Chapter 13: Pesta Teh
.
Siang hari ini suasana lapangan utama Kanda menjadi sedikit ramai karena dipenuhi oleh kaum tua dan muda yang sedang berkumpul disana. Mereka tampak bergotong royong untuk mengangkat kardus-kardus dan papan kayu dan kaleng cat untuk dibawa bersama-sama kesana. Beberapa mobil dan truk mini tampak sibuk untuk hilir-mudik mengangkut dan menurunkan kotak kiriman yang lebih besar bagi mereka, beberapa tukang ahli bangunan juga sudah bersiap untuk menyambut bahan kiriman tersebut sebagai bahan perlengkapan mereka untuk mendirikan tenda dan tempat blok stand yang akan dipakai berjualan oleh para penjual yang sudah menyewanya.
Meskipun cuaca langit semakin terik tanpa dinaungi awan, Keringat bercucuran dari badan bapak-bapak dan para pemuda yang hanya memakai kaus kutang putih dengan lilitan handuk di kepala mereka namun itu tidak cukup kuat untuk menggoyahkan niat mereka untuk terus memaku papan. Sementara di sisi lain ada paguyuban ibu-ibu berserta para putri mereka sedang merencanakan dekorasi dan cat yang akan dipakai untuk menghiasi acara di lapangan tersebut.
Ya, festival musim panas akan segera dimulai.
Suasana musim panas yang akan segera tiba memang disambut meriah oleh para penduduk disana namun hiruk-pikuk itu tidak hanya berlaku bagi orang-orang di lapangan Kanda saja.
Di belahan bagian lainnya, di dalam sebuah rumah komplek sederhana yang terletak kurang lebih sekitar 500 meter dari tempat itu berlangsung ada seorang ibu yang sedang sibuk menggeledah kamar anak gadisnya sementara gadis muda pemilik kamar itu hanya berdiri mematung di dekatnya tanpa berniat ikut campur untuk membantunya melainkan terus menenteng tiga set gantungan baju di tangannya, raut muka sebal dan berat hati tampak menghiasi wajahnya. Kamar yang penuh dengan asesoris kucing itu telah berubah bak kapal pecah yang baru saja dihantam gelombang besar.
"Nee... Mama, apakah ini tidak berlebihan?" protes gadis muda itu membuka suaranya.
Untuk pertama kalinya sang anak angkat suara namun tiba-tiba sang ibu mulai diam dan menoleh kepadanya dengan wajah cemas
"Hmm... Ada apa, sayang?"
Sang ibu menjawab itu saat sedang membongkar bagian laci bawah lemari bawahnya. Peluh keringat nampak membasahi wajah dan permukaan kulitnya karena terus menerus menggeledah kamar itu. Dia tampak benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya bagi kamar anaknya. Sang ibu mulai menjelajahi kostum anak gadisnya dari atas ke bawah dan kembali dari bawah ke atas dan raut gusar mulai muncul dari wajahnya sembari berkata,
"Ahh, Sepertinya warna bajunya terlalu pudar, yah?! Atau kamu gak cocok sama model itu, yah?! S-Sebentar mama coba carikan baju yang lain, yah?!"
"Yang ini? Bukan! Bukan! Ini? Duh, yang ini terlalu norak! Yang mana yah?!"
Gadis itu menjadi semakin terhenyak mengetahui tingkah laku mamanya yang menjadi semakin rajin untuk membongkar isi lemari bajunya. Sebenarnya tidak ada pakaian yang spesial di dalam sana, pikir gadis itu dengan yakin karena dia tidak merasa pernah mempunyai pakaian yang menarik di dalam sana namun setelah melihat pelbagai model baju asing yang tidak pernah dia ketahui telah dikeluarkan dari lemari tersebut dia hanya bisa tercengang pasrah dan menyerahkan semuanya ke tangan sang ibu.
Memang itu adalah pakaiannya tapi karena sehari-hari dia selalu memakai baju kaos t-shirt dan celana pendek menjadikannya tidak pernah ingat kalau ibunya pernah membelikan pakaian-pakaian itu sehingga pakaian itu hanya tersimpan rapi di dalam isi lemarinya yang paling dasar. Bagaimanapun juga semakin lama dia menyaksikan itu, ketika melihat tingkah ibunya itu maka iapun menjadi jengkel sehingga amarah gadis itupun semakin memuncak dan membuatnya tidak tahan untuk berteriak:
"Mou... Mama! Udah deh! Sudah cukup! Ini sudah ketiga belas kalinya Rin ganti baju!"
Kaget! Sesaat mamanya menghentikan aksinya dan menatap anak gadisnya yang baru saja selesai memakai gaun long-dress warna hijau dengan mata nanar.
"Tapi sayang, Ini itu acara yang penting buat kamu?!"
Menatap pandangan sayu sang ibu kembali sang anakpun tak kuasa untuk berhenti mengeluh dan hanya bisa memalingkan mukanya saja. Rin, gadis muda itu tidak tahu harus berkata seperti apa lagi untuk menghentikan kelakuan hyper energic mamanya.
Like Mother, Like Daughter.
Rin baru saja menyadari bahwa kelakuan energik yang dia miliki kini itu ternyata warisan sifat dari mamanya dan dia tahu benar bahwa sekali mamanya memegang perlengkapan make-up maka beliau akan terus berkreasi tanpa henti terhadap penampilannya bak anak gadis usia 10 tahun sedang merias barbie doll sampai puas. Peluh keringat pun mulai membasahi pipinya seiring suhu ruangan kamar tanpa AC itu semakin meninggi tapi belum sempat tangannya sampai menyeka keringat di wajahnya tiba-tiba ibunya kembali mengomel jengkel kepadanya.
"Ehh, Ehh... Nggak boleh, Rin! Make Up-mu ini nanti luntur kalau kamu lap seperti itu, nak!"
"Pake tissue dong! Duh, anak mama ini kok jorok banget sih?!"
Lagi, sang ibu memberikan ceramahnya sambil menyeka pipi basah sang anak dengan telaten.
"Ribet mah! Duh, kenapa jadi seperti ini sih?! Rin kan cuma mau dateng ke acara pestanya temen doang!" gerutu Rin jengkel namun dia tidak akan menduga jika reaksi perkataannya itu akan mempengaruhi tindakan sang mama yang mendadak menghentikan aksinya dan berdiri tegang serta memandangnya lurus kepadanya.
"Eh?! "cuma acara pesta teman", katamu?!"
"UNDANGAN PESTA ELIT SEMACAM INI KAMU ANGGAP CUMA ACARA PESTA BIASA?!"
"Duh, anak mama ini! Kamu belum tahu yah betapa elitnya acara pesta di taman kota itu?" tanya sang ibu sambil mengedutkan dahi.
"Elite Mini Garden Party!" itu sama sekali bukan acara biasa, nak?! Itu adalah acara jamuan minum teh yang dikhususkan untuk anak orang-orang kaya dan para bangsawan kota saja, tahu?!"
"Ini adalah acara legendaris yang termasuk ke dalam acara kegiatan kota eksklusif yang cuma ada satu tahun sekali di jepang. Dulu, waktu jaman mama masih muda – meskipun sampai sekarang juga masih muda, sih! - ada banyak sekali cewek yang bermimpi untuk bisa diundang oleh salah seorang pangeran yang kebetulan lewat dan menyambut mereka secara khusus untuk dibawa ke acara itu tahu?!"
"Trus?" tanya Rin antusias.
"Err, Yah, tentu saja itu semua cuma sekedar mimpi belaka, sih."
Sang ibu membuyarkan mimpi anaknya hingga tubuhnya yang terlalu condong ke depan itu menjadi jatuh ke belakang kasur akibat terlalu asyik memperhatikan ucapan ibunya.
"Huuuhh... Kirain beneran!"
"Tehehe... Udah deh, pokoknya intinya adalah kamu itu beruntung banget lho punya teman sekelas Maki itu! Super duper beruntung deh!"
"Huft, mulai lagi deh! Kalau kayak gini aku jadi males dateng, lho?!"
"Eh, Eh... Jangan ngambek gitu dong, say?! Bagaimanapun juga kamu itu anak kesayangan mami satu-satunya, Rin-chan!" kata sang ibu sambil memeluknya dengan lembut.
"Tehehehehe..."
"Pokoknya, kalau kamu disana nanti jangan jadi cewek yang malu-maluin yah. Siapa tahu kamu disana bisa dapet gebetan anak cowok kaya! Hehehe.."
"MAMA! G-Gak mungkin banget lah!"
"Ehh, jangan salah lho! Everything can possible happen! Seperti halnya ma..."
Sejenak ibunya terdiam kaku tanpa meneruskan perkataannya. Raut wajahnya berganti memerah dan terburu-buru memalingkan mukanya dari hadapan anaknya.
"Ma?"
"Ma, M-Maki... Iya, seperti Maki gitu lho maksudnya! Tehehehe..." jawab sang Ibu sambil membalik badannya lagi. Rin hanya bisa mendesah panjang merespon perkataan aneh itu.
"Huft, iya aku ngerti. Udah yah, aku berangkat sekarang!"
"Tunggu dulu, Sepatumu! Aduh, nih sepatunya masih belum dipilihin!"
"Aduh, MAMA UDAHAN DONG!"'
Hari sabtu, normalnya ini adalah hari libur sekolah. Hari yang tenang untuk beristirahat dengan tenang bagi anak sekolah akan tetapi karena suatu hal maka hal sebaliknya terjadi di rumah Rin sekarang yang menjadi semakin bising semenjak tiga jam yang lalu. Itu bukan tanpa sebab, ini semua karena hari ini Rin berencana pergi bersama Maki untuk menghadiri undangan acara pestanya.
Keributan ini bermula tidak berselang lama setelah mereka berdua selesai berbaikan, tepatnya kemarin lusa. Pada keesokan harinya, seusai jam sekolah berakhir Maki tiba-tiba menyodorkan surat undangan pesta kepada Rin dan segera pergi meninggalkan dia tanpa sempat memberikan penjelasan apapun. Rin yang bingung tidak tahu harus berbuat apa dengan surat tersebut lalu menceritakan pengalamannya itu kepada mamanya dan begitulah awal bencana di kediaman Rin ini terjadi.
Sementara itu di waktu yang sama di dalam kediaman rumah Maki, gadis itu terlihat keluar dari pintu kamarnya yang ada di lantai tiga menuju veranda atas rumahnya untuk menengok ke arah luar depan pagar. Ini adalah untuk ketujuh kalinya dia melakukan itu, raut muka kesal dan panik tampak menghiasi wajahnya seiring berkali-kali dia memandangi jam tangannya.
Kini jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah empat sore tanda bahwa inilah saatnya bagi dia untuk memutuskan turun ke lantai bawah dan memanggil Hitori, ajudannya yang selalu siap sedia disana. Gadis itu kini berjalan keluar dari rumahnya menuju taman depan rumahnya sambil menghela nafas panjang.
"Hmm... Rin belum juga datang yah?"
"Belum, nona." jawab Hitori sambil membungkukkan badan.
"Baiklah, sepertinya sudah tidak ada waktu lagi. Hitori-san, segera siapkan mobil."
"Segera, nona."
Sang ajudan itu segera bergegas menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Tidak lama setelah Hitori pergi, Maki yang sudah kehilangan kesabaran menjadi kesal dan segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video call dari smartphonenya untuk "mengintip" aktivitas Rin saat ini secara Live.
"Tutt... Tuttt... Tuttt..."
Suara dial-phone itu berganti dengan munculnya sebuah tayangan video bergerak yang menampilkan gambar sebuah ruangan yang dipenuhi baju kostum yang bertebangan memenuhi tempat itu dan di depannya tampak besar sebuah wajah lusuh dari gadis berambut pendek yang kemudian segera memutar arah kameranya sehingga menyorot salah satu sudut pintu kamarnya sehingga "tidak kelihatan" berantakan di layar ponsel itu.
"Haai~~ M-Maki?!" jawab gadis itu berusaha tersenyum sambil sesekali memalingkan matanya yang tampak sinis.
"Hei Rin, kamu ada dimana sekarang?!" tanya Maki ketus.
"Maaf, aku akan secepatnya pergi ke rumahmu sekarang."
Kini gadis itu yang masih sibuk memasang sepatunya. Sementara itu terlihat di layar ada seorang wanita dewasa lainnya yang segera menghampiri dia, itu adalah mama Rin masih berusaha menyisir rambut anaknya yang kembali kusut.
"Tunggu sebentar."
"Uhhh... Mama, udah dong! Rin udah telat janjiannya nih!"
"Tapi sayang! Rambutmu belum disisir tuh!"
"Ugh, Maaf, Maki-chan."
"Sudah-sudah, Kamu ada di rumahmu, kan? Yah sudahlah, tidak perlu buru-buru... Aku yang akan pergi untuk menjemputmu sekarang." jawabnya sambil menahan tawa melihat aktivitas Rin saat ini.
"Ehh, gak usah repot-repot?! Memangnya kamu tahu alamat rumahku, Maki-chan?!"
"Iya, aku sudah tahu, Udah yah. Byee.."
Maki mendadak mengakhiri panggilannya dan segera tertawa lepas di depan taman itu akibat melihat penampilan Rin yang agak menor daripada biasanya. Tawa itu tidak bertahan lama karena setelah itu datanglah Hitori beserta mobil sedan hitam miliknya yang berhenti di depan Maki.
"Nona, mobilnya sudah siap."
"Baiklah, kita berangkat sekarang, Hitori-san. Kamu sudah tahu alamat tempat itu kan?"
"Daulat, Oujo-sama."
Sang puteri dan ajudannya meninggalkan istana kediamannya untuk menjemput Sekitar 10 menit berlalu dan Maki beserta sedan hitam miliknya telah tiba di depan rumah Rin. Bagi Maki yang baru pertama kali mendatangi rumah temannya ini hanya bisa terkejut ketika mengetahui bahwa besar rumah tersebut tidak lebih besar dari rumah kaca tempat dia menanam bunga di belakang halaman rumahnya, perbedaannya adalah bangunan rumah Rin itu memiliki 2 lantai dan sebuah garasi untuk mobil mini. Dia juga agak sedikit risih ketika memandang lingkungan sekitar dan melihat ada beberapa tetangga yang melongok dari luar pagar sedang memperhatikan mobil sedan miliknya.
"Ding... Ding!"
Mobil sedan itu membunyikan klakson mobilnya.
"Maki-chan?!" seru anak pemilik rumah itu menyambut kehadiran sahabatnya yang tetap duduk di kursi belakang mobilnya yang pintu mobilnya telah terbuka secara otomatis.
"Maaf, aku telah merepotkanmu!" ujar Rin membungkukan kepala kepadanya. Saat itu Mama Rin juga ikut keluar mengantarkan anaknya pergi di depan pintu. Paras terkejut dan decak kagum menjadi satu terlukis di depan wajahnya saat melihat Maki dan mobiil sedan hitam tersebut.
"Maa, Aku berangkat sekarang yah?!" sorak Rin yang segera keluar dari pagar rumahnya. Mama Rin juga tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada Maki yang sudah mengajak anaknya hari ini.
"Araa, Jadi gadis ini yang bernama Maki-chan itu yah? Cantik sekali yah?!" katanya tersenyum renyah.
"Ahh, Terima kasih, tante." jawab Maki dengan pipi memerah.
"Terima kasih karena kamu telah menerima Rin sebagai seorang teman selama ini."
"Maafkan tante juga kalau selama ini anak tante ini selalu berbuat usil kepadamu, yah?"
Sang ibu membungkukkan badan kepada sang putri yang juga dibalas ganti oleh Maki untuk membungkukan kepala kepadanya.
"Ahh, Mama! Apa-apaan sih?!" sahut Rin yang tidak kalah merah padam mukanya mendengar ucapan tetek-bengek mamanya barusan.
"Ehehehe,Tidak apa-apa Tante. Saya sudah terbiasa, kok."
"Ehh...? Rin-chan!" ujar Mamanya kaget sambil menatap tajam kepada Rin.
"Maafkan aku... Maafkan aku!"
Rin menjadi salah tingkah dan terus membungkukkan badan kepada kepada Maki dan mamanya. Maki tentu kaget dan tertawa melihat kelakuan spontan kocak temannya itu.
"Mou, mama! Udah yah aku berangkat sekarang?!"
"Hati-hati di jalan. Jangan kebanyakan ambil makanan disana yah?!"
Tutup wejangan sang ibu itu mengiringi kepergian mobil sedan itu pergi meninggalkan rumah Rin beserta ibunya yang kini telah digeromboli oleh para ibu tetangga di sekitar rumahnya. Kini di dalam mobil Maki tidak henti-hentinya menatap Rin yang duduk disampingnya. Rin yang menyadari itu tentu saja menjadi risih dan bertanya kepadanya.
"Huft... Emm, M-Maki-chan? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"T-Tidak apa-apa, kok! Aku cuma berpikir ternyata kamu bisa berdandan cantik juga, yah?"
"Heh?! Kamu ngeledek yah?"
"Hmm... Mungkin." jawabnya tertawa kecil.
"Mouu..."
"Hihihihihi..."
Kedua gadis itu berdadan semaksimal mungkin untuk datang ke acara ini. Maki mengenakan gaun pesta merah yang dipesankan secara khusus untuk dibuatkan oleh desainer perancis untuknya, dia juga memasang beberapa asesoris perhiasan emas minimalis yang cukup mewah untuk menghiasi tangan dan kalung di lehernya yang berhiaskan batu permata rubi merah terang yang selaras dengan warna baju dan lipstik bibirnya.
Sementara itu Rin tampil dengan busana gaun short dress putih dengan hiasan bunga di bagian dadanya, itu adalah baju pilihan mamanya dan tentu saja Rin tidak pernah berharap menggunakan pakaian ini. Tidak pernah sekalipun dia menyangka akan tiba waktunya bagi dia menggunakan pakaian yang mengumbar bagian kaki jenjangnya sekarang. Namun bagaimanapun juga tata rias Rin saat ini memang terlihat pas apalagi dengan penampilan sepatu heels berwarna putih perak.
Sekitar setengah jam di perjalanan dan tibalah mereka berdua di taman kota tempat pesta berlangsung. Taman kota yang dimaksud adalah taman kota yang berada di belakang gedung parlemen jepang yang terletak di daerah Nagatcho, Chiyoda, Tokyo. Bangunan klasik dengan citarasa arsitektur Eropa dan Asia Timur ini menjulang cukup megah dengan panjang 206,36 m dan tinggil 88,8 m membuat bangunan ini cukup luas untuk memuat orang banyak, pada bagian tengah bangunan ini terdapat sebuah tower lainnya yang tingginya 65,5 meter dengan atap berupa piramida.
Sesuai namanya bangunan ini sebenarnya adalah tempat para senat politisi DPR dan MPR untuk berkumpul namun pada hari yang dikhususkan seperti ini, taman bagian belakang bangunan ini dirubah menjadi acara pesta khusus untuk menyambut para bangsawan di daerah Tokyo seperti halnya Maki sekarang.
Acara sore ini berlangsung cukup meriah meskipun tidak banyak orang yang datang karena memang ini terbatas untuk pesta undangan elit saja. Rin hanya bisa berdecak kagum memandang dari depan jendela kaca mobil saat melihat berbagai mobil mewah sedang berjejeran menuju pintu masuk parkir meskipun demikian arah mobil sedan Maki tidak mengikuti mereka melainkan berbelok menuju Reserved Parking Area yang membawanya menuju pintu depan lokasi registrasi pesta.
"Kita sudah sampai nona."
Hitori berucap sembari membuak pintu mobil samping belakang secara otomatis yang segera terbuka dengan otomatis dan Maki beranjak turun dari tempatnya namun berbeda di sisi lain pintu satunya, Rin tidak kunjung turun dari mobil tersebut. Keadaan ini jelas membuat Maki kesal dan memaksanya menengok kedalam mobil tersebut.
"Hmm... Rin? Ayo lekas turun?" ajak Maki yang melihat Rin tampak cemas duduk manis di jok mobilnya.
"M-Maki-chan... Kamu yakin mau membawaku ke acara ini?"
"Ini terlihat berbeda dengan yang aku pikirkan, nyaa!" katanya malu-malu. Sementara itu Maki yang tidak sabar melihat kelakuannya segera menarik tangannya.
"Mou, ayo sini!"
"Kyaaa... Iyaa, Rin turun sekarang!"
Rin dan Maki lalu menuju tempat penerimaan tamu untuk pendataan daftar para tamu undangan sebelum bisa memasuki lokasi utama. Di tempat itu mereka berdua telah disambut oleh petugas keamanan yang sedang berjejer rapi di sepanjang lorong, disana jugalah seorang resepsionis yang sudah siap untuk melakukan tugasnya. Maki lalu menyerahkan surat undangan itu kepadanya.
"Selamat sore, selamat datang Nona Nishikino."
"Selamat Sore."
"Ah, sepertinya anda tidak datang sendirian yah? Apakah ini pelayan baru anda?" tunjuk sang resepsionis kepada Rin.
"Ehh... Anu! Uhhmm..."
Rin yang panik tidak tahu harus menjawab seperti apa sehingga dia tanpa sadar bermaksud untuk menganggukkan kepalanya namun sebelum dagunya turun ke bawah mendadak tangan Maki segera menahan dagu Rin untuk tetap terangkat dengan jemari tangan kanannya selagi berkata:
"Ehhmm!" (mendehem)
"Kau tahu wanita berpakaian tuxedo disebelah sana, dia adalah Hitori-san, dialah satu-satunya pengawal pribadi dan pelayanku di acara ini! Sementara gadis yang sedang kamu maksud ini adalah sahabatku. Jadi, Tolong jaga bicaramu karena kamu sedang berhadapan dengan tamu undangan spesialku di pesta ini."
Maki berkata sambil berkacak pinggang memelototi sang resepsionis dengan kesal. Sang resepsionis jelas menjadi ketakutan dan salah tingkah mendapat komplain dari tamu penting sekelas Maki sekarang ini. Beberapa tamu yang melihat itu tampak sedang membicarakan insiden tersebut kepada rekan lainnya. Dia berbicara begitu emosional sehingga Rin sendiri harus turun tangan untuk memegang badan Maki.
"M-Maaf! Aku tidak tahu jika saudari ini adalah rekan anda." jawab sang resepsionis selagi menerima undangan yang diserahkan oleh Rin.
"Benar, dia adalah teman terbaikku. Jadi, kalian harus melayani dia dengan baik juga. Mengerti?"
"M-Mengerti Nona. Maaf sudah membuat anda kurang nyaman. Silahkan memasuki tempat pesta kami"
Resepsionis itu lalu membuka pintu pesta dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Maki terlebih dahulu memasukinya.
"Rin, ayo masuk."
"H-Haik..." jawab Rin menyusul Maki sesaat Rin berhenti dan berbalik menatap resepsionis tersebut sambil membungkukkan kepala. Sang Resepsionis yang masih terkejut itu hanya bisa tersenyum kepadanya.
"Silahkan menikmati pestanya nona."
Rin lalu menyusul Maki yang telah masuk di area taman dan berdiri di pinggir pancuran kolam air mini yang ada di tengah area tersebut namun wajah kesal dan marah terlukis jelas di wajahnya saat menyambut kedatangan Rin mendekat kepadanya.
"Hei, kamu jangan mengulangi perbuatanmu itu barusan, yah?." tegur Maki dingin.
"Ehh, kenapa?"
"Tch, mereka itu cuma pelayan dan kamu adalah tamu undangan di tempat ini. Jadi jangan samakan derajatmu dengan mereka, tahu?!"
"Ah, maaf, Tapi bukankah mereka layak mendapatkan itu, Maki-chan? Lagipula, Mereka telah berbuat sopan kepadaku. Bukankah mereka juga layak diperlakukan sebagai sesama manusia?" tanya Rin heran.
"Meskipun demikian kamu tidak perlu bertingkah seperti itu. Berikan saja hormat yang sopan tapi jangan terlalu merendahkan diri. Hufftt... Setidaknya pikirkan juga tentang kedudukanku?!" teriak Maki agak keras sehingga membuat beberapa tamu melihat kearahnya.
"Ah, maafkan aku kalau begitu..." Rin tertunduk lesu.
"Meskipun aku tidak terlalu mengerti maksud ucapanmu itu tapi aku akan tetap berusaha menjaga kelakuanku bagimu."
"Bagus, kau pasti bisa Rin!"
Maki tersenyum dia berkata sambil memegang tangan Rin dan menatapnya sayu. Rin yang tidak paham dengan maksud tatapan Maki hanya balik tersenyum manis sambil mengalihkan pandangannya ke langit atas.
"Eehhh! wuaahh... wuaaahh! M-Maki-chan... Maki-chan! Ayo, sini-sini!"
Bak Anak kecil yang baru saja pergi ke taman bunga untuk pertama kalinya, Rin berseru takjub saat melihat ornamen dan bentuk pagar ulir melingkar yang terbuat dari carang pohon anggur dan tangkai sulur bunga disekelilingnya. Berulang kali dia mengenduskan indra penciumannya ke berbagai bunga di taman itu dan dia tidak bisa berhenti melakukan aksi kekanak-kanakan tersebut.
Lokasi taman ini sebenarnya tidak terlalu luas, sekitar 2.000 m², di tengah taman ini terdapat sebuah air pancuran tempat mereka berada sekarang, di bagian depannya terdapat sebuah panggung mini-stage yang masih kosong untuk sebuah pertunjukkan musik, sedangkan bagian kanan dan kiri terdapat meja yang sudah menghidangkan berbagai makanan dan minuman, dan karena ini adalah taman maka sudah pasti dikelilingi oleh bunga dan pepohonan rindang, kebanyakan dihiasi oleh bunga bougenville, amaralis dan melati. Selain itu juga terdapat tumbuhan khusus lainnya seperti bunga anggrek langka, dan bunga mawar yang sudah dipangkas bagian durinya.
"Eh, bunga ini asli yah?! Pagar ini terbuat dari bunga, nyaa?!"
"Wuah, taman ini ternyata luas sekali, nyaa! Humm... Harum!"
"Rin-chan! Pssstt... Udah dong!"
Maki berusaha sambil menahan rasa malu mengejar Rin yang sedari tadi telah berlari-lari mengintari taman tersebut untuk memperhatikan tanaman baru yang bisa dia jumpai. Setelah sekian lama akhirnya Maki berhasil menyusul atlit lari sekolahnya itu. tapi belum sempat dia memegang tangannya tiba-tiba gadis itu kembali berlari mengikuti kehendak hatinya.
"Ne, ne... Ada acara apa yah di tengah sana, nyaa?! Maki-chan, ayo kesana!"
Rin segera berlari meninggalkan Maki menuju panggung mini tempat berlangsungnya penampilan band jazz yang sedang melantunkan lagu. Belum sampai dia disana tiba-tiba langkahnya terhenti oleh seorang waiters yang sedang berdiri di depannya sambil membawakan nampa berisikan gelas teh.
"Permisi nona, Apakah anda ingin menikmati Claridge tea atau Darjeeling tea?" kata sang pelayan menawarkan hidangannya.
"Ehh?"
Rin hanya bisa diam terpaku dan tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pelayanan semacam ini. Dia berpikir apakah minuman itu pantas baginya? Lalu, memangnya ini minuman semacam apa?! Gadis itu terus berdiam menanggapi senyuman sang pelayan.
Beruntung, Maki segera datang menyambar lengan gadis itu dan mengajaknya pergi.
"Maaf, kami akan memilih minuman nanti. Nah, ayo lewat sini Rin?"
Maid itu menganggukan kepala sekali untuk merespon jawaban Maki dan pergi meninggalkannya. Akhirnya, mereka berdua bisa berjalan pelan bersama-sama layaknya orang "normal" yang berada disana.
"Moo, kamu itu benar-benar merepotkan, Rin. Hari ini aku seperti sedang menjadi baby-sitter saja karena ulahmu ini!"
Rin tidak bisa berkata apapun selain menundukkan kepala karena malu dengan ulahnya dan sekali lagi Maki menyelamatkan Rin dari kondisi kikuk lalu mereka berduapun menuju tempat live music dengan tenang. Rin sudah bisa berjalan tenang karena sudah kapok bertingkah seenaknya sendiri.
"Umm..."
"M.. Maki-chan?"
Gadis itu ragu untuk melanjutkan pertanyaannya namun sesuatu mengganjal benaknya sedari tadi.
"Apa?!"
"Maaf, apakah kamu bisa melepaskan tanganmu sekarang? Aku entah mengapa merasa ada yang aneh sekarang" tanya Rin malu-malu.
"Ahh, maafkan aku. Tapi kamu harus menahannya sebentar lagi. Soalnya kamu pasti keluyuran lagi kalau tidak aku pegang seperti ini."
Rin hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan itu, sebenarnya dia bukannya berkeberatan dipegang oleh Maki namun hatinya kini menjadi serasa tidak karuan setiap kali digenggam seperti ini olehnya. Perasaan yang persis sama dialaminya seperti kejadian di sekolah.
"Nah, ayo kita kesana?!"
Maki dan Rin lalu menghampiri kerumunan orang di live stage room untuk menikmati pertunjukkan musik Jazz yang baru dimulai tersebut. Disana seorang wanita berambut pendek sedang melantunkan suara merdunya. Mereka berdua mengambil tempat meja khusus untuk duduk dan melihat pertunjukkan tersebut. Tidak banyak komentar yang dapat mereka ucapkan selain menyaksikan penampilan live di atas panggung tersebut, khususnya Rin yang terpaku menatap ke depan panggung seperti menikmati alunan musik itu.
"Hmm... Apakah kamu mau kue?" tegur Maki membuyarkan konsentrasinya.
"Ehh, b-boleh."
"Baiklah, aku akan bawakan beberapa camilan untuk kita berdua." kata Maki yang bergegas pergi menuju meja makanan untuk mengambil piring perak dan beberapa kue.
"A-Arigatou-nyaa." jawab Rin singkat
Kini Maki telah sampai ke meja makan dan disana dia menjumpai beberapa relasi ayahnya yang sengaja menyempatkan diri untuk ngobrol dan berbasa-basi kepadanya seraya mencari muka ke keluarganya. Sebenarnya Maki juga tidak tahan menghadapi itu tapi apa boleh buat, setidaknya mereka tidak ada niat jahat kepadanya namun meskipun begitu sebenarnya ada satu orang yang ingin Maki hindari, dia adalah...
"Ahh, Maki-chan! Kyaaa... Itu beneran Maki-chan?!"
"Oh my God, Oh my God! Kamu akhirnya datang juga ke pesta ini!"
Terdengar suara keras dibelakang Maki sedang menyapanya. Maki yang akrab dengan suara itu hanya bisa mengerutkan wajahnya ketika menjumpai gadis yang dia maksud. Gadis berambut pirang dengan senyum tawa lebar diwajahnya sedang melambaikan tangan kepadanya.
"Ugh, gadis sableng ini ternyata ikut datang juga..." gumannya pelan.
"Trus kenapa, Mari Ohara...?!"
Maki hanya diam mematung ditempatnya ketika gadis itu beranjak menuju arahnya, sesaat dia tampak muram mendengar perkataan Maki.
"Maki-chan! Kok ngomong gitu sih?! Aku itu kangen sama kamu, tahu?!" tandasnya sambil memeluk perutnya erat dari belakang.
"Moo... Mari!" ujar Maki sambil berusaha melepaskan pelukan gadis separuh bule tersebut.
"Makiiii! Shiny!... Hehehe."
.
[chapter 13: end]
.
Pojok Nulis: Mengenai taman kota di belakang gedung parlemen jepang itu semua cuma hasil imajinasiku saja. Aku tidak tahu apakah itu benar-benar ada atau tidak tapi meskipun ada aku juga tidak yakin apakah tempat itu boleh digunakan sebagai acara pesta. Itu seperti kamu sedang berusaha menggelar acara pesta di depan gedung MPR senayan. lol.
.
Next Release: 4 Desember 2016
