Enjoy~! XD
15 minutes before
"A-a-a-amy…" Ochobot menatap Amy dengan mata berkaca-kaca dan badan gemetaran bagaikan anak esdeh nggak mau sunat.
"Sudah,sudah. Jangan begitu. Kau harus bisa, Ochobot," ucap Amy dengan mata berkilat-kilat dan kedua tangan terkepal.
"Agaknya…aku merasa kau yang paling bersemangat dalam hal ini deh, Amy," komentar Ochobot sweatdrop.
"Habis…ternyata kau sudah dewasa, Ochobot. Aku sempat khawatir dengan kehidupan SMA mu, tapi sepertinya tidak akan ada masalah. Lagipula, aku 100 persen mendukungmu lho!" seru Amy.
"Kau bicara seperti seorang Ibu saja…" gumam Ochobot sedikit merinding dengan tingkah teman semejak SD nya itu.
"Tapi…kenapa harus di taman belakang sekolah dan lagi…dalam keadaan ramai begini sih?!" seru Ochobot lagi kembali di serang rasa takut.
"Habis, kan Gempa itu populer. Aku ingin semuanya menjadi saksi mata atas keberanianmu menyatakan perasaan padanya," jelas Amy dengan seulas senyum manis.
"Justru tindakanmu itu malah membuatku semakin gugup…" Ochobot kembali bergumam dengan wajah memerah, membuat Amy semakin cekikikan melihat tingkah gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri tersebut.
.
.
.
Gempa POV
Aku menelan ludah gugup, aku harus bersiap dengan segala konsekuensi yang ada disini. Aku tidak mungkin lari lagi jika sudah seperti ini.
Dengan perlahan, aku mulai melangkahkan kakiku mendekati kedua gadis yang berdiri di dekat pohon besar taman sekolah.
Anehnya, kerumunan siswa-siswi yang ada di taman itu menyingkir seolah membiarkan aku lewat.
Ya iya lah, mereka pasti menghindar karena tidak sudi berada di dekatku.
Aku hanya menatap lurus ke arah Amy dan Ochobot, tanpa sedikitpun menelengkan kepalaku karena tanpa menoleh pun, aku tau mereka pasti sedang menatapku dengan tajam dan penuh kebencian.
Tap!
"Akhirnya kau sampai juga, Gempa," Amy memulai, semakin membuatku berkeringat dingin.
Ini gila! Aku berharap Kak Halilintar akan muncul mendadak dan menyerang mereka semua…tapi itu tidak mungkin sih, soalnya kakakku sudah pulang sejak tadi.
"Nah, Ochobot," Amy segera mendorong punggung Ochobot yang sedaritadi diam dengan kepala tertunduk.
"T-tunggu, Amy…ini…" Ochobot gelagapan dan begitu tatapan matanya bertemu denganku, mendadak wajahnya memerah dan sekujur tubuhnya bergetar.
Astaga, aku tau dia membenciku, tapi aku tidak menyangka reaksinya akan seberlebihan ini.
"S-sebenarnya…G-gempa…aku…" Ochobot mulai membuka suara.
Aku hanya harap-harap cemas, menunggu apa yang ingin dia sampaikan. Aku benar-benar panik sekarang sampai tanganku mulai di basahi keringat dingin.
"Wah, sudah mulai!" aku bisa mendengar bisikan-bisikan dari kerumunan siswa tersebut. Sial, mereka pasti akan sangat menikmati hal ini.
"Kita lihat apa yang akan terjadi nanti,"
"Ne, menurutmu, berhasil atau enggak ya?"
"Sudah, kau membuat Ochobot makin gugup. Menembak Gempa bukanlah hal yang mudah kau tau?"
Telingaku berdengung mendengar bisikan yang terakhir itu.
Menembak?
Ochobot?
Dia akan menembakku?
Seriusan?
Wow…
I-ini diluar ekspektasiku…
Aku menatap gadis yang tingginya mencapai daguku itu dengan intens. Sepertinya…aku sudah salah paham sama gadis ini.
"Anu, Ochobot,"
"Y-ya?!" responnya dengan gugup sampai suaranya terdengar melengking.
"Apa i-itu…apa benar, kau mau menembakku?" tanyaku memastikan.
Aku kembali menelan ludah, gugup.
Kira-kira apa jawabannya? Aku bisa melihat bola mata sewarna langit musim panas itu melebar sekilas kemudian kembali menunduk.
"U-uh…i-iya…aku…maaf, aku…tau ini mendadak tapi…" dia menjawab dengan gugup, kedua matanya bergerak-gerak gelisah, tampak enggan menatapku. Tapi jawabannya tadi sudah lebih dari jelas untukku.
Aku tak menyangka akan seperti ini…
Aku mulai melangkah mundur perlahan, dan aku melihat dia menatapku dengan heran.
"A-anu…Gempa?" dia melangkahkan kakinya mendekatiku.
"M-mundur…" suaraku terasa tercekat, ketakutan kembali menyerangku.
"T-tidak…aku tidak mau…" aku perlahan berbalik..
"POKOKNYA AKU TIDAK MAUUUUUU!" dan segera tancap gas secepat skateboard milik Kak Taufan kabur dari tempat itu, tanpa menoleh kebelakang tentu saja.
Aku tau dia berniat mencelakaiku di taman itu, tapi aku tidak menyangka dia sampai mau MENEMBAKKU!
Itu gila!
Apa dia berniat membunuhku? Lagipula, aku pikir di sekolah dilarang membawa senjata tajam atau pistol.
Huft, apapun yang terjadi, aku harus lari.
Persetan dengan reputasi, aku tidak mau hidupku berakhir di tangan teman sekelasku sendiri yang lebih parahnya lagi adalah seorang gadis.
Pokoknya tidak!
.
.
.
Normal POV
Ochobot yang 'ditolak' dengan menyedihkan oleh Gempa yang mendadak kabur seolah kesetanan itu hanya membeku di tempat.
"Sudah kuduga…aku mana punya kesempatan…?" Ochobot hanya pundung di pojokkan dengan aura-aura suram di sekitarnya.
"Tenang lah, Ochobot. Mungkin Gempa hanya salah paham. Kau harus coba lagi," ucap Amy sambil menepuk pundak sang gadis ber-google tersebut.
"Percuma saja…gadis seperti aku mana punya kesempatan untuk mendekati Gempa…" gumam Ochobot pasrah dengan berurai air mata. Amy menatap sahabatnya tersebut dengan iba, kemudian menghela napas.
"Sudahlah, ayo pulang. Nanti aku traktir hot chocolate deh. Mungkin, Gempa itu bukanlah yang terbaik untukmu. Nah, ayo jangan sedih lagi," bujuk Amy dengan senyum paling cerah yang pernah dia perlihatkan.
Ochobot balas menatap Amy masih dengan mata yang berkaca-kaca namun sesaat kemudian tersenyum kecil, "Umm…terima kasih, Amy. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu," ucap Ochobot pelan.
"Jangan dipikirkan. Kita kan teman, jadi aku akan selalu berada di sampingmu untuk membantu," Amy membantu Ochobot berdiri, kemudian kedua sahabat tersebut segera berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan perasaan lega.
.
.
.
Gempa POV
"Hah…hah…hah..." aku terengah-engah di dekat gerbang sekolah karena barusan lari dengan kecepatan penuh.
Serius, aku nggak nyangka ada yang membenciku sampai mau membunuhku begitu. Benar-benar mengerikan sekali…
Tap!
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundakku.
"Hwaaa!" reflek ku tepis tangan itu dan langsung melompat mundur, memastikan siapa orang yang baru saja menyentuh pundakku seperti itu.
"Oh…kak Taufan…aku kira siapa," aku menghela napas lega, melihat salah satu kakak kembarku, Boboiboy Taufan yang tampaknya baru selesai latihan di klub.
"Kau kenapa sih? Berteriak seperti mau dirampok gitu," tegur Kak Taufan sambil mengerutkan keningnya bingung.
"Ehehehe…ng-nggak kok kak. Cuma kaget," jawabku sekenanya.
Jujur saja aku memang masih deg-degan dengan kejadian tadi.
Apa mungkin sebaiknya aku laporkan saja pada Kak Taufan ya…?
"Anu, kak…t-tadi aku…diminta Ochobot dan Amy untuk ke taman belakang sekolah," aku mulai berbicara dengan ragu.
"Oh ya? apa yang terjadi?" tanya Kak Taufan.
Aku sebenarnya agak ragu, tapi bagaimana pun juga ini sudah termasuk tindakan criminal, jadi harusnya memang aku harus melaporkannya pada Kak Taufan dulu. Lagipula, gunanya seorang kakak itu untuk melindungi adiknya bukan?
"A-aku…aku mau ditembak oleh Ochobot," aku bersuara pelan, memastikan hanya Kak Taufan seorang yang dapat mendengarnya.
Aku melirik Kak Taufan ragu karena sudah 5 detik dan tak ada respon darinya.
Aku melihatnya melongo sebentar sebelum akhirnya tersenyum lebar, "Lah…gitu ya? bagus dong, Gempa. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Kak Taufan dengan semangat.
Aku hanya bisa cengo, ini adik sendiri mau dibunuh kok dia malah tampak antusias gitu?
Apa jangan-jangan…Kak Taufan juga tidak menyukaiku?
Mungkin karena Kak Halilintar akhir-akhir ini lebih sering menghabiskan waktu denganku…?
"K-kenapa malah bagus? A-aku kabur tau! Karena aku takut…" ucapku dengan gemetaran.
"Hee…sayang sekali. Kau ini jangan kecewakan Ochobot dong. Dia itu gadis yang lumayan manis loh~" Kak Taufan mengerling kemudian kembali menepuk pundakku.
"Aku sih, mendukungmu. Sebaiknya besok kau temui dia lagi. Lelaki itu harusnya tidak boleh kan, melukai perasaan seorang gadis," ucap Kak Taufan (sok) bijak.
Aku hanya bisa melongo, tidak tau mau menjawab apa.
"Ya udah. Pulang yuk, dah malem nih~" Kak Taufan menarik tanganku kemudian dengan riangnya melangkahkan kakinya menuju rumah, sedangkan aku hanya bisa pasrah.
Bagaimana ini?
Aku mau dibunuh, dan Kak Taufan terang-terangan mendukung tindakan Ochobot untuk melakukannya.
Lagipula, apa hubungannya ini semua dengan laki-laki dan perempuan?
Hah…rasanya aku ingin menangis saja (sayangnya tidak bisa karena ini masih di tempat umum).
.
.
.
Normal POV
"Hello~" seru Taufan super ceria dari ambang pintu rumah.
"Wa'allaikumsalam," sahut Halilintar dengan tatapan tajam.
"Ehehehe…maaf, kak…" Taufan hanya cengengesan sambil membetulkan letak topi miringnya. "O iya, dimana Blaze?" tanya Taufan kemudian ketika menyadari absennya si topi bara di ruang tamu yang biasanya dia rusuhkan itu.
Kenapa Taufan tidak menanyakan Ice?
Itu karena semua orang sudah tau ada dimana dia sekarang.
"Ke rumah Gopal. Katanya ada tugas kelompok. Kalian berdua sana mandi dulu, makan malam sudah di atas meja," sahut Halilintar cuek sambil menggonta-ganti channel TV.
"Siap!" Taufan langsung lari menuju kamarnya di lantai dua, berbeda dengan Gempa yang hanya diam dan melangkah menuju tangga dengan lesu.
Halilintar mengernyitkan dahi heran melihat adik keduanya yang tampak 'hidup segan mati tak mau' itu.
"Gempa, ada apa?" tanya Halilintar pada akhirnya.
Gempa menoleh sekilas, kemudian dengan perlahan menyeret langkahnya menuju sofa tempat Halilintar duduk, kemudian menjatuhkan bokongnya di samping Halilintar yang masih menatap bingung ke arahnya.
"Err…Gempa?" Halilintar bersuara lagi.
"Kak Halilintar…" Gempa bergumam pelan, berangsur-angsur tubuhnya dihadapkan pada Halilintar yang masih gagal paham.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Halilintar lagi.
"Hiks…Hweeeeee!" Gempa langsung mewek kemudian menerjang Halilintar, memeluk erat leher sang kakak sulung seolah dirinya akan langsung lenyap jika pelukannya dikendurkan sedikit saja.
"O-oy, Gempa! Kau kenapa sih? Apa yang terjadi di sekolah?" Halilintar menepuk-nepuk pelan punggung berbalut jaket hitam-kuning sang adik untuk menenangkannya sekaligus menyelamatkan leher Halilintar yang sebentar lagi mungkin akan membiru (oke itu berlebihan).
"Hiks…Kak…kenapa semua orang membenciku sih…apa salahku sebenarnya…?" gumam Gempa masih sesenggukan, tapi pada akhirnya tetap melepaskan leher Halilintar yang tadi dikuncinya.
"Hah?" Halilintar mengedip-ngedipkan matanya tidak mengerti.
"T-tadi…Ochobot bersama anak-anak yang lain menyuruhku untuk ke taman belakang…d-dan Ochobot berniat menembakku…" gumam Gempa sambil menyeka air matanya.
"Err…oke…? Lalu?" Halilintar masih tidak mengerti sumber masalahnya.
"T-terus…aku kabur karena takut…aku tak mau mati sekarang, kak. Tapi ternyata Kak Taufan malah mendukung Ochobot juga. Aku…aku…hweeee!" Gempa kembali mewek, sedangkan Halilintar hanya bisa memasang muka datar sedatar muka Adu du yang tak berhidung.
"A-aku…padahal aku ini anak baik-baik…tapi…kenapa…aku…hiks…" Gempa masih saja menangis dengan dramatisnya sambil menggosok-gosok matanya yang basah.
"…" Halilintar benar-benar speechless, tidak tau mau merespon apa.
Salah ngomong, nanti dikira Halilintar juga membencinya.
Akhirnya si Boboiboy sulung hanya mengurut pelipisnya, pasrah dengan kepolosan adiknya yang sudah masuk stadium akhir.
"Kak…apa sebaiknya aku pindah sekolah saja yah…jauh dari jangkauan yang lainnya…" Gempa mulai depresi, dilihat dari tubuhnya yang mendadak memutih secara perlahan.
"Ng…nggak perlu. Dengar, itu hanya perkara sepele. Serahkan saja semuanya padaku. Sekarang sebaiknya kau naik saja ke atas dan mandi kemudian makan. Mengerti?" titah Halilintar sambil memegang kedua bahu Gempa dengan erat.
Gempa terdiam sebentar, sebelum kembali tersenyum meski matanya masih berkaca-kaca dan hidungnya memerah.
"Baiklah…terima kasih, Kak Halilintar," Gempa memeluk kembali sang kakak dengan singkat, sebelum beranjak pergi menuju kamarnya, meninggalkan Halilintar yang menatap punggung sang adik dengan tatapan iba sekaligus geli.
"Kasihan sekali dia…err…tapi ini salahku juga sih…" gumam Halilintar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
Keesokan harinya, Halilintar merasa hari ini akan diawalinya dengan normal.
Yaitu dirinya akan bangun pagi, menemukan Gempa di ruang makan sambil menata sarapan, Taufan yang kocar-kacir mencari barang-barangnya yang berserakan di segala tempat, dan Blaze yang akan melakukan ritual 'membangunkan Boboiboy Ice' yang hampir tidak bisa bangun meski di ceburkan ke bak mandi sekali pun.
Well, benar saja hari ini normal.
Hanya saja, terlihat jelas Gempa yang masih lesu dan kecewa dengan Taufan, melihat Gempa yang biasanya menyanggupi ocehan Taufan dengan senyum manis bagaikan es krim vanilla itu kini hanya menatap sang kakak kedua tanpa minat dan sekali-sekali ditambah dengan desahan malas, yang sama sekali tak disadari oleh Taufan yang terus saja mengoceh mengenai hal random apapun yang diingatnya.
Kelihatannya Gempa masih kepikiran dengan yang kemarin, mengenai Taufan yang mendukung Ochobot untuk 'menembak' Gempa.
Halilintar hanya bisa poker face kemudian duduk disamping Blaze, lalu mengunyah nasi goreng jatahnya.
"Ngomong-ngomong hari ini kalian ada acara, enggak?" tanya Blaze tiba-tiba.
"Enggak tuh. Kenapa memangnya?" tanya balik Taufan, sedangkan Gempa dan Halilintar hanya mengangguk menyetujui sambil menatap si Boboiboy keempat.
Ice?
Bocah yang masih setengah tidur itu bahkan tidak dengar sama sekali topic pembicaraan mereka.
"Itu…aku mau mengajak kalian ke klub sepak bola kalo senggang. Akan ada latih tanding dengan SMP sebelah jadi yah…kalo kalian bisa datang…" Blaze berucap malu-malu, tapi terlihat jelas kilatan antusias di kedua mata jingganya.
Halilintar dan Taufan saling pandang, kemudian sama-sama memasang senyum, tentunya senyum Taufan lebih lebar.
"Boleh. Aku hari ini lagi luang dan kayaknya Kak Hali juga nggak lagi latihan karate," ucapan Taufan tersebut membuat binar di mata Blaze bertambah.
"Ice juga akan ikut kan~?" Blaze merangkul bahu si bungsu, membuat pemuda bertopi biru muda itu tersentak dan hanya mengangguk begitu saja tanpa tau apa yang terjadi.
"Kak Gempa gimana?" tanya Blaze setelah melepaskan rangkulannya agar Ice bisa kembali makan (dan tidur) dengan tenang.
"Mmm…" Gempa meletakkan telunjuknya di atas dagu nya, tanda dirinya sedang berpikir.
Sebenarnya Gempa mau saja datang, terlebih lagi ini pertandingan salah satu adik kesayangannya dan Gempa jarang bisa menghabiskan waktu dengan saudara-saudaranya.
Tapi disaat yang bersaman juga Gempa khawatir.
Bagaimana kalo di tempat ramai itu dirinya akan dicemooh, di permalukan, atau bahkan mungkin saja, dikeroyok habis-habisan oleh siswa-siswi disana?
Mendadak Gempa merinding membayangkannya.
Menyadari Gempa saat ini sedang mengalami perang batin dengan dirinya sendiri, Halilintar kembali menggelengkan kepala sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil alih.
"Aku akan datang juga…jadi tidak ada salahnya kau datang kan, Gempa?" ucap Halilintar, memberi kode 'tenang saja, aku ada disana juga kok,' secara tidak langsung.
Gempa mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa saat, kemudian menghela napas, tampak lega. Kelihatannya Gempa mengerti dengan kode yang diucapkan Halilintar tadi.
"Oke…aku akan memeriksa jadwalku nanti. Kalo kosong aku akan datang juga deh, Blaze," ucap Gempa pada akhirnya, disahut sorakan gembira dari Boboiboy yang identic dengan api tersebut.
"Ya sudah. Ayo berangkat sebelum gerbangnya di tutup," ucapan Halilintar berhasil membuat Blaze berhenti kegirangan seperti orang kelebihan gula, kemudian langsung lari menuju pintu depan disusul Taufan yang berteriak, "Hei, kau curang!" kemudian menyusul Blaze.
Ice menguap malas, kemudian dengan pelan menyeret kakinya menuju pintu depan, meninggalkan Halilintar yang kini menatap Gempa dengan tatapan bingung bercampur ragu.
"Ayo, kak. Nanti ditinggal loh," Gempa berucap dengan senyum tipis kemudian melangkah, diikuti Halilintar yang masih diam menatap punggung sang adik yang berbalut jaket khasnya itu.
Sejujurnya, terlepas dari sifat 'polos'nya itu, adik keduanya yang bernama Boboiboy Gempa itu sangatlah hebat.
Ramah, cerdas, berwibawa, keren, murah senyum, dan yang terpenting, dia sangat menyayangi saudara-saudaranya.
Dalam hati Halilintar merasa bersalah, namun juga geli.
Oke, mungkin selanjutnya Halilintar harus meluruskan masalah ini sebelum hal buruk malah menimpa adiknya tersebut.
.
.
.
T B C
H-hello…*nongol takut-takut dibalik dinding* ada yang inget sama fict ini? Maafkan saya karena telaaaat banget update. Malah kurang panjang pula. Ini masih termasuk 'prologue' juga sih, jadinya nggak terlalu panjang.
Sejujurnya ini udah siap dan telah membusuk setahun lebih di laptop saya…karena sibuk banget sampe lupa sama yang ini hingga akhirnya saya iseng log in dan liat daftar fict, kemudian menemukan fict ini dan saat itu juga saya merasa blank sekaligus kaget.
Padahal respon kalian positif…review nya kocak-kocak pula tapi kenapah…mohon maaf karena saya sudah mengecewakan kalian…saya benar-benar merasa bersalah hweee… *sujud-sujud*
Tapi abis ini saya juga nggak bisa bilang bakalan update cepat…paling nggak Insya Allah dua/tiga bulan berikutnya baru bisa update fict ini lagi dan saya janji akan buat yang lebih panjang. Oh iya, ditengah USBN…belum lagi ujian Nasional udah dekat…kayaknya nggak bisa nyentuh ffnet deh…*pundung* kemungkinan besar ini akan jadi yang terakhir yang saya post sebelum berhenti sementara karena ujian sekolah dan ujian Nasional nanti.
Dan maaf juga nggak bisa bales review kalian untuk saat ini, tapi Insya Allah akan saya bales di chapt berikutnya (untuk yang log in entar saya PM deh).
Oke sampai disini aja. Kalo ada yang tanya kenapa Gempa poloooos banget sampe nggak tau istilah 'nembak' padahal udah SMA itu ada hubungannya dengan chapter selanjutnya yang…akan melibatkan Halilintar yeeey~! *plak*
All right, sampai jumpa di chap berikutnya dan untuk yang senasib sama saya (Ujian akhir maksudnya) mari kita berjuang bersama ya! Faitooo! *joget(?)* mohon reviewnya ya dan nantikan chapter yang akan datang~ goody bye bye~ XD
