Author's Note : Selamat Membaca ^o^. Jangan lupa review yaaaa :D
DISCLAIMER : FUJIMAKI TADATOSHI
WARNING : 1] Awas Bosen karena kepanjangan menuju menu utama nya fufu.. [2] Humor LEBIH garing, maksa, absurd dari fanfic sebelumnya
[3] Mungkin agak OOC [4] Typo [5] Romance ga terlalu dapet [6] Sho-ai / BL (?) [7] Alur lambat [8] Dan lain-lain (?)
Rate : T
By : Neutral Kingdom
Di hari Minggu yang cerah nan damai, seorang pria dengan mahkota kepala berwarna merah mendudukkan dirinya disebuah kursi empuk nan nyaman dengan berpangku tangan. Di hadapannya terdapat empat sahabat yang bahkan ia lupa kapan mulai mengenalnya telah duduk walau ia tahu malas berhadapan dengannya namun tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya.
"Jadi, apa di antara kalian ada yang memiliki ide agar Tetsuya mau menerima lamaranku?" Sang raja mulai membuka suaranya.
Hening. . .
Bagaimana tidak hening, ini adalah pertemuan yang entah ke berapa kalinya diadakan untuk membahas masalah yang SAMA, dengan orang yang SAMA dan jawaban yang SAMA.
Jawaban yang sama di sini bukan berarti tidak ada ide, namun jawaban si pecinta vanilla tersebut lah yang membuatnya sama, yaitu TIDAK.
Ke-empat sahabatnya telah menyumbangkan ide-ide dari mulai yang normal hingga yang absurd sekalipun, namun ya tetap saja, jawaban Kuroko SELALU TIDAK. Tidak tahukah dia bahwa nyawa mereka sangat bergantung terhadap jawaban yang Kuroko berikan? Bahkan pasangan merekapun sampai ada yang memberikan ide konyol yang ditentang Akashi habis-habisan karena akan melanggar prinsip Kuroko. Daripada kehilangan kekasih mungilnya, lebih baik ia yang mengalah. Serius deh, Akashi bisa kehilangan apapun yang ia miliki, tetapi tidak untuk kehilangan Kuroko Tetsuya.
Ibaratnya, Kuroko adalah segala hal yang Akashi butuhkan dan alasan mengapa ia dilahirkan. Jika Kuroko menginginkan dunia berada di bawah kakinya, maka Akashi tidak akan segan untuk melakukan segala hal untuk mewujudkan keinginan kekasihnya. Tetapi Akashi tidak bisa menerima keinginan Kuroko untuk tidak menikah.
Ia tahu, ia bahagia, karena ia merasakannya.
Ia tahu, ia merasa cukup, karena hal itulah yang selalu ia rasakan.
Apa yang konyol dari sebuah pernikahan?
Bagian mananya yang konyol?
Akashi tidak pernah menyepelekan segala hal yang berhubungan dengan Kuroko. Bahkan jika Kuroko tergores saja dia sudah mengomel panjang kali lebar kali tinggi pada kekasih mungilnya agar berhati-hati. Apalagi masalah pernikahan. Mana berani ia menyepelekan masalah tersebut. Kuroko tidak tahu saja bahwa sejak Akashi melihatnya, satu hal yang ia lihat pada saat itu adalah Kuroko yang sedang berjalan ke arahnya menuju pendeta dengan setelan jas berwarna putih.
Jadi sudah jelas bukan, bahwa intensi yang Akashi miliki sejak melihat Kuroko adalah untuk merubah nama marga lelaki mungil itu untuk menjadi Akashi juga – sama sepertinya.
"Jadi?" Sang raja kembali mengulang pertanyaannya. Midorima bergerak menaikkan kacamatanya dan membenarkan cardigan putih yang ia gunakan sebelum mengalihkan perhatiannya dari lucky item yang ia miliki kepada raja iblis di hadapannya.
"Kurasa kau harus bertanya mengenai alasan Kuroko selalu meno- ehem maksudku belum menerimamu." Midorima mengoreksi ucapannya ketika ia melihat Akashi memutar-mutar gunting keramatnya.
"Kau kira, aku belum pernah menanyakannya Shintarou?"
"Jangan ke Kuroko lagi-nanodayo. Coba ke sahabat atau orang tuanya."
"Aku sudah pernah bertanya pada Shigehiro, tapi ia bungkam. Bahkan ketika aku mengancamnya, ia lebih memilih untuk menerima ancamanku daripada menjawabnya." Akashi berujar kesal. Ia masih mengingat berbagai cara yang ia lakukan agar sahabat yang sudah kekasihnya anggap sebagai saudara itu untuk memberitahu alasan kebebalan Kuroko, tapi ya itu, Ogiwara sama bebalnya dengan Kuroko. Mungkin karrna itu mereka bisa bersahabat. Sama-sama bebal!
Aomine menggelengkan kepalanya. Masih terlalu segar diingatannya mengenai kelakuan terakhir mereka yang membuat Kuroko marah pada mereka berlima. Ya, si raja iblis yang kesal karena Ogiwara yang begitu kekeh merahasiakan alasan Kuroko dengan gilanya mengajak ia dan yang lainnya untuk menculik Ogiwara.
Terdengar gila memang. Tapi entah bagaimana caranya Kuroko dapat menemukan tempat Ogiwara disekap ditambah dengan posisi Akashi yang sedang mengancam Ogiwara untuk menjawab pertanyaannya dengan sebuah gunting merah yang ia gerak-gerakkan.
Ekspresi Kuroko? Jika kalian menjawab bahwa ekspresinya datar, kalian salah besar! Karena untuk pertama kalinya mereka melihat ekspresi Kuroko yang marah ketika memandang mereka, juga pandangan kecewa dan terluka yang tercampur di dalamnya. Bahkan Kuroko menampar Akashi pada saat itu. Hingga DUA KALI! Memang hanya Kuroko saja yang memiliki hak istimewa untuk menyakiti si raja iblis tanpa akan ada rasa sakit kembali. Coba jika orang lain? Baru niat saja, pasti sudah orang itu yang akan terluka nantinya.
"Berarti pilihan kita hanya bertanya pada orang tuanya, begitu?" Aomine berujar serius.
"Tapi Kuroko-cchi paling tidak suka jika kita menyangkut pautkan orang tuanya-ssu."
"Maksudmu?"
Melihat kebingungan yang ada pada wajah kekasihnya, Kise kembali mengingatkan mereka pada lamaran yang dilakukan Akashi tahun lalu,"Ingat lamaran tahun lalu yang Kuroko tolak – crash (sebuah gunting menancap di permadani sebelah kanan kakinya) – maksudku masih dipertimbangkan lamaran Akashi-cchi-ssu." Kise buru-buru mengoreksi ucapannya.
"Ya, lalu?" Tanya Aomine cool sambil mengambil gunting yang berada di sisi kaki kekasihnya dan melempar lebih jauh gunting tersebut dengan mengabaikan seringai Akashi di depannya. Aomine memang tidak berani menentang Akashi, tapi berbeda lagi jika yang dibahayakan adalah kekasihnya. Maaf-maaf saja, Akashi pun akan ia lawan jika sampai Kise lecet karena si raja iblis.
"Saat itu Kuroko-cchi sampai mendiami kita hingga sebulan lebih dan lebih parahnya lagi sempat keluar dari jangkauan Akashi-cchi. Dan setelah kupikirkan kembali, kemungkinan sikap Kuroko-cchi menjadi seperti itu dikarenakan orang tuanya juga ikut andil untuk melakukan persuasi pada Kuroko-cchi untuk menerima lamaran Akashi-cchi-ssu. Dari sana aku menyimpulkan dua hal, ya walau belum pasti juga sih."
"Dua hal?" tanya Akashi sambil menaikan salah satu alis matanya.
"Ya-ssu. Pertama adalah, bahwa ia tidak suka kalau kita melewati batasan yang ia miliki. Dalam hal ini adalah orang tuanya. Dan yang kedua adalah, kemungkinan alasan mengapa Kuroko-cchi belum menerima lamaran Akashi-cchi adalah karena berhubungan dengan orang tuanya."
"Itu tidak logis sekali-nanodayo. Memangnya apa yang membuatmu berpikir bahwa keengganan Kuroko selama ini berhubungan dengan orang tuanya? Bahkan kita sering bertemu dan berkumpul dengan orang tua Kuroko-nanodayo." Sanggah Midorima sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Tapi kurasa Kise-chin ada benarnya –munch-, soalnya aku sempat mendengar mereka berargumen pada saat Kuroko marah karena Aka-chin mengundang orang tuanya saat lamaran tahun lalu itu –munch-."
"Bertengkar?" Tanya Akashi. Jujur saja ia tidak memerhatikan hal tersebut, saat itu ia begitu sedih ketika lagi-lagi Kuroko menolak niatan sucinya padahal ia sampai mengundang kedua orang tua Kuroko sebagai pendukungnya, sehingga membuat ia memilih untuk mengurung dirinya di kamar pada saat itu.
"Iya.. pada saat itu . . ."
FLASHBACK ON
"Kenapa kau terus-terusan menolak lamaran Sei-kun, Suya?"
"Lalu Ibu mau aku bagaimana? Menerimanya? Kemudian menikah? Konyol." Kuroko menjawab dengan menatap datar wajah ibunya.
"Menikah tidak seburuk itu Suya. Kau tidak bisa hanya melihat kami. Tapi lihat pasangan lainnya yang baik-baik saja dalam pernikahan mereka."
"Kalian yang selama ini tinggal denganku, mana bisa aku menjadikan orang lain sebagai tolak ukur. Tentu saja hanya kalian yang selalu jadi panutanku. Ayah tentu tahu alasan ketakutanku bukan?" Kuroko mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Kami tahu kami salah Suya, tapi kami mohon jangan menghancurkan dirimu sendiri. Kau Putra kami satu-satunya. Tujuan kami hanya ingin membuatmu bahagia." Ibu Kuroko mulai meneteskan air matanya.
"Dan aku bahagia saat ini Bu." Ujarnya kemudian memeluk sang ibu yang menangis lebih kencang.
FLASHBACK OFF
"Begitu –munch- "
Untuk beberapa saat hanya keheningan kembali yang terasa di ruangan tersebut. Akashi termenung. Kenapa juga ia tidak terpikirkan faktor lain yang menyebabkan segala bentuk lamaran yang ia ajukan pada kekasihnya itu selalu ditepis berasal dari orang tua kekasihnya itu? Tapi haruskah ia bertanya langsung pada kedua orang tua Kuroko? Jika iya, bagaimana ia harus bertanya tanpa menyinggung keduanya? Terlebih menyinggung perasaan kekasihnya?
TBC
