Periode 3: Ketua Kelas

.

.

Hari senin, tepat 1 minggu setelah upacara penerimaan siswa baru di SMA Otonokizaka kini para murid kelas 1 telah terbiasa akrab dengan teman sekelas mereka yang lain. Suasana akrab ini tentu saja akan menjadi kenangan mereka untuk selamanya oleh karena mereka adalah angkatan generasi terakhir dari sekolah ini.

Pagi ini Mrs. Shibuya, Ibu guru wali kelas 1-A mengisi jam pertama untuk menentukan para pengurus kelas 1 selama satu tahun ke depan. Sensei sendiri yang bertindak sebagai moderator utama pemilihan pengurus kelas ini.

.

"Nah, anak-anak.. Hari ini kita akan mengadakan pemilihan untuk ketua kelas 1-A."
"Apakah ada yang bersedia untuk mencalonkan diri?"

.

Diam, tidak ada jawaban balik dari seisi penghuni kelas, hanya suasana hening dan hampa yang dapat dirasakan oleh Sensei. Tidak mau menyerah, sekali lagi Sensei mengulang pertanyaannya namun tetap saja tidak ada tanggapan dari para anak didiknya. Raut muka bosan dan enggan terpampang jelas di wajah setiap murid yang tampak tidak antusias mengikuti prosesi ini.

Pagi itu, atmosfer negatif seperti sedang dominan menguasai seisi kelas. Sensei-pun hanya bisa menghela nafas panjang setelah membaca keadaan tersebut. Dirinya sudah pasrah karena tidak ada satupun dari para murid tersebut yang bersedia untuk mengangkat tangan. Hingga...

.

"Haik, Rin-chan?!" Seru sensei menunjuk sang gadis tomboy.

"Rin Hoshizora, yah?" Gumam teman sekelasnya separuh sadar.

"Ehh?!"

"EEEEEHHHHHH?!"

"Ehh, R.. Rin-chan mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas?!" Tanya ulang sensei yang juga tidak yakin.

.

"B.. Bukan, sensei!" Bantah Rin segera.

"Rin cuma mau mencalonkan Maki-chan sebagai ketua kelas kita yang baru, sensei!"

"Oooohh...!" Lolong teman sekelasnya menghela nafas lega.

"Ehh, Tunggu sebentar?"

"HEEEEEEEEHHH?!"

"R.. Rin, apa-apaan kamu itu?!" Protes Maki sambil menggebrak mejanya.

"Tehehehe..."

.

Cekikik Rin yang tanpa beban membuat Maki semakin kesal. Dirinya hanya bisa diam sambil terus menggerutu di dalam hati karena masih tidak rela namanya dicatut secara serampangan apalagi setelah samar-samar dia mendengar suara gaduh yang ditimbulkan oleh bisik-bisik para penghuni kelas 1 yang juga sedang membicarakan tentang hal tersebut.

.

"Psstt, si putri orang kaya itu mau menjadi ketua kelas kita?! Iyuuhh!"

"Ogah bener dah milih dia!"

"Tampangnya itu lho judes banget!"

"Anak itu yah, kalau diajak ngobrol pasti jawabnya sepatah dua kata.. Kesel gue!"

"Yakin dia bisa jadi ketua kelas? Berteman sama kita-kita aja gak pernah."

"Belum jadi ketua kelas aja, tuh anak udah belagunya sok minta ampun! Apalagi kalau sudah terpilih!"

"Dasar putri keluarga ningrat.."

"Kalau begitu kenapa bukan kamu saja yang jadi ketua kelas?"

"Enggak mau, ahhh.. Ribet."

"Huuuu..."

.

Percakapan lirih dari teman-teman yang duduk di belakang bangkunya itu dapat terdengar jelas oleh Maki-chan. Meskipun lirih namun perkataan tersebut menusuk tepat di dalam hatinya. Rasa takut dan jengkel bercampuk aduk di dalam hatinya. Satu hal yang sedang dia pikirkan saat ini adalah:

"INI SEMUA ADALAH KESALAHAN RIN! ONOREEE RIN!"

.

Cukup lama Maki terdiam sambil berdiri di bangkunya hingga tiba-tiba dia mengacungkan tangannya untuk menarik perhatian sang guru.

.

"Yah, Maki-chan?"

"K.. Kalau begitu aku juga ingin mencalonkan Rin sebagai ketua kelas?!"

"EEHHH!"

"M.. Maki-chan?!" Tanya Rin kaget.

"Diam, kamu gadis dada rata.. kalau kamu bisa melakukan itu berarti aku juga punya hak untuk melakukan ini juga, kan?!" Seru Maki sambil menyipitkan mata kepadanya.

"Huft, Sudah-sudah... Kalian berdua jangan bertengkar! Baiklah aku mengerti!"

"Rin dan Maki silahkan maju ke depan kelas sekarang." Perintah sang guru terhadap mereka berdua.

"Nah, anak-anak ini adalah kandidat untuk ketua kelas kalian. Nah, kalau begitu bisakah kita memulai votingnya?!"

"Haaiikk...!"

"Baiklah, Siapa yang setuju jika Nishikino Maki menjadi ketua kelas, silahkan angkat tangan?!"

.

Tidak ada seorangpun yang mengangkat tangan bahkan terlihat jelas bahwa teman-teman sekelasnya sedang mengacuhkan padangan mereka terhadap dirinya. Suasana yang sangat menjengkelkan bahkan membuat Maki tidak tahan untuk berlama-lama berdiri disana.

.

"Yappari, tidak ada gunanya aku ada disini... Mereka sudah jelas-jelas tidak menyukaiku, mengapa aku harus rela mempermalukan diriku dan maju ke depan sini, sih?" Gerutu Maki murung.

.

Namun belum sempat Maki semakin terjerumus dalam rasa pedihnya tiba-tiba dia mendengar teriakan keras dari arah sampingnya.

.

"Haiikkk!"

"R.. Rin?!" Teriak sensei terkejut.

"A.. Ada Apa?!"

"Ehehehe... Rin mau memilih Maki-chan! Rin percaya bahwa Maki bisa menjadi ketua kelas yang tepat untuk kelas kita!" Tandas dirinya dengan penuh percaya diri.

"Heeeehhh!"

"Lagipula Maki-chan adalah gadis yang baik hati dan terkenal di seluruh kota ini. Teman-teman, bukankah kalian juga berpikir bahwa Maki adalah sosok yang penting bagi kelas ini?!"

"Hah, dia?! Baik?! Kau gila yah?!" Sahut salah seorang gadis yang duduk di sudut paling pojok ruangan.

"Tapi, gadis itu tidak pernah mau bergaul dengan kita, Rin!"

"Yah, Ngapain kita harus repot-repot memilih dia?!"

"Rin, kami semua lebih suka untuk memilihmu menjadi ketua kelas kita?!"

"Yah, mending kamu saja deh yang jadi ketua kelas!"

.

Satu demi satu suara mulai muncul dari mulut teman kelasnya untuk memberikan penilaian obyektif mereka. Tentu saja suara itu adalah tentang pendapat mereka yang tidak setuju untuk menjadikan Maki sebagai ketua kelas bahkan tidak jarang mereka mengungkapkan sindiran halus bagi sang putri Nishiyama tersebut.

.

"Lagipula..."

.

"Ehh, KALIAN SALAH!" Pekik Rin menyela argumen mereka berikutnya.

"Maki-chan bukanlah orang yang seperti itu! Maki-chan itu orang yang sangat baaaaiiikkk!"

"Kalian tidak akan pernah mengerti dirinya jika belum mengenal isi hatinya yang paling dalam."

"Bahkan, Kemarin siang Maki-chan mau untuk ikut makan siang bareng dengan aku dan kayo-chin!"

"Iya kan, Kayo-chin?!"

"I.. Iya!" Jawab Hanayo ragu-ragu.

"Nah, tuh...!"

"Betul nggak, Maki-chan?!" Tanya Rin kepada Maki sambil tersenyum.

"I.. Iya sih! Tapi..!" Jawab Maki pelan.

"Dan Maki-chan telah berjanji akan mentraktir kita semua es krim di kantin apabila terpilih menjadi ketua kelas." Gombal Rin yang jelas dia karang sendiri.

"Ehh?!"

"HEEEEHHH?!"

"B.. Beneran nih?!"

"Rin! Tunggu sebentar?!" Sela Maki terkejut.

"Pssttt... Diam dan perhatikan saja. Ok?!" Bisik Rin kepadanya. Sementara itu Maki menoleh ke depan dan melihat pancaran sinar mata teman-temannya yang berubah menjadi orang kelaparan.

"Hufftt, baiklah... aku mengerti!" Jawabnya pasrah.

"Ehh, horrraaayyy!"

"Yosh, Kalau begitu kita harus memilih Maki sebagai ketua kelas kita!"

"Benar, lagipula kalau dia terpilih menjadi ketua kelas kita maka derajat status kelas kita akan naik semakin tinggi dibandingkan kelas 2 dan 3 di sekolah ini!"

"Kapan lagi kita memiliki ketua kelas dari murid terbaik jepang tingkat nasional dan anak orang kaya se-tokyo?!"

"Nah, itu!" Timpal Rin menjawab suara yang terakhir.

.

"Haik... Haik... Kalau begitu bisakah kita mulai voting ulangnya?!" Tanya ulang guru wali kelas mereka.

"Siapa yang memilih Rin menjadi ketua kelas?"

15 dari 30 siswi mengangkat tangannya

"Nah, sekarang siapa yang setuju Maki untuk menjadi ketua kelas?"

15 orang sisanya mengangkat tangan, termasuk Rin

"Ehh, kalau begini bukankah jumlahnya seimbang?! Bagaimana ini, sensei?!" Tanya Rin gusar.

"Ehhmm, apakah kalian tidak melihat ini?" Jawab sang guru dengan muka berseri-seri.

"EHHH?!" Para murid tersebut terkejut saat melihat sensei mereka juga ikut mengangkat tangan kanannya.

"Sensei juga termasuk dalam voters kali ini, lho!. Dan aku sejak awal telah memutuskan untuk mendukung Maki sebagai ketua kelas, sih."

"Kalau begitu secara resmi Sensei akan mengumumkan hasil votingnya: 15 suara untuk Rin dan 16 suara untuk Maki. Dengan demikian maka Nishikino Maki secara resmi menjadi ketua kelas 1-A untuk tahun ini."

.

Prokk—prokk—prokk-prokk.

.

Iringan tepuk tangan terdengar meriah menggaung di dalam ruangan kelas. Meskipun ini adalah kemenangan tipis namun untuk pertama kalinya Nishikino Maki mendapat kepercayaan tugas sebagai ketua kelas di sekolahnya. Jabatan yang tidak dia dapatkan melalui uang, materi ataupun status sosialnya namun berkat bantuan dari seorang gadis yang bahkan tidak dia anggap sebagai seorang teman.

Gadis sableng yang tidak pernah berhenti mencampuri kehidupannya itu telah membuat dirinya berhasil terpilih sebagai ketua kelas 1-A angkatan terakhir.

.

"Dan Rin akan bertugas sebagai wakilnya."

"Tehehe... Mohon bantuannya, Maki-chan." Seru Rin cengengesan kepada Maki.

.

Sementara itu Rin dapat melihat wajah Maki yang berubah warna semakin merah padam. Saat itu Rin masih belum mengerti terhadap keadaan Maki saat ini, apakah dia merasa senang, malu, takut, gugup atau sedih. Tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan Rin tersebut. Karena Maki memang merasakan semua emosi tersebut bersamaan pada saat ini.

.

"Uhmm..." Gumam Maki pelan sambil menganggukan kepala.

.

-0000-

.

Sore Hari, Sepulang Sekolah.

.

"Ugghh... Maki-chan!"

"Huft... Ada apa Rin?" Tanya Maki sambil menghela nafas panjang.

"Tadi Sensei menyuruh kita untuk membawakan semua berkas-berkas ini ke rumahnya. Kamu bisa ikut, kan?" Pinta Rin sambil membawa setumpuk kertas tugas milik kelas mereka ke depan meja Maki.

"Maaf, tapi..."

"Tapi, ini juga tugas ketua kelas, Maki-chan!" Sela Rin terlebih dahulu.

"Errr..."

"Tapi, s-supirku..."

"Ayolah, tidak perlu waktu lama kok untuk sampai ke rumahnya. Lagipula, Kamu bisa kan menghubungi supirmu dan memintanya untuk tidak menjemputmu di sekolah?"

"Ugh, apakah aku harus melakukan ini?! B-bukannya aku sudah bilang bahwa aku tidak pernah punya niat sekalipun untuk menjadi ketua kelas?!" Timpal Maki ngotot. Mendengar itu Rin tiba-tiba tersentak dengan kepala tertunduk dan menjadi murung.

"Ahh.. Aku pikir Maki-chan adalah orang yang memegang kata-katanya sendiri. Aku pikir kamu sudah sepenuhnya setuju untuk menjadi ketua kelas."

"Bahkan aku sendiri dengan ikhlas sudah setuju untuk menjadi wakilmu. Tapi, Maaf, ternyata selama ini aku salah..."

"H-Hei, apa maksud perkataanmu itu?!" Tanya Maki yang merasa tidak enak, sementara Rin terus berjalan pelan pergi membelakanginya.

"Ugghhh, Mou, Baiklah... Aku ikut kamu!"

"Sungguh!" Sahut Rin yang tiba-tiba mukanya menjadi bercahaya terang.

"Huh, Menyebalkan!" Gumam Maki pelan sambil menggaruk kepalanya.

.

Sore hari itu mereka berdua keluar dari sekolah bersama-sama untuk mengantarkan tumpukan berkas-berkas milik wali kelas mereka ke rumah beliau. Bagi Maki, ini adalah pertama kalinya dia bisa pulang berjalan kaki tanpa mendapatkan pengawalan dari ajudannya. Sementara itu dia bisa melihat wajah Rin yang begitu bahagia meskipun sedang membawakan tas besar yang berisikan tumpukan kertas yang lebih banyak daripada dirinya.

.

"Maki-chan, awas!" Seru Rin panik menggapai lengannya.

"Heh?!"

"Gezz, kamu itu yah! Apakah kamu tidak pernah menyebrangi zebra cross?! Kamu harus menunggu lampu hijau untuk menyebranginya."

"H-Heh?! T-Tentu saja aku tahu! Memangnya kamu pikir aku bodoh?!"

"Maki-chan!" Sahut Rin dengan serius dan lantang sembari menepuk pundaknya.

"Jadi bodoh itu bukan hal yang memalukan, kok!"

.

Maki yang mendengar itu bukannya merasa terhibur malahan menjadi semakin jengkel. Dan tanpa sadar dia segera melayangkan tas jinjing yang berisikan berkas kertas yang lumayan berat itu mendarat di atas kepala gadis tomboy tersebut.

.

*PLETAAAKK!*

.

"LU PIKIR GUE ITU ORANG BODOH APA?! BAKA!" Teriak Maki jengkel.

"RIN, LU ITU YAH! AMPUN DAH!"

.

"Pffttt... Hahahaha..."

.

Sementara Maki menggerutu semakin menjadi-jadi, dirinya dibuat terheran-heran dengan sikap Rin malah tertawa terbahak-bahak.

.

"Hahahaha..."

"K-Kenapa kamu tertawa?! Kamu tidak gila, kan?!"

"Ba... Baru kali ini aku mendengarmu berkata-kata dengan bahasa gaul.. hahahaha..."

"Ehh?!" Respon Maki yang menjadi tersipu malu.

"Nggak, nggak.. Aku tidak sedang menghinamu! Maki-chan, kamu itu gadis yang menyenangkan."

"Ummph, A.. Apa-apaan sih?! Aku gak ngerti maksud perkataanmu barusan!" Kata Maki yang nyelonong pergi sendirian menyebrangi zebra cross yang telah aman untuk dilalui.

"Mou, Maki-chan... Tunggu aku!"

.

Setelah 15 menit mereka berjalan kaki pada akhirnya mereka sampai ke rumah sensei mereka. Rumah, umm.. lebih tepatnya rusunawa biasa yang biasa disewakan untuk anak-anak kuliahan di daerah tokyo. Mengingat biaya hidup yang sangat mahal di kota ini bisa memiliki tempat tinggal yang cukup strategis tidak jauh dari gedung sekolah yaitu tepat di sekitar persimpangan Kanda dan Akihabara merupakan sebuah keuntungan sendiri bagi beliau karena tidak perlu repot mempersiapkan anggaran transportasi setiap bulan.

.

"Araa... Rin-chan, Nishikino-san!" Sapa sang sensei ketika membukakan pintu.

"Terima kasih banyak kalian sudah mau repot-repot mengantarkan barang-barang milik sensei."

"Tidak apa-apa, sensei. Lagipula ini memang tugas kami sebagai ketua kelas." Sahut Maki.

"Tapi, Apakah tidak apa-apa bagimu untuk pergi kesini? Apakah supirmu tidak menjemputmu?!"

"Aku sudah menghubungi mereka supaya tidak menjemputku hari ini."

"Ahh.. Syukurlah!"

"Tapi, Rin... Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot melakukan ini. Memaksa sensei untuk menyerahkan berkas-berkas ini agar dibawakan oleh kalian. Duh, sensei sampai tidak enak hati, nih.. Tapi, terima kasih banyak, yah."

"Enggak apa-apa, sensei. Kita ikhlas, kok. Iya kan, Maki-chan?"

"RIN HOSHIZORA!

"Gleeekk!"

"Maaf sensei, sepertinya kita harus pamit pulang sekarang." Pamit Rin sambil menutup pintu kamar sensei.

"RINNN!"

"Haikk!"

"Eee...to, Tunggu Maki-chan, aku bisa memberikan penjelasan kepadamu... Begini..." Seru Rin sambil mengeluarkan keringat dingin.

"Ahh... K-Kamu tahu Kotori Senpai itu ternyata anak dari ibu kepala sekolah Mrs. Minami, lho!"

"Trus?!"

"Ahh, Kamu tahu ketua OSIS kita itu ternyata beneran anak keturunan rusia, lho!"

"Gezzz... EMANGNYA GUE PERDULI! Gerrr..." Sahut Maki sambil mempersiapkan ancang-ancang untuk menjitak kepalanya.

"Kyaaa, iyaaa... Maafkan aku!"

"Jadi, begini... Nah, waktu pulang sekolah tadi aku... Kaaaabbbuurrrr!"

"WOI, JANGAN KABUR!"

"RIN-CHAN!"

.

Babak 1: Selesai

.


.

Pojok Nulis: Trims buat dorimutoriga, Anata 1703 yang baru saja gabung n ngasih komentar disini.. Yey, Maki-chan jadi kucing (ehh, ada yg salah deh!), Thx lagi buat Xenotopia n Lemonchi yang udah balik kasih review lagi

.

Jadi ini yang terakhir yah? it seem so? www... ^ ^

.

well, visit my blog. :D /

.

.

Terima Kasih