.

.

Stay?

BTS Fanfic

Warn!

Namjin! GS (Seokjin, Jungkook, Yoongi), AU, OOC.

~CHAPTER 3~

.

.

Laki-laki itu menggeliat. Matanya perlahan terbuka, dan tubuhnya seolah tersadar setelah cukup lama berada di alam yang bahkan tak dapat ia definisikan bagaimana keadaannya. Ia menatap langit-langit kamar, dan kemudian menghela nafas pelan, mencoba mengumpulkan energinya untuk bangun. Ia menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas itu pada kepala ranjang.

Gila. Kepalanya terus berdenyut-denyut. Efek alkohol itu memang luar biasa.

"Jaehwan oppa?"

Seorang gadis cantik mengintip laki-laki itu dari celah pintu kamar yang terbuka. Gadis itu tersenyum manis lalu memberanikan diri untuk masuk dan duduk di dekat laki-laki itu.

"Oppa, kau merasa pusing?"

Gadis itu menatap Jaehwan dengan cemas. Tatapan matanya terlihat tulus, seolah ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu yang buruk dengan laki-laki itu.

"Tidak. Aku tidak apa-apa"

Jaehwan menggeleng pelan.

"Oppa berbohong. Aku tadi melihatmu kesakitan sambil memegang kepala. Bagaimana jika ku pijat kepalamu? Aku biasa melakukannya ketika Hongbin-oppa sedang pusing" ucap gadis itu sembari mencoba menunjukkan senyum termanisnya.

"Aku baik-baik saja, Yebin"

Jaehwan menepuk pundak gadis itu sembari tersenyum tipis. Ia kemudian menyibakkan selimut lalu turun dari tempat tidurnya. Kakinya bergerak malas menuju dapur, meninggalkan Yebin yang masih termangu dan tampak kecewa karena telah diacuhkan.

Jaehwan mengambil sebuah teko dan menuang air putih sampai mengisi penuh gelasnya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil obat sakit kepala. Dengan sedikit terburu ia merobek bungkus tablet itu dan kemudian menelannya dengan bantuan air putih. Tapi…

Ia tertegun.

Sepertinya ada sesuatu yang janggal saat ia merogoh saku celananya tadi.

"Dompetku?"

Kedua alisnya hampir bertaut. Ia kembali mengecek saku-saku celananya dengan sedikit gelisah. Jika ia kehilangan dompetnya, maka habislah semuanya. Ia sudah pasti akan menjadi gelandangan.

"Ah sial!"

Benar saja. Dompetnya menghilang. Jaehwan benar-benar panik sekarang.

"Jaehwan oppa? Ada apa?"

Yebin yang mendengar umpatan keras Jaehwan langsung berjalan cepat mendekati laki-laki itu. Ia bertatap tanya dengan raut cemas yang terlihat jelas di wajahnya. Ia berusaha mencari jawaban lewat air muka Jaehwan, namun laki-laki itu tetap saja mengacuhkannya. Jaehwan terlalu sibuk dengan pikirannya. Ia mencoba mengingat-ingat kegiatannya belakangan.

"Jaehwan-oppa, mungkin aku bisa membantumu…"

Tanpa takut-takut, Yebin menggenggam tangan Jaehwan yang terkepal di atas meja. Ia menatap laki-laki itu lembut. Senyum manisnya perlahan mengembang. Ia tak punya pilihan lain. Mungkin dengan cara yang sedikit berani ini, ia akan mendapat perhatian Jaehwan. Mungkin dengan itu Jaehwan akan mau memberikan rasa percayanya walau hanya sedikit.

Jaehwan sedikit terkejut. Pikirannya berhenti sejenak saat ia merasakan tangan Yebin menggenggam tangannya hangat. Fokusnya berubah. Ia menatap Yebin yang sedari tadi tak berhenti menatapnya.

Ia terpaku.

Cantik…

Kata-kata itu muncul dalam benak Jaehwan tanpa terpikir olehnya.

xXXXx

"Maaf? Ada perlu apa?"

Namjoon bertatap tanya pada Jin dan suara husky-nya berhasil membangunkan Jin dari lamunan. Jin berdeham pelan, kemudian kembali menormalkan pikirannya dan berusaha memasang wajah tegas.

"Maaf tuan, tapi bisakah kau kecilkan volume musikmu? Suara musikmu membuatku tak bisa tidur" Sahut Jin dengan sedikit meninggikan suara. Ia sudah kembali ke mode awalnya. Demi waktu istirahatnya yang sangat berharga, ia harus memberanikan diri untuk menegur. Ia tidak boleh terlena, apalagi hanya karena penampilan.

Namjoon mengangkat sebelah alisnya.

"Huh? Apa musikku sekeras itu?"

Satu tangan Namjoon menyentuh dagunya sendiri.

"Padahal aku dan teman-temanku sudah bernyanyi setengah suara"

Demi apapun, Jin ingin mengumpat mendengar jawaban itu.

Keterlaluan.

Tenaga Jin sudah sangat minim sekarang, terlalu sia-sia jika dibuang untuk marah-marah. Tapi sialnya, laki-laki itu seolah meminta untuk dimarahi.

"Apa?"

Jin menyeringai kecil lalu memasang tatapan tajam.

"Maaf, tapi aku dapat mendengar suara musikmu dengan jelas di kamar. Apa kau ingin berkata jika itu tidak terlalu keras?"

"Begitukah?" sahut Namjoon dengan wajah yang tak menyiratkan rasa bersalah sedikitpun. Ia menatap Jin datar, lalu mengendus kecil.

"Baiklah, akan ku kecilkan nanti"

Namjoon menutup pintunya dan pergi begitu saja, sedangkan Jin masih terbengong disana, masih dengan kekesalan yang tak berkurang sedikitpun. Gadis itu berdecak kesal. Dengan langkah menderap, ia kembali menuju apartemennya sembari tak henti-henti menyampahi dirinya sendiri.

Bodoh, Jin. Kau bodoh. Laki-laki seperti itu kau bilang tampan? Tampan darimananya?!

Jin mematikan televisi, lalu merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia terdiam, menenangkan diri. Ia mencoba mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya, namun… suara musik itu masih saja menggelitik dan benar-benar merusak moodnya.

Oke, Jin sabar. Jin memilih untuk menunggu. Barangkali suara musik itu akan menghilang dalam beberapa menit kedepan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Namun naas, musik itu masih saja bergaung dan benar-benar menganggu istirahat Jin.

"Sial"

Jin memejamkan matanya kuat-kuat. Ia mengacak-ngacak rambutnya kesal. Ini sudah kelewat batas. Pria tidak tahu tata krama itu harus diberi peringatan. Setidaknya ia harus mengerti bahwa disini ia hidup bersama orang lain, bukan dengan dirinya sendiri.

Knock knock!

Jin mengetuk pintu kamar sebelah dengan cukup keras. Dan beberapa saat kemudian pintu itu terbuka, menampilkan sesosok laki-laki yang sama.

"Apa anda sudah mengecilkan volume musiknya?" tanya Jin dengan penekanan pada setiap kata-katanya.

"Hmm yah tentu saja. Volumenya 85 tadi, dan sekarang menjadi 80" jelas Namjoon setelah memberi anggukan singkat.

Jin memutar bola matanya malas.

"Itu sama sekali tak berpengaruh. Coba kecilkan sampai volume 40"

"Hey itu terlalu kecil! Musiknya bisa kalah dengan suaraku nanti"

Oh Tuhan, jika Jin terlahir sebagai seorang pemarah, sudah pasti ia berteriak sekarang. Ia cukup waras untuk berpikir bahwa tak baik memulai pertengkaran di malam hari seperti ini. Jin lebih memilih untuk menyabarkan diri. Ia menghela nafas.

"Maaf, tapi anda disini hidup bertetangga. Kalau kau ingin bernyanyi keras pergi saja ke tempat karaoke. Atau paling tidak, tinggal di hutan sehingga tak ada yang merasa terganggu dengan suaramu!"

Mata Jin menatap tajam pada laki-laki itu dan wajahnya sedikit memerah karena emosi. Ugh, sepertinya stok kesabaran Jin hampir habis.

"Ada apa ribut-ribut, Joon-ah?"

Laki-laki lain keluar dari dalam apartemen itu. Ia, Jung Hoseok, si pemilik apartemen yang sebenarnya, sedikit terkejut saat melihat Jin berada di depan pintu dengan raut kesalnya.

"Oh, Kim Seokjin, tetangga sebelah" sapa Hoseok, yang membuat Jin tertegun karena laki-laki itu ternyata mengetahui namanya. "Ada masalah apa?"

Untuk sesaat Jin terdiam. Ia cukup terkejut dengan Hoseok yang bersikap sopan, tidak seperti laki-laki yang satunya.. Jin kemudian menatap Hoseok, setelah sekilas melayangkan tatapan sinis pada Namjoon.

"Musik yang anda putar terlalu kencang, dan itu mengganggu waktu istirahatku" jelas Jin, dibalas dengan tatapan bersalah oleh Hoseok.

"Benarkah? Oh maaf kalau begitu. Aku akan mengecilkannya nanti"

"Tapi, Hoshiki-"

"Namjoon"

Hoseok menatap serius pada Namjoon, dan tatapan itu berhasil membungkam mulut pria bertubuh tinggi itu. Namjoon hanya bisa menghela nafas pasrah.

"Aku minta maaf sudah membuatmu tak nyaman, Kim Seokjin-ssi. Aku pasti akan mengecilkannya" ucap Hoseok dengan senyum tulusnya yang membuat Jin akhirnya bernafas lega.

"Baiklah. Aku percaya padamu"

Jin tersenyum tipis. Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tangannya bergerak membuka pintu kamar. Ia ingin cepat-cepat beristirahat, namun…

"Kim Seokjin"

Pergerakan Jin terhenti saat ia mendengar seseorang menyerukan namanya. Ia menoleh ke sumber suara, dan mendapati Namjoon tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit ia artikan.

Hell. Kim Seokjin ia bilang? Sok kenal sekali.

"Apa?" sahut Jin ketus.

"Tidak apa-apa, hanya…"

Namjoon tersenyum, menampilkan kedua dimple yang mempertampan wajahnya.

"Selamat malam"

Namjoon memberi lambaian kecil pada Seokjin, masih dengan senyum manisnya yang terkesan tulus.

Dan yah. Jin sukses terpesona. Ia sudah lama tak mendengar ucapan selamat malam semenjak pacarnya menghilang, dan juga wajah tampan itu yang berhasil membuat Jin terpaku dan lagi-lagi memujinya. Wajah Jin bersemu merah. Kali ini bukan karena marah, namun karena ia terpesona.

Tunggu. Terpesona?

Bodoh. Tidak. Tidak boleh.

Jin tidak boleh terpesona. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pemikiran bodoh itu. Ia menekankan pada dirinya jika pacarnya memiliki wajah yang seribu kali lebih tampan. Pacarnya jauh lebih baik. Itu sudah pasti.

"Hm" sahut Jin singkat lalu menutup pintu apartemennya dengan cepat.

Sial. Jantungnya berdegup kencang.

xXTo Be ContinueXx

Maafin yg ini panjang btw ceritanya disini Jin itu baperan orangnya :v

Selalu terimakasihhh buat yang nyempetin mampir *bow* have a nice dayyy!