Ya diri ku sudah mulai tenang dan aku sudah mulai berani untuk mendorong pintu kelas yang terbuka agak renggang. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku mengajar atau pun masuk ke tiap kelas, entah kenapa sejak aku menyukai siswi ku sendiri aku jadi takut masuk kelas 1-B

Ngiiikk

Pintu kelas pun berdecit ketika aku dorong.

Tuk

Sebuah hapusan papan tulis terjatuh diatas kepala ku ketika pintu terbuka

"Yahaha Kakashi sensei! Kena!" Ketawa cekikikkan si rambut pirang dengan wajah jailnya bersama kedua temannya si rambut jabrik pecinta anjing yang tanpa tahu kalau hapusan itu jatuh tepat di kepala ku. Tapi ketika dia sadar kalau yang mereka tertawai itu adalah Aku.

"UAAHHHH MADARA SENSEI!" Teriak mereka ketakutan dengan wajah pucat pasi yang melihat ku mengeluarkan aura gelap berbentuk tengkorak (Susano O) yang akan sewaktu-waktu mengamuk.

"Ba, Bagaimana bisa Madara sensei yang datang!" Naruto terlihat panik.

"Gawat, pasti aku kena hukuman lagi olehnya." Gerutunya yang Khawatir ketika aku lirik dengan tajam.

"NARUTO! KIBA! BERDIRI DI KORIDOR!" Amuk ku.

"TIDAK!" Jerit naruto. Kiba dan Naruto berjalan keluar kelas dengan lesu.

"Tapi, kenapa Madara Sensei yang masuk kelas kami! Ini kan jam mengajarnya Kakashi Sensei." Tanya seorang siswa yang selalu menggunakan masker dan juga Kacamata hitam bulat yang membuat dirinya terlihat sangat tertutup, ya dialah Agurame Shino. Dia terlihat sangat keberatan dengan kehadiran ku di kelas 1-B. Ya bukan hanya Shino tapi seluruh murid di kelas itu.

"Hari ini Kakashi Sensei tidak bisa mengajar." Aku berjalan ke meja guru.

"Apa dia sakit?" Tanya salah satu siswa yang terlihat agak malas, ya siapa lagi kalau bukan Nara Shikamaru.

"Aku tidak tahu, dia sakit atau tidak. Tapi Tobirama Sensei menyuru ku untuk menggantikan dirinya."

"Yaah bagaimana ini, kenapa Madara Sensei yang mengajar kelas kita." Murid murid terlihat merumpi karena tidak suka aku menggantikan guru favorit mereka. Dan aku pun juga melihat ke arah Sakura dan saat mata kami beradu pandang tanpa sadar aku dan sakura membuang muka karena malu dan canggung. Aku berusaha menenangkan diri ku kembali, setelah kembali tenang aku mulai berinteraksi dengan murid di dalam kelas.

"Tenang saja, hari ini aku tidak mengajar kelas kalian. Karena hari ini waktunya ujian matematika!"

"APA UJIAN!" Teriak histeris semua murid di kelas 1-B. Begitu pun Sakura yang terlihat kaget meloncat dari kursinya ketika mendengar kata ujian.

"Akh! kenapa si, waktu ujian Matematika malah Madara Sensei yang masuk kelas ini." Keluh siswi berambut pirang panjang yang poni kanannya menutupi mata kanannya sambil memegang dahinya, siswi itu bernama Yamanaka Ino.

"Susah juga ya, kalau Madara sensei yang mengawasinya. Matanya terlalu tajam." Bisik seorang siswi berambut cepol yang bernama Tenten kepada Ino yang duduk di belakangnya.

Aku pun hanya tersenyum mendengar keluhan murid kelas 1-B

"Peraturan Ujian ini, . . ." Oh ia. Hari ini ujian, aku malah menghukum kedua murid ku di koridor! Aku pun berjalan keluar kelas dan memanggil kembali masuk Naruto dan Kiba kedalam kelas.

"Naruto! Kiba! Masuklah aku membatalkan hukuman ku pada kalian."

"YEAY!" mereka berdua terlihat gembira.

"Karena hari ini kelas kalian akan ujian." Mereka pun langsung terlihat lunglai.

"Sudahlah sensei kita di luar saja."

"Benar itu Naruto, kita di luar saja." ucap naruto tidak semangat bersama Kiba. Aku pun menghampiri mereka dan membawa mereka masuk ke dalam kelas.

Aku mulai membagikan lembaran soal ujian pada murid di dalam kelas, pertama-tama aku membagikan soal unian pada Sakura. Aku memberikan soal itu padanya tanpa melihatnya dan dia pun juga tidak melihat ku hanya menatapi soal ujiannya, tapi dia mencoba memberanikan diri untuk melihat ke arah ku dan mencoba mengatakan sesuatu ketika aku mulai beranjak ke kursi di belakangnya.

"Sensei" Aku berhenti berjalan.

"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu di dalam sana" dia memalingkan wajahnya dari ku yang Sepertinya menyembunyikan rona merahnya.

"Aku tahu dan aku sudah melupakannya." Jawab ku dengan tenang walau itu terdengar sangat dingin di telinga semua orang. Walau pada nyatanya aku tidak bisa melupakan pristiwa itu, tanpa sadar, wajah ku hampir saja terlihat memalukan di dalam kelas. Sakura terlihat kaget walau aku tidak melihatnya, tapi di belakang Sakura sosok Naruto terlihat ingin tahu apa yang di bicarakan oleh kami berdua dan aku langsung meletakkan soal ujian di meja Naruto. Di belakang Naruto, terlihat siswa yang satu marga dengan ku, ya dialah Uchiha Sasuke yang selalu terlihat sok Cool, tapi kini aku melihatnya dia sedang mencoret-coret sebuah sketch book. Tanpa tahu apa yang di gambarnya aku merebutnya dan diapun terkejut.

"Aku sita! Ini bukan waktunya pelajaran seni." Dia terlihat kesal tanpa mengatakan apa pun.

"Soal ujian sudah di berikan, sekarang kalian bisa mengerjakannya. Peraturan ujian ini adalah DI LARANG MENCONTEK!" Tegas ku pada semua murid, setelah membagikan semua soal ujian di dalam kelas

"Tidak Asik! Kalau bukan Kakashi sensei!" Gerutu Naruto dengan lantang di mejanya. Aku langsung melirik ke arah Naruto dengan tajam.

"Apa kau keberatan Uzumaki Naruto."

"Huh, Yah! Aku tidak suka Madara sensei di kelas ini!" Keluhnya dengan ekspresi cemberut.

"Kau suka dengan Kakashi Sensei karena dia akan tidur saat ujian kan, jadi kalian bisa mencontek." Tembak ku ke pada seluruh isi kelas. Semuanya tersentak kaget.

"Hehehe hebat sekali dia bisa baca pikiran kami, apa saringgannya sehebat itu" Shikamaru terlihat terkekeh.

Pletak

batang kapur pun melayang di dahinya.

"Sayangnya ini hanya fanfiction dengan genree slice of live. aku tidak bisa menggunakan saringgan ku seutuhnya. Dari awal cerita ini di mulai, aku ingin sekali mengunakan magekyu saringgan pada penulis Fanfic ini." Di lirik Madara.

Author : AAMPUN MBAH! EH BANG (,゚Д゚) Mas Om

Ujian Matematika pun di mulai para murid berpikir dengan sangat keras, tapi tetap saja bagaimana pun sebagian murid berusaha mencontek rumus di buku catatan mereka. Aku hanya tersenyum saja melihat mereka dan berjalan perlahan ke salah satu murid yang senang sekali di hukum oleh ku.

"Uzumaki Naruto, bisakah kau menutup buku catatan mu." Naruto tampak ke takutan di kursinya ketika melihatbwajah shinigami ku.

"Rocklie! Berhenti melempar kertas jawaban pada Neji!"

"Sial ketahuan!" desah Neji. Mereka ke gep saat aku melihat mereka saling melempar jawaban di sebuah kertas.

"Akhhh! Kalau seperti ini susahkan!" Gerutu Kiba sambil menggaruk kepalanya.

Tapi di kelas itu anehnya, di saat ujian ada yang sibuk makan. Siapa lagi kalau itu adalah Akimichi Chouji. Aku berjalan ke kekursinya dan merebut cemilannya.

"AKH! CEMILAN KU!"

"Ini bukan jam istirahat Chouji." Aku pun kembali ke kursi dan meletakkan cemilan itu di atas meja.

"Ayolah ini hanya ujian Matematika, kalian tidak perlu mencontek untuk mengerjakannya bukan."

"Akh sial! Susah sekali jika dia yang mengawasi!" Keluh Neji.

"Aku kesal kesal!" Naruto mengacak acak rambutnya.

Tidak berapa lama murid di dalam kelas terlihat tenang dan berusaha untuk mengerjakannya tanpa mencontek, sesekali aku pun melihat Sakura yang duduk di kursinya dan mengerjakan ujiannya dengan tenang. Aku juga pernah mendengar dari sensei di sekolah ini, kalau Sakura adalah murid yang pintar. Sakura yang merasa aku lihati dari kursi, dia merubah posisi duduknya membelakangi ku. Aku pun juga merubah pandangan ku ke arah Sketch Book milik Sasuke. Aku penasaran dengan isi di dalamnya, sejak kapan anak ini sula menggambar, Aku membuka Sketch Book itu dan aku terkejut dengan gambar yang ada di dalamnya.

bersambung