Periode 2: Kamu Bercanda, kan?

.

.

Warna lembayung senja telah berganti menghiasi langit gedung SMA Otonokizaka kala kedua gadis itu masih tetap bersikukuh untuk tetap tinggal di dalam kelasnya.

.

"HEEEHHHH?!"

"A-Apa maksud ucapanmu itu?!"

.

Pekik sang gadis ningrat dengan keras memecah keheningan ruangan kelas yang sebelumnya telah ditinggalkan oleh para murid di kelasnya. Raut gestur tegang dan kaku dapat terlihat jelas melalui kedua bola matanya yang terbelalak lebar saat memperhatikan dengan seksama maksud ucapan gadis tomboy yang sedang berdiri dihadapan dia sambil tetap tersenyum manis untuk menanti jawaban yang keluar dari mulutnya.

.

"Maki-chan, ayo kita pulang bareng?."

.

Sang gadis kucing itu kembali mengulang perkataannya kepada sang gadis merah tomat tersebut untuk kedua kalinya namun pemilik rambut merah menyala itu tetap tidak mau bergeming dari tempat duduknya malahan membenamkan kepalanya ke dalam tas sekolahnya yang berada di atas meja sembari mengatur nafas agar aliran darah yang terpompa naik semakin cepat menuju atas kepalanya sehingga membuat mukanya berubah semakin merah bagai buah tomat tidak dapat diketahui.

.

"Aree, Masaka... Jangan-jangan selama ini Maki-chan tidak tahu rute jalan pulang ke rumah, yah?! Makanya kamu selalu dijemput oleh pengawalmu, nyaa?!" Tanya Rin polos.

"Ma.. Mana mungkin hal seperti itu terjadi kepadaku, baka?!"

"Te.. Tentu saja aku tahu alamat rumahku sendiri!"

"Nah, kalau begitu ayo kita pulang bareng, nyaa?!" Sambut Rin sambil mengulurkan tangannya.

"Nggak mau, lagian aku sebentar lagi akan dijemput oleh supirku!"

"Suruh supirmu pulang sendiri, nyaa! Biar Rin sendiri yang mengawal perjalanan pulangmu sampai tempat tujuan dengan selamat. Dijamin AMAN!" Seru Rin mantap dengan suara tinggi sambil menepuk dadanya.

.

"Rin-chaaann!"

.

Tiba-tiba perdebatan tersebut berhenti sesaat setelah terdengar suara Hanayo dari pintu luar memanggil nama gadis berambut pendek tersebut. Rin dan Hanayo sebelumnya memang sudah berjanji untuk pulang bersama hari ini namun belum sampai mereka berdua melintas keluar dari pintu gerbang tiba-tiba Rin bergegas meninggalkan Hanayo sendirian dan berlari menuju ke dalam ruang kelasnya kembali.

.

"Ahh, Nishikino-san...?!" Pekik Hanayo panik saat melihat Rin sedang menarik paksa tangan Maki untuk berdiri dari bangkunya.

"Ahh.. Kayo-chin, i.. iya tunggu sebentar! Tinggal sebentar lagi Maki-chan bakalan ikut pulang bareng sama kita, kok!"

"A... Apa yang sedang kamu lakukan, Rin-chan?!" Delik Hanayo melihat kelakuan sahabatnya. Sementara itu Rin segera menyadari arah pandangan Hanayo yang menuju kepada tangannya.

"Ehh, I... Ini tidak seperti yang kamu duga, Kayo-chin!" Seru Rin panik segera melepaskan tangan Maki.

"Pokoknya... Rin-chan! Ayo pulang sekarang! Nishikino-san, tolong maafkan kami berdua, yah!" Kata Hanayo sambil menarik lengan Rin dan bergegas keluar dari kelas.

"Tunggu! Kayo-chin tunggu sebentar... Ugh, Jangan tarik-tarik begini dong!"

"Tung... Tunggu sebentar, Kayo-chin.. Mooo!"

.

"Ahh, Nggak.." Gumam Maki pelan setelah kedua teman kelasnya itu telah pergi keluar pintu meninggalkan dia sendirian.

"Nggak apa-apa, kok..."

"Sebetulnya."

.

-oooo-

.

Sekitar 10 menit lamanya Maki diam di dalam kelasnya hingga dia mendengar suara klakson mobil, segera dia menyadari bahwa kendaraan jemputannya baru saja tiba ke dalam halaman sekolah telah tiba dan bergegas turun meninggalkan ruang kelas.

.

"Selamat sore, Nona Nishikino." Salam hormat sang supir pribadi yang telah berdiri di sisi pintu mobil sambil membukakan pintu belakang mobil sedan hitam untuk mempersilahkan putri majikannya untuk masuk.

"Ummhh..." Gumam Maki yang segera masuk ke pintu belakang mobil dengan anggun.

"Bagaimana kabar Nona hari ini?" Tanya sang juru mudi keluarga Nishikino tersebut dengan ramah.

"Hufft, Tidak ada yang spesial."

"Lantas, bagaimana dengan jadwalku hari ini?"

"Malam ini akan diadakan acara pesta amal di gedung balai kota. Oleh karena itu Nyonya telah berpesan agar anda tidak pergi keluar rumah dan mempersiapkan diri untuk pesta malam ini."

"Baiklah, terima kasih pemberitahuannya, Hitori-san."

"Dengan senang hati, nona."

.

"Tuh kan, dengan statusku yang seperti ini mana mungkin aku bisa bertingkah "normal?"

"Gadis itu..Kamu itu sengaja melawak yah?."

.

-ooo-

.

6 jam yang lalu, Di Sekolah.

.

"Selamat pagi, Maki-chan!" Sapa Rin dengan ceria kepada sang putri yang baru saja tiba memasuki kelas.

"Ada apa?!" Balas Maki ketus.

"Ahh, Moo, jangan cemberut gitu dong, say! Smile dong, say! Senyum... Hihihi...!" Kata Rin sambil tersenyum lebar.
"Azz, Rin! Pergi kamu dari hadapanku! Kamu itu mengganggu, tahu?!"

"Aww, Maki-chan.. Jangan marah-marah begitu dong. Rin kan jadi takut nih!" Timpal Rin manja menghiraukan teguran Maki dan malah merangkul dia semakin erat.

"Kyaa... Udah deh! Kamu itu maunya apaan sih?!" Bentak Maki sambil mendorong tubuh Rin menjauhinya.

"Aku, cuma mau memberikanmu ini." Jawab Rin sambil membawakan bingkisan kotak makanan yang berisikan roti isi daging dengan aroma saus tomat yang merekah dari dalamnya.

"Huh?!" Gumam Maki yang tanpa sadar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari roti tersebut malahan tangannya ingin menggapai itu.

"Eitts, ini buat nanti siang." Sontak Rin yang segera menutup kotak bekal miliknya dan membuyarkan delusi Maki.

"Jadi, Nanti siang kita makan bareng yah?"

"Hah! Ogaah!

.

"Ohay—o!"

"Heh, Rin-chan?!" Pekik Hanayo yang baru saja tiba ke dalam kelas dengan nada tinggi ketika melihat Rin sedang bersama dengan Maki.

"Rin-chan! Aku kan sudah bilang jangan pernah menggoda Nishikino-san seperti ini lagi?!"

"I.. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, kok?! Tehehe... Iya kan, Maki-chan?!" Seru Rin panik saat melihat Hanayo sedang berjalan menghampiri mereka berdua.

"Ehh.. hhh..?!"

"Ummh, Tidak ada apa-apa kok." Jawab Maki pelan sambil membuang muka.

"Benarkah itu, Nishikino-san?! Rin-chan tidak berbuat yang aneh-aneh lagi kepadamu, kan?!" Tanya Hanayo curiga. Maki yang tidak ingin meneruskan pembicaraan ini hanya menganggukan kepalanya saja.

"Nah, Kayo-chin... Aku punya berita bagus, nih! Maki-chan juga setuju untuk makan siang bareng kita, lho?!" Sela Rin secara mendadak.

"Ehh?! A.. Aku?!"

"Ehh?! Benarkah, Nishikino-san?" Tanya Hanayo dengan mata berbinar-binar setelah mendengar hal tersebut.

.

Hanayo sebenarnya tahu bahwa ini pasti akal-akalan Rin, namun dia juga penasaran apakah Maki juga mau menyetujui ide semacam itu oleh karena itu dia begitu terkejut saat melihat ekspresi wajah Maki yang terlihat tersipu malu. Sementara itu bagi Maki yang selama ini selalu makan sendiri, dia sebenarnya ingin membantah mentah-mentah perkataan Rin barusan namun setelah melihat kemilau antusias yang terpancar dari mata Hanayo dan Rin maka dia mengurungkan niatnya untuk menolak itu malahan menyetujui ajakan mereka berdua.

.

Dan waktu makan siangpun tiba.

.

Rin dan Hanayo seperti biasa makan siang di dalam ruang makan di meja sebelah kiri di pojok baris kedua dari belakang. Itu adalah tempat yang bagus untuk melihat pemandangan di luar gedung sekolah Otonokizaka karena berada di dekat jendela luar sehingga mereka bisa dengan leluasa merasakan angin sepoi-sepoi yang masuk ke dalam tempat tersebut sambil memandangi daun pepohonan sakura yang mulai rontok menjelang musim semi berakhir.

Pada hari ini Hanayo membawa bekal nasi onigiri dengan ikan tuna didalamnya sedangkan Rin membawa kue roti isi yang tadi dibawanya dan Maki, yang untuk pertama kalinya makan bersama teman-teman lainnya, membawa satu set kotak makan bento mini miliknya dengan berbagai lauk-pauk mewah didalamnya.

.

"Wah, Kotak bento Maki-chan imut banget, deh! Mamanya Maki-chan pasti pinter masak, yah?!" Puji Rin.

"En.. Enggak kok. Mamaku itu malah tidak bisa masak sama sekali. Ini adalah buatan pembantuku." Jawab Maki dengan muka memerah namun tidak antusias saat mengatakan hal tersebut. Itu terlihat jelas melalui raut mukanya yang berubah muram.

.

"Lagipula, Mamaku itu..."

.

Belum sempat Maki menyelesaikan ucapannya tiba-tiba dirinya dibuat terkejut dengan roti isi milik Rin

.

"Nah, Maki-chan ayo, aaa...aaaa..." Seru Rin yang tiba-tiba mendulangkan Roti isi miliknya masuk ke mulut Maki.

"Umpffhh... Umpfhh..."

.

Gadis itu tampak kesulitan untuk memakan roti tersebut namun dia segera mengunyahnya besar-agar makanan itu bisa tertampung ke dalam perutnya. Dengan lekas dia meneguk segelas air putih di depan mejanya sampai dirinya kembali tenang.

.

"Nah, bagaimana, nyaa? Enak, kan, nyaa?!"

"ENAK APANYA?! AKU HAMPIR SEKARAT KARENA TERSEDAK MAKANAN ITU, TAHU?!" Bentak Maki kesal.

"Ahh, Maki-chan... Hal remeh seperti itu jangan dianggap serius, dong?!" Ujar Rin yang masih bisa tertawa lebar.

"Gezz, anak ini..."

"Mau tambah lagi?"

"Enn... Enggak lah!" Seru Maki kesal sambil memakan nasi bekalnya.

"Hmm, Rin-chan, tumben kamu tidak makan mie ramen hari ini?!" Tanya Hanayo memecah suasana.

"Itu, sebenarnya cadangan mie ramenku sudah habis hari ini dan aku sudah tidak mempunyai cukup uang untuk membelinya."

"Ohh, bagus deh." Timpal Hanayo singkat sambil terus menguyah nasi onigirinya.

"Ehh, kok gitu?!" Protes sang kucing.

"Kamu itu harus banyak makan makanan yang sehat. Terlalu banyak mengkonsumsi mie itu tidak baik untuk kesehatan tubuhmu, terutama untuk organ hati. Aku pernah membaca buku, katanya kalau orang sudah mengalami kerusakan hati maka orang itu bisa berubah menjadi kuningan."

"Ooh, begitu yah... Hehehe..." Timpal Rin terkejut tapi tenang, suaranya terdengar pelan namun tampak gusar.

"Oh, Maksudmu penyakit kuning yah?" Imbuh Maki menganggapi perkataan Hanayo.

"Ah, iya itu...!"

"Penyakit itu dalam bahasa kedokteran disebut sebagai penyakit hepatitis. Sebenarnya tidak ada larangan sih untuk mengkonsumsi mie asal tidak terlalu berlebihan. Namun kalau untuk dia sih memang gak boleh makan mie."

"Hei, Rin kamu itu seharusnya lebih banyak makan makanan yang sehat terutama daging, sayur-sayuran, susu dan buah-buahan."

"Ehh, Kenapa?" Tanya Rin penasaran

"Tubuhmu itu kurus kayak orang kekurangan gizi di Afrika."

"Heh, aku ini selalu makan teratur tiga kali sehari, nyaa. Lagipula, Rin juga suka minum susu, kok!"

"Lagipula, kalau tubuh Rin gendut nanti Rin tidak mungkin bisa masuk tim lari sekolah. Makanya, menjadi kurus itu banyak manfaatnya. Hahahaha..."

"Pffftt.." Maki tidak bisa menahan tawanya setelah mendengar perkataan Rin barusan.

"Wah, ternyata Nishikino-san juga tahu banyak tentang kesehatan yah?"

"Iya dong, Maki-chan kan berasal dari keluarga dokter. Sasuga Maki-chan, pewaris tunggal Rumah Sakit Nishiyama" Sambung Rin-chan.

"Engg... Enggak ada yang istimewa tentang itu, kok! Semua orang juga sudah tahu tentang ciri-ciri penyakit itu." Jawab Maki dengan pipi memerah.

.

Mereka bertiga meneruskan kegiatan makan mereka bersama-sama di dalam kantin. Meskipun pada akhirnya mereka bertiga tidak bisa menghabiskan bekal makan mereka masing-masing dengan tenang berkat ulah Rin yang terus mencuri bekal makanan Hanayo dan Maki.

Situasi jam makan yang benar-benar rusuh sehingga membuat Hanayo semakin panik namun di sela-sela kekisruhan tersebut tanpa disadari mata Maki mulai terlihat sembab membengkak, sembari menghabiskan sisa bekalnya Maki terus menundukkan kepala sehingga poni rambut merah tersebut jatuh menutupi manik ungu yang mulai berkaca-kaca tanpa disadari oleh kedua temannya yang berada disampingnya.

Dan begitulah, untuk pertama kalinya Maki bisa merasakan kembali kegiatan "normal" yang selama ini telah dirindukan olehnya. Kesendirian yang selama ini dia selalu rasakan selama ini menjadi sirna dalam sekejab mata.

.

"Ummh, Hanayo.." Sela Maki menghentikan kejahilan Rin yang terus bermain-main dengan onigiri milik Hanayo.

"Mmm... Ada apa, Nishikino-san?"

"Maki aja!..."

"Ehh.. Maaf?!"

"Tolong, berhentilah memanggilku Nishikino."

"M.. Maksudku selama ini aku selalu memanggil nama depanmu, jadi kamu seharusnya juga melakukan hal yang sama kepadaku. P-Panggil saja namaku, Maki!." Katanya sambil tersipu malu.

"Ehh?!"

"EEE...EEEEEHHH?!"

"M-Mana b-boleh aku melakukan hal itu?! L-Lagipula, aku ini kan cuma orang biasa saja?!" Tanya Hanayo panik merendahkan diri. Tiba-tiba suasana di meja tersebut kembali hening dan kaku. Maki juga tidak tahu harus berkata apa setelah itu, hingga...

.

"Aduhh, Kalian berdua ini kenapa sih?! Kok tegang banget... Hahaha...! Kita bertiga ini kan teman, jadi tidak ada yang aneh dong kalau menyebut nama akrab kita masing-masing!"

"Rin memanggil Maki sebagai Maki-chan... Maki juga memanggil Rin sebagai Rin-chan!"

"Hanayo memanggil Maki sebagai Maki-chan... Maki juga memanggil Hanayo sebagai Hanayo-chan!"

"Hanayo memanggil Rin sebagai Rin-chan... dan Rin memanggil Hanayo sebagai Ka..yo-chin!"

"Yah, kan.. Kayo-chin, Maki-chan?!" Kata Rin sambil memegan tangan mereka berdua.

"Rin-chan..."

"Rin.."

"Nah, ayo kita berjanji bahwa mulai hari ini kita bertiga akan selalu menjadi teman selamanya."

"Ok?!"

"O... OK!" Jawab Hanayo gugup.

"Maki-chan juga?!"

"Ehh? Unn? Aaa?!" Maki hanya bisa terpongah lebar saat mendengar perkataan Rin barusan.

"Yey! Kalau begitu sepulang sekolah nanti kita pergi main bareng yuk!" Ajak Rin.

"Ehh, mendadak sekali! Maaf, aku tidak bisa melakukan itu, supirku akan menjemputku pulang ke rumah seusai jam bel pulang sekolah." Jawab Maki.

"Oh begitu yah?! Umm, kalau besok?"

"Maaf, aku juga tidak bisa."

"Kalau besoknya lagi?"

"Aku juga tidak bisa."

"Besoknya besoknya besoknya besoknya besoknya besoknya besoknya besoknya besoknya lagi?!"

"AKU TIDAK BISA, RIN!" Teriak Maki putus asa.

"K.. Kenapa?"

"Ke.. Keluargaku pasti tidak akan mengijinkan aku untuk pergi bermain sendirian setelah pulang sekolah karena itulah aku memiliki supir pribadi yang selalu mengantarkanku kemanapun aku pergi."

"Kalau begitu bagaimana jika kita berdua saja yang pergi bermain ke rumahmu, dengan begitu kamu tidak perlu untuk keluar rumah?"

"Ehh, itu... Juga mustahil!" Seru Maki keras menghentikan rayuan Rin. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya di antara kedua tangan yang berada diatas meja sembari terus terpuruk dalam emosi kelamnya.

.

"Nishik-.. Ehh, Maki-chan?!" Bisik Hanayo lirih hendak menggapai punggung gadis tomat yang duduk disampingnya namun belum sempat jemari tangan itu mendarat disana, tiba-tiba Maki berdiri dari kursinya namun tetap menundukkan kepala.

"Yappari, aku memang tidak bisa berteman dengan kalian!"

"Permisi, maafkan aku!"

.

Itulah perkataan terakhir Maki yang bisa didengar jelas oleh Rin dan Hanayo yang masih belum sepenuhnya mengerti tentang maksud perkataan Maki. Mereka berdua saat ini hanya menyadari bahwa sosok Maki sudah tidak ada kantin lagi melainkan sudah pergi ke dalam kelas seorang diri. Hanya menghabiskan sisa waktu di hari sekolahnya dengan duduk seorang diri di kursi mejanya seperti biasanya di dalam kelas. Seorang putri yang sepanjang waktu selalu kesepian, tanpa ada teman yang mau menghampirinya seperti biasanya.

.

.

Periode 2: End

.


.

.

Pojok Nulis: Eee... aku kaget, hampir serangan jantung waktu baca komentar Xenotopia. gilee, cepet banget responnya, padahal barusan rilis! hahaha... well, itu artinya kamu telah membaca pesanku di cerita one-shot sebelumnya, yah? terima kasih banyak.

Thx Lemonchi untuk dukungannya. Semoga yang lainnya juga bisa enjoy membaca ini, yah? ^ ^

.

Well, aku baru saja selesai memposting 2 terjemahan bahasa indonesia untuk lirik "Guilty Kiss" di blogku, harap mengunjunginya yah.. reason4live . blogspot . com... so much hyped about Love Live! Sunshine! in this week! :)