Babysitting | JeongCheol Fanficition (End)
PDA Presents
Foreword
"I will prove that to you right before your eyes. I'll definitely clear away your uncertainities and doubts."
.
.
.
"Besok kau pulang jam berapa?"
"Jam 6, sepertinya. Tapi aku akan pulang bahkan sebelum pekerjaanku selesai. Kau selalu membutuhkanku untuk memijat pundakmu sebelum makan malam."
"Itu menjijikkan."
"Apanya?"
"Nada bicaramu."
"Oh, kukira sofanya."
"Hah?"
"Momo, beri salam pada ibumu."
"Gya~"
"Aaaaaaa! MOMO! You piss on my fuckin' 1000 USD couch!"
.
.
.
"Aku membuat Mac and chesese malam ini. Kau jadi pulang jam 6?"
"Y-ya, tentu. Aku sangat suka Macaroni. Dan yang paling penting, aku merindukan kalian berdua."
Jeonghan menghentikan gerakan tangannya dari melipat serbet diatas meja makan dan menukar kapitan bahu yang memegang handphonenya dengan tangan kanan. Rasanya tiba-tiba saja gugup.
"Jangan ingkar lagi."
"Aku tidak pernah berharap demikian."
"Sampai bertemu dirumah."
"Aku mencintaimu."
Klik.
Jeonghan tidak sempat, atau terlalu takut untuk menbalas jadi ia segera memutus pembicaraan mereka dan terduduk di kursi dengan tangan yang memegangi dada.
Untuk memastikan jika hatinya bisa merasa tenang, Jeonghan mengetik sebuah pesan singkat dan menarik nafas gugup saat menekan nama Seungcheol sebagai receiver.
'Jangan pulang terlambat lagi, Ayah Momo.'
.
.
.
"Huuuwwweeee... Fuuu... Fuuu... Huueee."
Jeonghan benci saat dirinya mengerjapkan mata secara spontan meski ia tidak ingin melakukan hal itu. Tubuhnya bahkan begitu kaku untuk bergerak kesisi diseberangnya, namun suara Momo juga tidak mengijinkannya untuk kembali tidur.
Jeonghan mencoba untuk merapatkan kembali kedua matanya dan berbaring malas dengan badan terlungkup.
"Hey. Hey.. Ayah Momo."
Kaki kirinya mendarat diatas pinggang Seungcheol yang masih terlelap dengan posisi miring. Tubuhnya terguncang seiring Jeonghan yang menggoyang-goyangkan kakinya, dan berakhir dengan suara dengung setengah sadar dari Seungcheol.
"Ada apa, Ibu Momo?"
Seungcheol mengucek matanya, dan tersenyum, toh Jeonghan tidak melihatnya. Jadi tidak akan ada bunyi "slap" seperti yang biasa terjadi saat matahari masih tinggi.
"Bisa kau lihat Momo di box bayinya? Tubuhku rasanya sulit sekali untuk sekedar bergerak."
"Ayolah, Ibu Momo. Kita bahkan sudah menunda 5 hari untuk tidak bercinta. Apa yang membuatmu sulit bergerak?"
Jeonghan jadi tambah kesal, mendesis menahan marah dibalik wajahnya yang terbenam dalam bantal.
Memangnya siapa yang menyuruhnya pulang larut malam setiap hari?! Cengkraman Jeonghan bertambah erat hingga ujung bantalnya mengerut.
"Jangan bodoh."
"Mata Ayah sakit."
"Jangan mengeluh."
"Ibu Momo, aku mencintaimu."
"Perhatikan tanganmu."
"Setidaknya biarkan aku bangun du-"
"YA!"
BRUK!
Jeonghan berbalik, menimbulkan bunyi "thud" yang keras karena Seungcheol mendarat diatas lantai dan yang lebih menyakitkan dari semua ini, ia mengusap tempurung kepalanya yang terbentur lebih kuat dibanding yang lain.
"Inikah yang menyebabkan punggung dan pinggangku nyeri akhir-akhir ini? Kau menimpa tubuhku dari belakang?"
"Aku hanya mencoba memelukmu dari belakang."
"Apa kau tidak lihat? Saat punggungku berada diatas, itu sama halnya kau mematahkan 8 pasang tulang rusukku dengan tubuh raksasamu, Choi Seungcheol!"
"Huuuuwwweeee..."
"Momo tidak pernah suka melihatmu berteriak padaku."
"JANGAN MENCARI PERLINDUNGAN DARI MOMO!"
Bugh!
Saat sebuah bantal yang dilempar mengenai dadanya, Seungcheol berakhir dengan sebotol susu ditangan kiri, Momo yang hampir terlelap digendongannya, dan pukul 3 yang semakin membuat matanya terasa berat.
Namun yang paling buruk dari semua ini adalah, sepertinya besok akan menjadi hari-tanpa-sarapan dan bibir Jeonghan akan tetap mengerucut sampai malam Seungcheol kembali kerumah.
.
.
.
Seungcheol terbangun lebih awal dari Jeonghan, seperti biasa, dan ia memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum menyiapkan sarapan karena kau tahu, semalam, Seungcheol tidak berharap ada sesuatu diatas meja saat pagi dan bahkan jika Jeonghan menegurnya nanti, bisa jadi itu adalah sebuah keajaiban.
Seungcheol keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi, dan Bed cover diatas tempat tidur mereka terlihat lebih berantakan dibanding sebelumnya. Momo juga tidak ada di dalam box, mereka berdua diluar.
Perlahan Seungcheol menciptakan celah diantara daun pintu dan yang pertama kali terdengar oleh telinganya adalah suara piring dari arah dapur, juga tercium kuat aroma khas roasted bread dan kopi.
"Pagi."
"Hm."
Salam pagi yang dijawab dengan dengungan dingin tidak membuat Seungcheol berharap lebih banyak, jadi ia segera menarik kursi untuk duduk dihadapan Jeonghan sebelum menggosok tengkuknya gugup.
"Dimana Momo?"
"Di sofa, melanjutkan tidurnya."
Sekilas Seungcheol melirik kebelakang dan tepat dibalik sekat pemisah antara dapur dan ruang tv, ia dapat melihat Momo terlelap diatas sofa panjang, dikelilingi bantal disisi kanan dan kirinya.
Seungcheol kembali pada piringnya. 2 lembar roasted bread, telur mata sapi, sosis, dan beberapa potong bacon, seperti biasa, namun ini lebih lengkap dibanding semangkuk sereal dan susu seperti kemarin meski tidak ada pertengkaran diantara mereka. Seungcheol belajar banyak hal selama 1 bulan hidup bersama Jeonghan termasuk juga kopi. Jeonghan menyukai Mocca meski Seungcheol sudah beberapa kali memintanya untuk membuatkan esspresso. Mocca adalah mood baik. Senandung lembut tiap kali ia menyesapnya, dan tersenyum manis saat menawarkan Seungcheol lebih banyak sereal didalam mangkuk.
Dan baginya, sereal dan secangkir Mocca ternyata lebih baik karena senyum Jeonghan di pagi hari adalah hal yang paling ia butuhkan diatas segalanya.
Seungcheol berhenti memotong roasted bread dipiringnya saat Jeonghan membuat basah piamanya sendiri dengan tumpahan air putih. Jeonghan mendesis kesal dan gerutuannya terdengar lebih buruk saat Seungcheol bangkit mencoba untuk membantu. Jadi Seungcheol kembali kebangkunya, memperhatikan Jeonghan mengeringkan pahanya dengan koran yang tadi ia baca.
"Kau baik-baik saja?"
"Maksudmu rambutku? Apa mereka terlihat begitu buruk?"
Sejujurnya Seungcheol tidak sempat mempedulikan soal itu tapi, ya, Jeonghan membicarakannya jadi Seungcheol mengambil waktu sejenak untuk meneliti surai panjang Jeonghan.
"Tidak ada masalah. Lagipula kau sudah mengikatnya."
"Thanks."
"Kau tidak minum Mocca?"
"Kurasa kau pernah membicarakan soal esspresso waktu itu. Apa aku salah dengar?"
"Tidak, kau tidak salah. Aku menyukainya."
Untuk pertama kali Seungcheol akhirnya menyesap kopi hitam itu, dengan sudut mata melirik pada bayangan Jeonghan yang kini tengah merapikan ikatan pada rambutnya yang panjang.
"Sudah jam 7. Kurasa aku harus pergi sekarang."
Jas hitam miliknya sudah tergantung rapi di punggung kursi dan Seungcheol segera menyambut tas kerja yang diberikan Jeonghan padanya.
Ini mungkin terlihat kuno, dan familiar diantara adegan tv drama murahan atau semacamnya. Namun ini terasa jauh lebih bermakna diatas senyum yang terpahat diwajah Seungcheol saat ini.
Dan jika diijinkan, Seungcheol ingin mengecup dahi itu sebelum pergi.
Atau Jeonghan menahannya untuk membetulkan dasi dan kerah kemejanya.
Namun Seungcheol hanya menyemat sisa rambut Jeonghan yang masih terurai kebelakang telinga pemuda itu sebelum berbalik.
"Tunggu."
Jeonghan meremat lengan jas Seungcheol, membuat pemiliknya menunda mearaih knop dan kembali mengalihkan tatapannya pada Jeonghan.
"Seperti yang kau tahu, ini hari Senin. Sesuatu yang baik untuk memulai semuanya dari awal. Dan yang ingin kukatakan adalah..."
Seungcheol menunggunya dengan alis yang sedikit terangkat. Jeonghan bukanlah tipe orang yang senang menambahkan banyak kata basa-basi saat hendak berbicara sesuatu tapi, ia tidak menyangka bila lidahnya akan lebih kelu dibanding saat membacakan essay didepan kelas.
"Aku... Aku akan kembali bekerja malam ini."
Jeonghan melepaskan genggamannya, dan lengan Seungcheol jatuh menggantung dikedua sisi tubuhnya yang kaku.
"Aku sudah berhenti terlalu lama. 1 bulan, siapa yang mengira? Semalam aku tidak sengaja mengangkat telfon dari Bos-ku dan-... Dan saat mendengar semua perkataannya, aku tidak bisa untuk tidak mengatakan ya. Lagipula, disitulah tempatku seharusnya berada. Aku harus tetap menjalani hidup seperti biasa dan mendapatkan uang dengan caraku. Untuk diriku sendiri, dan juga untuk Momo."
Tangan Seungcheol mengepal dan semakin ia bertahan dalam tatapan tajamnya kearah pemuda itu, maka yang tersisa hanyalah kesakitan yang menumpuk bersama aliran darah yang meluncur keatas kepalanya.
"Bisakah kau berhenti?"
"Apa ada alasan untukku berhenti? Ini hidupku. Aku tetap berada dalam peranku dan kita, bersama permainan rumah ini, tidak akan ada yang berbeda dari sebelumnya. Kau tidak bisa mengaturku terlebih saat kita sedang tidak berada dibawah atap yang sama. Ini mudah. Terlihat seperti bertukar shift karena malam adalah waktuku untuk pergi dan kau tinggal dirumah. Jaga Momo selagi aku bekerja, hanya itu yang aku minta darimu."
Jeonghan menghentikan argumen diantara mereka dengan berbalik, membiarkan Seungcheol memandangi punggungnya diantara bahu yang bergetar. Pria itu memiliki kata diujung lidahnya dan saat jemarinya hampir mencapai pundak Jeonghan, motion itu terhenti ketika 2 kata berikutnya spontan membekukan setiap persendian ditubuh Seungcheol
"Kumohon, Choi Seungcheol."
.
.
.
"Cepatlah, Senator Kim sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi."
Park Youngmin, Boss-nya, meremat bokong Jeonghan selagi mendorong pemuda ramping itu mendekati meja VIP yang ramai oleh bajingan kaya, kartu, dan botol whiskey.
"Oh, sweetheart. Finally."
Senator Kim merentangkan lengannya, sehingga Jeonghan merapatkan posisinya ketika duduk hingga pinggul mereka saling bersentuhan.
"Semua orang merindukanmu, terutama aku, kau tahu. Tidakkah kau berpikir bos-mu akan bangkrut kalau sampai bidadari terbaiknya ini berhenti, hum?"
"Aku tidak sebodoh itu, Senator Kim."
Jeonghan menuangkan vodka ke gelas yang ada ditangan sang Senator, Kim Mingyu. Dengan piawai ia menuntun gelas itu kemulut "pelanggannya" dan tersenyum sampai minuman manis itu kering tak bersisa.
"Cukup?"
"Kau ingin aku mabuk?"
"Jangan selalu berprasangka buruk padaku."
Jeonghan mengambil tempat untuk bersandar, dengan segelas whiskey dan batu es ditangannya. Mulutnya masih sibuk mengunyah anggur.
"Kalau begitu, kau sendirikah yang ingin mabuk?"
Mingyu mendekat, mengangkat dagu Jeonghan dengan telunjuknya.
"Sebenarnya, ya, aku ingin. Tapi karena hari ini adalah kunjungan Tuan Senator, aku tidak akan bertindak memalukan seperti itu."
Ketika bibir itu hampir sampai, Jeonghan segera menenggak whiskeynya-tak bersisa- dalam sekali tegukkan. Mingyu tersenyum selagi mendesis karena, as you know, ciumannya gagal.
"Boleh kubuka coat-mu?"
Mingyu merasakan anggukan Jeonghan ketika dagunya bertumpu pada pundak itu, merasakan aroma yang tidak pernah sama setiap kali mereka bertemu.
Jeonghan mengesampingkan rambut panjangnya yang terurai, membiarkan Mingyu mencumbu leher dan pundaknya dari belakang.
"Tanktop hitam, huh? Kau tidak pernah berubah."
Bunyi "flap" kecil terdengar saat Senator Kim menarik tali tanktop Jeonghan yang ketat dan melepasnya dengan seduktif.
"Youngmin-ah, apa kamarku sudah siap?"
"Anytime, Senator Kim."
Pergelangan Jeonghan dicengkram, memaksa langkah itu mengikuti Senator Mingyu yang berjalan cepat meninggalkan bar.
Jeonghan tidak merasa ada yang salah dari semua ini. Apa yang terjadi tetap berada dalam kendalinya dan lorong ini, tak pernah membawanya kedimensi yang berbeda selain ranjang dan bercinta. Ini pekerjaannya, 8 tahun, tapi sekarang adalah kali pertama Jeonghan menoleh kebelakang dan tangannya, meraba dadanya seperti takut ada bagian yang tertinggal.
Jeonghan kira ia meninggalkan sesuatu dibelakang sana.
Hatinya.
Tapi siapa peduli.
Jeonghan menjatuhkan coatnya ditengah lorong. Ia tidak butuh penghangat apapun, karena pekerjaannya tiap malam adalah 'menghangatkan' suhu tubuh pelanggannya dan ia sendiri. Jadi saat tiba di depan pintu, ia membalas senyum Senator Kim dan menunggunya mengeluarkan golden card key dari dompet.
Handphone Jeonghan berdering.
"Bisa aku mengangkatnya?"
Senator Kim mengangguk setelah sekilas melayangkan gigitan pada telinganya. Jeonghan menjauh sebelum mengucapkan hallo.
"Seungcheol?"
"Pulanglah."
"Bisa kita berhenti membicarakan ini?"
"Kau ingin aku yang kesana?"
"Jangan bodoh."
Jeonghan menghela nafas jengah dan bersandar pada tembok.
Kabut hitam tiba-tiba melintas dikepalanya.
Oh. Shit.
"Jangan katakan kalau kau ada disini."
"Kau di lorong president suite, kan?"
It's...
Bingo.
"Choi Seungcheol, plea-..."
"Hai. Lama tidak bertemu, Kim."
Oh no.
Oh fucking no.
Can't I -at least- get a warning?
"Huh. It's rare to see you here, Choi."
OF ALL THE TIME?!
NOW?!
REALLY?!
Jeonghan lari berjinjit untuk bersembunyi dibalik tembok terjauh dari keduanya. Ia memunculkan sedikit kepalanya untuk mengintip dan memastikan jika ia bisa mendengar sesuatu dari sini.
Sial.
Jeonghan membutuhkan coat-nya sekarang dan demi langit, ia melihat kain coklat berkancing itu tergeletak ditengah koridor.
Kegiatan ini makin terlihat kriminal karena mengintai dengan hanya mengenakan tanktop, kau tahu, tidak ada satupun yang mau melakukannya.
"Sudah selesai dengan petualanganmu di Jepang, Choi?"
I wonder if they had knew each other that long.
Well, rich people.
Seungcheol berhenti dari langkahnya yang lambat, menyimpan kembali handphone kesakunya dan menyeringai.
"Aku kembali dan aku mendapatkannya."
"Istri, huh?"
Mingyu terkekeh meremehkan.
Tapi Seungcheol punya wajah tenang yang lebih tebal dibanding suara konyol Mingyu sekalipun.
Dan ini cukup menjelaskan, atau Jeonghan sendiri yang memproses spekulan didalam otaknya bahwa diantara pria ini, mereka teman lama yang tak beda jauh dari whole-life-rival.
Ano baka.
He's here then, WHAT?
What he was supposed to do?
And come to think of it, HOW ABOUT MOMO?
Jeonghan mengepalkan tangannya, mendesis menahan teriakan frustasi yang mendesak didalam kerongkongannya.
"Jeonghan. Aku disini untuk menjeputnya."
Mingyu melongo, atau pura-pura karena selanjutnya, tawa sarkastik memenuhi koridor suite room.
"Ha. Ha ha. Jeonghan? You've not changed at all, not even a bit. How impresive."
"Jeonghan, keluarlah. Aku tahu kau mendengarku disana. Ini mudah. Ucapkan selamat malam padanya dan kita pulang."
I CURSE EVERYONE IN THIS UNIVERSE
He got me.
Jeonghan meringis mengusak surainya frustasi.
Semakin kuat suara hentak antara sol sepatu dan karpet yang Jeonghan dengar, semakin ia berharap lantai yang ia pijak menelannya hidup-hidup.
Please don't come please don't get near me please...
And...
Gotcha
"Come with me."
"Ssssshh..."
"Don't wanna?"
"Hush, hush.. Go home, Momo's dad."
"Come on."
"Choi Seungcheol, please-..."
"STOP WHISPERING LIKE AN IDIOT."
WHAT?!
"DON'T FUCKING SCREAM AT ME!"
"Hey-hey. What's goin on here?"
"SHUT UP!"
Mingyu, berdiri diantara mereka berdua dan dia, seperti yang ia dengar, mengunci mulutnya selagi mengangkat tangan di kedua sisi kepalanya. Freeze motion.
Seungcheol meraih pergelangan tangan Jeonghan mencoba menariknya kembali dalam pembicaraan.
"Ayolah jangan membuang waktu."
"You are the one who wasted your time here. I'm working."
"We have to pick Momo up first."
"WHY DO WE HAVE TO? WHERE THE HELL YOU PUT HIM?"
"W-w-wait... Who is that fuckin Momo?"
"SHUT YOUR FUCKING MOUTH UP!"
"Okey, I'm just asking anyway."
Kali ini Mingyu mundur beberapa langkah.
"Teman-temanmu di bar itu. Mereka menawarkan diri untuk mengawasi Momo selagi aku menyusulmu kedalam. Mereka memaksa."
"You freakin carry him with you here?! And hand him to THOSE BRATS?!"
"Is there any option for me to not to do that?"
"You just don't have to do that!"
"So you think it's fine to leave him alone at home?"
"The only rational things you should do is just DON'T COME HERE OUT OF THE BLUE TO PICK ME UP LIKE THIS!"
"IS IT KINDA SCREAM BATTLE OR SOMETHING?! IF YOU GUYS WANNA HAVE A CATFIGHT THEN DO THAT IN OTHER PLACE!"
Silence
Fucking deep silence
Seungcheol, begitu juga Jeonghan, menatap wajah berasap Mingyu dengan alis terangkat.
Dan kembali mempertemukan pandangan satu sama lain.
"Hm. Good idea."
Jeonghan menjetikkan jari kemudian berusaha menarik Seungcheol pergi.
"W-which idea?"
Pria itu menahan pijakannya sampai pertanyaannya dapat terjawab.
"We can continue this at home."
"Aren't you tired screaming at me all night?"
"Not even a bit! Let's go. We pick Momo up first."
"What about me?"
"Go home and make another fight with your cat."
Seungcheol terbahak selagi mereka menjauh meninggalkan Mingyu dibelakang.
"Are they a couple? Since when? World must be crazy nowdays."
Mingyu melupakan rasa kesalnya karena yang bisa ia pikirkan saat ini hanyalah, bagaimana kata "rumah" menjadi tujuan mereka dan Jeonghan yang pertama kalinya meninggalkan club tanpa bercinta.
.
.
.
"Momo, stay here."
Jeonghan meletakkan bayinya duduk diatas karpet dan menyodorkan smurf karet untuk membuatnya sibuk.
Seungcheol merebahkan tubuhnya di sofa dan Jeonghan, berdiri di sisinya dengan kedua tangan terlipat dibawah dada.
"It doesn't finish yet."
"I've already told you all the things you want to know. Hey Momo, don't hurt the smurf, honey."
"Gya?"
Seungcheol terkekeh, memanjangkan lengannya untuk mencapai pipi Momo dan mencubit pelan pipi gembul itu.
"I need to know what's your reason."
"You should have known what's the reason."
"Just tell me... why?"
Seungcheol bangkit, menjawab segala pertanyaan itu lewat tatapannya yang mengkilat.
"You knew everything because it's you. You just act."
"Stop joking around!"
"Jeonghan, all you need is calm yourself a bit."
"You're the one who need to cooling your head!"
"Can you stop using that high tone?"
"I'm j-just... Choi Seungcheol stop!"
Sesuatu bagai berdenging dan Jeonghan menunduk untuk mendekap telinganya.
"It's okay... Don't let things messing up with you..."
Seungcheol berbisik, berusaha melepaskan cengkraman tangan Jeonghan pada sisi kepalanya dan membalut jemari itu dalam genggamannya.
"All you know is do everything as you please... You're so selfish, Seungcheol..."
Jeonghan tidak mengerti mengapa ia langsung menangis begitu saja. Ia marah, berusaha mendorong Seungcheol yang tetap mendekapnya, dan benci dengan semua bisikan pria itu yang mengatakan bila emosinya begitu labil akhir-akhir ini.
"Kau jadi moody akhir-akhir ini, Jeonghan."
"Because you're so cruel to me..."
Jeonghan membenam air matanya di dada Seungcheol.
"It's just your mood swing."
"Stop that.."
"I love you..."
"Let me go.."
"Its gonna be alright, honey.."
Seungcheol mengecup pucuk kepala itu sambil mengayunkan tubuh mereka.
"Please, Seungcheol. I told you-.."
"Jeonghan, just calm down-..."
"LET GO OF ME!"
Scrash!
Jeonghan berlari menuju kamar dan
Bump!
Suara anak kunci diputar dan Seungcheol menghela nafas berat didepan pintu yang tertutup.
"Hik.. Hik.. Huuwwweeeee...!"
Seungcheol memungut action figure Smurf dibawah kakinya yang entah sejak kapan sudah terpental sejauh ini. Langkahnya mendekati Momo yang duduk menangis diatas karpet dan mengangkat tubuh bayi 7 bulan itu kedalam gendongannya.
"I'm sorry, sweety. I didn't mean to hurt your Mom..."
Seungcheol menggosok-gosok punggung Momo mencoba menenangkan dan mengusap air mata yang membasahi pipinya pelan-pelan.
"Let's try to talk to your Mom."
Knock knock knock
"Jeonghan, you okay?"
Seungcheol tidak berekspektasi akan mendapat sahutan di ketukan pertama.
"Mu mu mu... Hum..."
Momo berusaha mendekatkan bibirnya pada pintu dan tersedu saat kedua telapak kecilnya menepuk-nepuk papan pemisah antara dirinya dan Jeonghan.
"I'm sorry Jeonghan I didn't meant to blame you nor your mood swing. We can stop the fight now and-..."
"You are dumb."
Suara itu terdengar dekat karena Seungcheol tahu, Jeonghan menahan isakannya, berdiri dengan bersandar di daun pintu.
"Okay you're right. I am dumb."
"You never even try to understand what I actually feels."
"Yeah I did, I'm sorry."
"Can you stop mumbling and just listen to me?"
Jeonghan merengek kesal dan Seungcheol hanya bisa membuang nafas pasrah.
Momo menepuk dagu ayahnya pelan seolah mengerti derita Seungcheol saat ini.
"I hate Disney."
Why do we have to involve Disney here?
Momo tidak punya jawabannya jadi Seungcheol memutuskan untuk tetap mendengarkan tanpa bicara.
"I don't even know if Sofia The First is the one of Disney's Princess. She's too young, but Momo's gaze is kinda forced me to answer his curiousty about 'Mom, is Sofia the real princess?'. I have no words. You never there whenever we watched Disney -all day- together. Do you know if Phineas and Pherb is my favorite one? Or how Momo get excited when the opening song of Disney Club House was played. You never know. You're so busy with yourself, your work, and lately you never have a day off even when its weekend."
Seungcheol mulai memahami kemana arah pembicaraan ini menuju sekarang.
Dan saat ia mendengar isakkan Jeonghan, saat itu juga ia melihat bibir Momo bergetar dan dengan rasa nyeri yang menyerang dadanya, Seungcheol menenangkan bayi itu dengan berusaha tersenyum.
"Kupikir ini bukan cara yang tepat untuk tetap menunggumu sedangkan aku tidak melakukan apa-apa. Ini tidak adil. Semua perkataanmu tentang pulang lebih awal ternyata hanya sebuah kebohongan klasik. A-aku... Kau tidak tahu bagaimana rasanya menunggu seharian dan dengan bodohnya pura-pura terlelap saat kau membuka pintu depan. Semua ini terjadi berulang dan bertingkah seolah semua baik-baik saja saat kau pagi, kukira ini yang terbaik. Tapi yang terjadi hanyalah perasaanku jadi semakin memburuk dan kau pergi dengan senyman yang biasa. Kau tidak pernah bertanya padaku tentang bagaimana rasanya dan kau bahkan tidak pernah mencoba untuk mengerti! Mungkin kau terlalu lelah ketika sampai dirumah... Tapi tidakkah kau tahu, aku merasa jika aku sendirian dalam permainan ini dan kesepian... Seungcheol kau benar-benar egois... Aku membencimu..."
Pada saat kata "aku membencimu", Jeonghan meneteskan air mata lebih banyak dan suaranya terpendam didalam tundukkan.
"Jadi aku memutuskan untuk kembali bekerja. Aku ingin membalasmu... Ini kekanak-kanakkan, tapi kau tidak akan mengerti sebelum kau merasakan sendiri bagaimana rasanya. Gelisah sepanjang hari, menunggu, tertawa berdua disaat kau ingin melakukannya bertiga, dan berharap pintu itu terbuka secepatnya dan melihat sosokmu tiba tepat waktu. Dan yang membuatku tidak bisa menahannya adalah... Ketakutanku sendiri... Mereka membisikkan sesuatu tentang bagaimana jika kau tidak akan pernah kembali. Tidak akan ada yang membuka pintuku lagi karena kau memilih untuk tidak kembali kerumah ini. Kau meninggalkan kami karena cepat atau lambat kau akan bosan. Permainan ini tidak lagi menarik untukmu dan aku, juga Momo, hanya akan semakin menyedihkan jika menginginkan kau tetap berada disini... Ini sulit bagiku, Seungcheol... Kau tidak pernah mengerti..."
Knock-knock-knock!
Jeonghan menoleh merasakan pintunya diketuk dengan tidak sabaran. Pemuda itu berusaha menetralkan isakannya saat hendak kembali bicara.
"Katakan sesuatu sebelum aku membukakanmu pintu."
"Aku tidak akan mengatakan apapun sebelum kau membuka pintunya."
"Kau jahat."
"Terserah. Jeonghan, kumohon."
"Sudah kuduga. Kau tidak pernah mengerti!"
"Perry the Platyphus, I knew! Aksesoris mobilku, kau lihat? Bantalan jok, car scent, tempat tissue, bahkan baby's seat untuk Momo, itu semua serba Perry, kesukaanmu... Maafkan aku, Jeonghan. Aku hanya kehilangan banyak hal berharga, waktu, waktuku untuk bersama kalian berdua..."
Jeonghan membisu karena ia melihat itu semua tadi, di mobil Seungcheol, tapi ia tidak punya kesempatan untuk kagum atau semacamnya karena emosinya tidak mengijinkan mereka untuk mengobrol soal Perry saat itu.
Jeonghan pelan-pelan memutar kunci dan tanpa mengundur banyak waktu, Seungcheol membuka pintunya dan memeluk Jeonghan disaat yang sama.
"Bodoh. Kenapa harus menyalahkan Disney, hum?"
"Ncha! Fu fu fu~"
Jeonghan mengeratkan rangkulannya pada lingkaran pinggang Seungcheol dan menangis di dada pria tinggi itu.
"Kalian berdua menertawaiku..."
"Ja ja ja ja.. Bu~"
Momo menggelengkan kepalanya sedangkan Seungcheol mengecup lama pucuk kepala Jeonghan, kemudian memisahkan pelukan mereka sehingga pemuda bersurai panjang itu cepat-cepat menghapus air matanya sebelum Momo dan Ayahnya sempat melihat pipinya yang basah.
"Momo ingin tidur?"
Tangan mungil itu mengucek wajah gembulnya sendiri. Seungcheol segera membaringkan Momo di Box-nya, tapi Momo hanya terkekeh senang dan berjingkat diranjangnya sendiri.
"Kau tidak memberinya susu?"
"Dia belum mau tidur."
"Jadi kenapa kau meletakkannya disana?"
"Karena aku ingin bermain denganmu."
"Mmh..."
Mulut Jeonghan terbungkam sebelum sempat menjawab, dan Seungcheol menyelipkan tangannya didalam tanktop Jeonghan yang sedikit terangakat sambil meraba kulit perut dan pinggangnya.
"Maksudmu, kita bercinta?"
"Malam ini."
Seungcheol mendorong Jeonghan untuk sampai ke ranjang mereka, menekan bahu sempit pria itu hingga terbaring.
"Berbaringlah dulu."
Jeonghan bergeser ketengah dan menepuk sisi kosong disamping kirinya.
Seungcheol tersenyum, langsung menghadap kearah Jeonghan dan mempertemukan tatapan mereka disana.
"Kita bisa mendiskusikannya."
"Tentang apa?"
Jemari Seungcheol ia letakkan dibelahan bibir Jeonghan dan pelan-pelan meraba permukaannya yang lembut.
"Kau ingin gaya apa?"
"Yang biasa saja."
"Ayolah, kuberikan gratis."
"Kau bilang begitu setiap malam."
Kulit disekitar tulang pipi Jeonghan meruam merah, ia lupa. Mereka sudah tidak pernah membicarakan soal 'harga' sejak 3 minggu lalu.
Karena Jeonghan, dirinnya juga menginginkan Seungcheol.
"Kau suka bareback, kan?"
"Gya! hem~"
Jeonghan sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat ke Box Momo dan Bayi mereka ternyata belum tidur. Momo malah tertawa ketika melihat Jeonghan, membuat 'Ibunya' itu terkekeh geli.
Matanya kembali teralih kepada Seungcheol.
"Kau kenapa?"
"Aku merasa Momo sedang menertawaiku."
"Kau ini sensitif sekali."
Jeonghan mencoba mendorong bahu Seungcheol yang berusaha untuk terlungkup menutupi wajah memerahnya dibalik bantal.
"Jujur saja, kau suka yang itu, kan?"
Jeonghan mengulang dengan nada menggoda.
"Ayolah, Jeonghan. Lakukan yang biasa saja."
"Kenapa? Kita baru sekali melakukannya dari belakang dan saat itu, kau ereksi lebih cepat dari biasanya."
"Ya Tuhan. Bagaimana bisa kau mengatakannya begitu mudah?"
"Apanya? Aku hanya berkata jujur."
"Tapi jika kita melakukannya lagi, kau akan-..."
"Akan apa?"
"Punggungmu akan bertambah parah. Kau sering mengeluh soal punggungmu yang sakit akhir-akhir ini dan itu memang salahku, sering menimpamu diam-diam tiap malam."
Seungcheol kira pengakuan ini yang paling memalukan tapi tidak, ekspresi Jeonghan yang berusaha menahan tawanya adalah yang paling buruk.
Meskipun Jeonghan tidak benar-benar tertawa, namun Seungcheol jauh lebih gugup saat ciuman itu dimulai lebih dulu oleh pemuda berambut panjang.
"Diskusi selesai. Kita lakukan bagian kesukaanmu, bareback."
.
.
.
Momo sudah terlelap beberapa menit lalu dengan ibu jari yang diisap oleh mulutnya yang mungil. Jadi mereka memulai dengan rematan pada penis dan Seungcheol yang mengulum dada Jeonghan membuat niplenya menegang serta basah oleh liur. Seungcheol menyelipkan beberapa jarinya dibelahan bokong Jeonghan mencoba membasahi bagian itu dengan cairan bening yang keluar dari penisnya.
"Ah.. Nnh..."
Jeonghan menggeliat merasakan organ vitalnya bergejolak akibat sentuhan Seungcheol, dan kecapan liur dari bibir mereka menutupi suara derit ranjang yang tidak seberapa bila dibanding panasnya suhu malam ini.
Seungcheol memindahkan cumbuannya pada perpotongan leher Jeonghan, membuat cengkraman pada bahunya menguat dan Jeonghan makin tak bisa berhenti mengadu penis kecilnya dengan penis Seungcheol satu sama lain.
"Aku sudah tidak apa-apa. Ayo, kita mulai."
Jeonghan menelungkupkan tubuhnya, menarik bantal dan membaringkan kepalanya yang kini menghadap kekanan. Tangannya meremat ujung benda empuk itu dan menarik nafas sebelum Seungcheol mulai meremat dan memainkan bokongnya dari belakang.
"Aku sendiri berpikir bila gaya ini sungguh erotic. Pantas saja jadi favoritmu."
Jeonghan terkekeh, sementara Seungcheol memijat seluruh bagian bokongnya dengan pelumas termasuk belahan pada lubangnya yang hendak dimasuki.
Tubuh Seungcheol mulai menindihnya dari belakang, dan deru nafas hangat mulai Jeonghan rasakan dari pangkal telinga hingga pipi. Seungcheol ingin berbisik.
"Ahn.."
Satu jari masuk kelubangnya dan Jeonghan melenguh.
"Bisa kita mulai?"
"Just put it in, now."
Dengan bergerak sedikit untuk melebarkan selangkangannya, saat itu juga penis Seungcheol memasuki lubang Jeonghan yang licin dan tepat, dinding prostatnya bergesekan langsung dengan penis seiring Seungcheol yang memulai tusukkannya dengan tempo lambat.
"Ah- Ssshh.."
Jeonghan mendesis menahan erangan, dan tempo Seungcheol bertambah cepat pada menit-menit selanjutnya.
Kedua tangan Seungcheol menekan punggung Jeonghan yang berada dibawahnya, mencoba menetralisir guncangan yang ia ciptakan.
"Ah! Ah! Ah! Aaahhnn! Ah! Ah!"
Cengkraman pada bantal itu mengencang begitu juga suara Jeonghan yang semakin tidak dapat dikontrol. Seungcheol tidak bisa menahan birahinya jadi sebelum ia dapat memperkirakan datangnya ereksi, ia mempercepat tempo dan guncangan pada tubuh Jeonghan semakin tidak terkendali.
"Mmh... Agh.. Jeonghan.."
Kelopak Seungcheol terpejam saat Jeonghan mengangkat sedikit bokongnya sehingga persetubuhan mereka menjadi semakin leluasa.
"Let me see... -you.. Seung-... Cheol..."
Penis Seungcheol terlepas dari tancapannya pada lubang Jeonghan sehingga mereka memiliki kesempatan untuk merubah posisi. Jeonghan berbaring dengan posisi menghadap kekiri dan Seungcheol menekuk serta sedikit mengangkat kaki kanan Jeonghan hingga selangkangannya terbuka dan lubang kenikmatannya terlihat.
Seungcheol menarik tangan kanan Jeonghan untuk merangkul bahunya dan persetubuhan mereka kembali dimulai. Penis Jeonghan berkedut dan ia berteriak saat tempo pergerakkan Seungcheol kembali dipercepat. Mereka berciuman dan lidah Seungcheol menekan atap mulut Jeonghan hingga pemuda itu hampir terbatuk dan memuntahkan salivanya.
"Ssshh... Ah! Ah! Cheol-.. Emh... Ahh!"
Jeonghan ereksi lebih dulu disusul Seungcheol yang menumpahkan cairannya didalam lubang kenikmatan Jeonghan hingga sebagian keluar membasahi bokong dan selangkangannya.
Seungcheol tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera membalut tubuh berkeringat Jeonghan kedalam pelukannya selagi mulut itu tidak berhenti mengucapkan terima kasih. Jeonghan tersenyum dalam kelelahan saat Seungcheol mengecupi dahinya dan mereka melanjutkan ciuman yang lebih menuntut didalam balutan selimut.
.
.
.
Saat pukul 2, Jeonghan mengajak Seungcheol untuk duduk di balkon dengan beberapa kaleng bir dan selimut yang membalut tubuh telanjangnya. Seungcheol menarik relsleting celana cargo-nya dan duduk disisi kosong dimana Jeonghan menepuk memintanya untuk ikut memandangi bintang saling bersisian.
"A little cold here, isn't it?"
"Not really. Malam ini bukan suhu gurun. Maksudku... entahlah. Tapi yang pasti, malam ini jauh lebih hangat dibanding sebelumnya."
Jeonghan menenggak bir yang masih berdesis sementara Seungcheol tidak mau mengalihkan tatapannya dari wajah feminim yang kini terpias oleh cahaya lembut bulan yang berpendar setengah lingkar.
"Aku tidak pernah berpikir untuk berhenti dari pekerjaanku diatas ranjang. 8 tahun tidaklah sebentar, terlebih kehidupan yang tidak pernah adil padaku membuat malam terasa seperti cambuk untuk diriku sendiri. Aku harus memuaskan birahi banyak pria, mencium mereka sekalipun rasanya begitu menjijikkan. "
Jeonghan bertahan memandangi bintang, atau mungkin menghitung jumlah yang terdekat dari bulan beberapa kali. Satu hal yang Seungcheol sukai saat bersama Jeonghan adalah, ia tidak pernah merasakan lelah ataupun tidak nyaman, karena Jeonghan hanya membawa ketenangan dari irama nafasnya dan kelopak mata yang melengkung. Meski disaat yang bersamaan, ia tidak begitu yakin. Jeonghan has always been a mystery to him, especially now. He could never get what Jeonghan was thinking or what he wants. Always a mystery.
"Can you guess, Jeonghan. Anything?"
"I'm not an Idiot, Seungcheol."
Seungcheol menunduk bersama segaris senyum dibibirnya. Jeonghan masih terlalu sibuk dengan pemandangan diatas langit.
"I know. Was I too careless?"
"Yes, you are. But don't worry. That's what I like about you. I just realized it now. Hidup tidak harus berjalan sama saat pagi dan berakhir biasa dipenghujung hari. 4 musim tidak akan indah tanpa warna yang berbeda-beda. I saw you were perfect, and so i like you. And i see you are not perfect, but nothung's changed either."
"I wonder." Seungcheol mengangguk paham. "Takdir itu seperti Perkosaan. Jika tidak sanggup melawan, cobalah untuk menikmati."
Giliran Jeonghan yang menyembunyikan tawanya dibalik senyum.
"Haha. Kau menyindirku ya."
"Apa terdengar seperti itu?"
"Kau benar. Aku hanya terlalu sensitif."
Jeonghan menggigit kecil bibirnya, asam dan basah.
"The stars." Seungcheol mengikuti arah pandangan Jeonghan pada langit diatas mereka. "They're only visible at night. They're only pretty at night." A pause. "Kind of like me."
Seungcheol kembali melempar tatapannya pada pemuda itu dan bertahan disana.
No one is talking for a minute.
Namun Seungcheol hanya sibuk menghapal dan mengenali setiap inchi wajah Jeonghan.
"Yeah. You're right."
Jeonghan melihat kebawah saat Seungcheol mencoba untuk menatap kembali pada langit.
Pelan-pelan, Jeonghan merebahkan kepalanya diatas bahu Seungcheol.
"I woke up earlier than you every morning just to watch you sleeping, just to watch you hug the pillow. And whenever you walked in the kitchen, wearing my shirt, with your hair dishelved, and you're yawning while rubbing your eyes, and you greet me with a beautiful smile of yours...that's when you're the prettiest. No one would even compare. Because its you..."
Jeonghan menutup matanya.
"You're beautiful inside and out. Thats what makes you... You..."
Tidak ada yang tahu betapa bersyukurnya Seungcheol setelah kata-kata itu keluar dari hatinya sendiri, melalui bibir dan terangkai dalam kalimat terlembut dan sederhana untuk dipahami. Bersama irama yang diciptakan oleh semak dan angin, juga bintang yang tidak akan redup sebelum fajar menyingsing di ufuk timur.
"And I love you..."
Saat Jeonghan terlelap dibahunya, Seungcheol tersenyum, untuk dirinya sendiri, dan malam mereka yang punya tidak akan ditelan oleh sepi karena Seungcheol, kini percaya ia telah memiliki Jeonghan, both body and soul didalam genggamannya.
Seungcheol telah menyelipkan sesuatu didalam sakunya dan beruntung, Tuhan memberinya kesempatan berharga itu hari ini.
Sebuah kalung, ia harap Jeonghan tidak pernah melihat benda ini dilemarinya, sehingga kejutan bukan menjadi hal yang gagal baginya malam ini.
Dengan hati-hati Seungcheol memasangkan rantai emas putih dengan swarovski pada leher jenjang Jeonghan dan mengaitkannya, sebelum kecupan itu mendarat dipucuk kepala Jeonghan yang bisu dalam lelap dan Seungcheol bersyukur untuk semua keajaiban yang turun dan membalut mereka bersama penyatuan hati.
Jeonghan, also, smiles secretly.
Karena ia percaya, Seungcheol tahu jika ia mulai membuka hati pada seseorang yang mengucapkan janji, dan tidak akan pergi dari "rumah" yang memayungi mereka sejak awal dan menggantikan tembok penghalang didalam hatinya dengan jemari yang saling bertaut diatas ungkapan;
I Love you
Believe me
I promise
And forever
.
.
.
END
A/N: SEQUEL ON THE WAY~
Untuk sequel, disana baru diceritakan soal "asal-usul" Momo dan masalah baru yang lebih intim diantara JeongCheol~
Anyway, I had mixed feelings in this last chapter because my playlist kept on playing sad songs then happy songs then sad songs then happy songs.
I think my playlist is bipolar. LOL
And guess what? DISNEY GET INVOLVED HERE because, yeah, if you read my recent PM, I've watched Disney all day while I stayed both in hospital and home for killing times. Mommy get worried about me, he said I should watched Disney so I wouldn't bored to death
Well, Gimme feedback dears... Leave your review here and I love you~
