Chapter 6: Ekskul 2 / Rahasia

.

"EEHH?!"

"A.. Aku tidak jadi! Maaf..."

"Ehh, kenapa?" Tanya Nozomi heran.

"Maaf senpai, tapi aku benar-benar tidak menginginkan ini." Jawab Maki sambil terus menundukkan kepala.

"Uhhmm, baiklah.. Aku mengerti."

"Bagaimanapun juga, Aku menghargai kesempatan kalian yang mau berkunjung ke klub kami."

"Terima kasih banyak."

"Nah, Kalau begitu apakah Koizumi-san berminat untuk bergabung ke klub kami?" Tawar Senpai dengan mata berbinar-binar.

"Ehh, tentang itu... Mungkin aku masih harus melihat klub yang lainnya lagi. Hehehehe..."

"O..Ohh! Begitu yah... Aku mengerti." Tandasnya sedikit kecewa.

"Yappari, jaman sekarang memang sudah tidak ada lagi orang yang mau percaya lagi dengan kegiatan spiritual semacam ini." Gumam Nozomi menyerah. Sementara Maki dan Hanayo hanya duduk terdiam di tempat mereka berada menemani kesedihan senpainya hingga usai.

"Yosh! Baiklah... Setelah ini kalian mau kemana?"

"Umm, memangnya masih ada lagi ruangan klub lainnya di sekitar sektor ini?"

"Apakah kamu sudah berkunjung ke ruangan pojok itu?"

"Hah, masih ada ruangan lagi?"

"Err... Ada sih, tapi rasanya klub itu akan segera ditutup tahun ini karena hanya tinggal tersisa satu anggota saja."

"Begitu yah? Memangnya, ruangan apakah itu?" Tanya Hanayo penasaran.

"Klub Penelitian Idola."

.


.

Setengah jam berlalu, Maki lalu memutuskan untuk pergi seorang diri meninggalkan Hanayo yang masih tetap berada di dalam ruangan klub penelitian idola. Meskipun ruangan itu terbuka dan tak seorangpun di dalamnya namun Hanayo tampak antusias saat berada disana. Tanpa henti dia menceritakan satu per satu sejarah para idola yang terpampang di dinding meskipun Maki tampak tidak tertarik untuk membicarakannya, oleh karena itulah Maki pamit untuk keluar dari tempat itu meninggalkan Hanayo yang telah memutuskan untuk tinggal disana hingga sang empunya ruangan itu datang. Maki hanya menduga bahwa klub itu memang cocok untuknya.

Kini, Maki yang seorang diri kini hanya pergi melangkah tanpa arah menyusuri ujung lorong yang ada di jalurnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan kegiatan acara sekolah ini sebaliknya ingin segera mengakhirinya. Lorong demi lorong dilaluinya hingga langkah kakinya mengantarkannya berdiri di sebuah pintu ruangan. Ruang Musik.

Maki yang melihat ruangan itu kosong mencoba untuk memasukinya dan berhasil. Ada sedikit rasa penasaran dari dirinya mengapa ruangan ini kosong padahal seharusnya ruangan ini digunakan oleh klub musik. Sejenak dia berdiri mematung saat melihat ornamen musik di dinding ruangan itu, bingkai foto dari alumni SMA, dan piagam usang yang terletak di tengah ruangan membuat ruangan ini terasa bersejarah.

Pikirannya mencoba merenungkan dan kemudian dia baru tersadar bahwa memang tidak ada Klub Musik di sekolah ini. Sayang sekali, pikirnya. Dia lalu melangkah maju ke depan dan mendapati sebuah grand piano tua yang masih rapih dibungkus oleh taplak putih.

Belum sempat tangannya menggapai piano tersebut tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggil namanya.

.

"Maki-chan!"

"Kyaaa!"

"Ehh, R-Rin?!"

"M.. Maki, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Apakah kamu sudah menemukan Kayo-chin?!" Tanya Rin heran.

"Uhmm.. (angguk kepala). Lantas kamu sendiri?! Jadi bergabung dengan klub olah raga itu?"

"Uhhmmm..." Kata Rin mengganggukkan kepala dengan suara serak.

"Mereka benar-benar gigih untuk memaksaku ikut bergabung dengan mereka, nyaa."

"Heeh? Selamat yah... Bukankah kamu seharusnya senang?!"

"I-Iya sih, tapi mereka menyuruhku untuk ikut kegiatan ekstra kurikuler mereka."

"Hmm... Trus? Kan bagus toh?"

"Harusnya sih gitu! Tapi aku dipaksa bergabung dengan SEMUA KLUB DISANA!"

"M... Memangnya ada berapa?"

"Klub Lari, Basket, Renang, Volly, Bulu Tangkis, Kyudo!" ENAM... BAYANGIN ENAM KLUB!"

"Gleekk... K-Kau tidak apa-apa, kan?!"

"Aku capek, nyaa!" Jawab Rin berkeluh kesah membaringkan kepalanya di bahu Maki.

"Oh iya, Maki-chan ngapain disini?"

"A-Aku..."

"Oh iya, ayo kita susul Hanayo sekarang!" Pinta Maki mengalihkan pembicaraan sambil menarik lengan Rin meninggalkan ruangan itu.

"Ehh, kau sudah tahu dimana Hanayo berada, Maki?"

"Kyaaa..."

.

Maki dan Rin lalu pergi meninggalkan ruangan itu menyusul Hanayo yang juga baru saja keluar meninggalkan ruangan klub penelitian idola dengan paras berbinar-binar. Tanpa perlu ditanyakan lagi Maki juga mengerti bahwa Hanayo baru saja selesai mendaftarkan dirinya mengikuti klub penelitian idola tersebut. Mereka bertiga lalu kembali ke dalam kelas untuk lekas pulang sekolah.

.

"Nah, jadi Hanayo, kamu resmi bergabung dengan klub penelitian idola, yah?" Tanya Maki sambil jalan.

"Iya, Maki-chan... Aku tidak menyangka senpai disana memiliki minat yang sama denganku."

"Aku berharap kamu sukses disana yah?""

"Uhmm... Kalau Maki?" Kata Hanayo antusias.

"Tidak ada klub yang menarik perhatianku. Jadi aku pass!"

"Oh, begitu yah? Kalau Rin?!"

"Aku jadi bergabung dengan klub olah raga, nyaa." Jawab Rin lemas.

"Ehh? Kamu kenapa?"

"Ahh, dia cuma kelelahan karena harus mengikuti klub disana."

"Kayo-chin...!" Rengek Rin manja. "Gendong!"

"Ehh?!"

.

Pada akhirnya mereka menyelesaikan jam sekolah mereka dan segera pulang meninggalkan gedung sekolah. Seperti biasa Rin dan Hanayo pulang bersama, sedangkan Maki masih berada di dalam kelas untuk menunggu kedatangan kendaraan jemputannya.

.

"Ahh... Hari ini sungguh panjang, yah?!" Keluh Rin sambil berjalan lambat bersama Hanayo keluar dari sekolah.

"Ehehehe... Itu kan perasaan kamu saja Rin!"

"Tapi beneran, aku tidak pernah merasa selelah ini sebelumnya."

"Kamu yang terlalu berlebihan mengikuti ekskul. Habis ini kamu harus segera istirahat dirumah, yah?!"

"Siap kapten!" Jawab Rin sambil memberi salam salut.

"Ehh, ngomong-ngomong kok rasanya bawaanku hari ini enteng, yah?"

"Err... sepertinya ada yang kurang dari kamu deh, Kayo-chin?!"

"Ahh..." Gumam mereka kompak.

"TASKU...! TASMU...!"

"Mou, Kayo-chin pikun deh!" Sindir Rin.

"Ahh, aku harus kembali lagi ke kelas lagi sekarang nih!"

"Ya sudah! Biar Rin yang ambilkan. Kamu tunggu saja disini sebentar!" Tuturnya sambil meminta Hanayo duduk di dekat halte bus.

"Maaf yah Rin, tolong!"

"Serahkan saja kepadaku!"

.

Hanayo hanya bisa duduk disana menunggu kepergian Rin yang berlari cepat bertolak dari sana menuju ke sekolahnya yang berjarak 500 meter. Sementara itu di dalam kelas yang kosong saat ini tampak raut muka marah terpampang di wajah Maki saat dirinya sedang mengangkat telepon ponselnya.

.

Di Dalam Kelas

.

"NGGAK...!"

"AKU SUDAH PERNAH BILANG, KAN?!, AKU NGGAK MAU! POKOKNYA AKU NGGAK MAU... TITIK!"

.

Bentak putri pewaris rumah sakit itu memutus percakapan ponselnya di dalam ruangan kelas yang telah kosong. Setidaknya itulah yang dia perkirakan sebelum kemunculan gadis tomboy itu dihadapannya dengan muka terkejut.

.

"M.. Maki-chan?!" Tegur Rin berusaha menggapainya namun sia-sia, sisa suara itu hanya berakhir di kerongkongannya saja

.

"Kyaa... Unn...Unn... Ugh!"

.

Dengan panik Maki segera berlari keluar dari kelas dan menghiraukan kehadiran Rin yang masih berdiri di depan pintu tersebut. Dengan panik Maki terus berlari menjauhi gadis tomboy tersebut seraya berharap agar dia tidak mengetahui apapun tentang apa yang sebenarnya telah terjadi tadi. Sementara itu sang gadis kucing yang masih berusaha mencerna situasi barusan hanya bisa terpana sambil memungut tas sahabatnya yang tertinggal di ruang kelas.

.

"Maki-chan?!"

"Kamu sebenarnya kenapa?!"

.


.

Semenjak hari itu Maki terlihat agak murung daripada sebelumnya. Meski dia tetap mau manyapa Rin dan Hanayo namun raut muka sedih dapat terlihat jelas di wajahnya. Rin yang tidak tahan untuk melihat itu lalu segera mendatangi Maki selepas jam makan siang.

.

"Maki-chan, kita harus bicara sekarang."

"Hmm.. Ada apa?! Apakah ini ada hubungannya dengan kegiatan kelas?"

"Ada! Sekarang ikut aku!"

Rin lalu segera menyeret tangan Maki untuk mengikutinya keluar dari kelas menuju tempat yang dikehendakinya.

"Rin! STOP! K-Kau itu sebenarnya mau membawa aku kemana, sih?!"

"Ehh, ini kan?!"

"Hei, kenapa kamu membawaku ke ruang musik ini lagi!"

Rin yang tanpa sepatah katapun menjawab pertanyaan random Maki hanya terus tersenyum sembari menyerahkan seutas tali gantungan kunci kepadanya.

"Aku kemarin datang ke ruang guru untuk menanyakan tentang nasib ruangan ini. Lalu Shibuya sensei memberi tahuku bahwa sejatinya ruangan ini tidak terpakai lagi karena klub musik sudah dibubarkan dan kini diambil oleh klub paduan suara. Hanya saja klub paduan suara telah memiliki ruangan sendiri yang lebih besar sehingga mereka tidak pernah memakai ruangan ini lagi."

"Karena itulah... Aku pikir kalau kamu suka dengan ruangan ini mengapa tidak mencoba membangun klub ini lagi saja. Nah, bagaimana Maki-chan?"

"HAH... Kau bercanda yah?!"

"Kau pikir siapa aku sehingga bisa membangun klub dari awal?! Lagipula sekolah ini akan segera ditutup, kenapa juga aku harus repot-repot melakukan itu!"

"Ahh... Kamu benar!" Sontak Rin terkejut.

"Kalau begitu memang tidak mungkin yah? Hehehehe..."

"Tapi, Maki-chan aku pikir tidak ada salahnya jika kamu bergabung dengan klub. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau sih tapi bukankah lebih indah jika kamu bisa menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman lainnya di sekolah ini. Mengukir kenangan terakhir bersama sekolah ini."

"Kamu itu yah..."

"Nah, kalau begitu tolong terimalah ini." Kata Rin sambil menyerahkan kunci yang dibawanya. Maki yang kebingungan hanya bisa terpongah menatap pemberiannya.

"Ini adalah kunci ruangan ini. Hehehehe..."

"Ehh, k-kenapa kamu memberikannya kepadaku?!"

"Entahlah, tapi ketika sensei mendengar bahwa kamu tertarik dengan ruangan ini, beliau memintaku untuk mengantarkan kunci ini kepadamu."

"A-Aku... Tidak mengerti ini semua!"

"Oh iya, aku dengar dari sensei katanya kamu pernah memainkan piano di SMP yah? Mungkin karena itu, yah?"

"E-Eh... I-Itu... A-Aku sudah lupa cara memainkannya." Gumam Maki pelan.

"Begitu kah? Umm,..." Seru Rin tertegun lalu tiba-tiba dia memegang kedua tangan Maki.

"Nah, kalau begitu bukankah ini kesempatan yang bagus untuk kamu belajar lagi dari awal disini? Dan suatu hari nanti apabila kamu sudah bisa menguasainya jangan lupa ajari aku yah?" Lanjutnya sambil menjulurkan lidah kecil.

"Gezz... Kamu itu yah? Selalu saja memaksakan kehendaknya sendiri."

"Ya sudahlah... Aku akan menerimanya." Ucap Maki dengan kepala tertunduk.

"Terima Kasih."

.

Maki dan Rin lalu keluar dari ruang musik tersebut bersama-sama. Meskipun Maki kini tampak sedikit lega namun itu tetap tidak mengubah mimik muram di wajahnya. Rin saat itu menyadari bahwa tindakannya barusan ternyata tidak menghasilkan apapun dan membuatnya sedikit menyesal.

Baru beberapa langkah mereka berjalan tiba-tiba Maki menghentikan langkahnya saat mereka melihat ada seorang teman mereka yang tergeletak pingsan di lorong koridor.

.

"Kyaaaa!"

"Psstt... Ini bukan saatnya untuk kamu berteriak! Kita harus segera membawanya ke ruang UKS!" Teriak Maki menghentikan kepanikan Rin. Rin yang mendengar instruksi Maki lalu menghentikan tingkahnya dan ikut membantu menggendong siswi tersebut.

"Ugh, Dimana... Dimana ruang UKS?!"

"Maki-chan, sebelah sini!"

"Ehh?!"

.

Maki hanya bisa terkesima melihat tingkah gadis sableng itu yang mendadak menjadi manly dan dapat diandalkan di keadaan seperti ini. Dia lalu bergegas menyusul Rin sampai ke ruang UKS dan membukakan pintu untuknya.

.

"TOLONG!"

"Sensei, tolong siswi ini! Kami menemukannya pingsan di lorong koridor sekolah tadi."

"Ehh, cepat bawa dia ke kasur sebelah sana!"

"Maaf, apakah kalian berdua tahu penyebab kenapa dia pingsan?"

"E.. Entahlah! Kami baru saja melewati koridor itu."

"Hmm.. Baiklah aku akan segera memeriksa dan merawatnya. Kalau begitu bisakah kalian mengisi buku tamu itu untuk catatan administrasi?!"

"Baiklah, aku akan mengisinya." Kata Rin sambil membubuhkan namanya di atas buku administrasi di susul Maki.

"Hmm... Nishikino Maki, yah?!"

"EEEHHH! Masaka...?!"

"Ada apa Sensei?!"

"Jangan-jangan kamu putri keluarga Nishikino yang termahsyur itu? Pemilik rumah sakit Nishiyama?!"

"Kau terlalu berlebihan, Sensei." Jawab Maki tidak antusias. "Itu memang benar."

"B-Bagaimana kabar ibumu?! Apakah Nishikino Sensei baik-baik saja?!"

"Sensei? Apakah kamu mengenal ibuku?!"

"Humm... Ibumu sebelumnya pernah bekerja menjadi dosen magang di universitasku berada."

"Ahh, itu cerita masa lalu.. Ehehehe!"

"Sensei, tadi namamu siapa?"

"Ahh, maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku adalah Shimamura"

"Baiklah, Shimamura-sensei, aku akan menceritakan tentang anda kepada mamaku nanti."

"Benarkah! Ahh, maaf merepotkan! Terima kasih banyak yah?!"

"Uhhmm... Bukan masalah kok."

"Ahh iya, apakah kamu sudah bergabung dengan klub, Nishikino-san?"

"Uhmm... Belum."

"Bagaimana jika kamu membantu sensei di ruangan ini?!"

"Ehh?!"

"Kebetulan kita kekurangan petugas UKS disini. Tapi kalau kamu tidak mau sih..."

"Aku mau!"

"Wah, Maki-chan... Akhirnya kamu bisa menemukan tempatmu di sekolah ini." Pekik Rin yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah laku Maki pada akhirnya tersenyum bahagia mendengar keputusan tuan puteri tersebut.

"A.. Apa-apaan sih kamu itu Rin! Berisik tahu!"

Jawab Maki tersipu malu, meskipun mulutnya menyangkal perkataan Rin barusan namun di dalam hatinya dia bersyukur bahwa Rin telah mengajaknya keluar dari ruang kelasnya hingga pertemuannya pada saat ini.

.

-000-

.

Hari Minggu, Rumah Sakit Nishiyama.

.

"Ahh... Kamu?!"

Seru Maki-chan terkejut saat melihat seorang gadis yang sangat dikenalnya sedang berbaring di atas kasur periksa pasien.

.

"Ahh, Maki-chan?! K-K... Kenapa kamu ada disini, nyaa?!" Tegur gadis itu terbata-bata.

"Gezz... Justru seharusnya aku yang tanya kenapa kamu ada disini?!"

"Bukan apa-apa sih, nyaa. Aku cuma ada janji untuk bertemu dokter disini. Tehehehe..."

"...Ruangan ini?" Gumam Maki sambil mengamati sekeliling ruangan tersebut. Gadis itu begitu keheranan mendapati Rin sedang berada di ruangan perawatan khusus penyakit dalam.

"Nah, kalau begitu sampai jumpa di sekolah besok, yah?!" Ujar Rin yang telah selesai merapikan kembali bajunya

"Tunggu, Hoshizora-san..." Tegur sang dokter.

"Jangan lupa untuk minum obatmu yah? Kamu juga tetap harus datang kembali di sini untuk melakukan check up ulang 2 minggu lagi."

"Tentu, bu dokter..." Jawab Rin sambil tersenyum.

"Nah, Kalau begitu saya pulang dulu sekarang. Terima kasih."

"Bye, Maki-chan"

.

Sementara Rin pergi meninggalkan ruangan, giliran Maki yang menjadi penasaran setelah melihat kehadiran temannya disini. Tanpa basa-basi Maki segera menanyakan itu kepada sang dokter yang masih berada di meja kerjanya.

.

"Anak itu, ada apa dengan dia... Mama?!"

.

Periode 5-2 / 6: End / TBC (?)

.


.

Pojok Nulis: Thx lagi buat Lemonchi dan Anata 1703 yang udah balik ngasih komentar. well, disini tema ceritanya gak ada cerita ttg bentuk idol grup, atopun nyelametin sekolah, yah. Tapi. . . . . = : 3 =

btw, baru-baru ini saya balik main SIF dan baru tau kalo punya banyak slot friend yg kosong,barangkali kalo mau nambah, ID: 435956753

.

Seperti biasa: kunjungi blog saya ^^/ (reason4live . blogspot . com)