KEEP SILENT !

Rivaille x Eren Yaoi FanFiction

All Character (c)Hajime Isayama

Keep Silent (c)AkudanErika

*

*

Warning :

Mature(Sex)-Content, maybe PWP, Yaoi/BoysLove. Bocah dibawah 17 tahun boleh baca [LOL]. Tidak suka boleh baca [LMAO]. Alergi homo boleh baca [LMFAO]. Maafkan Erika teman-teman.

*

*

*

Eren mendengus tidak suka saat melihat Levi masuk kedalam apartemen(mereka berdua) bersama sekertarisnya. Rasa senangnya untuk menyambut kepulangan Levi dari Sina hilang begitu saja. Senyumnya yang terkembang lebar lenyap seketika.

"Aku pulang.." Ucap Levi pelan, tampak lelah. Tangannya bergerak meraih pipi Eren kemudian mengecup bibirnya singkat. Mengabaikan Petra yang tengah melepas sepatunya dan pura-pura tidak melihat adegan tadi.

"Kenapa?" Tanya Eren pelan. "Aku merindukanmu dan kau membawanya kesini.." Eren bergumam tidak suka, meraih tas Levi kemudian melenggang pergi ke ruang tamu.

"Apa Eren baik-baik saja?" Tanya Petra berdiri tak jauh dari Levi.

"Hm.. masuklah." Levi berjalan lebih dulu, membiarkan Petra mengikutinya dibelakang. Levi tahu Eren sedang ngambek padanya, pasalnya ia tidak memberitahu Eren bahwa Petra akan mampir lebih dulu sambil menunggu Oulo menjemputnya. Tapi biarlah, sebentar lagi ngambeknya juga hilang. Levi duduk lebih dulu di sofa, kemudian Petra duduk disebelahnya.

"Lelahnya.." Desah Petra sambil meluruskan kakinya. Sementara Levi melonggarkan dasinya sambil melirik Eren yang terlihat sibuk di dapur yang memang bersebelahan dengan ruang tamu, membuat minuman. Ditatapnya jam dinding diatas tv, masih pukul delapan malam dan Levi juga dapat melihat beberapa menu makan malam yang tersaji diatas meja makan.

Tidak lama setelah itu Eren kembali dengan dua cangkir teh panas diatas nampan. Wajahnya masih cemberut seperti sebelumnya.

"Bagaimana kuliahmu Eren? Sudah lama juga kita tidak bertemu.." Ujar Petra canggung, dan Eren benar-benar mengabaikannya. Pemuda sembilan belas tahun itu meletakkan satu persatu cangkir diatas nampan. Teh hitam untuk Levi, dan teh biasa untuk Petra. "Terimakasih.." Ucap wanita berambut coklat itu. Eren kembali kedapur, mencuci alat-alat masaknya.

Levi menyeruput tehnya dua kali, kemudian beranjak dari sofa, "Aku akan mandi." Ujarnya, lalu naik ke lantai dua. Petra hanya mengangguk, lalu meminum tehnya sambil sibuk dengan ponselnya.

"Kapan dia pergi?" Runtuk Eren. Ia hanya ingin makan malam berdua dengan Levi, jadi ia tidak akan mengajak wanita itu ikut makan bersamanya kecuali Levi yang meminta. Dilepasnya apron berwarna hijau yang ia pakai, kemudian duduk di kursi meja makan, tidak berniat menemani Petra di ruang tamu yang tengah sibuk dengan ponselnya.

*

Sekitar duapuluh menit kemudian, Levi sudah selesai mandi. Laki-laki tigapuluh tahun itu memakai celana panjang longgar dan kaos lengan pendek berwarna putih. Ia masuk kedapur, tanpa melirik Eren yang terlihat sangat bosan. Diambilnya sebotol air mineral kemudian mengeguk seperempat isinya.

"Mau makan malam sekarang?" Tanya Levi, Eren menggeleng sambil memainkan tali apronnya. "Sebentar lagi dia pulang, bersabarlah. Kalau kau lapar dan tidak ingin mengajak Petra bergabung, makanlah lebih dulu." Lanjut Levi dengan suara pelan, ia kemudian keluar dari dapur.

"Oulo akan sampai sekitar tigapuluh menit lagi.." Ujar Petra begitu Levi kembali duduk di sofa single. "Jika boleh aku juga ingin mandi." Sedikit informasi, Petra sendiri sudah sangat akrab dengan Levi, ia mengenal Levi sejak di bangku SMA, bahkan mereka kuliah di universitas yang sama. Karena itulah dia bersikap tidak terlalu formal saat diluar kantor.

"Tentu, kau bisa mandi diatas, handuknya ada di lemari nomor tiga."

Mendengar hal itu Eren mengintip, "Jadi Petra juga akan masuk ke kamarku dan Levi?, apa sih maunya.." Pikirnya.

Dapat ia lihat Petra berdiri lalu mengucapkan terimakasih, kemudian membenahkan rok pendeknya yang sedikit naik dan dapat ia lihat juga Levi yang bertampang tidak minat dengan hal itu. Petra meninggalkan ruang tamu.

"Kemarilah, Nak." Eren agak terkejut, tanpa diperintah dua kali ia keluar dari dapur. Kaki rampingnya melangkah ogah-ogahan kearah sofa, tanpa berniat duduk dan hanya berdiri menatap Levi. "Kemari." Ditariknya tangan Eren, memaksanya untuk duduk dipangkuannya secara berhadapan. Wajahnya memerah saat Levi mengusap pinggangnya dengan lembut.

"Apa-apaan sikapmu itu, hm?" Levi mencengkram pinggang Eren, sesekali menariknya untuk merapat. Tatapannya tidak lepas dari mata Eren yang saat ini sedang memalingkan wajahnya.

"Aku hanya tidak suka jika dia datang kesini. Selain itu aku juga rindu padamu." Jawab Eren setengah menggumam, bibirnya terlihat sedikit maju membuat Levi mengecupnya sekali. "Levi.."

"Hm?"

Tangan Eren bergerak, mengusap kedua bahu Levi perlahan sebelum bibirnya ia tubrukkan dengan bibir tipis Levi. Mengecupnya berkali-kali kemudian menghisap bibir atas dan bawahnya secara bergantian tanpa balasan dari Levi. Eren menjauhkan wajahnnya, ia tau Levi menunggunya untuk melakukan hal yang lainnya. Tapi ada Petra di rumah ini.

"Kau ingin sesuatu yang sedikit menantang?" Bisik Levi tepat didepan telinga kanannya. "Aku bisa melakukannya dengan cepat jika kau mau." Cuping telinga dicium, kemudian dijilat dan dihisap pelan membuat Eren melenguh kecil.

"Ngh.. tapi Petra disini.." Eren mendorong dada Levi pelan, tatapannya bertemu dengan mata tajam Levi.

"Biar saja, bukankah kau tidak menyukainya? Seharusnya kau merasa senang jika Petra melihatnya, dia akan merasa malu dan tidak akan kesini lagi, bukan begitu?" Levi menyeringai, tangan kirinya turun dari pinggang Eren, meraba pantat Eren kemudian meremasnya kuat.

"A-ah!" Eren bergerak, paha dalamnya tak sengaja menggesek kemaluan Levi dan membuatnya menyeringai. Ah, mungkin memang benar begitu. Petra akan merasa malu dan enggan untuk datang kesini lagi. Eren mengannguk setelahnya, membalas seringaian Levi. "Kalau begitu, ayo.."

Levi terkekeh pelan, bertatapan dengan bocah kesayangannya itu beberapa saat lalu memajukan wajahnya, meraup bibir Eren disertai dengan jilatan liar. Saling mengecup dan menghisap. Tangan Eren mengalung rapat di leher Levi sementara punggungnya melengkung membuat dadanya bergesekan dengan dada bidang Levi.

Dapat Eren rasakan lidah Levi yang terus menekan-nekan lidahnya, mengusap gigi-giginya dan sesekali menjilat langit-langit mulutnya yang selalu sukses membuat Eren meremang. Didorongnya lidah Levi keluar dari dalam mulutnya.

"Nggh.. tunggu dulu.."

Eren sedikit membenahkan posisi duduknya, lalu tanpa meminta izin ia lepas kaos putih Levi kemudian ia letakkan diatas meja.

"Hehe.." Levi hanya mendengus geli mendengar kekehan Eren. Setelah itu Levi lepas juga kaos lengan panjang yang Eren pakai, dan tanpa basa-basi diraupnya salah satu tonjolan berwarna coklat didada Eren, ia hisap dengan rakus lalu ia gigit dengan gemas.

Eren meremas rambut Levi menahan desahan, dapat ia rasakan penisnya mulai bereaksi. Levi naik mengecupi leher Eren, meninggalkan jejak basah dengan lidahnya dan menghirup aromanya kuat-kuat. Levi dapat mencium aroma sabunnya yang juga dipakai Eren, "Aku suka aroma Levi" begitulah kata Eren waktu itu.

"Ahh.. Levi, bukankah- ahh.. ini terlalu lama?" Levi tidak menanggapinya dan terus meninggalkan kissmark di leher Eren, tangan kanannya mengusap punggung Eren dengan sedikit mengambang membuat Eren menggeliat geli dan tangan kirinya masuk kedalam celana pendek Eren, meremas pantatnya dari dalam.

"Mau langsung ke inti?" Tanya Levi. Sebenarnya Eren tidak begitu suka dengan quick-sex, ia ingin menikmati semuanya. Jadi Eren menggeleng, memeluk Levi dan menggesekkan selangkangannya pada paha Levi yang terbuka cukup lebar.

"Kau benar-benar menggodaku, Nak.. kau tau, aku menahan ini sejak lima hari yang lalu."

Tangan kiri Levi yang sebelumnya asik dengan bokong Eren itu berpindah tempat jajahan, ibu jarinya mengusap pinggang Eren, kemudian meraba perut bagian bawah Eren. Turun sedikit, menemukan mainannya.

"L-levi.. a-ahh.." Levi meremas penisnya kasar, lalu memijatnya dengan gerakan yang pasti. Keduanya kembali bertatapan, Eren memiringkan kepalanya lalu kembali mencium Levi dengan mata yang sedikit terbuka, tetap bertatapan dan enggan memejamkan mata. Tidak mau kalah, tangan Eren turun, meraba penis Levi yang tampaknya juga sudah setengah menegang.

"Kau juga tidak sabar?" Tanyanya menggoda.

Levi mengocok penis Eren secara tiba-tiba dengan ritme yang membuat Eren menahan nafasnya. "Kau menyukainya, huh?" Celana diturunkan sedikit, Eren menunduk menatap ereksinya, terlihat keras dan memerah. Kemudian tangannya menarik celana Levi, mengeluarkan kejantanannya dan kembali memijatnya, sesekali ia gesekkan dengan miliknya yang masih digenggam Levi.

"Levihh.. nanti sofa-ah.. sofanya kotor.. nggh.. hahhh.." Eren terengah, Levi menyingkirkan tangan Eren dari penisnya kemudian menggenggamnya bersama dengan penis Eren. Kocokannya sedikit bertambah cepat dan sensasinya sedikit berbeda.

"A-ah! Le-lebih cepat!" Penisnya berkedut senang, Levi terasa panas dibawah sana.

"Kau akan keluar?" Bisik Levi, tangannya yang menganggur mengusap dahi Eren yang berkeringat. Eren mengangguk, mencengkram bahunya dan mulutnya sedikit terbuka. Tanpa menyia-nyiakan hal itu, Levi kembali meraup bibir Eren yang sudah sangat lembab karena air liurnya dan menghisap lidahnya kuat-kuat bahkan sesekali menggigitnya pelan.

"Ngh!" Tubuh Eren menegang, kocokan dan pijatan Levi bertambah cepat, dan hitungan kelima Eren menyemburkan spermanya yang tidak begitu banyak didalam genggaman tangan besar Levi. Ciuman dilepas, benang air liur terputus.

"Ahhh.. m-maaf.." Eren mengatur nafasnya. Lelehan air liur didagunya ia usap asal-asalan, tidak begitu peduli.

"Lepas celanamu.." Titah Levi, Eren menurutinya. Ia turun dari pangkuan Levi lalu segera melepas celana pendek dan celana dalamnya. Setelah itu ia kembali naik dan duduk dipangkuan Levi, bersiap untuk acara inti.

Eren mencondongkan tubuhnya kedepan, memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Levi. Sementara Levi akan menyiapkannya. Dirabanya kerutan diantara pantat padat Eren, ia usap dan sesekali ia tekan menggunakan tangannya yang masih berlumuran sperma. Bagian itu berkedut liar.

"Sepertinya bagian ini yang sangat merindukanku." Levi memasukkan jari telunjuknya dengan mulus merasakan Eren yang menghisapnya seolah kelaparan. Terasa hangat dan lembut, Levi liukkan jarinya didalam sana membuat Eren melenguh pelan.

"A-aku juga menahan-nyaah- untukmu.. A-ahh! P-pelan-pelan!" Dua jari yang lain ikut masuk, Levi mulai menggerakkan tiga jarinya, keluar masuk dan menekan-nekan di beberapa bagian. Ia ingin membuat Eren sedikit kesal, Levi menemukan prostat Eren tapi jarinya tidak berniat untuk menekannya dengan kuat dan hanya melewatinya.

"L-levi! Cepatlah.." Eren mengerang tidak sabar, anusnya terus berkedut dan terasa seperti menghisap jari-jari Levi, membuat Levi menyodok prostatnya dengan tiba-tiba. "A-AHH! Nggh, k-kau!"

"Hm? Kau tidak sabaran.. Apa kau sangat ingin prostatmu ku sodok dengan penis kerasku, huh? Lihatlah, kau barusaja keluar dan sekarang sudah sekeras ini lagi?" Ejek Levi.

Wajah Eren memerah sempurna, ia tidak perlu mengelak karena apa yang Levi katakan memang benar. Ia menginginkannya. Levi kembali menggerakkan jarinya, mengenai prostat Eren dengan telak.

"Mmmngh!" Eren menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih berpegagan pada bahu Levi. "A-ahh.. mmnghh.." Lama-lama kepalanya terasa pening dan tubuhnya terasa lemas, tangan kanan Levi meraih penisnya dan memijatnya seperti sebelumnya.

"Kenapa kau tahan? Bukannya kau ingin Petra mendengarnya?" Dikecupnya nipple kiri dan kanan Eren secara bergantian, kemudian sedikit mendongak menatap ekspresi Eren yang saat ini terlihat menggemaskan.

"Kau sangat basah disini, Nak." Eren mengerang pelan, tangan Levi berhenti memanjakan penisnya dan saat itu juga Levi merasa anus Eren sudah cukup rileks. Levi menarik jarinya keluar membuat Eren mengerang untuk yang kedua kalinya.

"Bisa kau hisap sebentar?" Tanya Levi, lebih terdengar seperti perintah. Eren segera turun, berjongkok diantara kaki Levi. Diraihnya penis Levi yang sudah cukup keras, ia kecup ujungnya.

"Tidak sampai deepthroat!" Eren memperingati, dan dijawab dengan kekehan dan seringaian Levi.

"Lihat saja nanti." Gumam Levi sembari mengusap rambut Eren, mengisyaratkannya untuk segera membuat mulutnya bekerja.

Eren mendongak sekilas, menatap Levi yang terlihat sangat ingin melihatnya melakukan kegiatan hisap-menghisap. Menghela nafas, Eren fokus pada batang keras didepannya, ia kecup dari ujung sampai pangkalnya lalu ia ulangi dengan lidahnya yang ikut berpartisipasi.

"Ghh.." Senang mendengar reaksi kecil dari Levi, Eren melanjutkan ke tahap selanjutnya. Mulutnya ia buka lebar, memasukkan seperempat penis Levi kedalam mulutnya kemudian menghisapnya pelan tapi pasti. Sementara sisanya, ia manjakan dengan tangannya.

"Mmnnh.. Rivaimmh- gh.." Penis masuk lebih dalam. Eren sedikit menahan nafasnya saat merasakan kedutan kecil didalam mulutnya saat Levi meremas kepalanya sebagai tanda bahwa ia menyukai apa yang Eren lakukan.

"Lakukan yang lebih baik." Pipi ditepuk pelan. Eren sedikit menangkat tubuhnya, menggerakkan kepalanya naik turun sementara salah satu tangannya sibuk mengusap-usap paha dalam Levi yang masih terasa begitu kencang. "Khh.. ah, anak pintar.." Tengkuk diusap.

Eren mendongak lagi, memperhatikan setiap ekspresi Levi yang memang terlihat sangat menyukai servicenya. Lidahnya terus membelai, kuat hisapannya ia tambah. Levi menekan kepalanya, berharap Eren mau memasukkan penisnya lebih dalam. Tapi bocah binal itu menggeleng pelan, meraih tangan Levi ditengkuknya dan menggenggamnya.

"Biasanya kau suka.." Levi mendengus pelan saat mendapat delikan kesal dari Eren. Ia mengalah untuk kali ini.

Eren melakukan hisapan panjang dan kuat yang terakhir. "P-aaahh.. sudah cukup.."

Penis Levi terlihat lebih keras dari sebelumnya, Eren tersenyum bangga. Hanya dialah yang bisa membuat Levi sekeras ini. "Kau sekeras kayu."

Levi membungkukkan tubuhnya, membawa bibir Eren yang sedikit terlihat bengkak itu kedalam sebuah ciuman singkat. "Diamlah, lagipula siapa yang membuatku sekeras ini. Sekarang kita bisa memulai acara inti.." Menegapkan tubuhnya, Levi menepuk pahanya mengisyaratkan agar Eren kembali duduk dipangkuannya.

Eren naik, menjadikan lututnya sebagai tumpuan lalu sedikit merendahkan tubuhnya saat Levi mulai memposisikan senjatanya tepat didepan lubang anus Eren.

"Jangan menghentak tiba-tiba.." Gumam Eren, tangannya berpegangan pada pundak Levi. "L-levi, apa kau perlu kon-" PLAK!

"-AAHH! Levi! Nggh.." Dicengkramnya bahu Levi kuat-kuat, pandangannya benar-benar berkunang-kunang saat dengan tiba-tiba Levi melakukan larangan Eren untuk tidak menghentak secara tiba-tiba. Masuk seluruhnya dan tepat mengenai prostatnya.

"Kau banyak bicara, Nak." Seringainya bertambah lebar, Eren mendorong kepalanya kesal. "Sakit?" Dipeluknya pinggang Eren dan sesekali ia usap pahanya, bermaksud menenangkan. Levi sendiri juga tengah menahan geramannya, merasakan bagaimana Eren mencengkramnya begitu erat didalam sana.

"Kau menyebalkan." Eren mencintainya. Keduanya saling diam selama lima detik sebelum akhirnya Eren membuat gerakan memutar, menyamankan posisi duduknya juga. "Nggh.." Ia mengangkat tubuhnya sedikit, kemudian menekannya lagi dalam-dalam.

Dan Levi membantunya, tangan besar itu mencengkram pinggangnya seolah takut Eren jatuh. Gerakan tadi terus berlanjut dan lama-lama temponya semakin cepat dan agak tidak beraturan. Levi hisap lagi kedua nipple Eren, membuatnya kembali tegang kemudian memberikan tanda merah disekitarnya.

"A-angh! Disana!- L-evih!.. Ngghm.." Eren mengetat, Levi menggeram nikmat sembari memejamkan matanya. Ini adalah sensasi yang paling ia rindukan selama lima hari tidak menjamah Eren.

"G-gaah.. Lebih cepat Eren.. Ketatkan lagi!" Eren tidak menurutinya, dengan begitu Levi mengambil alih kendali. Diangkatnya tubuh Eren cukup tinggi, kemudian ia hentakkan dengan keras.

PLAAKK!

"NG-AAHH! Yahh! S-sakit.. nggh.." Eren keluar untuk yang kedua kalinya, mengotori perut berotot Levi dan celana panjangnya, tenaganya hampir habis sementara Levi masih belum keluar sekalipun.

"Jangan berisik Eren, atau kau memang benar-benar ingin Petra mendengar desahan erotismu itu huh?" Levi terus menghentak, tidak membiarkan Eren beristirahat. "Hey Nak.. aku- ah.. aku bahkan belum keluar.."

Levi menghentikan hentakannya yang ketiga, lalu mengeluarkan penisnya dari dalam Eren, membuat Eren sedikit heran. Levi memintanya untuk berdiri. Lalu ia dorong tubuh ramping itu berpindah ke sofa panjang.

"Eeh?" Eren menoleh, menatap Levi yang berdiri dibelakang tubuhnya.

"Menungging." Mengerti, Eren melakukan apa yang diminta Levi. Kemudian Levi memposisikan dirinya, sebelah lututnya bertumpu di sofa, kepala Eren ia dorong sampai mencium bantal sofa yang sempat Petra gunakan untuk menutupi roknya.

"Nnnh.." Levi masuk seluruhnya, benar-benar dalam. Tangan kanan Eren Levi tarik kebelakang punggungnya. Ia mulai menghentak. "N-nnahh.. Lev.. aah! Lebih cepat.."

Gerakan dipercepat, suara tumbukan kulit dengan kulit terdengar cukup keras. Air liur Eren menetes membasahi bantal sofa. Pantat Eren diremas dengan gemas, sesekali Levi pukul keras membuat Eren mengetat secara tiba-tiba.

"AAH-mmp!" Prostat ditubruk keras, Eren menggigit bantal sofa. Ia merasa tidak nyaman juga jika ada seseorang yang mendengar desahannya selain Levi. Selain itu kenapa Petra mandinya lama sekali.

"Kau menghisapku, Nak.. ku rasa kau memang benar-benar merindukanku. Agh!" Satu hentakan keras, Levi menarik penisnya sebagian kemudian menekannya pelan tapi mantap. Terus seperti itu, menikmati bagaimana rektum Eren memanja penisnya.

Tangan Eren yang sebelumnya meremas bantal itu meraih penisnya sendiri, memijatnya dengan tempo yang sama seperti tusukan Levi.

Levi membungkuk, menekan penisnya sedalam mungkin lalu mengecup pipi Eren, bernafas dilehernya.

"A-ahh.. Le-leviihh ngh.. lagih ahh! Akkhh.. aku ingin- Mmmnhpp.." Bibir dijilat, diraup dan diciumi kasar sementara tempo sodokannya kembali dipercepat. Levi menggeram. Dan Eren terus meremasnya kuat seolah memaksanya untuk segera menyemburkan spermanya didalam.

"Erenn!" Tubuh Eren meremang, penisnya kembali berkedut begitu Levi menyebut namanya dengan suara yang begitu berat dan penuh hasrat. Menegapkan tubuhnya, Levi mendorong keras-keras pinggangnya menimbulkan suara yang terlalu erotis untuk didengar.

"Ngg- Ahh.. Lagihh.. Ahh! Nnh! Levih!"

"Kecilkan suaramu, Nak! Ah!" Levi hampir keluar, ia mengadah menahan nikmat dan geraman.

"Ah- Levi.. Nghhhmm!" Mengejan, Eren keluar untuk yang kedua kalinya.

"GH!" Sementara Levi menyusul dengan keluar didalam setelah detik ketiga, dihisap habis oleh Eren. Ia menggeram keras. Lalu dipeluknya tubuh berkeringat Eren sebelum ia tarik penisnya keluar dengan perlahan, tidak ingin sepermanya mengalir keluar dari anus Eren dan terbuang sia-sia.

Eren tidak berkata apapun setelah itu, dan hanya mengatur nafasnya yang pendek-pendek. Rasanya seperti ingin tidur, mengabaikan Levi yang mulai mengenakan kaosnya kembali setelah membenahi celana panjangnya.

"Eren?"

Remaja berambut coklat itu menoleh dengan wajah lelahnya, lalu tersenyum. Levi berdebar begitu melihatnya sekalipun tidak ada eksperesi yang ia tunjukkan.

"Kau sangat banyak dan panas.." Ujarnya. Eren kemudian mendudukkan tubuhnya, memunguti pakaiannya lalu memakainya. "Tapi aku tidak yakin kau menahannya selama lima hari.."

"Kenyataannya aku menahannya. Lagipula aku sangat sibuk sewaktu di Sina." Levi mengambil sekotak tisu diatas meja, saat itu juga ia melihat layar ponsel milik Petra yang aktif dan menunjukkan beberapa panggilan tak terjawab dari Oulo.

"Kita mandi, setelah ini.." Diusapnya rambut Eren, lalu ia acak pelan. Eren mengangguk.

*

*

Duapuluh menit sebelumnya..

Petra keluar dari kamar Levi sembari merapikan rambutnya, "Semoga aku tidak mandi terlalu lama.." Gumamnya.

Dan barusaja kaki mulusnya akan menyentuh anak tangga, ia mematung begitu mendengar suara-suara yang membuat telinganya menjadi sangat sensitif.

"-AAHH! Levi! Nggh.."

"Kau banyak bicara, Nak."

"A-apa mereka sedang melakukan 'itu'?" Batin Petra, wajahnya memerah hanya dengan mendengar suara itu. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mulut, takut jika tiba-tiba dirinya berteriak karena tidak tahan.

"Sakit?"

Petra menuruni tiga anak tangga, ia mengintip dari sini dan cukup terlihat jelas. Dapat ia lihat Eren duduk dipangkuan Levi tanpa menggenakan pakaian dan Levi yang telanjang dada memeluk sambil meraba-raba paha Eren.

"Apa yang harus aku lakukannn.." Petra menjerit dalam hati, akankah ia harus duduk dan menonton mereka sampai selesai dan tetap diam agar tidak mengganggu acara itu?.

"Kau menyebalkan."

Ponsel Petra yang tergeletak diatas meja terlihat menyela, mungkin telepon dari Oulo. "Untung aku silent.." Batinnya lega. Lega tidak mengganggu Eren dan Levi.

Dan Petra memutuskan untuk melakukannya. Ia duduk diam di anak tangga menonton Eren dan Levi, membiarkan Oulo menunggunya sedikit lebih lama diparkiran khusus tamu. Sampai kegiatan mereka selesai duapuluh menit kemudian.

*

*

"A-ahh.. segarnya.." Ucap Petra sembari menuruni anak tangga. Eren baru saja selesai membersihkan beberapa bercak basah disofa dengan tisu.

"Sudah selesai? Kurasa Oulo menelponmu tadi.." Levi menghabisakan tehnya yang sudah dingin sementara Eren menyandarkan kepalanya dibahu Levi.

"Aa, benarkah? Sepertinya aku mandi terlalu lama.. Kalau begitu aku pamit.." Diambilnya tas dan barang-barangnya yang lain. "Maaf merepotkan kalian, dan terimakasih untuk tehnya.." Petra mencoba tersenyum seperti biasa meskipun tetap terlihat seperti dipaksakan.

"Tidak masalah.. Sampaikan salamku pada Oulo." Ujar Levi seadanya, sesekali mengusap rambut lepek Eren.

"Tentu.. Nikmati weekendmu Levi.. sampai jumpa.." Kemudian wanita itu pergi. Terdengar suara pintu dibuka lalu ditutup. Eren tersenyum senang menatap Levi lalu tertawa pelan.

"Aku rasa dia tidak melihatnya.." Eren menebak, namun kemudian Levi menggeleng kecil.

"Dia melihatnya." Eren ber'eh?' pelan, tidak begitu mempercayai apa yang Levi ucapkan.

"Dia melihatnya, mungkin juga menikmati apa yang dia lihat."

*

Kesimpulannya, kemungkinan besar Petra tidak akan merasa enggan untuk datang berkunjung atau mampir ke apartemen Levi, atau mungkin malah lebih sering. Karena pada dasarnya dia memang menyukai apa yang dia lihat.

-End-

*

*

Horee, akhirnya lemon kedua sudah berhasil dibuat. Kali ini Erika persembahkan fiksi ini kepada @OppaLovers411 alias Fujo Edan, yang telah login akun Wattpad dan sudah Follow akun Erika. Selain itu, maaf jika ada typo yang tertinggal dan ketidakasaman adegan dewasa tersebut. Sekian dari Erika, terimakasih sudah membaca.Jangan lupa Follow akun AkudanErika ya.. Siapa tau dapet hadiah juga [LOL].