Periode 7: Belajar Memaksa
.
Keesokan Hari, SMA Otonokizaka
.
"Ohayou, Maki-... KYAAA!"
Pagi hari itu sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, Tiba-tiba Maki yang baru saja memasuki ruang kelas segera mendatangi bangku Rin dan menariknya untuk pergi keluar meninggalkan kelas.
"K.. Kamu mau membawa aku kemana, nyaa...?!" Tanya Rin panik saat Maki yang tanpa sepatah katapun berbicara terus berjalan sambil menggandeng tangannya menuju ruang musik. Dengan segera dia membawa masuk gadis kucing itu masuk dan mengunci pintu ruangan kedap suara tersebut.
"Kamu, kamu kenapa masih ada di tempat ini, hah?!" Bentak Maki meski tersengal-sengal dengan nada serius.
"Ehh?!"
"Kamu... Kamu itu seharusnya berada di rumah sakit sekarang!" Lanjut Maki berbicara dengan mata terbelalak lebar.
"Ehh... Itu...?"
"Tehehehe... Kamu itu ngomong apaan sih, nya?!"
"BERHENTI MENGELAK!"
"Ehh?"
"Sudahlah! Kamu jangan berbohong lagi kepadaku!"
"Oh, begitu yah... Jadi aku sudah ketahuaan yah?" Ujar Rin sambil tersenyum tipis menghembuskan nafas pendek.
"Maki-chan. Tenang saja, Aku baik-baik saja kok, nyaa.."
"Gezz, "Baik-baik saja" gundulmu!... Loe itu sakit!" Umpat Maki kepadanya
"Kamu tahu... Dokter yang kemarin memeriksamu itu adalah Mamaku!"
.
.
Sore Kemarin, Rumah Sakit.
.
"Anak itu, ada apa dengan dia, Mama?"
"Humm, Ada apa Maki-chan? Apakah kamu mengenal dia? Temanmu?!" Tanya sang ibu dokter kepada anak gadisnya.
"E-Enggak juga sih..." Sanggah Maki dengan muka memerah.
"Kalau begitu aku tidak bisa memberitahukanmu."
"Unnn... Unnn..."
"Unn, Dia itu teman sekelasku!" Timpal Maki cepat karena semakin penasaran.
"Ehh, Teman sekelas, yah?"
"Baiklah..." Jawab sang ibu sambil menutup berkas data riwayat pasiennya, sebuah bundel dokumen cukup tebal yang bertuliskan nama gadis itu, Rin Hoshizora.
"Anak itu unik, dia itu rapuh tapi kuat." Tutur sang Ibu saat berdiri dari bangkunya untuk mengembalikan dokumen.
"M... Maksudmu?"
"Saat ini anak itu sedang berjuang keras untuk mempertahankan stamina tubuhnya yang semakin menurun setiap tahun. Penyakit yang terjadi akibat sistem tubuh gagal menafsirkan masuknya sel asing dengan sel tubuh dan malah menyerang balik organ tubuhnya sendiri. Singkat kata, saat ini kekebalan tubuh anak itu sedang terganggu.
sehingga membuatnya menjadi tidak peka dari waktu ke waktu. However, bahkan alergi tertentu ataun penyakit flu sekalipun dapat menjadi ancaman serius bagi jiwanya."
"I-Itu, Masaka?! Penyakit imunitas?! Maksudmu AIDS?!"
"E-Eh, Kamu bercanda, kan?!" Bentak Maki panik namun sang ibu hanya menanggapinya dengan tertawa geli sambil menggelengkan kepala.
"Tenang, Maki-chan.. Bukan separah itu, kok."
"Secara medis, anak itu terkena penyakit Hepatitis Autoimun. Apakah kamu mengerti tentang penyakit itu?"
"Eehh? Gak mungkin!"
"Penyakit ini adalah penyakit kronis akibat malfungsi sistem kekebalan tubuh. Karena itulah setiap kali ada sel asing yang memasuki tubuh maka bukan hanya patogen saja yang dihancurkan namun juga menyerang sel hati. Perkembangan Sel T dalam membentuk antigen menjadi tidak terkontrol sehingga menyebabkan kerusakan jaringan hati dan seandainya dia tidak mendapat pengobatan sejak dini maka anak itu bisa saja mengalami kematian lebih cepat."
"However, Sesungguhnya aku juga terkejut karena kasus ini sangat langka terjadi di Jepang. Hanya ada kemungkinan sekitar 2% untuk penyakit ini bisa terjadi di Asia."
"A-Apa?! K-Kenapa bisa begitu?!"
"Entahlah, Aku juga belum dapat menyimpulkan penyebabnya. Mungkin itu karena faktor genetika. Namun kami belum bisa menyimpulkan itu karena dari kedua orang tua Rin tidak memiliki riwayat diagnosa penyakit Autoimun."
"Yang jelas kami telah berbuat semaksimal mungkin untuk memulihkan daya tahan Rin setiap tahunnya."
"S-Setiap tahun?!"
"Yah, Selama ini Rin telah rutin dirawat di rumah sakit ini untuk mendapatkan terapi pengobatan yang berfungsi mengendalikan perkembangan ekstrim antibodi imun dalam tubuhnya. Meskipun cara ini sebenarnya kurang efektif namun cukup ampuh untuk membuatnya bertahan selama 12 tahun ini."
"D.. Dua belas tahun?!" Pekik Maki yang tidak bisa lagi menalar jalan percakapan ini.
"R-Rin?!"
"Mama, Apakah penyakit ini tidak bisa disembuhkan?!" Tanya Maki putus asa namun sang ibu hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
"Selain transplantasi hati baru, dia..."
"L-Lantas, Kalau begitu lantas kenapa dia tidak dirawat di rumah sakit saja?!"
"Aku sudah berkali-kali memintanya untuk dirawat disini tapi dia terus menolaknya. Seperti yang pernah aku katakan tadi, semangatnya untuk tetap hidup normal benar-benar kuat." Jawab sang ibu sambil menggantung jubah putih dokternya dan berganti dengan blazer krem.
"Jadi, apakah saat ini dia baik-baik saja?" Tanya Maki murung.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakan tentang itu."
"Ehh, K- Kenapa?"
"Sebagai seorang dokter aku telah disumpah untuk merahasiakan data riwayat pasienku."
"Kau tahu, baru-baru ini dia telah mengikuti aktivitas klub olah raga di sekolahnya. Kau yakin tidak khawatir dengan itu?"
"Hmm... Meskipun begitu aku tidak berhak mengatur passion dia. Maki-chan, tolong kamu awasi dia, yah?"
"MAMA?!" Bentak Maki sambil menggebrak meja.
"Namun, bukankah tadi kamu bisa melihat dia tersenyum ceria? Itu tandanya bahwa untuk saat ini keadaan tubuhnya masih baik-baik saja, kan?"
"Bagaimanapun juga, Rin-chan itu memang gadis yang luar biasa."
.
.
SMA Otonokizaka
.
"Maki-chan, Aku baik-baik saja kok. Sungguh!" Kata Rin mencoba meyakinkan Maki.
"Ibumu sendiri yang mengatakan bahwa meskipun penyakit ini sering kambuh, tapi bukan berarti penyakit ini tidak bisa disembuhkan."
"Tapi, meskipun itu benar..." Timpal Maki geram namun Rin segera menyela perkataannya lagi.
"Lihat, Aku bahkan sampai saat ini tidak pernah merasakan gejala sakit sama sekali, nyaa! Lihat, Rin 100% Sehat, nyaa!" Sahut Rin sambil memutar balik badannya beberapa kali. Namun keceriaan Rin itu tetap tidak mampu menutupi kepedihan Maki yang masih bermuka muram sambil menundukkan kepalanya. Keadaan itu membuat Rin gusar dan perlahan mendekati Maki sambil menggapai pundaknya.
"Tenanglah Maki-chan.. Kamu benar, selama ini tubuhku ini memang memiliki sedikit masalah namun Rin tidak mau jadi orang yang lemah karena keadaan itu. Selama Rin tahu ada kesempatan untuk menang maka aku tidak akan menyerah untuk terus berjuang mengalahkan itu!"
"Daijobu, Rin ngerti kok batasan tubuh Rin sendiri!" Kata Gadis itu tersenyum lebar.
"Tapi, aku berterima kasih lho, karena Maki-chan mau repot-repot peduli dengan keadaanku."
"Kamu... Kenapa kamu itu bisa mempunyai semangat hidup yang sangat kuat?!"
"Umm..."
"Itu, Mungkin itu karena aku masih ingin berteman dengan Maki-chan. Hihihi..." Jawab Rin dengan senyum cerah mengembang.
"Kau itu anak yang aneh..."
.
.
2 Minggu Kemudian, Rumah Sakit Nishiyama
.
"Ah, Dokter Nishikino... Selamat pagi." Sapa Rin dengan baju kasual biru favoritnya memasuki ruangan untuk melakukan pemeriksaan rutin.
"Selamat pagi... Bagaimana keadaanmu Rin-chan?"
"Rin, selalu bersemangat, Nyaa..!'
"Hihihi... 100% Genki, yah?"
"Hummpphh (angguk kepala)..." Jawab Rin dengan ceria.
"Emm, dr. Nishikino... Anoo, Rin boleh tanya sesuatu?"
"Tentu saja. Apa...?"
"Apakah benar anda adalah mamanya Maki-chan?"
"Yah benar.. Hummhh, Bukankah kamu adalah teman sekelasnya. Bagaimana kabar dia di sekolah?"
"Ehh, Maki itu anak yang sangat pintar di sekolah, Tante...!"
"Dia selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap usahanya namun tidak ingin menonjolkan dirinya. Tapi sebetulnya aku juga tidak terlalu mengenal tentang Maki, sih. Hehehehe... Tapi aku akan berusaha menjadi sahabat terbaik untuknya!"
"Ohh... Kalau begitu aku mohon terus bantuannya untuk berteman dengannya, yah?. Hehehe..." Sahut Dr. Nishikino dengan wajah cerah.
"Y-Yoroshiku.."
"Nah, kalau begitu kita mulai saja pemeriksaannya sekarang, ok?."
.
Sekitar 1 jam Rin berada di ruangan tersebut untuk melakukan pemeriksaan. Jam pemeriksaan berlangsun dengan lancar dan kini tiba waktunya untuk Rin pulang. Namun belum sempat dia memasang kancing di bajunya tiba-tiba Rin dan dr. Nishikino dikejutkan dengan suara gaduh yang berasal dari luar ruangan. Mereka berdua lalu segera keluar dari ruang pemeriksaan untuk mencari sumber suara gaduh tersebut dan betapa terkejutnya Rin ketika mengetahui bahwa suara gaduh itu ditimbulkan oleh Maki yang sedang berdebat hebat dengan seorang lelaki paruh baya, berbadan tegap dan berambut pirang yang saat ini sedang menarik lengannya.
.
"Let me go! I don't wanna meet with you in here!"
"SHUT UP!"
.
"Ehh.. Maki-chan?"
"Gezz, Dasar Anak itu!" Ujar Ibu Maki sambil menggaruk kepalanya.
"Tante Nishikino... Bapak itu siapa?" Tanya Rin polos.
"Ehh,Tante?!"
"Ah, dia itu papanya..."
"Ehh... PAPANYA MAKI?!" Seru Rin terkejut.
"Err...Orang luar negeri yah?"
"Yah begitulah... Tehehehe..."
"Jadi, kenapa Maki selalu bertingkah seperti itu?" Tanya Rin pelan
"Humm, Entahlah... Anak itu mulai bertingkah aneh semenjak kejadian itu..."
.
.
Tiga hari kemudian, SMA Otonokizaka
.
"Woah, Rin-chan...! Tumben kamu bawa kamus bahasa inggris?!" Seru Hanayo takjub.
"Tehehehe... Kayo-chin, mulai saat ini Rin akan serius belajar bahasa inggris!."
"Ehh? Kenapa tiba-tiba?"
"Tehehehe..."
Pada siang hari itu di ruang perpustakaan sekolah, Hanayo melihat Rin sedang meminjam banyak buku panduan belajar bahasa inggris yang akan dia bawa pulang ke rumah. Di hari berikutnya Hanayo mendapat kabar dari orang rumah bahwa Rin telah mengikuti les bahasa inggris setiap sore hari. Sesuatu yang aneh bagi Hanayo mengingat bahasa inggris adalah mata pelajaran yang dia benci. Yah, meskipun itu adalah hal yang bagus sih.
.
2 bulan kemudian.
.
"...Dan yang mendapat nilai tertinggi untuk ujian bahasa inggris kali ini adalah..."
"Hoshizora Rin."
"HEEEEEHHH...!"
.
Seru gaduh para murid segera menyelimuti kelas saat guru bahasa inggris mereka mengumumkan hasil ujian di depan kelas. Mereka semua tercengang mendengar itu karena mereka tahu bahwa selama ini Rin selalu mendapat nilai terendah di pelajaran ini. Namun kali ini dia bahkan telah mengalahkan Maki yang merupakan juara kelas.
"Psstt... Nggak mungkin... Bukan Maki?!"
"Psstt... Bukannya Rin-chan bulan lalu yang mendapat nilai terendah di kelas? Ini pasti bohong kan?"
"Dia abis belajar mantera apa, sih?!
Sementara bisik gaduh pecah di ruangan kelas namun keadaan itu sama sekali tidak mempengaruhi sikap Maki yang terus muram, dingin dan tidak antusias. Keadaan itu diperparah dengan fakta bahwa tidak ada teman lainnya yang mengajak ngobrol dengannya.
"M... Maki-chan?" Ujar Rin yang masih tertegun berdiri dari bangkunya mendapati hasil itu seraya memandang Maki.
"Huft, Bodo amat, ahh...!" Kata Maki cuek sambil membuang muka.
.
.
Sore Hari, Rumah Maki
.
"NINETY THREE!"
"EHH?! WHAT THE HELL WITH THIS SCORE?! AND IT SAY THAT YOU AREN'T THE TOP ON THIS STUDY?!" Bentak pria setengah baya itu kepada anak gadisnya semata wayang.
"STUPID GIRL! YOU'VE BEEN MADE EMBARRASED NISHIKINO FAMILY!"
"...But I was tried the best i can! And you dont have right to set all of my life!" Teriak Maki tidak kalah keras.
"What?! You, Bad Girl!" Bentak sang Ayah dengan tangan terangkat bersiap untuk menamparnya
.
*ting tong*
.
Tiba-tiba terdengar deringan bel pintu rumah berbunyi yang menyela perdebatan panas antara anak dan ayah itu. Sang ayah lalu meninggalkan Maki sendirian di ruang tamu dan menuju ke kamarnya.
"Gezz... Do not think it's all over..!"
.
*ting tong*
"Permisi..." Terdengar suara gadis dari luar pagar. Maki segera pergi meninggalkan ruang keluarga dan menuju pintu luar. Saat itu memang tidak ada pembantu yang berjaga di dalam rumah Maki sehingga hanya meninggalkan Maki dan Ayahnya di dalam rumah.
"Siapa?! Oh kamu..."
"Ngapain kamu ke rumahku, huh?!"
"Hai, Maki-chan... Nih, Aku cuma mau mengembalikan bukumu yang ketinggalan. Hehehe..."
"Ehh, Buku Bahasa Inggris? Kenapa?..."
"Tadi siang buku ini ketinggalan di mejamu... Jadi, aku bawakan juga sekalian. Aku sebenarnya juga mau mampir ke rumahmu, sih."
"Oh iya, kenapa kamu tidak cerita kalau rumahmu yang sebenarnya adalah disini, sih?! Aku pikir rumahmu itu ditempat yang kemarin..."
"Untung aku berhasil mendapatkan alamat rumah ini berkat bantuan salah satu om disana."
"Heeh?... Sialan kau, Rudolfo!"
Sesaat Maki hanya bisa diam termenung menatap buku miliknya namun semakin lama memadang itu tiba-tiba hatinya menjadi panas dan perasaan benci itu mendadak membesar sesaat memandang senyuman polos Rin yang tidak tahu apa-apa tentang keadaan hati Maki. Tubuh Maki bergetar pelan saat mendengar suara gadis kucing itu menyebut namanya.
.
"Tciihh... Kamu, kamu sengaja melakukan ini kan?!" Gugat Maki dengan suara gemetar.
"Eeeh?"
"Kamu juga berniat menghinaku, kan?!"
"Tung-Tunggu sebentar Maki-chan! Aku hanya berniat mengembalikan bukumu saja! Aku tidak pernah bermaksud menghinamu malahan aku ingin berteman denganmu!"
"Tcihh... Ayolah, silahkan hina aku sepuasnya sekarang?! Berteman? Kamu pikir aku akan percaya kata-katamu itu selama ini?! Mana mungkin sih ada orang yang mau tulus berteman denganku?!"
"Tapi, Jangan kira karena nilai ujianmu hari ini yang tertinggi kamu bisa seenaknya merendahkan aku, yah?!"
"Eh, Rin tidak pernah berpikiran seperti itu kok, nyaa!"
"DIAM! A.. Aku tahu! Kamu pasti mengharapkan hadiah dariku kan? Sudah katakan saja sekarang apa maumu? Uang?! Boneka?! Fasilitas?! Ayo, katakan saja!"
*PLAAKKK!*
Kejadian itu terjadi dalam sekejab mata. Akal Rin masih belum mampu mencerna dengan logis kejadian yang telah terjadi tersebut, yang dia sadari adalah telapak tangan kanannya menjadi panas setelah menampar pipi mulus gadis kaya tersebut. Guratan bola matanya membesar seiring hirupan nafas yang keluar-masuk dari hidungnya. Setitik air matapun keluar dari membasahi bawah kantung matanya.
"M.. Maki-chan... Kamu keterlaluan!"
Diam, tidak ada respon balik dari Maki yang telah membuat suasana di depan pintu rumah itu menjadi tegang. Sementara Rin yang baru bisa menenangkan hatinya kini menjadi murung dan tertuduh perasaan bersalah akibat perbuatannya. Namun tiba-tiba muncullah seseorang yang memecah suasana tersebut.
.
"Maki, Who is that?" Ucap suara dari dalam rumah.
"Nothing..."
"Kamu... Pulang sana!"
"Hmm... Ohh, hai.. who is she?"
Tiba-tiba lelaki tersebut telah sampai di ujung depan pintu membelakangi Maki, Maki dan Rin juga terkejut dengan kedatangan orang tersebut. Rin yang galat segera menata sikapnya untuk menyapanya dengan ramah.
"Lets, come in?!"
"Good Afternoon Mister... Oh, Are you Maki Dad, Right?" Tegur sapa Rin dengan sopan.
"Good Afternoon, Nice to meet you! Oh, Do you can english speaking well?.."
"Nice to meet you too.. Ehh, Just little bit" Jawab Rin tersipu malu. Setelah itu Maki terpaksa mengantar Rin masuk kedalam rumahnya.
"So, your name is Rin, right?! You must be the one who was break Maki best score today, right?!"
"Umm.. R-Right."
"Ahahaha... You must be the smartest girl, right?! I have no wonder again. Hahahaha..."
"No, Mister... Ehehehe... I'm not really like that. Anyhow, Truly, Maki-chan are the most smartest girls in my class, sir!"
"Ahahaha, You are just oversimplify...!" Sanggah sang Ayah dengan nada mengejek.
"No, i mean it, sir!"
"Rather than me... Rin, who coincidental get a nice score in one study. Maki-chan is much more consistent to keep her best score at all. You know, She was getting rank A+ in any other study in today." Ujar Rin melanjutkan perkataannya.
"Hmm..."
"Therefore, sir... Pardon me to asking here but, I have one simply request to you... Please let Maki-chan to take piano lesson again ...!"
"Heh? What are you supposed to mean? "
"I'm sorry for my rudeness, sir. But I've heard from Maki Mom that Maki really wanted to playing piano again, meanwhile you still don't allow it." Kata Rin tanpa basa-basi.
"Well, I did not allow it because it has absolutely nothing to do with her future! Moreover, what is the hell business with you?!"
"Pardon me sir, i did not mean to be rude to you, but isn't the only person who have right to determined Maki future is herself?!" Sambungnya sambil menatap Maki.
"Gezz... OK! Enough! I don't wanna listen anything again from you! Please get out from here!"
"But, sir?!"
"Cukup Rin...!" Kali ini giliran Maki yang angkat bicara kepada Rin dengan bahasa jepang.
"Nggak, Tidak untuk kali ini Maki-chan...!"
"Justru karena saat inilah alasan aku belajar bahasa inggris mati-matian!" Kata Rin sambil menarik nafas panjang.
"Itu karena aku ingin berbicara dengan papamu secara langsung!"
"Rin?!"
Pada saat itu Maki benar-benar tertegun mendengar pernyataan Rin, dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis yang selama ini dia benci karena sifatnya yang sangat menjengkelkan baginya malah bertindak sejauh ini hanya untuk mendekatinya.
.
"Heehh...?! Aku mengerti..."
"Begitu yah, Jadi itu yah alasanmu yang sebenarnya?" Ujar Papa Maki menyela pembicaraan mereka.
"Ehh, A.. Anda bisa berbicara bahasa jepang?" Seru Rin kaget.
"Tentu saja... Memangnya kamu pikir bagaimana caranya aku bertemu dengan mamanya Maki? Hahaha..."
"Jadi, Om...?" Tanya Rin gugup.
"Baiklah, aku mengerti... Maki, aku akan mengijinkanmu untuk les piano." Kata Papa Maki sambil tersenyum kecil. Sebuah senyuman langka yang jarang dia lihat selama ini.
"Beneran om! Yey... Maki akhirnya kamu bisa ikut les piano!" Ujar Rin kegirangan dengan mata berkaca-kaca memegang kedua tangan Maki.
"Tapi, Dengan syarat bahwa kamu harus bisa mendapatkan nilai teratas di semua mata pelajaran."
"A.. Aku mengerti." Jawab Maki yang tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
"*마키, 당신은 아주 좋은 친구가." Kata Papa Maki sambil pergi lalu meninggalkan mereka berdua
(*dibaca: maki, dangsin-eun aju joh-eun chinguga; Maki, you have a very goodfriend)
"Ehh..." Kata Rin tercengang mendengar kata-kata Ayah Maki yang terakhir.
"...Barusan tadi papamu ngomong apa sih?!"
"Bukan apa-apa... Cuma Bahasa Korea... Papaku adalah orang korea."
"EHHH!" Seru Rin terperangah dengan peluh keringat dingin yang terus menetes dari wajahnya.
"Unn... Rin, kenapa kamu harus repot-repot melakukan ini untuk aku?" Tanya Maki pelan tersipu malu.
Maki masih menunggu jawaban gadis itu dengan kepala tertunduk namun tak satu suarapun yang terucap darinya. Keadaan ini membuat dia menjadi gusar dan memberanikan diri melihat keadaan Rin dan tidak disangka dia melihat wajah Rin yang berubah menjadi pucat dengan keringat deras mengucur dari kulitnya seraya terus memegang perutnya. Dia lalu menjadi kelimpungan, dan kehilangan tenaga untuk berdiri.
.
"A... Aku..."
.
*brukk*
.
"Rin?!... Hei, kamu kenapa?!..."
"Hei... Bertahanlah!"
.
Periode 7: End
.
.
Pojok Nulis: Thx buat Lemonchi dan Anata 1703 yang sudah setia ngasih komen lagi. Terima kasih buat para pembaca cerita ini. Tinggal 2 chapter lagi dan cerita ini akan . . . Terima kasih banyak. :)
Ps: Tolong koreksi yah kalau ada salah penerjemahan katanya. :)
