Hari mulai gelap, Dongho yang pulang dari kerjanya, mendapati kediamannya bersama Guanlin terlihat sangat sepi.

Sudah dipastikan, bibi Kim dan bibi Shin sudah pulang. Karena mereka memang tidak tidur di mansion tersebut dengan alasan rumah mereka yang dekat.

Dongho sedikit cemas, saat tidak menemukan Guanlin dimanapun. Bahkan kamarnya pun terlihat gelap gulita.

Niat ingin menelpon, hanya saja ia tidak tau nomor ponsel Guanlin.

Dongho sedikit gelisah duduk di sofa ruang tamu. Kancing kemeja teratasnya terbuka dengan dasi tertenggal di sampingnya.

Ia memijat pangkal hidungnya mencoba menghilangkan rasa pusing dadakan melihat adik tirinya yang hilang entah kemana.

Beberapa detik kemudian, terdengar deru mobil yang terpakir di depan.

Dengan tergesa, Dongho membuka pintu depan dengan tak sabarnya.

Ia lalu melihat Guanlin yang turun dari mobil berwarna merah dihadapannya.

Ia tidak dapat melihat si pengemudi karena kaca mobil yang berwarna hitam.

Dongho sudah mulai siap untuk menceramahi Guanlin. Tapi melihat ekspresi Guanlin yang terlihat lesu, membuat Dongho mengurungkan niatnya.

Guanlin hanya melewati Dongho tanpa sepatah kata pun. Sehingga membuat Dongho frustasi ditempatnya, dan menghembuskan nafas kasar sambil mengacak rambutnya. Diikuti dengan menutup pintu dengan sedikit kasar dan berlalu mengekori Guanlin.

Guanlin menapaki tangga dengan kaki berat. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Guanlin. Ditambah dengan Dongho yang mengekori dirinya, membuat Guanlin jadi jengkel.

Mendadak Guanlin berhenti di akhir tangga, membuat Dongho juga menghentikan langkahnya. Ia lalu membalikan badannya dengan wajah kesal.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Guanlin dengan nada kesal.

Bukannya menjawab, Dongho malah berbalik tanya. "Kau darimana? Dan tadi, itu siapa? Bukankah seharusnya kau pulang jam 4 sore, bukannya jam 8 malam?"

"A-aku ada tugas, dan aku dari rumah temanku."

"Teman? Temanmu yang kemarin?"

Guanlin hanya menganggukan kepalanya. Dan berbalik, berjalan meninggalkan Dongho menuju kamarnya.

Untuk kedua kalinya, Dongho menghembuskan nafas kasar menghadapi tingkah Guanlin. Ia lalu berinisiatif ke ruang makan terlebih dulu.

.

.

.

20 menit Dongho duduk diam di ruang makan, menunggu kedatangan Guanlin.

Dongho jadi ikutan kesal, sehingga membuatnya melangkahkan kaki-kakinya menuju kamar Guanlin.

Dongho mengetuk pintu di depannya dan mencoba untuk menenangkan dirinya.

Tak lama si empu kamar membuka perlahan kamar tersebut. Menampilkan Guanlin yang menggunakan sweater abu-abu berkerah tinggi hingga menutupi dagunya.

"Kau belum makan bukan? Jadi, makanlah bersama ku."

"Tidak, aku tidak lapar." Guanlin membuang pandangannya, tidak mau menatap Dongho.

"Jika aku memaksa?" Dongho mulai menaikan nada bicaranya.

Tidak mau berdebat dengan Dongho, Guanlin terpaksa mengikuti kemauan laki-laki tersebut. Dengan mengekor dibelakang sambil menundukkan kepalanya.

.

.

.

Mereka makan tanpa bersuara. Hanya dentingan sendok dan piring lah yang terdengar di ruangan tersebut.

Dongho menatap Guanlin yang tampak meringis sakit sambil memegang bibirnya. Ia baru sadar jika bibir anak tersebut terlihat membengkak.

"Apa yang terjadi dengan bibirmu Guanlin?" Tanya Dongho penuh selidik.

Apa karena kejadian kemarin malam? Seingat Dongho, pagi tadi bengkaknya tidak separah itu.

Guanlin yang mendengar pertanyaan Dongho tiba-tiba tersedak.

Dongho pun terkejut, dengan segera ia menuangkan air dingin ke dalam gelas terdekat yang ia ambil. Lalu menghampiri Guanlin, dan menyerahkan gelas tersebut ke padanya.

Guanlin mengambil alih gelas tersebut, dan meneguk dengan sedikit terburu-buru.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu."

Dongho kini kembali ke kursinya. "Ku kira bibirmu sakit karena semalam." Dongho menatap Guanlin dengan wajah bersalah.

Entah kenapa hati Guanlin sedikit menghangat mendengar kekhawatiran Dongho kepada dirinya.

"T-tidak hyung. Ini bukan salah hyung." Guanlin menundukkan kepalanya. Dan tanpa ia sadari ia telah memanggil Dongho dengan sebutan 'hyung'.

Dongho hanya tersenyum mendengarnya.

"I-itu.. Ini hanya..."

"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Jadi makanlah makananmu dengan cepat. Sebelum menjadi dingin."

Guanlin hanya mengangguk patuh, dan memakan makannanya yang mulai mendingin.

.

.

.

Pagi ini seperti biasa Guanlin berangkat sekolah, namun yang membedakannya adalah Dongho lah yang mengantarkannya.

Di dalam mobil, Guanlin hanya berdiam diri tanpa ada niatan membuka obrolan.

Dongho tersenyum melihat Guanlin yang duduk disampingnya tampak sedikit gelisah sembari menundukkan kepalanya.

"Guanlin, rileks.."

"Eh? Ah... Mian hyung."

Dongho jadi gemas sendiri dengan tingkah malu-malu Guanlin.

5 menit kemudian, mereka akhirnya sampai. Guanlin membuka salt bath dan mulai membuka pintu mobil disampingnya.

Namun tiba-tiba kegiatannya terhenti saat Dongho mengusap kepalanya lembut dan berkata, "Belajarlah yang rajin Guanlin-ah." Sembari tersenyum dengan manisnya.

Guanlin tersipu dibuatnya. Dan buru-buru, kembali melakukan aktivitasnya yang tertunda tadi.

Dongho dapat sekilas melihat wajahnya yang sedikit bersemu. Sehingga menambah kadar manisnya wajah Guanlin.

Setelah melihat Guanlin yang telah memasuki gerbang sekolah, Dongho mulai menancap gas mobilnya menuju kantornya.

.

.

.

Guanlin berjalan dengan santai menuju kelasnya, namun tiba-tiba Daniel datang menghampirinya. Guanlin yakin, Daniel pun baru datang, sama seperti dirinya.

Jika biasanya Daniel yang sering sendiri saat berangkat sekolah, namun tidak dengan hari ini. Terbukti dari laki-laki bermaga Ong yang mengekor di samping Daniel. Mengikuti kemana laki-laki itu melangkah.

"Guanlin-ah," Daniel merangkul bahunya.

"Ne hyung?"

"Maaf untuk kemarin. Sepertinya aku terlalu kasar terhadapmu Guanlin-ah."

Guanlin dapat melihat Daniel yang memasang wajah sangat bersalahnya, membuatnya tak tega.

"Tidak apa-apa hyung." Guanlin mencoba menenangkan.

"Benarkah?" Daniel mencoba meyakinkan.

Guanlin hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum lebar, menampilkan giginya yang putih.

Tak lama kemudian, bel masuk sekolah berdering. Dengan terpaksa Daniel meninggalkan Guanlin. Dan tak lupa ia memberikan kecupan kecil di bibir Guanlin.

Guanlin memukul bahu Daniel, mencoba untuk menutupi kegugupannya. Dan Daniel hanya tertawa sembari mengacak rambutnya yang sudah ia tata dengan susah payahnya.

.

.

.

To be Continued