali, sebenarnya cerita atau tidak cerita bukan masalah. Semua sudah berlalu—terlebih dengan perasaan yang harusnya menghilang tersaput habis karena telah luluh-lantak karena kemarin malam.

Karena Furihata Kouki sempurna dilupakan.

Dari sudut terpojok nurani, ia berpikir lebih baik dibenci daripada dilupakan—karena dilupakan berarti lelaki itu tak punya perasaan apa pun padanya. Tidak diingat sedikit pun. Berarti Furihata Kouki bukan individu yang berharga untuk diingat—walau hanya sekedar sebagai teman semasa sekolah.

Ada atau tidaknya perasaan itu, pada akhirnya Furihata telah menerima pria yang sedang menggenggam tangannya ini sebagai orang yang akan berbagi segalanya untuk hidup bersama.

Namun Akashi sebagai seseorang yang kemarin melihatnya seperti itu bahkan menyelamatkan martabatnya—melindunginya dengan memeluknya yang menangis diintai publik, mengantarnya pulang, bahkan tidak menanyakan apa pun—berhak untuk tahu mengapa ia berakhir memilukan di terminal bus seorang diri.

Di sisi lain, menceritakan objek afeksinya yang dan perasaan kandas ini, sementara Akashi adalah seseorang yang mengerahkan seluruh hatinya untuk Furihata miliki, tidak mungkin yang akan ia ceritakan tidak akan menyakiti Akashi.

Terlalu sibuk dengan dilema internalnya, Furihata tidak tahu Akashi telah membawanya ke sebuah cafe elit di salah satu distrik tersibuk Tokyo. Furihata mencelos menyadari letak kafe ini tidak jauh dari cafe yang baru kemarin—masih dalam satu ruas jalan hanya saja posisi kedua kafe beroposisi.

Ironis.

Memarkir mobil di pelataran parkir, Akashi mengerling pada Furihata yang mematung kaku di sampingnya. "Ayo turun."

"Ki-kita mau ke mana?" Furihata tidak ingin merelakan tangan Akashi ditarik kembali ke sisi pemiliknya, ia tercenung di tempat karena Akashi keluar dari mobil tanpa menjawab pertanyaannya.

Akashi berputar, niatnya ingin membukakan pintu penumpang di sisi Furihata, tapi dia menggeleng sekilas—melenyapkan tawanya sendiri—melihat wanita itu buru-buru keluar dengan tangkas dari dalam mobilnya.

Akashi berpikir sejenak, mengingat apa seharusnya wanita biasa lakukan jika memang seperti Furihata Kouki. Mengingat kolega wanita semuanya yang pernah menumpang mobilnya akan duduk manis di kursi sampai kursi penumpang dengan-sangat-gentleman Akashi membukakan pintu untuk mereka, dan mereka akan tersipu semanis kemudian mereka akan mengucap terima kasih yang malu-malu.

Lucu malah ketika Akashi ingin melakukan itu, Furihata malah tidak membiarkannya melakukannya.

Akashi menghela napas, mengempas kekecewaannya begitu saja. Memampang senyum di wajah—walau ia masih tidak sepercaya itu senyumnya masih berefek dihadapkan pada Furihata Kouki. "Aku bilang pada orangtuamu akan mengajakmu makan malam."

"Uhm ... la-lalu? Itu ... bukan cu-cuma alasan?" Furihata mengejap-ngejapkan mata.

Akashi mengernyit alis. "Siapa bilang aku mengajakmu makan malam hanya alasan saja?"

Furihata merapatkan tangan ke rok span yang dikenakan. "Ma-maaf ... uhm ... ki-kita akan makan malam be-berdua saja?"

Akashi dengan sorot mata bercanda mengedarkan pandang ke sekeliling. "Apa ada orang selain kau yang ingin kuajak makan malam sekarang?"

"Uh ... mm ... apa ini kencan?" tanya Furihata gugup.

Ketika mata magenta melebar, seperti bercahaya, merefleksi sistemasi lampu yang terpercik di sana, Furihata tahu kali ini berbanding terbalik dari saat ia selalu mengecewakan Akashi. Rekah merah di sana begitu brillian dan menawan.

"Menurutmu?" Akashi perlahan meraih tangan dingin Furihata yang tergantung lesu di sisi tubuh, jemari menyisip di antara spasi buku-buku jari wanita berambut coklat itu dengan senyum eksplisit di wajahnya.

Jemarinya menyelipkan diri dalam genggaman tangan yang menyebabkan gemuruh di hatinya yang mencuat sejak kemarin malam, mereda perlahan—tapi pasti. "Ta-tapi, soal ke-kemarin—"

"Kalau kau benar-benar yakin sudah mau cerita, ceritakan padaku." Akashi menariknya masuk ke dalam kafe yang mendenting lonceng selamat datang untuk kehadiran mereka. "Kalau belum siap atau kau tidak mau, jangan paksakan dirimu. Toh, sudah jadi masa lalu."

Pelayan ada di sana lekas menyambut mereka dengan ramah-tamah tameng profesionalitas, bergerak hendak membantu mereka—menarik kursi untuk wanita lebih dulu, Akashi menggeleng singkat—penolakan tegas dengan seulas senyum formalitas.

Bila Akashi yang biasa bermain dengan asumsi akan aksi Furihata tapi selalu dipatah terkaannya, kali ini Furihata yang berasumsi akan Akashi—calon suaminya itu yang akan menarikkan kursi untuk ia duduki mengingat Akashi seorang gentleman.

Namun asumsi itu terpecah karena Akashi tidak menarik satu kursi tanpa gestur gentleman seperti yang pelayan dekat meja mereka lakukan. Ringan nian tangannya menarik satu kursi, tangan yang menggenggam tangan Furihata menuntun wanita tersebut untuk duduk.

Akashi membiarkan Furihata memajukan sendiri kursinya. Sementara tanpa melepas genggaman tangan mereka, Akashi duduk di kursi di hadapan wanita itu.

Akashi mengerling lembut tatkala bibir Furihata melengkung lunak—bukan toreh suspense yang menyebabkan gerigi rapi mungil itu menggerit garis bibir—lalu tawa perlahan meleleh dari sela bibir merah muda itu.

"Astaga, Akashi-san ..." Furihata menggeleng kecil.

Airmuka calon istrinya itu menyiratkan geli, pendar redup tanya yang lembut—menanyakan apa yang Akashi inginkan dari semua ini. Sekaligus, siratan tiada keberatan—meskipun masih dicemari ketidakmengertian.

Pelayan teramat sopan menyodorkan daftar menu. Tidak tergubris dengan meja bertelapak satin putih bersih dan kandelir yang Akashi sulut menyala, pelita dalam gulita yang sekarat, menerangi sepasang tangan yang bertautan.

Pastry tuna, air mineral, dan french coffee cream, adalah pesanan Akashi; Chocolate meringue pie dan cinnamon-aple tea, adalah pesanan Furihata. Pelayan berlalu usai mengabsensi pesanan mereka setelah memosisikan peralatan makan di hadapan mereka.

Akashi pikir Furihata akan menarik tangannya karena pelayan itu tetap ada di sana—entah mengebal diri, memang telah kebal, atau memang harus kebal—menanti mereka menyisiri menu dengan iris yang menelusuri baris demi baris, bahkan sampai pelayan itu berlalu pun Furihata tidak menarik tangannya dari tangan Akashi.

"A-apa?"

Furihata mengejap tatkala merasakan belaian halus di jemarinya oleh ibujari Akashi. Gestur lembut sekali yang tidak pernah didapatkannya dari lelaki yang pernah berkencan dengannya, lebih-lebih lagi tidak dari lelaki yang selama ini merampas kunci ruang terprivasi di hati Furihata agar tetap tertutup tanpa bisa didobrak terbuka.

Namun wanita yang di jenjang akhir kepala duanya itu tersadar—atau Akashi kira demikian—dan hendak menarik tangannya yang Akashi tahan untuk digenggam erat.

Akashi membiarkan pelan sensasi anomali mengentak diri akan penolakan seseorang yang akan jadi istrinya, tapi terinterupsi ketika Furihata dengan muram melirih, "Ma-maaf ... ta-tanganku kasar."

Akashi tertegun. "Kenapa minta maaf?"

Pertanyaan itu ganti mencenungkan Furihata.

Jejari berkalus itu mencumbu lekuk pembuluh darah di tangan, tonjolan tulang-belulang, kulit yang tipis dan lunak—jauh lebih lembut dari miliknya sendiri.

Tidak seputih susu ataupun semulus sutra.

Tiada poles kuteks mengampari muka kuku.

Tidak pula tangan ini terlihat terawat oleh meni-pedi atau digosok dengan alat sampai mengilat.

Kukunya tidak panjang seperti kuku perempuan pada umumnya, dan potongan kukunya tanpa model lengkung bulan sabit artistik yang berelegansi tinggi kendati terlihat tetap terpotong rapi.

Jangan tanya mengapa Akashi bisa menyadari semua itu—hanya dari mengenggam tangannya saja. Ringkasnya, tangan Furihata amatlah normal. Tidak kasar seperti lelaki, tidak juga sehalus perempuan yang biasa.

Ironis sekali karena hasrat sang bakal suami itu untuk tidak tersenyum puas, tidak terkekang oleh kendali diri sang emperor menggenggam tangan wanitanya lebih erat.

Jika ada yang berani menuturi bahwa individu dilingkup perfeksi sepertinya wajib bersanding dengan individu ekuivalen dengannya karena itulah definisi sejati sempurnanya sejoli, menyingkirlah dari hadapan Akashi Seijuurou.

"Kau pernah dengar emperor eyes?"

Furihata mengernyitkan alis. Sedari tadi Akashi hanya menatapinya—menelisiknya dengan tangan terus menangkupi tangan miliknya, kini Akashi melontar tanya berdasarkan absurditas rumor yang merembasi pergunjingan publik yang bersangkut-paut tentang diri sendiri.

"U-uhm ... ma-matamu ... uh, semacam kemampuan memprediksi masa depan? Ke-kejelianmu melihat pe-peluang bisnis atau menerka upaya daya saing perusahaan te-tentang kualitas produk agar bersaing dengan rival?"

Kurva tipis singgah di mulutnya. "Entah apa yang semua orang katakan, tapi bagiku, mata ini adalah mata yang bisa melihat apa yang orang lain belum tentu bisa lihat atau seringkali luput melihatnya."

Furihata menatap cemas padanya. "Ja-jadi kau bisa melihat ha-ha-hantu?"

Akashi sempurna menyembunyikan senyum puasnya. Bertanya dengan perhatian, "Apa kau takut hantu?"

"... ti-ti- ... –tidak se-setakut itu." Furihata menggeleng-geleng terlalu cepat. "Ya, la-lalu soal e-emperor eyes?"

Inkoheren menggerung, pipi Furihata pun turut tergembung menyaksikan senyum Akashi bukan karena ditanyai emperor eyes. Tidak usah tanya, raut wajah Akashi saja sudah membuat Furihata mengerti pria ini bahagia sekali mengetahui kelemahan fatalnya.

Furihata membatin, memanjatkan doa dalam hati semoga Akashi tidak membahas fakta bahwa dirinya tidak menyukai hal-hal supranatural, horror, dan menakutkan lainnya. Kalau bisa, mudah-mudahan Akashi tidak sadar dia benci hal-hal menyeramkan.

"Kalau dilihat dengan mata telanjang dan padangan orang awam, bisa jadi mereka akan bilang tanganmu biasa saja—atau bahkan jelek dan kasar seperti yang kaubilang." Tempo belaian pada tangan calon istrinya itu melambat, terhayat akan serat-serat kehidupan terpapar di kulit itu.

Furihata tidak mencelos—atau setidaknya itu yang diusahakan karena pandangan Akashi tidak mengkhianatinya. Ia menanti bagaimana cara Akashi mengutarakan perbedaan dengan emperor eyes-nya itu yang ia tahu tidak akan menyakitinya.

"Mataku ini melihat tangan pekerja keras dari bagaimana aku selalu melihat tangan cekatan ini membawa hasil sortir tumpukan dokumen tiap hari untukku.

"Tangan yang penuh perhatian karena selalu menata bunga segar di ruang kerjaku. Tangan yang baik, tidak membiarkanku dehidrasi dengan memberikan segelas air. Tangan yang hangat, tangan yang menghangatkan tanganku ketika tanganku nyaris beku saat menyetir mobil."

Akashi tersenyum lembut seraya mengeratkan tangan Furihata dalam genggamannya.

"Tapi, jika kau tanya tentang rasa, maka yang sesungguhnya tanganku rasakan: tangan ini adalah tangan yang harus kujaga dalam genggamanku."

Kandelir memberkas bayang-bayang bergoyang ke atas telapak meja. Kepala pelita berdansa dengan satin sebagai panggung sandiwara. Secarik cahaya memercik wajah sepasang pria-wanita yang duduk berhadapan dan bersitatap tanpa menuang suara pada udara.

Furihata tidak serapuh itu untuk terenyuh, tapi ia masih mampu mengulas senyum. "A-apa kau mengatakan ini pada setiap gadis atau wanita yang be-bersama denganmu? Jika iya, ti-tidak mengherankan mereka sangat tergila-gila padamu."

"Aku hanya mengatakan semua itu padamu karena hanya kau yang membuatku merasa seperti itu," jawab Akashi dengan ekspresi bersungguh-sungguh—dan jangan-ragukan-aku-yang-selalu-benar meriaki airmukanya. "Kalau kau bertanya pernah atau tidakkah aku menggandeng tangan perempuan selain kau, itu lain cerita."

"Justru a-aneh kalau kau tidak pernah menggandeng tangan perempuan satu kali pun. Ta-tapi, jangan sampai yang lain mendengar kau mengatakan hal i-itu padaku." Furihata bergidik ngeri "A-aku bisa di-dikebiri."

"Tidak, selama ada aku."

"Kalau tidak?"

"Aku akan mengusahakan aku akan tetap ada."

Akashi tersenyum, hingga matanya turut menyipit karena menyenangi senyum di wajah wanita yang menggenggam erat tangannya. Dia menjatuh tatapan ke genggaman tangan mereka. "Ah, apa kau sadar tanganmu juga adalah tangan yang cantik?"

"Akashi-san, hentikan." Furihata nyaris menelengkupkan wajah ke fabrik satin meja, parau dengan nada hampir merajuk tertuju pada pria yang menyeringai hampir kekanakan di hadapannya.

"Aku memujimu." Akashi menandas tegas, berbanding terbalik dari ekspresi dan pelita kandelir memercik pijar ke mata merahnya tatkala menatapi genggaman tangan mereka. Tidak seharusnya raut kekanakannya bahkan terlihat menawan. "Tanganmu cantik karena kau menggenggam tanganku dan mengajakku pulang."

"Ma-mananya dari hal itu yang bisa diklasifikasikan cantik?" gerung Furihata malu.

"Intensinya." Akashi mengejap menatap Furihata lekat-lekat. Wajah wanita di hadapannya yang lelah, entah cahaya temaram lilin-lilin mungil memerciki pipinya, atau memang ada warna lain (rona) mencicipi pipinya. "Sepertinya, aku salah."

Furihata balas mengejap. Matanya memicing perlahan, berprasangka Akashi tidak jadi berpikiran seperti yang semula dikemukakan. "A-a-akhirnya kau berubah pi-pikiran?"

"Hm. Bukan hanya tangannya yang cantik." Akashi mengelus punggung tangan dalam genggamannya menggunakan ibu jari, pandangannya melembut. "Tapi ..."

Kau.

Furihata menggigit bibir, rasa-rasanya bisa menerawang apa yang hendak Akashi ucapkan dengan ekspresi seperti itu. Dia tidak tahu harus bagaimana bereaksi jika Akashi sempat mengatakannya, karena itulah ia bersyukur tatkala seorang pelayan datang. Begitu sopan menyapa mereka seraya menghidangkan pesanan di meja.

"Seingatku kita makan malam berdua."

Akashi menatap bagaimana wanita di hadapannya berubah ekspresinya hanya dengan sepiring—sepotong kue—yang tersaji, tidak sampai hati mengungkapkan kekecewaan karena genggaman tangan mereka terlepas lantaran calon istrinya bersukacita meraih sendok kecil untuk mengulik kue di depannya.

Mana bisa Akashi egois mengatakan ingin tetap menggenggam tangan Furihata jika yang bersangkutan tersenyum seperti itu.

"Uhm. I-ini cu-cukup untuk makan malamku. A-aku ... sebenarnya sedang tidak terlalu berselera."

"Kaubilang tidak berselera," Akashi mendengus geli dengan betapa berhati-hati wanita di hadapannya itu memotong kue lalu menyuapnya—dan lihatlah ekspresi seakan menapaki nirwana karena citarasa meringue yang dia sesap, "tapi, kau makan selahap itu."

Furihata terkesiap dengan gestur Akashi berikutnya, barulah mengerang—terdengar seperti rengekan yang ingin manja tapi sayang masih ditahan olehnya sendiri—gemas ketika ibu jari Akashi terulur menyeka pelan sudut bibirnya. Jeritan malu berjejalan di pangkal tenggorokannya karena Akashi kasual sekali mengulum segumpal mungil krim yang tadi menodai bibirnya.

"Enak?" Akashi bertanya dengan raut tanpa dosa.

"A-aku yang harusnya tanya begitu." Furihata menangkap tangan Akashi, mengenggamnya di tangan kiri dan meremas gemas tangan calon suaminya.

Akashi mengangguk khidmat. "Kuenya enak."

"Kau ba-bahkan belum mencicipinya." Furihata berhati-hati menyantap kue agar krim kue tidak menodai pulasan lipstick di bibirnya, atau nanti tangan Akashi mampir lagi ke bibirnya. "I-ini lebih enak dari Montblanc ke-kemarin yang kucicipi."

Akashi yang tengah memotong tuna pastry miliknya dengan garpu dan pisau menyahut penuh percaya diri—sembari menekan seringai tersemai di wajahnya, "Itu karena kau makannya denganku, jadi rasanya jauh lebih enak."

Furihata menutup mulutnya yang tengah mengulum sesuap kue dengan satu tangan. Dari matanya saja, Akashi tahu wanita yang memesan chocolate meringue pie itu tengah menahan geli, mengamuflasekannya jadi rotasi bola mata yang terlalu pretentif dan tidak perlu jadi detektif untuk memaknai reaksi Furihata.

Yang Akashi tidak mengerti, adalah ketika mata berpupil mungil melunak padanya dan anggukan lamban sekilas seakan berkata: Iya, Akashi-san, makan malam ini lebih lezat karena kita makan bersama.

Akashi butuh pertolongan, sepertinya. Untuk tidak mencium Furihata sekarang juga. Tuhan, mengapa respons calon istrinya ini yang hanya sederhana malah menggetarkan hati? Mungkin benar, Furihata yang acapkali dilihatnya mudah tergetar juga sama mudahnya menggetarkan hati seseorang.

"Kalau kau mau lagi, pesan saja," ucap Akashi setelah menelan suapan pertamanya—setelah menenangkan diri.

"Uhm." Furihata mengejapkan mata, menyipit, menelan suapan kuenya sendiri dan ternganga karena Akashi mengangkat sepotong puff pastry tuna ke depan mulutnya dengan garpunya sendiri.

Sepotong pastry di ujung garpu lebih dulu mencumbu bibir merah muda yang ingin Akashi cium itu. "Ini juga enak. Cobalah."

Tidak tahan dengan raut tak menuntut tanpa otoritas absolut dan pijar ekspetatif menyala di mata magenta calon suaminya itu, Furihata menyerah pasrah—wajah kian memanas tatkala meraup suapan pertama dari Akashi yang tersenyum puas karenanya.

"Ya Tuhan ..." desah Furihata lelah di sela kunyah, "... kita sudah bukan anak remaja."

Akashi mengangguk dengan wajah tanpa dosa seraya kembali menyantap hidangannya. "Hm. Kita akan menikah." Dia mendongak, bertanya dengan roman tanpa dosa, "Enak?"

"E-enak—bu-bukan itu maksudku." Furihata menyayangkan mengapa kafe tempat mereka berada tidak memasang rambu-rambu anti tebar kemesraan di depan publik atau semacamnya. Tunggu, apa ini termasuk kemesraan yang terjadi antara mereka? Apa pun itu, Furihata hanya ingin melesapkan wajahnya ke kolong meja kalau bisa. "... ma-maksudku—"

Akashi menanti apa yang berusaha Furihata sampaikan. Setelah tiga kali menyuap diri sendiri tapi Furihata masih didera kesulitan tak terjelaskan, dia tergoda menjejalkan sesuap lagi karena bibir itu hanya terbuka-terkatup tanpa melisankan buah pikirnya.

Furihata menggembungkan pipi—entah karena mengunyah atau merajuk padanya, tapi Akashi tahu wanita itu tidak marah. Tidak, karena lebih terlihat seperti kepanikan. Sebenarnya, meski wanita berambut coklat disasak itu tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan, tapi Akashi tahu.

Usia mereka tidak lagi untuk bermesraan seperti ini. Tidak juga ia nyaman dipuji atau diperlakukan demikian oleh Akashi. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena malu dan tidak tahu harus berlaku apa.

Furihata tidak terbiasa, ataupun kalau memang pernah ada lelaki yang menyuapinya, itu berbeda dari yang Akashi lakukan padanya—bisa jadi juga karena Furihata sendiri tidak bisa menyamakan apa yang lelaki lain pernah lakukan persis seperti yang Akashi perlakukan padanya.

Mungkin juga ada semacam mekanisme defensi diri, tidak ingin terlalu berekspetasi agar tidak jatuh terlalu tinggi; mengharapkan perhatian lelaki tercurah hanya untuk wanita biasa saja sepertinya sesungguhnya adalah hal yang tak pasti.

Akashi lekas melugas tegas, "Aku tidak pernah melakukan ini pada perempuan manapun, tidak juga Haha-ue-ku sendiri."

Instan bibir terpoles lipstick peach itu bebas dari liuk merajuk, teriring tangannya menepuk lembut tangan pria di hadapannya. Binarnya melembut. "Te-terima kasih," katanya dengan nada apresiatif.

Yang tidak Akashi pahami, kerut menoreh dahi di antara taburan anakan rambut coklat tersebut. Seolah Akashi hanya mengerti kulit luar—pori-porinya saja dan tidak sampai ke epidermisnya. Ada yang terlewatkan. Kerikuhan Furihata itu Akashi biarkan.

Begitu santapan keduanya habis, Akashi menanyakan apa Furihata ingin pesan potongan kue kedua, tapi wanita itu menggeleng perlahan. Dia berinhalasi dalam-dalam, gugup menanyakan apa Akashi ingin porsi kedua yang lekas dijawab dengan tidak.

Mereka berdua tahu ini yang diam-diam keduanya tunggu.

"Ki-kita a-akan menikah."

Akashi menatap pembuat pernyataan bergetar itu, mempertanyakan keputusan Furihata melalui pandangannya.

"I-iya, a-aku benar menerimamu."

Nah, wanita ini mematahkan asumsi Akashi lagi—bagaimana bisa wanita sekretaris biasa-biasa saja membaca pikirannya, Tuhan.

Furihata meremas jemarinya dalam satu kesatuan tangkupan tangan yang berkeringat dingin. Napas terembus berat. Dia berusaha untuk tidak menggigit bibirnya dan bersikap pengecut kemudian malah batal berkisah.

"A-apa yang mau a-aku bicarakan pa-padamu ... i-ini a-akan menyakitimu, Akashi-san."

"Aku tahu."

Akashi menyesap kopinya seraya bersandar ke kursi. Dia merapatkan bibir, tahu bahwa kata-kata hiburan untuk Furihata di saat seperti ini adalah silabel tabu—karena dia sendiri tidak bisa berasumsi tanpa tahu dirinya sepenuhnya benar tanpa kekeliruan terjadi.

"A-aku menerima la-lamaranmu ... ka-karena aku ... muak pada diriku sendiri."

Sepasang mata magenta melebar.

Hening berdesing di antara mereka.

"Selama ini ..." Furihata bergetar menghirup napas, menghelanya, lantas berujar, "... a-aku menanti seseorang. Dulu, ka-kami teman satu sekolah—"

Kisahnya teralir tak ubahnya alir air yang selalu mengalir dari atas ke bawah, dari hulu ke hilir, dari mata air bermuara sampai ke laut; dari air di mata bermuara ke dagu.

Dari ketika Furihata masih remaja, seorang lelaki dengan senyuman tak terlupakan, pernah menolongnya jatuh dari tangga walau lelaki itu sendiri terjatuh dan menyumpah.

Bangku yang bersebelahan.

Keseharian yang sepele dan tindakan impulsif yang menyentuh hati.

Janji naif untuk duduk bersebelahan lagi.

Sore ketika senja berkemayup syahdu di ruang kelas dalam romantisme klise berbau kayu dan tinta spidol.

Janji lagi untuk masuk universitas yang mana walau tidak berakhir nyata karena sang wanita tidak diterima menuntut ilmu di sana.

Baru ketika ratusan hari berlalu dalam siklus yang tak pernah ragu melangkah bersama waktu, pergunjingan di sekitar, perseteruan orangtua akan dirinya yang selalu menolak pinangan siapa pun, muak pada dirinya sendiri yang malah menanti, hatinya berakhir berdarah-darah menjerit menginginkan perubahan.

Pelampiasan. Kebutuhan akan seseorang yang bisa menjauhkan dirinya dari lelaki itu.

Mulanya Furihata menceritakan, Akashi mendapati kelembutan absolut dan rasa solid yang ternyata ada.

Furihata punya cinta.

Namun tak tertampik, matanya yang memendar cinta itu bukan untuk Akashi.

Furihata mengisahkannya seolah lelaki itu adalah satu-satunya lelaki terbaik yang pernah ada di dunia. Bukan lelaki bajingan yang dipacarinya, tapi yang mencuri hatinya dan tidak bisa mengembalikannya karena memang tidak pernah tahu perasaan Furihata selama ini padanya. Tidak juga walau telah dilupakan dan menyebabkannya terpuruk seorang diri menangis di terminal bus.

Namun Furihata juga merintih, karena mengafirmasi dirinya dilupakan oleh lelaki itu saat tak sengaja bertemu lagi. Lebih pedih lagi karena Furihata selama ini tahu itu akan terjadi tapi tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak berharap bersama lelaki itu.

Furihata muak pada dirinya sendiri.

Tidak, dari lelehan tangis wanita tersebut yang diseka tapi sengguknya tak kunjung reda, Akashi bisa merasakan betapa Furihata membenci dirinya sendiri mengenai perkara ini.

Tentang menunggu sampai batas waktu yang tak pernah ia tahu.

Tentang seseorang yang selalu menyebabkan hatinya terlayang ke awang-awang.

Tentang keidiotannya selama ini yang sempat keliru memilih dan menanti yang tak pasti.

Tentang keputusasaan hingga melibatkan Akashi dengan semua ini.

Tentang benci yang tidak tahu bagaimana caranya akan terkikis pada dirinya sendiri.

Seharusnya Furihata cukup jadi wanita sekretaris biasa. Jatuh cinta pada bosnya. Cintanya terbalaskan. Dia akan menikah dengan bosnya dan segala hal selesai dengan bahagia selamanya.

Bukan merintih mohon maaf pada seorang pria yang belum bisa ia balas cintanya.

Bukan menyedu maaf karena ia dengan impulsif menerima lamaran sang atasan, sementara ada begitu banyak perempuan di luar sana mendambakan posisinya.

Bukan membisikkan maaf karena sadar diri tidak pantas bersanding di sisi pria yang telah berjuang keras atas banyak hal untuknya.

Seumur hidup selalu menjadi pria yang dihadapkan pada wanita menangis, perihal karena Akashi dalam posisi menolak sekeping hati dan rasa yang ditawarkan istimewa hanya untuknya, mungkin ini adalah karma yang dihunjamkan Tuhan pada keangkuhannya.

Atau karmanya karena di suatu masa, menerima rasa tertulus seorang gadis karena ekuivalen dengan perasaannya saat itu, lantas tidak memedulikannya secara frekuentif karena prioritas utamanya saat itu adalah menjadikan Rakuzan perusahaan terdepan.

Karma atau apa pun, Akashi tidak memiliki setitik noda intensi pun untuk merelakan wanita yang menatapnya sesedih dan semenyesakkan itu.

Namun melihat bagaimana Furihata sedemikian ekspresif bercerita tentang lelaki paling impresif dalam hidupnya, tidak mencegah tangannya terkepal kuat dengan rahang mengeras—seperti realita ini adalah implikasi dari kekalahan bahkan tanpa Akashi sempat memperjuangkannya dalam pertandingan.

Belum sempat Akashi meresponskan apa pun untuk wanita yang berurai airmata di hadapannya, bunyi dering ponsel menepis hening yang menindih beratnya atmosfer yang melingkupi mereka.

Pria itu memicing melihat nama siapa yang terpampang di display ponselnya. Berdecak pelan mengetahui peneleponnya bukanlah tipikal orang iseng kesepian tengah malam dan kebetulan menemukan nomor teleponnya untuk dijahili, Akashi berdiri, beranjak pergi untuk menerima telepon masuk di ponselnya.

Furihata tidak bertanya mengapa mengangkat telepon saja tidak bisa di hadapannya, tapi ketika kepalanya tertoleh kuyu, dilihatnya Akashi pergi menjauhinya.

Pria macam apa yang tetap begitu idiot menginginkan bersama wanita yang tidak mencintainya?

Lebih baik bersama seseorang yang mencintaimu daripada terus menanti seseorang yang tidak menaruh rasa apa pun padamu.

Furihata tidak bodoh, karena itulah dia menerima Akashi. Jadi ketika karma berlaku padanya, Akashi tidak bodoh untuk tetap ada di sana dan melakukan hal-hal klise tersebut, tidak menghujaninya dengan janji-janji dan harapan indah yang semu, Furihata menghayati pilihannya untuk tetap berani menyatakan semua realita memedih hati itu padanya.

Tidak mau dihampiri pelayan atau pengunjung yang mulai lirik-lirik takut padanya, Furihata meraih tisu di tasnya untuk mengelap wajah basahnya, meneguk tehnya sampai tak bersisa yang bagai tak terasa apa-apa sembari menatapi kopi Akashi ternyata telah tandas tak bersisa.

Furihata terhuyung lunglai menuju kasir untuk membayar biaya makannya. Tercenung bingung menemukan Akashi telah ada di kasir melunasi biaya makan mereka, berbalik, dan pria itu terkesiap kaget melihatnya telah ada di sana.

Lengan Akashi terulur untuk merangkul bahu rapuh wanita yang memelankan sedu-sedan—tapi airmatanya mengalir lebih masif. Menuntun Furihata berjalan berjalan beriringan keluar dari kafe tersebut—mengabaikan ucapan sopan untuk datang kembali serta beberapa pegawai dan pengunjung tercenung bingung sebab melihat sembab di wajah wanita itu.

Mereka terus berjalan sampai ke mobil. Furihata merasakan pria di sisinya itu ternyata memiliki hand-manner—sejajar dengan juluk gentleman-nya, meletakkan tangan tidak di bahunya melainkan punggung lengannya, menepuk-nepuk pelan di sana.

Mobil-mobil yang berpacu melaju di jalur-jalur berdebu. Tumpahan cahaya-cahaya kota yang benderang menerjang malam. Lalu-lalang orang yang telah lengang di jalan setapak dan cahaya lampu lalu lintas membuyar.

Ironi ketika dunia begitu bising sementara ruang pendengaran Furihata hanya ditangkupi hening. Panorama malam memburam dalam ruang pandangnya.

Furihata hendak meremas tisu dalam genggamannya, menunduk serupa pungguk yang ditakluk cahaya pasi bulan, dirinya tersendat manakala lengan yang melingkari pundaknya itu menekannya, meraupnya dalam pelukan hingga wajah memalukan dan memilukannya terlabuh antara leher jenjang dan bahu Akashi.

Furihata menggigit bibir dengan kedekatan ekstrim ini—dan wangi lelaki sejati yang merasuki indera penciumannya. Gentleman mana yang tidak mengucap permisi ketika memeluk seorang perempuan. Namun ia tidak bisa menyangkal bahwa yang Akashi lakukan sesungguhnya menenangkannya.

Furihata mendelusuk pada ceruk leher Akashi. Ketika merasakan garis rahang dan pipi pria yang memeluknya bersandar di sisi kepalanya, menggesek pelan helai rambut coklat dijepit sasakannya, tangannya yang bergetar hebat terangkat meremas jas yang Akashi kenakan.

Itu adalah tanda wanita ini memutuskan untuk (walau baru sedikit saja) bergantung pada pria yang menjadikan dirinya tempat bersandar dan menopang eksistensi yang terlalu lama tenggelam, terdekam perasaan terpendam.

Kala itu, Furihata berdoa supaya momentum ini tidak menjadikannya objek yang patut dilayangkan ultimatum karena telah mendapatkan hak veeto, mutlak tidak dapat diganggu-gugat, sebagai seseorang yang Akashi Seijuurou inginkan untuk diposesi dalam dekapannya—semoga tidak ada sesiapa yang melihatnya hingga menimbulkan kontroversi.

Mendapati kenyataan pria yang kini mengelusi punggung lengannya dengan gestur afektif itu masih berbincang, artikulasi bahasa asing yang fasih dan intonasi yang tenang—seolah ia tidak sedang memeluk seorang wanita menangis dan harus menenangkannya, Furihata membiarkan tenor melodis itu bersuara sedemikian dekat di telinganya—membelainya, kendati ia tahu Akashi tidak sedang menghiburnya.

Tidak, Akashi memang sedang menghiburnya. Furihata terenyuh merasakan kecupan pelan nan penuh perasaan di puncak kepalanya. Ia menggigit bibir, dan memutuskan untuk melingkarkan lengan di tubuh Akashi.

Selama Akashi terlibat konversasi dengan lawan bicaranya, sekali ini Furihata mengizinkan dirinya sendiri untuk tidak menjadi eksistensi mandiri. Tidak sadar mengapa airmatanya cepat sekali meresap ke mantel Akashi hingga tak bersisa, dan tak mengerti mengapa ia masih betah bersandar pada Akashi.

Furihata tersentak pelan tatkala pria yang kemudian selesai menelepon itu tidak lantas melepasnya, menyimpan ponsel di saku jas, malah tangannya yang satu lagi melingkar, mengeratkan pelukan di tubuhnya.

Wanita yang pulasan make-up-nya diluntur tangis itu terpaksa merelakan dirinya tidak lagi berlindung dalam dekapan pemeluknya, ketika ia mengintip sedikit ekspresi Akashi tatkala merasakan hembusan berat terhempas ke ubun-ubunnya.

"Siapa yang telepon?" tanya Furihata parau.

"Nijimura-san." Satu tangan pria itu terangkat mengusap-usap garis punggung mungil wanita dalam dekapannya.

"A-ada masalah?" Furihata bergerak untuk menegakkan kepalanya.

"Hmm." Akashi menghela napas panjang melihat wajah Furihata. "Masalah dengan tim eksportir kita yang tidak boleh transit di salah satu rute pelabuhan singgah. Padahal kontainer produk Vorpal Sword harus segera sampai Swiss karena sudah ditunggu stakeholder."

Furihata menatapnya cemas. "Ke-kenapa tidak bo-boleh transit?"

Akashi berdecak pelan. "Masalah birokrasi perizinan. Orang Eropa cenderung skeptis dengan bangsa Asia. Nijimura-san bilang dicurigai adanya penyelundupan barang ilegal atau hal-hal delutif lain yang dituduhkan, sehingga kontainer kita ditahan di pelabuhan. Kalau dibiarkan saja, kita harus bayar kompensasi ke stakeholder sesuai yang tertera di MOU."

Akashi yang semula memandang jalan raya seakan menyalahkan mengapa kendaraan melaju seperti di jalan bebas hambatan—akselarasi mulus tanpa batas—tidak seperti aral melintang yang menghadangnya, beralih menatap wanita berwajah sembab dalam pelukannya ketika dirasakannya tangan berjemari ramping itu menepuk punggungnya.

Sepasang biner magenta menyendu memandangnya. "Maaf, aku malah membicarakan hal ini."

Furihata menggeleng lamat. "Aku me-mengerti. Ini masalah genting." –dan kita bukan anak remaja yang dapat setiap saat terlarut dalam labilitas emosi dengan menangguh kejam hunjam pedang realita. Dia tahu Akashi memahami apa yang tidak dilisankannya. "Jadi ... a-apa yang a-akan kaulakukan?"

"Mengabari jajaran kepala direksi malam ini." Akashi mengangkat tangannya untuk mengaburkan jejak linangan melankolia di pipi Furihata. "Besok pagi, tolong siapkan ruang rapat."

"Uhm. Akan kusiapkan." Furihata mengangguk, terkejut dengan gestur lembut calon suaminya menyeka airmatanya. Menyadari kemeja dan jas Akashi basah karenanya, dia memfungsikan tisunya untuk menyerap basah yang teresap di fabrik pakaian calon suaminya.

"Maafkan aku," lirihnya. Gugup dengan kedekatan mereka, tanpa sadar ia mengulum bibir dan matanya berpendar khawatir pada Akashi.

Tidak adil. Akashi memerhatikan Furihata menyeka tangis yang tumpah di bajunya. Menyadari hal ini, pria yang pakaiannya dibasahi itu malah tertawa perlahan. Sangat perlahan, seumpamanya gaya bermain shogi, menyandarkan dahi pada kening Furihata dan matanya merambat turun ke garis bibir merah muda yang mungkin semanis sakura—oh, Tuhan. Tolong.

Furihata berjengit kaget, menemukan Akashi ditumpah cahaya dari lampu jalan dan pelataran parkir. Dilihat lebih dekat betapa merah mata Akashi yang menari di relief wajahnya, hinggap ke—oh, Furihata sesak napas menyadari mata itu menatap ke mana. Jantung berdegup hebat saat Furihata menghirup wangi kopi adiktif dari helaan napas Akashi tepat di wajahnya.

"A- ... kashi-san?"

"Minta maaflah, kalau kau tidak menangis selain di pelukanku."

Furihata panas dingin dengan kesadaran suara rendah Akashi seharusnya tak terdengar sejelas ini daripada ingar-bingar di sekitar mereka. Ia mengerti, Akashi bicara begini bukan karena marah jasnya basah. Dia mengangguk lamat-lamat.

Akashi berdeham, memundurkan kepalanya. Ia punya kendali lebih baik untuk tidak menakuti Furihata yang hampir mengisut malu dalam pelukannya. Wanita kadang sulit mengerti keposesifan pria, dan ia tidak akan bertanya apa Furihata mengerti maksudnya atau tidak.

Untuk merilekskan Furihata—yang ia khawatirkan dirinya terlalu memaksakan kedekatan mereka—Akashi membelai rambut coklatnya dengan lembut. "Kuantar kaupulang, Furihata-san."

Akhirnya mereka masuk mobil, karena temperatur terperosok ke titik beku menerror badan mereka yang tidak kebal terhadap rajukan cuaca.

Begitu mobil dilajukan menggelindingi badan-badan jalan yang terbentang, Akashi mengerling halus wanita yang meraih satu tangannya—menggenggam erat tangannya yang dingin dengan kedua tangannya—menghangatkannya.

Furihata masih menggigit bibir, dan mengingat tatapan Akashi barusan hanya menggoyah kestabilan detak jantungnya. Akashi yang diam saja dan tidak mengajaknya bicara, benar-benar meresahkannya.

Maka wanita ini yang berinisiatif mengeluhkan kemungkinan ibunya yang akan mencecari pertanyaan tentang makan malam mereka tadi, tidak tahu bagaimana harus menceritakan yang sebenarnya terjadi. Tergerung keluh bahwa ibunya mustahil percaya kendati Furihata benar-benar jujur.

"Rahasiakan saja."

"A-aku bisa diuber ke ujung dunia sampai cerita."

"Ceritakan, kalau begitu."

"Ma-mana mungkin, ka-kalau tahu a-aku menangis ka-karena ... uh, soal dia—a-aku bahkan tidak pernah cerita te-tentang orang itu padanya. Bisa habis aku di-digoda olehnya ka-kalau tahu setelah itu kau—"

Akashi mengerling, tak kuasa lagi membendung terbit senyumnya karena tak luput mendapati sipu menyepuh pipi wanita di sisinya. Akhirnya.

"Aku tidak tahu akan jadi lebih baik atau tidak untukmu, tapi kalau kau tidak ingin, jangan ceritakan."

Furihata terkesiap. Khawatir karena takut Akashi tersinggung dengan keluhannya—mungkin merasa Furihata tidak mengakui tindakan yang telah Akashi lakukan untuknya, dia menatap sisi kanan wajah pria itu yang ternyata tengah meliriknya.

"Jadikan saja ini rahasia antara kita berdua."

Furihata sejenak tercengang dengan saran yang diajukan itu, menatap Akashi tanpa mengejap, keduanya beberapa saat dilingkup senyap.

Itu semacam pernyataan yang romantis, jika respons Furihata tidak mengacaukannya.

"Te-termasuk ... ba-bagian a-aku berhutang padamu u-untuk makan malam tadi?"

Cetusan polos itu meletupkan tawa halus pria yang dilontari pertanyaan inosen tersebut.

"Kau tidak berhutang. Aku yang membayarkan untukmu. Dan soal ini juga mungkin perlu dirahasiakan."

"Ja- ... jangan. Uh, berapa ta-tadi harga pesananku?" Furihata melepas satu tangannya dari tangkupannya pada tangan Akashi, wanita itu meraih tasnya untuk membayar jatah makannya sendiri.

Akashi menggeleng sekilas—tidak percaya dengan wanita di sisinya. Dia kilat memutar nalar, mencari cara agar wanita itu tidak menjejalkan uang yang tidak seberapa padanya.

Apalah arti uang ketika Akashi bisa memeluknya erat-erat begitu lama dan dipercaya untuk menyeka airmata wanita itu.

Akhirnya diizinkan menjadi tempatnya bersandar dan bergantung—tentu hal ini tidak akan Akashi ungkapkan karena tahu dengan pasti Furihata sebenarnya terlalu mandiri untuk diperlakukan demikian.

Dan yang paling utama, Akashi tidak mau menyayat martabat wanita yang terjebak cinta masa lalu itu dengan kebaikannya.

"Aku yang mengajakmu makan malam, jadi sudah sewajarnya aku yang bayar." Melihat wanita itu tetap berkutik mencari dompet dengan satu tangan, Akashi kembali berujar lebih tegas, "kalau kau tetap ingin bayar, berarti aku juga harus membayar uangmu membelikan bunga untuk ruang kerjaku setiap hari, semua; komulatif."

Furihata refleks membanting pandang ke samping—padanya. "A-aku senang melakukannya, i-itu tidak dipungut biaya. Kau tidak perlu menggantinya!" pekiknya panik.

"Kalau kau ingin adil, berarti jangan ganti uangku juga. Kita tidak perlu saling berhitung," pungkas Akashi tenang—tahu benar dirinya pasti menang.

Ceruk matanya dikerut-merut tanda tidak setuju, tapi Furihata tidak dapat berargumen membantah Akashi—tidak ketika pria tersebut menandas tegas dengan otoritas dalam suaranya. Absolut tidak mau disanggah.

Karena itulah Furihata pasrah, lalu berkata perlahan, "Terima kasih."

"Terima kasih juga untuk pengertianmu dan terima kasih karena sudah mengganti bunga di vas ruang kerjaku setiap pagi," tanggap Akashi—senyumnya terentang sekian inci lebih lebar tatkala tangan Furihata yang tadi hendak menyambar dompet kembali menggenggam tangannya.

Tidak ada yang berhak melarang Akashi merasa senang dengan kenyataan Furihata mengenggam tangannya lagi.

"Kenapa tidak beli bunga artifisial saja agar tidak menyusahkanmu menggantinya tiap pagi?"

"Bunga plastik ti-tidak wangi." Furihata kikuk dengan apresiasi santun pria yang ada di sisinya—dan berpikir bagaimana bisa lelaki ini menginginkan dirinya yang hanya seperti ini saja.

"Tapi, setiap hari layu. Menyia-nyiakan uangmu."

"Setiap hari memang layu, ta-tapi aku tidak merasa uang itu tersia-sia. Bunga segar setiap hari warnanya berganti-ganti dan wangi, tidak seperti replika bunga."

"Apa kau sebegitunya suka bunga?"

"Uh, tidak juga, ta-tapi aku cukup suka bunga."

"Kau benar-benar tidak keberatan membeli dan mengganti bunga di ruang kerjaku setiap hari?"

"Tidak, malah menyenangkan. Mungkin karena aku terbiasa merawat bonsai."

"Aku juga senang tiap pagi datang ke kantor dan bertanya-tanya warna serta wangi bunga apalagi yang akan kausiapkan untuk ruang kerjaku."

"... a-aku baru tahu ... kau berpikir seperti itu."

"Maaf karena aku bertanya hal ini, tapi ... apa kau melakukan hal ini juga untuk mantan kekasihmu atau lelaki itu?"

Akashi bisa tahu jika seseorang berbohong padanya dari bahasa tubuh yang coba-coba mengelabuinya bahkan tanpa emperor eyes sekalipun. Namun sorot mata, ekspresi, dan gelengan kepala wanita yang ditanyainya itu tidak merefleksikan hal selain kejujuran kendati nihil semburat merah muda manis di pipinya.

"Me-mereka, kan ... tidak pernah ja-jadi atasanku."

Furihata kini mulai memahami ketika Akashi tertawa, itu tidak berarti menertawakannya, melainkan ada sesuatu yang kadang dirinya lakukan atau cetuskan—dan mungkin tidak tercakup dalam asumsi Akashi—benar-benar di luar dugaan pria itu. Bukan meremehkan, melainkan terhibur karenanya.

Tawa seseorang yang langka—lantaran jarang—tertawa, sama sekali tidak bisa dibenci, pikir Furihata seraya menatap Akashi yang hanya tertawa sekilas. Ironis, karena hal sesederhana ini saja dapat menenangkannya.

Furihata tidak tahu bagaimana bisa Akashi hafal rute jalan menuju rumahnya padahal dulu hanya sekali ia pernah memberitahu.

Entah mereka telah sampai di mana, Furihata menyadari airmuka Akashi berubah ketika kesunyian ini tidak terasa seperti atmosfer asing yang membaluri mereka. Kesunyian yang Furihata tahu berintensi untuk Akashi pecahkan akan problema yang belum mencapai resolusi.

"Furihata-san."

"I-iya?"

"Sebenarnya—tadi aku ingin bilang jika tidak ada telepon genting barusan, aku tidak pernah dilupakan." Akashi melayangkan usapan dengan ibujarinya pada punggung tangan Furihata. "Jadi, maaf karena aku tidak memahami perasaanmu."

"..."

"Aku tidak mengerti mengapa kau membenci dirimu sendiri."

"..."

"Aku juga tidak bisa bilang kau bodoh atau idiot karena menanti sekian lama dan berakhir dilupakan, karena aku tidak pernah mengalaminya. Seringkali, perasaan tidak berbanding lurus dengan logika, dan aku tidak layak dalam posisi untuk menilai tentang yang kau alami."

Furihata mengembus, uap hangatnya berseteru dengan deru air conditioner—dan akhirnya terlebur jadi satu. Panjang dan berat. Lakrimal matanya berkedut perlahan sehingga ia menggigit bibirnya, tidak mengerti mengapa kekecewaan menyayat hatinya dalam hantaman pemahaman Akashi ternyata justru menjadi orang yang tidak bisa mengerti perasaannya.

"Hanya saja—"

Jeda yang dikungkung ragu.

Jeda berdepa yang menghentak dada.

"—aku tidak mau melihatmu sedih," volume suara yang merendah—hampir serak, "tidak lagi."

Furihata menengok hampir robotik sampai rasanya setiap rangka nyaris berderik, menoleh pada Akashi yang mencengkeram ban setir. Akashi membuang pandang ke hamparan aspal abu-abu tanpa melirik sedikitpun padanya.

"Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa pulih. Aku tidak bisa menjamin kau akan sepenuhnya mampu melupakannya bahkan jika kau bersamaku, tidak juga aku bisa menjamin jika kau hidup denganku hidupmu tidak akan pernah menderita dan bersedih—tidak mungkin realita sebaik itu."

Furihata tidak sadar ia terhenyak memandangi Akashi.

"Tapi, kalau ada sesuatu hal yang bisa kulakukan sehingga kau bisa tersenyum," Akashi tidak menatap Furihata, remasan tangannya menyampaikan makna yang tak terlisankan, "beritahu aku."

Pernyataan itu terlalu berlebihan untuk wanita sebodoh dirinya.

Sebulir airmata meleleh, tergelincir dari wajah Furihatan memercik tautan tangan mereka sehingga Akashi yang terkejut karena tangannya basah dirintik entah apa lekas menoleh padanya.

"Kenapa?" tanya Furihata pilu, "Aku ... bahkan tidak bisa melakukan apa-apa untukmu."

"Aku yang harusnya bertanya begitu."

Satu tangan sang pria menyelinap dari genggaman lemah calon istrinya, mengusap pipi yang basah kembali.

Akashi bertanya, volume suara merendah—setengah termenung. "Kenapa kau membuatku melakukan semua ini untukmu padahal kau tidak memberikan apa-apa padaku?"

"..."

"..."

"A-aku ... aku tidak tahu." Furihata menangkup tangan Akashi yang masih mengusapi pipinya, meremasnya kembali dalam genggaman.

Akashi menyendu menatapnya—memahami wanita itu pun tidak akan mengerti seberapa berarti mendapati tangan mereka bertautan dalam dekapan Furihata.

"Begitu pun aku," Akashi menjeda sebentar. Mengerling ke samping, tersenyum tipis. "Tapi ... seperti ini saja, apa itu buruk?"

Jika bukan karena Akashi masih mengendarai mobil, kalau bukan karena kewarasan dan sayangnya agar tak menakuti Furihata lagi, di antara kegelapan yang memaluti ruang lingkup dalam mobil yang terang untuk Akashi kerling ialah mata sienna sebening embun pagi, dan Furihata memeluk erat tangannya—

.

.

"Ti- ... tidak sama sekali, Akashi-san."

.

.

—mungkin Akashi tidak akan membiarkan bibir Furihata terkurva sederhana begitu saja, tanpa bisa mencium senyum itu sepenuh hatinya.

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Catatan tambahan:

Shisen o awasu: tatapan dari mata ke mata. Bagi kebanyakan orang Jepang, itu bukan menggoda, sikap ini lebih sering diartikan pelecehan atau dapat menimbulkan rasa malu atau tidak nyaman.

Ketika baru saja menjadi pasangan, pria Jepang akan mengajak pacarnya untuk kencan pertama di sebuah restoran mewah untuk membuat wanitanya terkesan—"Lelaki wajib mentraktir perempuan" tidak tercakup dalam budaya mereka.

Walaupun pada umumnya lelaki Jepang tidak suka tebar kemesraan di depan umum, dengan perubahan signifikan selama sedekade terakhir, di kota-kota besar Jepang seperti di Tokyo, Yokohama, Kobe, dll, tidak aneh lagi pasangan menunjukkan kasih sayang dan perhatian di tempat umum. (ya, setting fic ini, kantor Vorpal Sword itu di Tokyo.)

Karakteristik lain khas mayoritas pria Jepang, kalau baik padanya, dia akan berkali-kali lipat lebih baik padamu. Misalkan, perempuan memberinya satu bunga. Dia akan balas dengan "seribu" bunga untuk perempuan itu.

Tte, seperti kebanyakan pria di dunia, kalau sudah bertekad mendapatkan hati perempuan, segala hal bisa dilakukan. Tapi, pria Jepang kebanyakan cenderung sangat menjaga perasaan perempuan.

Sumber:

1). (/) mengintip – gaya – pacaran – orang Jepang (/)

2). garing 2014 garing 08 garing 01 garing ala – jepang – flirting – pacaran –dan – percintaan (/)

GULAAA. *boboan* Ini perasaan saya aja atau memang nulis fic straight itu lebih mudah. Atau mudah karena ini berasa plotless.*merenung* Kapan saya bisa maju kalau bikin fic nyantai begini terus-menerus. *kubur diri* Dan saya minta maaf banget untuk ke-OOC-an tiada tara di fic ini. *sungkem*

Tidak bosan-bosan saya sampaikan, tolong tidak menunggu update-an.

.

.

See you very sweet latte, my dear RnR~

.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan a.k.a LoL