Under the Spell
A Hogwarts!AU with Lee Taeyong x Nakamoto Yuta as main casts
Rating : T (for now)
Disclaimer : I own nothing except the plot
Some details might not described in this fic, I highly recommend you to watch or read Harry Potter series first ^^
.
.
"NAKAMOTO YUTA!"
Lee Taeyong sudah tidak peduli lagi dengan napasnya yang tidak beraturan karena berlari dari aula lantai dasar ke koridor lantai tiga tanpa jeda sama sekali. Dilihatnya kondisi toilet pria yang nyaris tak berbentuk, dan ia semakin kalap ketika melihat tubuh Yuta tersungkur di lantai toilet, penuh abu dari runtuhan langit-langit, dan tampak tidak sadarkan diri.
Darah Taeyong seketika mendidih. Ia segera mengeluarkan tongkat sihirnya ketika tubuh Troll setinggi empat meter berbalik dan menggeram ke arahnya, bersiap mengayunkan tongkat dengan brutal.
Taeyong berkelit dari ayunan tongkat Troll itu, hingga serangannya meleset dan mengenai wastafel, membuatnya hancur berkeping-keping. "Jangan pernah berpikir idiot sepertimu bisa menyentuhku seujung jari pun," ujar Taeyong dengan suara rendah.
Bahkan di saat-saat seperti ini, Taeyong masih bisa sombong.
Melihat troll yang sedikit lengah, Taeyong berlari mendekati Yuta. Tangannya sedikit bergetar ketika mengusap pelipis pemuda Jepang itu, meninggalkan noda darah di jemarinya. Dengan sangat hati-hati, Taeyong mengangkat tubuh Yuta ala bridal, matanya tetap mengawasi gerak troll yang masih berusaha menyerangnya.
Troll itu kembali menggeram. Tongkat pemukulnya terayun mengarah pada Taeyong, tapi dengan gesit Taeyong menghindar, walau kesusahan karena sambil menahan berat Yuta di kedua tangannya.
Taeyong bersembunyi di balik salah satu bilik toilet yang masih utuh. "Sial, keparat itu benar-benar brutal," umpatnya pelan. Ia tidak bisa menggendong Yuta dan menggunakan tongkat sihirnya sekaligus, karena itu yang dapat ia lakukan sekarang hanyalah menghindar.
Terlebih lagi, mantra apa yang dapat melumpuhkan raksasa agresif setingi empat meter itu?
Lalu secara tiba-tiba, bilik tempat Taeyong bersembunyi hancur terkena ayunan tongkat dari troll. Taeyong tidak sempat menghindar, ia menggunakan tubuhnya untuk melindungi Yuta dari runtuhan tembok, mendekap lelaki itu erat.
Waduh, nyeri sekali punggung Taeyong. Dan coba katakan, kenapa bisa Lee Taeyong dengan segala keegoisan dan sifat liciknya bahkan rela terluka demi melindungi darah-lumpur di dekapannya?
"ARRRGHH!" erang troll itu lagi. Sungguh keras memekakkan telinga.
Taeyong merasa kehabisan tenaga, dan ia sadar bahwa mustahil untuk terus menghindar dari troll ganas nan gigih itu. Dengan bersusah payah ia mencoba mengacungkan tongkat sihir, benaknya berpikir mantra apa yang bisa membuat troll itu ambruk.
Tiba-tiba, mata Taeyong terarah pada tongkat pemukul yang tengah dipegang troll itu. Satu ide pun muncul di pikirannya.
Ide yang sungguh brilian. Taeyong tidak bisa menahan seringainya kali ini. Ia berlari dengan gesit melewati troll yang masih berusaha menyerang, hingga berhenti di ujung koridor. Troll itu seketika mengejar Taeyong dengan langkah menggebu, sementara Taeyong dengan perlahan menurunkan Yuta ke lantai. Ia sudah melepaskan jubah dan menjadikannya sebagai alas kepala untuk Yuta.
Suara langkah berdebum raksasa itu semakin dekat, dan Taeyong sama sekali tidak gentar. Ia berdiri melindungi Yuta yang tak sadarkan diri di belakangnya, dengan tongkat sihir yang sudah teracung tinggi. Mata elang itu terlihat tenang dan percaya diri, menunggu sampai troll itu semakin dekat padanya, kemudian…
"Wingardium Leviosa!"
Usai mantra itu terucap, tongkat pemukul troll yang semula nyaris mengenai kepala Taeyong tiba-tiba melayang. Taeyong menyeringai, sementara troll itu menganga melihat tongkatnya kini melayang di atas kepalanya.
"Idiot sepertimu memang seharusnya kupukul saja, siapa tahu kau menjadi lebih cerdas."
BLETAK!
Hantaman keras pada kepala membuat troll raksasa itu ambruk dan jatuh pingsan, menimbulkan suara berdebum keras dan lantai sedikit bergetar. Taeyong menghela napas lega, memasukkan kembali tongkatnya ke dalam jubah sebelum berbalik.
Taeyong mengangkat tubuh Yuta dengan amat hati-hati, ketika derap langkah orang-orang terdengar mendekat. Dari ujung koridor terlihat Profesor Jung, Kang Hodong, dan Profesor Park Jungsoo berlari ke arahnya.
Profesor Park terlihat sedikit terkejut melihat troll yang terkapar tak berdaya di lantai. "Kau yang melumpuhkannya, Lee Taeyong-ssi?"
Taeyong mendecak, tanpa repot-repot menyembunyikan kekesalannya pada sang kepala sekolah. Ck, pertanyaan retoris. "Daripada itu, saya menyayangkan gerak para staf, termasuk anda, yang sangat lambat menangani hal seperti ini hingga jatuh korban."
Profesor Jung tampak tersinggung dan hendak membantah, namun Profesor Park mencegahnya. "Hal ini benar-benar tidak disangka, aku selaku kepala sekolah di sini juga sangat menyesal tidak bisa mencegah hal ini terjadi. Dan terima kasih telah menyelamatkan salah satu murid sekolah ini, aku kagum atas keberanianmu." Kemudian kepala sekolah Hogwarts itu melirik Yuta yang berada di gendongan Taeyong. "Lebih baik kita segera bawa anak ini ke klinik, luka-lukamu juga perlu diobati."
Profesor Jung maju, hendak mengambil alih Yuta dari tangan Taeyong, namun lelaki itu melangkah mundur, menghindari sang kepala asrama Gryffindor itu. "Biar saya sendiri yang membawanya ke klinik. Terima kasih atas perhatiannya," ujar Taeyong sarkatis.
Dan bersamaan dengan itu, Taeyong berbalik, meninggalkan ketiga orang dewasa di belakangnya yang terdiam.
"Cih, bocah itu benar-benar sombong, tidak sopan," keluh Profesor Jung beberapa saat kemudian, disertai helaan napas.
Profesor Park mengusap dagunya tertarik. Ia lantas menaik-turunkan alisnya menatap Profesor Jung, tersenyum jahil. "Aku merasa familiar. Bukankah mereka berdua mirip seperti kau dan Jaejoong waktu sekolah dulu, eh?"
Hal itu tak pelak membuat wajah Profesor Jung memerah. "A-apa-apaan itu?! Sudahlah, Profesor Park. Aku akan mengecek keadaan anak didikku itu dulu di klinik."
Profesor Park terkekeh seraya mengikuti Profesor Jung yang sudah melangkah pergi. "Aku juga ikut, Yunho-jjing~"
Profesor Jung mengernyit jijik mendengar panggilan dari kepala sekolahnya itu. "Tapi, Profesor… Menurut anda kenapa troll itu bisa sampai masuk ke lingkungan sekolah? Aku masih tidak mengerti."
Wajah Profesor Park seketika berubah menjadi serius. Rahangnya terlihat mengeras sebelum menjawab, "itu yang ingin kuketahui juga, Profesor. Semoga saja firasat burukku mengenai hal ini tidak benar."
Dan seiring dengan percakapan yang terus berlanjut, kedua Profesor itu pun pergi dari koridor tempat si troll ganas terkapar.
Meninggalkan Kang Hodong sendirian di sana.
"Jadi, aku sendiri yang membereskan kekacauan ini?" tanyanya entah pada siapa.
Kang Hodong menoleh, menatap troll berwarna keabuan yang masih belum sadarkan diri. Ia menusuk wajah troll itu dengan tongkat sihirnya takut-takut, kemudian nyaris berteriak kaget ketika troll itu menggeram pelan.
"Hiiiiiy~ yang benar saja, aku harus membereskan ini sendirian?!"
.
.
.
Hal pertama yang dilihat Yuta ketika membuka mata adalah langit-langit putih yang menyilaukan. Ia juga bisa mencium aroma khas ramuan-ramuan herbal yang menyengat. Sambil mengerjapkan mata guna menormalkan pandangan, Yuta perlahan bangkit menjadi terduduk.
"Wah, akhirnya kau sadar juga!"
Dan telinga malang Yuta berdenging mendengar suara nyaring Ten. Ia meringis pelan. "Ini… Di klinik?"
"Iya!" Ten menjawab semangat. "Ini sudah hampir jam satu siang. Barusan ada Kun dan Jaehyun juga, tapi mereka pergi sebentar untuk membantu Profesor Jung."
Yuta terdiam. Masih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. "Ah, begitu…"
Seingat Yuta, ia menangis selama berjam-jam di toilet dan saat keluar dari sana, ada…
Ah ya, troll itu. Yuta benar-benar shock sampai tidak bisa bergerak cepat, dan pada akhirnya terkena serangan dari troll dan membentur tembok. Kepalanya sendiri masih berdenyut sakit, omong-omong.
Tapi, sebelum kesadarannya menghilang, Yuta benar-benar ingat ada seseorang yang datang menolongnya. Ia sama sekali tidak tahu siapa, tapi dari jubahnya yang samar-samar terlihat, orang itu seperti dari Slytherin…
"Ten!" ujar Yuta cepat, membuat Ten sedikit terlonjak kaget. "Apa kau tahu siapa yang menolongku kemarin?"
"Eh?" Ten mengerjap bingung. "Memangnya bukan Profesor Jung atau Profesor Park ya?"
Yuta menggeleng pelan. "Aku yakin yang kemarin datang menolongku itu seorang murid… Dia pakai jubah Slytherin, tapi mungkin saja aku salah."
"Hah, seorang murid?! Heol, daebak!" Ten nyaris terjungkal dari kursinya mendengar ucapan Yuta. "Tapi… Kemarin seluruh murid tidak bisa pergi ke mana-mana, kita disuruh pulang ke asrama dan diawasi dengan ketat. Memangnya siapa yang bisa kelu—tunggu sebentar."
Yuta mencondongkan tubuhnya penasaran. Matanya menatap Ten tajam. "Apa? Kenapa?"
Ten menatap balik Yuta dengan tatapan tidak percaya. "Lee Taeyong, cowok itu… Kudengar kemarin dia keluar dari aula sendirian dan tidak kembali ke asrama hingga larut malam. Semalam sih seluruh asrama ramai membicarakan hal itu."
Yuta mengerjap. Sekali, dua kali. Ia kemudian mengibaskan tangannya kuat-kuat. "Tidak, tidak. Siapapun itu yang menolongku, yang jelas bukan Lee Taeyong." Mana mungkin orang itu sudi menolong 'darah lumpur' sepertinya.
Sebelah alis terangkat tinggi. "Lalu, kalau bukan dia memangnya siapa?"
"Yang jelas bukan—"
Perkataan Yuta terpotong ketika seorang lelaki dengan jubah khas Slytherin masuk ke dalam ruangan. Seketika Ten dan Yuta terdiam, kedua mata mereka terus mengikuti pergerakan lelaki itu yang tampak tidak peduli dan meraih sehelai jubah di kursi sudut ruangan.
What the hell, itu Lee Taeyong yang namanya baru saja keluar dari mulut mereka beberapa saat yang lalu.
Taeyong, setelah mengambil jubahnya dari sudut ruangan beralih menatap Yuta. Mereka sempat bertemu pandang sedetik, sebelum Yuta menundukkan kepala menatap kedua tangannya yang saling terkepal gugup. Taeyong sendiri masih tetap memusatkan atensinya pada lelaki berdarah Jepang itu.
Sedangkan Ten? Sudah menganga lebar melihat adegan yang terjadi tepat di depan matanya.
Mendecak pelan, Taeyong melangkah cepat hendak keluar dari klinik yang tak dapat dipungkiri menguarkan suasana canggung itu. Namun tepat di pintu klinik, ia berhenti. Tangannya menggenggam kenop pintu erat, sebelum akhirnya suara lirih terdengar dari mulut pemuda itu.
"Nakamoto Yuta, aku… Minta maaf."
Dan pintu itu pun tertutup.
Menyisakan Yuta dan Ten yang melongo tidak percaya di dalam ruangan.
"Tadi… Taeyong apa katanya? Minta maaf?" tanya Ten setelah beberapa detik berlalu.
Yuta masih menatap pintu klinik dengan mata terbuka lebar. "Aku sendiri juga tidak percaya."
Ten menatap Yuta, kemudian ia mengelus-elus dagunya dengan tampang berpikir. "Hmm… Mungkin benar, Lee Taeyong yang menolongmu dari troll kemarin."
"Yah, mungkin benar." Kini Yuta mengacak-acak rambutnya kesal. "Kenapa sih sekarang aku harus berhutang budi pada orang itu?! Kenapa juga harus dia yang menolongku?"
Sementara Yuta kembali berbaring memunggungi Ten, pemuda Thailand itu masih menatap Yuta penasaran. Sebenarnya, ada yang ingin ia tanyakan dari tadi. "Ngomong-ngomong… Bunga mawar yang ada di jubahmu itu dari siapa?"
Secepat kilat Yuta berbalik, matanya melotot horror menatap Ten. "Dari mana lagi kau mengetahui hal itu?!"
"Johnny yang membawakan jubahmu ke asrama untuk dicuci yang menemukannya, ia langsung memanggil-manggilku dengan histeris seperti perempuan."
Yuta mengernyit membayangkan Johnny yang berteriak-teriak seperti perempuan, tapi ia memutuskan untuk tidak peduli. "Itu dari Winwin. Anak Hufflepuff, dan jangan bertanya lebih jauh. Aku ngantuk." Kembali berbalik memunggungi Ten, Yuta memejamkan matanya. Berharap teman sekamarnya itu cepat-cepat pergi dan tidak bertanya apapun soal Lee Taeyong atau yang baru disebutkan olehnya tadi—Dong Winwin.
Ten, melihat Yuta yang sepertinya tidak mau berbicara dengannya lebih jauh lagi mencibir. Ia kemudian menghela napas. "Enak sekali sih jadi orang cantik. Winwin itu murid tampan yang kemarin satu kelas dengan kita di pelajaran transfigurasi 'kan? Ck, dan kau dapat Lee Taeyong juga… Kapan aku bisa diperhatikan Lucas, ya?"
'Abaikan, abaikan…' Yuta berujar dalam hati seraya memejamkan matanya erat-erat. Lagipula apa maksudnya 'kau dapat Lee Taeyong juga'? Sekalipun Taeyong sudah menolongnya kemarin, bukan berarti ada maksud tertentu 'kan? Mungkin dia hanya merasa bersalah, itu saja.
Tapi tak bisa dipungkiri, mengetahui bahwa Taeyong—mungkin—telah menyelamatkannya dari troll kemarin membuat jantung Yuta berdebar-debar.
.
.
Di dalam perpustakaan sore itu, pada bagian buku-buku mengenai ramuan, berdiri sesosok Jung Jaehyun dengan muka kusut dan buku tebal yang terbuka lebar di tangan. Sial, ia lemah pada mata pelajaran ini, dan tugas untuk membuat ramuan untuk menumbuhkan rambut makin membuatnya frustrasi.
'Memang apa pentingnya?!' Jaehyun berteriak dalam hati.
Jaehyun meringis ketika melihat daftar bahan yang harus ia kumpulkan untuk membuat ramuan obat penumbuh rambut. Bulu bayi burung hantu, serabut akar pohon cemara, dan apa itu… kaki lalat? Belum lagi teknik membuatnya dan cara penyimpanannya dalam botol. Jaehyun merasa akan gila sebentar lagi.
Dan ia bahkan tidak menyadari seseorang yang memerhatikannya dari tadi dan sekarang sudah berdiri di sampingnya dengan wajah khawatir.
"Sepertinya kau sedang kesusahan, ada yang bisa kubantu?"
Jaehyun terperanjat kaget, nyaris menjatuhkan buku yang sedang ia baca. Ia menoleh, dan seketika matanya bertemu pandang dengan iris hitam yang berkilau, dengan bentuk yang mengingatkan Jaehyun akan mata bulat kelinci.
Tunggu, wajah ini…
"D-Doyoung-hyung?" cicitnya tak percaya.
Lelaki yang dipanggil Doyoung itu mengernyitkan dahi, ia tampak mengingat-ingat sesuatu sebelum mata kelincinya terbelalak lebar. "Jangan bilang kau… Jung Jaehyun?!"
Tanpa mempedulikan bahwa saat ini mereka berada di perpustakaan, kedua lelaki itu bersorak kegirangan seraya memeluk satu sama lain. Ah, Jaehyun benar-benar ingin menangis sekarang, Doyoung hyung, tetangga yang selalu ia cari keberadaannya sejak tiga tahun lalu kini berada di hadapannya. Masih manis dan membuat jantung Jaehyun berdebar seperti dulu.
"Jadi… Gryffindor, eh? Selamat, Woojae-ya," ujar Doyoung begitu pelukan mereka terlepas.
Ah, panggilan itu. Jaehyun benar-benar merindukannya. "Ya, dan hyung… Ravenclaw, benar-benar sesuai dugaanku. Cocok dengan otak cerdasmu itu."
Ya, Doyoung, atau Kim Doyoung adalah teman Jaehyun sejak mereka masih kecil. Mereka berdua bertetangga, dengan rumah yang saling berhimpitan. Jarak antara Doyoung dan Jaehyun pun hanya terpaut satu tahun, membuat mereka berdua menjadi sangat dekat hingga nyaris tak terpisahkan.
Sayangnya, tiga tahun yang lalu, keluarga Doyoung harus pindah dari rumah mereka—yang bahkan Jaehyun sendiri tidak tahu apa alasannya. Dengan derai air mata yang membasahi wajah, satu-satunya yang ditinggalkan oleh Doyoung untuk Jaehyun hanyalah sebuah kalung berbandul kelinci, yang omong-omong masih Jaehyun pakai sampai sekarang, tersembunyi di balik seragam yang ia pakai. Setelahnya tidak ada kontak sama sekali, Doyoung seperti menghilang ditelan bumi.
"Jadi, apa yang membuatmu terlihat kusut begitu, hm?" Doyoung bertanya lembut, mengambil buku yang dijatuhkan Jaehyun ketika memeluknya tadi, kemudian membaca judul yang tertera di sampulnya. "Ramuan? Kau kesulitan di mata pelajaran ini?"
Jaehyun menghela napas. "Begitulah, hyung. Semua yang tertulis di sana membuat kepalaku seperti mau pecah."
Doyoung terkekeh pelan. "Biar kuajari, kalau begitu. Kebetulan aku lumayan ahli di mata pelajaran ini. Mau ikut denganku sebentar?"
Pertanyaan Doyoung itu dijawab dengan anggukan antusias dari Jaehyun. Si bungsu Jung itu berteriak kegirangan dalam hati. Kebegoannya di mata pelajaran sederhana ini bisa membuatnya berada di dekat Doyoung selama beberapa waktu, dan Jaehyun tidak bisa lebih bersyukur lagi. Setidaknya kelemahannya itu bisa menguntungkan juga.
Karena banyak sekali yang ingin ia bicarakan dengan Doyoung hyung-nya itu.
Ah, sekolah sihir Hogwarts benar-benar akan terasa menyenangkan baginya setelah ini.
.
.
.
"Yah, anak-anak! Perkenalkan, ini adalah temanku Munchkin!"
Murid-murid Gryffindor dan Slytherin, yang saat itu berada di kelas pemeliharaan makhluk magis melongo tidak percaya. Atensi seluruhnya terpusat pada sesosok makhluk berbulu abu-abu, dengan paruh seperti burung, tubuh besar dan empat kaki yang kokoh, juga sayap lebar yang membentang gagah di tengah lapangan. Makhluk itu terlihat anggun, melesakkan kepalanya pada tangan Profesor Henry—pengajar kelas pemeliharaan makhluk magis—yang mengelusnya sayang.
Memang, sangat mengagumkan. Tapi di pikiran mereka, nama Munchkin terlalu imut untuk makhluk segagah itu.
"Seperti yang kalian lihat, makhluk cantik ini memiliki kepala, sayap, dan dua kaki depan seperti elang. Dan bagian belakang tubuh mereka seperti kuda. Dia adalah makhluk yang kausebut dengan Hippogriff."
Seluruh murid masih menatap makhluk itu dengan takjub. Begitu pula dengan Yuta, yang berdiri di depan barisan dengan mata berbinar antusias.
"Ini… Hippogriff asli?" gumam Yuta takjub.
"Bukan, itu imitasi. Sebentar lagi kau akan melihatnya terjatuh karena kehabisan baterai," timpal Johnny sarkatis. "Haaah, aku 'kan inginnya naga. Naga itu sangat keren!"
Yuta memilih untuk mengabaikan perkataan Johnny. Ia selalu diberitahu oleh pamannya bahwa Hippogriff adalah makhluk magis yang menakjubkan, dan sekarang Yuta dapat melihat itu dari dekat, ia tahu bahwa perkataan pamannya itu benar. Mereka memang sungguh menakjubkan.
"Munchkin sudah menjadi Hippogriff yang jinak, tapi mungkin hanya padaku saja." Profesor Henry kembali bersuara. "Salahsatu dari kalian akan kuberi kesempatan untuk menunggangi Munchkin, tapi kalian harus ekstra hati-hati."
Mata Profesor Henry memindai barisan murid-murid yang berdiri di hadapannya. "Nah, ada yang mau coba menunggangi Munchkin?"
Seketika seluruh murid di sana bergerak mundur, menyisakan Yuta yang masih terdiam di tempat, tampak terpukau oleh Hippogriff di hadapannya.
"Ah, Nakamoto Yuta, ya? Bagus sekali! Sungguh pemberani!"
Dan barulah Yuta tersadar. Ia celingukan, mendapati orang-orang sudah berada sedikit jauh di belakangnya. Seketika Yuta meringis dalam hati. Ia memang kagum pada Hippogriff itu, tapi tidak berarti ia berani menungganginya juga. Gila, makhluk itu 'kan termasuk yang berbahaya, didekati saja menakutkan apalagi ditunggangi!
"Ayo, tenang saja. Ada aku, aku akan memastikan kau aman," ucap Profesor Henry dengan senyum lebar.
Menghela napas pasrah, Yuta perlahan maju mendekati Profesor Henry. Ia takut-takut melirik Munchkin yang saat ini sibuk melahap daging yang diberikan oleh Profesor Henry sebelumnya. Yuta bergidik ngeri, membayangkan kalau tubuhnya yang terkoyak oleh paruh kuat itu.
Profesor Henry meremas kedua pundak Yuta, keras. "Kau terlihat gugup begitu. Santai saja, santai~"
Oh, seandainya saja Yuta bisa sesantai guru muda di dekatnya ini.
"Satu hal yang perlu kautahu, Hippogriff memiliki ego yang tinggi, mereka mudah sekali tersinggung. Jangan menantangnya, biarkan dia mendekatimu perlahan, bersikaplah lembut dan sopan."
Yuta mengangguk kaku. Ia menelan ludahnya gugup ketika Munchkin menyadari kehadirannya, menatap Yuta dengan sorot tajam. Ia mundur selangkah, menimbulkan suara gesekan daun yang cukup keras, menyebabkan Hippogriff itu meraung. Murid-murid yang memperhatikan sudah menahan napas.
"Sssh… Pelan-pelan, tenang. Biarkan dia yang mendekatimu," sekali lagi Profesor Henry memberi instruksi. Ia berjaga-jaga di dekat Yuta.
Menuruti perintah dari Profesor Henry, Yuta berdiri di tempatnya dengan kaku. Melihat Hippogriff itu takut-takut sambil menunggu instruksi dari Profesor Henry lagi.
"Bungkukkan badanmu perlahan," bisik Profesor Henry. Yuta segera menuruti instruksinya.
Tanpa disangka, Munchkin balas membungkuk. Hal ini memunculkan senyum lega di wajah Profesor Henry. "Sekarang, coba sentuh kepalanya pelan-pelan. Kurasa dia menyukaimu."
Yuta sempat terlihat ragu, tapi kemudian ia mengulurkan tangannya, mendekati Munchkin perlahan hingga akhirnya ia menyentuh kepala Hippogriff itu. Ia tersenyum ketika Munchkin terlihat nyaman dengan sentuhannya, membuat Yuta dengan berani mengusap kepala Munchkin lembut.
"Bagus, bagus sekali!" Profesor Henry menepukkan tangannya semangat, diikuti oleh seluruh murid di sana.
"Kau sudah bersikap luar biasa, Munchkin. Ini, ambillah!" Profesor Henry kembali melemparkan daging, yang segera ditangkap oleh Munchkin dan dilahapnya dengan semangat.
"Nah, sekarang. Cobalah menaikinya, tidak apa-apa," ujar Profesor Henry penuh percaya diri.
Yuta menatap Munchkin yang masih ia usap kepalanya pelan. Ia juga sangat ingin menunggangi Hippogriff cantik ini. "Apa… Tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa! Mari kubantu!"
Belum sempat Yuta menjawab apa-apa, Profesor Henry secara tiba-tiba mengangkat tubuh Yuta dan menempatkannya di atas tubuh Munchkin, membuat Hipogriff itu meraung kaget dan mengibaskan sayapnya sedikit. Yuta dengan segera memeluk erat leher Hippogriff itu. Gila, jantungnya berdebar antusias sekaligus tegang, ini sangat menyenangkan.
"Hmm… Mungkin kita bisa menempatkan satu orang lagi ya, ada yang mau menemani Yuta?"
Awalnya Ten hendak mengangkat tangan, namun terhenti ketika suara berat seseorang terdengar. "Aku."
Seluruh murid terkesiap kaget, termasuk Yuta yang melihat Lee Taeyong kini melangkah maju ke depan barisan, tepat di hadapan Profesor Henry. Kini bisik-bisik mulai terdengar, namun Taeyong tampak tidak peduli.
Dan Profesor Henry pun tampak cukup kaget melihat Taeyong berdiri di hadapannya. Sungguh, ia tidak berpikir Taeyong yang terkesan angkuh itu mau menunggangi makhluk magis yang satu ini.
"Ng… Baiklah, Lee Taeyong. Kau sudah tahu langkah-langkahnya 'kan?"
Taeyong mengangguk mantap. "Aku sudah tahu, Profesor."
Maka Profesor Henry menggeser tubuhnya, membiarkan Taeyong mendekati Munchkin yang sudah dinaiki Yuta di punggungnya secara perlahan. Yuta cukup kagum melihat lelaki itu tampak sangat hati-hati, tidak terlihat angkuh dan sombong seperti biasanya. Dan lebih kagum lagi ketika Taeyong, tanpa banyak usaha sudah dapat mengelus kepala Munchkin tanpa membuatnya marah atau mengamuk, justru Hippogriff itu terlihat nyaman dengan sentuhan Taeyong, sama seperti ketika Yuta menyentuhnya tadi.
Profesor Henry pun melongo, terkagum. "Wah, hebat sekali!"
Dan Yuta menyesal sempat mengagumi Lee Taeyong. Pasalnya, kini senyum angkuh pemuda itu muncul kembali. Dan lebih mengesalkannya lagi, itu ditujukan pada Yuta.
"Oke, naiklah ke belakang Yuta, Taeyong-ssi. Hati-hati." Profesor Henry memberi instruksi.
Dengan mudah dan dalam sekali lompatan, Taeyong sudah duduk manis di belakang Yuta, mendapatkan sorak dan tepuk tangan dari para murid. Berbeda dengan Yuta yang sudah memasang wajah masamnya.
Profesor Henry terlihat menimbang-nimbang. "Ah, mungkin lebih baik kalau aku kenakan tali kekang pada Munchkin. Pelan-pelan kalau mau menariknya, ya."
Profesor Henry pun memasangkan tali kekang pada Munchkin. Yuta hendak meraih tali itu, tapi tertahan oleh Taeyong yang mendahului. Tangan pemuda itu terulur melingkupi tubuh Yuta untuk meraih tali, kemudian merapatkan tubuhnya pada Yuta. "Aku yang kendalikan. Aku tak bisa mempercayaimu soal ini."
Yuta hendak protes, tapi ia malah memekik ketika Taeyong menghentakkan tali kekang itu kencang dan membuat Munchkin ancang-ancang untuk terbang.
"Hati-hati kaliaan! Selamat menikmati perjalanan singkatnya!" Profesor Henry melambaikan tangan semangat.
"HUWAAAA!"
Itu teriakan Yuta seiring dengan Munchkin yang mengepakkan sayapnya untuk terbang. Taeyong sendiri tampak terhibur dengan suara teriakan Yuta yang tidak bisa dibilang pelan.
Jangan bilang siapa-siapa, tapi Taeyong memang sengaja mengajukan diri agar bisa berada di dekat Yuta.
Kini Munchkin sudah terbang tinggi, mengitari bangunan sekolah Hogwarts yang terlihat begitu menakjubkan dari atas. Yuta tertawa senang, amat kagum dengan pandangan yang dilihatnya sekarang. Hutan terlarang yang hijau dan laut biru yang membentang luas pun bisa terlihat seluruhnya dari atas sini. Ia bahkan tidak menyadari bahwa punggungnya sudah menempel erat dengan dada Taeyong sekarang, atau mungkin tidak peduli.
Dan dari salahsatu ruangan di Hogwarts, tampak Profesor Park Jungsoo tanpa sengaja melihat dari balik jendela, tersenyum tipis dengan secangkir teh di tangannya. Ah, masa muda memang begitu membahagiakan.
Taeyong di belakang Yuta tersenyum tipis. "Kau terlihat sangat bodoh sekarang, kautahu?" ujarnya sedikit berteriak, berusaha mengalahkan suara gesekan udara yang disebabkan oleh sayap Munchkin.
"Peduli amat!" respon singkat Yuta, balas berteriak.
Dan tanpa mereka sadari, kini mereka tertawa bersama-sama, bersorak bahagia ketika Munchkin menurunkan tubuh sehingga kaki-kaki depannya bergesekkan dengan air laut, menimbulkan percikan-percikan air yang menyegarkan. Dengan tubuh yang saling berdekatan, bahkan kepala Taeyong tepat berada di pundak Yuta, sedikit menyandar di bahu sempit lelaki itu.
Sungguh, mereka berdua sama sekali tidak ingin hal menakjubkan ini berakhir, tapi mereka harus menelan rasa kecewa ketika pada akhirnya Munchkin kembali turun di lapangan tempat kelas pemeliharaan makhluk magis berlangsung. Profesor Henry dan para murid menyambut dengan tepuk tangan meriah.
"Daebak! Menakjubkan sekali!" ujar Profesor Henry penuh semangat. Kini murid-murid yang lain tampak sangat ingin mencoba menaiki Hippogriff itu, tidak seperti sebelumnya.
Ketika Taeyong melepaskan tali kekang dari tangannya, barulah Yuta sadar bahwa nyaris tidak ada jarak di antara mereka. Yuta menoleh, sempat bertemu pandang dengan Taeyong selama beberapa detik sebelum lelaki itu melompat turun dari tubuh Munchkin.
"E-eh, tunggu…" Yuta sedikit kebingungan mencari cara untuk turun. Ia tidak selincah Taeyong, sulit baginya untuk turun dengan mudah seperti yang Taeyong lakukan tadi
Dan Yuta menahan napas begitu Taeyong membantunya turun dengan mengangkat tubuhnya hati-hati. Yuta menatap Taeyong kaget, bahkan sampai tidak menyadari bahwa kakinya sudah berpijak di tanah.
"Yah, selamat untuk kalian berdua. Pengalaman yang menyenangkan, bukan?"
Perkataan Profesor Henry menyadarkan Yuta. Ia segera menganggukkan kepalanya gugup. "A-ah, begitulah. Menyenangkan sekali!"
Tapi Lee Taeyong tidak mengatakan apapun, ia kembali ke barisannya di Slytherin dengan Lucas dan Namjoon yang tampak semangat menyambutnya, menghujani dengan berbagai macam pertanyaan. Yuta mengangkat alis, sebenarnya apa motivasi pemuda itu ingin menunggangi Hippogriff? Kenapa wajahnya bahkan sama sekali tidak menunjukkan emosi apa-apa? Padahal Yuta yakin sekali tadi pemuda Lee itu berteriak kesenangan bersamanya.
"Oke, nanti yang lain mungkin akan dapat giliran di akhir jam pelajaran nanti, sekarang mari kita masuk ke bagaimana cara perawatan makhluk ini!"
Terdengar suara helaan napas kecewa dari para murid, sementara Yuta sudah kembali ke barisan dengan disambut oleh penghuni kamar dua puluh tujuh serta beberapa murid Griffindor lain.
"Pasti menyenangkan sekali, ya? Kau terlihat keren tadi!" Yang berbicara ini adalah Kang Daniel, lelaki ceria dengan rambut berwarna coklat emas dan senyum menawan.
Yuta mengangguk semangat. "Begitulah, kau juga harus mencobanya, Niel!"
Dan setelahnya terdengar perbincangan mengenai siapa yang akan mendapat giliran menunggangi Munchkin nanti, mengabaikan Profesor Henry yang tengah menjelaskan di depan. Yuta sendiri kini memfokuskan pandangannya pada Lee Taeyong di ujung barisan sana, tampak tidak tertarik dengan apapun yang tengah dijelaskan Profesor Henry. Sesekali ia tertawa mendengar Namjoon atau Lucas yang mengajaknya bercanda.
Saat ini, pandangan Yuta terhadap Lee Taeyong sedikit berubah. Mungkin, mungkin Lee Taeyong… Tidak seburuk yang dipikirkannya.
Ketika Yuta sudah mengalihkan pandangannya ke depan, giliran Taeyong yang menatap lekat pemuda itu. Ia melihat bagaimana Yuta tersenyum menanggapi omongan Ten dan Johnny di sebelahnya. Dan merasa kesal ketika jantungnya malah berdebar kencang.
Nakamoto Yuta, apa sebenarnya yang spesial dari lelaki itu hingga mampu membuat Taeyong merasakan banyak perasaan aneh dalam waktu sesingkat ini?
.
.
.
TBC
.
.
Weeeeuuu, chapter tiga done! Ngga nyadar sama sekali taunya udah tujuh belas halaman 3911 word aja, sampai harus di-cut wkwkwk.
Nah sekarang ketahuan deh otp lain yang berlayar di fic ini, JaeDo huehehehe. Pair lain favorit aku di NCT. Chapter depan mungkin udah bakal masuk ke tahun kedua mereka, terus cimit-cimit dreamies dimunculin deh hehe ^^
Oh iya, aku mungkin bakalan lebih cepet update di wattpad ya, soalnya emang rada susah buat ngakses ffn, tau sendirilah ya :( boleh tuh sekalian follow wattpad aku - burakkupeppa hehehe, minta follback aja, aku ga gigit kok.
Sekali lagi, review sangat ditungguuu!
