IKANAIDE | JeongCheol Fanfiction (Sequel of "BABYSITTING") - Bagian I
PDA Presents
.
.
.
Bagi Jeonghan, yang terbaik dari hari Minggu adalah saat Seungcheol mengatakan ia muak dengan dokumen-dokumen diatas mejanya, dan wisata keluarga menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan akhir pekan dimusim semi ini.
"Ayah Momo... Bangun..."
Dengan semangat Jeonghan mengguncang-guncang tubuh Seungcheol yang masih terlelap dalam balutan selimut. Kau tahu kenapa? Ini hari Minggu!
"Bubu!"
Jeonghan terkekeh melihat Momo tiba-tiba kehilangan keseimbangannya saat duduk. Bayi mereka ingin membangunkan Seungcheol juga rupanya.
"Ayo, coba bangunkan Ayah lagi." Bisik Jeonghan.
Tangan mungil Momo dituntun untuk membelai wajah rupawan Seungcheol. Matanya yang masih terpejam secara spontan berkedut, mengerang pelan saat merasakan sesuatu yang lembab dan lembut menyentuh permukaan pipinya.
"Ta ta ta! Byu..."
Seungcheol mengerjap perlahan. Saat kesadarannya mulai terkumpul, objek pertama yang ditangkap oleh matanya adalah wajah berseri Momo yang tertawa, serta 'Ibu' dibelakangnya yang tersenyum manis.
Harta yang tak ternilai, yang hanya dapat Seungcheol temukan dirumah ini. Sebelum matanya benar-benar terbuka, Seungcheol membisikan doa paginya pada Tuhan. Doa yang sama, agar kebahagiaan senantiasa menyertai mereka serta untaian rasa syukur yang tak pernah putus.
"Pagi, sayang..." Seungcheol menyelipkan tangannya dilipatan ketiak Momo dan menarik bayi mereka keatas perutnya.
"Katakan "hai" pada si pemalas ini, Momo."
Jeonghan membisikannya pelan pada Momo sambil menahan geli.
"Buu!"
Mereka terkekeh bersama. Seungcheol kemudian memberi kecupan bertubi pada perut Momo yang gembul. Aroma khas bayi itu menguar, serta merta menelan semua rasa kantuk yang semula membuat Seungcheol ingin berlama-lama bersantai diranjangnya.
"Momo sudah mandi?"
Seungcheol menyadarinya saat melihat baluran bedak bayi belepotan dibeberapa tempat, tepatnya diperpotongan leher dan kening Momo.
Anehnya, Jeonghan malah menunduk tersipu ketika Seungcheol melirik kearahnya.
"Ooh... Apa sekarang tinggal Ayah yang belum mandi?"
"Tentu saja aku juga belum! Kau selalu bangun terlambat sehingga semuanya aku sendiri yang mengerjakan." Pemuda itu mengerucutkan bibir agar akting marahnya semakin terlihat 'sungguhan'.
Padahal, Jeonghan hanya memenuhi peran "housewife"nya di hari Minggu. Karena, ya, dihari kerja Seungcheol yang selalu bangun lebih awal dan menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah kecuali menyiapkan sarapan, karena itu kesukaan Jeonghan.
"Benarkah?" Seungcheol kira ia berhasil kali ini. Hanya modus, kalian mengerti maksudnya, kan? Berlagak tidak tahu agar Seungcheol bisa melakukan 'inspeksi' pagi dengan mendekatkan indera penciumannya pada perpotongan leher Jeonghan.
"Hmmm... Ini wangi apa?"
Seungcheol menyingkap helaian rambut panjang Jeonghan agar permukaan kulit tengkuknya terlihat.
"Gya!"
Momo menangkup wajah mungilnya dengan kedua telapak tangan, tertawa sendiri sambil bersandar pada tumpukkan bantal.
Smooch~
"Ahn..."
Seungcheol tersenyum sebelum menyudahi ciuman intimnya. Erangan kecil itu berasal dari bibir kekasihnya saat ia menyesap permukaan kulit tengkuk putih itu lembut. Jeonghan tidak juga mengucapkan sepatah kata sejak rona wajahnya terus bertranformasi menjadi kemerahan, sehingga Seungcheol menangkup pipinya dan mencium pucuk hidung Jeonghan dengan mesra.
"Bagaimana dengan mandi berdua?"
"Bodoh."
"Ayolah... Aku letakkan Momo di box bayinya."
Seungcheol memainkan alis tebalnya dan menatap Jeonghan manja.
"15 menit."
"30?"
"15 atau tidak sama sekali."
"Baiklah. Apapun kulakukan asal bisa mandi berdua denganmu."
Seungcheol dengan semangat menarik Jeonghan kekamar mandi setelah sebelumnya membaringkan Momo didalam box tempat tidurnya.
15 menit terasa singkat jika sebagian waktu mandi dihabiskan untuk bertengkar soal suhu air, mata yang kemasukan sabun, ruang gerak yang sempit dan sikat gigi yang tertukar. Jeonghan terus saja berteriak karena mandi bersama Seungcheol adalah hal yang paling merepotkan dalam hidupnya walau dalam sekejap, segala umpatan itu bungkam dalam kecupan dibawah hangatnya air yang membasahi tubuh keduanya.
Momo harus menunggu 'sedikit' lebih lama dari 15 menit yang dijanjikan orang tuanya.
.
.
.
"KITA TERLAMBAT!"
Jeonghan berlari panik, masuk-keluar kamar dengan membawa berbagai barang random untuk dimasukkan kedalam tas.
Momo duduk tenang didalam kereta bayinya dengan sebotol susu, memperhatikan siluet ibunya yang berlalu lalang dan masih mengenakan kimono towel untuk menutupi tubuhnya seusai mandi. Sedangkan, ayahnya menyesap kopi dan menikmati sarapannya tanpa merasa terbebani. Apapun, termasuk teriakan Jeonghan dan lantai mahoni mereka yang berdegup akibat sang pemuda tidak bisa berhenti dari kegiatan lari mondar-mandirnya sejak 10 menit lalu.
"AYAH!"
"Ada apa, babe?"
Seungcheol menyahut tenang sambil membalik halaman korannya.
"BAJU APA YANG HARUS KUPAKAI?!"
"Yang santai saja. Ini wisata keluarga dimusim semi, pakai saja kaus casual dan ikat rambutmu sebagian seperti biasa."
"WISATA KELUARGA KATAMU?!"
Seungcheol mengerutkan dahi dan berhenti sejenak dari kegiatan membacanya. Memang apa yang salah?
"LIHAT STICKY NOTE YANG KUTEMPEL DI KULKAS DAN PASTIKAN HARI APA INI!"
Teriak Jeonghan lagi, dengan berbagai suara benturan didalam kamarnya yang tertutup.
Seungcheol berjalan santai mendekati kulkas untuk membaca sticky note warna-warni yang banyak ditempel disana. Seungcheol mencocokan agenda yang tertulis dengan tanggal hari ini dan kertas warna pink itu berkata...
Tuhan.
Ini...
"SAYANG KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU LEBIH AWAL?!"
"AKU JUGA BARU MELIHATNYA SAAT MENGELUARKAN SUSU TADI! JANGAN SALAHKAN AKU!"
Seungcheol buru-buru lari sambil mendorong kereta bayi Momo untuk menyusul Jeonghan didalam kamar dan lekas bertukar pakaian. Mereka benar-benar terlambat.
"Bagaimana dengan Momo?! Apa kita harus membeli pakaian baru?"
Seungcheol bertanya panik sambil memasang dasi didepan cermin.
"Kita atur itu nanti. Yang penting, aku tidak ingin gambarku diambil bersama pria yang tidak memakai celana."
Jeonghan menepuk-nepuk pipinya yang telah dilapisi oleh BB Cream. Seungcheol melirik kebawah dan benar saja, dasi dan jasnya sudah terpasang namun tidak dengan celananya.
"Ini semua karena kau terlalu lama bermain-main dikamar mandi!"
"Bukan aku sendiri, mine. Kau juga."
"Choi Seungcheol!"
"Apa?" Seungcheol menoleh kaget saat sedang mengenakan jam tangannya.
"Aku belum bisa menentukan bajunya... Baju apa yang harus kupakai?"
"Yang pasti kau tidak cocok memakai jas."
"Lagipula aku juga tidak mau dan tidak punya satupun!"
"Pakai Blazer? Coat juga bagus."
"Yang mana?"
"Putih. Atau abu-abu. Terserah..."
"Coklat?"
"Bagus juga. Sini, aku bantu."
Seungcheol melepaskan Blazer potongan panjang berwarna coklat muda dari hanger dan memasangkannya pada Jeonghan, merapikannya dan kembali menatap pantulan bayangan sang kekasih dari cermin didepan mereka.
"Perfect."
Seungcheol, dengan setelan jas hitam berpotongan mahal bersanding bersama Jeonghan yang saat itu terlihat sempurna dengan jeans putih, kemeja putih dan dibalut Blazer coklat muda yang membuatnya terlihat seperti manequin di etalase toko.
"Kau siap?"
"Tentu. Aku... Aku sudah menantikannya sejak lama. Kukira ini tidak akan pernah terjadi."
Jeonghan tersenyum, membalas tatapan Seungcheol masih dari balik cermin. Namun kemudian, ia menunduk untuk menetralisir rasa gugup yang berkecamuk didadanya.
"Aku juga..."
Seungcheol memutar tubuh Jeonghan untuk menghadap kearahnya.
"Semula, aku tidak pernah tahu jika mengambil foto keluarga akan terasa menakjubkan seperti ini. Rasanya aku bisa meledak kapan saja, kau tahu..."
Seungcheol memeluk Jeonghan, membuat pemuda itu menyandarkan kepala didada bidang kekasihnya.
Jeonghan tidak bisa lagi menghitung, sudah berapa besar perasaan sayangnya kepada Seungcheol sampai saat ini, begitu juga sebaliknya. Mereka juga tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana hari indah itu akan terjadi.
Pernikahan, tentu saja.
Kadang mereka menyesal, kenapa menetapkan upacara janji sakral itu 1 bulan dari sekarang. Itu terlalu lama. Walau sebenarnya, ini semua karena Jeonghan terlalu gugup saat Seungcheol mengucapkan lamarannya dibawah payungan langit malam Seoul, lilin diatas meja dan semilir angin dibalkon rumah. Jeonghan kehilangan sejumlah sel didalam otaknya sehingga Juli, ia kira Juli adalah saat yang tepat karena itu adalah bulan lahirnya. Dan Seungcheol setuju dengan tanggal 18.
.
.
.
Seungcheol dan Jeonghan masuk ke studio foto yang berkantor didaerah Cheongdamdong, gedung bertingkat hanya untuk sebuah jasa pengambilan gambar dengan ongkos yang (tentu) tidak murah. Momo terlihat senang dengan keramaian yang ditemuinya saat kereta bayi itu melewati banyak pekerja yang mondar-mandir dengan berbagai alat semacam kursi, lighting dan Tripot.
"Sepertinya, studio yang satu itu untuk kita."
Seungcheol menunjuk sebuah studio dengan sekat dikanan-kirinya, dengan beberapa orang yang sibuk menata wardrobe dan dekorasi bernuansa Disney didalamnya.
Oh. Disney.
Jeonghan terkekeh diam-diam. Seluruhnya memang Seungcheol yang memesan. Ia langsung mendorong kereta Momo mendekati studio yang dekorasinya hampir selesai itu dan memungut salah satu boneka Perry didekat sofa merah.
"Kau tergila-gila pada Disney rupanya."
Sindir Jeonghan dan menjulurkan sedikit lidahnya menjahili Seungcheol.
"Istri dan anakku lebih tergila-gila, kurasa."
"Tch, dasar."
Jeonghan mencubit pelan pinggang Seungcheol dan mereka terkekeh kecil.
"Ta ta ta!"
Momo berjingkat-jingkat didalam kereta bayinya, tidak ingin ketinggalan momen seru bersama kedua orang tuanya itu. Seungcheol segera mengendong bayinya dan Jeonghan memainkan boneka Perry didepan Momo sambil mengeluarkan suara-suara lucu.
"Ehem... Tuan Choi?"
Suara pria itu menginterupsi permainan mereka bertiga. Keduanya kompak menoleh kearah seorang pria yang sudah berdiri dihadapan mereka, dengan setelan rapi, kacamata dan tas tangan hitam digenggamannya.
"Boleh kita bicara sebentar?"
"Tentu."
Pria itu tersenyum, dan disaat yang bersamaan seorang pegawai menaruh sebuah kursi didepan sofa dan pria itu duduk disana.
"Kita bisa duduk dulu selagi berbincang."
Tawarnya. Jeonghan sempat tidak mengerti sedangkan Seungcheol hanya mengikutinya dengan tenang, seperti biasa.
Sambil memangku Momo, Jeonghan menyembunyikan tangannya untuk menyenggol pinggang Seungcheol diam-diam sebagai isyarat. Mereka tidak punya waktu untuk berbincang dengan orang asing ini disaat fotografer mereka sudah ada di depan dan semua persiapan studio selesai dilakukan.
Namun Seungcheol hanya membalas tatapannya seolah meminta untuk bersabar sebentar. Ia kira, ini tidak akan lama.
"Aku adalah Pengacara Pribadi Tuan Park Yoochun. Namaku Zhang Yixing. Senang bertemu dengan anda."
Pria keturunan China itu mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Seungcheol.
"Aku Choi Seungcheol. Dan ini kekasihku, Yoon Jeonghan."
Jeonghan sempat membeku mendengar pengucapan "kekasih" sebelumnya, namun waktunya juga tidak tepat untuk bertengkar sekarang karena Zhang Yixing juga sepertinya sudah sangat memaklumi hal itu. Atau mungkin dia sudah tahu sejak awal? Batin Jeonghan, yang kini berkutat sendirian dengan berbagai pertanyaan yang tumbuh maraton dikepalanya.
"Kau juga perlu berkenalan dengannya? Ini Momo. Anak kami."
"Ja ja!"
Seungcheol mengambil Momo dari pangkuan Jeonghan, memamerkan bayinya yang saat itu terlihat sangat menawan mengenakan pakaian ala bayi eropa dan topi baret dengan perasaan bangga namun terlihat konyol dimata Jeonghan. Pemuda brunette itu hanya bisa tertawa canggung, dalam hati mengutuk Seungcheol atas tingkah bodohnya yang membuat suasana dipenjuru studio berubah "mencekam" dalam sekejap.
Jeonghan merasa seluruh mata tertuju pada mereka, juga terdengar bisikan-bisikan seperti "bagaimana pemuda itu melahirkan?" dan semacamnya. Pipinya memerah sekarang, Jeonghan sadar itu.
"Aku juga sudah tahu itu."
Apa pria ini stalker? Orang suruhan? Atau bagaimana?
Jeonghan mulai menunjukkan ekspresi waspadanya. Ia memiliki perasaan buruk tentang ini, pria itu, orang-orang didalam studio, dan semuanya. Entah mengapa, Jeonghan kira mereka sedang terancam. Bagaimana caranya memberitahu Seungcheol?
Jeonghan hanya bisa diam, mencoba menenangkan diri dengan menggenggam lengan Seungcheol dan merematnya perlahan.
"Dan ngomong-ngomong soal Momo, aku mengenal bayi itu karena dia memang anak dari klienku."
Seketika, rematan tangan Jeonghan pada lengan Seungcheol pun mengencang.
"A-apa?"
Pertanyaan Seungcheol seakan tercekat ditenggorokannya sendiri.
"Lebih tepatnya, Momo adalah anak dari istri baru Tuan Park Yoochun, Nyonya Tiffany Hwang."
Siapa dua orang asing itu? Apa yang terjadi sekarang?
Jeonghan gemetar. Ia takut. Sangat takut. Satu-satunya hal yang dapat diprediksi oleh pikirannya adalah...
Orang-orang disini akan merebut Momo darinya.
"Si-siapa mereka? Kami tidak kenal. Momo itu anakku. Kalian tidak bisa-..."
"Momo..."
Suara tenor wanita yang memanggil nama Momo seketika membuyarkan Jeonghan dari segala sangkalan yang ia buat.
"Itu Nyonya Tiffany."
Wanita bergaun merah itu mendekat, dengan mata yang berkaca-kaca ditemani seorang lelaki yang terlihat seperti (dan memang benar) suaminya, Park Yoochun.
"Uuuhh... Bu bu bu..."
Momo sendiri terlihat tidak nyaman dengan situasinya sekarang. Ia menggerutu dan mengucek wajahnya sendiri seakan tengah kesal. Jeonghan yang sadar segera mengambil Momo dari gendongan Seungcheol, memeluknya erat dan berdiri untuk melangkah mundur.
Seungcheol menatap wajah kekasihnya khawatir, Jeonghan benar-benar terlihat ketakutan dan matanya menyorot penuh waspada. Pemuda tinggi itu mendekatinya dan berdiri sedkit lebih maju didepan Jeonghan, melindungi keluarga kecilnya yang kini merasa terancam.
"Siapa kalian ini?"
Seungcheol berusaha menangkan dirinya dan bertanya dengan nada sedkit menekan. Yixing mendekat, sedangkan Yoochun kini berusaha menangkan istrinya yang mulai menangis.
"Tiffany adalah ibu kandung Momo yang ia lahirkan dari pernikahan sebelumnya."
"Lalu?"
"Maaf Tuan Choi. Tentu saja dia ingin anaknya kembali kepangkuannya."
"Setelah membuangnya didepan pintu apartementku, maksudmu?!"
Jeonghan angkat bicara. Ia benar-benar sudah tidak tahan. Ia muak dengan segala lelucon tentang membuang, terbuang, dan yang membuang. Ia sudah tidak peduli pada hal lain kecuali kehidupan bahagia mereka bertiga kelak. Setelah semua yang pernah terjadi, ia tidak ingin merasa kehilangan lagi. Jeonghan tidak sanggup jika harus kehilangan lagi orang-orang yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Soal itu... Nyonya Tiffany punya alasan mengapa ia melakukan hal itu."
"Aku tahu. Semua hal yang terjadi tentu ada alasannya. Tapi tentang membuang darah daging yang paling berharga bagimu, hanya alasan konyol yang dapat menjelaskannya. Seperti membuang keluargamu karena tidak ingin merasa terbebani, atau yang paling jelas... Orang itu akan terbuang saat tidak ada lagi keluarga yang mempedulikannya..."
Jeonghan memperat pelukannya pada Momo. Dadanya memang sesak, dan ingatan akan masa lalu hanya menambah penderitaanya saat ini. Jeonghan menitikan air mata pilu karena rasanya memang benar-benar sakit... Hingga ia berpikir sudah tidak bisa lagi menampungnya lebih dari ini.
"Hhuu... Hhuuwweee... Ffuuu... Huuuuu..."
Dan Momo seperti mengerti bagaimana rasanya. Tentu saja, kemalangan yang mereka terima memang sama. Seungcheol mengepalkan tinjuannya menahan emosi, hari yang mereka tunggu-tunggu, siapa sangka akan berakhir jadi seperti ini.
"Jeonghan, kita pulang sekarang."
Seungcheol merangkul kekasihnya dan menuntunnya untuk menjauh dari kerumunan gila ini. Benar saja, mereka jadi tontonan seluruh penghuni studio. Apa mereka sedang shooting drama sekrang? Ini konyol. Seungcheol semakin merasa muak jika memikirkannya.
"Tunggu, Tuan Choi."
Yoochun, yang semula tidak menelurkan sepatah kata, kini mulai bertindak dengan menahan tangan Seungcheol.
"Kami harus membawa Momo pulang bersama kami. Sekarang, dia adalah anakku."
"Bagaimana denganku? Aku ini Ayahnya, jauh sebelum kau menikahi wanita ini."
"Tiffany punya alasan untuk itu."
"Aku tahu. Jadi simpan saja alasanmu itu. Kami ingin pulang."
"Tiffany terpaksa meninggalkan Momo juga karena aku. Ia mengira jika dia memiliki anak, aku tidak akan mau menikahinya."
Raut wajah Yoochun terlihat terpukul. Ia menatap wajah Seungcheol layaknya seorang pencuri yang mengaku salah.
"Aku tidak peduli. Kenapa dia membuang Momo didepan pintuku, jawabannya karena Momo memang ditakdirkan untuk menjadi anakku. Cukup adil, bukan?"
"Tapi secara hukum, itu bukanlah keadilan, Tuan Choi."
Yixing berdiri, kini memegang seberkas surat konyol yang entah apa isinya.
"Kami memang tidak akan melayangkan tuntutan akan hal ini, karena Ibu Tiffany sendiri mengaku salah terhadap apa yang pernah dilakukannya dulu. Tapi sebagai manusia, apa anda tidak dapat memahaminya? Tiffany adalah ibu kandung Momo, ia ingin membesarkan anaknya seperti ibu normal lain. Begitu juga Momo, dia pasti ingin merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya."
"Jeonghan bisa memberikan itu. Dia bahkan mencintai Momo lebih dari ibu kandungnya sendiri."
"Jeonghan-ssi, apa itu benar?"
Jeonghan terlalu takut untuk berucap kembali, jadi ia hanya mengangguk dan tetap berlindung dalam rangkulan Seungcheol. Momo juga sudah sedikit lebih tenang.
"Dan boleh aku bertanya sesuatu?"
Seungcheol sempat ingin mengabaikannya dan mengajak Jeonghan pergi. Namun lagi-lagi, pengacara itu menahan tangannya dan memohon.
"Satu pertanyaan saja, tentang Momo. Apa kalian tidak memikirkan masa depannya?"
"Ma-masa depan?"
Jeonghan menyahut gugup.
"Iya, masa depan. Bagaimana rasanya tumbuh tanpa ibu kandung, dan memiliki ibu asuh yang merupakan seorang laki-laki didalam rumah? Bagaimana nanti teman-temannya akan memandang Momo? Bagaimana nanti Momo harus menjawab rasa penasaran orang-orang tentang hal itu?"
Jeonghan mematung.
Masa depan?
Cemoohan orang-orang?
Apa... Apa Momo akan tumbuh menjadi seorang pecundang dan pelacur sepertinya, karena tidak memiliki keluarga yang normal?
Jeonghan gemetar. Seungcheol menahan tubuhnya yang limbung dan disaat yang tepat, Tiffany mengambil Momo dari tangan Jeonghan yang tiba-tiba berubah lemas, seperti mati rasa.
"Momo sayang..."
Wanita itu menciumi putranya dan menangis. Momo kembali gelisah tidak nyaman, ia berusaha menolehkan kepalanya, mencari keberadaan Jeonghan.
"Momo!"
Emosi Seungcheol meluap ketika melihat Momo sudah berada digendongan Tiffany, tapi ia tidak dapat berbuat apapun karena Jeonghan sendiri benar-benar sudah tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.
"Jeonghan?"
Seungcheol mati cemas, ia takut jika Jeonghan sampai...
"Jeonghan!"
Seluruh orang yang berada dipenjuru studio mendekat, mencoba membantu karena Jeonghan tiba-tiba pingsan kehilangan kesadarannya.
Keadaan jadi tidak terkendali. Ruangan jadi begitu berisik dan Seungcheol tidak bisa berpikir dengan benar. Ia langsung membawa Jeonghan keluar dari sana menuju mobil mereka, mengabaikan tangan-tangan orang lain yang semula menawarkan bantuan untuk memanggilkan ambulans.
"Tuan Choi, biarkan kami ikut mengantarnya ke rumah sakit."
Yoochun berteriak saat Seungcheol sudah naik kemobilnya.
Seungcheol tidak bisa berucap apapun pada semua orang dan langsung menancapkan gas pergi. Ia hampir gila, Jeonghan tiba-tiba pingsan sedangkan Momo sudah tidak berada dipangkuannya. Apalagi yang akan terjadi setelah ini?
.
.
.
Seungcheol terduduk lemas dibangku tepat disamping brankar dimana Jeonghan tengah terbaring. Dokter bilang Jeonghan mengalami stress berat dan shock, sehingga tekanan darahnya tinggi dan itu yang membuatnya tiba-tiba pingsan dan belum bisa sadar hingga sekarang. Jadi selepas ditangani di UGD, Jeonghan langsung dibawa kekamar perawatan karena kondisinya yang sangat tidak memungkinkan untuk kembali kerumah.
"Mine..."
Seungcheol yang sejak tadi menagkup telapak tangan kanan Jeonghan yang disemat infus, kini mulai menggosoknya pelan, menciptakan seditik rematan lembut berharap Jeonghan sudah bisa merasakan keberadaannya.
"Sebegitu burukkah trauma masa lalumu? Sekejam itukah mereka semua padamu?"
Karena kejadian tadi, sedikitnya Seungcheol bisa tahu alasan terbesar mengapa Jeonghan jadi seperti ini. Sebelumnya, Jeonghan tidak pernah mau menceritakan tentang masa kecilnya. Seungcheol juga sudah menyerah untuk memaksa, karena mungkin mengungkit cerita lama sama saja membuka luka bagi Jeonghan.
Tapi Seungcheol tidak pernah menyangka, jika luka itu sedemikian besar sehingga Jeonghan sendiri tidak sanggup untuk menanggungnya. Berpikir jika Jeonghan kecil pernah melewati hari-hari seperti itu sendirian, itu hanya membuat Seungcheol meneteskan kembali air mata pilunya diatas tangan pucat Jeonghan.
"Momo menangis saat melihatmu seperti ini. Jadi kumohon... Cepatlah sehat, Mine..."
.
.
.
To Be Continue
A/N: Next chapter adalah final chapternya! Jangan lupa kasih review ya :)
