Under the Spell

A Hogwarts!AU with Lee Taeyong x Nakamoto Yuta as main casts

Rating : T (for now)

Disclaimer : I own nothing except the plot

Some details might not described in this fic, I highly recommend you to watch or read Harry Potter series first ^^

.

.

.

"Silakan, silakan! Sapu terbang ini merupakan keluaran terbaru dari Nimbus!"

Nakamoto Yuta berusaha menyelusup di antara kerumunan orang yang memenuhi toko alat-alat sihir di Diagon Alley. Ia sudah berjingkat, membungkuk untuk mencari celah, bahkan memaksakan tubuh kecilnya untuk menyusup masuk, namun hasilnya nihil. Ia terpental, bahkan nyaris terjungkal. Pantatnya masih merasakan sakit akibat terdorong keras oleh seorang pria tinggi di hadapannya.

Yuta menggerutu pelan. Ia sangat ingin melihat sapu terbang keluaran terbaru itu. Di tahun kedua ini, ia memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu atlet Quidditch. Sapu terbang yang digunakan tentu harus bagus kualitasnya. Tapi toko yang biasanya menjual alat-alat bagus ini sangat penuh pengunjung, bahkan sampai meleber keluar toko.

"Lho? Yuta!"

Menoleh, Yuta mendapati Ten yang nyengir lebar sambil melambaikan tangan padanya. Di tangan kiri pemuda itu terdapat satu kantong plastik besar yang entah apa isinya. Si penyihir Thailand itu pasti habis belanja. Dasar orang kaya.

Ten berlari kencang ke arah Yuta, kemudian menepuk punggung lelaki itu keras begitu sampai di dekatnya. "Dari mana saja kau? Aku kangen!" ujarnya semangat.

Yuta sendiri sudah mengumpat dalam hati. Pukulan Ten itu sama sekali tidak main-main, pasti punggungnya memerah saat ini. "Tidak ke mana-mana, hanya membantu pamanku di rumah selama liburan." jawab Yuta ketus.

Tapi Ten yang tidak menyadari nada ketus Yuta malah memperlebar cengirannya. "Aku pulang ke Thailand, banyak sekali oleh-oleh yang kubawa dari sana, kau dapat bagian paling banyak!"

Seketika perasaan dongkol Yuta pada Ten menyusut hingga tak bersisa. Ia tersenyum cerah kali ini. Ah, pukulan Ten tadi sama sekali tidak menyakitkan kok. "Baiklah, kita ke asrama sekarang?" tanyanya manis.

Ten mengangguk senang, memeluk sebelah tangan Yuta dan menuntunnya meninggalkan toko alat-alat sihir. Yuta sendiri hanya menurut saja. Beli sapu terbang bisa nanti, lagipula toko itu juga masih sangat ramai. Sekarang yang terpenting adalah oleh-oleh dari Ten.

Hehe.

Kini mereka berdua menyusuri Diagon Alley yang ramai, namun begitu menyenangkan. Banyak sekali murid tahun pertama Hogwarts yang tengah mencari kebutuhan sekolah bersama orang tua mereka, terlihat antusias dan bahagia.

Ah, tidak terasa Yuta sudah memasuki tahun keduanya di Hogwarts. Banyak sekali yang terjadi selama setahun ke belakang. Setiap hari hampir selalu ada kejadian yang tidak disangka-sangka.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Taeyong?"

Yuta mendelik tajam pada Ten. "Tidak tahu. Aku bukan ibunya."

Ten terkekeh pelan. "Iya, kau memang bukan ibunya. Calon pacar, barangkali?"

"Calon pacar gigimu jajar genjang."

Yuta mempercepat langkahnya, menciptakan jarak dengan Ten tanpa memedulikan tawa lelaki itu yang terdengar makin keras. Sial, gara-gara diingatkan oleh Ten ia jadi terbayang wajah menyebalkan Lee Taeyong. Membayangkannya saja sudah membuat Yuta kesal bagaimana kalau mereka bertemu nanti?

Ten berusaha menyamakan langkahnya dengan Yuta, masih memperdengarkan tawa jahilnya. "Ayolah, Yuta-chan. Dimanapun kau berada dia selalu muncul, mana ada kebetulan seperti itu. Kalian pasti berjodoh!"

Yuta memutar bola matanya, tanpa berniat untuk membalas perkataan Ten. Iya, selama menjalani tahun pertamanya, Yuta heran kenapa ia harus selalu bertemu dengan lelaki yang menyebutnya darah-lumpur itu. Dan seiring waktu berjalan, Yuta juga menyadari bahwa Lee Taeyong memiliki kepribadian seperti bunglon.

Bukannya apa-apa, tapi ini karena satu waktu dia akan menjadi orang yang manis, dan menit berikutnya ia akan kembali menjadi pribadi yang dingin dan menyebalkan.

Contohnya waktu itu, ketika mereka satu kelas di mata pelajaran ramuan, Taeyong menolong Yuta yang hampir terkena ledakan dari ramuan gagal yang dihasilkan oleh Sungwoo. Saat itu, Taeyong menarik tangan Yuta hingga tubuh mereka berdekatan, lalu bertanya 'kau tidak apa-apa?' dengan lembut dan penuh kekhawatiran. Untung tidak ada yang menyadari karena semuanya fokus pada kehebohan yang—lagi-lagi disebabkan oleh Ong Sungwoo.

Tapi usai acara makan malam di hall, Taeyong yang tanpa sengaja berselisih jalan dengan Yuta membisikkan sesuatu yang membuat Yuta nyaris menyihirnya menjadi kadal.

'Kurang-kurangi porsi makanmu itu. Dasar, seperti babi saja.'

Sungguh, Yuta akan benar-benar akan menyihir Taeyong saat itu juga seandainya Ten tidak mati-matian menahan tangannya. Lagipula porsi makan Yuta tidak sebanyak itu kok, ia hanya menghabiskan empat piring daging panggang dan dua mangkok sup saja. Tidak terlalu banyak… 'Kan?

Contoh yang lain adalah ketika Yuta dan Ten baru saja menyelesaikan kelas astronomi di menara utara beberapa waktu lalu, tengah membicarakan aib seorang Seo Johnny seraya berjalan menuruni tangga. Mereka terlalu larut dalam perbincangan mereka hingga tanpa sadar—atau entah karma—Yuta terpeleset di salah satu anak tangga dan terjun bebas dari lantai dua. Ten sudah berteriak histeris, sementara Yuta yang pasrah hanya menutup mata, bersiap untuk merasakan sakit di sekujur tubuhnya begitu berhantaman dengan lantai.

Tapi ajaibnya, hal itu tidak terjadi. Yuta malah merasakan tubuhnya tertahan oleh sesuatu.

Setelah membuka matanya takut-takut, alangkah terkejutnya Yuta mendapati bahwa 'sesuatu' itu adalah Lee Taeyong. Lengan kokoh lelaki itu melingkar di pinggang Yuta sehingga wajah mereka saling berhadapan.

Adegan itu seharusnya bisa menjadi romantis—menurut Ten si saksi mata tempat kejadian perkara—jika saja Lee Taeyong tidak mendekatkan mulutnya ke telinga Yuta untuk membisikkan sesuatu, sebelum melepas dekapannya dan membuat Yuta yang tidak siap benar-benar terjatuh dengan bokong mencium lantai terlebih dahulu.

'Ceroboh, urakan, kikuk, heboh. Apa jadinya kalau seluruh penyihir di dunia seperti kau?' Itu kata Lee Taeyong sebelum melepas tubuh Yuta secara tiba-tiba. Dan kali itu, Yuta nyaris saja melempar sepatunya ke kepala Taeyong yang sudah berjalan menjauh seandainya Ten tidak menahan tangannya mati-matian.

Dan masih banyak lagi kelakuan Taeyong terhadap Yuta yang tidak dapat ditebak. Dari situlah Yuta menarik kesimpulan bahwa Lee Taeyong, si licik yang sialnya berwajah tampan itu, memiliki kepribadian berubah-ubah seperti bunglon.

Ah, selain Lee Taeyong, ada satu orang lagi yang akhir-akhir ini selalu muncul di dekat Yuta. Tapi berbeda dengan kemunculan Taeyong yang selalu membuatnya sebal, kehadiran orang ini justru sangat menenangkan.

"Lho, Yuta! Itu bukannya Winwin?"

Sikutan Ten membuat Yuta terbuyar dari lamunannya. Ia menatap ke arah yang ditunjuk Ten, kemudian menemukan sosok yang familiar tengah berdiri di depan etalase sebuah toko.

Sosok itu ternyata Winwin. Well, kebetulan yang menakjubkan.

Yuta baru saja hendak mengatakan pada Ten untuk langsung saja pergi tanpa menyapa Winwin terlebih dahulu, tapi Ten malah menarik tangan Yuta untuk menghampiri Winwin. Yuta hanya bisa menghela napas. Bukannya dia tidak mau bertemu dengan Winwin, tapi ia ingin menjalani awal tahun keduanya ini tenang-tenang saja, tanpa bertemu salah satu dari mereka yang belakangan ini mengusik kehidupan Yuta.

"Winwin-ah!"

Dong Winwin menoleh. Senyum lebar seketika mengembang di bibirnya melihat Ten melambaikan tangan padanya sambil menggandeng Yuta—well, ia hanya fokus pada orang yang digandeng Ten, sebenarnya.

"Yuta? Lama tidak bertemu!"

Senyum di bibir Ten langsung turun. Ia menatap Winwin datar. "Winwin, aku yang menyapamu, lho."

"A-ah, maksudku, Ten juga. Hai." Winwin tertawa canggung. "Jadi, kalian baru saja berbelanja?"

"Begitulah," Ten menjawab malas. Ia sadar itu hanya pertanyaan basa-basi dari Winwin. "Ngomong-ngomong, aku lupa ada sesuatu yang harus kubeli. Yuta, kutinggal ya, nanti oleh-olehnya kutaruh di kamar."

Yuta seketika panik. "Eh, Ten! Bi-biar kuantar—"

"Nggak usah, sampai jumpa~" Ten buru-buru mengelak. Belum sempat Yuta mencegah lagi, ia sudah berbalik dan melangkah pergi dengan cepat. Meninggalkan Yuta yang menatap punggungnya sambil menggerutu dalam hati dan Winwin yang mengulum senyum.

"Jadi…" Winwin membuka suara. "Kau mau langsung ke asrama?"

Yuta agak terperanjat. Ia menoleh, bertemu mata dengan Winwin yang menatapnya penuh harap. "Begitulah…"

"Kalau begitu kita sama-sama saja!" ujar Winwin semangat.

Yah.

Diam-diam Yuta menghela napas. Apa boleh buat. Lagipula Winwin asyik diajak ngobrol kok. Berbeda dengan Lee Taeyong, Winwin 'kan orangnya ramah dan menyenangkan. Tidak ada salahnya juga.

"Oke," jawab Yuta sambil tersenyum simpul.

Pada akhirnya, mereka berdua berjalan beriringan menyusuri pertokoan di Diagon Alley yang panjang. Diiringi dengan pembicaraan ringan dan diselingi tawa. Sungguh, orang-orang yang melihat mereka pasti setuju bahwa mereka berdua adalah pasangan yang serasi.

"Ngomong-ngomong, tadi kau hendak membeli burung hantu?" tanya Yuta setelah beberapa detik terlalui dengan hening.

Winwin mengangguk. "Iya, tadinya aku ingin beli satu."

"Bukankah kau sudah punya yang berwarna hitam itu? Ingin memelihara satu lagi?"

"Hmm… Bukan." Kali ini Winwin menggeleng. "Sebenarnya aku ingin beli satu untuk adikku. Dia baru masuk Hogwarts tahun ini."

Mata Yuta sedikit melebar. Ah iya, hari ini 'kan upacara penyambutan dan seleksi penempatan asrama untuk murid tahun pertama! "Adikmu akan bersekolah di Hogwarts?" tanya Yuta antusias. "Pasti akan menyenangkan sekali satu sekolah dengan adik sendiri!"

Winwin tersenyum menatap Yuta yang sekarang terlihat heboh sendiri. Dasar, yang punya adik Winwin tapi yang heboh malah Yuta. "Namanya Renjun. Aku berencana mengenalkannya padamu nanti."

"Eh, tentu saja kau harus mengenalkannya padaku! Aku ingin sekali punya teman yang bisa kuanggap sebagai adik sendiri!"

Mendengar itu, Winwin menghentikan langkahnya. Yuta, yang menyadari Winwin tertinggal di belakang pun turut menghentikan langkah dan berbalik, menatap Winwin heran.

"Kau bisa menganggapnya adik sendiri kok," ucap Winwin sambil menatap Yuta lurus. "Kelak, mungkin dia akan jadi adik iparmu."

Kemudian hening.

"…Hah?" Adalah respon Yuta setelah lima detik berlalu. Ia mengerjapkan matanya bingung, menatap Winwin yang pada akhirnya mengela napas.

"Sudahlah, lupakan." Winwin mengibaskan tangan di depan wajahnya. Ia lantas kembali berjalan, meninggalkan Yuta yang masih tertegun, berusaha memproses perkataan Winwin tadi.

Tidak ingin berpikir lebih jauh, Yuta pun akhirnya menyusul langkah Winwin. Ia sedikit kerepotan untuk menyamai langkah Winwin yang lebar, terlebih kerumunan orang yang berlalu lalang pun sedikit menghambat langkahnya.

Winwin yang menyadari hal ini, berbalik dan memelankan langkah, menunggu hingga Yuta sampai di dekatnya. Dan tepat ketika jaraknya dengan Yuta tinggal selangkah lagi…

Grep.

Sejenak Yuta merasakan jantungnya berhenti berdetak. Kini, tangan besar Winwin membungkus tangannya dalam genggaman erat. Ia menatap Winwin dengan pandangan kaget, dan lelaki itu membalas tatapannya lembut.

"Biarkan saja begini. Kalau tidak dipegangi, nanti kau hilang."

Yuta tidak membalas. Ia hanya menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang ia yakini sudah memerah. Langkahnya sekarang beriringan dengan Winwin, tangan mereka pun saling bertautan.

Kalau Lee Taeyong membuat Yuta dongkol setengah mati, maka Dong Winwin dapat membuat Yuta seperti melayang ke langit ketujuh.

Setelah itu, perjalanan mereka berlanjut dengan hening. Yuta berusaha menormalkan jantungnya dengan mengedarkan pandangan ke sekitar, melihat-lihat jajaran aneka ragam pertokoan. Winwin sendiri tetap memandang lurus tanpa peduli apapun, tapi mendadak kedua matanya terpaku pada sebuah pamflet yang tertempel di dinding salahsatu toko.

"Hei, Yuta…" panggil Winwin pelan.

Secepat kilat Yuta menoleh ke arah Winwin. "Hmm?"

Winwin melambatkan langkah. Tapi ia sama sekali tidak membalas tatapan Yuta. "Sebentar lagi… Ada pesta jamuan untuk sekolah lain yang berkunjung 'kan?"

Berusaha mengingat-ingat, Yuta kemudian mengangguk. "Iya, setahuku sekitar sebulan lagi. Kenapa memangnya?"

"Untuk datang ke acara pesta itu harus bersama pasangan 'kan?"

Yuta mengernyitkan alis. Kenapa Winwin tiba-tiba membahas soal ini? "Aku tidak tahu jelasnya, tapi sepertinya iya. Aku sih tidak berminat per—"

"Jadilah pasanganku. Kita datang ke acara itu bersama-sama."

.

.

.

"HAAAAH?"

Yuta melempar bantal ke arah Ten, telak mengenai wajah. "Kondisikan suaramu, kutil katak."

Ten mengambil bantal yang tadi dilempar oleh Yuta dan meletakkan bantal tersebut di pangkuannya. "Yang benar saja, pesta jamuan itu bahkan belum diberitahu secara resmi dari sekolah dan Winwin sudah langsung mengajakmu?!" Ten menggelengkan kepalanya takjub. "Sungguh dedikasi yang mengagumkan. Yuta, aku restui hubunganmu dengan Winwin!"

Yuta menatap Ten datar. "Dedikasi yang mengagumkan apanya. Lagipula siapa yang direstui dengan siapa? Ini bukan lamaran pernikahan, dan kau juga bukan ibuku."

"Eyy," Ten menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah Yuta. "Aku sudah mendeklarasikan diri sebagai ibumu mulai saat ini. Selain itu, kau tidak lihat bagaimana seriusnya Winwin padamu? Dia mungkin tidak menyatakan perasaannya, tapi aku yakin kau tidak sepolos itu untuk menyadari maksud dari perlakuan Winwin padamu selama ini."

Yuta menghela napas, memilih untuk tidak menjawab. Ia merebahkan punggungnya ke atas kasur.

Saat ini, Yuta dan Ten tengah berada di kamar asrama mereka, duduk berhadapan di atas kasur sebelum Yuta memutuskan untuk merebah. Pakaian dan pernak-pernik masih berserakan di sekitar mereka, namun mereka tidak peduli. Lagipula, Kun dan Jaehyun yang cinta kebersihan juga belum datang. Johnny sih tidak usah ditanya, kalau dia sudah datang dijamin ruangan akan menjadi jauh lebih berantakan daripada sebelumnya.

"Lalu, hubunganmu dengan Taeyong bagaimana?" Ten kembali bertanya. Ia sudah menopang dagunya dengan kedua tangan yang ditumpukan di atas bantal.

"Kalau hubungan yang kau maksud adalah hubungan antara penyihir dan musuh bebuyutannya, maka kami baik."

"Ish, kau ini!" Giliran Ten yang melempar bantal ke arah Yuta. "Jelas-jelas kalian juga punya hubungan yang mencurigakan."

Yuta menghela napas. "Hubungan mencurigakan apanya… Sudahlah, jangan bahas Taeyong. Aku malas."

"Haaaah, kau ini tidak asyik."

"Biar saja."

Kemudian hening. Baik Yuta maupun Ten sudah kehabisan topik untuk dibicarakan, pun mereka juga mengantuk. Dengan diiringi oleh hembusan angin ringan yang masuk melalui jendela, kedua lelaki itu akhirnya tertidur pulas. Bahkan sampai tidak menyadari ribut-ribut yang ditimbulkan oleh Jaehyun, Johnny dan Kun, yang baru tiba beberapa saat kemudian.

.

.

.

"Pesta jamuan?"

Lucas yang tengah menikmati sup dagingnya mengangguk semangat. Ia buru-buru menelan makanan yang dikunyahnya sebelum berbicara, "sebulan lagi! Kau dapat membawa pasangan dan berdansa romantis di sana woohoo!"

Taeyong dan Namjoon hanya menatap Lucas datar. Pemuda kelebihan kalsium itu memang selalu berlebihan kalau menyangkut hal-hal berbau romantis. Topi Seleksi itu pasti melakukan kekeliruan saat menyeleksi Lucas. Ia seharusnya ditempatkan di Hufflepuff, bukan Slytherin.

"Tapi aku tertarik untuk pergi." Namjoon menyahut ringan. "Mungkin saja aku akan dapat berkenalan dengan beberapa murid yang memiliki kemampuan menarik."

Lucas bertepuk tangan heboh, lantas mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi—mengajak Namjoon untuk high five—yang tentu saja, diabaikan oleh pemuda jenius itu. Ia kemudian tersenyum masam dan menepukkan tangannya ke udara.

Sementara itu, Taeyong hanya menatap Namjoon remeh. "Memangnya dengan siapa kau akan ke sana?"

"Aku tidak anti-romantisme sepertimu, kawan." Namjoon tersenyum miring. "Pasangan? Sudah kumiliki sejak dulu. Kim Seokjin dari Ravenclaw."

Taeyong tertegun dengan sebelah alis terangkat, sementara Lucas mendecak kesal. "Woaah sial, kau mendahuluiku punya pasangan, bung!"

Taeyong tersenyum miring. "Pantas, sesama jenius. Aku tidak akan heran kalau misalnya kelak anak kalian adalah ensiklopedia."

"Daripada menerawang masa depanku, lebih baik segera cari pasangan dan datanglah ke pesta itu. Kau butuh hiburan, orang tua."

"Terima kasih atas perhatiannya."

"Bukan masalah."

Ya, beginilah keseharian trio populer Slytherin, yang terdiri dari Lee Taeyong, Kim Namjoon, dan Lucas Wong. Namjoon dan Taeyong akan saling melempar ucapan pedas berbumbu sarkasme, sementara Lucas berperan sebagai pemandu sorak. Satu waktu memanas-manasi Taeyong, dan di waktu lain akan membantu Taeyong memojokkan Namjoon.

Piring dan mangkuk Namjoon telah kosong. Ia meraih segelas air, meminum isinya hingga tandas sebelum kembali berbicara. "Tapi seriously, Lee Taeyong. Aku tahu ini menggelikan buatmu, tapi datanglah ke sana. Bukan untuk berdansa dengan pasangan atau semacamnya, tapi di sana kau mungkin akan mendapat banyak ilmu baru. Akan ada pertunjukan sihir dari tiap sekolah, kau yakin tidak mau melihatnya?"

Taeyong terdiam sejenak, memikirkan perkataan Namjoon. Benar juga, lupakan soal pesta dansa konyol itu, ia lebih tertarik untuk menonton pertunjukan sihir dari sekolah lain. Pasti akan sangat mengesankan, hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Taeyong antusias. Tentu saja dia ingin datang.

"Tapi… Apa benar-benar harus membawa pasangan?" tanya Taeyong dengan kening berkerut.

"Setahuku sih iya," Namjoon menyahut cepat. "Dan kau seharusnya tidak perlu khawatir soal itu, aku jamin seluruh murid di sekolah ini—kecuali Seokjin—lebih dari sekedar bersedia untuk menjadi pasanganmu di pesta itu. Tinggal tunjuk saja yang menurutmu tidak akan merepotkan."

Lucas mengernyit sambil mengibaskan tangannya. "Ey, itu tidak asyik. Poin utama dari pesta itu 'kan untuk bersenang-senang dengan pasangan masing-masing."

Namjoon terkekeh, menunjuk Taeyong yang duduk di hadapannya dengan sendok. "Memangnya si orang tua ini bisa bersenang-senang?"

"Berisik." Taeyong mendelik Namjoon tajam, kemudian mendengus. "Konyol sekali, harus membawa pasangan sebagai syarat untuk datang ke pesta itu."

"Kupikir tidak ada salahnya," ucap Namjoon enteng. Ia lantas mengedarkan pandangan, dan tersenyum miring setelah menemukan sosok yang ia cari. Duduk di ujung meja asrama Gryffindor sambil berbincang dengan teman-teman sekamarnya—Nakamoto Yuta. "Atau kau ingin mengajak si Nakamoto?"

Buru-buru Taeyong menatap Namjoon dengan mata yang melebar, dan hanya dibalas oleh seringaian serta dagu yang mengendik ke arah tempat Yuta duduk. Mengikuti arah yang ditunjuk Namjoon, pandangan Taeyong menajam begitu irisnya menangkap sosok Yuta, melahap daging di piringnya dengan semangat sampai pipinya menggembung.

Taeyong mendengus geli. Satu senyum tipis muncul di bibirnya. Sekali babi tetap saja babi.

"Nah 'kan. Kau memperhatikannya."

Dengan cepat—dan agak panik—Taeyong berusaha mengubah ekspresi agar kembali datar. Ia kembali memandang Namjoon tajam. "Siapa yang memerhatikan siapa?" ketusnya.

Namjoon dan Lucas saling melirik, kemudian menghela napas. Satu hal yang mereka ketahui setelah mengenal Lee Taeyong setahun belakangan ini. Lelaki itu tsundere akut. Tidak mau mengakui hal yang sudah terlihat jelas dari gerak-geriknya.

Termasuk selalu memerhatikan Yuta diam-diam dan mengusilinya tiap ada kesempatan—walau entah dilakukannya dengan sadar atau tidak.

"Lee Taeyong, harus kuakui bahwa Nakamoto Yuta itu manis," Namjoon berujar dengan kedua tangan yang disilangkan di depan dada. "Sebenarnya menjijikan kalau aku mengatakan hal ini padamu, tapi kalau kau terlambat mengajaknya, kau akan keduluan yang lain."

Lucas mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum menyahut, "contohnya, Dong Winwin."

Lee Taeyong tertegun sejenak. Begitu tersadar, ia mendecakkan lidah seraya menyandarkan punggunya ke kursi yang ia duduki. "Ck, memangnya siapa juga yang mau mengajak si ceroboh itu?"

Baik Namjoon maupun Lucas memutar kedua matanya malas. Ya, apa yang kauharapkan dari si tsundere membosankan Lee Taeyong.

"Yah terserahlah, yang jelas aku sudah memberitahu." Namjoon bangkit dari kursi setelah menyeka mulutnya dengan serbet. "Jangan menyesal kalau nanti kau keduluan oleh si Dong."

Lucas terkekeh sebelum turut bangkit dari kursi untuk menyusul Namjoon. Ia melirik Taeyong yang masih duduk melaui sudut matanya. "Kau tidak akan ke kamar?"

Menghela napas, Taeyong kemudian berdiri dari kursi, mengikuti Lucas dan Namjoon yang sudah melangkah pergi lebih dulu. Mata elangnya sekali lagi terarah pada Yuta, mengamati lelaki itu sejenak sebelum benar-benar pergi meninggalkan hall.

Ia sama sekali tidak tertarik soal membawa pasangan untuk datang ke pesta jamuan itu, tapi entah kenapa, pemikiran bahwa Dong Winwin akan mengajak Yuta membuat hatinya terusik… dan sedikit panas.

.

.

.

Melangkahkan kakinya menyusuri koridor lantai dua kastil Hogwarts, Yuta terlihat begitu fokus membaca selebaran yang dipegangnya. Manik lelaki itu berbinar senang, sesekali mulutnya terbuka untuk menggumam takjub. Ia bahkan tidak menyadari seseorang berjalan dari arah berlawanan dengannya, yang berhenti melangkah begitu melihat sosoknya dan terdiam. Orang itu berdiri dengan senyum remeh, menunggu Yuta yang tidak awas dengan keadaan sekitar menubruk tubuhnya.

Dan tak lama kemudian hal itu pun terjadi.

"Aduh!"

Senyum remeh orang itu berubah menjadi seringai, menatap Yuta yang sekarang meringis sambil mengusap-usap kepala bersurai coklat yang barusan menghantam dadanya.

"Lee Taeyong?!" pekik Yuta kaget.

"Heh, berjalan tanpa memerhatikan sekitar lagi eh, Nakamoto?"

Yuta mengumpat dalam hati. Sudah sepuluh hari ini ia merasakan tentram karena berhasil menghindar dari manusia bernama Lee Taeyong. Kenapa sekarang ia malah bertemu dengan si licik ini? Dengan senyum meremehkan khasnya, pula.

"Bukan urusanmu," ucap Yuta ketus. Ia bergeser ke samping, hendak berjalan melewati Taeyong, namun pemuda Lee itu malah ikut bergeser, menghalangi langkah Yuta. Ia mengerutkan kening. "Minggir, kau menghalangi jalanku."

Taeyong hanya menatap Yuta tajam, tangannya meraih selebaran yang dipegang Yuta dan menariknya kuat, membuat selebaran itu kini berpindah tangan padanya. Yuta terkesiap kaget. Tangannya berusaha meraih kembali selebaran itu. "Hei, kembalikan!"

Taeyong tidak memedulikan usaha Yuta untuk mengambil kembali selebaran miliknya. Satu tangan ia gunakan untuk menahan tubuh Yuta agar tidak dapat menggapainya, sementara netranya memindai sekilas isi selebaran yang ia rebut dari Yuta, kemudian mendengus geli. "Apa ini? Kau berniat pergi ke pesta jamuan itu, heh?"

Merasa Taeyong sedikit lengah, Yuta buru-buru merebut selebaran yang dibacanya tadi dari tangan Taeyong. Ia mendelik tajam pemuda Lee itu. "Bukan urusanmu."

"Whoaa, galaknya." Taeyong memeluk dirinya sendiri, berpura-pura merinding takut mendengar nada ketus Yuta. Tapi seolah baru menyadari sesuatu, ekspresi wajahnya mendadak mengeras. Alisnya menukik tajam. "Dengan siapa kau akan pergi?"

Yuta yang tengah memasukkan selebaran itu ke dalam jubahnya menghela napas. "Sudah kubilang bukan urusanmu."

Taeyong masih terdiam ketika Yuta berjalan melewatinya. Namun tiba-tiba, tangannya terulur untuk menahan pergelangan tangan Yuta, menggenggamnya erat. Yuta melebarkan matanya dan serta merta berbalik, menatap Taeyong yang masih memunggunginya dengan wajah terkejut.

"T-Taeyong, sakit… Lepaskan" lirihnya pelan.

Seakan tidak mendengar rintihan Yuta, Taeyong malah mempererat genggamannya. "Jangan pergi dengan Dong Winwin," ucapnya tegas.

Yuta mengernyitkan kening. Ada apa sebenarnya dengan Lee Taeyong ini? "Memangnya kau siapa mengaturku seenaknya? Sekarang lepas!" Ia menarik tangannya kuat, berharap cengkeraman Taeyong dapat lepas darinya.

Merasa tertohok dengan ucapan Yuta, genggaman Taeyong perlahan melonggar. Hal ini segera dimanfaatkan Yuta untuk menarik kembali tangannya, menatap Taeyong bingung sekaligus kesal.

"Kau ini aneh, Lee Taeyong."

Setelah mengucapkan itu, Yuta kembali melangkah meninggalkan Taeyong. Sementara Lee Taeyong sendiri sudah mengepalkan kedua tangannya erat, merasa hatinya panas dan emosinya memuncak yang ia sendiri tidak tahu karena apa.

"Jangan menyesal kalau nanti kau keduluan oleh si Dong."

Taeyong menoleh, menatap koridor yang sudah kosong. Benaknya kembali teringat akan ucapan Namjoon tempo hari. Kepalan tangannya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

Apa iya dia sudah keduluan oleh Dong Winwin?

.

.

.

"Pembacaan kartu ini merupakan hal yang perlu dilakukan dengan penuh ketelitian."

Seluruh murid Gryffindor tingkat dua sedang mengikuti mata pelajaran ramalan saat ini. Profesor Kim Heechul yang menjadi pengajarnya tengah menjelaskan Cartomancy—cara meramal menggunakan kartu tarot atau kartu remi. Ia sedikit dongkol sebenarnya. Sementara ia susah-susah menjelaskan, kebanyakan murid malah tertidur tanpa tahu malu. Adapun yang tidak tidur malah memusatkan perhatian mereka pada hal lain—seperti mencoret-coret kertas, mengupil, atau berbincang dengan teman sebelahnya menggunakan suara pelan.

Hah, anak-anak zaman sekarang memang tidak ada sopan-sopannya.

Mendadak, perhatian Heechul teralih pada Yuta yang duduk tepat di hadapannya dengan mata berbinar. Heechul nyaris menangis terharu, rupanya masih ada murid yang mau mendengarkannya dengan perhatian penuh. Ia tersenyum, mendekati bangku Yuta yang pandangannya masih mengikuti gerak-geriknya.

"Baiklah, mungkin agar kalian lebih menghargai keberadaanku di sini," ucap Heechul dengan sedikit penekanan pada kata 'menghargai'. "Aku akan mencontohkan ramalan dengan menggunakan kartu remi."

Sekarang, perhatian seluruh murid sudah sepenuhnya terfokus pada Profesor Kim, bahkan yang sebelumnya tertidur sekalipun. Yuta hanya mengerjap bingung ketika Profesor Kim berdiri di depan bangkunya dan tersenyum padanya.

"Anak muda, apa aku boleh meramalmu?"

"A-ah, tentu, Profesor Kim!" Yuta mengangguk semangat.

Profesor Kim menarik satu kursi kemudian duduk di hadapan Yuta. Dari saku jubahnya, beliau mengeluarkan sekotak kartu remi. Menjajarkan beberapa dalam posisi terbalik di atas meja Yuta.

"Nah, dari semua kartu ini, pilihlah satu secara acak," instruksi Profesor Kim.

Yuta terdiam menatap jajaran kartu di atas mejanya. Tangan lelaki itu kemudian terangkat, menunjuk kartu yang terletak di tengah.

Profesor Kim tersenyum, meraih kartu yang dipilih Yuta. "Baiklah, mari kita lihat apa yang kaupilih."

Begitu melihat isi kartu yang dipilih Yuta, Profesor Kim mengangkat sebelah alisnya tertarik. Ia menurunkan kartu itu dari wajahnya, mendapati Yuta—dan murid-murid yang lain—sudah menatapnya penasaran.

Profesor Kim berdeham. "Kau memilih kartu dengan simbol dua sekop." Ia membalikkan kartu yang dipegangnya. "Ini berarti, dalam waktu dekat kau akan mengalami konflik dengan seseorang, anak muda."

Terdengar suara bisik-bisik penasaran memenuhi kelas ramalan itu, sementara Yuta terdiam dengan kening berkerut. Konflik, eh? Dengan siapa?

Profesor Kim tersenyum mendengar kelasnya perlahan mulai hidup. "Baiklah, sekali lagi. Pilih satu lagi dari kartu yang tersisa."

Yuta hanya menurut dan menunjuk kartu di ujung kiri, mendorongnya sedikit ke arah Profesor Kim. Begitu Profesor Kim meraih kartu itu dan membaliknya, seketika ekspresinya berubah. Matanya melebar penuh kecemasan menatap Yuta.

"Tujuh sekop… Maaf aku mengatakan ini padamu, anak muda. Tapi dalam waktu dekat, kau akan mengalami kejadian yang sangat buruk dan mengancam nyawamu. Sebaiknya kau berhati-hati."

Suasana kelas seketika menjadi hening. Yuta melebarkan matanya, tak mampu berkata-kata. Seketika rasa takut menjalarinya. Kepalanya terasa pusing sekarang.

Mengalami konflik, dan akan terlibat dalam kejadian buruk yang mengancam nyawa. Apa hidup Nakamoto Yuta tidak bisa lebih mengerikan dari ini?

.

.

.

To be Continued

.

.

Akhirnya FF ini update! *tebar konfeti*

Maaf saya ga bisa balesin review nya satu-satu disini yaa huhuu, yang jelas saya baca semuanya seneng banget dapet review dari kalian, jangan cape yaa

Btw, sekarang momen Taeyu mulai bermunculan lagi yak, apalagi di MV Touch, saya seneng :')