Kini mereka berada di kediaman Daniel. Lebih tepatnya berada di kamar laki-laki bermarga Kang tersebut.

Rumahnya besar dan mewah tak kalah dari mansion Guanlin.

Daniel pergi entah kemana dari 5 menit yang lalu, meninggalkan Guanlin yang hanya duduk manis di sofa, dan Seongwoo yang berbaring di kasur king size milik Daniel.

Setelah kejadian di mobil tadi, Guanlin jadi takut untuk menatap Seongwoo. Jangankan menatap, menoleh saja Guanlin tidak mau.

Derit pintu terdengar, menampakkan Daniel yang telah datang sembari menenteng 2 botol yang Guanlin hafal. Yaitu minuman berakohol.

Dan terlihat juga seseorang yang mengekor dibelakang Daniel yang sedang membawa nampan berisikan 3 gelas kosong.

Daniel menyuruh sosok tersebut untuk meletakkan gelas-gelas tersebut di atas meja di dekat Guanlin. Dan berlalu pergi setelah menutup rapat pintu tersebut.

"H-hyung... Bukankah ini minuman..."

Smirk terlihat jelas di wajah Daniel. "Kau masih ingat? Karena ini hukuman, aku akan menyuruhmu untuk meminumnya."

"T-tapi hyung..." Guanlin sungguh menghindari minuman ini, karena bir inilah dia pernah pingsan tak sadarkan diri.

Daniel mengangkat tangannya yang menenteng satu botol bir. "Tidak ada penolakan sayang. Kau harus bisa meminum sebotol ini."

"Ani hyung! Aku tidak mau!" Guanlin berdiri dari tempatnya dan mencoba untuk keluar dari tempat tersebut. Hanya saja pintu kamar tersebut tidak bisa dibuka.

"Sial, dikunci?" Umpat Guanlin.

"Mencari ini Guanlin-ah?" Daniel memperlihatkan kunci di genggamannya.

"Hyung, aku tidak mau! Aku harus pulang!" Guanlin masih saja mengedor pintu di depannya, walaupun sebenarnya ia tau kamar tersebut di kunci.

Daniel hanya tersenyum di tempatnya.

Seongwoo yang dari tadi memejamkan matanya, memiringkan sedikit tubuhnya untuk melihat Guanlin. Kepalanya ia sangga menggunakan tangan kanannya. Dan dengan penuh minat memperhatikan gerak -gerik Guanlin yang menurutnya sangat imut saat ia ketakutan.

"Guanlin-ah kau ingin kabur? Bukankah kau sedang dihukum hm?" Sahut Seongwoo dari tempatnya.

"A-aku..."

"Ikuti perintahku, atau kau ingin ku cumbu di depan Seongwoo." Daniel menuangkan segelas bir di dalam gelasnya dan meneguk dengan santainya.

Guanlin hanya terdiam tidak tau ingin menjawab apa.

"Ah! Atau kau ingin bercumbu dengan Seongwoo?" Daniel kembali dengan smirk andalannya.

Guanlin membulatkan matanya.

"Hyung, sungguh maafkan aku yang tidak datang kemarin. Maaf... Aku tidak-"

"GUANLIN! AKU MENYURUHMU UNTUK MEMILIH! BUKAN UNTUK MENCARI ALASAN!" Daniel berdiri dan menarik kasar tangan Guanlin.

Dan menghempaskan tubuh Guanlin di kasur king size miliknya. Tepat disamping Seongwoo.

Daniel lalu mengambil gelas miliknya, dan meminum habis isinya. Ia lalu mendekati Guanlin yang tengah menatap horor dirinya.

Tangan kirinya ia gunakan untuk mengunci tangan kanan Guanlin. Dan tangan satunya ia gunakan untuk mencekram dagu Guanlin.

Tanpa persiapan, tiba-tiba Daniel mencium bibir Guanlin yang sedikit membengkak dengan menggiggit kasar bibirnya.

Mengambil kesempatan, lidah Daniel mulai masuk ke rongga mulut Guanlin yang sedikit terbuka.

Bir yang berada di dalam mulutnya ia transfer ke dalam mulut Guanlin. Dan Guanlin dengan terpaksa meneguk bir berakohol tinggi tersebut.

Daniel kembali meminum bir tersebut dan kembali meneransfer bir tersebut kedalam mulut Guanlin.

Daniel melakukan hal tersebut berulang kali. Sehingga Guanlin hanya bisa pasrah menerimanya.

Guanlin merasa aneh dengan tubuhnya. Karena entah mengapa tubuhnya terasa sangat panas.

"Ah... Hyung.. Aku.. Enghh..." Guanlin merasa minuman tersebutlah penyebabnya. Karena seingatnya, minuman tersebut hanya membuatnya pingsan, bukan membuat badannya panas begini.

Guanlin merasa gelisah dikarenakan suhu badannya yg sedikit tinggi.

Daniel hanya memperhatikan Guanlin di bawah kukungannya.

"Cepat sekali obatnya bereaksi." Seongwoo yang berada disampingnya membuka suara sembari memperhatikan Guanlin disampingnya.

"O-obat?" Tanya Guanlin sedikit terbata.

"Kau tidak perlu tau Guanlin-ah." Daniel menatap intens dirinya sembari mengusap wajahnya yang mulai mengeluarkan keringat.

Entah mengapa, sentuhan Daniel membuatnya sedikit terasa aneh.

Guanlin memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan tersebut.

"Ah... Hyung..."

Guanlin dapat merasakan tangan Daniel yang mengusap telinganya dengan sensual.

"Hukuman dimulai Guanlin-ah."

Daniel meraup habis bibirnya tak kalah kasar dari sebelumnya. Dan dengan pasrah Guanlin menerima, bahkan menyambut lidah Daniel yang memasuki rongga mulutnya.

"Ngh.. Eum!" Tanpa sadar Guanlin mendorong kepala laki-laki diatasnya untuk makin memperdalam ciuman mereka.

Namun sayang, Daniel lebih dahulu memutuskan ciuman mereka. Meninggalkan saliva yang meleleh dari bibir Guanlin menuju lehernya.

Dengan rakus, Guanlin meraup oksigen. Matanya tampak sayu menatap Daniel.

Daniel kembali menyerang bibir Guanlin dengan ciuman yang lebih panas. Tangannya tidak tinggal diam, dengan mencoba membuka kancing seragam sekolah Guanlin dengan terburu-buru.

Setelah melepas kancing teratas Guanlin, ciuman Daniel mulai turun kedagu dilanjutkan ke leher jenjang Guanlin.

Guanlin melingkarkan kedua tangannya ke punggung bidang Daniel. Dan menikmati perlakuan Daniel.

Mereka masih asik dengan dunianya, tanpa menghiraukan satu sosok yang masih menatap mereka dengan wajah datarnya.

"Jadi... Aku disini gunanya apa Daniel?" Seongwoo mengintrupsi kegiatan Daniel yang mencumbu Guanlin.

Daniel menjeda kegiatannya dan menatap Seongwoo. Dan jangan lupakan smirk yang masih tertera diwajah tampannya.

"Kau ingin mencobanya?" Tawar Daniel.

Tanpa menjawab tawaran Daniel, Seongwoo menerjang tubuh Guanlin.

Daniel sedikit menggeser tubuhnya dan kembali melakukan aktivitasnya yang tertunda.

Seongwoo yang mencium bibir Guanlin tak kalah kasarnya dari Daniel. Dan Daniel mengecup dan menggit kecil lehernya.

"Mph... Le... Ah... Hyung!" Pekik Guanlin saat merasakan tangan seseorang yang mulai memainkan daerah privasinya yang masih terbungkus celana sekolahnya.

Bosan dengan bibir Guanlin, Seongwoo mulai menjilati telinga kirinya.

Sedangkan Daniel mulai berani mengulum salah satu puting Guanlin yang sedikit mengeras dan tangan satunya memilin puting lainnya.

Nafasnya panas dan putus-putus.

Guanlin menarik-narik rambut Daniel diatasnya untuk melampiaskan rasa nikmatnya.

Tangan Seongwoo memasuki celana Guanlin dan memainkan benda di dalamanya.

Guanlin membulatkan matanya, "Seongwoo hyung, apa yang-"

Guanlin sungguh tidak dapat berfikir dengan jernih. Dia tau ini sangat salah, namun sisi lain dirinya sangat menikmati hal tersebut.

Tangan Seongwoo dibawahnya sangat mahir memanjakan benda berharga Guanlin.

Guanlin hanya bisa menikmatinya dengan menutup kedua matanya. Sambil mendesah dengan suara parau.

Guanlin mulai merasakan puncaknya, mengetahui hal itu. Seongwoo makin mencepatkan kocokan tangannya dibawah sana.

"H-hyung... Aku.. Ahhh..."

"T-terus hyung..."

Daniel juga dengan kasar menggigit dadanya. Hingga membuat Guanlin kalang kabut menerima banyaknya kenikmatan di titik sensitifnya.

3 menit kemudian, Guanlin akhirnya mengeluarkan cairan putih yang membasahi celana dan tangan Seongwoo.

Tanpa merasa jijik Seongwoo menjilati tangannya.

Guanlin hanya menatap sayu dan tak lama-kelamaan kesadarannya pun menghilang.

"Daniel, dia pingsan? Hey, aku belum memasukinya!" Seongwoo menatap Daniel penuh tanya.

"Mungkin efek dari bir tersebut."

Daniel berdiri dan berjalan santai ke arah kamar mandi.

Seongwoo hanya menatap Guanlin yang terlelap dengan wajah datarnya. Ia lalu menghela nafas, dan merebahkan dirinya di samping Guanlin. Tak lama kemudian, akhirnya Seongwoo ikut terlelap.

.

.

.

Selesai dengan acara mandinya. Daniel keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Dan mendapati kamarnya yang sedikit berantakan.

Ia menghampiri ranjangnya dan mendekati Guanlin. Ia duduk di sampingnya dan memperhatikan dengan seksama wajah damai Guanlin.

Tangannya ia gerakan untuk menyibak poni yang menutupi kening laki-laki tersebut yang dipenuni keringat. Lalu menyusuri lekuk wajah Guanlin dan berhenti di bibir merah tersebut.

Bibir tersebut sedikit membengkak, dan terdapat noda darah yang mengering.

Daniel mengambil sebuah selimut dari lemarinya untuk menutupi tubuh Guanlin. Ia lalu membuka pintu kamaranya dan mengangkat Guanlin keluar dari kamar tersebut.

Kakinya ia langkahkan ke salah satu ruangan yang tak jauh dari kamarnya. Ia lalu meletakkan tubuh Guanlin ke kasur dengan perlahan. Takut membangunkan laki-laki tersebut.

Daniel membuka semua pakaian Guanlin.

Ia lalu menghilang ke kamar mandi dan kembali sembari menenteng selembar handuk basah.

Daniel dengan telaten mulai mengusapkan handuk tersebut ketubuh Guanlin. Dari wajah hingga ke kaki laki-laki tersebut.

Ia lalu mengambil beberapa lembar pakaian dari lemarinya. Dan memakaikan satu hoodie yang tampak kebasaran ditubuh Guanlin. Tak lupa ia juga mengganti celana bahkan celana dalam Guanlin dengan celananya.

Daniel mengarahkan pandangannya ke arah jam yang bertengger manis di dinding ruangan tersebut.

Jam mengarahkan angka 1:25 pm.

Daniel pun baru sadar jika tubuhnya ternyata tidak memakai pakaian, hanya handuk lah yang melilit di bawahnya, menutupi daerah privasinya.

Dengan berat hati, ia meninggalkan Guanlin untuk mengambil pakaiannya di kamarnya.

Setelah berpakaian lengkap, Daniel melihat kasurnya yang berantakan tengah ditiduri oleh Seongwoo.

Dengan tidak pedulinya, Daniel meninggalkan Seongwoo yang masih asik tidur di kasurnya.

Sesampainya di ruangan yang Guanlin tempati. Daniel merebahkan tubuhnya di samping Guanlin. Ia lalu memeluk tubuh Guanlin, dan menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal. Dan akhirnya, ia pun ikut terlelap mengikuti Guanlin.

.

.

.

To be Continued