Periode 8: Kilas Balik

.

"Rin-chan!"

"Hei, Rin-chan!"

"Bertahanlah...!"

"Buka matamu... RIN!"

.

"M... Maki-chan?"

"Aku... Kenapa?"

.

Maki berkali-kali mengulang seruannya kepada Rin yang tergolek lemah di atas kasur pasien di sepanjang lorong rumah sakit. Namun sekeras apapun dia berteriak Rin tetap tidak bisa memberikan respon apapun selain terbujur lemas tidak berdaya. Langkah kakinya menderu nyaring seiring tapak kaki yang memburu cepat meniti langkah perawat dan dokter jaga yang segera menuju ruang ICU.

"Gadis itu... Kamu, kenapa kamu harus berbuat sejauh ini untukku?" Berkali-kali pertanyaan itu terulang di dalam batinnya, rasa bersalah mulai timbul di hatinya. Bahkan tangisan air matanya tetap tidak mampu menalar perbuatan temannya tersebut. Dari depan ruang ICU itu, Maki hanya bisa berdiri termenung sembari menatap lampu darurat yang telah berubah menjadi merah. Maki kemudian duduk bersimpuh di depan pintu tersebut. Sambil memejamkan mata dan tangannya, untuk pertama kalinya dia berdoa kepada Tuhan berharap agar suatu mujizat bisa terjadi di depan matanya.

.


.

"M... Maki?!"

"Maki, mulai tahun depan kamu akan masuk ke SMA Otonokizaka."

"Ehh!... Kenapa?!"

"Kami yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kamu, sayang..."

"Ehhh..."

"K- Kalian... Kalian jahat!"

"Maki, Tunggu, Nak..."

"Sudahlah, Sayang... Biarkan saja dia seperti itu. Anak itu cuma anak kecil. Toh, Nanti kalau dia lapar pasti dia juga akan keluar dari kamarnya untuk makan malam."

-ooo-

Aku benci mereka! Aku benci, benci, benci, SANGAT MEMBENCI mereka!

Dan kejadian itu terulang lagi...

-ooo-


.

Sudah sejak lama ada banyak teman sekolah yang iri kepadaku karena aku adalah putri orang kaya.

Ok, memang itu benar, ayahku adalah seorang dokter yang juga merupakan direktur rumah sakit terkenal di Tokyo, sedangkan ibuku yang merupakan seorang perawat yang baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada tahun lalu. Jadi, mulai bulan ini dia juga telah resmi bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Ayahku. Dan tidak diragukan lagi bahwa bisnis rumah sakit ini nantinya juga akan dilimpahkan ke dalam tanganku yang telah ditetapkan sebagai pewaris tunggalnya. Aku juga sudah lama merasa bahwa cepat atau lambat mereka akan memaksaku untuk masuk sekolah kedokteran.

Ahh... Menyebalkan!

Ehh, B-B.. Bukan berarti aku tidak berminat menjadi dokter!

Hanya saja aku tidak suka dengan motivasi kerja mereka berdua sebagai dokter yang hanya terobsesi dengan harta, materi dan kedudukan sosial. Kalian tahu, itu SANGAT MEMBUAT AKU MUAK! Kehidupan terpandang membuatku selalu hidup dalam dunia yang semu. Aku bahkan hampir tidak pernah tahu apa artinya bersyukur karena diberi sesuatu dan mencari sendiri? Toh, pada akhirnya aku juga pasti selalu mendapatkan segala hal yang aku inginkan.

Sepi dan terbatas, itulah duniaku yang sebenarnya dibalik kemewahan dan kehidupan glamor yang serba bebas serta kekuasaan yang menghiasi hidupku itu tidak lebih dari tata rias panggung sandiwara belaka. Bisakah kalian membayangkan bahwa setiap harinya selalu ada satu pengawal pribadi yang menjagaku setiap kali aku keluar rumah, bahkan pada saat aku berada di sekolah!

Mereka benar-benar paranoid, kedudukan status mereka membuat diri mereka ketakutan bahwa sewaktu-waktu aku akan diculik atau diteror oleh orang jahat. Dan keadaan itu juga yang membuat aku hidup kesepian karena tidak ada seorangpun teman yang berani mendekatiku.

Singkatnya, tanpa sadar aku sudah melupakan jauh-jauh apa arti kata "teman" dalam hidupku.

Tapi apa gunanya mengeluhkan itu? Lagipula, Sejak awal aku memang terlahir sebagai anak tunggal di dalam keluarga ini. Itu adalah takdirku! Hidup mewah dan selalu terpenuhi, membuatku tidak habis pikir dengan pola pikir kebanyakan orang yang selalu mengatakan bahwa manusia harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.

Aku terus mencari tahu arti kata tersebut. Karena itulah meskipun aku memiliki banyak pembantu yang siap melayaniku selama 24 jam di dalam rumah ini tetapi aku juga lebih terbiasa untuk melakukan kehidupan mandiri, aku sebisa mungkin menyisihkan separuh uangku dan bertahan hidup dengan uang sebatasnya. Sebisa mungkin aku sudah tidak mau bergantung dengan uang mereka. Suatu kali aku menyadari bahwa aku memiliki bakat dalam bidang musik, oleh karena itu aku berusaha menggunakan kemampuan itu untuk menghasilkan uang.

Aku pikir mereka senang mengetahui anaknya bisa mencari uang sendiri, namun nyatanya malah sebaliknya...

.

Itu dimulai ketika aku mulai masuk sekolah SMP, ketika itu aku dan para murid baru lainnya diajak untuk berkeliling kompleks sekolah untuk melihat-lihat kegiatan klub ekstrakurikuler yang ada di sekolah itu. Sebetulnya tidak ada klub ekskul yang benar-benar menonjol di sekolah itu, hanya saja tiba-tiba aku tertarik melihat salah satu kegiatan klub disana, itu adalah klub musik.

Sebetulnya itu bukanlah klub yang besar bahkan jumlah orang yang mengikutinya tidak kurang dari 8 orang. Namun pada saat itu aku begitu terkesan dengan penampilan mereka ketika memainkan sebuah aransemen lagu klasik milik Beethoven, "Ode to Joy". Salah satu yang paling menarik perhatianku adalah ketika mendengar alunan suara piano yang dimainkan oleh gadis berambut merah jingga itu. Aku terkesan saat melihat dia mulai memainkan jari tangannya di atas tuts piano sambil tersenyum. Aku, meskipun aku juga sedikit bisa memainkan piano tetapi aku sama sekali tidak bisa melakukan itu.

Namun bagaimanapun juga untuk bisa mengikuti kegiatan ekstrakulikuler itu jelas bukanlah suatu hal yang mungkin untukku, karena orang tuaku pasti melarangku untuk mengikutinya.

Oleh karena itulah, daripada aku harus repot-repot untuk mengikuti klub ekskul aku lebih memilih untuk melihat mereka bermain dari kejauhan. Aku puas kok hanya mendengar mereka memainkan alunan lagu secara harmoni. Hingga suatu hari...

.

"Hai, Nishikino-san... Apakah kamu mau belajar main piano?" Tanya seorang guru musik menghampiri bangku mejaku di dalam kelas beserta dengan beberapa murid lainnya.

"Ehh...?!"

"Aku tahu kok kamu selalu mengintip kami latihan di ruang musik?" Lanjutnya sambil tersenyum.

"Ehh, E-E.. Enggak kok! Aku nggak pernah berminat mengintip kalian! Sungguh! A-Aku Cuma kebetulan lewat disana...!"

"Oh yah...? Apakah mungkin ada orang yang selalu sengaja untuk kebetulan lewat ke ruang musik setiap hari jum'at, jam 3 sore di tempat yang sama selama 3 minggu berturut-turut?"

"I-I... Itu...!"

"Nah, jadi besok jum'at, jam 3 sore, kamu harus datang ke ruang musik yah, OK?!... Byee..." Kata guru musik itu mengakhiri perkataannya tanpa memperdulikan jawabanku.

.

Dan begitulah, pada hari jum'at di minggu itu aku datang ke rung musik sesuai dengan janjiku. Guru itu menyambutku dengan ramah sambil memperkenalkanku kepada anggota pemain musik lainnya. Beliau lalu mempersilahkanku untuk duduk di depan grand piano hitam yang selalu dimainkan oleh gadis itu. Meskipun aku sudah membuat alasan bahwa aku tidak bisa memainkan piano tetapi dia tetap memaksaku untuk memainkannya. Dan...

.

"Tenang saja, Nishikino-san... Aku akan membantumu disini." Bisik seorang gadis yang baru saja memasuki ruangan itu sambil tersenyum memandangku. Seorang gadis yang selalu memainkan alat musik ini kini duduk disebelahku untuk bermain piano bersamaku.

Meskipun gugup, entah kenapa pada saat yang sama aku merasa bahwa kecemasan hatiku mulai menghilang dari diriku. Pada saat itu gadis itu mulai mengayunkan jemarinya ke atas tuts putih sembari mengalunkan sebuah lagu, lagu yang sudah pasti bisa dinyanyikan semua orang, "Twinkle-Twinkle Little Star". Akupun lalu mencoba mengiringi permainannya dengan memberikan nada mayor, lagu anak-anak itu kini tidak terdengar sama lagi saat kami memainkannya bersama-sama.

.

"Sakurauchi Riko..."Kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya kepadaku.

"Umm... Nishikino Maki." Kataku sambil menjabat tangannya.

"Nah, Nishikino-san... Bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk bermain piano bersama kami?"

"Itu, Entahlah... Orang tuaku melarangku untuk mengikuti kegiatan ekskul." Kataku sambil menundukkan kepala

"Oh begitu, sayang sekali yah... Padahal kamu juga berbakat untuk bemain piano." Pintanya sembari tertunduk lesu. Akupun tidak tahu harus membalas perkataannya seperti apa, jadi aku hanya terdiam dan membuat suasana disana semakin canggung namun tidak lama berselang tiba-tiba kami berdua dikejutkan dengan tepukan pundak dari belakang kami.

.

"Ahh, Tenang saja! Kalau itu, mungkin sensei bisa membantumu untuk berbicara dengan orang tuamu!" Kata guru musik itu yang tiba-tiba datang menyela pembicaraan kami.

"Ehh... Mustahil! Kamu tidak mungkin bisa berdiskusi dengan orang tuaku. Apakah kamu tidak tahu siapa aku ini?!"

"Nishikino Maki, anak dari pemilik Rumah Sakit Nishiyama, kan?!"

"L-L... Lantas, kalau kamu sudah tahu itu seharusnya kamu sudah mengerti kan?!"

"Humhh, Maki-chan, Memangnya orang tuamu bukan manusia, yah? Menurutmu, apakah mereka tidak bisa memahami perkataan manusia?"

"Ehh?! Apa maksudmu?! Kamu sedang meledek keluargaku?!"

"Jika mereka adalah manusia yang mengerti tentang bahasa manusia seperti orang normal lainnya tentu tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, bukan?!"

"I-Iya juga sih... Tapi...!" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku namun jemari telunjuk guru tersebut menyentuh bibirku sembari berkata:

"...Bahkan jika kata-kata tidak mampu meraih hati mereka, maka aku akan mencoba menggapainya melalui musik" Kata beliau sambil tersenyum lebar.

"Sensei, kamu bercanda, kan...?"

"Ya sudahlah, terserah kamu... Aku tidak ikut-ikut lho, yah!"

.

Singkat kata, malam itu Sensei datang ke rumah untuk berbicara kepada kedua orang tuaku. Untungnya, malam ini mereka berdua ada di rumah. Dan ajaibnya, mereka berdua memperbolehkanku untuk ikut ekskul klub musik tanpa perlu berdebat panjang.

Dan semenjak hari itu, sudah hampir satu tahun aku telah mengikuti kegiatan ekskul musik. Bulan desember tiba dan sekolah kami mendapat undangan untuk tampil dalam pertunjukkan musik di gedung balai kota. Aku sangat senang mendengar itu, bahkan aku mengajak kedua orang tuaku untuk datang kesana. Namun, hanya ibuku yang ikut sedangkan ayahku tidak.

Dan pengalaman itu tidak akan pernah aku lupakan karena itu adalah pertama kalinya aku mendapatkan uang honor karena bermain musik, sesuatu yang aku dapatkan melalui usahaku sendiri. Meskipun jumlahnya tidak seberapa namun aku begitu senang menerima uang itu melebihi dari semua uang jajan yang selama ini aku dapatkan setiap bulannya.

Bulan februari, ujian tengah semester genap dimulai. Aku mendapati bahwa prestasi nilaiku turun drastis, dan tidak perlu dikatakan lagi bahwa kedua orang tuaku begitu marah besar akan hal itu. Mereka menyudutkanku tentang kegiatan ekskul musik yang aku lakukan dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk melarangku mengikuti ekskul lagi. Dan semenjak hari itu setiap sore hari aku harus mengikuti les pelajaran tambahan.

Aku marah, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Riko tetap memperbolehkanku untuk mendatangi ruang musik dan bermain piano setiap jam istirahat ataupun jam pulang sekolah. Kami selalu menyempatkan diri untuk bermain piano bersama, namun itu tidak berlangsung lama. Pada bulan mei, Riko ditransfer pergi ke sekolah lain di luar kota oleh karena mengikuti pekerjaan ayahnya.

Aku sedih namun tidak dapat berbuat apapun, tanpa aku sadari 1 tahun berlalu dan aku sudah akan masuk ke jenjang SMA. Orang tuaku menanyakan kepadaku sekolah mana yang ingin aku tuju, aku berkata kepada mereka bahwa aku ingin melanjutkan ke sekolah musik "Takaruzaka Music High School" yang berada di Nagoya, Osaka. Kota dimana Riko pindah, aku pikir dia juga akan bersekolah disana untuk mengejar cita-citanya.

Sejujurnya aku juga tidak tahu apakah dia juga akan bersekolah disana, aku hanya ingat bahwa dia ingin menekuni dunia musik. Aku tidak memiliki kontak ponselnya oleh karena itu kami tidak pernah berhubungan lagi selama 1 tahun terakhir. Atau lebih tepatnya, dia yang tidak tahu bagaimana cara untuk menghubungiku karena ponselku telah disita oleh kedua orang tuaku.

Singkat kata, seperti yang dapat diduga bahwa mereka berdua marah besar atas keputusanku dan segera merobek surat undangan penerimaan sekolah yang telah aku dapatkan melalui jalur khusus, lalu aku dipaksa untuk masuk sekolah SMA Otonokizaka, sekolah pilihan mamaku. Sejujurnya, aku sama sekali tidak berminat untuk masuk ke sekolah SMA tempat mamaku pernah belajar itu. Selain tempat itu tidak populer dan juga karena sekolah ini akan segera ditutup, lalu...

.

"Hai, namamu Maki, kan?!"

"Maki-chan, ayo berteman denganku!"

Tegur gadis berambut pendek oranye itu menatapku dengan senyuman cerahnya. Yah, belum satu minggu aku berada disini dan anak aneh itu terus menggodaku dengan pertanyaan anehnya.

.

"Teman"...?

.

Maaf...

.

Aku sudah tidak berminat lagi untuk mendengar hal omong kosong semacam itu...!

.


.

Pojok Nulis: Anata 1703: Thx koreksinya, Untuk endingnya silahkan nilai chapter berikutnya yah. hehehe... Lemonchi: Thx You, seneng rasanya kalo bisa bikin org nangis berarti message-nya sampe ke pembaca *evil laugh*

*PS: Update dipercepat karena saya mau fokus main LLSIF sampe jum'at depan. Tolong doakan saya supaya dapet kartu idaman. bye-bye...