Under the Spell
A HarryPotter!AU with Lee Taeyong x Nakamoto Yuta as main casts
Rating : T (for now)
Disclaimer : I own nothing except the plot
Some details might not described in this fic, I highly recommend you to watch or read Harry Potter series first ^^
.
.
"Yuta, ayo! Ini sudah terlambat!"
Nakamoto Yuta, untuk kesekian kalinya menghela napas. Ia sudah tampil rapi dengan seragam dan jubah merahnya sejak tadi, tapi ada satu hal yang membuatnya mondar-mandir berkeliling kamar hingga memakan waktu tiga puluh menit.
Dompetnya hilang! Segala identitas dan berkas penting lainnya ia simpan di situ, pula.
Mama, Yuta ingin menangis saja rasanya.
Ten mengembuskan napas kasar melihat Yuta yang tidak menggubris ucapannya. "Kau pasti menjatuhkannya di suatu tempat, kita cari lagi nanti setelah jam sekolah usai."
Melihat jarum jam yang sudah mendekati pukul delapan tepat—yang artinya kelas pertama akan dimulai lima menit lagi—mau tak mau Yuta menyerah. Ia mengambil buku catatannya dari atas meja dan berjalan meninggalkan kamar. Johnny, Kun dan Jaehyun sudah lebih dulu pergi, sementara Ten bersikeras untuk menunggu Yuta, padahal Yuta sendiri tak masalah kalau Ten ingin pergi duluan.
"Ah, ya sudahlah. Ayo pergi, Ten."
Ten menepuk punggung Yuta prihatin. "Nanti akan kubantu kau mencarinya."
Dan mulai detik ini Nakamoto Yuta mendeklarasikan Ten Chittapon Leechaiyapornkul sebagai sahabatnya.
"Tapi sebagai imbalannya, temani aku ke diagon alley* dan traktir aku makanan."
Baiklah, lupakan yang tadi. Yuta tidak punya sahabat di sekolah ini.
Yuta mendelik ke arah Ten dengan tatapan seolah dikhianati. "Aku tidak butuh bantuanmu, terima kasih."
Berakhir dengan Ten yang berusaha menyamakan langkah Yuta sambil menahan tawa. "Yak, aku hanya bercanda!"
.
.
"Saya harap tidak ada yang main-main di kelas Transfigurasi ini." Wanita bertubuh tinggi semampai itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas sebelum melanjutkan. "Transfigurasi merupakan ilmu sihir yang berbahaya, lengah sedikit maka kita mungkin tidak akan bertemu lagi di kelas ini."
Murid-murid Hufflepuff dan Gryffindor yang menempati kelas yang sama saat ini duduk dengan tegang di kursi masing-masing. Semuanya menatap Profesor Kahi—pengajar untuk kelas transfigurasi—dengan serius, tidak berani untuk mengalihkan pandangan barang sedetik pun.
Mereka sudah mendengar dari kakak kelas bahwa professor yang mengajar di kelas ini sangat galak. Tapi mereka tidak menyangka bahwa beliau akan semenyeramkan ini.
"Saya yakin kalian semua sudah menguasai ilmu transfigurasi dasar, karena itu saya akan mulai dari level yang agak sulit." Profesor Kahi berhenti di dekat mejanya, mengeluarkan tongkat eboni dari dalam jubah. "Kita akan melakukan transfigurasi benda ke makhluk hidup. Saya akan beri waktu lima menit untuk kalian mencari partner praktikum ini."
Yuta menoleh dengan cepat ke arah Ten yang duduk di sampingnya, dan seketika ia menghela napas kecewa. Lelaki Thailand itu sudah di-booking oleh Kun yang tengah meremas pundak Ten dari bangku belakang. Sementara Johnny? Entahlah, dia sedang berbicara dengan seorang lelaki manis dari Hufflepuff. Lupakan Jaehyun, ia duduk di paling depan barisan dan kelihatannya sudah mempunyai partner.
Mendadak, Yuta merasakan bangku kosong di sebelahnya bergeser dan diduduki oleh seseorang. Ia menoleh, kemudian mendapati satu senyum lembut dilayangkan padanya.
"Maaf, aku belum punya pasangan. Kau tidak keberatan berpasangan denganku 'kan?"
Yuta mengerjap sekali. Dua kali. Kemudian, "A-ah, baiklah…" ucapnya sedikit gugup. Lelaki yang menduduki bangku sebelahnya ini begitu tampan sampai membuat Yuta termangu sesaat.
Dan lelaki itu mengulurkan sebelah tangannya. "Ngomong-ngomong, namaku Dong Winwin."
Menyambut uluran tangan itu, Yuta tersenyum. "Nakamoto Yuta. Senang berkenalan denganmu, Winwin-ssi."
Kini giliran Winwin yang termangu melihat senyum Yuta. Demi apa, itu adalah senyum termanis yang pernah ia lihat selain milik ibunya.
Selepas tautan tangan mereka terlepas, Winwin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ah, kenapa ia tiba-tiba merasa gugup begini. "Mmm… Kuharap materi transfigurasi ini tidak sulit ya, Yuta-ssi," ucap Winwin sedikit canggung.
"Hah, aku tidak percaya diri kalau soal transfigurasi, tapi semoga saja begitu." Yuta meringis seraya menopang dagunya dengan satu tangan. "Ngomong-ngomong, panggil aku Yuta saja, dan aku akan memanggilmu Winwin!"
Untuk kedua kalinya Winwin merasa tersihir oleh senyum itu. Ah, apa mungkin di balik senyum itu ada mantranya?
"Baiklah. Saya rasa kalian semua sudah mendapat partner masing-masing." Profesor Kahi dari mejanya kembali membuka suara. "Saya akan mendemonstrasikan langkah-langkah untuk transfigurasi benda ke hewan. Harap perhatikan baik-baik, karena ini membutuhkan konsentrasi penuh. Setelah itu, silakan kalian coba dengan diawasi oleh partner masing-masing."
Profesor Kahi bilang begitu, tetapi Winwin masih tetap memusatkan perhatiannya pada si Nakamoto di sampingnya ini. Beruntung saja mereka duduk di barisan agak belakang, semoga Profesor Kahi tidak memergokinya.
"Dan untuk Hufflepuff di barisan keempat dari depan saya, tolong perhatikan jika anda tidak ingin keluar dari kelas ini sebelum waktunya."
Sayang, harapan Winwin rupanya tidak terkabul.
.
.
Kelas transfigurasi untuk murid pertama itu berakhir dengan ricuh. Entah bagaimana ceritanya seorang murid bisa sampai mengubah pena menjadi seekor sapi, dan akhirnya seisi kelas langsung heboh—seingat Yuta, nama murid pembuat kekacauan itu adalah Ong Sungwoo, dari Gryffindor. Yang lain juga terlihat antusias ketika mantra transfigurasi mereka berhasil. Salah satu contohnya yaitu Ten. Ia berhasil mengubah apel milik Kun menjadi seekor hamster yang imut, tapi segera diprotes oleh si pemilik apel.
"Ya ampun, Ten! Apel itu susah payah aku dapatkan dari pohon belakang asrama! Kita 'kan sudah sepakat untuk memakai kertas saja!" begitu kata Kun. Dan Ten hanya tertawa senang sambil mengelus hamster hasil transfigurasinya.
Yuta jadi berpikir bahwa sebenarnya Ten itu seorang Slytherin yang tersesat di Gryffindor.
"Singkirkan makhluk menjijikan itu jauh-jauh dariku!"
"Aku juga jijik, tahu! Harusnya 'kan kelinci yang keluar, bukan kecoak!"
Yah, itu salah satu bentuk kehebohan lainnya.
Yuta beralih menatap mejanya. Berbeda dengan murid malang yang tadi berteriak jijik, Yuta berhasil mengubah sapu tangannya menjadi seekor kelinci putih manis. Kelinci tersebut masih terdiam anggun di atas meja, menatapnya dengan mata bulat yang lucu.
Kemudian terdengar suara kekehan dari Winwin di sampingnya. "Tidak tega mengubahnya kembali menjadi sapu tangan, ya?"
Yuta menghela napas. "Begitulah." Lantas ia mengernyitkan dahi, mencari-cari sesuatu di sekitar Winwin dan meja mereka. "Kalau kau? Burung pipitnya ke mana?"
Winwin mengendikkan bahu. "Sepertinya sudah terbang ke luar tadi sejak Sungwoo tiba-tiba memunculkan sapi. Ya sudah, biarkan saja. Asalnya cuma kertas kosong, kok."
Dan Yuta tertawa. Iya, Winwin memutuskan untuk mengubah kertas yang dirobeknya dari buku catatan menjadi burung. Berhasil sih, dan burungnya indah sekali. Tapi sekarang sudah terbang entah ke mana.
Kemudian suara tepukan keras terdengar. Semua murid mengalihkan perhatian mereka ke depan, dan di sana sudah berdiri Profesor Kahi yang tampak kesal, tapi antara menahan tawa juga.
"Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa kalian bisa memunculkan hal-hal aneh dari materi sederhana yang aku ajarkan. Untuk ke depannya, tolong lebih berkonsentrasi lagi, jangan sampai hal begini terulang."
Tentu saja, profersor Kahi mana tahu bahwa salah satu muridnya akan terpikir untuk mengubah pena menjadi sapi dewasa besar di dalam kelas. Belum lagi yang transfigurasinya tidak sesuai dengan keinginan dan malah memunculkan hewan-hewan aneh.
"Baiklah, kelas selesai sampai di sini. Bereskan kekacauan ini sebelum kalian keluar dari kelas," seiring dengan itu Profesor Kahi berjalan ke luar dari kelas.
Murid-murid di kelas kembali heboh, berusaha mengembalikan kelas seperti sedia kala. Yuta sendiri sudah mengembalikan kelinci putihnya menjadi sapu tangan, walau dengan berat hati. Lelaki kelahiran Osaka itu sudah bersiap keluar dengan menenteng buku, sebelum Winwin mencegah dengan menggapai pergelangan tangannya.
Yuta menoleh, dan Winwin tersenyum. "Ada yang ingin aku berikan," ucapnya.
"Oh, apa itu, Winwin-ah?" tanya Yuta penasaran.
Winwin tidak menjawab. Ia merobek satu helai kertas lagi dari buku catatannya. Merapal mantra dengan suara pelan sambil mengayunkan tongkat, kemudian kertas tersebut berubah menjadi setangkai mawar ungu.
Tangan Winwin meraih bunga itu, lalu menyodorkannya pada Yuta yang masih terdiam kebingungan. Ia terkekeh pelan. "Untukmu, kumohon terimalah."
Yuta sedikit membelalakkan matanya, terkejut. "E-eh?" dan tak pelak wajahnya sedikit memerah. Meski begitu ia tetap menerima bunga dari Winwin. "Mmm… Terima kasih?"
Winwin hanya mengelus surai Yuta lembut, sebelum beranjak dari tempatnya dan segera meninggalkan kelas, tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Dan Yuta masih terbengong dengan sebatang bunga di tangan kanannya, sampai panggilan Ten dan Kun dari belakang kelas membuatnya terkejut, seketika menyadari bahwa seekor hamster coklat tengah berlari mengitari kakinya. Bunga mawar itu pun ia simpan di balik jubah, urung untuk dipikirkan lebih jauh lagi.
Yuta mungkin tidak tahu, bahwa bunga mawar ungu berarti cinta pada pandangan pertama.
.
.
"Jadi burung hantu abu-abu itu milikmu? Tadi pagi dia hampir terjatuh di sangkarnya sendiri."
Ten mengatakan itu dengan nada geli, membuat Yuta mendengus. Saat ini mereka sedang berjalan menuruni tangga setelah menyelesaikan kelas astronomi di menara utara. Kelas itu benar-benar membosankan, omong-omong. Yuta harus menepuk pipinya berkali-kali agar tetap terjaga, dan Profesor Sooman—yang seharusnya sudah pensiun dan mengurus cucu-cucunya di rumah—sama sekali tidak membantu dengan cara mengajarnya, yang seolah sedang menceritakan dongeng pengantar tidur.
"Aku tidak tahu kenapa burung hantu milikku bisa seceroboh itu, belum lagi ia benar-benar terlihat dungu 'kan?" ujar Yuta sambil memasukkan tongkat sihirnya ke dalam jubah. Ah, ia baru ingat ada bunga pemberian Winwin di sana.
"Kurasa tidak lebih dungu dari milik Johnny," Ten tertawa pelan. "Siapa namanya? Burung hantu itu?"
Yuta menoleh ke arah Ten, menatapnya dengan mata berbinar kemudian tersenyum lebar. "Namanya Pororo!" ucapnya bangga.
Ten langsung menampakkan wajah datar. Kontras dengan Yuta yang masih menatapnya dengan binar bahagia imut dan efek bling-bling yang seolah memancar dari tubuhnya.
'Lelaki ini dengan bangganya menamai burung hantu dengan nama Pororo?' batin Ten tidak habis pikir. Jelas, nama burung hantu miliknya jauh lebih elit. 'Nomnom' nama yang bagus 'kan?
Tanpa sadar mereka berdua sudah mencapai ujung tangga. Di sana, mereka berpapasan dengan murid-murid Slytherin yang baru saja menyelesaikan kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.
Dan Yuta melihat Lee Taeyong, tengah bercanda dengan dua orang berperawakan tinggi di sisinya. Yuta ingat salah satu dari mereka bernama Lucas, yang terkenal akan ketampanannya, sedangkan untuk lelaki di sisi kiri Taeyong… Kalau tidak salah, namanya Kim Namjoon, si jenius yang urung ditempatkan di Ravenclaw karena permintaannya sendiri.
Masa bodoh, mood Yuta langsung anjlok melihat Lee Taeyong yang bahkan dari cara berjalannya saja terlihat angkuh. Ia menarik tangan Ten dan menundukkan wajahnya, hendak berbalik arah agar tidak perlu berselisih jalan dengan pemuda Lee itu.
"Oi, kau yang di sana! Nakamoto Yuta!"
Tapi terlambat. Umpatan-umpatan kasar sudah tertahan di ujung lidah Yuta, siap untuk disemburkan pada Lee Taeyong yang dengan kurang ajar memanggilnya dengan nama lengkap plus suara keras membuat seluruh perhatian terarah padanya. Yuta yakin, ia memilih untuk berpura-pura tidak mendengar Taeyong dan langsung pergi dari situ juga tidak ada gunanya.
Dan persetan, tahu dari mana orang itu nama lengkap Yuta?
Yuta terdiam di tempatnya, perlahan mendongakkan kepala dan mengabaikan Ten yang sudah melayangkan pandangan bingung sekaligus tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dan lihat.
Ayolah, tadi jelas-jelas Lee Taeyong yang itu memanggil Yuta dengan nama lengkapnya. Apa hubungan antara dua murid berbeda asrama itu? Dan lagi, bukannya Yuta sendiri sudah mengatakan bahwa ia tidak mengenal Lee Taeyong?
Sementara itu, Taeyong menyunggingan senyum khasnya—senyum miring yang mendadak menjadi pemandangan yang paling dibenci oleh Yuta. Ia juga tidak menghiraukan tatapan penuh tanda tanya dari kedua temannya dan orang-orang di sekitar, dan berjalan mendekati Yuta dengan tangan merogoh saku jubahnya.
Tepat di hadapan Yuta yang masih terdiam, Taeyong merendahkan tubuh, menempatkan mulutnya ke dekat telinga Yuta sambil memperlihatkan suatu benda dari dalam jubah.
Demi hantu penjaga Gryffindor, itu adalah dompet yang Yuta cari ke mana-mana hingga frustrasi.
Mata Yuta membelalak kaget, dan Taeyong tersenyum puas. "Aku tidak akan memberitahu ini pada orang-orang. Ternyata… Ayahmu seorang muggle, eh? Darah lumpur?"
Tubuh Yuta membeku. Bahkan ketika Lee Taeyong menyelipkan dompet tersebut ke dalam jubah Yuta, ia masih terdiam. Hatinya terasa nyeri, seketika kepingan memori di mana ayahnya yang seorang muggle diburu oleh death-eater, dan ibunya yang berusaha melindungi sampai mengorbankan dirinya sendiri kembali berkelebat dalam benak Yuta. Ingatan yang berusaha ia kubur dalam-dalam karena selalu memunculkan mimpi buruk dalam tidurnya.
Taeyong menjauhkan tubuhnya dari Yuta, ingin melihat reaksi dari si pemilik marga Nakamoto. Namun, apa yang ia lihat malah membuatnya tertegun.
Karena di hadapannya, Nakamoto Yuta berdiri dengan ekspresi terluka dan mata yang berkabut digenangi air mata yang nyaris tumpah.
Dan untuk pertama kalinya, Taeyong merasakan sesak di dada akibat ulahnya sendiri.
"Kesan pertamaku padamu memanglah buruk, Lee Taeyong-ssi," ujar Yuta pelan dengan nada bergetar. "Tapi aku tak menyangka, ternyata kau serendah itu."
Bersamaan dengan itu, Yuta berlari pergi dengan Ten yang mengejarnya khawatir, memanggil nama pemuda itu berkali-kali. Taeyong sendiri masih terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan kosong, mengabaikan orang-orang di sekitar yang menatapnya penasaran.
Untungnya, Kim Namjoon yang paham akan situasi langsung berusaha menetralisir keadaan. "Apa yang kalian lihat, heh?! Urusi urusan kalian masing-masing!"
Suara yang sarat akan ketegasan dari Namjoon efektif membuat orang-orang yang sebelumnya memerhatikan mereka kembali pada kegiatannya masing-masing. Namjoon melirik Lucas, bertanya apa gerangan yang terjadi lewat tatapan matanya. Lucas mengendikkan bahu, ia mendekati Taeyong dengan hati-hati, Namjoon pun melakukan hal yang sama setelah menghela napas panjang.
"Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Taeyong-ah, kita kembali ke asrama sebelum makan malam, dan aku siap mendengarkan kalau kau ingin bercerita apapun." Namjoon menepuk bahu Taeyong pelan. Lucas mengangguk-angguk mengamini perkataan Namjoon.
Taeyong masih terdiam. Ia benar-benar melihat bagaimana tadi Yuta melayangkan pandangan terluka sekaligus penuh kebencian padanya. Biasanya, Taeyong senang mendapatkan reaksi seperti itu dari orang-orang yang ia hina, tapi entah kenapa melihat ekspresi Yuta tadi membuat hatinya seakan diremas. Perasaan yang sungguh asing bagi Taeyong, dan ia benci itu.
Kenapa juga seseorang yang dialiri darah lumpur, yang baru ia kenal selama satu hari, dapat membuat Taeyong merasakan hal serumit ini? Ya, Taeyong mendapatkan reaksi yang ia inginkan dari pemuda itu, tapi kenapa hal itu sama sekali tidak membuatnya senang?
Taeyong mengacak rambutnya frustrasi, membuat poni lelaki itu turun menutupi matanya. Ia berbalik, meremas buku pelajaran di tangannya seraya melangkah gusar.
"Ayo kita kembali ke asrama," ucapnya datar, menatap Namjoon dan Lucas sekilas sebelum beranjak pergi.
Namjoon dan Lucas yang menyadari aura negatif di sekitar Taeyong hanya mampu mengikuti tanpa berkata apapun, walau mereka sempat bertukar pandang sebelum itu.
.
.
"Yuta, ayolah… Kita kembali ke kamar, oke? Sebentar lagi juga waktu makan malam, kita harus cepat untuk mendapatkan tempat strategis."
Ten berkata dengan penuh kekhawatiran. Ia terus membuntuti Yuta hingga kini mereka tiba di toilet. Yuta masih tidak menyuarakan sepatah kata pun, sementara tangannya sejak tadi sibuk mengusap mata yang memerah dan menampung air mata yang siap turun kapan saja.
Keran dari wastafel dibuka, mengalirkan air yang segera digunakan Yuta untuk membasuh wajah. Yuta mengamati refleksi dirinya di cermin, kemudian berbalik untuk berbicara pada Ten. Senyum yang tampak dipaksakan tercipta di wajah pemuda itu.
"Aku masih akan di sini sebentar lagi, kau kembalilah ke kamar duluan, Ten."
Ten hendak membantah, tapi kata-kata yang akan ia ucapkan tertelan begitu saja melihat sorot mata Yuta yang memohon pengertian darinya secara tersirat. Dan walaupun sangat bertentangan dengan kehendak Ten untuk menemani Yuta, pada akhirnya ia mengangguk pasrah.
"Baiklah, aku pergi." Ten berujar sambil mengusap pundak Yuta, dengan maksud ingin menenangkan. "Kau tidak harus cerita padaku, tapi aku akan berada di sampingmu kalau kau butuh."
Yuta tersenyum tulus mendengar perkataan Ten. Ia mengangguk pelan dan menatap Ten hingga lelaki itu keluar dari toilet. Saat itulah Yuta mendekam dirinya di dalam salah satu bilik, menangis tanpa suara tanpa ia tahan lagi.
Yuta tahu bahwa dirinya memang seorang mud-blood, darah lumpur. Sang ibu merupakan penyihir dengan kedua orang tua muggle tanpa kemampuan sihir apapun. Begitu pula dengan ayahnya, seorang muggle yang jatuh cinta dan memilih untuk mengambil segala resiko untuk menikahi ibunya dan memiliki Yuta.
Dan ketika mereka yang disebut sebagai death-eater datang untuk merenggut nyawa ayahnya, Yuta tak bisa melupakan itu. Terlalu jelas dan menyakitkan seperti luka menganga yang ditaburi garam. Ia juga ingat bagaimana ibu yang amat ia sayangi berakhir dengan kutukan bersarang dalam tubuhnya, hingga saat ini. Tidak sadarkan diri entah sampai kapan, membuat Yuta terpaksa tinggal di rumah paman yang menerimanya dengan tangan terbuka dan melimpahinya dengan kasih sayang, mengajarkan ilmu-ilmu sihir dasar dengan penuh kesabaran.
Saat Yuta perlahan mampu mengatasi kesedihan itu dan meraih secercah kebahagiaan, kenapa Lee Taeyong muncul dan dengan tanpa perasaan memanggilnya dengan sebutan itu?
Di dalam bilik toilet yang sepi itu, Yuta terus mengeluarkan kepedihannya tanpa suara. Tidak peduli walau hari makin malam dan keadaan semakin mencekam.
.
.
Di aula besar, seluruh murid dari keempat asrama Hogwarts serta para staf sudah berkumpul untuk menikmati makan malam. Suasana ramai namun tetap terkendali, dengan beberapa murid yang mengambil hidangan di atas meja dengan rakus. Semua terlihat begitu menikmati makan malam yang disediakan, namun di ujung meja Gryffindor, Ten bergerak gelisah di kursinya. Makanan di piring bahkan belum tersentuh sama sekali, sementara Johnny di sampingnya sudah melahap piring ketigae.
Jaehyun yang duduk berhadapan dengan Ten menyadari kegusaran lelaki itu. "Ada apa? Kenapa tidak makan?"
Ten mendecak, mendorong piring di hadapannya pelan. "Aku tidak bisa duduk tenang dan makan, Yuta belum kembali sejak tadi, Jaehyun-ah."
Perkataan Ten membuat perhatian Kun dan Johnny teralih. Kun, yang tempat duduknya di sebelah kanan Jaehyun membuka suara. "Benar juga. Kaubilang tadi dia ada sedikit urusan di toilet. Mungkin terkena diare atau buang air besarnya tidak lancar?"
Jaehyun menggeplak kepala Kun dengan sendok, keras. "Jangan membicarakan hal seperti itu di tengah waktu makan, bodoh! Lagipula mau dia terkena penyakit apapun, tidak muncul hingga jam segini memang mencurigakan. Bisa saja terjadi sesuatu padanya."
Johnny mengangguk, meletakkan garpunya di atas piring. "Kupikir juga begitu. Ten, cepat habiskan makananmu lalu kita cari Yuta, bersama-sama."
Mau tak mau Ten meraih kembali piringnya dan melahap daging panggang miliknya tanpa semangat. Ia benar-benar khawatir soal keadaan Yuta sekarang. Lelaki itu terlihat begitu sedih dan syok selepas Taeyong membisikkan sesuatu padanya, yang membuat darah Ten ikut mendidih walau tidak tahu apa yang dikatakan penghuni asrama Slytherin itu. Ten hanya takut sesuatu yang buruk terjadi pada Yuta, dan tidak ada orang di sampingnya yang bisa menolong.
Baru dua suap yang masuk ke kerongkongan Ten, mendadak si penjaga sekolah Kang Hodong memasuki aula dengan tergopoh-gopoh. Napasnya terengah-engah dengan keringat yang tak berhenti mengucur di dahi, membuat perhatian seluruh murid dan pengajar terpusat padanya.
"Profesor Park Jungsoo! Seluruh murid harus segera diamankan! Ada Troll* di koridor lantai tiga dan akan sangat sulit untuk menangkapnya!"
Seketika aula langsung ramai oleh teriakan panik dari para murid. Para pengajar pun terlihat terkejut dan segera bangkit dari kursi mereka, menunggu sang pemimpin sekolah mengeluarkan titahnya.
Profesor Park Jungsoo, selaku kepala sekolah Hogwarts sendiri terlihat menimbang keputusan yang tepat, sebelum mengetukkan palu ke mejanya berkali-kali, berusaha mengendalikan situasi. "Semuanya diam!"
Para murid pun terdiam, walau dengan raut ketakutan masih tercetak jelas di wajah mereka. Di ujung meja Gryffindor, penghuni kamar dua puluh tujuh tidak bisa tenang, terutama Ten. Terlebih ketika ia menyadari bahwa Yuta terakhir kali ia lihat di toilet lantai tiga.
"Semua murid segera kembali ke asrama dipimpin oleh prefek* masing-masing, dalam satu barisan! Pastikan tidak ada yang terpisah seorang pun! Dan jangan berani-beraninya keluar tanpa ada instruksi langsung dariku!"
Profesor Park pun beranjak dari kursinya diikuti oleh beberapa pengajar dan penjaga sekolah. Prefek dari tiap asrama memberi komando dari depan meja, mengumpulkan tiap anggota asrama sambil berusaha menenangkan mereka.
Ten sungguh ingin menangis. Jaehyun sendiri sudah pergi menemui Profesor Jung untuk melaporkan bahwa Yuta belum kembali sejak tadi, sementara Johnny dan Kun masih berusaha berpikir jernih dan mencari cara untuk bisa menemukan Yuta, sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dan di antara kekacauan itu, Lee Taeyong juga menyadari bahwa Nakamoto Yuta tidak bisa ia temukan sosoknya di aula besar ini. Ia bahkan sudah meneliti murid yang menempati meja Gryffindor satu persatu, dan hasilnya nihil. Pemilik iris coklat madu itu tidak dapat ia temukan.
Dan perasaan gelisah, serta rasa takut kehilangan muncul menjalari hati Taeyong, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Taeyong mendapati kedua tangannya berkeringat dan jantungnya berdebar menggila memikirkan bahwa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada Yuta.
"SIAL!" teriak Taeyong frustrasi, secepat kilat meninggalkan barisan Slytherin yang sudah dibentuk oleh sang ketua asrama. Lucas dan Namjoon yang berada di dekat pemuda itu lantas terkejut, berusaha mencegah Taeyong yang terlihat kalap.
"Lee Taeyong, apa yang kaulakukan?! Kembali ke sini! LEE TAEYONG!"
Teriakan Namjoon—dan penghuni asrama Slytherin lainnya—tidak digubris oleh Taeyong, ia berlari keluar dari aula tanpa peduli apapun lagi.
.
.
Yuta merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya lemas. Entah sudah berapa lama ia diam di toilet—ah, mungkin ia juga sudah melewati jam makan malam.
Mengusap matanya yang sembab dengan punggung tangan, Yuta menggeser slot kunci dari bilik yang ditempatinya dan berjalan keluar.
Dan tepat di hadapannya, berdiri sesosok raksasa besar berwarna kehijauan dan memegang tongkat pemukul besar di tangan kiri.
"A-a…"
Tubuh Yuta bergetar hebat. Ia mundur perlahan, tangan lemasnya mencoba meraih tongkat sihir dari dalam jubah, yang segera ia acungkan dengan posisi defensif.
"GRAAAGH!"
Troll kelabu itu mengayunkan tongkatnya ke arah Yuta, untungnya gerak refleks pemuda itu cukup bagus, dan ia berhasil menghindar walau dengan tubuh yang lemas seperti jeli. Biarpun begitu, Yuta tersungkur di lantai, tongkat pemukul troll mengenai langit-langit toilet dan menyebabkan strukturnya runtuh menjatuhi lantai toilet.
Saat itulah Yuta menyadari, bahwa tongkat sihirnya terlepas dari tangan dan tertimpa oleh reruntuhan langit-langit. Kepanikan segera menguasai pikiran pemuda itu, walau ia masih mencoba berpikir jernih dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk menghindar dari serangan troll itu.
Troll itu kembali menggeram seraya mengayunkan tongkatnya lagi. Yuta yang tidak siaga terhempas kuat, punggungnya berbenturan dengan dinding keras sekali.
Yuta merintih kesakitan, dirasakan pandangannya memburam. Ia bahkan tidak sanggup bangkit, seluruh tubuhnya terasa sakit dan seperti ada darah yang mengalir di pelipisnya.
Samar-samar, di balik badan Troll yang hendak menyerangnya lagi, Yuta dapat melihat sesosok lelaki berlari ke arahnya dengan panik. Dasi dan jubah itu… Warna hijau? Slytherin? Entahlah.
"NAKAMOTO YUTA!" adalah suara terakhir yang dapat Yuta dengar sebelum kesadarannya menghilang.
.
.
TBC
.
*Diagon Alley = sebuah jalan raya fiksi. Jalan ini merupakan akses menuju dunia sihir yang juga merupakan sebuah pusat ekonomi, namun tersembunyi bagi Muggle. Meskipun demikian, Muggle bisa diperbolehkan mengakses jalan ini unutuk kepentingan menemani anaknya yang berdarah campuran. Jika penyihir membutuhkan sesuatu, kemungkinan besar barang tersebut bisa ditemukan di Diagon Alley.
*Troll = makhluk raksasa yang memiliki tingkat inteligensi amat rendah dengan tinggi hampir 4 meter. Biasanya dikurung di bawah tanah. Sering terlihat membawa tongkat pemukul ke mana-mana. Warnanya keabuan, memiliki sifat agresif, ganas dan kelakuannya tidak dapat diprediksi. Memiliki kekuatan luar biasa dibandingkan dengan makhluk magis lainnya.
*Prefek = Ketua asrama.
.
Pojok balas review :
Sweatpanda : Halooo! Akhirnya nemu Taeyu shipper lagi :" Aku bahagia kamu bahagia hehe. Dan disini aku buat Taeyong lebih kejam lagi dan Yuta lebih menderita lagi, maafkan akuuu wkwkwk. Karmanya udah dapet tuh kayaknya, si Taeyong jadi ga bisa ngilangin Yuta dari pikirannya hohoho. Siaap, pasti bakal aku lanjutin kook soalnya aku sendiri seneng nulisnyaa, selamat membaca chapter dua inii. Makasih review manisnya yaaa, salam kenal jugaa~ salam Taeyu!
Woozigzag : Hmm, aku juga seringnya nemu kapal2 itu siih, tapi aku cuma bisa bayangin Yuta sebagai seme kalo dia dipair sama Ten huweee. Iya sih dia sekarang jadi sang namja gitu ya, tapi masih tetep mengeluarkan aura uke (?). Dan kalo buat fic aku emang pengen bener2 nekenin tiway itu maskulin dan manly banget hehe, dan untungnya feel-nya dapet ya, aku senang sekali :" Waduh, padahal aku sama sekali ga pede soal diksi karena emang pembendaharaan kata aku sedikit, makasih banyak yaaaa~ silakan nikmati chapter 2 ini dan aku tunggu review nya lagi yaa hoho XD
Khasabat04: Memang susah dicari, makanya aku bikin buat menghilangkan kehausan akan couple ini :( hehe, makasih udah review yaa~
Yayangtaeyu : wadooo username nya saya suka! Ini udah lanjut niiih, semoga masih seru dan menarik yaa, makasih udah review hehe *bow
A/N : Kalau ngikutin Harpot, pasti familiar sama adegan troll di toilet itu wkwkwk. Chapt depan aku bakal munculin otp baru nih, yang jelas si uke-nya belom muncul di sini. Ada yang bisa nebak? XD
Review sangat ditunggu~ ^^
