"Unnn, Aku kenapa?"

"Ugh, Dimana ini...?"

"Oh iya..."

"Bukannya tadi aku ada di rumahnya Maki-chan, lalu tiba-tiba aku tiba-tiba jatuh dan ..."

"Ahhh...".

.


.

Gadis kucing itu berhasil membuka matanya dan menyadari bahwa saat ini dia sedang berada di sebuah ruangan yang cukup mewah namun bersih. Dia masih belum menyadari dimana keberadaannya sekarang hingga dia melihat selang infus mengalir memasuki tangannya.

.

"R.. Rin, kamu sudah bangun?!"

"Oh, Maki-chan!, Ummhh... Baru saja" Jawab Rin menganggukan kepala.

"Sebenarnya, aku ada dimana sekarang, Maki-chan?"

"Rumah Sakit. Kelas VVIP" Jawab Maki singkat sembari menaruh keranjang buah di atas meja.

"Oh, begitu yah." Kata Rin terkikih pelan.

"Hmm... Ada yang lucu?!"

"Ah, tidak... Maaf aku telah membuatmu kerepotan! Kamu sebetulnya tidak perlu berbuat sejauh itu untuk merawatku. Aku sudah terbiasa dirawat di kelas ekonomi kok. Aku kan member tetap apartemen ini"

"Huh, apartemen? Kau ini aneh-aneh saja!" Balas Maki sambil menepuk jidatnya. "Memangnya kau pikir Rumah Sakitku ini apaan? Tempat kos?"

"Ahahaha... Kali aja begitu! Habisnya aku sudah dua belas tahun, ehh, tunggu... Aku juga lahir di rumah sakit ini, berarti aku sudah lima belas tahun berada di rumah sakit ini! Makanya, aku menganggap bangunan ini sudah seperti rumah keduaku."

"Kau itu aneh..." Celetuk Maki tersenyum kecil

"A.. Aku tahu."

"Jadi, apa yang hendak kamu lakukan setelah ini?"

"Ehh?"

"Ayolah! Kau tahu kan maksudku?" Kata Maki memancingnya bicara. "Anak hiperaktif sepertimu pasti akan mencari alasan keluar dari tempat ini, kan? Aku cuma ingin tahu alasan apa lagi yang akan kamu buat kepada mamaku?"

"Emm..."

"Yang jelas, aku tidak akan membiarkanmu untuk terlalu keras mengikuti kegiatan ekskul seperti kemarin! Lagipula, apa enaknya sih bermain olah raga terus? Kau itu sebenarnya punya bakat untuk jadi anak pintar, tahu?"

"Pokoknya kamu harus bilang dengan Senpai-mu, atau aku sendiri yang akan menceritakan segalanya kepada mereka!"

"Jangan! Tolong jangan beritahu penyakitku kepada orang lain, bahkan kepada Kayo-chin!"

"Ehh?"

"Aku mohon! Sampai saat ini tidak ada seorangpun selain keluargaku dan dokter yang mengetahui ini."

"Baiklah, aku mengerti! Tapi sebagai gantinya kamu harus mentraktirku sesuatu sebagai "uang tutup mulut." Katanya sambil mengedipkan mata. "Lalu kamu harus mengajakku pergi berkeliling Akihabara sekali lagi."

"Emm... Maki-chan?"

"Ah, aku tahu! Bagaimana kalau kali ini giliran aku yang mengajakmu ke balai kota? Aku adalah member klub pecinta teh, nantinya aku akan memperkenalkanmu dengan sesama member lainnya sambil menghidangkan teh untukmu. Eh, kau suka teh?"

"Arigato, Maki-chan..." Jawab Rin tersenyum lirih. "Tapi.. Kau tahu, sepertinya aku akan lebih lama tinggal disini."

"Oh, OK! OK! Kalau kamu masih merasa tidak enak badan juga tidak perlu memaksakan diri."

"Tapi, jangan terlalu lama yah... Pasti banyak orang yang akan merindukanmu."

"K.. Karena itulah..." Tiba-tiba Rin angkat suara gemetaran. "Aku sudah tidak ingin menjadi beban bagi mereka lagi."

"Maki-chan, aku sudah memutuskan untuk tetap dirawat di rumah sakit ini!"

"Eh... hehehe... HUAHAHAHHAHA! Lelucon apa lagi nih, Rin-chan?" Tiba-tiba Maki tertawa terbahak-bahak. "Kau tahu, kau hampir berhasil meyakinkanku dengan leluconmu itu."

"Tidak, aku serius!" Teriak Rin yang segera menghentikan tawa Maki.

"Kau ingat?, aku pernah bilang kan bahwa aku sendirilah yang mengerti titik batas tubuhku sendiri. aku tahu kapan waktunya makan pagi, siang ataupun malam tanpa melihat jam, hanya dengan mengandalkan perutku. Aku tahu waktunya untuk tidur saat mataku terasa lelap."

"Dan kini aku bisa merasakan nyeri di bagian liverku semakin sering kambuh dari hari ke hari. Aku tahu obat-obatan yang diberikan rumah sakit ini nampaknya sudah semakin tidak resisten, kalau begini terus bisa-bisa aku bisa collapse sewaktu-waktu tanpa aku sadari."

"Ehh? Tapi, kalau kamu berada disini bagaimana dengan teman-temanmu?"

"Aku akan pergi meninggalkan mereka seiring waktu berlalu."

.

Perkataan Rin barusan sukses membuat suasana di ruangan itu menjadi senyap. Maki lalu membalikkan badan menuju pintu keluar namun dia hanya berdiri didepan pintu tersebut tanpa bergeming sedikitpun.

.

"Kamu... Memangnya kamu bakalan puas menerima perlakukan semacam itu?!" Katanya angkat suara.

"Hey, Wake Up! Ini bukan Rin yang aku kenal!"
"Maaf..." Ucap gadis berambut pendek itu singkat sambil berusaha mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

.

Saat itu, suasana di dalam ruangan tempat mereka berada menjadi lebih dingin dan kelam. Itu bukan karena pengaruh AC yang membuat suhu ruangan menjadi turun melainkan karena Rin, gadis pembawa atmosfer hangat, riang dan cerah itu berubah menjadi pusat pembawa rasa putus asa yang begitu besar. Sementara itu Maki yang telah mendengar perkataan itu juga tidak mampu menghadapi suasana tersebut, tidak ada hal yang bisa dia lakukan selain merasa marah.

"Gezzz... BODOH!" Bentak Maki.

"Kamu pikir aku akan mengijinkanmu untuk memiliki pemikiran bodoh seperti itu!"

"M..Maki-chan?!"

"Hei, lantas bagaimana denganku? Bukankah selama ini kamu berkata untuk ingin berteman denganku? Lalu kini?"

"Hei, Rin... Jawab aku! Apakah aku juga tidak boleh berteman denganmu?"

"Ehh?"

"Rin, A.. Aku, Aku mau menjadi temanmu!" Kata Maki terbata-bata. "Karena itulah..."

.

Mendengar penuturan Maki barusan Rin tidak bisa berbuat hal yang lain selain terkejut. Dirinya begitu senang saat mendengar hal tersebut, dia bahkan tidak bisa menyembunyikan senyuman yang terpasang di wajahnya. Namun keadaan kalut yang sedang menerpa dirinya saat ini beserta pemikiran mengenai berbagai hal buruk yang mungkin akan terjadi kepadanya di masa depan telah membuat hatinya berubah menjadi dingin. Saat ini gadis kucing malang itu sedang ketakutan untuk menentukan keputusannya.

.

"M..Maaf-Nyaa, tapi..." Kata Rin dengan suara pelan.

"...Rin sudah tidak mau berteman dengan Maki-chan lagi."

.

Perkataan itu membuat suasana pembicaraan di antara mereka berdua menjadi semakin dingin dan malah berubah lebih buruk. Maki tidak pernah menyangka bahwa Rin akan merespon ajakannya seperti itu. Dengan wajah dingin, Rin mengucapkan perkataan tersebut kepada Maki bahkan tanpa menoleh kepadanya.

Bingung dan malu melanda perasaan Maki, sementara di satu sisi, hati kecilnya ingin bertanya untuk mengetahui alasan perkataan Rin tersebut namun di sisi lain, ego dirinya yang begitu tinggi membujuknya untuk menolak melakukan hal tersebut karena perbuatan itu hanya akan merendahkan martabat dirinya. Kebimbangan yang pada akhirnya tidak menghasilkan apapun, dan membuat Maki memilih untuk keluar meninggalkan ruangan tersebut.

"Ehh... Geezzzz!"

"FINE! FUCK YOU, RIN!" Umpat Maki sambil membanting pintu keluar dari ruangan.


.

Esok hari, SMA Otonokizaka.

"Hmm... Hanayo?!"

Seru Maki terkejut saat melihat gadis berambut coklat muda itu sedang menghampiri tempat duduknya .

"Maaf, Maki-chan, A.. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu." Kata Hanayo dengan gugup.

"Apakah kamu tahu sesuatu tentang kondisi Rin-chan sekarang?"

"Hah?!"

"Terakhir aku bertemu dengan dia adalah ketika kemarin sore. Pada saat itu dia sedang berjalan menuju arah rumahmu untuk mengembalikan bukumu. Dan pada hari ini aku mendengar kabar bahwa dia sedang berada di rumah sakit."

"Trus hubungannya denganku?" Tanya Maki cuek.

"Mamanya Rin-chan bilang kalau orang yang mengantarkan Rin-chan ke rumah sakit adalah seorang gadis berambut merah. Orang itu kamu kan, Maki?!"

"I.. Iya, T.. Tapi, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku, kan?!" Bantah Maki keras.

"A.. Aku cuma ingin tahu, apakah dia baik-baik saja?!" Kata Hanayo pelan dengan kepala tertunduk. Maki yang melihat itu juga tidak sanggup untuk menahan perasaan iba dan mulai menceritakan tentang keadaan Rin yang dia ketahui tanpa menyinggung penyakitnya.

"Ummhh... Tenang saja. Dia sudah sadar kok, kondisi tubuhnya juga sudah stabil pagi ini, kemungkinan besok juga dia sudah diperbolehkan untuk pulang."

"Ehh, ini bukan berarti aku peduli kepadanya lho yah! Aku tahu ini semua karena dia merupakan salah satu pasien dari ibuku."

"T... Terima kasih banyak Maki-chan?!" Teriak Hanayo keras sambil meneteskan air mata.

"Kamu, sebegitunya menghawatirkan dia?" Tanya Maki.

"Umm (angguk kepala). Itu karena Rin adalah teman terbaikku!" Jawab Hanayo sambil tersenyum.

"Kamar Fuji-109." Kata Maki singkat.

"Eh? Maaf?"

"Itu ruangan dia dirawat sekarang. Pergilah kesana setelah pulang sekolah nanti." Jelas Maki kepada Hanayo.

"Terima kasih banyak, Maki-chan!" Seru Hanayo sambil membungkukkan kepala serendah-rendahnya kepadanya.

"Eeeh, Sudah-sudah... Jangan seperti itu...!" Teriak Maki panik.

"Ehehehe..."

"Huh, enak yah..."

"Eh?! Maaf, Ada apa Maki-san?" Tanya Hanayo bingung.

"E... Ehhh, Bukan apa-apa kok!"


.

Sore hari, Taman Bermain.

"Huft... Apakah aku memang ditakdirkan untuk tidak memilki teman?" Gumam Maki kepada dirinya sendiri yang sedang duduk di tempat ayunan seorang diri.

Sore hari itu suasana taman bermain itu tampak lebih sepi daripada biasanya, Tidak banyak orang yang singgah ke tempat itu sehingga membuat Maki berpikir bahwa hanya dia sendiri yang ada di tempat tersebut. H ingga...

"Hei, kamu..."

Tiba-tiba Maki mendengar ada suara gadis sedang berteriak ke arahnya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat ada seorang gadis cilik dengan rambut yang berhiaskan 2 ikat pita merah di atas kepalanya sedang menatap tajam ke arahnya.

"Hummhh..."

"Kamu! Iya kamu! Aku perhatikan sejak dari tadi selalu tampak murung saja. Apakah kamu sudah tidak mempunyai semangat untuk tetap hidup?!" Tanya gadis cilik itu sembari berkacak pinggang.

"Ehh, adik kecil? Apakah kamu tersesat? Mana orang tuamu? Biar Onee-san bantu mencarikannya yah?" Tanya Maki ramah sambil mengelus rambutnya namun bukannya suasana menjadi tenang malahan gadis cilk itu tampak menjadi semakin marah.

"ONEE-SAN?!"

"Aku ini jauh lebih tua daripada kamu, tahu?!"

"Lagipula dari seragam sekolahmu, sudah jelas kalau aku adalah senpai-mu, tahu?!"

"EHHH?!"

"Kamu murid kelas satu SMA Otonokizaka, kan?" Tanya gadis itu. Maki pun menganggukkan kepalanya.

"Siapa?" Tanya Maki.

"Aku? Namaku adalah Nico Yazawa, murid kelas 3 yang paling imut disana. Gadis idola nomer satu di SMA Otonokizaka!"

"...Yang Nanya?." Lanjut Maki cuek.

"Glodak... Hei, kau mempermainkan aku yah?!" Teriak Nico marah karena merasa dipermainkan.

"Huft, Beneran deh! Anak kelas satu tahun ini memang benar-benar aneh. Pada awal masuk sekola dulu lalu aku pernah bertemu dengan anak kelas satu yang luar biasa enerjik dan begitu membuatku jengkel karena ulahnya yang selalu membujukku untuk berteman dengannya."

"Dan kini, aku bertemu dengan anak kelas satu lainnya yang memasang wajahnya muram seperti hendak menantikan waktu kematiannya." Ejek Nico ketus.

"Diam! Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku! Lagipula, Gadis yang kamu bicarakan itu kini telah berubah." Bentak Maki kesal

"Heh?!"

"Ahh, sudahlah! Lupakan saja... Aku mau pulang!" Teriak Maki sambil pergi meninggalkan si senpai mungil disana.

"Cihh, Anak itu..."


.

Rumah Sakit Nishiyama.

"Rin-chan!" Seru Hanayo keras saat melihat sahabatnya sedang duduk di atas kasur sambil membaca majalah dan memakan buah apel pemberian Maki.

"Hmm... Eeehh... K-K... Kayo-chin?!"

"Aku khawatir padamu!" Kata Hanayo sambil memeluk tubuh Rin erat.

"Tenang, Tenang... Aku tidak apa-apa kok.. hehehe..."

"Kamu disini sendirian?" Tanya Rin.

"Humm..." Gumam Hanayo mengangguk kepala. "Maki-san yang memberitahuku tentang ruangan ini."

"Maki-chan? Oh, begitu yah..." Gumam Rin pelan.

"Hmm, Kenapa kamu tiba-tiba tampak murung? Apakah sedang terjadi sesuatu yang berhubungan dengan Maki?"

"Ehh, Aku, Tidak ada apa-apa kok... Sungguh! Hahaha..."

"Jangan begitu.. Rin-chan, kamu tahu kan sejak kecil kamu tidak bisa berbohong kepadaku." Kata Hanayo sambil menyentil hidung Rin.

"Ehehehe, Itu, Umm... Tidak ada apa-apa kok, Sungguh!" Jawab Rin berusaha tersenyum senormal mungkin.

.

Melihat Rin yang tampak semakin gusar, Hanayo tidak berusaha mengajukan pertanyaan lain kepadanya malahan dia memeluk tubuh Rin dengan erat. Pelukan yang hangat dan lembut yang saat ini memang dibutuhkan oleh Rin.

.

"Tenanglah, semuanya pasti akan baik-baik saja kok..." Kata Hanayo pelan.

"Baiklah, Aku memang tidak tahu apa yang menjadi permasalahanmu sekarang. Jika kamu tidak bisa menceritakan itu kepadaku sekarang, itu juga adalah hakmu. Tapi tenanglah... OK, Rin?!"

"Ummhh... Terima kasih, Kayo-chin!." Jawab Rin sambil menahan isak tangis.

"Aku akan minta maaf kepadanya besok."


.

Esok Hari, SMA Otonokizaka.

"Ahh... Kamu sudah sembuh, Rin?!" Sambut teman-teman sekelasnya mengerubungi dirinya.

"Iya, Nyaa... Rin, baik-baik saja sekarang.. Ehehehe..." Jawab Rin riang.

"Kyaa... Rin, kelas ini benar-benar sepi tanpa kamu kemarin?!" Sambut Kirin, teman satu klubnya.

"Ehh, Bohong, ahh?! Lebay kalian!"

"Ehehehe, ya udah yah... Ayo, sore nanti kita makan parfait bersama-sama sepulang sekolah." Ajak Leo, temannya di bangku kiri kepada Rin n Gangs.

"Haiiikkk!" Jawab Rin sambil memberikan salam hormat kepada mereka.

.

"Umm... Umm..."

"Kamu cari siapa, Rin?" Tanya salah satu temannya.

"Maki-chan tidak masuk, nyaa?"

"Dia ada di ruang UKS kok?!" Sahut teman lainnya.

"Ehh... MAKI-CHAN KENAPA?!" Tanya Rin kaget.

"Tenang, dia cuma sedang bertugas piket menjaga tempat itu. Nanti juga balik."

"Ohh, ya udah... Aku akan pergi kesana, nyaa!" Kata Rin bergegas meninggalkan ruangan kelas.

"Ehh, Rin-chan... Jam pelajaran pertama mau dimulai lho!"


.

Ruang UKS.

Tok..tok..tok...

.

"Masuk."

.

Sahut suara dari dalam ruangan. Tanpa berbasa-basi Rin segera memasuki ruangan UKS dan melihat Maki sedang duduk di meja sambil menulis catatan di buku arsip.

.

" M.. Maki-chan!"

"Ehh,R- Rin?! Ngapain kamu kesini?!" Tanya Maki panik saat melihat Rin berjalan semakin dekat menuju ke arahnya.

"Lho, katanya kamu gak mau masuk sekolah lagi?!" Tanya Maki heran dan salah tingkah.

"Umm, Rin kesini cuma mau minta maaf,nyaa!" Jawab Rin sambil menundukkan kepala.

"Maaf, Rin sudah bertindak kasar kepada Maki kemarin."

"Sebenarnya, aku juga sangat senang saat mengetahui kamu mau berteman denganku. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk memahami itu, aku terlalu banyak memikirkan hal lainnya sehingga melupakan perasaanmu."

"Sungguh, maafkan aku!" Kata Rin penuh penyesalan.

.

Namun demikian setelah itu dia tidak mendengar ada sepatah katapun keluar dari mulut Maki. Rin mulai berpikir bahwa Maki enggan untuk memaafkan dirinya, rasa sungkan mulai muncul di dalam benaknya sehingga membuat dirinya ingin segera keluar dari ruangan tersebut secepatnya.

.

"Kalau begitu.. Selamat tinggal." Lanjut Rin putus asa.

.

Belum sempat dia melangkahkan kaki menuju pintu depan, dia merasakan ada sesuatu yang menarik punca seragamnya. Rin menoleh dan melihat bahwa Maki sedang menarik lengan blazer seragamnya.

.

"T-Tunggu, aku belum memintamu untuk pergi, kan?!" Kata Maki dengan muka memerah.

"M... Maki-chan?!"

.

"Baka, Aku benar-benar tidak bisa mengerti dirimu... Rin, Kamu itu benar-benar gadis yang sulit dimengerti... Kamu itu gadis yang aneh!"

"Maaf-nyaa!"

"Selama ini belum pernah ada seorangpun yang pernah berusaha keras dengan melakukan hal sejauh ini hanya untuk bisa berteman denganku. Takdirku sebagai puteri orang kaya telah membuatku hidup terpisah dengan dunia ini. Tapi kamu..."

"Orang bodoh yang pernah duduk bersimpuh di depan bangkuku, yang memaksaku untuk tampil di depan kelas untuk mencalonkan diri sebagai ketua kelas, gadis yang mau belajar bahasa inggris hanya untuk bisa berbicara kepada ayahku." Papar Maki tanpa ragu. Mendegar itu Rin tidak bisa berbuat banyak selain tersipu malu saat mengenang tingkahnya sendiri.

"Rin, kamu itu..."

"Kamu adalah orang yang benar-benar ingin berteman denganku bukan karena harta ataupun status keluargaku."

"Karena itulah... A-Aku senang!."

"Eh?!"

.

Sambil mengatakan perkataan tersebut, Maki mulai berdiri dari tempat duduknya dan mulai menghampiri Rin semakin dekat dan semakin dekat seraya melakukan Kabe-don. Gadis itu menatap tajam mata Rin yang tampak kebingungan.

Tanpa ragu kepala Maki semakin maju kearahnya, sementara itu Rin yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya hendak diperbuat Maki hanya bisa pasrah membiarkan semua itu terjadi. Dari bibir tipisnya, Gadis itu mulai mencuri sesuatu yang tidak akan bisa direbut lagi oleh gadis kucing tersebut. Ciuman pertama.

Kemudian, Puteri Tsundere itu berbisik lembut di telinga kiri sang kucing manis. Katanya:

.

"Actually, i love you!."

.

Babak 2: Selesai

.


Pojok Nulis: Segala puji syukur bagi Tuhan YME, sehingga cerita ini bisa selesai dengan penulis yang masih sehat walafiat.

Melihat ke belakang, fanfic ini hampir mungkin tidak akan pernah aku rilis kalau bukan karena dorongan Xenotopia. Entah dia baca lagi atau enggak, yang jelas saya terima kasih banyak atas dukungannya! Juga untuk Lemonchi, lalu Anata 1703 yang senantiasa menghiasi komen fanfic ini, dan juga untuk dorimutoriga. sankyuu!

Dengan begini, saya bisa memutuskan untuk "Left Off" dari fandom ini. Masih ada banyak cerita yg ongoing, tapi setidaknya saya gak bikin itu jadi cerita "gantung" untuk dibaca.

Tolong doakan permainan LLSIF saya yang semakin miris buat dimainin! T6T

Btw, saya masih berusaha bales review penulis lainnya.

.

ps: sebenarnya inti cerita ini ada di dalam gambarnya (yuk, di zoom! kira2 bisa nebak maksud gambarnya? :v ), dan kalau kalian akrab dengan gimana cara saya mulai nulis awal cerita ini seharusnya ngertilah gimana akhir cerita ini sebenarnya.

.

Promo ID Grup Line Love Live! Aqours: (kasih at sign) "cnh1870x". Silahkan di add! :)

Homepage Blog: reason4live . blogspot . com