Naruto milik Masashi Kishimoto

Fanfic creator : Esmeraldat Foxburre

Pairing : MadaxSaku

Eps 2

"Maksud sensei? Sensei menyukai seorang wanita!" Tanya dirinya yang terlihat ingin tahu dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.

"Akh, tidak tidak begitu." ucap ku kikuk.

"Ayolah beritahu saja aku, mungkin aku bisa membantu mu." tawarnya dengan senang hati. Sepertinya dia terlihat senang ketika sensei yang ada di depan matanya ini punya seorang kekasih. Akh aku tidak tahu, jika dia tahu kalau aku suka dengan dirinya. Mungkin aku bisa di bunuh oleh semua orang dengan tatapan kebencian.

"Itu, Itu rahasia. Tapi rasanya seperti kejahatan jika aku menyukai seorang wanita yang jauh lebih muda dari ku."

"Memangnya berapa tahun perbadaan mu dengannya?" Tanya Sakura pada ku.

"Aku tidak ingin menjawab. Lalu kau sendiri, bagaimana perasaan mu jika di sukai oleh orang yang lebih tua dari mu?" Tanya ku sambil meliriknya. Sakura terlihat berpikir.

"Kalau aku, mmm tidak masalah. Asalkan dia tidak terlalu tua untuk ku." Jawabnya dengan yakin pada ku. lalu aku mulai melangkah mendekati dirinya dan berdiri di depannya.

"Jika orang itu berusia seperti diri ku bagaimana? Apa kau suka?" Tanya ku dengan sangat serius, hingga membuat dirinya terdiam di depan ku. Tapi yang mengejutkan pun datang melewati kaki Sakura, yaitu Tikus putih yang baru saja hadir di ruang UKS.

GYAAAAA TIKUS!

Sakura pun teriak dan loncat ke arah ku, aku pun menangkapnya. Hanya saja kaki ku terpeleset di keset yang aku injak, ketika Sakura ku tungkap aku pun terdorong oleh beban yang di berikan olehnya dan kami berdua terjatuh kelantai dan entah bagaimana caranya bibirnya hinggap di bibir ku dan kami berdua sama-sama terkejut.

"Ma, maaf!" Sakura langsung bangun dan lari keluar dari ruang UKS dengan wajah blusing. Sementara aku hanya terbengong di tempat dan berpikir apa yang baru saja terjadi?! PADA DIRI KU!

'Akh! Madara! Apa yang baru saja terjadi!' Teriak hati ku

Di dalam ruang guru aku menyembunyikan wajah ku di lipatan kedua tangan di atas meja. Saat ini wajah ku terlihat merona merah. Aku tidak ingin siapa pun di ruangan ini melihat wajah ku yang terbakar karena malu.

"Madara sensei kenapa?" Tanya Kurinai guru seni kepada Asuma seorang guru yang mengajar kimia.

"Entahlah. Dari tadi dia sudah seperti itu, di mejanya." mereka berdua melihat ke arah ku dengan wajah heran dan aku merubah posisi kepala ku ke arah lain supaya tidak di lihat oleh mereka, sayangnya aku mendapatkan sosok wajah Hasirama yang sangat dekat di hadapan ku.

"GYAAAAA!" Jerit ku dalam hati.

"Hei Madara, kau kenapa? Apa kau sakit. Lihat wajah mu merah sekali!" Tanya Hasirama pada ku sambil menunjukkan kaca kecil yang sengaja di sodorkan ke wajah ku.

"Akh! Apa yang kau lakukan Hasirama! Singkirkan kaca itu dari wajah ku." Dengan sangat kasar aku menutup kaca yang ada di hadapan ku.

"Hei aku Khawatir pada mu."

"Apa kau demam?" Tanya dirinya sambil menyentuh dahi ku. Aku pun langsung menepis tangannya dari dahi ku.

"Aku sehat!" Ucap ku dengan nada tinggi.

"Lalu kenapa? saat kau masuk ruang guru. Wajah mu sudah merah begitu." Tanya nya ingin tahu yang sampai wajahnya berada dekat dengan wajah ku.

"Jangan terlalu dekat begitu Hasirama, kau mengganggu sekali." Secara reflek aku pun menghindarkan wajah penasarannya itu.

tidak berapalama Kurinai sensei dan Asuma sensei beranjak dari ruang guru.

"Oh ia, Madara sensei. Jika hari ini kau kurang sehat. Kau bisa ijin lebih awal." Kurinai menasehati ku.

"Terimakasih, tapi aku tidak sakit." Jawab ku cengir pada kurinai yang berdiri di depan pintu.

"Baiklah, aku hanya Khawatir kalau kau sedang demam, wajah mu merah sekali soalnya." Lalu dia pun pergi.

"Masa?! Wajah ku masih terlihat merah." Karena tidak percaya aku pun melihat kaca yang berada di meja ku dan aku melihat wajah ku yang bagaikan tomat.

"Yaa ampun! Apakah semua orang di ruangan ini melihat wajah ku yang bagaikan tomat." Aku pun langsung melipat kedua tangan ku ke atas meja dan menyembunyikan wajah ku.

"Hei! Kau ini kenapa Madara?" Tanya Hasirama yang aneh melihat tingkah ku sambil melipatkan ke dua tangan dibadannya dan duduk santai di atas kursinya.

". . ." Aku tidak menjawab pertanyaannya.

"Apa kau sedang jatuh cinta?!" Tebak Hasirama yang sampai membuat ku loncat dari kursi ku dengan sangat waspada.

"Itu, Itu tidak mungkin Hasirama!" Jawab ku gugup dan panik. Tapi dia memicingkan kedua matanya pada ku.

"Ahhh~~~, jadi benarkan kau jatuh cinta?" dia tersenyum dengan ekspresi menggodai diri ku. Aku masih mematung dan menengok ke kanan dan ke kiri, juga ke sekeliling ruang kelas. Aku Khawatir ada orang lain selain Hasirama di ruangan ini.

"Akh! Berisik! bahaya kalau ada orang lain yang dengar." Aku langsung membengkam mulutnya. Hasirama mencoba membuka bengkaman tangan ku dari mulutnya.

"Ya ampun Madara! Jadi benar kau jatih cinta hebat! Ahaha!"

"BERISIK DAN JANGAN TERTAWA APA ITU LUCU!" teriak ku pada Hasirama. Tanpa sadar aku pun jadi mengeluarkan suara keras karena dirinya yang mentertawai ku.

"Wajar saja, wajah mu merah. Aku pikir kau sakit. Ahaha."

"Tapi rasanya tidak mungkin orang enerjik seperti diri mu akan sakit."

"Kecuali sakit akan cinta. Ahaha"

"Sudahlah jangan mentertawai ku begitu Hasirama!"

"Ayo ceritakan pada ku, siapa wanita yang kau sukai itu." Tiba-tiba saja Hasirama duduk dekat dengan ku sambil berbisik di telinga.

"Aku tidak mau menceritakannya." Jawab ku acuh.

"Hey ayolah kita ini sudah berteman sangat lama sekali, apa kau tidak ingin berbagi cerita pada ku." Hasirama merangkul ku dan aku hanya melirik saja pada dirinya. Ya mungkin kalau aku meceritakannya pada Hasirama, dia bisa memberikan pendapat untuk ku.

"Hei Hasirama, Apa aku terlalu tua untuk menyukai seorang anak perempuan berusia 16th?" Tanya ku sedikit malu.

"Memangnya usia mu sudah berapa tahun Madara?" tanyanya dengan wajah bodohnya.

"Akh kau ini bodoh atau pura-pura bodoh si Hasirama!" Ucap ku kesal.

"Ahaha, aku saja tidak tahu usia ku sudah berapa tahun." tawanya sambil menunjuk dirinya, kerah baju ku pun longgar mendengar Jawabnya itu.

"Seriuslah seidikit Hasirama." ucap ku ketus dengan wajah tanpa ekspresi.

"Aku serius Madara! karena aku juga tidak tahu usia mu sudah berapa tahun, hidup di dunia ini." Hasirama memasang wajah sangat serius juga menyeramkan yang hampir wajahnya ingin sekali aku adukan dengan kepala ku.

"25th." Jawab ku ketus, Hasirama langsung berpose berpikir dengan sangat serius.

"Ayolah! Tidak usah sok keren begitu berpikirnya."

"Hemmm." Dia masih saja terlihat sok keren.

"Menurut ku itu masih normal, jika kau menyukai anak perempuan berusia 16th." ucapnya dengan yakin pada ku. Aku tersenyum mendengarnya seperti mendapatkan harapan baru.

"Lalu apa menerut mu? Jika aku menyukai siswi ku sendiri?" Hasirama langsung melotot ketika mendengar pertanyaan ku itu. Akh! Ekspresi yang sama ketika aku mengajukan pertanyaan ku yang bodoh pada Haruno Sakura.

"Tentu saja itu salah Madara!" Suara ketus ini yang tak asing ku dengar, baru saja datang masuk ke ruang guru. Ya dialah Tobirama Senju, adik dari Hasirama Senju yang mengajar di satu sekolah yang sama dengan kakaknya. Dari awal aku dekat dengan Hasirama, adiknya sangat tidak suka sekali dengan ku.

"Tobirama?! Apa kau mendengar pembicaraan kami?" Tanya Hasirama pada dirinya.

"Tentu saja, aku mendengar percakapan kalian dari A sampai Z!" Jawabnya ketus sambil berjalan ke arah meja ku.

"Penguping" Bisik ku pelan. Setelah sampai di meja ku, Tobirama meletakkan sebuah map cokelat. Aku bertanya-tanya di otak ku, map apa itu? kenapa dia berikan itu pada ku.

"Hari ini Kakashi sensei tidak bisa masuk untuk mengajar kelas 1-B, jadi dia meminta ku untuk menggantikan dirinya." 'Kalau begitu untuk apa benda itu di letakkan di meja ku.' aku melirik map cokelat yang berada di atas meja

"Sayangnya jam mengajar ku bertabrakan dengan jadwal kelas kakashi sensei, karena itu aku datang ke ruangan ini untuk menemui mu dan menggantikan diri ku." Jelas Tobirama pada ku, tunggu kelas 1-B bukannya itu kelas Haruno Sakura?! APA! AKU HARUS MENGAJAR DI KELAS ITU! Mau di apakan wajah ku ini ketika bertemu dengannya! apalagi dengan pristiwa yang baru saja terjadi di ruang UKS barusan! Wajah ku kembali merona, tapi sayangnya lamunan ku di buyarkan dengan ucapan Tobirama yang tidak enak di dengar.

"Hei Madara! Jangan pernah kau berpikir untuk mencintai murid mu. Apa kau ini sudah tidak waras! sampai kau menyukai siswi mu sendiri!" Aku terpukul mendengarnya dengan ucapan tajamnya itu.

"Sadarlah sedikit! Kau ini sensei! Kau bisa saja merusak nama baik seorang sensei bukan hanya kau tapi sensei yang lain juga bisa rusak karena mu."

'Tanpa kau bilang itu aku sudah tahu, dasar sok tahu sekali kau Tobirama.' ucapku dalam hati dan aku langsung mengambil map coklat yang ada di meja ku dan aku beranjak keluar. Ketika aku sudah keluar ruang guru, Tobirama teriak dari pintu.

"Madara! Hari ini anak Kelas 1-B akan ujian, jadi kau tidak perlu mengajar di kelas itu!" dia melihat ku terus melangkah

"Apa dia mendengar?"

Tadi Tobirama bilang apa ya? Kalau tidak salah dengar kelas 1-B melaksanakan ujian dan aku tidak perlu mengajar di kelas itu. Ujian?

Aku langsung membuka map coklat untuk mengetahui isinya yang ternyata soal matematika.

"Akhh Syukurlah, aku tidak perlu berinteraksi dengan murid di dalam kelas itu, aku hanya perlu membagikan soalnya dan menunggu mereka selesai mengerjakannya. Tidak ku sadari kelas 1-B sudah ada di depan mata ku.

"Bagaimana ini! Aku jadi segan untuk masuk ke dalam." Aku pun hanya berjalan mondar mandir di depan kelas 1-B

'Profesional sedikit Madara! sampingkan masalah pribadi mu dan bekerjalah secara profesional.' Aku mulai memberanikan diri untuk memegang handle pintu kelas 1-B. Aku menarik napas, tapi ternyata di balik pintu ada dua orang anak yang tertawa menyeringai untuk menunggu pintu itu terbuka.