Chapter 16: Pertemuan Baru
.
Minggu terakhir bulan Juni akhirnya telah tiba.
Kota Tokyo hari ini tetaplah ramai seperti biasanya.
Meskipun suasana musim liburan dan festival musim panas sudah mulai terasa di depan mata namun hidup tetaplah harus berlanjut, dan memilih untuk hidup berarti tentang bekerja, bekerja dan bekerja.
Jadi, Beginilah prinsip orang jepang mengatur waktu mereka bahwa "tidak ada waktu sia-sia selama kamu bisa mengerjakan segala sesuatu yang bisa dimanfaatkan". Dengan arti kata lain tidak ada sedikitpun tempat bagi orang pengangguran di kota ini.
Salah satu tempat yang menjunjung tinggi prinsip ini adalah Bandar Udara Internasional Tokyo atau lebih dikenal sebagai Bandara Haneda. Sebagai bandara tersibuk nomor dua di asia dan nomer lima di dunia maka hilir-mudik para penumpang yang transit di tempat ini tidak pernah berhenti, hampir lima juta penumpang memenuhi tempat ini setiap harinya. Sertifikat pelayanan ISO dan berbagai piagam penghargaan lainnya adalah bukti yang menahbiskan tempat ini sebagai Bandara Udara dengan pelayanan terbaik dan tepat waktu nomer satu di dunia selama beberapa tahun.
Sebagai bandara internasional Jepang terbesar kedua yang berada di kota Tokyo setelah Bandara Internasional Narita, bandara Haneda tidak kalah sibuk melayani lima ribu penerbangan pesawat setiap harinya. Secara khusus bandara ini sebenarnya awalnya diproyeksikan sebagai bandara khusus penerbangan domestik namun karena jumlah kunjungan luar negeri yang terus meningkat sehingga membuat Bandara Narita tidak cukup efektif untuk melayani itu semua lalu Bandara Haneda juga turut dikembangkan sebagai Bandara Internasional hingga sekarang.
Keramaian di bandara yang tidak pernah sepi dari banyaknya orang asing juga turut memenuhi tempat ini. Tidak heran apabila seseorang dapat tersesat di sana jadi karena itulah ada banyak petugas keamanan yang disiapkan untuk mengatur arus penumpang. Selain itu juga tersedia banyak bangku duduk berderet yang dipersiapkan sebagai fasilitas istirahat dan ruang tunggu.
Dan di tengah-tengah kerumunan itu sekarang ada seorang gadis tunggal yang sedang mendongakkan kepalanya ke atas demi melihat tayangan papan layar informasi besar yang terpampang jelas di hadapannya dengan deretan kata dan data untuk memberitahukan secara detail jadwal keberangkatan pesawat yang baru saja berangkat ataupun tiba di bandara itu.
Bersama dengan tas ransel besar dan koper travel yang dia bawa di tangan kanan, gadis itu hanya bisa terpana dengan mata terbelalak lebar melihat "secuil" kesibukan kota Tokyo yang baru saja dia datangi.
.
"Aku.."
"Aku tidak percaya..."
"Ini Tokyo?!"
"Ehh?!"
.
.
SMA Otonokizaka,
Sekolah khusus putri itu saat ini nampak ramai di luar halaman sekolah. Berdesak-desakan para siswi itu melihat arah papan pengumuman yang telah ditempelkan selembar kertas putih besar dengan ratusan, bukan, ribuan kata disana yang memuat pengumuman penting.
Pengumuman sekolah akan ditutup?
Yah, memang ada juga pengumuman tentang itu disana. Tapi itu berita lama yang menempel usang disebelahnya.
Pengumuman penting yang membuat heboh mereka kali ini bukanlah tentang itu melainkan tentang nilai tes ujian tengah semester yang baru saja dikeluarkan. Kini, Seluruh siswi nampak tegang mencari NIS (Nomer Induk Siswa) mereka masing-masing dan memperhatikan nilai mereka, nampak raut cemas jelas terlukis di wajah mereka.
Sebagai informasi, mengapa pengumuman ini begitu penting adalah karena nilai ini menjadi tolok ukur yang menentukan rapor semester mereka. Jika seandainya mereka mendapatkan nilai rendah di sebuah mata pelajaran disini maka mereka hanya perlu "menebus" itu melalui ujian akhir semester berikutnya, namun... Seandainya mereka gagal di kesempatan keduanya itu berarti mereka harus bersiap menerima pelajaran tambahan di sela liburan musim panas di sekolah.
Dan jika itu terjadi maka mereka akan mendapatkan voucher "Meet n Greet" bersama guru kelas kesayangan mereka selama beberapa minggu plus pelayanan "service" tugas tambahan yang harus diselesaikan di sekolah pada saat liburan musim panas. singkat kata, mereka harus siap mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan masa muda mereka tahun ini.
Percayalah, Tidak ada satupun murid yang menginginkan itu.
.
Pagi itu, Di tempat ini ada dua ekspresi wajah yang tergambar di antara kalangan para siswi, pertama adalah reaksi gembira dan puas karena nilai mereka aman. Reaksi kedua adalah wajah yang muram dan bersungut-sungut karena harus menerima kenyataan bahwa nilai mereka ada di ambang bahaya.
Dan Nishikino Maki termasuk golongan gadis reaksi kedua.
Di sebelah Maki terlihat ada dua gadis lainnya yang sedang ikut menemaninya mencari nilai mereka. Kedua gadis itu adalah Rin dan Hanayo yang pada akhirnya telah menemukan nilai mereka bertiga namun setelah mengetahui hasilnya kini giliran kedua gadis itu yang menjadi bingung, bukannya merisaukan hasil ujian mereka malahan menjadi tampak kebingungan saat melihat ekspresi wajah Maki sekarang.
Bukan apa-apa...
Pada pengumuman tahun ini Maki sebenarnya berada di peringkat teratas di kelasnya dengan nilai terbaik rata-rata 92, dibandingkan dengan Hanayo yang rata-rata 70 ataupun Rin yang nilainya 60 tentu saja itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilainya namun Maki tampak tidak antusias mengetahui nilai itu.
Seberapa keras Rin dan Hanayo mencoba menghibur Maki namun tetap saja itu semua tidak ada artinya. Gadis itu murung bak anak yatim yang baru saja kehilangan mainan berharga satu-satunya di dalam genggeman tangannya.
.
Detik demi detik berlalu dan jam sekolah hari ini berakhir dengan cepat tanpa menghasilkan penyelesaian apapun. Seperti biasanya, Maki hari ini tinggal di dalam kelasnya paling akhir untuk menunggu kedatangan Hitori yang dia minta untuk menjemputnya namun kali ini dia tidaklah sendiran melainkan bersama seruan seorang gadis lain yang menemaninya.
"M.. Maki-chan?"
Sang gadis berambut pendek duduk di bangku depan gadis tomat itu dengan wajah penuh tanda tanya. Hanya ada mereka berdua dan kelas yang sudah kosong ditinggalkan para murid lainnya sekarang. Sembari dia memandanginya, sang gadis yang diperhatikan itu terus sibuk menuliskan catatan rangkuman bahan pelajaran yang telah dia pelajari sekarang hingga akhir semester.
Dia melambaikan tangannya ke arah depan mejanya di antara buku dan mukanya beberapa kali namun fokus pandangan itu tetap tidak goyah, dia terus mengacuhkan kehadiran sang gadis kucing itu tanpa ragu.
Gadis itu tampak kesal karena terus menunggu dan mulai mengembungkan pipinya tanda bosan. Kesabarannya sudah habis sehingga kedua tangan itu mulai melakukan aksinya, dia menggebrak meja Maki dengan keras hingga gadis itu tersentak oleh ulahnya.
Eh, dia memandanginya dengan tatapan datar tapi... Dia tetap diam saja.
Sebenarnya dia tidak pernah berniat melakukan itu namun melihat ulah Maki yang terus diam dan jarang lagi berbicara membuat Rin merasa sebal. Kalau di ingat-ingat, saat terakhir kali mereka berdua berbicara itu adalah pada saat hari sabtu kemarin, ketika Maki mengantar pulang Rin kembali ke rumahnya dari acara jamuan pesta teh dan kata terakhir yang dia ucapkan kepadanya pada saat itu adalah...
"terima kasih".
.
Gadis itu kini hanya berharap satu hal sekarang bahwa "apabila kamu tidak bisa berbicara dengan normal kepadaku, setidaknya marahi saja aku sepuasnya hari ini seperti biasanya. Itu akan melegakan hatiku!"
Namun harapan itu tidak kunjung tiba malahan Rin hanya bisa melongo ketika melihat wajah Maki yang tetap datar tanpa menunjukkan ekspresi wajah yang marah ataupun merasa terganggu karena hal itu.
Kikuk, wajah sang kucing itu memerah karena malu jika mengingat kembali ulah kasarnya barusan namun berbeda dengan lawa bicaranya, seolah tidak pernah merasa hal itu pernah terjadi. Maki hanya memandang muka Rin sesaat lalu memalingkan tujuannya untuk mengemasi buku dan alat tulisnya yang ada di atas meja ke dalam tas dan berdiri dari kursinya untuk meninggalkan kelas.
"M... Maki-chan?!" suara gadis kucing itu masih berusaha menggapainya namun sang putri tak kunjung menoleh.
"Engg... Jangan sekarang, Rin!"
Maki berdiri tepat di depan pintu kelasnya saat Rin memanggil namanya di tempat duduknya. Itu adalah pertama kalinya dia bersuara lagi.
Dari pihak Maki sendiri, Dia sangat menyadari jika temannya itu membutuhkan penjelasan terhadap aksinya saat ini namun dia sama sekali tidak memiliki hal yang bisa dijelaskan kepadanya sekarang karena itulah dia memilih untuk mendiamkannya sekali lagi. Bagaimanapun juga, ini adalah urusannya sendiri dan gadis itu tidak perlu ikut campur ke dalam masalahnya, begitulah pikirnya.
Rin kini berdiri dari kursinya untuk menyusul Maki namun tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari luar gedung sekolah tanda mobil pribadi Maki sudah tiba untuk menjemputnya. ada jeda jarak sekitar tiga kaki di antara mereka berdua di dalam kelas itu namun dia tidak sampai untuk menyentuhnya ataupun mendekatinya sebaliknya dia menunggu respon Maki yang masih diam membelakanginya dan terlihat bimbang di depan pintu itu. Lalu, Maki menoleh berbalik kepadanya.
"Ahh, Maaf, aku harus pergi sekarang." katanya pelan.
"Tapi..."
Rin hendak menyatakan keberatannya namun dia juga sama sekali tidak memiliki kata-kata yang pantas untuk diucapkan kepadanya sekarang. Semuanya terasa begitu absurd, semuanya penuh tanda tanya yang tidak bisa dijelaskan atau ditanyakan dengan satu kalimat saja. Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan sekarang oleh gadis tomboy itu adalah menganggukkan kepala sambil melambaikan tangan saja.
"Umm..."
"Baiklah, aku juga pergi sekarang."
"Unn, Sampai jumpa besok."
"Selamat tinggal."
.
Kedua gadis itu tetap diam hingga di depan gerbang sekolah sebelum akhirnya berpisah. Rin memang sudah terbiasa menunggu Maki di sekolahnya hingga jemputannya tiba. Tapi, satu hal yang berbeda saat ini adalah dia sama sekali tidak mengerti mengapa Maki terus diam semenjak terakhir kali dia mengajaknya ke acara pesta teh.
Apakah sesuatu sudah terjadi sejak saat itu?
Apakah Rin berbuat sesuatu yang salah lagi?
Dia hanya bisa berserah pasrah kepada kapasitas otaknya yang tidak sanggup merekam ataupun mencerna ulang pemikiran itu.
Mobil sedan hitam berjalan pelan di seberang sekolah menyisakan pemandangan gerai toko es krim bermotor yang sedang melayani pembeli di seberang trotoar jalan sekolah. Rin yang menyaksikan itu menjadi lapar dan hendak membelinya. Dia berlari menuju mobil es krim tersebut dan tanpa berpikir panjang, Banana Choco Ice Cream yang menjadi menu andalan toko itupun dibelinya. Tepat saat pesananya telah tiba di tangannya dengan itu tiba-tiba terdengar suara "bip" dari ponselnya yang menandakan ada surat elektronik yang masuk ke kotak pesannya. Pesan yang cukup singkat dari seorang sahabatnya untuk merangkum seluruh pertanyaan hari ini,
["Bagaimana?"]
Gadis itu membaca pesan e-mail itu dengan dahi mengedut. Bagaimanapun juga balasan jawaban untuk pertanyaan ini sudah jelas,
["Buruk. Ini tidak berjalan seperti yang aku harapkan. Maki-chan, tidak mau terbuka sedikitpun kepadaku. Wajahnya tampak begitu depresi, nyaa!"]
["Begitu yah? Lalu kamu sekarang ngapain?"]
["Aku dalam perjalanan pulang. Aku sedang makan ice cream sekarang, lho!."]
(mengirim gambar selfie)
["Heh, enaknyaa?!"]
["Kamu mau?!"]
["MAUUU!"]
["Beli aja sendiri..."]
["Weekkss!"]
[":p"]
["(emoticon ngamok)"]
Mode percakapan e-mail itu berakhir seraya mode telepon mulai muncul di depan layar Rin. Dia mengangkat panggilan tersebut menggunakan mode hand free serta memasukkan ponselnya ke dalam sakunya setelah memasang earphone ditelinganya sambil terus berjalan menikmati es krim yang mulai meleleh akibat siraman mentari sore.
"(slurp!) Nyaaa, Kayo-chin?! Es Krimnya enak lho! Segerrr!"
"Heh, kamu beli dimana es krim itu?! Enak gak?!"
"Enak banget! (slurp!) Nih, aku beli yang rasa coklat pisang, rasa pisangnya begitu menggoda tahu?! Hmm... Kelembutan krim di atasnya tidak terlalu keras ataupun terlalu cair, pas deh dengan kedinginan dan saus coklat yang ditabur diatasnya, nyaa!"
"Hueeh, udah-udah... Kamu jelasinnya bikin orang ngiler deh!"
"Hmm... Sayang sekali, tapi kayaknya disana tadi gak jualan es krim kesukaanmu, deh?"
"Maksudmu?"
"Kamu sukanya es krim rasa nasi, kan?!"
"Err, Rin... plis deh (hening sejenak)!"
"Lho, bukannya dulu kamu pernah makan itu di sekolah?!"
"A..Aku gak pernah makan kayak gitu, yah?! E-Emangnya aku maniak, apa?!"
"Kayo-chin, kamu pernah melakukan itu! Inget gak waktu SD dulu? Kamu mencampurkan bekal nasimu dengan es krim sekolah?!"
"A-A-A-Aaaaaaaa... K-kenapa kamu masih ingat itu?!"
"Kalo gak salah aku masih punya fotonya, deh?!"
"M..Masaka, hapus! Hapus dong! Rin, aku malu kalo inget itu! kyaaa..."
"Nggak mau, wekkks!"
"Kamu jahattt!"
"Biarin...!"
"Aku nangis nih?! Hu...HuHuHu...HuHu..." Hanayo menirukan ekspresi tangisan palsu
"Iya iya, Gini aja deh, kayaknya penjual es krim keliling baru ini cuma jualan pas sore hari aja deh. begini saja, bagaimana kalau besok kita sama-sama cari aja penjual es krim itu di sekitar kompleks sekolah kalau beruntung mungkin kita bisa beli bareng?"
"Ok deh! "
"Ah, iya, balik ke topik awal. Ini tentang Maki-chan."
"Rin, kamu merasa nggak sih kalau dia itu jadi agak aneh hari ini?!"
"Humm, aku juga merasa begitu sih. Dia memang kelihatan aneh semenjak kemarin."
"Kemarin? Hmm, bukannya kemarin hari minggu? Kamu memang ketemuan kemarin?"
"Nyaaa, aanu.. Nggak begitu, Kayo-chin?! Aaanu, maksudku semenjak pulang sekolah kemarin Jum'at..."
"Ohh, iya juga sih.. Hari Jum'at kemarin dia tumben pulang dijemput lebih awal. Kelihatan panik juga sih."
"Nyaa, b-begitulah? Ahahahaha..."
"Trus, tadi kamu memperhatikan dia sedang melakukan apa di dalam kelas?"
"Dia cuma terus sibuk mencatat rangkuman pelajaran hari ini ke dalam bukunya, nya! Maki-chan benar-benar menghiraukan keberadaanku, nya!"
"Oh, gitu jadinya.. hmm, aku ngerti sekarang..."
"Ngerti? Ngerti apa Kayo-chin?! Kasih tahu Rin, dong!"
"Hmm, bukannya kamu pernah menceritakan ini kepadaku? Kalau sebenarnya dia..."
"Ehh, t-tunggu! Kenapa aku harus menceritakannya kepadamu?! Kalau kamu adalah temannya seharusnya kamu tidak akan pernah melupakan ini!"
"Apakah itu penting?"
"Apakah seseorang membuat janji itu tidak penting?!"
"Ehh?!"
"Kalau begitu, byee! Ganbatte-nyaa!"
Hanayo menirukan suara jargon khas Rin di akhir panggilannya dan percakapan telepon itu selesai.
"Ehh? K-Kayo-chin, maksudmu apaan?!"
*tut, tut, tut..*
"Yah, dimatiin..."
Rin mendengus kesal karena Hanayo tidak menjelaskan maksud seluruh perkataannya. Saat itu dia sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah namun arah kakinya malah menuntunnya menuju sisi lain gang sebelah, wilayah Akihabara. Rumah Rin sendiri berada di daerah Kanda.
.
Daerah Kanda adalah daerah yang bersinggungan dengan tiga wilayah di Tokyo yaitu dengan distrik Akihabara dan Junbo. Ada perbedaan besar diantara ketiga wilayah ini, Dibandingkan Kanda yang cenderung adem-ayem dengan tata kota klasik yang sengaja dibiarkan sederhana maka Akihabara terkenal dengan tempat penjualan barang elektronik yang selalu hiruk-pikuk dengan berbagai kegiatan berdagang.
Ini diperparah dengan label surga otaku yang membuat daerah ini selalu ramai, bagaimanapun juga seperti halnya tempat berjualan pada normalnya daerah ini akan sepi ketika menjelang jam sembilan malam besamaan dengan tutupnya pertokoan. Sementara Junbo adalah wilayah yang cenderung sepi namun tidak seperti Kanda, daerah yang terkenal sebagai pusat toko buku terlengkap ini cukup ramai dikunjungi para pencinta buku.
Gadis itu menyebrangi zebra-cross pertigaan Akihabara itu berada. Sebagaimana Akihabara pada umumnya banyak orang lalu lalang berjalan kaki disini, mereka dengan tertib mentaati lampu traffic light yang secara teratur mengatur jalannya pejalan kaki dan kendaraan bermotor.
Kini, seharusnya dia terus berjalan mengikuti arus pejalan kaki yang berdesak-desakan menuju blok lainnya namun pada saat itu langkah kakinya seolah sedang terpancang ke dalam tanah, tubuhnya tidak bergeming dan terus terpaku seakan orang yang tersambar petir. Bukan karena kecapekan ataupun sedang kehilangan sesuatu, kala itu yang membuatnya seperti sekarang adalah karena pandangan matanya seolah teralihkan dengan kehadiran seseorang yang sedang berjalan pelan dari jalan berlawanan arah menuju tempat Rin sekarang berada.
"Bishoujo*" gumannya pelan dengan pupil mata agak membesar.
Sang gadis di seberang jalan itu sebenarnya tidak terlalu tampil mencolok apabila dilihat dari tempat Rin sekarang apalagi banyak orang yang menyertainya namun itu sama sekali halangan bagi Rin untuk terus memperhatikan sang gadis berambut violet gelap panjang yang sedang membawa tas jinjing di lengannya kelihatannya dia baru saja keluar dari toko buku yang ada di seberang jalan. Bagaimanapun juga saat ini senyuman merekah di bibirnya, Senyuman bak violet pelangi beradu dengan manik kuning kecoklatan itu terfokus pada tablet portable yang dibawanya.
Dia terus berjalan dan berjalan meskipun berulang kali dia menabrak pejalan kaki lainnya, orang yang lewatpun nampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan pelancong wanita itu hingga dia berjalan tepat berpapasan dengan Rin. Kala itu Rin hanya terus diam terhenyak mengamati jalannya. Sementara itu jalan trotoar tempat Rin berada mulai sepi bertepatan dengan lampu merah untuk para penyebrang mulai berkumpul sebelum dapat berjalan kembali.
Berbeda dengan sisi penyebrangan daerah Akihabara, sisi daerah Kanda cenderung sepi karena memang jarang orang berkunjung di daerah ini. Disanalah gadis itu juga berjalan menuju tempat pemberhentian zebra-cross itu, Rin terus terpaku memandangi cara gestur jalannya yang tetap anggun, dia berpikir bahwa mungkin gadis itu adalah seorang mahasiswi atau paling tidak begitulah kesan pertamanya melihat pakaian modis yang dikenakannya.
Namun sesuatu yang aneh terjadi, dia menyadari ada yang janggal di adegan ini. Gadis itu ternyata sama sekali tidak berhenti berjalan malahan dia yang masih asyik memperhatikan layar Tab yang dibawa tangannya dan seakan mengacuhkan sekitar dia terus melewati palang rambu merah yang mulai menyala.
.
"Heh, dia bercanda, kan?!"
"Gadis itu, Heh, ini masih belum waktunya untuk menyebrang, kan?!"
"Tunggu...! Hei, Mbaakk! Jangan menyebrang?!"
Bukan hanya Rin, Tiba-tiba banyak orang dari seberang jalan mulai mengeluarkan seruan jeritan panik sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya namun dia tetap tidak bergeming. Suara jeritan itu lalu menyebar hingga seberang jalan tempat Rin berada dan menimbulkan suasana horror di kedua belah sisi ketika truk besar mulai melintasinya, termasuk bagi Rin yang cukup shock.
Namun...
Gadis ini unik, dia menyadari keanehannya itu bahwa seringkali nalar otaknya cenderung lambat untuk memikirkan sesuatu namun gerakan refleks tubuhnya tidak pernah membohonginya untuk melakukan sesuatu. Begitu juga untuk kali ini dimana langkah kakinya segera berlari mengejar gadis itu dan menariknya dalam waktu sekejab mata menuju pinggir trotoar jalan.
"Kyaaa!"
Gadis itu menjerit karena tiba-tiba tubuhnya oleng ke belakang tertarik oleh sesuatu yang sangat kuat mencekram tubuhnya hingga terjatuh ke sisi jalan sebelumnya. Sepasang utas kabel tipis ikut lepas dari telinga yang bersembunyi di balik rambut panjangnya ketika itu terjadi sehingga membuka wawasan pandangannya saat ini. Ilusi dunia khayalnya telah rusak berganti menjadi kenyataaan.
"Aduhhh, A..Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Gadis itu bingung dan mulai menoleh ke belakangnya, tepat pada saat itu dia menyadari kerumunan puluhan mata sedang terpusat kepadanya. Hal yang lebih mengherankan baginya adalah ketika mengetahui tubuhnya sama sekali tidak sakit meskipun sudah terdorong jatuh hingga dia memalingkan matanya ke arah bawah.
"K-Kamu tidak apa-apa, kan?!" ucap sang penolong sembari tubuhnya agak sesak tertindih gadis asing itu.
"Hya! M-Maafkan aku!"
Gadis asing itu segera berdiri dari tubuh sang penolong dengan panik. Dia tidak pernah menyangka akan mengalami kejadian seperti ini. Dia memalingkan pandangan matanya ke sekelilingnya dan melihat sebuah truk besar melintas dan naungan lampu merah mengiringi tempat dia hendak menyebrang. Gadis itu menyalahkan kecerobohannya sendiri.
Sang penolong masih terbaring di sisi trotoar saat ini, kelihatannya dia merasakan sakit saat hendak berdiri. Ada sedikit memar di tumit kaki dan siku tangan sebelah kiri. Ketika itu adalah tepat pada saat seseorang berusaha menerobos kerumuman tersebut.
"Rin-chan! K-Kamu tidak apa-apa, kan?"
Sang wanita muda itu terlihat setengah pucat melihat keadaan Rin saat ini. Sang penyanyi muda itu dengan nafas tersengal-sengal tidak bisa mempercayai pemandangan yang dia lihat saat ini.
.
Hoshizora Rin, sang gadis berambut pendek itu baru saja hampir kehilangan nyawanya karena menarik mundur seorang gadis yang sedang menyebrang jalan secara sembrono menerobos lampu merah. Beberapa menit berlalu dan suasana jalan di sekitar Akihabara nampak horor itu semua telah berlalu dan sudah menghilang tanpa bekas seakan tidak pernah ada kejadian apa-apa saat itu.
Meskipun ada plester yang menempel pada lukanya namun raut muka gadis kucing tersebut tetap bisa tersenyum lebar seakan tidak pernah melakukan apapun. Belakang pakaian seragamnya nampak kusut dan kotor karena habis bertumbukan dengan debu jalanan meskipun begitu dia saat ini malah asyik untuk meminum jus jeruk di dalam sebuah kafe di pinggiran trotoar Akiba bersama dengan gadis yang diselamatkannya dan seorang penyanyi wanita yang baru dikenalnya minggu lalu di dalam sebuah acara pesta.
"Apakah itu sakit?" tanya gadis yang diselamatkannya.
"Hmm, aku baik-baik saja, kok!"
"Tenang saja! Tenang saja!"
Rin menjawabnya dengan nada riang namun perkataan itu tidak mengubah keadaan apapun bahwa kedua gadis itu masih tegang apabila mengingat saat itu. Juga, sang wanita muda itu lalu kembali menanyakan hal tersebut.
"Kamu yakin tidak apa-apa?!"
"Hummh! Nee-chan! Tidak usah khawatir... hehehe!"
"Oh iya, kenapa mbak ada disini?! Apakah kakak tinggal disekitar sini?"
"I-Itu..."
"Ahh, aku cuma kebetulan lewat aja, sih. Hehehe..."
Dia menjawab agak kurang meyakinkan beserta dengan tangan yang menggaruk belakang lehernya tersebut. Keadaan kikuk itu tidak berlangsung lama karena gadis yang ditolongnya juga mulai angkat suara.
"A..Anu, aku minta maaf yah!"
"Ehh?! Ahh, tidak apa-apa, kok! Tenang saja, kak... hehehe..." jawabnya sambil menepuk pelan punggung tangan gadis yang memegang gelasnya sedang terlihat murung itu.
"Apakah kamu baru pertama kali mengunjungi Akihabara?"
"Err, mungkin bisa dikatakan begitu, sih. Aku memang baru tiba di Tokyo hari ini." jawabnya malu-malu.
"Oh yah? Memangnya kamu berasal dari mana?"
"A...Aku tinggal di Nagoya."
"Osaka?! Weeh, jauh sekali?!" sang kakak ikutan nimbrung.
"Apakah kamu sedang liburan? Ataukah kamu tersesat?" tanya Rin kembali
"Ahh, t-tidak, tidak seperti itu. Aku sebenarnya sedang mencari tempat ini"
Gadis itu kembali mengeluarkan tab miliknya dan mempertunjukkan kepada mereka berdua sebuah peta lokal yang menunjukkan tanda "Tokyo Bunka Kaikan" di jarum pin penanda peta tersebut.
"Tokyo Bunka Kaikan?"
"Umm, sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat." gumam Rin setengah berbisik. "Tokyo Bunka Kaikan... Tokyo Bunka Kaikan..."
"Umm, dari peta ini terlihat tempat ini dekat dengan Museum Tokyo. Itu berarti tempat ini tidak jauh dari sini, meskipun begitu kamu sebaiknya tidak berjalan kaki melainkan naik kereta saja." Wanita muda itu mengambil alih pembicaraan. "Lihat, bukankah tempat ini berada tepat di depan Stasiun Ueno?!"
"Ahh, kakak benar..."
Gadis pelancong itu nampak terkejut karena tidak sejauh itu memikirkan ide navigasi yang berguna untuk menemukan tempat yang dicarinya. Sementara Rin dan gadis penyanyi itu masih nampak heran dengan tempat yang ditujunya.
"Umm, ngomong-ngomong untuk apa kamu kesana?"
"Ahh, aku sebenarnya sedang mengikuti kompetisi musik untuk piano."
"Ehh, kamu bisa memainkan piano? Sugoi, nya!"
"Ne, Ne, Apakah semua orang bisa ikut di acara itu, nyaa?! Trus, Trus... Kok kamu bisa ikut! Hadiahnya apaan kalo menang?!"
"Nya?!" gumam sang gadis sambil memiringkan kepalanya karena bingung harus menjawab yang mana dulu sebelum dia kembali fokus.
"Ahh, hehehe... B-begitulah, tapi aku tidak terlalu ahli sih sebenarnya. Ini cuma kompetisi piano amatir saja kok."
"Heh?!" tukas gadis berambut coklat oranye itu kembali. "Kira-kira aku bisa mengajak dia nggak yah? Sebenarnya a-aku juga memiliki teman yang bisa memainkan piano sih. Namanya Maki-chan. Ehehehe..."
"Ehh, Maki-chan?" gadis itu nampak terkejut
"Ahh, gadis yang kemarin datang ke pesta teh bersamamu itu kan? Yang bakal mencium seorang ga—"
"Ahhh... gayamunaklelekakarotonomonokoroekakwrtgklosnsalapqndagx!"
Rin segera berteriak panik menceracau tidak jelas saat sang wanita kenalannya itu hendak menyempurnakan kalimatnya.
"Iya, kau benar seratus persen kakak Ri... Ri? Ri...?!"
"Ehm..." dia tersenyum. "Nama lengkapku adalah Riho Iida, namun biasa dipanggil Rippi."
"Ahh, gomen Rippi-neechan... Ahh, Rippi-neesan.*" ujar Rin setengah membungkukkan badan.
"Rippi-neechan juga tidak apa-apa kok."
Gadis itu menepuk pundak Rin supaya tidak terlalu tegang. Dia lalu memalingkan muka kepada gadis asing itu dan berkata:
"However, kamu sama sekali tidak bisa mengatakan tidak terlalu ahli apabila sudah datang dari tempat sejauh ini hanya untuk mengikuti kompetisi piano di tokyo, dik."
"Tapi..." selanya namun tidak diberi kesempatan oleh Rippi.
"Aku yakin kamu pasti bisa memenangkan kompetisi itu. Ganbatte, nyaa...!"
"Umm, arigatou! Minna..."
Kedua gadis itu tersenyum lebar memandangi gadis yang baru mereka jumpai ini pada akhirnya bisa memasang senyuman di wajahnya.
"Oh iya, ngomong-ngomong namamu siapa yah?"
"Ahh, namaku adalah Sakura."
.
Periode16: selesai
.
*Notes:
-Bishoujo: gadis cantik
-Onee-chan adalah sebutan untuk kakak kandung, sedangkan Onee-san adalah sebutan untuk orang yang lebih tua tapi tidak sekandung. Disini Rin kesulitan memanggilnya sebagai oneesan atau oneechan.
.
Pojok Nulis:
Untuk kalian yang masih mengikuti cerita ini sejak awal saya ucapkan selamat datang kembali!
Dan bagi kalian yang baru saja membaca dan mengikuti cerita ini maka saya ingin mengucapkan terlebih dahulu, selamat tahun baru 2017 dan selamat datang!
Agak payah juga sih, karena hari tahun baru kali ini harus bertepatan dengan hari minggu.
Well, Tahun baru, lembaran baru, dan cerita ini juga memasuki stage pertunjukkan yang baru. Aku bertaruh kalian mungkin sudah bisa menebak alur cerita ini akan dibawa kemana tapi aku akan simpan beberapa rinciannya untuk minggu depan.
Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, pola cerita kali ini akan semakin rumit. Bagi kalian yang masih belum paham alur penulisan cerita ini biarkan aku menjelaskan sedikit.
Jadi pada awalnya konsep cerita ini dimulai dari babak 1 di chapter 1 (ya iyalah!) dan itu berakhir di chapter 3 [Ini adalah akhir ke 1! ARTINYA: kalian boleh puas berhenti membaca sampai tahap ini],
lalu cerita berkembang ke babak 2 di chapter 4 sampai chapter 9 [Ini adalah penulisan seluruh naskah cerita asli yang sudah aku tuliskan. ARTINYA: memang ini adalah akhir ke 2. namun...],
aku telah menuliskan cerita tambahan di chapter 10 yang masih termasuk naskah cerita asli - dan ini juga aku rampungkan sebagai awal dari babak 3 yang kemudian berakhir hingga chapter 15. Well, mulai babak inilah aku mulai serius menuliskan ceritanya.
(jadi yang kemarin itu...?).
Actually, kalian bebas berhenti membaca cerita ini di titik mana saja, if you feels bored - i know, its not famous pair n theme. idc, yang penting adalah kepuasan kalian dalam membaca.
However, begitulah saya memulai tulisan chapter 16 ini. dan...
Welcome to the stage 4! Apa yang akan ada di cerita ini? Bagaimana jika aku katakan akan ada dua dunia yang saling bertemu dan berpadu?
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Sampai jumpa dua minggu lagi.
.
Best Regards, Lee
.
.
.
Bagian Encore ke-1: Raja yang malang dan Petuah Sorgawi
.
Alkisah di sebuah kerajaan kecil di wilayah Wales, Kerajaan Inggris Raya hiduplah seorang raja lokal yang arif dan bijaksana. Bersama dengan sang Ratu yang baru saja dinikahinya mereka memerintah mengayomi penduduk desa di wilayah tersebut dengan damai.
Sang Raja bukanlah orang yang hebat.
Bahkan meskipun disebut sebagai Raja namun jabatannya di dalam pemerintahan daerah kurang lebih sederajat dengan level gubernur di masa sekarang akan tetapi seluruh warga di daerah yang dia pimpin sangat mencintai sang Raja sehingga mereka tunduk dan taat kepadanya karena dapat membawa rasa aman dan tentram. Akan tetapi keluarga raja ini tidak sepenuhnya bahagia karena hingga tahun kelima mereka berkeluarga masih belum juga mendapat keturunan. Raja merupakan orang kristen yang taat. Dia menyerahkan seluruh hidupnya bagi negara dan kepada Tuhan. Dia mengerti bahwa seluruh hidup ini ada di dalam rencana-Nya.
Singkat cerita, datanglah seorang nenek sihir yang menyamar sebagai penjual bunga. Berkat kelihaiannya dia berhasil mendekati sang Ratu dan menawarinya setangkai bunga. Itu adalah bunga mawar biru, sebuah bunga yang seharusnya tidak ada di dunia tapi itu ada! Dan Ratu tertarik untuk mencium harumnya.
Itulah awal mula malapetaka ini terjadi. Sang Ratu tiba-tiba pingsan di iringi lenyapnya sang nenek. Sang nenek telah berubah menjadi asap dan menghilang di angkasa.
Samar-samar terdengar suara yang menggelegar di istana:
"Wahai sang raja! Terimalah pembalasanku! Sesungguhnya aku sudah menghancurkan pondasi terpenting dalam keluargamu sebagaimana engkau telah menghancurkan kehidupanku. Ketahuilah bahwa aku sudah mengutukimu, keluargamu, dan istanamu!"
"Engkau pasti mati! Engkau tidak akan memiliki keturunan, bahkan meskipun engkau memiliki anak, setiap keturunanmu akan mewarisi kutuk ini untuk selama-lamanya. Dan jangan pernah berharap bahwa aku akan mematahkannya karena aku memegang kutuk ini hingga ke alam maut!"
Itulah perkataan terakhir dari nenek sihir itu karena kepala pasukan istana berhasil menghunuskan pedang ke jasad tak kasat mata itu sebelum mengucapkan kalimat segel kutuk terakhirnya.
Ya, itu bukanlah kutuk yang sempurna.
Namun kutuk tetaplah kutuk dan sang Raja telah mendengar itu dengan sangat jelas. Peristiwa itu juga diikuti dengan kenyataan bahwa semenjak saat itu keadaan sang Ratu semakin memburuk. Seluruh rakyat mengasihi mereka. Mereka semenjak hari itu telah meluangkan waktu untuk berdoa dan berpuasa bagi Ratu mereka. Peristiwa ini dikenal sebagai "Masa Penuh Ratapan Wales."
Bulan ketiga semenjak kejadian itu berlalu, itu adalah bulan oktober. Seluruh raja bagian inggris dipanggil menghadap sang Ratu Inggris Raya di Istana Buckingham di London untuk melaporkan pemerintahan tahunan mereka. Disanalah kabar desas-desus tentang sang ratu wales tersebar kepada para bangsawan, ksatria, dan Raja lainnya termasuk ke telinga Ratu Inggris, Ratu Elizard.
Beliau memiliki tiga putri, masing-masing putri memiliki keunggulan tersendiri. Yang tertua dikenal oleh kecerdasannya hanya bisa memberi simpati saja. Yang tengah dikenal oleh kemiliterannya hanya menganggap itu sebagai suratan takdir yang seperti peristiwa biasa namun putri yang paling bungsu tidaklah seperti kedua kakaknya, dia dikenal oleh kebijaksanaannya.
Dengan sangat memaksa sang anak bungsu memohon kepada Ibundanya untuk bertindak sesuatu. Sang Ratu bukannya tidak peduli namun dia juga tetap manusia biasa. Bagaimanapun juga apa yang sedang diminta oleh putri kecilnya ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh tangan manusia namun perlu campur tangan Tuhan. Namun...
Ada alasan mengapa sang putri ketiga benar-benar memaksakan itu. Itu karena di Inggris wewenang seorang pemimpin negara ada satu level dibawah kepemimpinan Tuhan. Bahkan beliau memiliki wewenang untuk memimpin bala tentara sorga menyerang atau melindungi Inggris hanya dengan satu hunusan pedang tanpa ujung di tangannya.
Sang putri ketiga berdoa dan malaikat Uriel mendengar itu dan mewartakan itu kepada Sang Empunya Surga. Sebuah maklumat dikeluarkan dan Ratu sebagai pelaksana kerajaan sorga diwajibkan untuk melakukan itu. singkatnya, dia memanggil sang raja ke depan singgasananya untuk memberikan titah. Beginilah bunyinya:
"Telah kudengar isi hatimu dan seluruh perbuatan malang yang menimpa dirimu. Telah Aku ketahui seluruh maksud dan harapanmu dan bagaimana engkau mencintai istrimu dan merindukan anak untuk meneruskan nama keluargamu.
Karena itu dengarkanlah perkataanku wahai hambaKu yang setia. Beginilah Titah Tuhan, Sang Pemilik Sorga dan atas nama pemimpin tertinggi seluruh bala tentara sorgawi: Bahwa Aku pasti akan menyembuhkan penyakitmu. Aku akan memberikanmu keturunan oleh karena engkau taat dan setia kepada seluruh perintahKu dan tidak memerintah dengan bengis melainkan mensejahterakan rakyatmu. Namun...
Oleh karena istrimu yang telah berbaring tidur itu diam-diam menghinaKu dengan berkata bahwa "Tuhan itu kejam dan tidak peduli" maka Aku tidak sepenuhnya mencabut kutuk itu. Sebagaimana St. Paulus menerima duri di dalam dagingnya ketika menerimaKu, Sebagaimana Ayub menerima pencobaanKu terhadap keluarganya maka Aku juga akan membiarkan si jahat itu menjamah keturunanmu namun apabila engkau dan seluruh keluargamu tidak menyimpang dari jalanKu ke kanan ataupun ke kiri melainkan tetap lurus hati maka Aku akan memberkatinya senantiasa."
Demikianlah maklumat yang diberikan oleh Ratu Elizard. Dan sang Raja menerima itu dengan bersyukur sambil berkata : "Biarlah kehendak Tuhan yang jadi."
Ketika itu Malaikat Gabriel yang berada di sana untuk menyampaikan kabar juga mendengar itu dan Tuhan sekali lagi menyampaikan pesannya kali ini Dia bahkan memberikan pesan anugerah. Saat itu di dalam istana tidak hanya berdiri para bangsawan dan kesatria saja melainkan juga turut terdapat para pemimpin gereja Anglikan. Sang uskup agung wanita yang berdiri sebagai perwakilan pemimpin gereja itu lalu bangkit dari kursinya. Katanya melalui mulut sang Uskup Agung:
"Baik sekali perbuatanmu, wahai sang raja. Oleh karena aku telah melihat hatimu yang taat dan setia maka Aku tidak kuasa untuk menahan hatiKu kepadamu. Ketahuilah bahwa sungguh-sungguh aku hendak menepati janjiku untuk keluargamu. Oleh karena itu, pandanglah ke langit dan lihatlah aku menjatuhkan bintang untuk keluargamu. Ambilah bintang itu dan pergunakanlah baik-baik itu sebagai warisanmu dan keluargamu."
Kala itu di langit muncul sebuah komet yang sedang melintasi bumi di belahan lainnya. Sang ratu memiliki sebuah pedang para malaikat yang bernama pedang Curtana yang di tenteng ke pundaknya bak mainan pedang kayu. Pedang ini sebenarnya bukan pedang yang asli melainkan replika yang memuat 70% dari kekuatan sebenarnya. Pedang Curtana yang asli disebut-sebut dapat membelah bulan menjadi dua, namun kekuatan pedang replika ini juga tidak kalah hebat karena cukup kuat untuk membelah bintang, seperti halnya benda angkasa di langit yang sedang melintas sekarang.
Demikianlah sang ratu bertindak berkat tuntunan Tuhan. Beliau lalu keluar dan menghunuskan pedang itu ke langit malam angkasa gelap dan kemudian membelah sebuah komet yang sedang melintasi bumi hingga menjadi dua. Itu terbelah namun hanya sedikit fragmen saja yang terpisah karena kurang akurat menghunuskannya. Sebagian besar jatuh ke negara jepang, sebagian kecil terpisah dengan sangat ajaib menuju negara inggris. Peristiwa itu dikenal sebagai "Hari Ratu Menyembelih Marduk dan Tiamat."
Fragmen batu komet yang terpisah itu lalu terbang dengan kecepatan tinggi menggerus sisi-sisi bebatuan hingga menyisakan batu kristal murni di dalamnya. Batu itu menumbuk bumi dengan panas yang berkecepatan tinggi dan hanya menyisakan inti kristal batu yang sangat berkilauan.
Sang raja mengambil itu dan membentuknya menjadi sebuah perhiasan yang dikenakan ke leher istrinya yang secara ajaib telah menghancurkan kutuk itu. Semenjak hari itu, batu tersebut telah menyelamatkan keluarga ini dan Raja telah dikaruniakan 3 anak.
Sang raja begitu bahagia dan bersyukur oleh anugerah yang diberikan Tuhan. Semenjak hari itu batu tersebut telah dimiliki sebagai harta warisan negara Wales.
Batu itu diberi nama Love Gem.
,
.
DO NOT KILL RIN: thx for the reading. masih bakalan banyak kejutan yg tidak terduga di cerita ini kok. hohohoho... (bagian encore ini udah terlalu jelas petunjuknya sepertinya. hohoho...)
DO NOT KILL RIN: Hohoho, di dalam review blog gw juga sempat bahas ini, yang intinya memang timeline Aqours dan Muse itu memang beda 3 tahun. Namun, karena cerita ini dibuat sebelum penayangan Sunshine di TV jadinya cerita ini dibuat se-ngarang saya. :p
Dasar umur penokohan Uranohoshi dan Otonokizaka di cerita ini dibuat selisih 1 tahun. Jadi para gadis Aqours disini kelas 1 = 3 SMP. Kelas 2 = Kelas 1, Kelas 3 = Kelas 2. Ini memang di sengaja untuk kebutuhan plot di cerita selanjutnya.
Dan, ini cerita x-over ngarang ini merupakan cerita eksperimen kedua saya setelah "Only Today"
