Chapter 17: Berhutang

.

"Let love be your only debt! If you love others, you have done all that the Law demands."

.

Mereka berdua pada akhirnya pergi bersama untuk mengantarkan Sakura menuju Stasiun JR East Akihabara supaya bisa transit ke Stasiun Ueno.

Sebenarnya mereka bisa saja mengantarkan gadis itu dengan berjalan kaki menuju tempat tersebut, namun setelah berpikir ulang bahwa dia berasal dari luar kota maka cara terbaik untuk sampai ke Tokyo Bunka Kaikan adalah melalui alat transportasi yang paling mudah diingat sampai ke tujuan yaitu menggunakan alat transportasi yang paling umum di jepang, kereta api.

Memang, Ada juga cara lain untuk sampai ke tempat itu yaitu dengan menggunakan taksi namun jelas akan memakan biaya yang lebih mahal oleh karena itulah win-win solution adalah menggunakan transportasi umum, kereta bawah tanah.

Sebelumnya, Rin dan Rippi benar-benar berniat mengantarkan gadis itu tidak hanya sampai Stasiun Kereta saja namun juga sampai ke Tokyo Bunka Kaikan juga. Namun Sakura meyakinkan mereka untuk tidak melakukan itu karena dia merasa sudah terlalu merepotkan mereka sejauh ini malahan gadis itu mengatakan dengan yakin bahwa dia pasti bisa menemukan tempat itu karena dia sebenarnya berasal dari Tokyo dan pernah tinggal selang beberapa waktu di kota ini. Jadi dia mengatakan bahwa dirinya akan menghubungi kerabatnya di kota ini apabila suatu ketika dirinya benar-benar tersesat atau paling tidak dia akan mencari bantuan pos polisi kota.

Begitulah, Di depan stasiun JR Akihabara itu mereka pada akhirnya berpisah satu sama lain dalam sebuah pertemuan singkat ini.

.


.

Hari sudah semakin senja, kini tinggal Rin dan Rippi saja yang sedang berjalan berdua menyusuri trotoar Akiba yang sudah semakin lenggang. Mereka berdua berjalan mengarah ke wilayah Kanda, wilayah rumah Rin berada.

Umm, Bagaimana membandingan kedua daerah ini?

Itu seperti kamu berada di jalan raya saat sedang ada hujan lebat menaungi satu wilayah, begitu lebat hingga kamu basah kuyup namun detik kamu berlari keluar dari wilayah itu kamu merasakan bahwa hujan itu sudah lenyap tanpa ada bekas setitikpun tetes air hujan menaungi daerah tempat kamu berada sekarang selain terik hawa panas saja padahal kalau kamu menoleh ke belakang jelas masih ada awan hitam menaunginnya.

Demikianlah perasaan Rippi saat pertama kali melintasi daerah Kanda, dia merasa tidak seperti sedang di Tokyo karena wilayah ini masih begitu asri dan vintage. Mereka berdua hanya berjalan tanpa berisik dan sekedar diam seakan ditelan oleh keheningan langit sore Akiba.

Momen ini sungguh kaku.

Rippi memang sosok wanita yang kalem. Penampilannya saat ini yang memakai gaun long dress dengan topi lebar di atas kepalanya memberikan kesan bahwa dirinya tidak terlalu menyukai kegiatan yang non-formal. Namun untuk Rin?

Melihat Rin yang diam tanpa mengoceh berisik jelas bukan sesuatu yang "normal", setidaknya itu juga penilaian dari Rippi.

Jadi wanita muda itu mulai angkat bicara memecah keheningan. Rippi, gadis muda itu angkat suara menghibur Rin yang tampak muram sekarang.

"Nee, Rin-chan?"

"Ini perasaanku saja atau semenjak awal tadi kamu sepertinya merasa murung yah?"

"Ehh?"

Sesaat Rin menghentikan langkahnya dengan wajah terpongah karena tidak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam itu namun dia meneruskan langkahnya kembali sembari mengutarakan perasaan hatinya.

"Umm, begini kak?"

"Apakah Rippi-neesan mau mendengar permasalahanku hari ini?"

Rin menoleh kepadanya dengan tatapan mata ragu namun sang kakak perempuan yang melihat mata tanggung itu menjadi tersenyum selagi memancarkan sinar mata yang berkilauan sembari berkata: "Tentu"

.

Jadi, Rin lalu menceritakan permasalahan yang dia rasakan seharian ini tentang tingkah laku Maki yang aneh dan percakapan misterius dengan Hanayo barusan yang tidak menghasilkan apapun selain rasa dongkol di hatinya.

Selama dia membicarakan hal tersebut entah mengapa Rin menjadi begitu antusias menceritakan setiap rincian kejadiannya kepada orang yang baru dikenal satu minggu yang lalu itu. Layaknya seorang geeky menceritakan ulang drama TV yang baru saja dia tonton kepada teman akrabnya, dia meyakinkan tidak ada sesuatupun yang terluput dari ingatannya.

Aneh, perasaan yang Rin alami saat ini berbeda jauh dengan kegalauan yang sempat menjangkiti hatinya saat siang hari di sekolah. Sekarang Rin merasa bahwa perasaan hati itu, beban yang sedang mengikat dirinya dan pemikiran buntunya agak begitu lega dan bebas padahal permasalahannya belum selesai sama sekali.

.

"Ah, begitu yah?" Rippi tertawa kecil mendengar akhir cerita Rin.

"Begitu apanya? Menurut kakak gimana? Mereka itu nyebelin banget, kan?!"

"Tingkah mereka berdua itu benar-benar gak dewasa banget deh! Masak main rahasia-rahasiaan sama Rin?!" tandas cewek yang paling tidak dewasa disini dengan kedua pipi yang dibuat menggembung.

"Jadi Rin, anak yang bernama Maki itu kamu sudah lama mengenal dia, yah?"

"Umm, enggak sih. Sebetulnya aku juga baru mengenal Maki saat masuk sekolah SMA ini, sih?"

"Eh?! Aku kira kamu sudah mengenalnya sejak lama?"

"Apa jangan-jangan...?!" dia melirik si gadis SMA itu dengan muka memerah namun itu malah membuat Rin semakin panik.

"Ehh?! En..Enggak kok! Rin sama sekali nggak seperti itu! Rin nggak mungkin berteman dengan Maki hanya karena uangnya saja!"

"Err, aku tidak hendak mengatakan itu sih..." mata gadis itu melipir saat menggumamkan itu.

"Jadi, Menurutmu sendiri, Rin. Hal menarik apa yang kamu lihat dari Maki selama ini?"

Sejenak gadis itu berdiam diri sebelum membuka mulutnya

"Emm, Maki itu..."

"Maki itu orangnya menarik. Aku akui memang dia jarang ngobrol dan tingkahnya yang cenderung pendiam seolah membangun tembok pembatas bagi orang lain yang ingin mendekatinya. Namun meskipun begitu mereka semua salah! Mereka salah kalau memandang Maki sebagai orang yang angkuh dan sulit berteman karena sebenarnya dia adalah orang yang baik hati dan sangat peduli dengan sesamanya."

Rin sedikit mendenguskan nafasnya, tampaknya dia agak kesal ketika membicarakan itu.

"Maki itu orangnya teliti dan sering memperhatikan keperluan orang lain tanpa mereka sadari. Bagaikan seorang malaikat tanpa rupa yang selalu ikut membantu orang dari bayang-bayang. Dia bertingkah bahkan tanpa menginginkan pamrih atau pujian yang berlebihan dari orang lain, dia lebih suka menolong tanpa dilihat oleh orang."

"Sementara Maki juga adalah salah satu putri kaya di kota ini sehingga banyak orang memandang hormat kepadanya. Namun dia juga tidak risih untuk berteman dengan orang lainnya, seperti aku. Ehehe.. Mungkin."

Tapi... Gadis itu menyadari apa yang dia bicarakan selama ini hanyalah sesuatu yang dia perhatikan tentang permukaan luarnya saja. Dibandingkan dengan seluruh ucapannya tentang yang dia ketahui dari Maki. Jauh di dalam hatinya dia merasa masih ada dinding pembatas yang menghalangi mereka untuk bisa saling akrab.

Itu bukan dari pihak Maki. Itu adalah sesuatu yang baru dibangun begitu saja pada satu bulan sebelumnya. Sesuatu yang hatinya sendiri tidak pernah inginkan. Sesuatu yang membuatnya menjadi mawas diri tentang hubungan yang sedang ia jalin bersama Maki.

Entah, apakah sesuatu itu pantas disebutkan dengan jelas ataukah ada sebuah definisi lain yang menjelaskan tentang itu? Sebuah kesimpulan dari perasaan senang, cemburu, dan sedih, lega ketika dia bersamanya. Perasaan ketika dia tidak ingin seseorang mengetahui apa yang sedang ia rasakan sekarang, termasuk dari sahabat terbaiknya.

Jadi...

"Err, sebetulnya Rin juga tidak terlalu mengenal dia sih. Hehehe."

Gadis itu menggaruk belakang lehernya sembari melanjutkan perkataannya.

"Satu-satunya hal yang Rin tahu bahwa gadis itu selalu kesulitan untuk mengungkapkan perasaan hatinya ketika berhubungan dengan orang lain, termasuk kepada orang tuanya."

"Ah, tapi lebih dari itu Maki adalah gadis yang pintar dan jenius di dalam pelajaran sekolah. Kakak mungkin tidak akan menyangka bahwa gadis sejenius dia itu malah memilih bersekolah di tempatku, di sebuah gedung SMA yang sebentar lagi akan ditutup."

"Hmm, tampaknya kamu sudah mengenal banyak tentang dia, yah?" komentar wanita di sebelahnya.

"Ah, satu lagi... Karena dia juga aku jadi serius belajar bahasa inggris sekang. Hihihihi..."

"Ehh, Really?!" Rippi terkejut mendengarnya namun Rin dengan cepat turut menganggukan kepalanya.

"Umm, E he he he he... C-Cuma sedikit, sih."

"Awalnya, aku mendengarkan keluhan dari ibunya bahwa Maki sebenarnya adalah orang yang suka memainkan piano namun karena suatu kejadian sehingga dia dilarang untuk bermain musik dan terus mengikuti perintah ayahnya supaya belajar, belajar dan belajar. Itulah sebabnya dia selalu mendapat penjagaan yang ketat oleh penjaganya yang selalu setia menjemputnya pulang ke rumah tepat setelah jam sekolah berakhir."

"Dan itu membuat Rin menjadi sedih..."

Gadis itu menghela nafas pendek sementara Rippi yang tidak mengerti maksud perkataannya hanya bisa memiringkan kepalanya saja.

"Aku tahu bahwa aku tidak pantas mengatakan ini. Namun Rin juga sedih ketika mendengarkan keadaan Maki yang kesulitan untuk dapat mengekspersikan perasaan hatinya. Tidak hanya di sekolah namun juga di dalam rumahnya."

Karena itulah...

"Ada sesuatu yang salah dengan keadaan ini dan itulah yang memotivasi Rin untuk bisa naik level setidaknya Rin bisa menjadi setara dalam satu hal dengan Maki. Setidaknya sesuatu usaha yang menjadikanku bisa pantas disebut sebagai seorang teman olehnya. Tidak, bukan oleh Maki saja namun juga oleh kedua orang tuanya."

"Err, jadi kamu belajar bahasa inggris?"

"B-begitulah, sebenarnya Rin ini orang yang bodoh sih. Tapi entah mengapa Rin jadi tertarik untuk terus belajar di bidang ini dan suatu waktu karena aku terlalu giat belajar sehingga aku pernah mendapatkan nilai terbaik di kelas. Hehehe..."

"Ohh, Sugee..." Rippi memberi tepuk tangan ringan dengan ekspresi wajah terkejut, keduanya tetap berjalan kaki melewati jalanan yang sepi itu namun Rin malah menundukkan kepala.

"Tapi, kejadian itu malah membuat Maki menjadi muram, nyaa."

"Dan pada hari itulah, awal momen mengenai segalanya tentang kehidupan kami berdua menjadi berubah. Waktu itu aku mendatangi rumah Maki dan sempat bertemu Ayahnya secara mendadak."

"Aku terkejut tapi itu adalah saat yang tepat dimana seluruh tujuanku dapat terkabul. Lalu, singkat kata aku berbicara kepada beliau dan membujuk ayahnya supaya mengijinkan Maki bermain musik dan klimaksnya, beliau pada akhirnya mengijinkannya dengan suatu syarat."

[Syarat itu...]

"Ahh, aku mengerti sekarang." gumam gadis itu separuh tersenyum. Kepalanya tertunduk sembari terus berjalan dan tidak berniat meneruskan perkataannya lagi.

[Gadis itu... Ternyata selama ini kamu berusaha menepati janjimu itu kan? Ah, kalau begitu kenapa kamu selama ini diam saja?! Kamu berusaha menanggung beban perjanjian ini seorang diri, yah? Maki, kenapa kamu tidak menceritakannya itu kepadaku?!]

[B-Baka!]

Rin separuh tertawa dan separuh murung akibat memikirkan itu semua, tidak ada kata-kata yang keluar untuk diceritakan kembali selain perasaan termenung dan giliran Rippi yang mengambil alih kemudi pembicaraan sekarang.

.

"Umm, kamu bilang kamu bisa bahasa inggris kan? Apakah kamu sanggup menterjemahkan perkataan ini?" dia tersenyum.

"Ada tertulis "Owe no man any thing, but to love one another." kata Rippi menyebutkannya sebuah frase kata dengan fasih.

"Apakah kamu paham?"

"Jangan berhutang apapun kepada siapapun namun saling mengasihilah satu sama lain", benar?"

"Tepat" dia tersenyum menjawab Rin yang bingung. "Rin, Aku rasa..."

"Apabila temanmu, Maki-chan sampai berbuat sedemikian rupa seperti yang telah kamu ceritakan barusan maka aku rasa permasalahan utamanya bukanlah karena dia sedang menutup-nutupi sesuatu dari padamu ataupun dia tidak percaya kepadamu."

"Namun lebih dari itu karena dia tidak ingin merasa bersalah apabila melibatkanmu dengan permasalahan barunya atau lebih tepatnya dia tidak ingin membuat dirinya merasa berhutang kepadamu. Karena itulah dia sedang berjuang keras menyelesaikan permasalahannya itu sendirian." kata Rippi tersenyum memandang Rin yang tampak heran dengan penjelasan tersebut.

"Eh, tapi Rin tidak punya apa-apa yang bisa dihutangkan kepada Maki, kok? Lagipula Maki itu kan sudah kaya raya masak dia perlu berhutang kepada Rin, sih?"

"Huueeehhh...!"

Rippi agak membeku sambil menghela nafas panjang mendengar jawaban polos tersebut. Tangannya lalu direntangkan untuk merangkul tubuh ramping disampingnya agar semakin dekat kepadanya.

"Rin-chan yang aku maksud berhutang disini bukanlah tentang hal material seperti itu tetapi juga hal lainnya."

"Hal yang lainnya?" Rin melirik ke samping wajahnya, kala itu pipi mereka berdua sudah menempel layaknya kue mochi tahun baru di atas piring.

"Iya, ada arti yang lain seperti hutang nyawa, hutang darah, hutang janji, dan juga... hutang budi."

"Nah, temanmu itu mungkin merasa dia tidak ingin membuatmu terbebani dengan hutang budi yang akan mengikatmu kepadanya."

"H-Hutang Budi? Ehh, memangnya ada juga yah arti semacam itu? Tapi, Rin tidak pernah memikirkan hal semacam itu..."

"Karena itulah, aku kan sudah bilang kamu tidak perlu mencemaskan itu lagi."

"Tapi, aku tetap mau membantu Maki-chan!" kata Rin sembari melepaskan pelukannya dan berjalan selangkah di depan Rippi.

"Heh? Tampaknya kamu sudah mengambil keputusanmu itu sejak awal, yah?!"

"Yah, kalau begitu mau bagaimana lagi? Itu memang sifatmu, kan?" dia tersenyum memandang Rin. "Jadi, kamu mau berbuat apa setelah ini?"

Sesaat Rin menundukkan kepalanya sebelum melepaskan perkataan yang sudah ada di ujung mulutnya. Kala itu mentari senja sudah separuh terbenam seakan hendak memakan ujung jalan tempat Rin dan Rippi berdiri sekarang. Rippi memandang Rin yang berada di depannya seolah berangsur-angsur lenyap ditelan oleh cahaya merah yang mengelilingnya. Hanya saja gadis itu itu tidak menghilang malahan senyumannya mengembang lebih cerah untuk menjawabnya.

"...Aku, Aku akan menunjukkan kepada Maki-chan bahwa aku serius untuk membantunya tanpa pamrih."

"Hhmm, begitu yah? Baiklah, aku mengerti."

"Ganbatte. Rin-chan."

"Unn... Arigatou, Nee-san!"

Rin lalu berpisah dengan Rippi di depan persimpangan jalan yang berada tidak jauh dari lokasi gedung SMA Otonokizaka. Sang kakak terus berdiri di sana dan memandangi adik barunya itu hingga menghilang di ujung jalan.

Malam mengganti kedudukan waktu dan Rin yang telah tiba di rumahnya bergegas masuk ke dalam kamarnya dan meraih ponselnya, dia lalu menghubungi seseorang. Orang yang sama yang telah menghubunginya sore tadi.

"Kayo-chin aku sudah tahu maksud pertanyaanmu tadi."

"Oh, benarkah? Syukurlah kalau begitu. Trus?"

"Aku kira keputusanku sudah jelas sekarang. Aku akan menunjukkan kepadanya besok!"

"Ehh, kamu mau ngapain?!"

"Sudahlah, lihat saja besok pagi."

.


.

SELA: Sang Penganggu Jam Makan

Hari ini masih senja.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan persimpangan jalan yang tidak jauh dari daerah Akihabara.

Kala itu sang pengemudi mobil itu baru saja melakukan pemesanan drive-thru di sebuah toko makanan cepat saji yang tidak perlu aku promosikan di cerita ini. Sang pengemudi itu adalah seorang lelaki dengan kemeja lengan pendek warna putih yang baru saja melonggarkan dasi merah dan jas hitamnya akibat merasa gerah setelah sepuluh jam berada di dalam mobil tersebut.

Dia melakukan itu bukannya tanpa alasan, bukan karena dia kehilangan kunci mobilnya ataupun tidak tahu caranya keluar dari mobil namun karena sebuah tugas khusus yang diberikan oleh sang atasan kepadanya. Dengan perut keroncongan dia menatap burger cheese yang baru saja dibelinya dengan air liur yang siap menetes. Sungguh, dia sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan yang sudah seperti oase di tengah padang gurun sekarang.

"Itadakima-"
[kringggg..! kringggg!]

"Tch, ganggu orang makan aja!" lelaki itu mendecak lidah menatap layar ponsel yang sedang memanggilnya. Tentu saja, siapa lagi yang akan menelepon dia selain orang itu.

"Yah, halo!"

"Huh? Sudah selesai?!"

"Bagaimana?! Apakah kamu sudah puas bertemu dengannya?"

"Apa? Cuma sebentar?! Eh, Kamu belum sempat bertanya apapun tentangnya?"

"Heh! Jadi maksudmu usahaku selama ini untuk mengamatinya selama sepuluh jam ini sia-sia belaka!"

"Haaaaaaaahhh! Aku tidak percaya ini, setidaknya kamu bisa menanyakan nomer hp-nya kan?"

"Lupa?! Heh, Kenapa tidak sekalian kamu bilang otakmu ketinggalan di jalan?! Tch!"

"Nggak mau... Aku masih makan!"

Lelaki itu mengelus-elus burger cheese yang ada di tangannya itu namun belum sempat roti bundar itu masuk di mulutnya tiba-tiba gendang telinganya serasa pecah ketika...

[POKOKNYA JEMPUT AKU SEKARANG! KALAU NGGAK AKU NGGAK MAU PULANG HARI INI...]

"Aizzz, Iya-iya..."

"Umm.."

"Umm..."

"dah, byee..."

"Ckk... Anak itu emang suka seenaknya sendiri. Bodo amat ahh! Gue laper!"

Matahari telah terbenam dan dia seakan menghiraukan amanat sang penelepon kembali menikmati makanannya sampai habis sembari menghirup udara kebebasan yang terasa sesak di dalam mobil tertutup itu.

"Duh, gusti.. nyari uang kok begini-begini amat sih."

.


.

Keesokan paginya, ruang kelas 1-A SMA Otonokizaka masih terasa lenggang kala gadis itu memasukinya.

Benar, Memang tidak ada siapapun disini dan seolah berada di dimensi lain, ruangan sempit tempat mereka semua belajar itu kini terasa begitu luas dan lebar. Mungkin ini cuma masalah sudut pandang saja. Toh, itu tidak mengubah pandangan apapun bahwa ruangan itu masih terasa kuno dan antik. Tapi tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang sedang memasuki itu ruangan itu juga.

"Maki-chan?"

"Ehh, Hanayo tumben kamu dateng pagi?"

"Hmm, Rin-chan menyuruhku dateng pagi."

"Lho, kok sama?!"

"Ehh?! Huh, dasar anak itu."

"Jadi, Rin-chan mana?"'

"Entahlah."

Pembicaraan itu berhenti manakala Maki sibuk mengeluarkan buku catatannya ke atas meja dan mulai berbenah menata ulang isinya. Di kelas itu mereka bertiga, Rin, Hanayo dan Maki tinggal bersama untuk belajar.

Ketiga orang itu duduk di tempat yang berbeda, Rin dan Hanayo duduk di posisi tengah kedua pada baris kelima dan keenam dari depan sedangkan Maki duduk di pinggir kiri dekat jendela luar pada bangku nomer tiga dari belakang.

"Uhm, kau merasakannya juga kan, Maki-chan?!" tanya Hanayo tiba-tiba saat menuju bangkunya.

"Apa?!"

"Si anak bodoh itu.. dia selama ini begitu mencemaskanmu, tahu?."

Maki tidak mengatakan apa-apa setelah Hanayo membicarakan itu.

"Apakah kamu tidak kasihan kepadanya? Dia seolah tidak memiliki petunjuk apapun saat melihatmu sekarang."

"Kamu, kamu itu ngomong apaan sih, Hanayo? Kok, jadi serius begini?! Hahaha-"

"BERHENTI TERTAWA!"

"Aku ini bukanlah Rin yang bisa di tipu dengan mudah ataupun tidak tahu apa-apa tentang keadaan seseorang. Aku tahu Maki! Aku tahu!"

"Me..."

"MEMANGNYA KAMU TAHU APA?!" gadis itu balik berteriak dengan nada kesal menantangnya.

.

"Lima Mei!" Hanayo berkata lirih.

Kata-kata yang terucap dari mulut sang gadis itu begitu pelan seolah tidak ingin keluar dari mulutnya namun itupun sudah cukup membuat Maki terhenyak dan diam membeku.

"Kau ingat?"

"Bukankah sesuatu terjadi pada hari itu kan?!" dia mulai berjalan pelan menjauhi bangkunya dan Maki tetap diam saja.

"Hari itu adalah hari pertama kalinya aku melihat anak itu, gadis biasa yang selama ini tidak pernah unggul di dalam pelajaran apapun selain olah raga tiba-tiba berubah menjadi murid terpintar di bidang pelajaran yang paling tidak pernah dikuasainya dalam waktu singkat."

"Lalu sore harinya, aku mendapat kabar bahwa dia berada di rumah sakit, rumah sakit keluargamu. Kamu tahu itu kan, Maki-chan?! Tolong jangan bilang kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang saat itu?! Bukankah telah terjadi sesuatu dengannya ketika dia singgah ke rumahmu?!"

"A-Aku?" gadis itu kehilangan suaranya untuk balik menjawab.

Hanayo telah sampai ke bangku Maki saat itu.

"AKU BILANG, BUKANKAH TELAH TERJADI SESUATU KEPADANYA SAAT ITU KAN?!"

dia mengatakan itu sembari menggebrak mejanya dengan mata menatap Maki dalam-dalam namun tidak ada amarah di dalam kedua matanya itu. Hanya saja, Hanayo ialah Hanayo, bahkan setelah melakukan tindakan itu tidak berlangsung lama mulai timbul rasa penyesalan karena telah mengatakan hal kurang ajar tersebut.

"M-Maaf..." suaranya bergetar.

"Aku tidak sedang menyalahkanmu, Maki-chan."

"Aku tahu itu semua adalah keputusannya dan aku tidak berhak untuk mengatur kehidupannya selain terus mendukung keputusannya. Tapi..."

"Aku juga tidak mau melihat anak itu terus bersedih."

"Hanayo-san, Apakah, jangan-jangan, kamu menyukai dia, yah?"

"Ehh?!"

Hanayo sedikit tersentak saat mendapat pertanyaan itu. itu bukan pertama kalinya dia ditanya semacam itu dan raut bibir itupun hanya bisa tersenyum tipis ketika sekali lagi menjawabnya.

"Ahh, tentu saja aku menyukainya. Aku menyukai Rin."

Maki terkejut mendengar itu, pupil matanya melebar, sembari tatapan matanya berubah kosong saat memandanginya, memandangi Hanayo yang tersenyum manis dengan "smiling eyes" yang menutup manik matanya.

"Juga, aku menyukaimu, aku menyukai Shibuya-sensei... dan semua teman-teman di kelas kita."

"Namun, lebih dari itu semua aku jelas tidak ingin melihatnya bersedih. Karena itulah..."

Tubuh Maki mulai bergetar saat menatap pandangan sayu itu. Dia tidak tahu untuk apa selama ini dia berbuat demikian namun Hanayo juga tidak melanjutkan perkataannya namun mulai tangannya mulai maju mendekap tubuh Maki dengan hangat. Pelukan hangat yang sama yang selalu dia berikan saat Rin membutuhkannya. Desiran hawa dingin yang melingkupi kelas itupun mulai sirna seiring dengan mencairnya perasaan Maki.

"M.. Maafkan aku."

"Aku terlalu egois dengan perasaanku sendiri sehingga melupakan kalian yang selalu memperhatikanku. Aku bukannya tidak percaya kalian namun ini adalah rintangan yang harus aku atasi sendirian"

"Bukan begitu Maki-chan. Tidak apa-apa kok. Kamu sama sekali tidak salah disini"

"...Hanya saja jika kamu meminta bantuan kami berdua maka kita dengan senang hati akan turut membantumu dalam hal apapun. Karenanya, kamu sebenarnya tidak perlu malu untuk meminta bantuan kepada kita. Lagipula, itulah gunanya teman."

Maki menatap haru Hanayo yang menganggukkan kepala selagi membicarakan itu.

"Jadi, apa yang menjadi permasalahanmu, Maki-chan?"

"A-Aku..."

Gadis itu tampak gugup untuk membicarakannya namun belum sempat Maki menjawab tiba-tiba terdengar langkah kaki berlari dengan tergesa-gesa memasuki ruang kelas. Dengan keras pintu samping itu terbuka dan tampaklah sesosok gadis yang sedari tadi telah menjadi topik pembicaraan selama ini.

"MAKI-CHAN!"

"Rin-chan?!" seru Maki dan Hanayo kompak.

"MAKI-CHAN! KAYO-CHIN! AYO KITA BELAJAR KELOMPOK BARENG-NYAA!"

Kedua gadis itu hanya bisa terpongah lebar setelah mendengar perkataan Rin yang baru saja menyela pembicaraan mereka dengan sangat tiba-tiba tersebut.

.


.

SELA: Percakapan Telepon Di Jembatan Penyebrangan

"Stasiun Ueno – Stasiun Ueno."

Suara dari radio pengeras suara di dalam kereta itu berbunyi cukup nyaring untuk memberitahukan penumpang mereka bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan. Kala itu, gadis perantauan itu cukup kebingungan setelah keluar dari kereta. Berbekal Portable Tab yang sedari tadi dibawanya dia berusaha mencari tempat yang diinginkannya.

Stasiun itu tidak terlalu besar seperti Stasiun Akihabara. Ada dua ujung sisi keluar dari stasiun yang menghantarkan para penumpangnya untuk keluar menuju jalan raya namun dia tidak dapat memutuskan harus melangkah kemana. Butuh keberanian ekstra untuk dia dapat bertanya kepada salah seorang security disana dan pada akhirnya dia bisa melakukannya.

"Permisi pak, apakah anda tahu jalan menuju Tokyo Bunka Kaikan?" tanyanya ragu-ragu.

"Ahh, tempatnya ada di ujung lorong sebelah kanan ini. Adik, tinggal menyebrang di depan stasiun ini, tempat ini ada persis di depan stasiun ini kok. Kira-kira tiga ratus meter jaraknya."

"Ahh, terima kasih banyak."

Sang gadis pelancongan itupun segera berjalan menuju arah yang telah diberitahukan kepadanya. Waktu itu hari sudah menjelang sore dan dia terus berjalan santai karena tidak ingin terburu-buru. Ketika dia hendak menyebrang menaiki tangga penyebrangan tiba-tiba ponselnya berbunyi.

"moshi-moshi.."

"Ahh, iya aku sudah sampai Tokyo kok?"

"Akiba?! Umm, aku baru saja berkunjung kesana."

"Yah-yah.. Aku akan membawakan pesanan kalian setelah pulang pekan depan."

"Umm, kemana aja yah? dari Sofmap, Tokyo Anime Center, UTX, Akihabara Gamers, lalu kau tahu... Don Quijote! Yang berarti..."

"Tepat sekali, aku baru saja dari AKB Theater... ahahaha!"

"Nonton? nggak lah, kan aku cuma numpang lewat doang disana. Ahahaha!"

"Iya, iya..."

"Umm, ini aku lagi OTW kesana."

"Terima kasih banyak, aku pasti akan berjuang keras di kompetisi nanti."

"Ehh? Cowok? Enggak-enggak! Aku sama sekali tidak pernah berencana berkenalan dengan orang asing disini!"

"Tapi... Nggak jadi, deh!"

"Eh? Umm... Umm..."

"Iya, ini jalan kaki kok."

"Berapa lama yah?"

"Mungkin sekitar lima belas menit menggunakan kereta."

"N-Nani?!"

"Heee... Beneran? Kamu sudah beli piano baru?"

"Sugee..."

"..."

"..."

"...Ehh?!"

Gadis itu masih tersambung di telepon yang menghubunginya namun tiba-tiba langkahnya terhenti setelah menaiki tangga penyebrangan. Mata gadis itu tercekat dengan pemandangan didepannya. Dia tampak begitu tegang saat ini seolah-olah sedang bertemu musuh utama di dalam video games.

Dia menoleh ke belakang dan menyadari tidak ada siapapun di sana. Hanya dia seorang diri di atas tangga penyebrangan itu. Dia tidak dapat meminta bantuan kepada siapa-siapa dan dengan satu langkah taktis dia tidak memiliki pilihan lain selain berteriak

"Gwawaawyyaaaaaa...!"

[Kamu kenapa?! Ada apa?! Kamu diganggu orang jahat?!]

"A-ada..."

[A-ada apa? Siapa? Cerita dong?!]

"A... ANJING!"

Gadis itu melempar ponselnya sembari terus berlari berbalik dari arah tangga awal dengan terburu-buru. Ponsel itu tidak lecet meskipun telah dijatuhkan, bahkan sang sumber bahaya juga tidak laten membuntutinya, anjing kecil itu terus menjulurkan lidah menatap sang anak dara itu sambil memiringkan kepala karena tidak mengerti dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dia hanya duduk manis di sudut jembatan itu seakan sedang berkata ["Hei, kakak cantik, kemarilah.. aku tidak akan menggigitmu, kok?!"] namun tidak ada suara orang lagi di atas jembatan itu selain suara dari speaker telepon yang agak retak layarnya.

[Sakura-san! Sakura!]

.

Periode 17: Selesai

.


Pojok Nulis:

Untuk suatu keadaan tertentu, saya batal ngasih rincian alur ceritanya di chapter ini. mungkin lain kali aja, yah? (lol)

Tantangan penulisan cerita ini adalah menyeimbangkan peran ketiga gadis kelas satu. Ibarat pelajaran Kimia, bila Maki adalah reaksi Endoterm maka Rin adalah reaksi Eksoterm dan di dalam keseimbangan kimia ada yang dinamakan reaksi bolak-balik, dan untuk mempercepat itu ada yang dinamakan "Katalisator". Nah, peran Hanayo di dalam cerita ini adalah sebagai Katalis. Jadi bisa ngerti kan apa perannya disini?

Well, Aku baru ingat kalau januari ini ada 5 minggu, berarti akan ada tambahan 1 cerita lagi bulan ini. orz, mengingat itu entah kenapa jadi kayak dikejar deadline. sepertinya aku harus ngebut bikin cerita baru. (ha ha ha)

Mumpung ngomongin kimia. Well, di cerita selanjutnya akan ada karakter yang berperan sebagai "indikator". (kenapa bahasanya jadi saintis gini? lol)

.


.

.

Bagian Encore ke-2: Seorang Pangeran dan Kelakuan Yang Tidak Biasanya

.

Jam 06:00

Suasana Istana pada pagi ini agaknya sedikit riuh, sebenarnya tidak bisa dikatakan berisik, lebih tepatnya ada dua orang pelayan kerajaan yang sedang bergosip ria dan memecah keheningan istana yang sakral tersebut.

Salah satu pelayan yang masih memakai celemek untuk membersihkan jendela memanggil rekannya yang baru saja memindahkan tatakan piring dari dalam dapur.

"Psstt... Psstt! Kesini, deh!"

"Hmm?! Claudia? Ada apa?"

"Ehh, Kamu mau tahu gosip terbaru, terkini, dan ter-hot di lingkungan istana, gak?"

"Heh? Gosip apaan? Kamu tuh yah kalo dengar gosip aja paling tanggap dapetnya!"

"Beh! Malah ngeledek! Dengerin dulu dong!'

"Iya-iya.. Kenapa?"

Sang wanita keturunan inggris-belanda itu kemudian mulai membuka mulutnya. Rambut pirang bergelombang itu sedikit dikibaskan untuk menambah kesan dramatisir sebelum memulai menceritakannya. Dia kemudian berjalan beberapa langkah dan menoleh untuk memperagakannya.

.

"Tadi pagi waktu aku lewat kamar pangeran ketiga.. dia lagi mainan "anu" tahu?!"

""Anu"?"

"Iya, yang itu!"

Gadis itu menunjuk ke daerah bawah perutnya dengan mata terbelalak lebar. Tentu saja gadis mana yang tidak akan tersipu malu bila membicarakan itu dengan blak-blakan. Claudia, gadis maid itu terlalu antusias untuk menceritakannya. Awalnya, rekannya tidak mempercayai gombalan itu namun melihat reaksi perkataanya nampaknya itu adalah sesuatu yang benar terjadi.

"E-Eh?!"

"A-Aku... S-Serius!"

"Jangan bohong kamu! Membuat lelucon tentang keluarga istana dapat membuatmu dihukum mati, tahu?!"

"Iya! Aku tahu... M-Makanya aku cuma ceritain ini ke kamu saja."

"Memangnya kamu lihat sendiri? bukannya kamar pangeran ketiga selalu tertutup rapat?"

"Iya sih! Sejak awal aku memang tidak melihat apapun namun saat melintasi tempat itu aku mendengar teriakan dari sang pangeran. Lalu aku ngintip dari lubang pintu. J-jadi..."

"Ngintip?"

"Kau ini memang gila yah, Claudia!"

"Udah ah... jangan cerita aneh kayak gitu! Bahaya! Ingat, disetiap dinding di kerajaan ini selalu ada daun telinga yang selalu siap membocorkan ucapanmu!"

"Aih, majas personifikasinya, lho!"

"metafora, kali!"

.

Jam 15:00

Kedua pelayan itu kembali berjumpa di lorong yang sama. Saat itu Maria yang merupakan pelayan pribadi pangeran ketiga baru saja kembali pulang dari sekolah sang pangeran. Namun...

"Hmm, Maria?! Kenapa kamu tegang seperti itu?"

"C-Claudia?"

Gadis mediterania berambut hitam gelap dengan lekuk tubuh khas bangsa spanyol itu memasang muka shock dan sedikit gemetar seakan baru saja menatap salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

"P-Pangeran ketiga! Dia berbicara akrab dengan teman sekelasnya!"

"Hah? Trus, Apanya yang aneh?"

"Kamu lupa yah betapa juteknya pangeran ketiga itu?"

"Trus?! Yah, namanya juga anak dalam masa pubertas, itu kan wajar kalau anak seusianya masih temperemental. Jadi seseorang berubah sifat itu wajar-wajar, sih."

"Ooh, begitu yah?" dia agak bengong mendengarkan penjelasan rekannya tersebut.

"Duh, kadang-kadang kamu itu OON juga, yah?"

"Eh, tapi yang aneh gak cuma itu aja!"

"Maksudmu?"

"Liat sendiri aja deh!"

Waktu itu sang pangeran muda baru saja turun dari mobil pribadinya. Lelaki yang memakai seragam dari sekolah elit, lengkap dengan blazer coklat hangat yang menutupi dadanya itu mulai memasuki pintu istana disambut para pelayan yang sudah berjejer rapi di sisi kiri dan kanan pintu. Hanya saja ada sedikit kelakuan janggal daripadanya, saat ini sang pangeran muda itu malah menaruh tas jinjingnya ke belakang punggungnya sembari melangkah jinjit besar untuk memasukinya.

Dia sedang bersenandung nyaring memasuki kembali kamarnya. Sungguh pemandangan berbeda tadi pagi yang terlihat agak linglung bahkan ketika hendak keluar dari kamarnya.

Sebelum memasuki kamarnya dia sempat berhenti untuk menyapa salah satu pegawainya:

"Ahh, selamat siang Maria-san!"

"S-Selamat sore, pangeran." jawab maid tersebut dengan mata tertunduk tidak berani menatapnya.

Setelah pangeran kembali ke kamarnya. Claudia yang masih berada di sampingnya berkomentar, "Huft, nggak ada yang aneh tuh?"

"Ehh, apakah kamu tidak memperhatikannya?!" ujar Maria galat. "Imbuhan "-san" tadi itu apa?"

"Ahh?! Emm... Apa yah?! Bahasa gaul mungkin? he he he..."

Selain itu mereka melongok kembali melihat sang pangeran yang sedang berjalan santai dengan langkah kaki agak lentik berjinjit ketika melewati lorong kerajaan.

"Hei, apakah kamu tidak merasa janggal?"

"Bukankah kelakuan pangeran hari ini ada yang aneh?"
"Bukankah kamu merasa bahwa kelakuan beliau hari ini tampak sedikit..."

"Feminim?"

.


.

DO NOT KILL RIN: masih hampir, belum nyaris kan? :3

DO NOT KILL RIN: Ahh, sayang sekali... untuk kali ini bayanganmu salah. Disini desain pakaian Rin lebih mendekati desain pakaian di album Lily White. yg pake baju putih dan rok mini di single ke 1 dan terakhir.

Anata 1703: karena kalo bilang "selamat tidur, kekasih gelapku" itu pasti sephia.