Author's Note : Selamat Membaca ^o^. Jangan lupa review yaaaa :D
DISCLAIMER : FUJIMAKI TADATOSHI
WARNING : 1] Awas Bosen karena kepanjangan menuju menu utama nya fufu.. [2] Humor LEBIH garing, maksa, absurd dari fanfic sebelumnya
[3] Mungkin agak OOC [4] Typo [5] Romance ga terlalu dapet [6] Sho-ai / BL (?) [7] Alur lambat [8] Dan lain-lain (?)
Rate : T
By : Neutral Kingdom
Sesampainya di kantor, Kuroko kembali dipusingkan dengan tingkah Akashi yang mendadak seperti anak ABG. Bagaimana tidak? Setiap orang yang ia temui sejak dari parkiran akan memberikannya setangkai bunga mawar putih yang sudah dibersihkan terlebih dahulu dari duri. Oke jika hanya memberikan bunga saja, Kuroko berusaha untuk mentolerir deh, lah ini, udah ngasih bunga mawar putih tiba-tiba, Kuroko juga dikasih pesan singkat untuk tidak lupa menerima Akashi. Seperti saat ini ketika ia ingin membuat vanilla milkshake di pantry.
"Kuroko-san, maafkan aku, tapi bunga ini untukmu. Maafkan aku tapi tolong terima bunga ini. Maafkan aku, aku bukan memaksamu untuk menerima bunga ini. Maafkan aku juga yang mengingatkanmu untuk menerima lamaran Akashi-sama. Sungguh maafkan aku Kuroko -san, aku bukan memerintahmu. Tolong maafkan aku." Ucap salah seorang staff yang ia ketahui bernama Ryo Sakurai yang secara terus menerus mengucapkan kata maaf dan berkali-kali membungkukkan tubuhnya hingga membuat Kuroko tambah pusing.
"Terima kasih Sakurai-san atas bunganya." Ucap Kuroko sambil meninggalkan area pantry sebelum telinganya menerima jawaban berupa permohonan maaf. Saat akan memasuki ruangannya, sebuah suara dengan nada melambai-lambai masuk ke indra pendengarannya. Aahh.. rasanya Kuroko ingin membenturkan kepalanya saja.
"Tet-chaaannnnn~ Yuhuuuuu…~~"Mibuchi Reo – pemilik suara mendayu-dayu itu datang sambil berlari dramatis dengan sebuah bunga yang kini berada di mulutnya dan kedua tangan yang merentang untuk memeluk Kuroko. Otomatis Kuroko memperlihatkan gelas yang ia bawa untuk mengingatkan Mibuchi bahwa ia membawa minuman.
"Tet-chan tidak seru!" Ambeknya yang gagal memeluk Kuroko. Sedangkan Kuroko hanya menggelengkan kepalanya dan membuka pintu ruangannya untuk masuk ke dalam untuk mengabaikan tingkah sekretaris kekasihnya yang absurd. Tersadar diabaikan oleh makhluk imut nan mungil kesayangan bosnya, Reo ikut masuk ke dalam ruangan Kuroko.
"Tet-chan, ini bunga untukmu." Kuroko kembali mengabaikan Mibuchi dan lebih memilih untuk bermesraan dengan vanilla kesayangannya. "Moouu.. Tet-chan jahat sekaliiiii!" Kuroko menarik napasnya panjang kemudian menatap Mibuchi.
"Aku tidak mau bunga yang sudah digigit Mibuchi-san. Sebaiknya Mibuchi-san keluar dari ruanganku. Aku sudah cukup memiliki Kise-kun yang berisik. Tolong jangan menambah bebanku Mibuchi-san." Ucapan datar Kuroko yang strike to kokoro, membuat hati Mibuchi langsung pecah dan keluar dari ruangan Kuroko dengan gontai dan dramatis. Sedangkan Kuroko kembali hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memfokuskan diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
30 menit kemudian, ketenangan yang baru saja Kuroko rasakan kembali terusik.
Tok… Tok…
Kuroko mengalihkan matanya dari laptop untuk melihat pelaku yang mengetuk pintu ruangannya yang tadi tidak ditutup oleh Mibuchi.
"Yo Tetsu.." sapa Aomine sambil mengangkat satu tangannya – kebiasaannya sejak zaman pra-sejarah ketika menyapa Kuroko. Dengan santai ia mendudukkan dirinya di hadapan sahabat biru mudanya itu.
"Jadi?" Kuroko bertanya langsung tanpa basa-basi. Bukannya menjawab, Aomine malah menarik napasnya dan mengusap wajahnya frustrasi.
"Kau tahu bukan kalau kekasihmu itu absolut?" Kuroko hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Aomine. "Jadi, dia tadi meneleponku – ah maksudku mengancamku – tidak-tidak, dia mengancam kepolisian prefekturku. Dia mengatakan jika aku dan anak buahku tidak mau bernyanyi untuk melamarmu dengan setelan berwarna pelangi sambil menari-nari dengan sebuah keranjang bunga yang terdapat kelopak bunga mawar berwarna warna-warni, yang harus kami tabur-taburkan saat kami menari dan juga bernyayi lagu 'marry you' by Bruno Mars, dia akan meminta kepala polisian kami untuk menambah latihan kami, tugas kami, lembur kami, dan neraka untuk kami. Jadiii.. kau mengerti apa yang ingin kukatakan kan?" Kuroko kembali menganggukkan kepalanya melihat wajah Aomine yang berubah melas.
Kemudian ia menghubungi ruangan Akashi dengan telepon kantor yang berada di mejanya.
"Aku tahu Daiki ada di ruanganmu dan membongkar rencana romantisku." Romantis ndasmu! Batin Kuroko keki. "Aku akan meminta ketua prefekturnya untuk menambah pekerjaannya." Ujar Akashi mutlak.
"Aku akan pulang nanti malam. Sei-kun gausah berulah lagi ya untuk hari ini. Aku sudah cukup sakit kepala hari ini."
"Oke. Nanti kita pulang bersama." Kemudian telepon dimatikan sepihak oleh Akashi. Baru Kuroko menaruh gagang teleponnya, Akashi kembali menghubunginya.
"Ya?"
"Jangan lupa meminum obat sakit kepala yang ada di laci kananmu ketiga dari atas. Aku mencintaimu." Dan telepon kembali dimatikan. Sedangkan Kuroko hanya mengabaikan apa yang Akashi katakan.
"Haahh.. pantas saja dia memberikan ide seperti itu. Lagi-lagi kalian bertengkar ya?" Yeah, hal ini bukanlah yang pertama kalinya Akashi berulah dengan menggunakan sahabat-sahabatnya untuk membuat Kuroko pulang ke apartemennya. Entah sudah berapa kali hal ini terjadi yang bahkan tidak dapat Aomine ingat. Midorima saja hampir sampai dibuat menggunakan setelan dokter berwarna pink selama sebulan ketika Kuroko tidak pulang selama dua hari. Atau Murasakibara yang mendapat larangan dari Akashi untuk memakan kue selama dua bulan karena Kuroko tidak pulang selama lima hari. Dan penderitaan lainnya yang malas Aomine jabarkan hanya untuk membuat Kuroko pulang.
"Aku berhutang padamu Tetsu. Tapi kumohon jangan kabur-kaburan lagi. Kau tahu kan betapa sakit kepalanya kami jika kau menghilang?" Kuroko hanya mengangguk. Kemudian Aomine berdiri dari kursinya dan mengacak pelan rambut Kuroko sebelum ia kembali ke kantornya untuk menyampaikan berita bahagia untuk bawahannya.
Kuroko berniat mendatangi ruangan kekasihnya setelah 30 menit ia duduk ganteng (menurut Kuroko) dan tidak mendapati tanda-tanda sang kekasih datang. Ketika Kuroko sudah sampai di ruangan si pria merah, ia melihat Akashi yang sedang tertidur tampan di kursi kebesaran miliknya. Kuroko mengernyit heran melihat Akashi yang tumben-tumbenan tertidur di kantor. Pernah sih pernah ia tidur di kantor, apalagi adanya ruangan pribadi di ruangan tersebut, ya tapi jarang aja. Dengan perlahan, ia menghampiri kekasihnya yang sedang mengerutkan keningnya ketika tertidur.
"Kau memimpikan apa Sei-kun?" Ujar Kuroko sambil memegang kening Akashi dengan jari telunjuknya untuk menguraikan kerutan kekasihnya.
"Aku memimpikan setiap penolakan yang kau lakukan Tetsuya." Akashi menjawab tanpa membukakedua matanya.
"Maka kau bisa melihat di dalam mimpimu, bahwa tanpa menikahpun, kita sudah bahagia." Balas Tetsuya yang kini mengelus kepala kekasihnya dengan wajah sendu. "Menikah tidak sesepele itu Sei-kun. Kita sudah bersama, kita juga bahagia, lalu kau mau apa lagi?" lanjutnya kini dengan wajah yang sudah kembali datar karena melihat kekasihnya yang kini membuka matanya.
"Aku mau seluruh dunia tahu bahwa kau adalah milikku."
"Mereka sudah tahu mengenai hal itu. Bukankah kau dengan arogannya membuat seluruh media memberitakan mengenai kita? Lalu apa lagi?"
"Itu untuk ego ku Tetsuya. Dengan pernikahan, maka kau tidak bisa meninggalkanku."
"Apa aku pernah mengatakan bahwa aku akan meninggalkanmu?"
"Aku butuh kepastian Tetsuya."
"Apa yang tidak kuberikan untukmu Sei-kun?"
"Sebuah ikatan." Akashi berujar dengan menatap langsung bola mata biru kekasihnya. Kuroko kemudian menundukkan kepalanya untuk mencium pucuk kepala kekasihnya.
"Maafkan aku. Tapi kau bisa meminta hal lain kecuali itu." Lirihnya yang masih dapat didengar Akashi.
TBC
