Guanlin mulai bangun dari tidurnya. Matanya terlihat sedikit membengkak, mengingat hampir semalaman ia menangis hingga terlelap.
Guanlin mulai duduk mencoba untuk mengumpulkan energinya. Dan beranjak dari kasur king sizenya menuju kamar mandi.
Guanlin berdiri sedikit lama didepan cermin. Memperhatikan gambaran dirinya yang terpantul dari cermin di depannya.
Wajahnya sangat kusut, matanya sedikit membengkak dan dapat terlihat jejak air mata yang mengalir dipipi tirusnya semalam.
Kini matanya beralih ke bibirnya, sehingga mengingatkan ciuman paksa dari kakak tirinya.
Guanlin mengusap kasar bibirbya menggunakan punggung tangannya.
Dalam hati, ia merutuki dirinya yang terlalu lemah saat berhadapan dengan Dongho.
.
.
.
Di ruang makan, Guanlin memakan makananya dengan keadaan diam. Tanpa memperdulikan kehadiran Dongho yang datang dan duduk dihadapannya.
Seketika selera makan Guanlin hilang, sehingga ia beranjak dari tempatnya.
"Guanlin, berangkatlah bersama ku." Dongho bersuara saat melihat Guanlin yang berdiri dari tempatnya.
"Tidak perlu, aku akan berangkat menggunakan bus saja." Tanpa mendengar persetujuan Dongho, Guanlin meninggalkan ruangan tersebut.
Dongho hanya bisa menghel nafas menatap kepergian Guanlin.
Tampak sekali Guanlin terlihat masih marah dengan dirinya.
Jujur Dongho merasa bersalah atas perlakuan kasarnya terhadap Guanlin.
Semalam Dongho tidak bisa mengontrol amarahnya yang mudah sekali meluap. Ditambah kemarin di tempat kerjanya ia sungguh kesal dengan salah satu bawahannya. Dan melihat kelakuan Guanlin yang kurang ajar sepeluangnya dia dari kantor, membuatnya makin naik darah. Sehingga tanpa ia sadar Dongho melampiaskan amarahnya terhadap Guanlin.
Dongho berharap mereka bisa berhubungan baik.
.
.
.
.
.
Guanlin dengan buru-buru turun dari bus dan mulai berlari menuju kelas.
Bukan kelas yang ia tempatilah tujuannya. Melainkan kelas temannya, Kang Daniel.
Sesampainya dikelas tersebut Guanlin dapat melihat Daniel yang asik mengobrol dengan teman sekelasnya.
"Daniel hyung!" Seru Guanlin dari depan pintu kelas 12-2.
Daniel menoleh kearah Guanlin dan menghampiri dirinya setelah berpamitan kepada teman-temannya.
Daniel tersenyum.
Guanlin paham, Daniel pasti marah karena semalam ia tidak datang. Dan menutupinya dengan senyum.
Mungkin sekilas memang terlihat seperti senyuman biasa, tapi Guanlin sangat tau dengan sikap Daniel. Sehingga membuatnya berdoa dalam hati semoga Daniel tidak marah kepadanya.
"Ikuti aku." Suruh Daniel dengan senyum yang masih mengembang dibibirnya.
Guanlin sudah dapat menebak kemana tujuan mereka.
Dan sepanjang jalan Guanlin tidak sedikit pun membuka suara, karena ia takut dengan keterdiaman Daniel yang berada di depannya.
.
.
.
Di atap sekolah lah mereka berada.
Guanlin terkejut dengan suara hempasan pintu dibelakangnya.
Siapa lagi pelakunya jika bukan Daniel.
Guanlin mundur beberapa langkah saat Daniel mendekatinya.
Jantung Guanlin berdegup dua kali lipat dari biasanya. Ia sangat takut menatap lama Daniel.
Tanpa aba-aba, Daniel menerjang Guanlin sehingga punggungnya menubruk dinding dibelakangnya. Dan mengecup bibirnya dengan kasar.
Bibir atasnya dilumat Daniel membuat Guanlin tidak berdaya.
"H-hyung... Mph..."
Guanlin mencoba untuk mendorong dada laki-laki didepannya. Namun Daniel tidak sedikit pun bergerak menjauh. Bahkan Daniel semakin memperdalam ciuman mereka.
Guanlin mulai kewalahan menghadapai Daniel yang seperti ini.
"Wah... Daniel kau punya mainan baru tidak ajak-ajak."
Guanlin dapat mendengar suara seseorang disebrangnya. Namun tanpa terganggu dengan sosok tersebut, Daniel masih saja mencumbu bibirnya.
Puas dengan bibir Guanlin, ciuman Daniel mulai turun ke leher jenjang Guanlin.
"H-hyung, a-ani... Ah..." Guanlin mencoba menghentikan Daniel dengan membuka suara, namun yang terdengar ditelinganya hanyalah desahannya.
Dari bahu Daniel, Guanlin melihat seorang laki-laki yang tampak sangat menikmati menonton mereka yang sedang bercumbu. Dan senyuman meremehkan dapat dilihat jelas oleh Guanlin di bibir laki-laki tersebut.
"A-ani! Kita masih di sekolah hyung!" Pekik Guanlin saat Daniel mulai membuka kancing kemejanya dengan sedikit terburu-buru.
"Ah... Daniel!"
Bahunya di gigit Daniel sehingga tertera lah bercak merah.
Kaki Guanlin mulai melemah, mungkin jika tangan Daniel tidak memegang erat pinggangnya. Sudah dipastikan ia sudah merosot kelantai.
"Kau tau bukan kesalahanmu Guanlin-ah?" Bisik Daniel ditelinga kanan Guanlin.
Guanlin hanya bisa meneguk ludah kasar.
"Bagaimana kita lanjutkan ditempat lain?" Daniel menampakan smirk andalannya.
"Ta-tapi hyung... Kita..."
"Ingat kesalahanmu Guanlin-ah." Daniel menatap datar Guanlin.
Sama saja cari mati menolak kemauan Daniel. Sehingga Guanlin menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
.
.
.
Guanlin dan Daniel sekarang berada di dalam mobil mewah Daniel.
Bukankah tadi ada seseorang yang melihat mereka bercumbu tadi?
Sekarang laki-laki tersebut ikut juga dalam mobil milik Daniel.
Guanlin duduk di kursi penumpang di belakang bersama laki-laki yang dari tadi hanya tersenyum memperhatikan dirinya.
"Guanlin-ah."
"Ah ne hyung?" Sahut Guanlin.
"Kau ingat bukan dengan janjiku kemarin yang ingin memperkenalkan dirimu dengan temanku?"
"Aku ingat hyung."
"Jadi, orang itu adalah orang yang duduk di sebelahmu." Daniel menjelaskan.
Guanlin menatap laki-laki disampingnya, dan laki-laki tersebut tetap tersenyum manis.
"Ong Seong Woo. Panggil saja hyung. Karena aku seumuran dengan Daniel." Laki-laki tersebut memperkenalkan diri.
"Lai Guan Lin." Guanlin tersenyum sedikit kaku.
"Kau sangat tampan Guanlin-ah. Dan..." Seongwoo memgang dagu Guanlin dan sedikit mencondongkan badannya ke arah Guanlin.
"Manis." Bisik Seongwoo ditelinga Guanlin.
Seongwoo mengusap jarinya ke arah bibir Guanlin. Membuat bibir tersebut sedikit terbuka.
Dia ingin menepis tangan tersebut, hanya saja tatapan laki-laki dihadapannya sangat tajam. Sehingga Guanlin terdiam seribu bahasa saking takutnya.
Seongwoo mulai mengikis jarak diantara mereka. Hingga wajah mereka hanya berjarak 5 cm.
Namun sayang, momen tersebut terhenti saat Daniel merem mendadak mobilnya. Menandakan mereka telah sampai di tujuan.
"Daniel, kau berhenti di waktu yang tidak tepat." Setelah mengatakan itu, Seongwoo keluar dari mobil tersebut dengan keadaan sedikit kesal.
Daniel di kursi kemudi hanya tertawa melihat kelakuan temannya.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
.
Authors Note:
Maaf banget ini karakter mereka OOC... Mian... Terus Guanlin ku buat agak lemah juga disini. Dan jadi uke. /evil laugh/ Jarang banget kan ya si maknae bongsor Wanna One jdi uke. Bahkan ffnya bisa diitung pake jari. :v
Dan aku akan jelaskan. Sebenarnya aku ini Maknae Lovers, artinya Maknae adalah orang yang wajib untuk aku biasin. Karena maknae itu menurutku imut. Apalagi klo sdah manja sama hyundeul. Sumpah pengen ku karungin. :3
Dan aku punya motto/? yg isinya 'Maknae is bias, Bias is uke' maksa banget ya? Maklumin aja lah. :'v Jadi intinya, setiap Maknae itu pasti wajib aku jadiin uke plus harem. Jadi maafkan saya yg suka nistain maknae ini. :')
Dan HoLin couple, mungkin memang terdengar aneh. Tapi semenjak liat FMV mereka di youtube aku jadi ngeship mereka. Jujur aku gk pernah nonton PD1. Jadi aku liat kemesraan HoLin couple ya dari FMV. :v
Yah intinya yg gak suka sama uke!Guan. Plis jangan dibaca ff abal2 ini. :')
Maaf kepanjangan, sekian dan terima dedek Guan. :'v
