PDA Presents

.

.

.

Momo tidak pernah kembali.

3 hari kemudian, kesehatan Jeonghan membaik dan Seungcheol membawanya pulang.

1 bulan selanjutnya, di awal musim panas 18 Juli, mereka berdua menikah. Hanya ritual sederhana dengan meyematkan sepasang cincin, seorang saksi dari gereja dan iringan piano saat berciuman.

2 bulan berlalu dan Seungcheol memutuskan untuk mengajak Jeonghan pindah. Semua nampak buruk ketika Jeonghan hanya duduk termangu di depan tv dan menonton Disney sepanjang hari. Phineas and Pherb tidak membuatnya tertawa, dan theme song Disney Club House hanya menghantarkannya untuk menangis lebih dalam. Apartement mereka hanya menyisakan kenangan tentang Momo. Pakaian mungilnya, baby walker disudut ruangan, juga tawa manis yang tertinggal di setiap sisi rumah.

Tidak ada lagi yang bisa Seungcheol lakukan selain menghadiahkan Jeonghan sebuah hunian bertingkat di areal perumahan yang sunyi, hanya ada kebun aster dan padang sabana hijau disebrang jalan. Ia kira ini yang terbaik. Seungcheol tidak mampu membawa Momo kembali kepangkuan mereka namun sedikitnya, ia berharap jika Jeonghan bisa mendapatkan ketenangan dengan tinggal ditempat yang jauh dari hingar bingar kota, angkat kaki dari Apartement lama yang berisi kenangan tentang anak laki-laki mereka.

Jeonghan mengayuh sepedanya sore itu, membiarkan angin menerbangkan surai miliknya yang kini hanya sebatas bahu. Ia memangkas untaian rambut panjangnya 1 hari sebelum pernikahan, merubah warnanya menjadi blonde dan berkata pada Seungcheol jika inilah yang dia inginkan.

Langit jingga dengan gradasi biru membentang luas diatasnya, memayungi dataran sepi yang hanya dilewati oleh sepeda dan cicitan burung yang berarak untuk kembali ke sarang mereka. Setiap sore Jeonghan menghabiskan waktunya untuk berkeliling, niat membunuh waktu sebelum Seungcheol tiba dirumah pukul 6. Kehidupannya benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi hari yang berlalu bersama gelas whiskey dan tangan-tangan panjang yang melingkari pinggangnya, masa lalu yang pernah ia lewati bersama lantunan cinquilo di nada G tiap menjelang tengah malam.

Jeonghan juga bukan lagi sosok yang tempramental. Ia sudah tak punya refleks yang bagus untuk mengumpat, meninggikan nada bicara, apalagi mengeluh untuk hal-hal sepele. Semua orang yang ia temui di tempat baru akan menyebutnya manis dan berhati lembut. Waktu telah merubahnya. Choi Seungcheol adalah kata lain dari keajaiban yang datang dikehidupan Jeonghan. Pria itu mengubah seorang bocah tengik yang tidak punya sopan santun menjadi sosok istri yang sempurna. Jeonghan tersenyum ketika sepintas paras tampan Seungcheol terlukis jelas diatas kanvas langit petang.

Jeonghan hampir tiba di pelataran rumah sebelum kemudi sepedanya tiba-tiba terasa oleng, roda depannya baru saja menabrak sebuah batu dan ya, Jeonghan terjatuh.

"Ah..."

Ia meringis, mengamati lutut kanannya yang ia tekuk kini terluka dan berdarah.

Well, ini salahnya. Setelah langit merefleksikan paras tampan Seungcheol, selanjutnya tawa Momo kembali mengiang ditelinganya, menghantarkan rasa rindu yang setiap saat bisa saja meledak seperti halnya bom waktu.

Jeonghan tidak pernah menghabiskan hari tanpa ada bayangan Momo yang melintas di pikirannya.

Jeonghan memeluk lututnya. Rasanya perih. Jangan salahkan jika ia menangis sekarang.

Tapi perih itu tetap saja tak sebanding dengan pilu yang ia derita sejak terpisah dari bayi laki-laki mereka...

.

.

.

Saat melewati ruang keluarga, Seungcheol melirik jam analog yang terpajang didindingnya kemudian medesah jengah. Sudah pukul 8. Ia terlambat 2 jam dari waktu yang selalu ia janjikan pada Jeonghan. Kekasihnya memang tidak pernah mengeluh soal keterlambatannya tiba dirumah, tapi Seungcheol tahu bagaimana Jeonghan mencoba menutupi rasa kecewa itu ketika ia menelpon hanya untuk memberitahukan jika Jeonghan tidak perlu menunggunya saat makan malam.

Seungcheol membuka pintu kamar dan seketika pencahayaan remang dari lampu tidur menyambutnya lebih dulu. Jeonghan terduduk diatas tempat tidur mereka, menekuk lututnya dan ada sebotol antiseptik juga kain kasa kini berada digenggaman kekasihnya itu.

"Mine? Ada apa dengan lututmu?"

Seungcheol mendekat dan mendudukkan dirinya ditepian ranjang, menyentuh pinggiran tempurung lutut Jeonghan yang kini diliputi luka terbuka dan masih basah.

"Selamat datang, Dear."

Jeonghan menyambut kepulangan kekasihnya, kemudian tersenyum dan menatap Seungcheol seolah meminta pria itu untuk tidak terlalu khawatir.

"Hanya luka kecil. Tadi aku terjatuh dari sepeda."

"Lagi?"

"Memangnya ini yang keberapa?"

"Yang kedua, mine. Apa kau begitu cepat melupakan bekas luka yang ada di sikutmu ini?"

Seungcheol menarik tangan kiri Jeonghan dan menunjuk bekas luka yang didapat kekasihnya kira-kira seminggu yang lalu.

"Dan yang ini. Sudah berapa kali kau membiarkan jari-jari cantikmu ini tergores?"

Jeonghan membiarkan Seungcheol meremat jemarinya sambil mengusap bekas-bekas luka pisau yang cukup sering ia dapatkan saat memasak.

"Maaf..."

Bisiknya, membalas rematan tangan Seungcheol lembut penuh kehangatan.

Seungcheol tidak bisa membantah, hanya mampu mendesah kecil berharap Jeonghan menyadari betapa ia mengkhawatirkan kekasihnya ini. Seungcheol mendekatkan telapak tangan kurus itu kebibirnya dan mengecup punggung tangan Jeonghan lembut dan lama. Seungcheol selalu berhasil menyalurkan perasaan sayangnya melalui berbagai sentuhan dan kontak fisik yang ia lakukan pada Jeonghan.

"Kau jadi ceroboh akhir-akhir ini..."

Ucap Seungcheol lemah, sambil menyemat sisa uraian rambut Jeonghan yang tidak ikut terikat itu kesela telinganya. Warnanya blonde, terlihat begitu kontras saat disandingkan dengan kulit pucat pemuda itu.

Jeonghan masih membisu, hanya menahan tangan Seungcheol untuk tetap berada dipipinya, merasakan aroma lembut itu sambil memejamkan mata.

"Bicaralah, Jeonghan. Kau terlalu banyak diam seolah tidak ada apapun yang terjadi. Aku tahu kau hanya mencoba untuk memendam semuanya sendiran."

Kekasihnya hanya menggeleng, tersenyum meyakinkan Seungcheol jika ia baik-baik saja sekarang.

"Loving someone is means you entrusting all of yourself to that person. So... Did you love me, Mine?"

"Of course I did! A-aah..."

Jeonghan yang menjawab pertanyaan Seungcheol dengan terburu-buru refleks meluruskan kakinya yang tadi tertekuk, membuat luka yang belum kering itu terasa bagai tercabik-cabik dan perih luar biasa.

"Sakit?"

"Em."

Jeonghan mengangguk pelan dan masih meringis. Seungcheol menyentuh pelan kaki kekasihnya kemudian membawanya untuk menekuk pelan-pelan.

Seungcheol menggunting kain kasa yang ada di atas tempat tidur dan membalurkannya dengan antiseptik. Pelan-pelan ia membersihkan darah yang kembali mengalir dari luka Jeonghan. Bibirnya sesekali meniup luka itu agar cepat kering.

"Aahh..."

Jeonghan meremat lengan kemeja Seungcheol saat pria itu menyemprotkan busa pembersih luka dilututnya. Rasanya benar-benar perih, namun Seungcheol menenangkannya dengan mengajak Jeonghan tersenyum selagi membalut luka itu dengan perban.

"Lukanya akan baik-baik saja."

Selesai merekatkan perbannya dengan plester Seungcheol bangkit untuk mencium kening Jeonghan.

"Biar aku siapkan air panas ya. Kau harus mandi, dear."

"Tidak usah, mine. Kakimu masih harus dimanja hari ini, tidak boleh banyak bergerak."

Tahan Seungcheol, mencegah Jeonghan yang baru ingin menurunkan kakinya dari ranjang.

"Dimanja? Aren't you embarassed, saying cheesy stuff like that, dear?"

Kilah Jeonghan gugup, sebisa mungkin mencegah rona dipipinya yang hendak meruam merah.

Seungcheol hanya terkekeh maklum sebelum meninggalkan Jeonghan untuk ke kamar mandi. Tepat ketika pintunya tertutup, Jeonghan langsung menghela nafas lega. Biar bagaimanapun, menghadapi Choi Seungcheol dengan segala kata-kata romantisnya membuat jantung Jeonghan tak pernah berhenti untuk berpacu lebih cepat.

Terlebih Seungcheol tak pernah absen untuk menyinggunya soal "berkata jujur". Sampai sekarang, Jeonghan masih tak mempunyai nyali untuk terbuka sepenuhnya pada Seungcheol. Walau ia tahu makna dibalik pernikahan mereka adalah membagi suka-duka berdua, namun Jeonghan terlalu takut saat membayangkan reaksi Seungcheol nanti bila mendengar semua yang ia pendam selama ini. Ia tidak mau Seungcheol menatapnya dengan iba, mengkhawatirkannya, apalagi mengasihaninya. Jeonghan hanya ingin Seungcheol tahu tentang perasaannya namun tidak ingin Seungcheol terlibat. Segala kesakitannya, Jeonghan hanya ingin menanggungnya sendiri tanpa sedikitpun membebani pria yang dicintainya itu.

Sebenarnya, Jeonghan hanya ingin bertemu Momo... Memeluk bayinya dan melihatnya tumbuh dengan baik, seperti dulu. Jeonghan menahan rasa sesak itu dan menangis adalah satu-satunya pemecah masalah yang dapat ia temukan. Jeonghan menekan dada, memeluk figura yang membingkai potret terakhir dirinya, Seungcheol dan juga Momo sebelum bayi itu dibawa pergi.

.

.

.

Seungcheol mematut pandangan pada cermin yang kini merefleksikan tubuh kekarnya, ujung rambut yang meneteskan buliran-buliran air dan raut wajah yang selalu mampu menyembunyikan rasa depresinya. Lagi-lagi ia mendengar suara itu, suara pilu yang meringkih dalam tangisan yang tersedu. Jeonghan selalu menangis saat ia tak ada dan bagaimana bisa air mata itu mengering tiap kali Seungcheol mencoba menghampirinya.

Seungcheol kira ia adalah orang yang tidak berguna. Untuk menyeka air mata kekasihnya pun rasanya ia tak cukup mampu. Apa caranya yang salah? Seungcheol sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat Jeonghan bicara. Sikap Jeonghan yang tertutup dan sok tegar membuat Seungcheol mengerang frustasi, meremat jemari dalam kepalan tangannya menahan sakit yang selalu menyerang batinnya.

Seungcheol keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang telah terbalut piama biru. Jeonghan menyambutnya dengan senyum, mengikuti setiap pergerakan Seungcheol yang kini duduk bersila dihadapan kekasihnya.

"Apa masih perih?"

Tanya Seungcheol, mengelus kaki kurus Jeonghan yg sudah terbalut perban.

"Jauh lebih baik. Terima kasih, dear."

Mata Jeonghan yang sebening telaga menghipnotis Seungcheol untuk tenggelam, ingin mencari tahu kemana jejak air mata itu pergi disaat semestinya tertinggal di atas pipi pucat kekasihnya. Jeonghan benar-benar pandai bersandiwara.

"Dear..."

"Hm?"

"Apa... Apa kau tidak merasa kesepian? M-maksudku... Seharusnya kita... Aku..."

Jeonghan tak berhenti memilin kausnya gugup dan bicara terbata-bata, hingga Seungcheol tak dapat menangkap sedikitpun maksud dari racauan kekasihnya ini.

"A-aku... Ingin kita punya anak..."

Jeonghan mengakhiri kalimatnya dengan susah payah. Tak sanggup mengetahui reaksi Seungcheol setelah itu, Jeonghan lebih memilih menundukkan kepalanya, mengigiti ujung bibir dan menahan rasa panas yang tiba-tiba dirasakan oleh matanya.

"Kau rindu Momo kan, sayang?"

Nada rendah Seungcheol terdengar menusuk, mengenai tepat sudut hatinya yang rapuh akibat terlalu lama mengubur dalam-dalam perasaan sesak ini.

Seungcheol meraih dagu Jeonghan kemudian mengangkat wajahnya yang tertunduk. Air mata itu dengan lancang menuruni pipi pucat kekasihnya. Ibu jari Seungcheol bergerak dan hatinya bergetar saat pelan-pelan ia menyeka buliran air mata Jeonghan. Seungcheol telah menduganya dari awal. Kehilangan Momo adalah musibah terburuk yang menerjang rumah tangga ini. Banyak hal berubah dan mencoba melupakan bayi mereka hanyalah usaha yang sia-sia. Nyatanya, ia dan Jeonghan masih terjebak dalam stagnasi akibat duka yang datang berlarut-larut.

"Aku seperti tidak berguna... Aku ingin bayiku kembali, Seungcheol... Dia membutuhkanku... Dia masih ada didunia ini tapi aku tetap tak bisa bersamanya... Dengan bodohnya aku membiarkan dia pergi dari pelukanku..."

Tangisan itu pecah saat Seungcheol datang untuk memeluknya erat, membiarkan bahunya menjadi tampungan bagi air mata Jeonghan.

"Kita akan membawa Momo pulang, Jeonghan... Suatu saat aku akan membawanya kembali... Aku janji..."

Seungcheol mengecup pucuk kepala Jeonghan berkali-kali dan bersumpah dalam hatinya, tak akan ia mendengar tangisan menyakitkan ini untuk yang kedua kali. Tak cukupkah semua penderitaan yang dihadapi kekasihnya sejak dulu, Seungcheol jadi mempertanyakan dimana keadilan Tuhan bersembunyi selama ini.

"Seandainya aku bisa memberimu anak..."

Jeonghan berbisik tiba-tiba, dengan nada sesal yang begitu pekat hingga menusuk Seungcheol tepat menuju jantungnya. Jeonghan meremat bahu Seungcheol sekuat yang ia bisa, seolah keputus asaan ini membuatnya tak sanggup untuk menapak lagi pada kenyataan.

"Apa yang kau bicarakan, Jeonghan?"

Seungcheol melepas pelukannya, menatap Jeonghan dan sekuat tenaga menekan nada bicaranya yang bergetar, tak percaya jika tiba-tiba kekasihnya mengatakan hal seperti ini.

"Aku tidak bisa memberi keturunan untukmu, Seungcheol... Selamanya kita akan begini... Tanpa Momo, kau dan aku mungkin bisa bahagia namun kekosongan ini akan tetap datang... Apa artinya rumah tangga tanpa seorang anak?"

"Aku tahu kau sangat merindukan Momo, begitu juga diriku. Tapi haruskah kau berkata demikian, Jeonghan? Apa aku pernah menuntut hal seperti itu padamu?"

"Maafkan aku..."

"Aku sudah bahagia dengan kehidupan seperti ini... Asal ada kau, aku tak butuh apapun... Jangan menyiksaku lagi dengan suara tangisan ini, Jeonghan..."

Seungcheol membungkam isakkan Jeonghan dalam kuluman lembut bibirnya, penuh kehangatan. Jeonghan membalas ciuman itu dengan membuka katupan bibirnya dan membiarkan Seungcheol menikmati apa yang sudah seharusnya menjadi milik pria itu.

Ketika Seungcheol menyudahi ciumannya, ia menatap wajah Jeonghan yang terengah, haus akan udara yang kini terasa semakin panas.

"People said, your first love never works."

Bisik Seungcheol tiba-tiba, membelai lembut garis rahang hingga leher Jeonghan.

"But that means nothing now, since I met you and I'll make you mine forever..."

Tambahnya, membuat Jeonghan tenggelam dalam hangatnya nafas Seungcheol yang menerpa wajahnya, membuat tangan kurusnya mengalung dileher pria itu.

"I can tell that I started to lose myself when you're around. Just like my heart gonna racing... How could I do nothing but love you more and more everyday, Seungcheol?"

"I promise you, I'll bring Momo home..."

"Yes, as you always promised me, dear."

Seungcheol menenggelamkan kepalanya dicuruk leher Jeonghan, mengecup perpotongan lehernya membuat Jeonghan mengeratkan remasannya pada tengkuk sang kekasih.

"We were in love. You loves me, yet I love you even more. So there's only one thing left for us to do, right?"

Kalimat itu terlontar setelah Seungcheol melepas kaus yang ia kenakan.

Jeonghan melupakan luka dikakinya, sama seperti luka-luka lain yang selama ini pernah ia dapatkan. Selama ada Seungcheol disisinya, Jeonghan seperti seorang idiot yang akan melupakan daratan saat Seungcheol mengajaknya terbang tinggi menuju nikmatnya dunia bercinta.

"Everything you've done to me, even just a little, all the hard times are forgotten in an instant. Its all because of you..."

.

.

.

Seungcheol menyadari jika Jeonghan demam pagi ini. Ia tahu suhu tubuh kekasihnya terasa meningkat saat memberi ciuman dikening Jeonghan ketika pertama membuka mata. Luka dilututnya semalam mungkin saja memberi efek penurunan pada imunitas hingga membuatnya terserang panas. Seungcheol mengusap peluh yang mengalir dipelipis Jeonghan dan memandangi wajahnya yang semakin pucat. Ia menelpon seseorang dikantor untuk membatalkan semua jadwal kerjanya hari ini demi bisa mengantar Jeonghan ke rumah sakit.

Jeonghan tak banyak bicara sejak pertama mobil mereka melaju meninggalkan pelataran rumah. Selagi menyetir Seungcheol sesekali melirik kearah Jeonghan yang duduk bersandar dan tampak lemah.

"Tidurlah dulu, sayang. Kita sekarang menuju rumah sakit pusat di tengah kota, menemui dokter yang sama saat merawatmu tempo hari."

Tangan kanan Seungcheol meremat lembut jemari Jeonghan yang tenggelam dibalik selimut kecil yang menutupi sebagian tubuhnya. Pemuda itu hanya mendengung lemah, kepalanya yang terasa berat membuat Jeonghan tak bisa berbuat banyak selain terkulai memejamkan mata.

Seungcheol mengumpat saat mendapati jembatan layang yang dilewatinya sedang mengalami kemacetan parah. Tidak biasanya jalanan Seoul mengalami stagnasi sepanjang ini kecuali saat terjadi kecelakaan atau semacamnya. Tapi mereka sedang buru-buru dan Seungcheol tidak akan menekan klaksonnya sekeras ini jika tidak mendengar suara Jeonghan yang sudah mengigau dalam tidurnya sekarang.

Samar-samar Seungcheol melihat Jeonghan menggigil dan mendengung resah dalam pejaman matanya. Saat mengecek lagi suhu di kening dan leher kekasihnya, Seungcheol meringis cemas karena rasanya seperti terbakar. Seungcheol kembali menekan klakson dengan emosi yang lantas membuat seorang pria berseragam polisi kini tiba-tiba muncul mengetuk kacanya dari luar.

"Dammit!"

Dengan terpaksa Seungcheol menurunkan kaca mobilnya dan hanya mendengus jengah saat polisi muda itu memberinya salam selamat siang.

"Maaf, Tuan. Didepan baru saja terjadi kecelakaan beruntun sehingga proses evakuasi melumpuhkan sebagian ruas jalan jembatan. Mohon anda sabar menunggu dan tidak menganggu pengendara lain dengan suara klakson anda."

Seungcheol hanya mengangguk tak tertarik dan kembali menutup kaca mobilnya untuk menghindari pertengkaran dengan pihak aparat. Hampir saja ia ingin memuntahkan emosi kalau saja ia lupa jika Jeonghan akan semakin terganggu bila mendengar suara teriakannya nanti.

"Mo-... Momo..."

Seungcheol merasakan tangan kanannya yang mengenggam jemari kanan Jeonghan kini semakin mengerat. Kekasihnya menggeliat gelisah dalam lelap, keringat mengucur deras dan suhunya terasa semakin tinggi. Seungcheol melepas seat belt yang mereka kenakan kemudian menarik Jeonghan dalam pelukannya. Ia mengusap keringat dikening kekasihnya yang kini sepanas air mendidih, mengecupnya lembut dan berbisik kecil untuk menangkan.

"Jeonghan sayang... Semua akan baik-baik saja, aku janji... Mohon sabarlah sebentar, sayang..."

Siapa yang menyangka demam Jeonghan akan jadi separah ini. Tadi pagi Seungcheol sudah memberinya paracetamol, berharap penanganan diawal bisa meringankan suhu tubuhnya sebelum tiba di rumah sakit.

"Mo-... Momo... Anakku... Ja-jangan..."

Igauan Jeonghan semakin menjadi dan nama Momo yang sejak tadi terdengar membuat Seungcheol meringis pilu. Jeonghan benar-benar setengah mati merindukan anak mereka. Dalam keadaan seperti ini pun, Seungcheol sama sekali tak tahu apa yang bisa ia perbuat selain memeluk kekasihnya dalam gejolak perasaan khawatir dan gelisah.

Tiba-tiba mata Jeonghan terbuka. Pandangannya menyapu seperti mencari-cari sesuatu.

"J-Jeonghan... Kau tidak apa-apa sayang?"

Seungcheol cepat-cepat menangkup kedua pipi Jeonghan mencoba membawa manik mata itu melihat kearahnya. Nafas Jeonghan yang panas dan memburu terdengar memenuhi seluruh ruang mobil. Seungcheol mengecup pucuk hidungnya dan Jeonghan menatapnya dengan bulir air mata yang tiba-tiba mengalir dipipinya.

"A-anakku, Seungcheol... Dia... Dia membutuhkanku..."

Kilat dimata itu mencerminkan ketakutan yang luar biasa. Jeonghan meremat kemeja dibagian dada suaminya dan menangis dengan nada memohon. Pusing dikepalanya kian menjadi-jadi dan tubuhnya menggigil hingga membuatnya gemetaran hebat.

"Aaaaa!"

Suara teriakan terdengar dari luar dan sirine polisi kini menggaung semakin kencang. Jeonghan menoleh keluar dengan terkejut, melepas pelukan Seungcheol dari tubuhnya dan mencoba membuka pintu mobil dari dalam.

"Sayang, ada apa?! Apa yang sedang kau lakukan?!"

Seungcheol menahan tangan Jeonghan yang masih mencoba membuka pintu dengan tangannya yang gemetar hebat.

Dengan terbata-bata, ia memohon pada Seungcheol.

"D-dear... Anakku diluar... Di-dia ada diluar..."

"Apa-apaan, Jeonghan? Apa yang kau bicarakan? Kumohon jangan seperti ini..."

"Kumohon Dear... Biarkan aku menyelamatkannya!"

Jeonghan membentak disisa tenaganya dan

Blast!

Pintu mobil terbuka dan Jeonghan mencoba lari dengan kaki pincangnya, menerjang arus lalu lintas yang terputus, mengabaikan teriakan orang-orang yang melarangnya untuk mendekati keramaian didepan sana.

"Jeonghan...!"

Seungcheol mengejar Jeonghan dan berteriak. Didepan mereka sudah terdapat garis polisi dan asap tebal mengudara yang mengaburkan pandangan pada jalan. Tumpukan kendaraan roda empat yang terlibat dalam kecelakaan itu sudah mulai terlihat, dan Jeonghan masih mencoba berlari mendekati bekas kecelakaan disana. Seungcheol berteriak frustasi dan tangannya menggapai lengan sang kekasih. Tubuh Jeonghan terhempas kedalam pelukannya dan kerumunan orang-orang ini seketika melemparkan pandangan ke arah mereka berdua.

"JEONGHAN APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!"

Seungcheol menangis, membalut tubuh Jeonghan dalam pelukan yang erat dan memandang langit diatasnya dengan pilu. Apalagi yang sedang Tuhan coba lakukan terhadapnya... Kegilaan macam apalagi yang akan terjadi setelah ini...

"D-dengar, Seungcheol... Itu suara tangisan bayi kita... Ku-kuumohon selamatkan dia..."

Dan memang ada suara tangisan bayi saat ini. Beberapa polisi mengerubungi sebuah mobil hitam yang kini terbalik dan tertimpa kendaraan lain diatasnya. Sepertinya asal suara bayi itu datang dari sana dan orang-orang masih memikirkan cara tercepat untuk menyelamatkan bayi itu.

"Le-lepaskan..."

"Tidak akan, Jeonghan!"

"Choi Seungcheol, lepaskan aku! Aku ingin menyelamatkan Momo!"

"Kau ini bicara apa, Jeonghan?! Tidak ada Momo disini!"

"Lepaskan!"

Jeonghan membantah dan sebisa mungkin melepaskan cengkraman Seungcheol pada kedua tangannya.

"Bayi itu masih terikat di safety belt pada baby seat di bangku belakang! Kami tidak bisa menggapainya sebelum truk derek datang menyingkirkan mobil diatasnya ini!"

Begitulah teriakan-teriakan yang terjadi dan Seungcheol mematung dengan sekelebat bayangan yang tiba-tiba melintas dikepalanya.

Bayi?

Dan mengapa suara tangis ini sama sekali tak asing ditelinganya. Seungcheol menatap Jeonghan yang masih menangis dan meracau aneh dengan nada memohon yang membuat Seungcheol merasa hampir gila.

"Biarkan aku melihat bayiku, Seungcheol... Izinkan aku menyelamatkan Momo..."

Jeonghan terus memukul dada bidang kekasihnya dan pria itu masih terdiam, mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali sebelum menangkup kedua pipi Jeonghan dan berkata.

"Tunggulah disini, sayang. Aku akan kesana dan menyelamatkan bayi kita. Kumohon jangan pergi dari tempat ini sebelum aku kembali, kau mengerti sayang?"

Tanpa berpikir lama Seungcheol berlari dan menerobos police line yang melintang mengelilingi areal kecelakaan maut itu. Ia mengabaikan teriakan aparat dan petugas lain yang berjaga disana karena satu-satunya yang mampu terdengar ditelinga Seungcheol adalah tangisan memohon dari bibir Jeonghan dan bayi itu.

Jeonghan membalut tubuhnya dengan pelukan tangannya sendiri dan menangis dalam kekhawatiran. Ia bingung. Semua orang seperti menghakimi dirinya dengan tatapan-tatapan itu. Tapi pikirannya yang kacau tak dapat membantunya untuk menenangkan diri. Jeonghan memutuskan untuk pelan-pelan berjalan kedepan, pusing ini beberapa kali membuatnya hampir jatuh dan luka dikaki kanannya hanya memperparah keadaan. Semua orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan beberapa kali tandu yang membawa para korban melintas didepan Jeonghan.

Seungcheol menyingkirkan kerumunan orang-orang yang mengelilingi mobil sedan hitam ditengah tempat kejadian. Suara bayi itu semakin mengencang. Seungcheol menepis tangan yang hendak menahannya untuk tengkurap diatas aspal, mencoba melihat kedalam kaca mobil yang kini sudah pecah berkeping-keping.

Badan Seungcheol terasa kaku, buku-buku jarinya membeku dan tak ada lagi kata yang mampu diucap oleh bibirnya. Bayi itu...

"MOMO!"

Seungcheol berteriak dan tangisnya pecah melihat sosok bayi yang masih terjebak di baby seatnya itu adalah Momo, anak mereka. Sudut matanya pun melihat dua sosok suami istri yang berlumuran dan sudah tak sadarkan diri. Mereka Yoochun dan Tiffany.

Tangan panjang Seungcheol menjulur, sekuat tenaga ingin menggapai bayi itu dan menyelamatkannya. Tangannya hampir sampai namun tidak ada hasil. Seungcheol bangkit dan dengan sisa kewarasan yang dimilikinya ia berusaha mencari cara untuk mengeluarkan Momo.

"Kapan truk dereknya datang?"

"Mungkin 10 menit lagi. Mereka sedang mencari jalan alternative menuju kesini karena kemacetannya benar-benar parah."

"10 menit?! Apa kita harus menunggu selama itu?! Bayiku terjebak didalam sana!"

Emosi Seungcheol sudah tidak terkendali lagi dan orang-orang disana hanya bisa diam seolah pasrah.

"Momo sayang..."

Seungcheol tertegun, seperti mendapat sebuah tamparan di pipinya. Suara itu...

"Jeonghan?!"

Jeonghan sudah disana, tengkurap diatas aspal dan tersenyum dalam tangis sambil menjulurkan tangannya kedalam mobil. Sejak kapan pemuda itu ada disini?

"Jeonghan sudah kukatakan padamu untuk tetap menunggu disana! Disini berbahaya!"

Seungcheol berusaha mengajak Jeonghan bangkit namun pemuda keras kepala itu tetap tidak menghiraukannya.

"Dear... Tolong dia... Angkat mobil sialan ini sehingga aku dapat menariknya..."

Jeonghan tertunduk dalam tangisan saat tahu usahanya untuk menggapai Momo adalah sia-sia. Seungcheol mengusap wajahnya frustasi, ia dan Jeonghan harus segera menyelamatkan Momo dari sana, apapun caranya.

Seungcheol berjalan mendekati dan menatap Jeonghan yang membalas matanya dengan binar memohon. Seungcheol tersenyum, mengisyaratkan pada Jeonghan jika mereka bisa kali ini.

"Tenanglah, Jeonghan... Kita pasti akan menyelamatkannya."

Jeonghan menahan haru saat Seungcheol mulai dengan sekuat tenaga mendorong mobil diatas yang menimpa mobil yang ditumpangi Momo. Kerumunan itu mulai senyap, seperti terpaku pada pemandangan didepan mereka sekarang. Namun satu persatu polisi dan orang disekitar mereka datang mendekati Seungcheol, mencoba melakukan usaha yang sama dengan mendorong Mobil itu menyingkir dari atas sana.

"SEDIKIT LAGI!"

Jeonghan akhirnya menemukan cukup ruang untuk menyelipkan tubuh kurusnya melalui jendela mobil. Tangannya hampir sampai... Tangisan Momo perlahan-lahan berhenti dan Jeonghan menatapnya dengan senyum. Ia tidak boleh terlihat lemah didepan bayinya... Jeonghan harus bisa berusaha menyelamatkan bayinya.

BRAK!

Mobil itu terjungkal kesisi kanan, berhasil tersingkir dari atas mobil yang ditumpangi Momo, Yoochun dan Tiffany.

Semua petugas ambulans mendekat untuk mengeluarkan Yoochun dan Tiffany dan Tuhan... Jeonghan berhasil meraih Momo dan melepas safety beltnya. Ia menarik bayi itu keluar dan dengan sisa tenaganya, Jeonghan menggendong Momo, mengecup berkali-kali bayi nya hingga Seungcheol datang untuk memberikan pelukan pada mereka.

Dan entah siapa yang memulai, suara tepuk tangan menggema dan gumamman syukur terus terpanjat dari bibir orang-orang disana. Tak sedikit pula pengendara yang keluar dari mobil mereka untuk melihat aksi heroik tadi. Jeonghan menenggelamkan tangisnya dipelukan Seungcheol dan pria itu mengecup pucuk kepala Jeonghan dan Momo bergantian.

"Dear... Kita berhasil... Momo kembali..."

.

.

.

"I'm not some superhero. I'm just a regular man, blind, and a dumb who have lots of vulgar dreams about you."

Disuatu malam Seungcheol berkata, saat Momo sudah terlelap ditengah-tengah dirinya dan Jeonghan. Tangannya tak berhenti membelai kepala sang kekasih, sedangkan Jeonghan hanya tersenyum memandangi wajah tertidur bayinya yang terlihat seperti malaikat.

"What you did was dumb, of course."

"I'm sor-..."

"But you did it all for me."

Kali ini Jeonghan menatap matanya, memandang Seungcheol dengan banyak cinta yang tersirat disana.

"Let me kiss you."

Pinta Seungcheol yang masih terhipnotis dalam telaga bening kekasihnya.

"Just a kiss?"

"Can I get more?"

"I'll give you myself instead."

Entah bagaimana caranya, kini Seungcheol sudah berada diatas Jeonghan, mengukungnya diantara tangan yang kokoh dan mencium bibir itu penuh tekanan dan tidak sabaran.

"You're the one who called destiny, Yoon Jeonghan..."

.

.

.

End

A/N: Ending yang panjang dan melelahkan!

Sampai ketemu di next fanfic!

Terima kasih untuk semua orang yg sudah mendukung JeongCheol dan Momo selama ini! Ai laf yuuu~