Periode 4: Tuan Puteri
.
.
Langit jingga terlihat pekat menaungi wilayah Akihabara, pertanda sore segera menjelang malam. Meskipun suasana perkotaan disini masih terlihat majemuk dengan hinggar bingar para pedestrian yang masih lalu lalang di jalanan trotoar namun keadaan tersebut berbanding terbalik dengan yang ada di daerah Kanda. Bahkan, sudah menjadi hal yang normal apabila jam sekarang ini para penduduk di daerah ini telah berada di rumah mereka untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing.
.
Namun tidak dengan Rin dan Maki yang baru saja pulang dari rumah Sensei yang ternyata masih belum juga segera pulang ke rumahnya. Maki yang buta arah jalan benar-benar dimanfaatkan oleh Rin untuk mengajaknya berkunjung, (ralat: jalan-jalan) ke tempat-tempat bermain favoritnya di sekitar Akihabara. Tentu saja Maki menjadi kesal karena ulah Rin ini namun demikian dia tetap senantiasa mengikuti kehendak Rin untuk berkeliling disana hingga waktu menjelang malam. Rin yang telah puas mengerjai Maki seharian lalu memutuskan untuk mengakhiri tingkah lakunya dan berniat mengantarkan dia untuk pulang. Namun...
.
"Ehhmm, Rin, sepertinya kita harus berpisah disini, deh?" Pinta Maki saat tiba di persimpangan jalan.
"Ehh? Kenapa?"
"Umm, bukankah jalan pulang rumahmu lewat arah ini? Rumahku ada di ujung sebelah sana. Jadi, kita harus berpisah sekarang." Tuturnya sambil membuang muka.
"NO! Rin mau mengantar Maki-chan pulang sampai ke rumahnya dengan selamat."
"Tidak apa-apa, Rin."
"Nggak, aku nggak akan membiarkan Maki-chan pulang sendirian seorang diri!" Seru Rin keras sambil memegang tangan Maki kuat-kuat.
"K-Kalau nanti... Ada sesuatu yang terjadi pada diri Maki, Maka.. Maka Rin sama sekali tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri." Ujarnya dengan suara gemetar dan telinga terkulai lesu.
"Ehh?... Tsk!"
"Mou, baiklah... Kamu boleh mengikutiku."
.
Sekali lagi, Maki tidak berhasil menolak keinginan Rin dan malah mengijinkannya untuk mengikuti dirinya. Maki lalu mengambil jalan persimpangan sebelah kiri diikuti oleh Rin dibelakangnya. Tampaknya Maki sudah bisa mengenal daerah yang dilaluinya sehingga tidak memerlukan tuntunan Rin lagi. Namun demikian selama perjalanan tersebut entah mengapa gestur tubuh Maki malah menunjukkan kecemasannya padahal dia masih bersama dengan Rin hingga tiba-tiba seperti mendapat wangsit, senyuman tipis terlukis di wajahnya. Maki lalu mempercepat langkah kakinya sehingga Rin harus turut berlari untuk mengejarnya dan tiba-tiba mereka telah berdiri didepan sebuah rumah yang megah.
Rumah itu tampak begitu besar dibandingkan dengan rumah lainnya di kiri-kanannya, corak kemilau putih di dindingnya layaknya gading dan marmer, kaca yang memantulkan cahaya sore masih sanggup membuat kemilau emas. Meskipun demikian Rumah ini masih terkesan sederhana layaknya rumah bertipe mediterania di wilayah eropa kelas dua. Namun bagi Rin yang untuk pertama kalinya melihat rumah seperti ini hanya bisa tercengang takjub.
.
"Nah, disinilah rumahku. Puas?!" Kata Maki sambil mengatur nafasnya.
"Sekarang bisa kan kamu melepaskan tanganmu?!"
"Ehh, sugoi! Gede banget...!"
"Kalau begitu kapan-kapan Rin mau main kesini yah? Boleh, kan?"
"Umm..."
"'Nah, kalau begitu Rin pulang dulu sekarang. Byee, Maki-chan."
"Byee.."
.
Rin dengan riang segera pergi meninggalkan Maki yang baru saja masuk melintasi pagar. Gadis kucing itu terus-terusan melambaikan tangannya dengan sesekali membalikkan badan hanya untuk melihat sosok Maki yang belum hilang dari pandangannya hingga tidak tampak lagi.
.
"Hufttt..."
.
-ooo-
.
"O..Oujo-sama?! Ehh... N..Nishikino-sama?!"
Pekik salah seorang pria paruh baya berdarah eropa yang baru saja membuka pintu. Sudah jelas bahwa dia adalah salah satu pelayan di rumah itu.
"Pssttt... Jangan berisik! Aku sedang berusaha melarikan diri?"
"Ehh... S-Siapa yang berani mengganggu nona muda?!" Teriak lelaki tersebut kalang kabut.
"Aku akan menghajarnya sampai mampus."
"Psstt... Sudah kubilang jangan ribut. Lagipula kamu tega yah menghajar anak gadis SMA biasa?!"
"Heeh?"
"Lagipula, dia tidak berbahaya kok." Lanjut Maki dengan suara merendah.
"Oh, teman nona muda, yah?"
"E-Ehh! K-kamu ngomong apa barusan?! Aku sama sekali tidak punya teman, tahu!" Jawabnya dengan pipi memerah.
"M.. Maafkan kelancangan saya, nona! Tapi syukurlah kalau begitu..."
"Ehh, kenapa?!"
"B-Bukan apa-apa! Aku cuma bersyukur nona muda bisa sampai ketempat ini dengan selamat"
"Huft... Rudolfo! Kau itu aneh, yah?!"
"Eeehheehehehe..."
"Ya sudahlah, mumpung aku sudah sampai di tempat ini. Tolong, sekalian buatkan aku minuman teh seperti biasanya."
"Baik, nona. Silahkan menunggu di dalam."
.
"Hmm... Syukurlah, ternyata nona muda sudah memiliki teman sekarang."
"Aku terharu...!"
.
Maki yang berada di ruang tengah dengan duduk anggun sedang membaca buku favoritnya yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah. Setelah 5 menit menunggu, hidangan jamuan minum teh yang telah dipesannya akhirnya tiba juga. Sang pelayan dengan hati-hati menuangkan teh kesukaanya, teh bunga mawar.
.
"Silahkan, nona."
"Terima kasih."
"Ngomong-ngomong, pengawal pribadi anda dimana?"
"Hitori-san? Aku tidak bersama dengan dia sekarang. Aku hanya berjalan kaki untuk sampai ke sini."
"Ehh?! K-Kenapa anda melakukan itu?!"
"T.. Tidak! Sejak awal anda seharusnya tidak boleh datang ke rumah mansion khusus pegawai, nona. Kalau orang tua anda tahu hal ini..."
"Ini berbahaya, Oujo-sama! Saya menyarankan agar anda pulang ke rumah menggunakan mobil saya." Ucap sang pelayan panik.
"Baka! Memangnya kamu pikir aku sudah cukup umur untuk mengemudikan mobil?!"
"M-Maafkan saya! Maksud saya biarkan saya yang mengantarkan anda pulang ke rumah." Ralatnya
"Sudahlah, lagipula jarak rumahku tidak terlalu jauh dari tempat ini. Aku hanya mampir kesini agar anak itu tidak mengetahui letak rumahku saja."
"Ahh, menyebalkan... Ya sudahlah, aku mau pergi sekarang."
"Ahh... Maafkan saya."
"Terima kasih atas kunjungannya, Oujo-sama."
.
Maki lalu segera pergi meninggalkan rumah mansion tersebut dan tidak berlambat-lambat menuju ke rumahnya karena waktu sudah semakin malam. Tidak butuh waktu lama untuk tuan puteri sampai ke rumahnya, sekitar 15 menit. Dia merasa bahwa keadaan jalan yang sepi membuatnya aman dan tenang, namun tanpa disadarinya adalah kehadiran Rudolfo yang sengaja membututinya dari belakang dan menghalau setiap ancaman yang bisa mencelakakan majikannya. Bahkan dia sendiri yang membukakan pintu gerbang agar Maki tetap bisa masuk dengan anggun.
.
-ooo-
.
"Hmm..."
"You..."
"Where are you've been?"
"Not your business!" Jawab Maki sinis.
"HEY! I'm still talking to you!"
"MAKI! HEY, MAKI!"
"Enough! Honey, kamu tidak perlu marah seperti itu."
" that kids...!"
"It's fine, i'll talk with her now. OK?!"
.
Putri Tsundere itu segera berlalu dari pandangan mereka menuju ke kamarnya tanpa berniat sedetikpun untuk menjelaskan alasan kepergiannya kepada mereka.
.
.
Kamar Maki
.
"tok.. tok.. tok..."
.
"Maki-chan, kamu ada di dalam nak? Mama mau masuk yah?!"
"Tidak dikunci." Jawab sang dara dari balik pintu.
"Ohh..."
.
Sang ibu segera masuk ke dalam kamarnya dan mendapati putrinya sedang tidur-tiduran di atas kasurnya setelah melepas baju seragamnya. Perlahan-lahan sang ibu berbaring di tepi ranjangnya sambil mengelus rambut merahnya dengan lembut.
.
"Kamu habis dari mana saja tadi? Mengapa kamu melarang Hitori untuk menjemputmu?!"
"Aku pulang bersama temanku tadi."
"Siapa? Cowok? Pacarmu yah?!" Goda sang ibu.
"E-Ehh?! S... Siapa juga yang pacaran! Kami cuma pergi ke rumah guru wali kelasku untuk mengantarkan berkas miliknya."
"Heeh?! Kenapa kamu mau repot-repot melakukan itu?!"
"Karena itu adalah tugasku sebagai ketua kelas."
"Wah, Maki-chan seorang ketua kelas? Selamat yah!"
"'Ummh..."
"Jadi, kamu merayakan itu bersama pacar, ups, "temanmu" itu yah?!"
"MAMA, DIA ITU CEWEK!" Bentak Maki dengan wajah memerah.
"Hahaha... Bercanda, bercanda... Mama tahu kok, mana mungkin Putri Maki ini akan mudah jatuh cinta dengan lelaki asing yang baru dikenalnya."
"Aku tahu itu... Lagipula, mana mungkin aku boleh berpacaran."
"Tepat sekali, kamu memang tidak boleh berpacaran dengan orang asing sekarang. Ingat statusmu adalah seorang keturunan ningrat."
"Gezz..."
"Kamu marah?"
"Tidak." Jawab Maki sambil memalingkan muka.
.
"Maki-chan, tentang kejadian tadi... Tidak bisakah kamu bersikap lembut terhadapnya?"
.
Tanya sang ibu lembut namun mendengar itu Maki langsung berdiri dari ranjangnya dan menatap tajam ibunya dengan penuh emosi. Emosi yang meluap-luap hingga membuatnya sanggup mengacungkan jari ke muka sang ibu.
.
"BERSIKAP LEMBUT DENGAN DIA?! DIA! ORANG YANG SUDAH MENGHANCURKAN MIMPIKU! A-AKU... AKU TIDAK AKAN PERNAH..."
.
Plakk!
.
"Sudah cukup! Jaga nada bicaramu saat berbicara dengan orang tuamu! Aku sudah muak mendengar perkataanmu itu! Pokoknya, kamu tidak boleh berkata seperti itu! Lagipula, dia itu..."
"Sudahlah, aku tidak mau membicarakan orang itu lagi!" Jerit Maki menyela perkataannya.
"Baiklah, mama akan keluar sekarang.. Tapi pastikan kamu menjaga sikapmu selama di rumah. Ingat, kamu itu seorang putri."
"AKU TAHU ITU!"
"Segeralah turun, kita akan makan malam."
.
"Seandainya kamu bisa sedikit mengerti, Maki-chan!"
.
.
Keesokan pagi, Di Sekolah.
.
"O-Ohayou..."
"Heh, Ohayo.." Jawab Maki membalas sapa dari Rin-chan yang terlihat gugup.
"B-Bagaimana kemarin... A-Apakah.."
"Apakah tidurmu nyenyak?! Tehehehe..."
"Gezz, Rin-chan!" Tiba-tiba terdengar pekikan Hanayo dari balik badannya.
"Haik! Aku tahu.. Aku tahu!"
"GOMEN! Maafkan aku Maki-chan!" Lanjut Rin sambil merapatkan kedua telapak tangan hendak menyembah.
"Hoh? Hanayo, anak ini kenapa?!" Tanya Maki datar.
"Rin-chan! Ayo minta maaf yang benar!"
"Tunggu sebentar.. Aku sungguh tidak mengerti maksud percakapan kalian berdua?"
"Begini Maki-chan..." Terang Hanayo.
"Bukankah kamu kemarin pulang sekolah bersama dia?"
"Ah, itu benar."
"Nah, bukankah itu karena ulah Rin-chan sendiri yang memperdayai Shibuya-sensei untuk membawa berkas miliknya sehingga merepotkan dirimu?"
"Ehh, darimana kamu tahu?!" Tanya Maki tercengang.
"Aku yang menceritakannya... Tehehehe.."
"Gezz! Kamu itu memang mulut comberan yah?"
"Tapi, Tetap saja... Kamu sama sekali tidak boleh melakukan itu kepada Maki-chan, Rin-chan?!"
.
Pagi itu Rin benar-benar dimarahi habis-habisan oleh Hanayo setelah dia tanpa sengaja keceplosan membicarakan pengalaman sore kemarin. Maki yang melihat hal itu terjadi di depan matanya hanya bisa geleng-geleng kepala karena meskipun dia juga kesal dengan perlakuan Rin namun dia sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.
.
"Huft... Kalian berdua!"
"Sudah cukup! Hentikan ini, Hanayo! A.. Aku sama sekali tidak ambil pusing dengan kejadian kemarin, kok!"
"Maki-chan?!" Seru Hanayo tercengang disusul oleh Rin yang larut dalam haru biru.
"M.. Maki-chan!"
"Gezz! Kamu, b-bukan berarti aku juga sudah memaafkanmu, yah?!"
"K.. Kamu tidak mau memaafkanku, nyaa?!" Tanya Rin ulang dengan mata berkaca-kaca.
"Mou, iya deh... C-cukup sekali ini saja! OK! Tolong, jangan melakukan hal ini kepadaku lagi!"
"H.. Haik!"
"Ah, Syukurlah..."
"Syukurlah-nyaa!"
.
"Sudah?! Cuma itu saja kan?!"
"Ehh?!"
"Jadi, Mau sampai kapan kalian berada di depan sini?!"
"Jam pelajaran pertama mau dimulai tuh!"
"Ehh, Maki-chan?" Tegur Rin heran.
"Kamu lupa yah?"
"Lupa?!"
"Hari ini adalah hari promosi ekskul?"
"Promosi Ekstakurikuler?! Acara apa itu?"
"Nah, Maki-chan... Ayo kita pergi bareng melihat mereka!"
"Ehhh...?! Ke-Kemana?!"
"Kyaaa! Se-sebentar.. Jangan tarik-tarik gini dong!"
.
Dipimpin oleh Rin, Ketiga murid kelas satu tersebut kemudian pergi meninggalkan kelasnya untuk menjelajahi gedung sekolah mereka demi melihat kegiatan ekstra kurikuler yang tersedia disana. Kegiatan ekskul apakah yang mereka akan pilih? Keseruan apakah yang mereka bertiga akan alami disana? Mari kita saksikan bersama minggu depan. :p
.
Periode 4: End
.
.
Pojok Nulis: Yey! I'm back..! (lol)
.
Terima kasih buat Anata 1703, Lemonchi, dan Xenotopia yang sudah kembali ngasih komentar lagi. Yes! Ceritanya memang belum selesai. Trims udah menikmati cerita sebelumnya, aku sengaja menulisnya se-ringan mungkin.
.
Maaf kalau sudah membuat kalian bingung. Di cerita ini aku sedang mencoba melakukan sesuatu yang baru, aku membaginya dalam beberapa babak cerita. Jadi, chapter 1-3 kemarin itu adalah babak cerita 1, dan kini kita memasuki babak cerita 2. Ahh maaf kalau tidak memuaskan, saya masih terlalu amatir untuk melakukan ini
.
Well, kunjungi blog saya! 9u9 /
