Hari Kamis, suasana sekolah SMA Otonokizaka pagi ini menjadi lebih padat daripada biasanya. Terlihat lebih banyak siswi yang berkumpul di depan lapangan sekolah untuk menikmati pertunjukkan demonstrasi dari berbagai klub ekstrakurikuler disana. Tidak jarang diadakan mini-challager untuk menarik perhatian para murid baru agar bergabung dengan klub mereka. Termasuk Rin yang menerima tantangan dari klub lari.
.
Dukk dukk dukk dukkk... Dukk dukk dukk dukkk...
.
"Tatsukette!"
"Da... Dareka... Dareka Tatsukette!"
.
Tiba-tiba terdengar suara lolongan panik dari Hanayo yang tampak terburu-buru berlari di lorong sekolah menghindari sesuatu yang sedang mengejarnya dari belakang. Sementara dia menerobos kerumunan massa yang begitu banyak namun itu tetap tidak cukup untuk membuatnya terus berlari. Di lain sisi dari belakangnya juga tampak gemuruh ribut yang ditimbulkan oleh seorang siswi lainnya.
.
Dukk dukk dukk dukkk...
.
"Kayo-chin! Tunggu!"
"ENGGAK MAU!"
"Moo, Ayolah Kayo-chin! Ini pasti menyenangkan!"
"Nggak! Nggak! Nggak! Aku nggak mau kesana lagi!"
"Moo, ayolah jangan lari!" Rayunya hampir menangkap tangan Hanayo sebelum pada akhirnya datang Maki yang menjadi tameng terakhir untuk Hanayo bersembunyi di balik punggungnya.
"Maki-chan! Maki-chan! Cepat hentikan Kayo-chin!"
"Heh?!"
"Tolong aku, Maki-chan!"
"Ehh?! Kyaa!"
.
"Tung.. Tunggu sebentar! Kok jadi begini sih?!" Ujar Maki panik dengan tingkah laku kedua temannya yang sedang menggerayangi badannya.
"KALIAN BERDUA BERHENTI DI TEMPAT!"
"Ehh?!"
"Gezz... Ada apa ini sebenarnya?! Kenapa kalian saling kejar-kejaran?! Ya ampun, Padahal belum sampai 5 menit aku pergi meninggalkan kalian!"
"R-Rin.. Rin-chan, dia memaksaku untuk ikut bergabung bersamanya ke Klub Olah Raga!" Jawab Hanayo gemetar.
"Ayolah, Kayo-chin! Ini pasti menyenangkan, kok!"
"Bukankah menyenangkan kalo kita bisa berlari bersama-sama?!"
"Nggak! Aku nggak suka olah raga!"
"Ayolah, kalau begitu main basket aja... Sepak bola, atau Renang!" Rayu Rin lagi sambil menggapai tangan Hanayo yang terbuka.
"Kyaaaa..."
Maki yang melihat Hanayo ketakutan di balik punggungnya menjadi tidak nyaman dengan tingkah laku gadis kucing tersebut dan segera menepis tangan Rin.
"Gezz, sudah cukup... Rin, hentikan!"
"Jangan memaksa Hanayo lagi kalau dia memang tidak menginginkannya!"
"Ehh? Ayolah Maki-chan! Kamu gak asik deh! Padahal klub ini menyenangkan lho! Aku bahkan baru saja ditantang oleh beberapa senpai sekaligus... Tehehe..."
"Pufff... Maki-chan juga harus ikut!"
"E-Ehh?.. Nggak! Aku nggak mau!"
"Ehh, kenapa?! Bukankah olahraga itu baik untuk kesehatan kalian?!"
"Contohnya Hanayo! Kalau kamu mengikuti kegiatan ini maka itu dapat sekaligus membakar kalori dan lemak dalam tubuh sekaligus berguna untuk menjaga bentuk badanmu!" Terang Rin memberi ceramahnya.
"Ehh, apa maksudmu?! A.. Apa kamu mau bilang kalau aku g.. gendut?!" Pekik Hanayo dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu Rin yang baru menyadari kesalahannya dalam memilih kata-kata hanya memalingkan muka saja.
"Eee...eee..."
"RIN-CHAN!" Tegur Maki keras.
"Jangan terlalu blak-blakan gitu dong!"
"Ehh, M... Maki-chan juga?!"
"Moo... Kalian semua jahat!"
"Hanayo... Kayo-chin! Tunggu...!"
.
Melihat sahabatnya telah kabur dengan cepat dari hadapannya membuat Rin menjadi kehilangan semangat dan duduk terkulai lemas di samping putri tomat.
"Maki-chan, gara-gara kamu sih!"
"Ehh, kok aku?! Gara-gara kamu lah!"
"Ya sudahlah... Ayo kita cari Kayo-chin dulu!" Ajak Rin yang sudah tidak mampu mengelak lagi. Namun belum separuh jalan dia melangkah tiba-tiba terdengar suara seruan keras memanggil namanya.
.
"RIN HOSHIZORA!"
.
"Gleekk!"
"U-Umi senpai?! Nani?!"
"Nani janai!" Teriak Umi dengan muka geram dan semangat menyala-nyala.
"Apa-apaan kamu tadi! Seenaknya saja pergi meninggalkan lapangan begitu saja setelah memecahkan rekor lariku! Tidak akan kubiarkan anak emas sepertimu tidak bergabung ke klub kami!"
"E-Ehhh...!"
"Nah, ayo kembali bersamaku!"
"EEHHH... AAKU NGG..GAAK MAAU! MAAKII-CHAN T-TTOOLLONG AKU!"
"Rin-chan, ganbatte, ne..." Ucap Maki pelan sambil melambaikan tangan kepada Rin yang ditarik paksa oleh Umi.
"Ya, sudahlah..."
.
Pada akhirnya Maki berjalan seorang diri untuk mencari Hanayo. Tidak begitu lama dia pergi mencarinya, ternyata dia sudah menemukan Hanayo yang sedang berdiri mematung di depan papan pengumuman sekolah.
"Hmm, Hanayo?!"
"Ahh, Maki-chan? Maaf, aku tiba-tiba meninggalkan kalian tadi." Kata Hanayo sambil membungkukkan kepala.
"Ahh, ini bukan salahmu juga, kok.. Maaf, Aku juga sedikit keterlaluan tadi."
"Hmm... Rin-chan kemana?"
"Dipanggil Umi-senpai ke kembali ke klub."
"Ohh,..."
"Kamu pasti lega yah?"
"Nggak kok... Aku nggak merasa lega sama sekali." Sangkal Hanayo dengan wajah memerah.
.
"Ya, sudahlah... Selanjutnya kamu rencananya mau kemana?" Tanya Maki.
"Mau ke ruangan itu?"
"Klub menjahit yah?"
"Hmm..."
.
Hanayo dan Maki lalu memasuki ruangan klub tersebut dan mendapati Kotori sedang memimpin anggota klubnya untuk menjahit baju kostum untuk klub peran. Selain itu mereka juga berkunjung ke klub lainnya seperti klub tari balet yang dipimpin oleh Eli. Dan klub Pastery & Bakery yang dipimpin oleh Honoka. Tidak lebih dari 2 jam mereka telah berkeliling ke seluruh penjuru gedung sekolah untuk melihat kegiatan klub yang ada disini.
.
"Jadi, Maki-chan... Apakah ada klub yang membuatmu tertarik?" Tanya Hanayo.
"Hmm... entahlah, sejak awal aku memang tidak berniat bergabung ke dalam klub manapun."
"Ummm..."
"Ehh, ruangan ini?"
"Jadi, Ini ruangan yang terakhir yah?" Ujar Maki sambil mengamati papan nama klub tersebut.
"Klub Tarot dan Aktivitas Paranormal."
"Moo, namanya menyeramkan... Hanayo, sebaiknya kita perg-"
Belum sempat Maki menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara Hanayo yang langsung memasuki ruangan itu. "Permisi..."
"Ehh..."
"Ara, selamat datang ke dalam klub kami."
Sapa gadis berambut kepang dua yang ada di dalamnya menyambut kehadiran Hanayo dengan ramah.
"Maaf, mengganggu... Ehh!"
Baru setapak mereka melangkah tiba-tiba mereka dikejutkan dengan taburan bunga yang berguguran di atas kepala mereka.
.
"Angin timur milik Endymion, Berpusatkan di ufuk barat mengalir darah kental, aliran merah sang berry merah."
"Aku memohon kepadamu ohh... Selene, sang empunya bulan, ampunilah kedua orang ini, berikan rahmatmu agar mereka senantiasa tetap hidup."
.
"Hah?! K.. Kamu ngapain?" Tanya Maki tercengang.
"Husstt... Diamlah, aku belum selesai berdoa."
"Wahai manusia binasa, kalian seharusnya bersyukur bisa masuk ke tempat sakral ini hidup-hidup! Aku tidak tahu darimana kalian bisa mengetahui tempat ini namun kalian benar-benar beruntung karena aku dengan segera telah memberikan mantera penangkal kutukan."
"Ehh?! Kenapa jadi angker gini, sih?! Ha-Hanayo, ayo kita pergi?!"
"I.. Iya deh, Maki-chan..."
"Ehh, Tunggu! Maafkan kami!" Seru sang Senpai menahan langkah mereka.
"Yoshiko-chan... Kamu tidak boleh menakut-nakuti orang yang baru kamu kenal."
"M-Master... Namaku itu YOHANE!"
"S-Senpai? Siapa?!" Tanya Hanayo.
"Maaf, aku lupa memperkenalkan diri.. Namaku adalah Nozomi Toujo, ketua klub ini."
"Dan anak ini adalah..."
"Aku adalah murid magang nomer satu Master Nozomi, Yohane Tsushima."
"Yohane? Orang asing?!"
"Ahh, bukan-bukan.. Anak ini sebenarnya bernama Tsushima Yo..."
"YOHANE!"
"Terseralah... Dasar Chuunibyo"
"Master?!"
"Ahh, bukan apa-apa.."
"Hmm, Yoshiko-san... Kamu itu siapa? Itu seifuku anak SMP, bukan?" Tanya Hanayo lagi sambil mengamati seragamnya.
"H.. Haah?! Kalian salah! Aku adalah Yohane, sang fallen angel! Tempat tinggal asalku adalah di surga, namun karena kecemburuan beberapa penduduk surga yang tidak tahan melihat kharismaku maka aku terpaksa dibuang ke dalam neraka."
"HAH?!"
"Karenanya, gadis iblis seperti diriku ini jelas tidak membutuhkan sekolah seperti perkataanmu tadi! Justru Kota Izu lah yang beruntung memiliki diriku sebagai penjaga kota mereka sehingga tangan dewa tidak dapat mengusik kota ini."
"I..Izu?! Maksudmu Shizuoka?!"
"Ohh.. Kalian tahu, sebelah barat daya dari kota ini itulah tempat tinggalku."
"Mohon maaf, bisa kamu ulangi lagi dimana kamu tinggal?"
"Maaf, tolong jangan terlalu diambil hati perkataan anak ini. Yocchan ini memang anak SMP di SMP Nagaisaki, Numazu, Prefektur Shizuoka." Sela Nozomi yang buru-buru menghentikan ulah Yohane
"Ehh, dia datang dari tempat sejauh itu?!"
"Apakah kamu tidak apa-apa datang ke sekolah ini sendirian?"
"Tidak masalah.. Tidak masalah!"
"Aku masih bisa terbang dengan kedua belah sayap transparanku ini."
"O.. Oh begitu yah!" Ujar Maki dan Hanayo yang sudah tidak berminat berdebat lagi dengannya.
.
"Nah, mumpung kalian berada disini, bagaimana jika aku mendemonstrasikan tentang kegiatan klub kami?"
"Nozomi-senpai, kamu mau melakukan apa?" Tanya Maki.
"Aku akan meramal kalian, mau?!"
"Ehh, a-aku tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu."
"Ayolah, ini tidak akan lama, kok! Dan pastinya ini akan sangat menyenangkan!"
"Bagaimana Maki-chan?"
"Ugghh... Unn... K-Kamu sendiri bagaimana?"
"A.. Aku... unn... unn..." Gumam Hanayo dengan pipi memerah. Maki yang melihat itu hanya bisa menundukkan kepala sambil menghela nafas panjang.
"Mou, kamu ini memang tidak pandai menyembunyikan perasaan yah."
"Ehh?"
"Baiklah, aku mengerti.. Aku mengerti."
"Senpai, silahkan ramal nasib kami berdua."
"Yosh! Kalian berdua, silahkan duduk.." Ajak Nozomi dengan senyum lebar menyambut kedua kohainya untuk duduk di depan meja prakteknya.
"Emm... Ini?"
"Yups, ini adalah kartu Tarot. Aku adalah peramal yang menggunakan media kartu tarot." Kata Nozomi sambil membeberkan kartu Tarot yang ada di genggamannya dalam satu deretan panjang.
"Apakah kamu pernah diramal sebelumnya, Nishikino-san?"
"Mou, aku kan sudah bilang.. Aku tidak pernah percaya dengan hal-hal semacam ini!"
"Ehehehehe... Baiklah aku mengerti... Aku mengerti!"
"Tcih, asal kamu tahu yah mbak rambut stawberry! Master-ku ini sangat ahli dalam ilmu nujum. Sama seperti namanya, Nujumi!"
"Hei, namaku itu NOZOMI!"
"Hei kamu, jangan seenaknya saja ngatain rambut orang!" Umpat Maki kepada Yohane.
"Ehh, kenapa? Kamu gak suka stawberry?"
"Stawberry itu enak lho! Semua iblis juga tahu tentang itu."
"Ugghh! B-Bukan begitu! Sopan dikit dong sama kakak kelas! Mou... Ampun deh!"
"Sudah-sudahlah.. Maki-chan. Kamu mengalah saja yah.. tehehehe.."
"Habisnya.. Gerr!"
.
"Nah, kalau begitu tolong kalian tulis nama lengkap, umur, kelas, nomer telepon, alamat rumah dan golongan darah di kertas ini, yah." Terang Nozomi membagikan kertas kecil.
.
"Psstt! Master..."
"Hmm.."
"Kenapa kamu memerlukan data itu? bukankah itu tidak diperlukan dalam meramal?!"
"Eee... itu sih, setidaknya itu dapat membantu kelanjutan klub ini setahun kedepan."
"Ehh?! Maksudmu Master mau menggunakan identitas mereka untuk didaftarkan sebagai anggota bayangan klub ini?!"
"SASUGA MASTER!"
"Psstt... Jangan keras-keras! Yah, daripada klub ini langsung ditutup tahun ini! Huhuhu..."
.
"Nah, ini senpai..."
"Ara! Terima kasih banyak, yah."
"Kalau begitu kita akan mulai sekarang kegiatan meramalnya."
"Dimulai dari Kouzumi Hanayo. Nah, Koizumi-san, silahkan memilih 3 kartu pertama di deretan deck ini." Tutur Nozomi menyiapkan pola tempat dek meramal."
"Umm... Apakah boleh yang mana saja?"
"Tentu! Kalau tidak begitu mana bisa disebut meramal."
"Baiklah, aku mengambil kartu yang ini, ini dan ini."
"Ok! letakkan kartu itu satu per satu dalam kotak deck yang telah tersedia di atas meja."
Satu per satu Hanayo meletakkan kartu yang telah dipilihnya ke tempat dek yang tergambar di atas meja.
"Baiklah, tugasmu disini sudah selesai. Kali ini giliranku untuk meramalmu."
"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu ketahui sekarang?"
"Umm... Bagaimana nasibku selama tahun ini? Apakah aku akan beruntung selama satu tahun ini?"
"Apakah kamu sedang mengalami ketakutan? Umm... maksudku, apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak percaya diri?" Tanya Nozomi heran.
"A.. Ada sih! I..Itu.."
"Baiklah, kamu tidak perlu mengatakannya jika tidak mau. Mari kita telaah masalah itu lebih lanjut lewat kartu yang kamu ambil."
"Emang bisa?" Tanya Maki bingung.
"Uhm, Kau tahu kartu itu tidak pernah berbohong." Jawabnya sambil tersenyum simpul.
"Baiklah Koizumi-san, ini adalah dek kartu pertama: dek ini berbicara mengenai keadaanmu saat ini, dan ini adalah kartumu." Terang Nozomi dengan hati-hati. Suasana tegang meliputi tempat mereka berada, terlebih lagi untuk Hanayo yang semakin gelisah saat kartunya akan dibuka.
"Ini... Kartu EIGHT OF SWORD."
"Eeee...eeehh!" Tampak tatapan mata kosong dari Nozomi setelah membuka kartu tersebut. Suasana mencekam segera meliputi tempat itu, bahkan Yocchan juga hanya duduk terkesima memandang senpainya termenung panjang.
"Oh tidak, itu gambar yang menakutkan! A.. Apakah itu adalah kartu yang buruk?!"
"T.. Tenanglah Hanayo, terkadang tidak semua kartu bisa dikatakan buruk atau baik secara harfiah. Bukan lewat mulut semuanya bisa dijelaskan oleh orang namun lewat hatimu sendiri, mengerti?"
"E-Entahlah... Sepertinya aku mengerti, Senpai. Mungkin."
"Kartu ini memiliki arti Ketakutan untuk berkembang / Rintangan dan Perasaan Negatif yang berlebihan."
"Eeehh!"
"Ummhh... Apakah sampai saat ini kamu masih merasa takut?"
"Haik.."
"Apakah ketakutanmu itu berhubungan dengan orang lain?"
"Umm... Mungkin sih!"
"Kau tahu Hanayo, mengapa manusia merasakan takut? Itu karena mereka gagal mengetahui akar dari permasalahannya. Kalau mereka terlalu berfokus pada ujung masalah maka mereka akan selalu gagal untuk melihat intinya. Cobalah untuk tenang dan kamu akan mengetahui jawaban dari permasalahanmu."
"H.. Haik!"
"Kini kartu kedua... Kartu di deck ini akan menjelaskan mengenai situasi yang mempengaruhi keadaanmu sekarang. Dan itu adalah..."
"The Wheel of Fortune."
"Uhm... Aku mengerti sekarang!"
"A-Ada apa Senpai?"
"Kartu ini memiliki arti Perubahan, Kesempatan, dan Keberuntungan! Ini berarti kamu sendirilah yang harus memutuskan langkah kedepannya. Jika kamu ingin mengalami nasib yang mujur maka kamu sendiri yang harus berani untuk berubah dari dalam."
"Selanjutnya, Kartu Ketiga: "The Hanged Man – Menerangkan Visi."
"Ehh?!"
"A.. Apa itu senpai?"
"B-Bukan apa-apa! Hehehe... Deck ini adalah tempat Hambatan yang menghalangi jalanmu saat ini."
"Ini berarti kamu harus bersabar dan harus bisa melihat permasalahanmu saat ini dengan cara yang berbeda."
"Koizumi-san, mungkin ini sudah saatnya kamu mengubah cara berpikirmu. Gambar orang yang digantung terbalik ini menggambarkan bahwa ada sesuatu yang mengikatnya sehingga tidak dapat lepas dari masa lalu."
"Ummm..."
"Yosh, selanjutnya.. Kartu yang keempat!" Kata Nozomi sambil mengeluarkan salah satu kartu dari deretan yang telah dia takar.
"Hmm... Hanayo, apakah masalahmu ini berhubungan dengan cinta?"
"Ehh... C-Cinta?! A-Apa maksudmu Senpai! Tentu saja aku tidak sedang jatuh cinta!" Jawab Hanayo panik.
"Begitukah?! Sebab kartu yang aku ambil ini "Two of Cup" memiliki arti Menyatukan Hati, Cinta, Hubungan Persahabatan yang semakin erat."
"Apakah kamu memiliki sahabat karib?"
"A-Ada."
"Hmm... Kalau begitu kamu harus terus bersama dengan orang itu untuk menghadapi hambatanmu itu niscaya kamu pasti akan beruntung."
"Ooh, begitu yah?" Jawab Hanayo tersipu malu. Sekilas dia membayangkan kehadiran Rin berada disisinya saat ini.
"Selanjutnya, kartu ini mungkin akan membuka tabir permasalahanmu."
"Hmm, Ini adalah... Queen of Sword!"
"Hanayo-chan, apakah kamu pernah berbuat sesuatu yang keterlaluan terhadap sahabatmu itu di masa lalu?"
"Ehh, kenapa?"
"Kartu ini dilambangkan sebagai seorang Ratu yang giat, bulat hati, memberikan kebebasan penuh kepada orang lain namun terkadang terlalu memakai perasaan dalam memerintah." Terang Nozomi.
"Hmmm,,.. Dua kartu Sword!"
"Kau tahu, pada dasarnya kartu Sword adalah kartu elemen udara, ini adalah elemen yang berkaitan erat dengan pemikiran, keputusan dan komunikasi. Tentu saja ini adalah elemen yang baik namun jika seseorang terlalu banyak memakai perasaan itu bukanlah sesuatu yang baik. Baper."
.
"A... Aku tidak tahu" Jawab Hanayo gugup.
"Aku tidak tahu apakah kejadian itu ada hubungannya dengan maksud perkataanmu. Tapi pernah suatu hari aku bersikap keterlaluan kepadanya."
"Sewaktu kecil dulu, aku pernah bermain bersamanya dan membawakan seekor anak kucing kepadanya. Aku pikir itu adalah hal yang bagus karena dia sangat suka dengan kucing namun aku tidak pernah tahu bahwa dia memiliki alergi. Aku begitu shock mengetahui itu, berkali-kali aku mencoba mendekati keluarganya namun selalu dihiraukan. Setelah itu dia dirawat secara intensif di rumah sakit selama 1 minggu penuh, namun bukan berarti semuanya menjadi buruk bahkan dia tetap berteman denganku dan bahkan tidak sekalipun menyalahkanku hingga sekarang."
"Tapi, sejak saat itu aku menjadi orang yang terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, aku tidak mau kehendak baikku menjadi boomerang bagi orang lain. Karena itulah..."
.
"A.. Aku ini... Aku ini teman yang jahat, yah kan?!" Tanya Hanayo dengan suara gemetar hendak menangis.
"Dia bahkan tidak mau membahas masalah itu sama sekali seperti hendak mengatakan bahwa ini semua adalah kesalahannya, tapi itu salah kan?!"
"Hmm... Kau tahu Hanayo, aku pikir jika temanmu berbuat seperti itu bukankah itu berarti dia sangat sayang kepadamu sehingga tidak mau mengungkit masalah itu."
"Karenanya... Kamu harus membuang jauh-jauh perasaan tersebut dan terus maju ke depan!" Saran Nozomi seraya membuka kartu berikutnya. "THE SUN".
"Optimis, percaya diri, kebahagiaan, bersikap positif dan kejelasan yang merupakan lambang dari kartu ini menunjukkan bahwa kamu harus terus berbuat demikian di masa depan." Lanjutnya sambil terus membuka kartu berikutnya
"Kartu "JUDGEMENT" ini juga menyarankanmu bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk berubah. Apapun masa lalumu itu, itu hanyalah sebuah kesalahpahaman saja. Kamu harus berterus terang kepada temanmu itu dan lekas melupakannya. Aku yakin temanmu itu akan mengerti dan mau membantumu untuk move on."
"Namun apabila kamu tidak melakukan itu dan terus terpaku dengan pemikiran lamamu maka.." Lagi, Nozomi membuka kartu berikutnya.
"Yappari, "THE WORLD" – segala sesuatunya akan berulang kembali, terus berputar-putar di lingkaran yang sama hingga kamu mengambil keputusan untuk mengakhiri itu sendiri dan memulai petualangan yang baru."
"Ahh, begitu yah?!" Balas Hanayo dengan suara lirih.
"Emm, Hanayo-chan, tolong ingatlah ini. Pada dasarnya ramalan itu tidak menentukan apa-apa, tugasku disini hanyalah sebagai pembaca nasib bukan merubah nasib seseorang. Hanya kamu sendirilah yang bisa merubah dan memutuskan masa depanmu sendiri.
"T-Terima kasih, senpai."
"Nah, kalau begitu tugasku disini sudah selesai."
"Selanjutnya, Maki-chan! Apakah kamu tertarik untuk diramal?" Tawar Nozomi kepada Maki.
"EEHH?!"
.
Apakah Maki akan menerima tawaran Nozomi untuk diramal ataukah dia malah akan bergabung dengan klub Tarot dan Aktivitas Paranormal? Apakah Rin jadi masuk klub Olah Raga?!
.
Periode 5-1: Bersambung
.
.
Pojok Nulis: Yey! Saya terpaksa bikin chapter ini jadi 2 bagian. Dalam rangka menyambut Love Live! Sunshine! di cerita ini bakalan ada sedikit aksi numpang lewat dari para member tersebut. Btw, kalian nonton, kan?! Hohohoo...
.
Thx buat Lemonchi buat komentarnya lagi, hayo.. kira-kira siapa yah? :p, Thx juga buat Anata 1703 komenmu selalu dinanti deh... :3
.
Visit my blog: reason4live . blogspot . com OK! - tangan saya masih gatel buat terus nulis. ;)
