Chapter 14: Pesta Teh – Jangan?!

.

Mari Ohara, gadis berdarah Amerika-Jepang itu setidaknya memiliki tubuh jenjang semampai yang lebih tinggi daripada Maki. Untaian rambut pirangnya yang dibentuk melingkar di sisi kiri atas kepalanya menjadi ciri khas gadis itu. Kalian bahkan tidak perlu kesulitan untuk menemukan dirinya, warna pirang rambutnya yang selaras dengan warna manik di matanya dan sifatnya yang periang selalu saja menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian khalayak ramai bahkan apabila kalian masih kesulitan menemukan dirinya cukup perhatikan suara khas melengking yang dikeluarkannya di sela aksen perkataannya, seperti...

"Makiiii...! Shinny...!"

Gadis itu memasang tanda OK di tangan kanannya layaknya pak bondan memasang tanda "mak nyuss!" untuk memuji setiap makanan enak yang sudah dicicipinya walaupun pose itu nampaknya kurang begitu stylish dengan gaun sexy yang dikenakannya saat ini.

Sore itu dia mengenakan satu setel gaun terusan maxi dress ungu muda panjang yang sudah agak sedikit lusuh oleh rumput basah dibagian bawahnya karena terlalu banyak dipakai berjalan. Desain pakaian itu memang berbentuk cenderung terbuka dengan model V-neck yang melebar hingga belahan dadanya dan pada bagian bawah terdapat celah garis memanjang dari bagian pangkal paha hingga ujung kaki sehingga semakin menonjolkan keindahan sebelah kaki jenjangnya yang sengaja dipamerkan serta sepatu hak tinggi merah yang dipakainya.

Kira-kira ada jarak lima kaki dari tempat kedua gadis bangsawan itu saling bertatap muka, keduanya saat ini menghadap ke sebuah meja makan yang sama sembari menunggu para waiters yang sedang bekerja untuk mengganti hidangan snack terbaru di atas meja. Adapun meja makan itu terbuat dari pualam putih yang cukup tebal dan berbentuk setengah lingkaran yang dibentuk memanjang sehingga dapat memuat tujuh cake stand tiga tingkat yang terbuat dari perak dan ditata secara berjejeran disana. Di balik meja tersebut terdapat lima pramusaji yang sudah bersiap melayani para tamu yang hendak mengambil kudapan tersebut.

Masing-masing cake stand memiliki menu yang berbeda-beda, contohnya bila meja satu menyediakan scones maka menu itu tidak akan ada di meja lainnya. Dari tujuh cake stand yang disediakan sekarang ada tujuh menu utama yang sedang dihidangkan, yaitu: scones, macaroon, cake, loaf sandwich, bread, dan pies. (selain itu juga ada cookies, muffin, cheesecake, mousse, dan brownies.) {cake stand : tempat kue yang berkaki dan biasanya untuk display makanan}

Meskipun ada banyak pilihan sajian di meja itu namun tampaknya itu tidak berlaku bagi kedua gadis yang sudah membawa plate di tangan kanan mereka. Sang Merah dan Kuning itu bertarung memperebutkan sesuatu yang cukup konyol apabila dilihat oleh orang lain disekitar mereka sekarang namun mereka tetap melakukannya.

"Hei, berhentilah mendorongku!"

"Tapi aku juga mengambil kue itu?!"

Kedua gadis itu terus berhimpit-himpitan meskipun suasana di sekitar mereka sedang lenggang. Hal itu bukan tanpa alasan karena mereka berdua sedang bertarung untuk mendapatkan kudapan yang sama di sana. Cake Stand ketiga yang memiliki menu Cake, makanan primadona di acara ini telah menjadi ajang pertarungan bagi mereka berdua. Di loyang tersebut terdapat 5 jenis makanan berbeda: choco cake, coffee cake, carrot cake, cupcake, battenburg, dan fruit cake.

Sesungguhnya stand ini memang cukup populer dikalangan para tamu bahkan sering reload dengan cepat karena habis dalam waktu sekejab namun agaknya kali ini Mari bertingkah melebihi batas karena sudah merebut 5 cake sekaligus dan membuat Maki hanya dapat merebut cake bagian paling bawah, dia mengambil carrot cake yang tersisa.

Ekspresi kesal tergurat diwajahnya saat melihat senyuman Mari yang berseri-seri itu. Maki tidak ingin hanyut dengan emosinya sehingga memutuskan berpindah ke stand lainnya di bagian loaf namun Mari juga ada disana.

"Hei! Minggir!" seru Maki yang sudah menyentuh piring loaf breed terlebih dahulu namun Mari langsung datang menyambar itu. "weks!" Gadis itu menjulurkan lidah sambil menurunkan sebelah kantung bawah matanya sebelah kanannya kepada Maki.

"Gezz, enough! Kamu itu memang sengaja ngajak berantem yah?!" Maki berteriak tidak tahan mendapat perlakuan usilnya akan tetapi dia tidak pernah menduga reaksi gadis tersebut ketika dirinya menjadi, dia tiba-tiba menjerit...

"Aww, scary!"

Giliran Mari berteriak bak orang ketakutan. Ekspresi suara itu begitu melengking hingga mengejutkan para tamu lainnya dan membuat tatapan khalayak ramai itu kini beralih kepada mereka berdua, terutama kepada arah sang sumber penyebab teriakan, Maki. Kejadian itu tentu saja membuat malu Maki yang hanya bisa menundukkan kepala karena mendapat perlakuan tersebut, tepat sesuai rencana Mari. Mari tentu saja tahu hal ini akan terjadi, makanya dia berpura-pura menjadi seorang "playing victim" disini sehingga mendapat iba dari orang sekitarnya. Disaat yang sama, Maki tentu tidak mau dianggap sebagai orang jahat disini sehingga dia segera mengubah notasi bicaranya menjadi sedikit beradab untuk menghadapi gadis "aneh" disebelahnya itu.

"Eheem! Permisi nona Mari Ohara..AAA, bisakah anda berpindah ke samping sejenak? Saya hendak mengambil kue ini?!" gadis itu terkejut mendapati pembicaraan berkelas tersebut namun dia malah meladeni jalan main Maki.

"Oh, maafkan kelancangan saya putri Nishikino..OOO, tapi saya yang terlebih dahulu tiba untuk mengambil kudapan ini. Jadi sebaiknya anda mengambil menu hidangan yang lain saja, yah?!."

Mari menjawabnya sambil mengangkat cake tong di tangan kirinya ke arah Cake Stand sebelah tanpa berusaha memberikan ruang bagi Maki untuk membalasnya dan lagi-lagi Maki hanya bisa mengambil makanan yang tersisa, banana loaf. {Cake tong's : jepitan untuk mengambil kue}

"Grrrr... B-Baiklah!"

Sekali lagi dia berpindah tempat menuju cake stand berikutnya, sandwich. Seperti yang kalian duga Mari lagi-lagi berada disana, Maki bahkan tidak habis pikir memangnya dia bisa menghabiskan makanan yang telah diambilnya itu?

"Huh, Kamu lagi?!" pekik Maki yang sudah tidak nyaman.

"Ada apa Nona? Ohohoho... Sepertinya selera makan kita sama yah?"

Waktu itu Maki sedang mengambil Lemony crab namun hanya bisa mengambil 2 potong roti saja karena sisanya diambil oleh Mari. Gadis itu memasang muka masam semasam buah lemon yang dia kecap ketika mengambil sisa hidangan yang ada. Sementara Mari yang melihat itu hanya tertawa lirih.

"Ahh, aku punya ide bagaimana kalau kita saling berbagi kudapan bersama? Bukankah dengan begitu kita bisa makan bersama, kan?" ajak Mari sambil tersenyum lebar.

Tapi ajakan itu segera ditepis Maki yang sudah merasa tawar hati dan segera mengambil sandwich ikan tuna yang ada didasar loyang dengan cepat.

"Err... Tidak usah. Ini saja sudah cukup."

Maki lalu meninggalkan Mari dengan piring snack seadanya menuju tempat Rin berada.

"Hufff... Kau itu memang anak yang sulit diladeni yah, Maki?" ujarnya tersenyum simpul.


Maki segera pergi menemui Rin sambil membawa loyang yang berisikan beberapa snack. Dia menaruh makanan itu di atas meja namun nampaknya kehadiran Maki tidak kunjung segera disadari oleh Rin yang sedang fokus melihat ke arah panggung. Maki yang duduk di ujung sebelahnya hanya bisa terheran melihat itu namun dia tidak segera menegur Rin malahan dia menikmati pemandangan sikap Rin yang nampak duduk tenang di kursinya layaknya putri anggun dan dia sedang tersenyum lembut sekarang, sesuatu yang tidak pernah dia lihat di sekolah atau kesehariannya yang biasa. Ada setitik air mata yang membasahi matanya ketika melihat pertunjukkan musik itu sehingga membuat Maki terheran-heran apakah Rin menyukai musik jazz kontemporer seperti ini? Gaya seperti ini bukan Rin banget! Jadi Maki segera menepuk pundak gadis tersebut.

"Rin?!"

"Hyaaaa!"

"Ahh, maaf membuatmu terkejut."

"T-Tidak apa-apa kok. Ini salahku yang tidak memperhatikan keberadaanmu sampai... eehh, kenapa kamu repot-repot membawakan makanan sebanyak ini?."

Seru Rin balik ketika mendapati kue-kue tersebut di atas loyang yang cukup besar di atas meja namun Maki hanya bisa tersenyum untuk menjawab keheranan gadis tersebut. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengambil carrot cake yang dia ambil pertama kali, tidak manis tapi setidaknya menyehatkan.

"Ahh... Bukan masalah kok. Nah, silahkan mengambil kue yang kamu suka."

"Ehh, tidak apa-apa, kah? Apakah ini bayar?" tanya Rin polos.

"Hihihihi... tentu saja tidak, semua yang ada disini itu gratis!" jawab Maki yang tidak bisa menahan tawanya. Dia lalu menunjukkan meja asal tempat makanan itu berada kepada Rin.

"Silahkan mengambil lagi makanan dan minuman yang kamu suka bahkan kalau perlu kamu boleh meminta pelayan untuk menyiapkan makanan khusus bagimu."

"O..Oh, begitu yah?" Rin hanya bisa melongo mendengar perkataan itu, baginya hidangan snack yang ada di depan matanya saat ini cuma sesuatu yang mahal yang hanya bisa di dapatkan di toko kue di Akihabara. Mata gadis itu menjadi berbinar-binar melihat sesuatu yang fancy di hadapannya sekarang. Dia tidak segera menyambar itu malah tiba-tiba dia mencoba mengeluarkan unek-uneknya. "Err, Kalau begitu apakah aku bisa memesan mie ramen, nyaa?" tanya Rin spontan.

Pertanyaan itu begitu mendadak sehingga membuat dahinya berkedut dengan bibir yang sedikit ditekuk miring yang ditunjukkan oleh gadis berambut scarlet tersebut karena tidak tahu bagaimana harus menolaknya dengan halus. Wajahnya nampak memerah, bukan karena bon cabe melainkan perasaan malu oleh sifat kampungan temannya itu.

"Err, Rin... sayangnya disini cuma menyediakan makanan snack saja." jawab Maki kagok.

"Hahaha... aku cuma bercanda doang, kok?!"

"Baiklah, Kalau begitu aku ambil ini yah?"

Rin mengambil kue sandwich yang merupakan kue yang berukuran paling besar diantara kue-kue tersebut namun tanpa dia sadari ternyata makanan tersebut mengandung sesuatu yang dibencinya.

"Hmmm?!" Rin segera menyadari ada sesuatu aneh yang dia kenali berada di dalam mulutnya, makanan itu belum sempat melewati kerongkongannya namun mampu membuat asam lambungnya naik. Perasaan mual segera meliputi dirinya sehingga tidak tahan untuk menahan katup mulutnya lagi. Gumpalan kunyahan makanan itupun segera dia muntahkan di bawah mejanya. Beruntung para tamu lainnya tidak memperhatikan mereka berdua.

"Huueekkk!" Rin yang mual berulang kali mencoba meludah untuk mengeluarkan makanan yang masih tersisa di mulutnya.

"Eh, A-ada apa Rin?!" tanya Maki panik.

"Maaf! M... Maki-chan, sebenarnya ini makanan apa?"

"Eh, coba kulihat?!

"Ah, Ini adalah sandwich ikan tuna!" jawab Maki segera. Mendengar itu Rin semakin tidak dapat menahan ekspresi mual yang kembali menghampirinya dan seperti orang yang dehidrasi dia memegang lehernya erat-erat seakan hendak menahan isi lambungnya supaya tidak naik ke atas kerongkongannya.

"Whaatt?! Air! Air! Maki-chan, t-tolong ambilkan aku minum sekarang!", gadis itu berteriak seperti orang sekarat. Maki yang melihat itu juga menjadi panik dan secara acak menunjuk pelayan yang ada di dekatnya.

"W-Waiters!"

Maki memanggil salah seorang pelayan wanita yang berada di dekatnya untuk mendekat ke arahnya.

"Haik! Oujosama?!"

"Tolong ambilkan aku air segera..!"

Waiters itu tidak nampak seperti para maid pada umumnya di taman itu, jika normalnya mereka mengenakan baju pelayan wanita namun dia mengenakan baju pelayan pria, kemeja tuxedo hitam dan hem putih dengan celana panjang hitam layaknya seorang butler pria dengan rambut hitam panjang yang dikuncir poni ekor kuda ke belakang. Rin yang galat tidak memperdulikan detail semacam itu, untuk saat ini dia hanya tertuju kepada gelas yang terletak di atas nampan yang dia bawa.

"Ehh, tunggu Nona... Tapi ini adalah..."

Rin tidak berniat mendengar penjelasan sang waiters. Dia segera mengambil gelas diatas nampan tersebut dan menegak isi minuman di gelas tersebut hingga habis. Sang waiters yang melihat Rin menegak minuman itu hingga habis hanya bisa memasang muka shock, terlalu shock sampai-sampai dia tidak segera beranjak pergi meninggalkan meja Maki melainkan tetap berdiri mengamat-amati gadis itu.

"Ugghh! Maaf Maki-chan, sepertinya aku harus ke toilet sebentar." jawabnya sambil memegang kepala

"B-Baik! Aku akan mengantarkanmu kesana!"

"Ehh, T-Tidak usah!... Kamu cukup menunjukkan tempatnya saja."

Maki agak cemas melihat keadaan Mari saat ini namun dia berusaha menjaga emosinya supaya tidak terlihat panik, begitu juga sang waiters yang masih berdiri di samping mereka.

"Itu disana! Kamu lihat sebuah ruangan berbentuk kubah setengah lingkaran yang ada di sebelah kanan kolam itu? Disanalah tempatnya."

"B-Baiklah, a-aku pergi dulu..." jawab Rin dengan tubuh sempoyongan berusaha untuk berdiri namun kaki rampingnya itu seakan tidak memiliki kuasa untuk bergerak sehingga membuatnya kembali jatuh terhuyung kembali ke kursinya. Sang waiters segera bergegas menolong Rin yang kesulitan untuk duduk di kursinya kembali. Gadis itu telah setengah mabuk sekarang.

"Nona, apakah kamu tidak apa-apa?!"

Rin menganggukkan kepala sementara wajahnya menghadap bawah meja. Kini giliran Maki yang menjadi semakin cemas, dia lalu membentak sang pelayan yang telah membawa minuman itu untuknya.

"Hei, kamu! Apa sebenarnya yang ada di minuman ini?!"

"M-Maaf nona, sebenarnya minuman yang baru saja beliau minum itu adalah Daiquiri."

Daiquiri sendiri sejatinya adalah minuman sejenis koktail yang diramu menggunakan bahan dasar Rum (hasil fermentasi air tebu yang mengandung alkohol), jus sitrun, dan gula manis. Kelihatannya ada campuran alkohol lain di dalam minuman ini sehingga membuat Rin cepat mabuk. Pada dasarnya ini adalah minuman keras. Normalnya, minuman ini tidak akan memabukkan untuk seseorang namun untuk bagi Rin yang sama sekali belum pernah terbiasa mengkonsumi minuman beralkohol, minuman alkohol berkadar 1% saja cukup membuatnya menjadi cepat mabuk dan kehilangan kesadaran.

"Whatt?!" Maki menjadi tegang mendengar itu, dia memegang kedua bahunya agar gadis itu tetap sadar.

"Rin, jangan bilang kamu sedang mabuk?!"

"A.. Aku tidak tahu, Maki-chan! Kepalaku pusing!"

"Ugh, aku akan mengantarkanmu ke toilet!"

Maki lalu berusaha memapah Rin menuju toilet dengan payah dibantu oleh sang waiters yang memapah tubuhnya di sebelah kanan.

"Maaf, membuatmu repot, Maki-chan." Kata Rin setengah sadar saat sedang dipapah menuju toilet. "...Sebenarnya, aku memiliki alergi dengan makanan laut terutama ikan."

"Ehh, kenapa kamu tidak memberitahukan itu lebih awal kepadaku?!" tanya Maki kaget.

"Aku lupa... ehehehe!"

Gadis itu menghela nafas mendengar jawaban temannya. Aroma alkohol dapat tercium dari nafas sendawa yang keluar dari mulutnya, kala itu gadis ramping itu bahkan tidak kuat untuk membuka matanya.

"Huuhh... Ya sudahlah, berarti ini memang adalah kesalahanku."

"Ehh, nggak kok... Maki ndak salah apa-apa kok!" kata Rin dengan pipi semakin memerah namun pandangan matanya tidak terarah meskipun tampak dia berusaha memandangi Maki yang terdengar muram.

"Ah itu toiletnya!"

Mengetahui bahwa toilet sudah dekat maka gadis itu memerintahkan kedua orang yang menopang tubuhnya untuk melepaskan dirinya.

"S-Stop! Maki-chan.. kamu jangan masuk yah!"

Kedua orang itu nampak heran dan saling berpandangan namun sang gadis tidak memperdulikan itu dan dengan berjalan mundur dia memasuki toilet sendirian dengan langkah kaki terhuyung-huyung.

"Ehh, kenapa?"

"Sudah, pokoknya kamu jangan masuk dulu! Kamu juga mbak! Jangan coba-coba untuk masuk kesini! Bersumpahlah untuk tidak melakukan itu?!" ancam Rin sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada Maki dan sang waiters.

"Terserahlah, kalau kamu memaksa..." jawab Maki yang sudah angkat tangan menghadapi kelakuannya. "Sigh... jadi, ceritanya aku disuruh jadi penjaga toilet nih?" gumam sang putri agak kesal namun dia tidak berbuat apa-apa selain mematuhinya namun suara itu tidak hanya berhenti sampai disitu bahkan Rin saat berada di dalam toilet sempat untuk berteriak keras memanggil Maki.

"Maaf, setelah itu tolong tutup telingamu rapat-rapat!"

"Ehh, kamu itu kenapa sih, Rin?"

"Sudah, lakukan saja!"

"Iya-iya!"

Kedua gadis itu melakukannya tepat seperti yang diperintahkan kepada mereka, dari luar kamar mandi tersebut mereka menutup telinga namun alih-alih tidak mendengar apapun mereka dapat menyadari ada suara bising yang segera memenuhi ruangan toilet tersebut, suara yang keluar dari dalam kerongkongan apabila perut sudah tidak kuat untuk mencernanya lagi.

"HUEEEEEEEEKKKKK! HHUUUEEEEEKKKK!"

Suara muntahan itu terdengar menggema cukup nyaring di dalam toilet tersebut, terlalu keras hingga masih dapat terdengar oleh mereka berdua yang berdiri di luar pintu toilet. Sementara itu Maki dan sang waiters hanya bisa berdiri kikuk mendapati itu, dia mencoba saling bertatapan namun itu hanya menambah suasana canggung di antara mereka.

"ya ampun anak itu." gumam Maki sambil menggelengkan kepala dengan kuping tertutup. sang waiters juga turut angkat suara kepada Maki.

"Err, Nona, sebaiknya aku lebih baik pergi untuk mengambilkan minum air putih saja untuk nona tersebut?." usulnya.

"Ahh, kau benar. Tidak seharusnya kamu berada disini." jawab Maki menganggukkan kepala, lalu sang waiters juga turut memberikan salam hormat kepadanya.

"Kalau begitu saya mohon pamit untuk undur diri sekarang."

Sejenak Maki menjadi kagum dengan kebaikan hati sang pelayan yang mau menemani mereka bahkan turut memapah Rin sampai ke toilet meskipun itu bukan pekerjaan utamanya. Tiba-tiba Maki memanggil kembali sang waiters yang belum jauh meninggalkannya.

"Uunn... Ehh, tung...tunggu!"

"Ada apa nona?"

"Te... Terima kasih atas bantuannya." kata Maki dengan suara pelan.

Sang waiters yang mendengar perkataan Maki tersebut itupun terlihat cukup bingung namun dia membalas tersenyum kepadanya. Sesuatu hal yang tidak perlu dilakukan seandainya dia tidak terbayang-bayang percakapannya dengan Rin sejam yang lalu.


Sekitar sepuluh menit Maki berdiri disana namun Rin masih belum juga keluar. Terdengar suara muntahan yang sudah merendah masih berlanjut dengan tempo agak lama. Namun sesuatu yang tidak diduga mulai muncul, seseorang yang sangat tidak ingin dia temui sedang menuju ke arahnya. Mari tiba-tiba mendatangi tempat itu.

"Eh, Maki-chan? Kamu ngapain berdiri di pintu toilet seperti itu?!" tanya Mari heran namun tidak dijawab oleh Maki.

"Hihihihi... Gak mau jawab nih? Ya sudah deh!"

Gadis itu melenggang santai melewatinya memasuki toilet namun Maki tiba-tiba menarik lengannya untuk menjauhi pintu itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Ehh, jangan masuk!"

Maki mendorong tubuh Mari keluar dari ruangan hingga dia terlempar sampai depan taman. Mari tentu bingung dengan ulah Maki ini apalagi suasana di sekitar toilet itu sedang sepi dan tanpa orang.

"Ehh, Kau ini kenapa sih? Come on, Aku kan cuma mau cuci tangan saja!"

"Cari toilet yang lain saja sana!"

"Enggak mau! Lagipula cuma toilet ini yang terdekat! Minggir, gih?!"

"JANGAN! POKOKNYA JANGAN DISINI!" pekik Maki menentang Mari.

"Ehh, Kamu itu kenapa sih?! Minggir, Aku mau lewat!"

"Enggak boleh!"

Mari kali ini tidak sedang ingin bermain-main karena tangannya yang semakin lengket itu sungguh membuatnya risih sehingga dia mulai bersikap serius kepada Maki. Dia berpikir mungkin kali ini Maki sedang membalas perbuatannya yang tadi. Terlalu kekanak-kanakan, pikirnya tanpa menyadari tingkahnya selama ini.

"Nona Nishikino mohon minggir?!" kata Mari mencoba beretika di toilet meskipun agak kesal

"Kamu tahu apa yang ada di tanganku ini? Aku baru saja memakan Honey Pie yang kaya akan madu dan kini tanganku benar-benar lengket setelah menghabiskannya makanya aku harus membasuh tanganku sekarang!"

"T-Tetep aja ndak boleh!"

"Hufftt, Apakah kamu punya alasan khusus untuk tidak mengijinkanku masuk?" tanya Mari dengan mata melototinya.

"Itu?!"

Maki masih enggan menjelaskannya dan Mari sudah tidak tahu apalagi yang harus diperbuatnya untuk mengerti gadis ini sehingga terpintas ide gila di dalam benaknya. "Ya sudahlah, baiklah kalau kamu memaksaku untuk tidak boleh masuk. Mungkin aku akan berubah pikiran, asalkan..."

"A..Apa?!" Maki terdengar tertarik dengan tawarannya namun itu semua berubah ketika dia selesai mendengar perkatannya.

"Jilat tanganku ini sampai bersih, nona Nishikino!" jawab Maki sembari tersenyum dan menjulurkan jemari tangan kanannya kepadanya. Tentu saja itu membuat shock Maki.

"Ehh, apa maksudmu?! Kau pikir anjing kah aku ini hingga mau melakukan hal semacam itu?!"

"Jadi, nggak mau nih?! Ya sudah, aku masuk..."

Mari berpura-pura mendesahkan nafasnya karena kecewa permintaannya tidak dipenuhi namun sebaliknya Maki juga tidak berniat untuk membiarkan gadis itu beranjak dari tempatnya, setidaknya sebelum Rin keluar dari toilet.

"T-Tunggu!"

Maki menarik tangannya sehingga gadis itu berbalik menatapnya dengan heran.

"K.. Kemarikan tanganmu!" kata Maki dengan wajah merah padam, sementara mata Mari terbelalak lebar mendengar hal itu.

"Aww... Kamu benar-benar mau melakukan itu?! Disini?! Really?!"

"Kau ini sebenarnya mau atau enggak sih?!" jawabnya menganggukkan kepala sekali. Mari yang melihat kesungguhan hati Maki tidak dapat banyak berkomentar selain mukanya memerah.

"B-Baiklah...!"

Bedebar-debar gadis bule itu mengulurkan jemari tangannya yang lengket itu kepada Maki, sementara Maki menatap jemari tangan yang ramping tersebut Mari malah menjadi salah tingkah diperlakukan seperti itu, hatinya belum siap untuk merealisasikan pemikiran anehnya ini.

"Sekarang tutup matamu."

"Ehh, k-kamu jangan melakukan yang aneh-aneh yah, Maki-chan?!"

"Heh, satu-satunya gadis yang aneh disini itu cuma kamu!" sanggah Maki dengan ekspresi wajah datar.

"Baiklah, aku mulai sekarang."

Maki menarik jemari tangan kurus itu dengan kedua tangannya lalu menghembuskan nafas dari mulutnya ke tangan Mari sehingga menimbulkan sensasi hangat yang menggelitik telapak tangan Mari. Rona pipi merah terlihat di pipi gadis peranakan italy-amerika-jepang tersebut, disertai desahan nafas sensual yang selaras dengan lekuk tubuhnya yang menggeliat seirama dengan remasan tangan Maki terhadapnya.

Sudah 5 menit berlalu namun Maki juga tidak ujung tiba untuk melakukan aksinya namun tiba-tiba...

"KYAAAA!" gadis itu menjerit, bukan oleh lidah, ataupun air liur Maki melainkan ada hawa dingin yang segera menyebar di telapak tangannya diiringi oleh usapan lembut di sela-sela kuku jemarinya. Mari yang bingung segera membuka matanya dan melihat Maki sedang membersihkan tangannya menggunakan tisu basah dan antiseptik.

"HEY! YOU DECEIVING ME!" ujarnya dengan muka merah padam.

"Hehehe, kamu pikir aku rela menyerahkan lidahku ini untuk menyentuh tangan kotormu itu?! jangan pernah berharap hal itu nona! Hahahaha!"

Maki segera melepaskan tangan Mari yang sudah bersih itu sambil tertawa terbahak-bahak hingga dia memegang perutnya yang mulai keram karena terlalu banyak tertawa namun sang raja iblis tidak mungkin dijahili oleh anak buahnya. Mari tiba-tiba juga turut nimbrung tertawa bersamanya, tawa jahat.

"Ehhh? hehee.. hehehe... hehehehe..."

"Sekarang aku jadi ingat, kamu pernah berhutang sesuatu kepadaku, bukan?" katanya dengan suara kelam.

"Nah, Maki, sekarang aku menuntutmu untuk membayar lunas hutangmu itu!"

"Ayo, ikut aku sekarang!"

Gadis itu mencengkram tangan Maki kuat-kuat dan menyeretnya pergi mengikuti arah kehendak hatinya.

.

Chapter 14: Selesai

.


Pojok Nulis: Welcome back, Lechimonchi: Kan sudah kubilang ada tambahan 3 member Aqours di dalam babak cerita ini. www... Anata 1703: Mantanmu jahil. www...

BTW, minggu ini aku baru saja merampungkan re-write fic-ku "Dear My Teacher." Jadi, silahkan membacanya! Buat yang belum pernah baca, sekarang waktunya untuk membaca itu. Buat yang sudah pernah baca, silahkan baca ulang, siapa tahu ada sesuatu yang missed sebelumnya.

Next Release: 18 December 2016. Ini akan merampungkan bagian ini juga.