Chapter 15: Pesta Teh - Hukuman
.
"H.. Hutang?!"
"Ehh, hutang apa?! Jangan seenaknya menuduhku yah!"
Gadis itu mundur selangkah demi selangkah menjauhi tampang gahar perempuan bule yang berusaha merencanakan sesuatu yang buruk kepadanya. Berkali-kali tangannya mencoba lepas dari ikatannya namun itu sama sekali tidak berguna dan malah semakin erat menjeratnya.
Diantara Maki dan Mari kini tingkah kedua gadis bangsawan itu sama sekali tidak memperlihatkan etika gadis papan atas sebagaimana seharusnya melainkan berkelakuan layaknya seorang gadis miskin biasa yang sedang bertarung hidup-mati demi memperebutkan sebuah roti.
"Tolong! Seseorang tolong aku!"
"Ummppphhh?!"
Suara Maki berhenti seiring dengan tangan Mari yang membungkam mulutnya sambil berbisik.
"sssttt... tolong jangan berisik disini yah, nona! Kalau kamu tidak bisa menjaga tingkahmu maka aku akan menyebarluaskan video ini ke seluruh tamu undangan disini."
Mari berkata sembari mengeluarkan smartphonenya dari dalam tasnya dan memutar video itu kepada Maki, sebuah tayangan video lama dengan format 3gp yang menampilkan wajah close-up seorang gadis cilik yang kini telah beranjak remaja itu sedang membacakan sesuatu dari kejauhan dengan suara polosnya.
"sa..saya berjanji... Saya Maki Nishikino mulai saat ini akan selalu patuh dan menaati seluruh perintah yang diberikan oleh Ohara Mari-neechan bahkan untuk semua perintah yang aneh-aneh sekalipun."
Gadis cilik yang berusia sekitar 10 tahun dengan rambut merahnya terurai panjang itu secara polos dan malu-malu mematuhi perintah sang perekam video. Lalu terdengar suara Mari muda yang merespon ucapannya.
"Bagus, kamu memang anak yang pandai, Maki-chan... kalau begitu Nee-chan akan menghadiahkanmu sesuatu. Jadi, tugasmu yang pertama adalah kamu harus mencium aku! Hehehe..."
Tiba-tiba ekspresi gadis di dalam video itu berubah menjadi sangat terkejut dan tanpa memikirkan apapun dia berlari menjauhi layar video hingga akhir rekaman.
"ehh, eenn... hyaaaa!"
Video rekaman itu berakhir dengan suara lolongan gadis itu berusaha menghindari sang perekam ke area taman yang luas dan besar dan selesai. Kembali Mari memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjingnya lalu melekatkan badannya semakin erat kepada Maki. Kepala gadis itu bersentuhan dengan pipi Maki yang semakin menggigil karena risih. Lalu dia berbisik pelan ke telinganya.
"Kau tahu Maki-chan? Aku benar-benar merindukan sosokmu yang dulu. Dulu kamu begitu polos dan menggemaskan, karena kamu selalu menyebutku sebagai Onee-chan."
"Pada waktu itu aku masih begitu bodoh untuk bisa diperdaya olehmu!" balas Maki risih.
"Aww, tolong jangan kejam seperti itu kepada Mari-neechan, dong!"
"Mari-neechan?! Aku nggak sudi mengakuimu demikian!"
Maki meninggikan suaranya merespon itu.
"Pssst! Aku bilang jangan teriak!" kata Mari memeluk Maki semakin erat.
Posisi Mari yang menempel ke Maki membuatnya tidak leluasa untuk melepaskan diri dari sang kakak. Mari sebenarnya heran mengapa dia berbuat senekat ini hanya untuk melarangnya memasuki toilet tersebut namun pemikiran itu ditepis jauh-jauh.
"Hmm... aku jadi penasaran sebenarnya ada apa sih di dalam toilet itu?"
"Ehh, t-tunggu! Kamu kan sudah janji tidak akan pergi kesana lagi!"
Mari menoleh ke arah toilet yang masih sepi tersebut sedangkan Maki tampak semakin was-was menantikan perbuatan Mari selanjutnya. Dia benar-benar tidak ingin gadis itu menemui Rin. Tepatnya dia tidak ingin Rin mengetahui bahwa dia pernah mengenal seorang relasi super sableng sekelas Mari.
"Humm, benarkah aku pernah berjanji seperti itu? Aku lupa tuh."
Maki saat itu berdiri agak di bawah posisi Mari, sehingga dia harus melongok ke atas untuk bisa menatap wajahnya, dan kali ini dia hanya bisa menggertakkan gigi dan menatap kesal dirinya dari atas yang tersenyum licik.
"K-Kau ini?!"
"Sudahlah! Kita akhiri saja sekarang! Apa sebenarnya yang kamu mau perbuat kepadaku?!"
Maki memejamkan matanya sambil mengatakan itu dengan angkuh, Mari yang mendengar itu lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Aku mau menghadiahkanmu sesuatu... Menghadiahkanmu hukuman!"
"H-hukuman?!"
"Kiss me!"
Kedua gadis itu sebelumnya berdiri di depan taman toilet namun Mari segera menariknya paksa untuk berjalan ke lain tempat. Tempat yang semakin jauh dari Toilet tempat Rin berada. Mereka berdua menghilang dibalik kerumuman khalayak ramai yang berada disana lalu lenyap diantara kesunyian tanpa disadari oleh siapapun disana.
.
Sudah sepuluh menit berlalu dan akhirnya Rin keluar dari toilet tersebut dengan kepala ringan, agak mual namun mulai bisa menguasai dirinya. Dia sudah bisa menenangkan pikirannya namun gadis itu menjadi bingung dan terkejut ketika dia mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang berada disana untuk menunggunya.
"Humm? Mereka kemana?!"
"Hoi, Maki-chan?!"
Rin terus berteriak memanggil temannya tersebut atau lebih tepatnya satu-satunya orang yang dia kenal di pesta tersebut namun suara jawaban itu tidak kunjung tiba. Dia hanya bisa bersedih sambil menundukkan kepala ke arah tanah sebelum akhirnya tiba-tiba dia menjadi terkejut ketika melihat sebuah bayangan tanpa suara sedang menghampinya dari belakang.
"M.. Maki-chan?!" seru Rin terkejut namun bukan dia orang yang dimaksud melainkan sang waiters yang tadi.
"Ahh, maaf mengagetkanmu Nona." katanya sambil membungkukkan kepala
"S-Silahkan meminum minuman ini."
"Minum?" tanya Rin cemas.
"Ahh, tenang saja ini cuma sekedar air putih dan aspirin untuk meredakan mual anda."
Rin akhirnya bisa bernafas lega setelah sang waiters tersenyum lirih untuk meyakinkan dirinya, lalu dia menegak minuman itu hingga habis.
"Ahh, maaf merepotkan."
"Tidak, sama sekali tidak, Nona. Ini memang tugas saya di tempat ini." sahut sang waiters ramah menerima kritik sang tamu.
"Jadi, apakah kamu melihat Maki-chan?" tanya Rin namun waiters itu hanya bisa memasang muka kikuk karena tidak mengenalnya.
"Maki-chan? Oh, maksud anda nona yang bersama dengan anda tadi? Maaf, saya tidak mengetahuinya."
"Begitu yah? Sekali lagi saya mohon maaf telah merepotkan anda. Kalau begitu saya akan menunggu disini saja. Kakak silahkan pergi, saya baik-baik saja, kok." kata Rin dengan sopan sembari membungkukkan kepala.
"Maaf, Kalau begitu saya mohon undur diri, nona."
Gadis pelayan itu lalu meninggalkan sang tamu menuju tempat asal dia sedang berjaga untuk melayani tamu lainnya.
"Terima kasih."
.
Rin masih menunggu disana hingga cukup lama namun Maki tidak kunjung kembali hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke meja tempat mereka duduk tadi. Namun ketika hendak pergi tiba-tiba dia bersinggungan dengan seorang tamu yang hendak menuju toilet.
"Ahhh..."
Wanita muda itu terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan setelah bersenggolan dengan Rin sebelum akhirnya mereka berdua jatuh ke tanah.
"Aduh..."
"Maafkan saya!" kata perempuan tersebut kepada Rin yang juga terjatuh di tanah.
"Ehh..."
"Maaf, kakak... Apakah anda baik-baik saja?! Ada yang lecet?!" tanya Rin menyambut uluran tangan wanita yang telah berdiri dari tempatnya tersebut.
"T-Tidak... Tidak apa-apa. Kamu sendiri tidak apa-apa kan?"
"Aku tidak apa-apa!" jawab Rin namun gadis itu tiba-tiba berteriak terkejut. "Ehh, kakak... bajumu?!"
Wanita itu menoleh dan melihat ke bagian rok panjangnya yang robek di akibat terselip ujung sepatunya.
"Ahh, sepertinya robek sedikit yah?!" katanya sembari tertawa.
"Maaf! Maafkan saya! Maafkan saya!"
Rin mendadak merasa menyesal karena telah merusak baju yang dikenakannya akibat ulahnya. Pada saat itu wanita itu sedang memakai gaun long dress yang kaya dengan motif warna bunga kuning dan biru pada latar putih. Gaun itu tampak sedikit lusuh akibat basah oleh rerumputan dan tanah setelah dia terjatuh. Dan yang membuatnya semakin menyesal adalah karena dia menyadari bahwa gadis itu adalah orang yang baru saja dia lihat dari atas panggung.
"Tidak apa-apa... Kamu tidak perlu meminta maaf seperti itu."
"T-Tapi kan... Kamu adalah seorang penyanyi disini." katanya muram.
"Ehh? Itu... Hihihi..."
"Oh, jadi kamu mengkhawatirkan tentang itu?"
"Tenang saja, waktu pertunjukkanku sudah usai dari tadi, kok."
Dia tersenyum sembari memandang Rin dalam-dalam.
"Oh?" gumam Rin dengan nada kecewa.
"Kenapa?"
"Aku sebetulnya berharap untuk bisa mendengar suara kakak bernyanyi lagi."
"Ehh? Apakah kamu menikmati pertunjukkan tadi?" tanyanya dengan muka memerah karena sedang dipuji. Rin hanya bisa menganggukkan kepala pelan kepadanya.
"Suara kakak betul-betul indah untuk didengar. Aku merasa hatiku begitu tersentuh ketika mendengar suara kakak di atas panggung tadi. Ini adalah perasaan yang sama seperti saat aku mendengar Maki-chan memainkan piano."
"Maki-chan?" gumam Rin yang tiba-tiba tersadar dengan tujuannya semula. Dia lalu segera berpamitan kepada wanita tersebut.
"Ehh, maaf kakak. Aku harus buru-buru mencari temanku sekarang! Aku mohon diri dulu yah?... byee!"
"byee..."
["Ehh, anak itu... lucu juga."]
Dia bergumam didalam hati sedikit tertawa ketika membalas lambaian tangan gadis berambut pendek yang pergi semakin menjauhinya.
.
.
Sekitar setengah jam berlalu dan Rin sudah memutari taman tersebut namun Maki belum berhasil ditemukan juga. Kini giliran Rin menjadi panik, dia hanya bisa menyalahkan dirinya yang tidak membawa hp saat pergi tadi.
"Maki-chan?!"
"Dimana kamu Maki-chan!"
Gadis itu tampak kebingungan tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, tapi terdengar suara yang memanggil dirinya dari kejauhan.
"Oi, kamu..." itu adalah suara wanita yang dia jumpai di toilet tadi.
"Ehh, kakak? Kenapa kakak ada disini?"
"Oh, Aku cuma kebetulan lewat. Jadi mana temanmu itu?"
"A-Aku tidak tahu. Aku baru pertama kali di tempat ini jadi tidak paham lokasi disini." Jawabnya putus asa.
"Oh, begitu? Baiklah, Aku akan memandumu di tempat ini!"
"Ahh, t-tidak usah repot-repot, kak!"
"Tidak-tidak, tidak usah panik. Anggap saja ini adalah hadiah kecil untuk "fans kecilku". Hehehe.."
"Jadi?" kata wanita itu mengulurkan tangannya.
"B-Baiklah... T-Terima kasih."
Rin dan wanita misterius itu lalu mengunjungi setiap sudut di taman itu sekali lagi. Rin baru tahu bahwa wanita itu ternyata juga merupakan salah satu tamu undangan khusus di pesta ini sehingga dia telah hapal seluruh sudut tempat ini. Tampaknya dia adalah gadis kaya yang terhormat karena setiap orang yang dijumpainya selalu menyapanya dengan penuh hormat sembari menundukkan kepala, tidak peduli orang muda ataupun orang tua.
"Ahh, sepertinya sudah semua tempat kita kunjungi tapi Maki-chan tidak ketemu juga, nya!" kata Rin pasrah. Kepalanya tertunduk bagai telah kehilangan harapan. Namun harapan masih belum sepenuhnya habis ketika dia mendengar...
"Ehhmm, sebetulnya masih ada satu tempat yang belum kita kunjungi, sih... Itu ada disebelah sana!" tunjuk gadis tersebut berusaha membangkitkan harapan Rin. Sebuah senyuman kembali terlukis di bibirnya.
Wanita itu tampak begitu riang saat bersama Rin. Rin juga merasa nyaman saat bersamanya. Aneh, padahal mereka baru sekali bertemu. Mereka berdua lalu berjalan menuju satu lorong yang ada di luar tempat pesta, lebih tepatnya menuju lorong gedung yang tidak jauh disana. Lorong itu tampak rindang dan sejuk karena tertutup pepohonan namun lokasi itu tidak akan dapat dilihat dari dalam taman karena posisinya cenderung tertutup kegelapan bayangan gedung di depannya.
"Ahh, itu Maki-chan!" pekik Rin terkejut
"Ehh, yang bener?!" sahut wanita itu terkejut ketika melihat di depan mereka ada dua orang gadis sedang bertatap muka seperti sedang meributkan sesuatu.
"Ehh, sedang apa mereka berdua?!" tanyanya sambil terus berjalan mendekatinya namun langkahnya berhenti seiring tanganya dipegang oleh seseorang.
"D-Dia berusaha menciumnya?!" sang wanita itu hanya bisa melongo dengan mulut menganga lebar ketika dia melihat "pasangan yuri" ada tepat di depan matanya.
"Eh, Tunggu, kakak cepat kesini!"
"Ehh, kenapa kita harus bersembunyi?"
Saat itu Rin dan wanita itu berusaha mencari tempat bersembunyi yang berada di balik salah satu pilar penyangga lorong gedung. Kedua gadis didepan mereka sedang bertengkar saling dorong mendorong untuk menghalangi pasangan lainnya. Saat itu Mari sedang mendekati Maki.
"Ayolah, Maki-chan! Satu ciuman saja tidak akan membuatmu mati, kan?!" katanya menyodorkan bibirnya ke mulutnya.
"Tidak! Aku tidak mau!"
"Kau ini keras kepala sekali yah?! Bukankah ini adalah tingkah yang wajar jika sesama teman saling berciuman?!"
"Itu kan menurutmu!" sanggah Maki menjauhkan kepala gadis itu.
"Tentu saja, di USA, aku dan teman-temanku sering melakukan itu ketika sedang hang-out bersama."
"Tapi, itu tidak berlaku untuk keluargaku!"
"Lho, bukankah ayahmu itu pernah tinggal di USA? Pasti beliau pernah mengajarkan kebudayaan barat di rumah kan?" tanya Mari heran.
"Ehh?!"
"Kamu salah sangka tentang ayahku! Pertama, ayahku adalah orang Korea. Kedua, aku di rumah dibesarkan sebagai orang jepang yang memegang erat budaya eropa, bukannya budaya amerika ababli sepertimu!"
"Huh! Kamu itu keras kepala sekali yah? Yah sudahlah! Nampaknya aku sendiri yang harus mengambil hadiahku!"
"Itadakimasu!"
Gadis itu menyosor bibirnya namun Maki segera memalingkan wajahnya ke kiri sehingga bibir Mari hanya bisa mencium tembok yang ada dibelakangnya.
"Nggak mau! JANGAN!"
"Kenapa sih?! Kenapa kamu itu sulit sekali untuk dibujuk?!"
Mari mulai kesal mendapati perilaku Maki yang keras kepala. Dia menarik kepala gadis itu untuk menatap dirinya namun niatnya hilang saat melihat mimik wajah Maki yang mulai menangis. Air mata yang mengalir membasahi pipinya sehingga tekanan pelukan itu mulai berkurang.
"K-Karena di keluargaku.. K-Kamu hanya memberikan ciuman pertamamu untuk orang yang kamu cintai untuk sekali dan seumur hidup!"
Rin mendengar itu dengan sangat jelas, walaupun jarak diantara mereka ada sekitar 3 meter namun dia bisa melihat gerak-gerik Maki yang terlihat menderita. Dia tampak sedih namun tidak bisa berbuat apa-apa sebaliknya pikirannya terbang kemana-mana mengingat kejadian 2 minggu yang lalu saat berada di UKS dan menjadi tersipu malu.
"Ehh?!" gumam Mari kaget. "So cuuute!."
"Hahahaha... Di Abad 21 ini kamu masih percaya dengan hal semacam itu?! Kamu ini anak kecil atau apa yah?" dia menertawai pemikiran kolot Mari.
"Well, actually... i dont care! I will still kiss you now!"
Degup jantungnya berdetak kencang! Ada perasaan tidak terima yang mulai muncul untuk menyakiti hatinya. Detik mulai berlalu dan Mari semakin dekat mulai mencumbu Maki, dan di menit ini Rin sudah menetapkan hatinya untuk keluar dari tempat persembunyiannya namun...
Dia kalah cepat! Semuanya berjalan begitu cepat dalam sekejab mata! Itu adalah peristiwa besar yang tidak bisa terulang kembali. Baik Maki maupun Rin kini sama-sama membelalakkan matanya. Saat itu langkahnya ternyata kalah cepat dengan sosok bayangan yang datang dari arah berlawan darinya. Sesosok oknum itu bergerak cepat menghampiri gadis pirang tersebut. Itu adalah sang waiters yang menemani Rin sedari tadi.
"Splasssshh!"
Rin hanya bisa melongo ketika melihat waiters itu menumpahkan seluruh isi teko air putih yang dia bawa ke atas gadis pirang tersebut dengan tenang hingga tetes terakhir.
"Ups, maaf nona tanganku terkilir." katanya dingin dan datar.
Mari yang tidak terima dengan perlakuan tersebut terlihat marah dan hendak melabrak sang pelaku yang telah membuat basah sekujur badannya dari atas sampai bawah. Matanya melotot namun nada suaranya berbalik mengecil layaknya seorang anak anjing yang baru saja di siram air dari baskom oleh majikannya. Karena...
"Hey! Apa-apaan ka—"
"Ka... Kanan?!"
Mari tidak bisa menyelesaikan perkatannya selain tampak shock dengan mata terbuka lebar ketika mata mereka saling bertemu dengan raut muka sang waiters yang tampak begitu kesal dan mata yang benar-benar memerah. Sambil menutup matanya, gadis pelayan itu segera berpaling agak angkuh dan terburu-buru meninggalkannya.
"Ka.. KANAN! WAIT!"
"Jangan pergi.. Aku bisa menjelaskan semua ini!"
"It's Joke! IT'S JOOOKKKEEE!"
.
Suara Mari terdengar menggema di sepanjang lorong gedung seiring dengan dia berusaha mengejar Kanan, sang waiters tersebut. Sementara Maki yang sudah ditinggalkannya hanya bisa terduduk lemas setelah kejadian tersebut dan Rin secara refleks keluar dari tempat persembunyiannya menghampirinya agak cemas.
"M... Maki-chan! Kamu tidak apa-apa?!"
"Ehh?! Rin?! S-Sejak kapan kamu berada disana." Tanya Maki yang sedang mengusap air mata dipipinya sembari melihat Rin menghampirinya didampingi seorang wanita asing.
"A-Aku baru saja tiba disini."
"Jadi, apakah kamu tadi mendengarkan itu semua?"
"Umm... S-Sedikit." jawab Rin tersipu malu begitu juga dengan Maki yang mengingat perkataannya barusan.
"B-Begitu yah?"
"Tapi, kamu tidak apa-apa kan, Maki-chan?
Maki menganggukan kepala sambil memeluk Rin dengan tangan gemetar. Tapi suasana romansa kedua sahabat itu tidak berlangsung lama karena di sela oleh wanita asing tersebut.
"Emm... R-Rin?!"
"Ah, kakak?! Iya, inilah teman yang aku ceritakan tadi. Ini adalah Maki-chan."
"Ahh, senang berjumpa denganmu."
Kedua gadis itu lalu bertukar sapa saling berjabat tangan namun pandangan itu terus menoleh kepada Rin dengan muka muram. Sebenarnya pandangan mata itu lebih tertuju kepada sebuah benda di balik belahan dada kecil yang menonjol keluar karena sedang membungkuk untuk memeluk Maki. Sebuah kalung liontin yang dikenakannya di lehernya.
"Kalung yang indah..." pikirnya.
"Oh iya, ngomong-ngomong nama kakak siapa yah?"
"Oh iya, kita belum berkenalan sejak tadi yah?!"
"Namaku adalah..."
"Riho Iida."
.
Gadis keturunan bule itu terus memeluk pinggang gadis sang waiters yang hanya terus diam sambil meneruskan pekerjaannya untuk mencuci piring dan gelas di wastafel khusus cuci piring. Dia tetap melakukan tugasnya meskipun gadis kaya itu bertindak seolah-olah hanya mereka berdua yang ada disana, padahal ada puluhan pelayan yang sedang mengerjakan tugas mereka. Dan tentunya para pegawai itu hanya bisa menatap tingkah kedua gadis itu dengan risih tanpa bermaksud untuk menegur mereka.
"Kanan, Tolong dengarkan penjelasanku!"
"Apalagi yang hendak kamu jelaskan, nona Mari?!"
"Itu tadi semua cuma bercanda! It's joke!" tanyanya dengan muka memelas. "Kamu percaya aku kan?"
"Yah, Yah... Iya." jawab gadis itu datar sambil menutup mata.
"Ahh, kamu gak serius maafin aku nih?!
"Cukup Mari! Apa urusanmu dengan pelayan sepertiku?! Kalau kamu tidak ada keperluan lekas keluar dari ruangan cuci piring ini!" bentaknya sambil berusaha melepaskan tangan Mari dari pinggangnya dengan tangan penuh busa memeganginya.
"NGGAK MAU!"
Dan pada saat itu tiba-tiba...
"Matsuura Kanan?!"
"Apakah ada masalah?!"
Tiba-tiba datang kepala pengawas yang menghampiri mereka berdua. Ingin hatinya untuk membentak anak buahnya itu namun ketika diketahuinya bahwa ada seorang putri yang menjadi sumber bencana ini maka diapun terdiam dan mengabaikan hal itu selain tetap menegur Kanan.
"T-Tidak ada nyonya!"
Wanita separuh baya itu hanya bisa memandang mereka dengan risih tanpa berkata apa-apa dan pergi begitu saja. Dia tidak berminat untuk melakukan itu apalagi setelah melihat tatapan mata ganas Mari yang seperti hendak mengatakan "kalau kau hendak bertindak macam-macam terhadap kami maka aku akan memecatmu!"
Saat itu keadaan semakin kikuk hingga pada akhirnya...
"K-Kamu... Kamu ikut aku!" kata Kanan yang terburu-buru menarik tangan Mari menjauhi ruang cuci piring menuju ruang lain yang masih ada di sekitar tempat itu. kali ini mereka berada di sebuah kemah khusus penyimpanan alat-alat perlengkapan pembersih yang biasanya digunakan oleh para waiters sebagai ruang ganti baju. Kali ini hanya ada mereka berdua di tempat itu, ruangan yang gelap dan minim cahaya, sedikit pengap dengan banyaknya kemasan-kemasan disana dan kedua gadis itu kini sedang bertatapan muka.
"Mari, kau tahu... Kau itu selalu menyusahkanku saja!"
"A-Aku tahu..."
"Tapi aku bosan selalu disini seorang diri. Makanya aku senang ketika berjumpa dengan teman lamaku itu."
"...dengan menciumnya?"
"Ehh, itu..."
Mari tampak ragu-ragu untuk merespon itu. Dia tahu itu sepenuhnya adalah kesalahannya dan begitu menyesalinya sekarang.
"Baiklah, ayo kita selesaikan saat ini juga. Ini adalah hukumanmu"
Kanan menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.
"Punishment?" kata Mari terkejut
"Yes, it's Punishment!"
"It's called..."
"Guilty Kiss."
.
Periode 14: Selesai
.
Author Notes: Weeewww! Akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita ini. Dan kini tibalah kita di penghujung tahun 2016. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang mengikuti/membaca cerita ini sekarang. Semoga kalian terhibur dengan cerita ini, ini menghibur, kan? Entahlah, Apakah ini bisa dikatakan romantis? Kalau aku sih menulis ini sambil senyum-senyum sendiri.
Mengenai timeline cerita, meskipun hari ini adalah bulan desember – yang parahnya hari natal & tahun baru kok di hari minggu, sih?! – tapi cerita ini masih berlangsung di bulan Juni menjelang Juli. Dan begitulah aku mengakhiri tahun ini, tahun depan akan jadi lembaran cerita yang baru (ya, iyalah!). see ya!
Oh iya, sudahkah kalian menonton "Kimi no Na wa" di bioskop? Aku baru 2 kali nonton dan harus aku akui filmnya bagus sekali! Jujur, aku gak bakalan bisa bikin cerita se-njelimet itu. #halah! Anyway...
Merry Christmas 2016 and Happy New Year 2017...
.
Bagian Encore ke-0:
Setelah dia meninggalkan kedua gadis yang ditemuinya maka dia kembali ke tempat dia seharusnya berasal. Langkahnya menjadi lunglai karena terus kepikiran dengan benda yang telah dilihatnya barusan. Dia berusaha keras untuk memikirkan benda apa itu sebenarnya? Mengapa itu terasa familiar? Namun itu semua tampak tidak masuk akal. Gadis itu menghela nafas panjang ketika menyerah memikirkan itu.
Sementara itu di penghujung taman sebelah sana terlihat seorang pemuda berjas hitam tampak panik untuk memeriksa setiap sudut taman sembari bertanya kepada para tamu disana tentang sosok yang ingin dicarinya. Beberapa kali dia mengusap keringat yang membasahi dahinya, waktu itu suasana senja semakin menghiasi taman dan sinar lampu taman mulai mengganti peran terang mereka.
Dia tampak kelelahan dan berdiam sejenak menatap langit malam.
"Gelap yah?", gumannya ketika dia tidak menjumpai sedikitpun terang kerlip sinar bintang diatas selain sinar bulan yang benderang semakin putih menggantikan peran sang surya. Kala itu dia kembali mencoba menyisir pandangan matanya ke seluruh penjuru taman dan disanalah dia menemukan orang yang dicarinya. Gadis itu. Dia segera bergegas menyusul orang yang selama ini telah dicarinya itu.
"Ahh, kamu ternyata ada disini, Rippi?!"
Tiba-tiba terdengar suara pria yang berhasil menyadari keberadaan gadis itu dan memegang tangannya erat. Dia menoleh bengong menatap wajah lelaki yang sungguh mencemaskan keberadannya itu sekarang.
"Huh, kau ini selalu merepotkan aku yah?! Setidaknya minta ijinlah kepada manajermu ini jika hendak pergi berkeliling tempat ini." ujar Lee, manajernya.
"ehh, kenapa kamu menangis?" lelaki itu bertanya namun sang gadis enggan menjawabnya selagi terus menitikkan air mata. Tidak ada kata lain yang terucap dari bibirnya selain kata berulang,
"A... Aku menemukannya."
.
"Itu..."
.
DO NOT KILL RIN:
Baru kali ini nemu reader yg niat komen sampe dibikin akun khusus.. wkwkwkwk! Tenang saja saya ini bukan orang "kejam", bahkan saya masih berencana nulis cerita ngalor-ngidul yg happy-happy-nyoowa tentang Rin. Jadi saya gak bakalan jawab bakalan happy or sad ending.
Tentang penyakitnya: umm, sepertinya saya harus buat cerita khusus flashback tentang ini yah?.
Honestly, i messed this plot for a forward chapter story. thx u for reminded me again! Aku bakalan PM lagi kalo ceritanya sudah jadi.
FYI: cerita yang saya pakai ini terinspirasi dari kisah nyata dari seorang artis inggris. Yah, meskipun gak akan ngaruh sama cerita Rin sih karena bakalan ada twist tersendiri.
So far, thats my hint! anyway, thx for hating me. :D
