"She deserves a man who will treat her like a queen"

.

.

Stay?

BTS Fanfic

Warn!

Namjin! GS (Seokjin, Jungkook, Yoongi), AU, OOC.

~CHAPTER 2~

.

.

"Aigoo si koala ini akhirnya datang!"

Hoseok tersenyum lebar melihat Namjoon yang berjalan memasuki apartemen barunya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan memberi handshake khusus yang menjadi simbol persahabatan mereka.

Namjoon tak bisa menahan senyumnya. Entah kenapa, Hoseok yang selalu ceria ini tak pernah gagal dalam membuat moodnya membaik. Walaupun terkadang tingkahnya berlebihan dan menjengkelkan, tapi Hoseok selalu bisa menjadi hyung yang bisa mencairkan atmosfir gelapnya. Itulah sebab mengapa mereka berteman dekat, padahal Hoseok –yang juga adalah seorang polisi- berada di divisi yang berbeda dengannya. Ia berada di kriminal, dan Hoseok di lalu lintas.

"Kau lama sekali, hyung! aish!" ucap Taehyung dengan nada ketusnya.

"Sorry, Taehyung-ah… tadi… "

"Alasan apa lagi yang ingin kau katakan, hyung?" potong Taehyung dengan tatapan kesalnya. Ia sudah terlalu malas menanggapi sikap Namjoon yang selalu tak bisa diajak untuk tepat waktu.

Benar, kan? Taehyung yang marah merupakan hal yang cukup berbahaya bagi Namjoon. Kalau sudah begini, Taehyung imutnya akan berubah menjadi Taehyung menyebalkan yang selalu mengacuhkan apapun yang dikatakannya.

"Haah kalian ini"

Hoseok menggeleng pelan melihat tingkah sahabat-sahabat seprofesinya itu. Ia merangkul Namjoon dan mengajaknya duduk di sofa tengah ruangan dimana Taehyung duduk. Posisinya, Hoseok duduk di tengah dan Namjoon serta Taehyung duduk di kanan dan kirinya.

"Sudahlah.. kalian ini suka sekali ribut seperti anak kecil. Polisi macam apa kalian ini" ucap Hoseok dengan nadanya yang mengalun tenang dan terdengar seperti bapak yang menasehati anak-anaknya. Ia menepuk-nepuk punggung kedua sahabanya itu.

"Jadi kita langsung saja. Untuk makan malam ini kalian ingin makan apa?" tanya Hoseok to the point pada kedua sahabatnya itu. Laki-laki bermarga Jung itu tersenyum seraya mengambil ponsel dari saku celananya. "Aku sengaja tidak memesan makanan duluan karena aku ingin makan makanan yang kalian suka"

Mendengar Hoseok, sebuah ide aneh terbesit dalam pikiran Taehyung. Mata laki-laki itu langsung berbinar. Senyum nakalnya mengembang perlahan.

"Hyung, bagaimana kalau pesan ayam goreng di Crispy Chicken? Minta Jeon Jungkook yang mengan—"

Hoseok memukul wajah Taehyung dengan bantal kecil yang selalu berada di sofanya. Ia menatap Taehyung datar, sementara Taehyung hanya bisa menunjukkan senyum kotaknya yang khas.

"Kau selalu saja memesan makanan itu. Apa kau tidak bosan, huh?"

Namjoon kali ini angkat bicara.

"Tidak kalau itu menyangkut Jeon Jungkook"

Tehyung berujar santai.

"Yaa! apa kau ingin mengundang pacarmu itu kemari lalu mengajaknya bersenang-senang disini? Hey ini quality time kita, setidaknya biar kita bertiga saja yang menikmatinya" sahut Hoseok dengan tatapan kesalnya.

"Ah kurang asyik, hyung. Seandainya kita bertiga punya pacar dan mereka semua disini, pasti makan malamnya lebih menyenangkan. Sayangnya itu tidak mungkin karena kalian jom—"

"Diam!"

Namjoon dan Hoseok kompak menyahut. Taehyung langsung menutup mulutnya dan menatap kedua hyung tampannya itu sedikit takut.

"Aku akan memesan jajangmyeon saja" ucap Hoseok sembari mencari nomor restoran jajangmyeon di kontak handphonenya. "Oh iya, aku juga sudah meminjam microphone dan juga beberapa cd karaoke. Kita bisa karaoke sepuasnya nanti. Dan beruntungnya, hari ini tetangga-tetangga banyak yang sedang piknik, jadi…"

"Benarkah?"

Namjoon dan Taehyung menyahut bersamaan, membuahkan anggukan yakin dari Hoseok. Mereka saling bertatapan dan kemudian tawa renyah lolos dari mulut mereka.

xXXXx

Kaki Jin terasa melemas. Ia dengan sisa tenaganya, turun dari bus yang ditumpanginya dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju apartemennya. Ia benar-benar lelah setelah bekerja mondar-mandir sebagai pelayan rumah makan yang cukup laris. Bisa dibilang ia belum terbiasa dengan pekerjaan ini. Ia baru mengerjakan pekerjaan ini dua minggu yang lalu, setelah ia memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya sebagai kasir sebuah supermarket.

Jin melangkahkan kakinya menaiki tangga apartemennya. Maklum. Apartemen yang ia sewa hanyalah apartemen sederhana yang tak menggunakan elevator, jadi ia harus bersusah payah menaiki tangga yang cukup panjang untuk menuju kamar tercinta.

Jin tinggal di lantai tiga, lantai paling atas di apartemennya. Kamarnya terletak di paling ujung kanan, dan bersebelahan dengan kamar kosong yang baru saja ditempati orang. Tetangga satu lantainya ada lima kamar dan disana Jin adalah penghuni yang paling muda. Jin bekerja dari siang sampai malam, sehingga ia sendiri tak memiliki banyak waktu untuk mengikuti kegiatan bersama tetangga-tetangganya. Contohnya saja hari ini, hampir semua tetangga apartemennya piknik ke pulau Jeju, tapi dirinya sengaja tak mengikutsertakan diri.

Hell. Pekerjaannya lebih penting dari semuanya itu.

"Haaaah"

Seokjin menghela nafas lega setelah dirinya mencapai puncak. Ia berjalan malas menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti karena telinganya menangkap suara musik yang cukup keras. Matanya memincing mencari sumber suara, dan ia menemukan fakta bahwa suara musik itu berasal dari kamar tepat disamping kamarnya, satu-satunya kamar yang lampunya menyala di area lantai tiga. Ia melirik jam tangannya, dan ia melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Gila. Orang bodoh mana yang menghidupkan musik kencang-kencang seperti ini di malam hari saat yang lainnya pergi tidur?

"Ugh menjengkelkan" gumam Jin sembari membuka pintu kamarnya dengan kesal. "Kalau dia sampai menggangguku tidur, aku akan memberi mereka pelajaran"

Jin melangkah masuk kedalam apartemennya, dan langsung merebahkan diri di kasur kesayangan. Ia mencoba mengistirahatkan diri dan memejamkan sebentar matanya, namun... suara musik yang diiringi oleh suara orang yang bernyanyi sangat parau itu terlampau keras dan benar-benar mengganggunya. Ia menutupi telinganya dengan bantal tapi semua tak berarti apapun. Suara gila itu benar-benar seperti bom.

Jin menghela nafas, mencoba untuk bersabar. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya duduk di depan televisi kecilnya sembari memakan snack. Ia mencoba beraktivitas seperti biasa dan mengabaikan suara menyebalkan itu, namun semuanya sia-sia saja. Pada kenyataannya ia masih merasa tak nyaman dan hal ini benar-benar mengganggu dirinya yang sangat butuh istirahat.

"Aku benar-benar ingin menghajarnya" gerutu Jin sembari bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu depan. Ia membuka pintunya dengan kesal lalu menutupnya asal. Langkahnya menderap menuju pintu kamar di sebelah dan ia mengetuk cukup keras.

"Ah siapa nama tetangga baru itu..."

Jin mengulum bibirnya. Ia mencoba mengingat-ingat, namun ia menyerah tak lama setelahnya.

"Ah entahlah! masa bodoh dengan namanya!"

Jin mengetuk pintu itu lebih keras. Dan kali ini ia juga setengah berteriak.

"Permisi! siapapun yang didalam! permisi!"

Dan seperti berbicara dengan tembok, Jin tak mendapat jawaban. Ia mulai merasa frustasi. Tubuhnya benar-benar lelah dan ia benar-benar butuh tidur untuk memulihkan energinya sekarang.

"Permisi! permi—"

Pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok laki-laki bertubuh tegap yang mengenakan kaos putih tipis dan celana jeans panjang. Surainya sedikit berantakan dan aroma citrus maskulin menguar dari tubuhnya.

Kim Namjoon. Dia adalah polisi tampan itu.

Wajahnya yang memikat membuat Jin terdiam. Untuk sesaat, Jin benar-benar menahan nafasnya saat pandangannya bertemu tatap dengan laki-laki itu. Ia tak bisa memungkiri bahwa hatinya tanpa sadar memuji keproporsionalan tubuh laki-laki dihadapannya. Sial. Tatapan laki-laki itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu jika laki-laki itu bukan pacarnya atau seseorang berarti yang ia kenal, tapi…

Kenapa ia tiba-tiba berpikir kalau cinta pada pandangan pertama itu mungkin benar adanya?

xXTo Be ContinueXx

Selamat pagiiiii!

Namjin sudah ketemu nihhh… yeeey! kira-kira bakal gimana ya mereka nantinya…?

Oh iya, terimakasih banyaaak buat yang sudah kasih tanggapan dan supportnya buat ff ini! semua itu bikin aku semangat buat nulis chapter kedua ini loh… hehehe

Pokoknya terimakasih banyak dan semoga pada nggak bosen mengikuti perjalanan cerita ini :")

Mind to review? hehe