Periode 12: Tidak apa-apa

.

Dia berjalan mundur menuju ujung sudut kelas yang tidak bercelah. Punggungnya menyentuh dingin dan kerasnya tembok belakang tempat dia berdiri. Jalan buntu! Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi sembari ketiga orang itu terus memojokkannya.

Pupil matanya tetap dikecilkan seakan tidak sedang berusaha menunjukkan kegugupannya namun nafasnya memburu cepat keluar dari hidungnya meskipun dia tidak habis berlari, tubuhnya menggigil kaku bukan karena ketakutan, keringat mulai membasahi wajahnya meskipun matahari masih belum membumbung tinggi, gejolak hatinya berpacu semakin kencang melawan aliran detik jam yang terus berdetak. Saat ini satu hal yang dia bisa perbuat adalah berusaha menenangkan hatinya agar tidak terintimidasi oleh pertemuan tiga gadis yang berjalan semakin dekat untuk memojokkan dirinya itu.

Intimidasi? Bullying? Sepertinya situasi ini memang tidak terelakkan untuk sekolah menengah atas pada umumnya apalagi untuk sekolah khusus putri semacam ini. Namun untuk percaya bahwa dia bisa terlibat dalam masalah seperti ini, Itu sangat sulit dipercaya, gadis yang bermimpi untuk bisa berteman dengan semua orang di sekolah ini bahkan hampir tidak mempunyai musuh disini namun bahkan senyuman dan keceriaan yang selalu terpasang di wajahnya itu tidak mampu meredakan situasi saat ini. Dihadapannya raut muka kesal yang terpasang diwajah mereka segera membuncah menjadi raungan kemarahan yang ditujukan kepada gadis itu. Mereka menuntut sebuah pertanggung jawaban yang tidak bisa dijelaskan oleh dia.

"A-APA?!"

"K-KAMU BERCANDA KAN, RIN?!"

Suasana tenang pagi hari di dalam kelas 1-A mendadak pecah ketika ketiga gadis itu memasang muka gahar dan alis yang terpasang tinggi di wajah mereka bersatu padu untuk mengerubuti diri Rin saat ini. Sementara Rin yang berusaha untuk menutupi mimik wajah paniknya berusaha setenang mungkin untuk merendahkan notasi ucapan perkataanya sehingga tidak ikut meladeni emosi teman-temannya yang semakin meninggi.

"M.. Maaf-Nyaa, tapi aku sudah mencarinya ke semua tempat tapi tetap juga belum ketemu!"
"Duh, gimana nih?!" sahut Miki, salah satu gadis berambut pink yang berada disekitar mereka dengan panik.

Miki, gadis yang duduk di belakang bangku Rin itu kemarin lusa telah menyerahkan dokumen laporan kegiatan acara kelas mereka kepadanya yang didapuk sebagai ketua seksi perlengkapan mewakili anak kelas satu. Namun ketika menjelang tanggal deadline pengumpulan laporan tersebut, Rin membuat gaduh kelas ketika dia membongkar isi tasnya namun tidak mendapati dokumen tersebut.

"Masaka,jangan-jangan ini cuma alasan karena kamu belum mengerjakannya saja, kan?" sindir Kirin.

"Heehh... Aku sudah menyelesaikan itu!"

"Kalau begitu mana buktinya?!"

"Kalian berdua... Sudah-sudah jangan bertengkar!" lerai Leo

"Gezz... Tapi, gimana nih?! Udah gak ada waktu lagi, nih?!"

"Pokoknya, kamu harus tanggung jawab, Rin!" bentak Miki sambil mengacungkan jari ke muka Rin.

Ketiga gadis itu tetap bersikukuh tidak mau mengalah dan hanya bisa memojokkan Rin yang sudah tidak berdaya. Pada saat itu di dalam kelas tersebut hanya ada ketiga gadis dan Rin yang berada di sudut kelas sedangkan teman-teman lainnya hanya bisa melihat aksi mereka dari kejauhan.

Ketiga gadis itu adalah Miki, gadis berambut pink yang duduk di bangku belakangnya. Leo, cewek gals yang selalu memakai make-up menor yang kontras dengan warna kulitnya yang sengaja dibuat coklat. Serta Kirin, gadis yang memiliki perawakan badan besar di antara murid kelas satu yang berbalik menyerangnya. Satu hal yang kalian boleh tidak percaya bahwa sebenarnya ketiga gadis ini adalah sahabat akrab Rin yang selalu diajak berkumpul bersama-sama namun situasi saat ini berubah 180° menemui jalan buntu dan antiklimaks karena Rin juga tidak tahu harus berbuat apa.

"Ohayou, R-Rin?!"

Dan di tengah-tengah keributan tersebut Hanayo yang baru saja sampai ke sekolah memasuki ruang kelasnya tidak pelak ikut terkejut melihat situasi Rin saat ini dan segera menerobos barikade untuk melindungi sahabatnya itu.

"Hehh, ada apa, nih?! Miki-chan?!, Kirin-chan?!" seru Hanayo panik. Rin yang mengetahui sahabatnya telah datang tidak kuasa meluapkan isak manjanya.

"Kayo-chin!"

"Gezz, kamu tidak akan percaya ini, Hanayo!" jelas Miki.

"Rin, berani-beraninya dia menghilangkan dokumen laporan keuangan kita! Padahal itu adalah dokumen yang harus diserahkan kepada OSIS hari ini!"

"Emm... Rin, benarkah demikian? Apakah kamu tidak ingat dimana meletakkannya?" tanya Hanayo lembut.

"T-Tidak... Tapi aku juga tidak pernah merasa menghilangkan itu!" sanggah Rin.

"Sungguh, Rin sudah selesai mengerjakan itu kok! Bahkan aku masih ingat memasukkan dokumen itu ke dalam tas pagi ini namun saat di dalam kelas ketika aku hendak mengeluarkannya ternyata dokumen itu hilang, seseorang telah mencuri itu!"

"Heh?! Jadi sekarang kamu sedang menuduh seorang diantara kami sengaja mencuri itu?!" respon Leo geram.

"N..nggak.."

"Alah, tasmu bolong, sih?!" sindir Miki.

"Ndak! Nih, lihat sendiri! Mana mungkin tas Rin bolong?!" jawab gadis tomboy itu mempertunjukkan bagian dalam tas jinjingnya.

"Duh, Trus gimana nih?" tanya Kirin bimbang kepada kedua rekannya.

Sejenak situasi berubah menjadi mencekam karena mereka tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi ini. Hanayo yang sedari tadi hanya memperhatikan ekspresi gelisah ketiga temannya juga tidak tahu harus berbuat apa hingga sebuah ide terbesit dalam pikirannya.

"Umm... Apakah kalian tidak punya file masternya?" kata Hanayo angkat suara.

"Ada sih, tapi aku simpan di rumah! Dan mana mungkin aku mengambilnya sekarang?!" jawab Miki.

"Apakah di rumahmu tidak ada internet?"

"Err.. ada sih, tapi?"

"Nah, bagus! Suruh orang rumahmu untuk mengirimkannya via email. Nanti kita akan print ulang dan kerjakan lagi bersama di sekolah."

"Tapi, siapa yang mengirimkannya? Mamaku? Dia kudet internet tahu?!"

"Yah, ajarin dong sampai bisa!" omel Rin memaksa.

"Tch, kamu itu yah orangnya nyusahin banget! Iya-iya... Aku telepon sekarang!"

"A.. Arigato-nya!"

Miki lalu berjalan keluar kelas sambil menyalakan ponselnya untuk menghubungi orang rumahnya. Sementara itu Leo dan Kirin tetap di dalam kelas untuk mengawasi Rin tapi Hanayo ternyata masih memiliki tugas lain yang harus dikerjakan oleh Rin sendiri.

"Sementara itu.. Rin! Kamu harus menemui Maki untuk meminta maaf atas keterlambatan mengumpulkan dokumen itu." perintah Hanayo kepada sang gadis kucing.

"Ehh, a-aku?!"

"Kamu! Iya, kamu!"

"Kenapa? Ha.. Harus, yah?! Apa tidak bisa mengirimkannya setelah dokumennya selesai aja?" tawar Rin setengah hati.

"Gezz! Apa aku harus laporkan ini ke Shibuya-sensei saja?!" kata Hanayo dengan mata datar karena tidak menyukai respon Rin.

"J-Jangan! Baiklah, a-aku mengerti!"

Pada akhirnya Rin segera keluar dari ruangan kelasanya untuk menemui Maki perihal keterlambatan divisinya untuk mengumpulkan dokumen proposal rancangan keuangan acara mereka. Sebelumnya Kirin dan Leo yang ada disana juga sempat memberi tahu Rin tentang keberadaan Maki sekarang.

Rin melangkah keluar dari kelasnya dengan langkah pelan ketika mengetahui bahwa Maki sedang bertugas jaga di ruang UKS. Pikirannya terbang kemana-mana seiring langkah kakinya yang semakin berat untuk mendatanginya namun ketika dia berpikir bahwa ini sepenuhnya adalah kesalahannya maka dia semakin membulatkan tekad untuk menemui dia.

"Oh iya, Maki ada di ruang UKS sekarang."

"UKS? Pergi ke ruangan ini lagi, yah? Tapi apakah Maki beneran ada disana sekarang?"

"Tapi kalau dia gak ada disana...?"

"Umm... Aku harap dia gak ada disana sih!"

Tidak sampai 5 menit baginya untuk mencapai ruangan yang berada di lantai dasar tersebut. Hatinya bergejolak ketika melihat pintu kayu yang berada di depannya sekarang. Ada sedikit perasaan getir yang tersisa dari bekas ingatannya saat terakhir kali berada disana.


Ruang UKS

"Permisi!"

Rin mengetuk pintu masuk UKS dengan pelan namun tidak ada jawaban dari dalam ruangan melainkan terdengar suara gelak tawa yang cukup nyaring dari dalam sana. Terdengar suara Maki yang sedang bersenda gurau dengan Shimamura-sensei.

"Hahahahaha... Hahahahaha..."

"Ehh, Maki-chan?" intip Rin dari celah pintu yang terbuka

"...Trus kamu tahu, mamamu itu menenteng spuit jarum di tangannya dan berkacak pinggang seperti ini sambil berkata kepada para mahasiswanya..."

Rin melihat ekspresi mimikal guru UKS yang masih muda itu sedang memperagakan gestur karakter seorang lainnya, sedangkan Maki yang memperhatikan itu dari kursi seberang hanya bisa tertawa kalem sambil menutup mulutnya.

"...Kalian itu yah! Bagaimana mungkin kalian bisa menjadi dokter kalau ngambil darah aja gak becus?!"

"Lalu temanku yang pingsan itu tidak sengaja celetuk: "Yah, maaf bu.. Kita kan bukan vampir."

"Hahahaha..."

Suara tawa dan ceria mereka berdua menghiasi ruangan tersebut sebelum akhirnya terhenti oleh suara ketukan dari luar pintu UKS.

Tok.. Tok... Tok...

"Yah, silahkan masuk..."

Sensei merespon ketukan itu. Rin lalu memasuki ruangan dengan kondisi harap-harap cemas. Dia membungkukkan badan saat menemui Shimamura-sensei dan mengarahkan pandangannya kepada Maki yang ada disampingnya. Kedua gadis itu hanya bisa saling menatap muka ketika melihat gerak-gerik mencurigakan Rin.

"Maaf, Permisi... Anu, Maki-chan?"

"Hmm.. Rin? Ada apa?!" tanya Maki dingin.

Rin yang mendengar suara Maki yang datar membuatnya menjadi panik dan hanya bisa diam terpaku di tempatnya berdiri tanpa berusaha melanjutkan perkataannya lagi. Entah mengapa dia menjadi ragu untuk meneruskan perbuatannya sekarang. Dia hanya terus memainkan jemari tangannya yang terlipat seakan tidak tahu harus merangkai kata seperti apa untuk dikatakan kepadanya.

"Umm... Maaf, aku punya sedikit keperluan denganmu."

"Jadi, Umm..."

Melihat gerak gerik Rin yang semakin aneh maka Maki tanpa pikir panjang segera mengambil tindakan. Dia segera berdiri dari kursinya dan menarik tangan Rin secara tiba-tiba untuk menuntunnya keluar ruangan. Reaksi tiba-tiba itu jelas membuat gadis itu terkejut.

"Baiklah, aku mengerti... Ayo, ikut keluar denganku. Sensei, aku mohon ijin."

"Ahh, tidak apa-apa. Silahkan."

Setelah sensei mempersilahkan mereka berdua untuk pergi maka Maki dan Rin beranjak keluar meninggalkan ruangan UKS menuju bawah balkon tangga gedung yang sepi. Pada waktu itu pelajaran pertama telah dimulai sehingga kondisi gedung sekolah sudah sepi. Suasana ini begitu hening dan tenang karena tidak ada guru pengawas yang lewat, hembusan angin sepoi-sepoi yang turun melalui tangga atas dengan sejuk dan pancaran sinar matahari yang menembus tirai jendela gedung sekolah juga ikut menambah suasana klasik di sekitar tempat mereka berada.

"Jadi, ada apa?" tanya Maki langsung.

"Begini, Maki-chan..."

"Umm..."

"M-Maafkan aku!" sahut Rin keras langsung sambil membungkukkan kepala kepadanya. Maki yang melihat itu jelas menjadi bingung dengan keadaan tersebut.

"Ehh, M-Maksudmu?"

"Maaf Maki-chan, aku telah membuat kesalahan pagi ini. Dokumen proposal keuangan untuk festival sekolah bagi kelas kita yang aku bawa pagi ini tiba-tiba menghilang!"

"Menghilang?"

"Umm, Jadi aku minta tolong kepadamu untuk memberikan tambahan sedikit waktu lagi bagi kami untuk menyusun ulang dokumen tersebut. K-Kami sedang berusaha mencetaknya lagi secepatnya, kok. Jadi..."

Gadis itu terus membungkukkan kepala sembari menyampaikan permintaan maafnya. Hening, bahkan setelah dia selesai menyatakan isi hatinya, sang ketua kelas tidak membalas keinginannya.

"Begitu yah, Hmm... Aku mengerti sekarang." respon Maki singkat.

"Tapi, maaf, aku tetap tidak bisa membantumu."

"Ehh?!"

"Meskipun tugas ini dilimpahkan kepada setiap kelas namun tetap saja setiap divisi bertanggung jawab penuh dengan tugasnya masing-masing. Lagipula ini adalah acara milik OSIS." Jelas Maki yang sukses mematahkan harapan Rin. Gadis kucing itu tidak mampu menyembunyikan raut muka kecewa dan gelisah akibat kecerobohannya ini.

"Jadi, apakah kamu tidak bisa membantuku? Setidaknya berikan waktu kepada kami hingga sore hari ini?!"

"Gezz, apakah kamu hendak melimpahkan kesalahanmu kepadaku di hadapan OSIS?!"

"Ehh? T-Tidak, aku tidak bermaksud begitu!" tandas Rin bingung.

"Aku hanya minta tolong untuk kamu memohonkan ijin kepada ketua OSIS supaya memberikan kami sedikit waktu lagi."

Suasana kembali menjadi hening karena Rin sudah kehabisan kata-kata selagi berusaha menjaga perasaan Maki yang dia anggap cenderung mudah marah kepadanya. Sementara itu Maki juga ikut terdiam seperti orang yang tidak ingin diajak berdiskusi.

"M-Maaf... Aku yang salah. Maaf, aku tidak akan mengganggumu lagi, nyaa." ujar Rin dengan telinga terkulai berbalik meninggalkan Maki. Namun beberapa langkah setelah Rin beranjak pergi tiba-tiba terdengar teriakan Maki yang memanggil namanya dari belakang.

"Tunggu... Tch! Hei, pengecut mau pergi kemana kamu?! Ayo, ikut aku sekarang...!"

"Ehh, kemana?" ujar Rin yang segera menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Maki heran.

"Kemana katamu? Sudah jelas kan? Kita ke ruang OSIS. Ini masalahmu kan?, Kamu sendiri yang harus menjelaskan itu kepada mereka, bukannya aku."

"B-Baiklah...!"

Maki lalu menggandeng tangan Rin dan membawanya pergi ke ruang OSIS. Sejenak suasana canggung dirasakan oleh Rin karena Maki sama sekali tidak mengucapkan apapun sepanjang perjalanan tersebut. Gadis itu hanya bisa memandangi kibasan rambut merah menyala yang terurai semakin panjang mengikuti hembusan angin sedang melaju menyelaraskan derap langkah mereka berdua.

Rin juga bisa merasakan telapak tangannya yang semakin basah, bukan oleh keringatnya namun berasal dari tangan maki yang lembut menyatu di dalam genggamannya. Semakin lama dia memperhatikan itu serasa ada gejolak hangat yang timbul dari dalam dirinya, suasana di sekitar mereka bertambah semakin terasa panas seraya wajah Rin yang nampak memerah. Belum pernah ia merasakan perasaan semacam ini, Rin benar-benar kebingungan untuk meredakan degupan jantungnya yang berdetak semakin kencang sekarang.


Ruang OSIS

"Permisi!"

Sapa Maki saat mengetuk pintu ruang OSIS dari luar namun mereka berdua tidak mendengar ada suara balasan balik dari dalam pintu. Sekilas mereka mengira bahwa tidak ada orang di ruangan tersebut karena normalnya saat ini memang waktunya pelajaran. Namun tiba-tiba terdengar suara wanita dari dalam sana.

"Yah, masuk."

Agak ragu-ragu untuk mereka memasuki ruangan itu namun mereka tetap melakukannya karena sudah kepalang tanggung apalagi saat ini maksud dan tujuan mereka begitu jelas dan mendesak untuk dilakukan. Belum sempat mereka menyentuh ganggang pintu itu namun tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampilkan helaian rambut panjang hitam yang menjulur keluar pintu tersebut. S-Setan?!

"S-Selamat siang senpai, maaf kami mengganggu."

Salam mereka berdua kepada gadis berambut hitam panjang yang membukakan pintu itu namun suasana canggung itu tidak berlangsung lama karena kini giliran Rin yang terkejut setelah mengetahui sosok orang yang berada di dalam ruangan tersebut.

"Ehh, Rin-chan?! Ada apa kamu kesini?!"

"Ehh?! Umi-senpai? Kok disini juga?!"

"Lho, aku kan memang anggota OSIS disini?"

Umi, orang yang berada di ruangan itu segera mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Di ruangan itu terdapat berbagai surat berkas yang masih disusun berdasarkan abjad dan angka. Tampaknya festival sekolah ini memang telah membuat repot anggota OSIS hingga tidak dapat mengikuti kegiatan belajar sekolah.

"Maaf, apakah kami bisa bertemu dengan ketua OSIS?" sela Maki to the poin.

"Hmm... Eli-senpai saat ini masih ada keperluan sebentar. Memangnya ada apa toh?!"

"Begini senpai, aku mau minta maaf karena telah membuat kecerobohan sehingga dokumen proposal keuangan kelas kami hilang." ucap Rin sambil merendahkan kepala.

"Ehh, Rin-chan? Memangnya kamu bagian apa? Jangan bilang kalau..."

"Aku dari seksi perlengkapan. Dan aku yang menjadi ketuanya." jawab gadis itu menundukkan kepala. Umi yang mendengar itu hanya bisa melongo dengan badan terbujur kaku.

"Gosh, ya ampun! Bagaimana yah? Aku pikir ini adalah masalah yang serius karena Eli-san bukanlah orang yang dapat diajak kompromi untuk masalah keteledoran semacam ini."

"Kamu sudah bilang guru kelas atau guru pembimbing?"

"B-Belum..."

"Bagus."

"Begini saja! Kita anggap saja masalah ini usai, aku akan melaporkan kalau kalian sudah mengumpulkannya tapi kamu harus mengumpulkan dokumen itu secara diam-diam paling lambat hingga besok pagi." katanya sambil berbisik pelan kepada mereka berdua.

Mendengar solusi semacam itu, baik Rin dan Maki hanya bisa saling bertatapan muka karena tidak percaya dengan ucapan senpai mereka.

"Ehh? Apakah tidak apa-apa, senpai?" tanya Rin ragu.

"Sudahlah, jangan dipikirkan! Kamu itu bukan orang asing bagiku makanya aku akan membantumu kali ini, yah selama tidak ketahuan oleh..." perkataannya terpotong.

"Oleh siapa, Umi-chan?!" tiba-tiba terdengar suara gahar namun berkharisma dari depan pintu ruang OSIS yang terbuka lebar dengan sendirinya disertai siluet sosok seorang gadis tinggi semampai yang sedang bersandar di daun pintu.

"S... Senpai!"

"E-Eli Senpai..!"

"E-Eli-senpai... Sejak kapan kamu berada disitu? Ehehehe..." tanya Umi dengan suara gemetar dan keringat dingin yang membasahi dahinya. Tawa yang dipaksakan itu hanya membuat gadis pirang itu semakin ingin menggertakkan giginya dengan tangan yang ditekuk di pinggangnya.

"Sejak awal mereka masuk ruangan ini." jawabnya ketus.

"B-Berarti kamu telah mendengar semua ucapan kami yah? Ehehehe..."

"Persis." sahut Eli tersenyum seringai.

Suasana tegang meliputi ruangan tersebut karena tindakan mereka tertangkap basah oleh sang ketua. Sementara Umi masih kebingungan bahkan tidak dapat buliran keringat yang keluar di wajahnya namun Maki tiba-tiba berdiri dari bangkunya dan maju untuk menemuinya sembari membungkukkan badan kepada Eli.

"Senpai, maafkan aku... Aku mohon berikan waktu untuk seksi perlengkapan membuat dokumen ulang. Ini semua adalah kesalahanku yang tidak bisa memberi instruksi yang jelas kepada teman-teman di kelasku."

Eli menatap gadis terkaya di sekolah itu dengan pandangan keji. Dia tidak berminat mendengar alasan yang dia katakan meskipun itu sudah selesai diucapkannya.

"Hmm... Begitu yah? Memangnya apa jaminannya kalau dia tidak akan lagi terlambat mengerjakan itu?! Aku sama sekali tidak bisa mempercayai orang yang menunda-nunda pekerjaannya."

"Tapi, aku sudah menyelesaikannya!" bantah Rin.

"Lalu mana buktinya?!" pekik Eli dengan suara tinggi.

"I-Itu..."

Rin sama sekali tidak bisa membantah perkataan itu dan kembali duduk murung. Sementara itu Maki kembali angkat suara membalas perlakuan senpainya.

"Aku! Keluargaku yang akan menanggung semua dana keuangan festival sekolah ini kalau Rin tidak dapat mengumpulkannya besok!"

"Maki-chan, Jangan ngawur kamu?!" teriak Rin shock.

Sesaat Ruangan OSIS itu menjadi begitu tegang karena baik Eli dan Maki yang saling beradu mata seraya menjaga martabat mereka masing-masing sama sekali tidak mau mengalah. Namun Eli kini tampak menurunkan pundaknya selagi senyuman terlukis dibibirnya.

"Hmm... Menarik!" ujar Eli tersenyum licik. "Aku terima tawaranmu itu. Baiklah, Rin, (err.. itu namamu kan?) aku mengijinkanmu untuk membuat proposal ulang. Aku harap isi proposal itu tidak aneh-aneh, yah?."

"Ehh...?! Benarkah senpai?"

Rin bertanya ulang dan kini sang ketua OSIS menganggukkan kepala yang menyatakan bahwa dia serius dengan ucapannya kali ini. Murid kelas tiga itu menatap mata Rin tajam-tajam sembari dia meneruskan perkataannya.

"Kau ini tuli yah?" imbuhnya sambil tersenyum nyengir.

"Hmmm... Tapi, sepertinya akan lebih baik jika kamu tidak mengumpulkan itu deh. Hahahaha... Hahahaha..."

Lengkingan senyuman jahat bak ratu jahat yang bisa didengarkan dalam pertunjukan opera kini dapat mereka berdua dengarkan secara live namun itu sama sekali bukan masalah besar layaknya Rin yang kini sedang membungkukkan kepala seakan hampir menangis.

"Ehh... Terima kasih, senpai!"

"Sudah, kalian keluar sana!" perintah Eli kepada kedua anak kelas satu tersebut. "Dan untuk kamu, Umi..."

Suasana lega dapat terlihat di wajah mereka sebagaimana mereka keluar meninggalkan ruangan itu dengan hati gembira. Bersamaan dengan semakin menjauhnya Maki dan Rin dari pintu ruangan itu, mereka samar-samar mendengar keributan lain yang timbul dari dalam ruang OSIS meskipun tidak jelas ada apa, yang jelas saat ini terdengar Eli yang sedang memarahi Umi habis-habisan. Dan setelah kejadian itu berlangsung Rin berjalan di belakang Maki sembari menuju ruang kelas mereka namun kali ini berbeda, Maki tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya mendiamkan Rin sampai akhirnya gadis kucing itu mulai buka mulut untuk angkat bicara.

"Umm, Maki-chan..."

"Ada apa?"

"Terima kasih banyak."

"Ahh, Tidak apa-apa. Sudah kerjakan saja tugasmu itu secepatnya" jawabnya datar tanpa menoleh dan terus berjalan namun Rin yang mendengar itu tampak tidak puas dan melanjutkan perkataannya.

"Bukan, aku kira kamu selama ini membenciku."

Rin mengatakan itu dengan kepala tertunduk namun dia dikejutkan dengan aksi Maki yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan tetap berdiri diam sehingga membuatnya menubruk tubuh Maki. Maki yang kini berbalik muka menatap Rin dengan muka memerah.

"A..Ada apa, Maki-chan?! Wajahmu memerah?! A-Apakah kamu demam?" tanya Rin panik namun sang putri itu hanya diam tercengang tidak berusaha merespon pertanyaannya.

"Huh, justru selama ini aku kira kamulah yang membenciku?"

"Ehh? Aku?... Tapi bukannya semenjak minggu lalu kamu mendiamkan aku?"

"Aku selama ini... Tidak, aku tidak membencimu." jawab Maki ragu-ragu. "Sama sekali tidak."

"Tapi kejadian yang minggu lalu itu?"

"Hmm? Kejadian apa?" tanya Maki sambil memalingkan muka.

"T-Tidak..." jawab Rin dengan muka memerah.

Maki lalu memalingkan mukanya kembali menatap gadis itu namun kali ini sambil tersenyum. Senyuman putri itu jelas dapat membuat hati lelaki manapun di dunia ini segera melelah dan tunduk mematuhi setiap permintaannya. Termasuk bagi Rin yang kali ini menatapi aura putri yang berseri-seri di belakang tubuh Maki.

"Begitu yah, baiklah.. Bagaimana kalau kita mulai semuanya dari awal lagi?"

"Hai, perkenalkan namaku Maki Nishikino. Apakah kamu mau jadi temanku?"

Maki lalu mengulurkan tangan kanannya kepadanya. Sejenak Rin hanya bisa bengong melihat itu semua sebelum akhirnya air mata jatuh mengalir di pipinya. Tanpa banyak bicara dia berlari ke arah Maki dan memeluknya erat.

"Tentu saja!"

Gadis itu merangkul sahabatnya dengan erat dan Maki juga ikut membalas pelukannya. Suasana hangat di pagi hari itu membuat dinding es yang selama ini memisahkan hati mereka menjadi leleh dan telah hancur. Sementara itu dari sisi lain lorong koridor sekolah mereka terlihat gadis kacamata berambut coklat kekuningan sedang bersembunyi bersama rekan lainnya.

"Akhirnya, mereka berbaikan juga." katanya menghela nafas lega

"Huh, kamu puas, kan?" tanya rekan itu dengan ketus.

"Hehehe... Maaf, senpai."

"Berkat kamu, kini aku menyadari salah satu potensiku yaitu jadi maling buku orang."

"Maaf... Maaf! Tolong jangan marah lagi, senpai! Nanti aku akan mentraktirmu kok!"

"Rainbow cake! dan..."

"Stawberry cake, kan? Ya-iya aku inget kok..." jawabnya sambil tersenyum

"Sigh, Beneran deh... Kenapa kamu harus repot-repot melakukan ini sih?" keluh gadis itu menatap kelakuan kohainya dengan tatapan prihatin.

"Hehehe... Tapi ini semua dari ide rencana milik senpai sendiri, kan?!" balas sang kohai tidak terima. "Lagipula..."

"Aku cuma tidak tahan melihat tingkah laku mereka berdua lagi. Sifat jaim mereka selama dua minggu ini begitu menjengkelkan, aku tidak tahan melihat mereka terus diam-diaman dan perbuatan itu telah membuat muram Rin."

"Kamu benar-benar mencintai Rin yah?"

"Begitukah? Umm... Mungkin?" jawabnya dengan senyum palsu.

"Tapi, apakah kamu tidak menyesali keputusanmu ini? Hanayo?!"

"Ummm... Tidak."

Sang senpai hanya bisa menggelengkan kepala menatap kelakuan sang kohai yang hendak kelar dari tempat persembunyiannya. Dari sudut lorong itu, Hanayo lalu keluar meninggalkan senpainya untuk menemui Rin dan Maki sambil berpura-pura sedang mencari keberadaan mereka berdua. Dia lalu menutup aktingnya dengan menyerahkan dokumen proposal yang sedari tadi disembunyikannya kepada Rin dengan alasan baru saja menemukannya di sekitar loker sepatu. Meskipun Maki dan Rin tampak curiga namun mereka tidak mempertanyakan itu dan segera bergegas berlari menyerahkan itu ke ruang OSIS.

Tanpa terasa mereka telah melewatkan 2 jam mata pelajaran. Perbuatan itu jelas membuat sang guru kesal dan menghukum mereka bertiga untuk berdiri di depan lorong kelas sepanjang jam pelajaran berlangsung hingga jam istirahat namun itu bukan masalah besar lagi bagi mereka setidaknya mereka bertiga kini bisa tertawa lepas seperti semula.

.

Periode 12: selesai


.

Pojok Nulis: Alright! Dan inilah akhir kisah drama sekolah mereka bertiga. Selama ini kita telah melihat cerita persahabatan mereka, kisah Maki, dan kini sudah saatnya kita akan melihat kisah... Rin. Silahkan berbaik hati menyambut waifu saya.

BTW, Happy Birthday Rin Hoshizora. ^0^

Let's make our story together in the future... Keep Reading n GBU.

.

Next Release: 20 November 2016