Periode 11: Tidak Percaya?

.

Keesokan Harinya.

Hari senin, awal baru di bulan Juni di jepang. Ini juga menandakan bahwa musim semi akan segera berakhir disusul dengan awal musim panas yang segera tiba. Beberapa orang bahkan sudah mengenakan pakaian yang lebih longgar dan tipis untuk menyambut anomali peningkatan suhu yang bisa terjadi sewaktu-waktu di jepang.

Di sisi lain, bagi para murid SMA Otonokizaka waktu ini juga menandakan bahwa sudah hampir satu semester mereka menjalani aktivitas sekolah. Beberapa siswi kelas satu bahkan sudah mempersiapakan jadwal kegiatan untuk liburan musim panas pertama mereka. Beberapa gadis lainnya mulai bersolek untuk kencan pertama mereka, namun di atas itu semua yang lebih penting bagi mereka saat ini adalah memikirkan bagaimana caranya lolos dari ujian akhir semester yang segera tiba.

"O-O... Ohayo, Kayo-chin!"

Sapa gadis kucing itu melangkah riang dengan kaki lincahnya meraih pundak sahabatnya sembari senyum mengembang di wajahnya. Pagi hari ini mereka baru saja tiba di pintu gerbang depan sekolah secara bersamaan. Gadis kucing itu dengan manja memeluk Hanayo sambil mengelus-eluskan pipinya menyentuh wajahnya dengan nyaman sambil terus mendekap erat.

Tebar senyuman mengelilingi suasana sekitar mereka ketika dua sahabat karib itu saling bertemu dan seolah tidak ada batasan yang menghalangi kontak fisik mereka sehingga keadaan semacam itu sudah dianggap lumrah oleh para teman lainnya.

"Rin-chan?!"

"Ehhm, Tumben kamu kok lemes?"

"Ehehe, Hari ini aku bangun kepagian." Jawab Rin sambil menggaruk tengkuk belakang lehernya yang tidak gatal namun Hanayo masih tidak puas dengan jawaban tersebut merasa ada sesuatu yang janggal dari diri Rin saat ini. Benar, senyum tawa itu ternyata tidak cukup untuk menyembunyikan lipatan kantung mata Rin dari pandangan mata Hanayo.

"Ehh, kamu pasti habis main games lagi yah?! Kamu itu yah..." Tebaknya.

"Ehh? I-Itu..."

"Ahahaha... yah, ketahuan deh..?!"

Respon Rin dengan segera mengiyakan pertanyaan Hanayo, jawaban yang segera membuyarkan kerisauan Hanayo yang mudah ditebak. Lain watak, lain hati. Rin benar-benar mencintai temannya ini sehingga dia tidak ingin sahabatnya itu terlalu banyak pikiran mengenai tindak-tanduknya saat ini. Termasuk untuk perkara hati yang disebabkan oleh Maki sehingga membuatnya pecah konsentrasi dan tidak bisa tidur semalaman kemarin.

"Huft, jadi kamu pasti belum ngerjain PR, kan?"

"PR, nyaa?! Emangnya PR pelajaran apa, nyaa?!"

"Huft, semuanya, Rin-chan.." jawab Hanayo sambil menghela nafas panjang.

"HWAAAA... KAYO-CHIN, PINJEMIN AKU CATATANMU DONG!"

"Iya, iyah... Kamu boleh menyalin bukuku, kok..."

"Kalau begitu, ayo kita lari...!"

"Ehh, gak usah tarik-tarik gini dong!"

Pada akhirnya mereka berdua memulai pagi itu dengan berlari menyerobot teman-temannya yang masih berjalan santai menuju gedung sekolah. Tanpa membuang waktu mereka bergegas menuju ruang kelas untuk menyelesaikan PR Rin yang sama sekali belum dikerjakannya.


Di dalam Kelas.

Kini jam telah menunjukkan pukul 07.30, kurang dari setengah jam lagi pelajaran pertama segera dimuali dan saat ini beberapa teman kelasnya telah nampak meramaikan suasana kelas tersebut. Rin dan Hanayo yang baru saja tiba segera menuju meja mereka untuk menyusul beberapa temannya yang juga sedang menyalin PR harian temannya.

"Jadi, hari ini kamu sudah merasa sehat, kan?" sela Hanayo sembari memperhatikan Rin mengerjakan PR.

"Hmm? Maksudmu apaan Kayo-chin?! Rin itu selalu sehat, nyaa?!"

"Nah, yang kemarin itu?"

"Ahh, itu sih cuma efek kecapekan aja, nyaa... ahahahaha!" sangkal Rin sambil terus tertawa lebar namun Hanayo tidak menyukai cara tawa itu dan segera memotongnya.

"Rin, selama ini kamu sakit kan?!"

"E... Ehh, ngomong apaan sih kamu itu Kayo-chin? M-Mana mungkin Rin sakit-sakitan! Ehehehe..." sanggah Rin gugup.

"Bohong! Aku tahu sejak kecil kamu itu mengidap suatu penyakit tertentu, kan?!. Aku sudah beberapa kali melihatmu pergi ke Rumah Sakit secara rutin setiap bulannya."

"Aku tahu kamu itu lagi sakit, kan?! Meskipun aku sama sekali tidak memiliki petunjuk tentang penyakit yang kamu derita, bahkan orang tuamu juga tidak mau memberitahuku. Tapi itu semua adalah benar, kan?!"

"Heh?! Huahahahaha... Kamu salah orang kali! M-Mana mungkin Rin ke Rumah Sakit?! Ngapain juga aku pergi kesana?!"

"Hah... Sungguh! Aku tidak mungkin salah orang! Ayolah, ceritakan kepadaku, masak kamu tidak percaya aku, sih?!" ujar Hanayo sedikit bimbang

"Aduh, Kayo-chin! Rin ini baik-baik saja, kok!" sahut Rin dengan tatapan mata tajam dan selanjutnya diiringi atraksi menirukan binaragawan. "Lihat nih, tuh, tuh, tuh, tuh!"

"T-Tapi.."

"Tenang saja, Kayo-chin... Rin ini orangnya kuat, kok. Mana mungkin aku menderita penyakit seperti yang kamu duga?! Lagipula selama aku masih hidup, kamu akan selalu menjadi sahabat terbaikku, Selamanya!" jawab Rin sumringah sambil memegang pipi Hanayo yang mulai memerah sementara itu keringat dingin terus membasahi kening Rin sembari dia terus meyakinkan sahabatnya tentang dugaannya yang tepat itu.

.


.

Pada saat yang sama fokus bola mata Hanayo segera memudar setelah dia memperhatikan lekat manik coklat muda itu telah kehilangan fokus dan tampak kosong saat menatapnya

...

Kata-kata itu lagi...

"Bersahabat selamanya, yah?"

Tentu saja aku tahu itu Rin,

itu terlihat jelas kok bahwa saat ini...

kamu sedang berusaha keras mengelabuhiku.

.


.

Aku begitu kecewa dengan Rin yang sekali lagi tidak bisa jujur kepadaku. Aku heran mengapa semakin lama hubungan kami berdua semakin longgar setelah memasuki bangku SMA. Apakah ini kesalahanku yang tidak bisa mengikuti hobinya? Ataukah...

"Ahh, Maki-san! Ohayou." seruku saat melihat sang ketua kelas kami memasuki kelas.

"Ohayou."

Pada waktu itu Maki baru saja tiba ke dalam kelas saat Rin masih memegang pipiku dan ketika aku baru menyapa dirinya aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi kepada Rin. Ekspresi wajahmu itu tiba-tiba berubah menjadi kaku, lebih pucat dan gusar. Tidak seperti biasanya kamu bersikap seperti ini, biasanya kamu akan menatap wajah Maki dengan muka riang?! Aneh!

Tidak! Ini bukan lagi aneh tapi benar-benar mencurigakan! Entah mengapa semenjak kemarin aku menangkap gelagat yang aneh terhadap kalianberdua. Haruskah aku memaksamu untuk mengatakan itu? Ah, Tidak. Kalau itu Rin, dia pasti bakalan curhat kepadaku, cepat atau lambat, iya kan?.

.


.

"Ahh iya, Untuk pentas seni sekolah bulan depan! Kamu juga ikut bagian sebagai panitia acaranya kan, Rin?" tanya Hanayo kepadanya

"Ummhh... Entahlah, nyaa?! Rin, tidak ingat. Emang ada acara apa yah?"

"Ehh? Pentas seni... Festival sekolah!"

"Masaka, jangan bilang kamu lupa?! Bukannya kamu juga ikut memimpin rapat kelas minggu lalu?!"

"Entahlah, mungkin Rin tertidur saat itu, nyaa.. tehehe..."

"Hadeehh, Rin.. Kamu ini yah? Butuh Aqua?!"

"Hehehehe..."

Lagi-lagi Rin yang ceroboh membuat ulah karena tidak memperhatikan dengan baik jalannya rapat yang dia sendiri pimpin untuk festival kebudayaan sekolah mereka. Acara Bunkasai SMA Otonokizaka sendiri akan diadakan pada awal bulan November, karena jumlah murid di tahun ini semakin sedikit sehingga pihak sekolah berencana melibatkan anak kelas satu dalam struktur lengkap kepanitiaan mereka.

"Eh, Miki-chan!" seru Rin sambil menggebrak meja teman di belakangnya.

*BRAKK!*

"Hyaaaa?! Duhh, A-ada apa sih, kucing pettan?" sahut Miki gelagapan kaget menghadapi tingkah Rin yang tiba-tiba menggebrak mejanya dan sukses membuatnya seisi mejanya berantakan saat dia sedang asyik menyalin PR matematikanya.

"Ehh, Kucing pettan?"

"Anu, apakah Rin ikut bagian dalam pentas seni festival sekolah kali ini?"

"Umm... Tentu saja! Kamu udah pikun yah?! Kamu kan yang jadi ketua seksi perlengkapan, Huh?! Kan kamu sendiri yang minta divisi itu?"

"Oh gitu yah?"

"Oh iya, sekalian nih kamu tolong lengkapi daftar laporan rincian acara ini secepatnya lalu berikan ke ketua acara, yah?" kata Miki sembari memberikan tumpukan arsip laporan keuangan divisi mereka.

"Lho, memangnya siapa ketua panitianya?"

"Maki Nishikino-san"

"Ehh, M.. Maki-chan!"

"Hah, Kenapa? Mau protes?!" tegur Maki ketus yang secara tiba-tiba menoleh kepada Rin.

"Eh, en.. enggak, nyaa!"

Maki yang mendengar jawaban Rin hanya bisa menghela nafas panjang seolah bosan dengan tingkahnya dan segera pergi berlalu meninggalkan kelas menuju ruang guru untuk sebuah keperluan. Pada saat itu Rin tampak begitu tegang setiap kali Maki berbicara kepadanya.

"Kalau begitu Rin-chan, aku minta tolong untuk melengkapi dokumen ini yah! Tolong, jangan lupa itu! Hari sabtu adalah tanggal deadline-nya!"

"Ahh, b-baiklah.." jawab Rin lunglai.

"Nah, kalau begitu.. Terima kasih ketua! Hihihi..."

Rin kembali menghadap bangkunya dan berusaha secepat mungkin menyalin PR Hanayo yang masih cukup banyak. Setidaknya kurang pelajaran bahasa, sains, kewarganegaraan dan matematika. Eh, ini sih baru selesai 1/5 nya doank! Satu-satunya pelajaran yang baru selesai adalah Bahasa inggris dan waktu bel masuk menunjukkan kurang dari 20 menit lagi! Dan...

Super-Copy-Booster Rin... Aktifkan!


Bel Istirahat

Pada akhirnya Rin berhasil menyelesaikan tugasnya tepat pada waktunya dan mengumpulkan tugas sekolahnya dengan baik namun itu semua memerlukan harga yang harus dibayar, stamina fisiknya segera terkuras habis dan tidak dapat mengikuti proses belajar oleh gurunya dengan baik. Beberapa kali dia bahkan berusaha untuk tidur kalau saja peluru-peluru kapur papan tulis itu tidak mengenai jidatnya.

"Nyaa, aku capek!" keluh Rin lunglai sesaat guru sains mereka selesai meninggalkan kelas.

"Hehehe... Salah sendiri gak ngerjain PR kemarin!" balas Hanayo jahil.

"Iya.. Iya deh, aku ngaku salah. Udah dong, jangan bahas itu lagi!"

"Jangan diulangi lagi yah! Nah, ayo makan sekarang."

"Haik... Kalau inget yak?!" angguk Rin lemah

"Hmm... Maki-san, ayo ikut makan bareng!" ajak Hanayo kepada Rin yang sedang merapikan mejanya.

"Umm... Aku mau makan di kantin saja." jawabnya mengangguk singkat.

"Baiklah, kita makan bareng disana saja, yah?..."

"Ok!" jawab Maki meninggalkan kelas.

"Nah, Rin-chan. Ayo kita pergi sekarang."

"Hnnnn... Maaf, Kayo-chin, aku bener-bener capek nih, ngantuk berat, aku tidur di kelas aja yah."

"Heeh? Trus bekalmu?"

"Emm, sebetulnya aku juga tidak bawa hari ini. Jadi, tenang saja... Hehehe..." bisik Rin kepada Hanayo.

"Ehh, kamu ini aneh deh!"

"Ya sudahlah, byee.."

Hanayo lalu meninggalkan Rin dan beranjak pergi ke kantin. Sementara itu Rin yang berada di dalam kelas sendirian mencoba untuk memejamkan matanya namun dia tidak bisa tidur lelap karena perutnya berteriak kencang minta diisi namun...

"Errr... Maki ada disana..."

"Kayo-chin, gomen ne.."


Kantin

Hanayo baru saja tiba ke dalam Kantin sesaat setelah Maki membayar order pesan makanannya dan hendak mencari meja kosong. Alih-alih mendapat tempat dia malah kesulitan untuk berjalan menerobos teman-temannya yang segera menyerbu bagian kasir. Berkat bantuan Hanayo, Maki berhasil lolos dari lautan manusia tersebut dan duduk di meja favorit mereka. Meja tempat biasanya ketiga gadis itu pernah makan bersama.

Maki memesan nasi bento buatan sekolah, nampaknya dia begitu ketagihan untuk terus memakannya sehingga menyuruh orang rumahnya sengaja tidak menyiapkan bekal untuknya hari ini, sedangkan Hanayo yang tampak berdiet lebih banyak menambah porsi sayur di bento miliknya. Beberapa saat berlalu dan Maki tidak kunjung memakan bekalnya seperti hendak menunggu seseorang. Hanayo yang sadar dengan respon gusar Maki lalu berusaha membantunya.

"Hmm... Lho, Rin kemana?" tanya Maki heran.

"Oh, dia ada di dalam kelas, ngantuk berat katanya."

"Ndak makan?"

"Ndak, dia bilang gak bawa bekal makanan juga."

"Heh, anak itu!" gumam Maki gusar.

Sementara Hanayo tidak terlalu mempedulikan itu tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan tingkah Maki yang segera panik berdiri dari tempatnya duduknya sambil membawa dompetnya.

"Hanayo-chan, maaf aku harus pergi sebentar!" kata Maki dengan raut muka tegang mohon diri.

"Kamu boleh makan dulu saja, aku tidak akan lama kok!"

"Umm... Baiklah."

Maki secara tergesa-gesa pergi meninggalkan meja makannya dan menuju kasir sambil menyerahkan sejumlah uang dan mengambil beberapa roti dan minum tanpa sempat menukar kembaliannya. Dia lalu pergi meninggalkan kantin dan bergegas menuju ke kelasnya.


"RIN...!" seru Maki keras saat membuka pintu kelas.

"Ehh, M... Maki-chan?!" sahut Rin kaget saat dia melihat Maki yang baru saja tiba di kelasnya dengan muka kusut dan baju berantakkan bagai dikejar-kejar anjing. Beruntung suasana di kelas sedang sepi sehingga hanya ada Maki dan Rin saja.

"Baka! Kamu ini mau mati yah?!"

"Ehh?!"

"Nih, Ambil ini! Sudah, Lekas habiskan sekarang!" katanya sambil menyodorkan satu bungkus kresek bawaannya.

"Ehh, apa ini?!" tanya Rin sambil mengintip isi kresek itu yang berisikan sejumlah kue dan air mineral didalamnya. Maki setelah menyerahkan itu bergegas meninggalkan kelas, namun sebelum itu dia berkata:

"Lain kali aku tidak akan berbuat seperti ini lagi. Aku akan membiarkanmu kelaparan dan jatuh sakit. Lalu setelah itu aku akan memanggil ambulan dan segera menceritakan penyakitmu kepada teman-teman di depan kelas."

"Ehh? Ja... Jangan!"

"Makanya jangan bertindak konyol seperti ini lagi!" pekik Maki geram saat menatap matanya yang terbuka lebar.

"Apakah kamu tidak tahu kalau kamu sengaja melewatkan jam makan siang itu dapat merusak sistem metabolisme hati di dalam tubuh? Apakah kamu tidak sadar kalau kamu itu baru saja keluar dari rumah sakit?! Kamu itu yah..."

"Tcih, sudahlah...!"

"Tunggu, Maki-chan..."

"Te.. Terima kasih." kata Rin membungkukkan kepala namun Maki hanya sekedar mengangguk pelan tanpa menoleh.

Maki setelah keluar kelas hanya bersandar di samping pintu kelasnya dan mengintip Rin yang masih mematung menatap roti pemberiannya digenggaman tangannya. Sementara Rin sedang mengucapkan sesuatu namun itupun tidak terdengar oleh Maki. Setelah itu dia lalu memakan roti itu dengan penuh emosional. Maki yang puas melihat itu lalu pergi menuju kantin dengan senyuman terkembang di wajahnya.


Sisi Lain

Saat itu di dalam kelas Rin memandangi roti pemberian maki dengan penuh rasa haru. Saat ini dia tidak tahu harus bersikap seperti apa jika menemui dia lagi sekarang. Pikirnya:

"Maki, kamu itu sebenarnya sedang marah denganku atau tidak, sih?!"

.


Periode 11: Selesai


.

Pojok Nulis: Welcome Home buat Lechimonchi & Anata 1703 kalian emang pembacaku yang setia. :terharu:

to Lechimonchi: kompor kali panas.. wwww...

to Anata 1703: iye rumit... saking rumitnya saya sampe kesulitan nyambungin konsep cerita ketiganya. sepertinya bakalan dibuang nih... padahal udah 2,5k kata. orz

.

Oh iya, minta pendapat aja nih... recananya mau masukin cerita ttg Rin dkk pergi liburan. Nah enaknya kemana yah? Hutan/Gunung atau Pantai/ atau kemana? Kalo gak ada yg jawab berarti ke Hutan aja yah, mending Hutan soalnya :mekso:. wwww...

.

Next Release: 1 November (tanggal spesial). Orz, sekarang waktunya mikirin buat tgl 26 besok /. Author Notes: Happy Birthday to my Mom! (22 Oct) Thx u so much for your great love to me and family! I love u so much! :)