Chapter 18: Kerja Kelompok
.
Kelas 1-A SMA Otonokizaka merupakan kelas satu angkatan terakhir di sekolah ini. Sebagai generasi terakhir sudah sangat jelas untuk menandai sosok mereka, bukan hanya oleh dasi biru yang mereka kenakan saja namun juga postur tubuh mereka yang sedikit mungil dibandingkan kakak kelas mereka (meskipun itu tidak berlaku untuk beberapa orang, sebut saja si pendek rambut twin tail itu)
Siang ini di dalam kelas yang berada di gedung tingkat dua itu terlihat suasana hiruk pikuk mewarnai kelas mereka. Dipimpin oleh Rin sebagai pusatnya, ketiga puluh siswi itu sedang berkumpul merapat membentuk lingkaran sambil berbisik-bisik.
"Jadi kita bersungguh-sungguh akan melakukan ini?" tanya Rin sambil sambil menegak air liur di dalam kerongkongannya untuk meyakinkan mereka sekali lagi.
"Tentu saja!" jawab Leo penuh semangat. Jawaban yang diamini oleh teman-temannya yang lain secara serempak.
"KELUAR SEKARANG! KITA BUTUH MAKANAN DARI SUPERMARKET SEBERANG UNTUK MENGHIDUPI SISA HIDUP HARI INI!"
"YEEEEAAAAHHH!"
"Hffttt... Baiklah karena keputusan ini sudah mufakat, mari kita menjalankan operasi rahasia ini!."
"Humm..."
Dengan menganggukkan kepala secara serempak mereka menyetujui keputusan Rin berikutnya. Setelah membagi kelompok menjadi tiga kelompok besar mereka segera mengendap-endap keluar dari kelas dan segera menyebar ke sisi kiri dan kanan kelas menuju arah tangga. Salah satu regu yang masih ada di kelas segera menyadap kamera pengawas CCTV sekolah di ruang panel kendali untuk memantau pergerakan para guru yang masih mengajar di kelas ataupun yang masih berada di ruang guru.
Rin yang ada di barisan depan bersama Miki, Leo, dan Kirin. Mengatur barisan di pintu barat sekolah sebelum memutuskan untuk maju melompati pagar belakang sekolah ini. Ya, mereka memang hendak kabur meninggalkan sekolah. Jantung gadis itu berdebar keras karena mereka akan melanggar peraturan sekolah secara berjamaah. Sebuah tindakan yang tidak perlu dilakukan seandainya kejadian pada jam sejarah itu tidak perlu terjadi.
.
Alasan mengapa semua kejadian ini terjadi adalah karena Rin Hoshizora, sang wakil ketua kelas itu tiba-tiba celetuk dengan santainya kepada guru pelajaran sejarah bahwa:
["Nyaa? Jadi alasan Amerika mengebom Nagasaki dan Hiroshima sebagai balasan serangan tentara jepang atas Hawaii di Perang Dunia ke-2?! Padahal kalau kita menyerang mereka pakai Gundam pasti bukan hanya Hawaii yang hancur tapi seluruh benua Amerika!"]
Kata-kata remeh itu disambut tepuk tangan meriah dari seluruh penghuni kelas dan akibatnya jam pelajaran keempat terpaksa diperpanjang hingga sepuluh menit jam istirahat akan berakhir.
Kondisi saat ini adalah hari ini merupakan jadwal mingguan makan sehat sekolah yang berarti setiap siswa diwajibkan memakan masakan sehat yang disediakan oleh kantin sekolah dan itu berarti mereka diwajibkan tidak membawa bekal makanan dari rumah.
Semenjak Rin dan kawan-kawan tidak dapat keluar dari kelas pada saat jam istirahat maka kini mereka harus menghadapi kenyataan bahwa seluruh isi kantin telah ludes dipenuhi oleh para murid sekolah dan tidak menyisakan jatah makan untuk kelas 1-A.
Ini lebih parah lagi bagi Rin ketika dirinya ketahuaan sedang mengemil roti sobek yang dia bawa secara diam-diam ke toilet sekolah. Ini tidak bisa disalahkan sih, Maki juga memahami itu bahwa dia setidaknya harus mengisi perutnya dengan sesuatu agar menjaga metabolisme tubuhnya namun perkara dia telah tertangkap basah oleh teman sekelas lainnya telah membuat kasus yang lumayan runyam karena dia dituduh tidak setia kawan, singkatnya mereka menuntut pertanggungjawaban agar perut mereka juga ikutan kenyang. Dan operasi yang dinamakan "Happy Meal Down" ini resmi dimulai.
.
.
Dengan mode telepon yang di setting bak handy-talky memungkinkan mereka saling berkomunikasi dalam radius tertentu secara dua arah tanpa memakai pulsa telepon sama sekali.
Rin bersama sepuluh temannya bersiap di sayap barat gedung sekolah untuk menunggu konfirmasi dari Regu sayap timur yang berjumlah sepuluh orang untuk menjaga pergerakan guru pengawas dan para guru di ruang guru yang berpusat disana. Sementara di dalam kelas yang telah dirubah menjadi ruang komando pusat terdapat sekitar sepuluh orang lainnya dengan masing-masing lima orang sebagai operator pemegang notebook berjaringan internet yang sudah berhasil menjebol pantauan kamera pengawas sehingga mereka bisa mengamati pergerakan seluruh kegiatan di dalam dan luar sekolah.
"Sayap kiri, clear?" tukas Leo meminta konfirmasi.
"Roger, Clear! Masih belum ada tanda pergerakan dari sarang lebah"
"Core Head, bagaimana keadaan lapangan?"
"Alright, CH1 disini, kita baru saja mematikan alarm gedung. Kalian punya waktu sepuluh menit untuk keluar-kembali sekolah! jangan lebih dari itu!"
"CH2 melaporkan seluruh kamera CCTV di gedung kanan telah diamankan."
"CH3 melaporkan seluruh CCTV di gedung kiri telah diamankan."
Rin yang mandengar itu lalu menganggukkan kepala kepada sembilan pengikut lainnya dan berteriak kencang di ponselnya,
"BAIKLAH SEMUA! AYO KITA SERBU!"
.
Jadi, beginilah rencana kelas 1-A yaitu dengan memanfaatkan waktu sepuluh menit yang tersisa. Lima orang dari masing-masing regu sayap barat dan timur akan keluar menuju luar lapangan sembari berbaur dan berputar-putar berjalan kaki mengelilingi sekolah bersama para murid kelas lainnya sehingga seolah-olah mereka sedang asyik bermain bersama-sama di lapangan. Sementara mereka sibuk mengacaukan sensor keamanan yang biasanya aktif dari luar lapangan apabila jam bel istirahat berakhir, kelima orang sisanya berusaha menepi menuju tembok batas sebelum melompatinya.
Namun sesampainya disana mereka mendapatkan rintangan lainnya tanpa mereka sempat menyadarinya ternyata tembok dan pagar pembatas luar itu memiliki tinggi sekitar empat meter.
[Sial, ini terlalu tinggi untuk digapai.]
Rin melihat pagar yang menjulang itu namun dirinya tidak kehilangan akal setelah menatap pohon sakura tinggi di sampingnya.
"Sayap Timur, masuk!"
"R-Roger, Sayap timur disini!"
"Apakah kalian mengalami kesulitan disana? Tembok terlalu tinggi, ganti."
"T-Tenang saja, kami sudah mengatasi masalahnya. Tapi..."
"Ara, jadi alat ini membantu kalian saling berkomunikasi, yah?!"
[Ehh, siapa itu?]
"CH1 disini. Maaf Rin-chan, tampaknya kami kecolongan seorang penyusup."
"Itu suara Nozomi-senpai, kan?" bisik Leo kepada Rin.
"S-Senpai tolong kembalikan! K-Kami tidak punya banyak waktu lagi?!" desak penelpon seberang. Rin yang mendengar itu hanya bisa menggertakkan gigi karena tahu rencana mereka telah terbongkar. Selain itu yang membuat dia panik adalah karena pemilik suara itu adalah...
"Araa, Hanayo-chan. Tidak usah panik. Aku justru penasaran bagaimana kalian menjalankan rencana ini."
"Yosh, baiklah... aku akan membantu kalian kabur."
"Ehh?!"
Murid kelas satu hanya bisa bengong mendengar perkataan kakak kelasnya yang penuh intrik tersebut.
"Kenapa? Nggak boleh? Ya sudah, Kalau begitu aku akan pergi ke ruang guru, lho!" tuturnya penuh goda. Namun suara dari telepon genggamnya ikut berbunyi menyela mereka.
"Tch, sudahlah... Tidak masalah kalau begitu. Kayo-chin, tetap lakukan sesuai rencana."
"B-Baik."
"CH1, kami akan mulai keluar sekarang. OK?!"
"OK!"
.
.
Dari ruang kontrol utama terdapat lima siswi sedang serius mengamati layar laptop mereka masing-masing. Tentu saja kelima orang itu bukan ahli IT yang bisa menyabotase sistem keamanan sekolah melainkan semua ini telah diatur dan dikendalikan oleh satu orang yang duduk di meja guru sekarang, seorang gadis kurus, berambut coklat tua yang di kuncir dua serta kacamata geeky-nya. Gadis itu bernama Mutsuki Takamagahara.
"APA?! Ada seorang senpai yang menghalangi regu sayap kiri?!. KOK BISA?! KAU BERCANDA YAH?!"
"M-Maafkan aku, Mutsuki-chan..."
"Tch, duh bagaimana ini?! Ini sudah berakhir, kan?! Seluruh usahaku selama ini sia-sia?! K-Kau tidak sedang bilang kita telah ketahuaan kan?! Tapi, kita ketahuan kan?!"
Mutsuki mengacak-acak rambut kepangnyanya saat mengatakan hal demikian. Seluruh temannya yang ada disana juga tidak turut untuk menghiburnya karena begitu takut melihat pola paniknya.
"Ahh, T-Tenanglah Muu-chan sepertinya senpai itu bukanlah kendala bagi kita kok."
"S-Sungguh?! M-Mengapa kau yakin?!"
"...Red Code mereka masih belum diaktifkan."
"Ahh, kamu benar?!"
"Bukankah itu berarti senpai itu tidak akan menjadi penghalang bagi kita, bukan?! Dengan kata lain dia akan menjadi pendukung kita?!" tiba-tiba Mutsuki mengubah nada bicaranya menjadi ceria. Hal itu juga diyakinkan oleh gambar CCTV yang tidak menunjukkan adanya perlawanan disana.
"Ya sudahlah.. Bagaimana keadaan di ruang guru?"
"Dari pintu luar sepertinya tidak ada tanda-tanda ada guru yang akan keluar dari sana."
"Baiklah... Pokoknya, Operasi ini harus berhasil!"
.
Regu sayap Timur tidak memiliki kendala untuk lolos melompati tembok berkat bantuan Nozomi yang tiba menawarkan diri untuk menjadi biang-loncat bagi seluruh tim. Setelah anggota terakhir melompat dia dengan atraksi akrobatik melompati tembok itu bak seorang pesenam indah melompati galah di olimpiade.
Segera setelah itu mereka mengarah ke lokasi supermarket terbuka untuk membeli makanan ringan (sukur-suku kalau masih ada bento) sesuai rencana. Sementara itu Nozomi bersikeras menemani Hanayo yang berada di sampingnya sambil terus tersenyum.
"A-Ano, Nozomi-senpai ngapain ikutan juga?" tanya Hanayo bingung.
"Ahh, aku cuma iseng ingin mencari udara segar di luar sekolah saja." tuturnya sembari tersenyum ringan. "ahh, rasanya sudah lama tidak melakukan tindakan nakal semacam ini."
"Kamu ada masalah?"
"Err, enggak sih. T-Tapi..."
Dia melihat ke anggota sekitar yang sedang menatap ke arahnya menunggu instruksi berikutnya dari dirinya. Sambil menghirup oksigen dalam-dalam pada akhirnya dia memutuskan tekadnya untuk terus melanjutkan aksinya.
"Baiklah, ini sesuai dengan kesepakatan kita tadi. Setelah ini regu ini akan dibagi tiga kelompok kecil yang masing-masing berisikan tiga orang. Kita akan memasuki setiap toserba atau minimarket yang ada. Ingat kita hanya bisa masuk sekali kesana dan segera keluar dari sana apabila kalian sudah mengumpulkan makanan kita. Dapat atau tidak dapat segera keluar dari sana sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari pemilik toko. OK?!"
"OK!"
"Yosh, Pa-Pa-Pa-HO!"
Yel-yel yang diucapkan oleh regu itu menjadi penanda bahwa perang ini telah dimulai. However, memang ini adalah perang senyap paling beresiko karena ini bukanlah jam anak sekolah pulang jadi apabila ada orang luar yang mencurigai mereka dan melaporkan itu ke pihak sekolah tentu ini akan menjadi masalah kota.
.
Ada dua gerbang pintu keluar di SMA Otonokizaka yaitu lewat pintu depan yang biasanya dilalui oleh para murid sekolah atau pintu belakang yang berada di sisi barat pojok sekolah. Tentu saja terlalu beresiko jika kabur melalui pintu depan oleh karena itulah Rin dan sejumlah besar kelompok lebih memilih untuk menyusup melalui pintu belakang. Mereka sudah bersiap untuk memanjat pagar dan keluar dari tempat itu.
Namun pada saat itu...
*Beep-Beep-Beeep..* Terdengar bunyi klakson mobil yang sudah berada tepat di pintu belakang.
Dari dalam mobil empat pintu itu terdapat enam guru yang baru saja kembali dari makan siang dari restauran kota sebelah. Para guru nampaknya belum mengetahui bahwa ada sepuluh siswi yang sudah memanjat tembok, berkat naungan rerimbunan dedaunan pohon di sekelilingnya.
[Gawat! Kalau begini ceritanya kita tidak mungkin lolos. Butuh waktu sekitar lima menit untuk membuka kunci digital itu, belum lagi kita memiliki tujuh menit tersisa untuk keluar dari sekolah ini. Baiklah...]
"Command! Operasi sayap barat dibatalkan! Operasi sayap barat dibatalkan!" komando Rin melalui pesan singkat kepada kelompok regunya. Nampak raut muka kecewa dari setiap gadis yang sudah berhasil memanjati tembok tersebut mendapati pesan itu dan mulai menuruninya.
"CH1, Apakah kamu bisa mengulur waktu lebih lama agar pintu belakang tidak terbuka?"
"CH1 disini. Tentu aku bisa saja memblok akses kunci itu sehingga tidak terbuka, tapi kenapa?"
"Aku punya ide yang menarik." Dia mengakhiri percakapannya.
"Leo, loe yang bawa uangnya kan?!"
"Umm... Memangnya kenapa?"
"Hei, mau taruhan siapa yang lebih cepat menuju minimarket dia yang menang?"
"Heeehh!" gadis itu sedikit bengong mendengar bisikan Rin tapi dia tetap menorehkan senyuman di wajahnya.
"Ayo aja sih!"
Tanpa ada aba-aba yang pasti, Kedua gadis itu langsung melompati mobil guru yang mulai bersiap memasuki pintu gerbang tersebut hingga menjangkau tanah. Tentu saja itu mengagetkan para guru di mobil tersebut. Mereka segera keluar dari dalam mobil. Kesempatan itu juga digunakan oleh para murid sisanya yang masih ada di atas untuk turun dan kabur dengan cepat.
"NYAAAAA! GGGAAAAAAOOOOO! NYAAAAA! GAAAOOO!"
Kedua gadis itu terus berlari melepaskan dari salah seorang guru BK yang terus berlari mengejar mereka. Sambil melolong bak hewan buas, kucing dan singa mereka menghiraukan perintah salah satu guru terkuat di sekolah ini, guru yang sekaligus merangkap guru olah raga, Honda-sensei.
"HEI, BERHENTI KALIAN! SEBUTKAN NAMA DAN NIS KALIAN! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI KALIAN JIKA TERTANGKAP, YAH?!"
Alih-alih menjawab, Rin malah mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.
"CH1?!"
"Aku mengerti! Sialan kau, jadi kita sekarang masuk ke rencana B yah?! Lurus sekitar 200M, pertigaan belok kiri, segera melintasi zebra-cross!."
Mereka tetap setia mentaati petunjuk itu hingga mereka tiba di ujung trotoar yang penuh lalu lalang kendaraan. Namun keajaiban terjadi ketika kaki mereka melangkah disana, lampu tersebut mendadak berwarna hijau dan ketika mereka telah sampai di ujung seberang lampu berubah menjadi merah. Mereka memasuki wilayah Akihabara.
Rin dan Leo merasa mereka telah lolos. Seharusnya seperti itu jika saja mobil berpintu enam itu tidak ikut-ikutan mengejar mereka. Kini mereka harus berlari menjauhi kecepatan mobil yang menyusul mereka. Mereka sempat bersembunyi di dalam taman kota yang tidak memungkinkan mobil bisa memasuki itu.
"Hei, ini bercanda, kan?!"
"CH1?!"
Dari pusat komando Muu-chan baru saja mengutak-atik database komputernya supaya bisa terintergerasi dengan saluran komunikasi pusat pemerintahan kota Tokyo. Ya, dia sedang berusaha meretas jaringan satelit Jepang.
Dari NAOJ* (National Astronomical Observatory of Japan, Mitaka) mereka sedang mengamati laporan dari signal JAXA bahwa posisi salah satu satelit utama milik pemerintah jepang itu telah digeser dari orbitnya dan sempat hilang kontak selama tujuh menit. Beruntung, itu tidak berakhir untuk selamanya, karena...
Mutsuki kemudian menemukan sebuah signal satelit pemancar yang lebih kuat yang mampu mengakses seluruh jaringan negara jepang. Tidak, bukan hanya jepang namun seluruh dunia.
[Ehh, proyek apa ini?! AIM? Tree Diagram? Calculate Fortress? Level 01-05? Radio Noise? Huh?!]
"Ehh, Masaka?!" gadis itu berteriak terkejut namun itu tidak berlangsung lama karena,,.
"Hei, CH1?!"
"Aizz, Tenang. Aku baru saja menemukan mainan menarik. Hei, apakah kalian punya nyali?"
Suara dari balik telepon itu sekilas terdengar biasa bahkan terdengar separuh tertawa namun dampak dari suara itu benar-benar membuat Rin dan Leo terpelatuk karena merasa diremehkan. Dengan suara keras mereka menjawab itu dengan lantang
"LOE PIKIR SETELAH KAMI SUDAH MELOMPATI PAGAR, DIKEJAR OLEH GURU BK, BERKELIARAN BEBAS DAN MENEROBOS JALAN RAYA DENGAN BAJU SERAGAM. LOE MASIH BERANI NANYA KAMI BERDUA TIDAK PUNYA NYALI?!"
"Hehehe... Maaf, Kalau begitu?"
"Lari ke tengah perempatan jalan! Sekarang!"
"Heeeeehhh?!"
Baik Rin dan Leo tidak mengerti apa yang sebenarnya telah dipikirkan oleh Muu-chan namun mereka tetap melaksanakan itu! menyebrangi jalan raya yang masih hijau itu sekarang juga?! Perempatan jalan yang masih penuh hinggar-binggar mobil yang melewatinya!
Pada waktu itu mobil guru yang terus berputar-putar di sekitar taman belum berhenti mencari mereka namun ketika mereka keluar dari taman itu mereka segera berhasil mendeteksi keberadaan mereka dan mengejar mereka. Tanpa menghiraukan adanya polantas atau tidak, mobil itu melaju kencang menyusul para murid mereka.
Mereka berdua berlari ke tengah jalan.
Suara klakson tidak dapat dihindari menambah kebisingan ibu kota.
Lima meter lagi sebelum perempatan jalan dan jalan masih terlihat kencang namun sesuatu terjadi ketika sudah berada di pusat perempatan.
"Citttttt!"
Mobil segera membanting setir dan rem sekencang-kencangnya. Lampu jalan itu tiba-tiba berubah menjadi hijau dan berganti para penyebrang jalan kaki dan membuat mobil itu terpenjara oleh para lalu-lalang manusia tersebut.
"NYAAA! KITA BERHASIL! YAHOOOO! GAAAOOO!"
Kedua bocah petualang itu pada akhirnya berhasil lolos dan menuju toserba di daerah sana untuk membeli bento dan makanan ringan lainnya.
.
.
Suasana di dalam minimarket ternyata tidak setegang yang diperkirakan oleh mereka sebelumnya. Meskipun suasana minimarket tetaplah ramai namun itu berarti tingkat pengawasan dari para pegawai cenderung minim dan terkesan mengabaikan pembelinya selama mereka ada disini bertujuan untuk membeli sesuatu bukannya menghancurkan toko.
Beberapa siswi yang menyelesaikan misinya segera menuju kasir untuk meninggalkan tempat itu secepatnya. Saat itu sepuluh menit telah berlalu dan para gadis hanya memiliki lima menit tersisa untuk kembali ke sekolah. (dengan perhitungan jam berikutnya merupakan jam kosong karena digunakan sebagai jam matematika – dimana gurunya sendiri masih belum kembali karena ikut sibuk untuk mengejar siswinya.)
Disanalah Hanayo mulai membuka suara untuk berbicara dengan senpainya yang sedari tadi sibuk membuka majalah gadis untuk membaca halaman astrologi. Zodiak?!
"Err, S-Senpai?!"
"Hmm..."
"Sebenarnya tujuan senpai mengikuti kita itu untuk apa?"
"Ah, maaf, Aku benar-benar cuma iseng saja, kok." dia menutup majalah itu dan mengembalikan ke rak buku. "Tapi, Memangnya untuk apa kalian repot-repot berbelanja di luar sekolah seperti ini?!"
"Sebenarnya kami hari ini menerima hukuman yang membuat kami satu kelas tidak sempat makan di kantin." ujarnya malu-malu.
"Ahh?! Biar kutebak? Ini pasti ada hubungannya dengan temanmu yang pernah kuramal itu kan?"
"H-Haik...!"
"Ahh?!" Nozomi terkejut ketika mengetahui tebakannya tepat begitu saja. "Temanmu itu, dia pasti anak yang penuh kejutan, yah?! hihihi..."
"Ahh, Yah begitulah... tehehehe."
"Tapi, Hanayo-chan... Kau masih ingat ini?"
Saat itu sang senpai mengeluarkan sebuah kartu tarot dari balik sakunya dan memalingkannya kepada Hanayo secara khusus. Sang kohai ikut menanggukkan kepala namun dia tidak mengerti mengapa Nozomi membahas itu lagi? Nozomi tanpa bermaksud menjelaskan alasannya sekedar menyerahkan kartu itu kepadanya begitu saja.
"Jaga kartu ini baik-baik yah?"
"Untuk apa, senpai?!"
"Ini cuma sebagai simbol. Sebagai simbol saja." dia tertawa sembari memberikan itu. "Yah, Siapa tahu kartu ini bisa membawa keberuntungan untukmu."
Kartu itu adalah...
"Two of Cup."
(penjelasan kartu tarot: OK! mungkin ini sudah pernah disinggung sebelumnya. Saya akan jelaskan secara singkat tentang penggunaan kartu tarot. Kartu ini memiliki 2 bagian utama, Major dan Minor Arcana. Major memiliki 22 kartu sedangkan Minor memiliki 56 kartu yang terbagi dalam 4 kategori besar Wands (14) – Pentacles (14) – Cups (14) dan Swords (14). Untuk sifat Kartu sudah sempat disinggung di halaman sebelumnya. Harap dicatat bahwa setiap kartu ramal memiliki 2 makna tafsiran: arti harfiahnya dan arti kebalikannya. Seorang peramal diharuskan menjelaskan kedua buah arti kartu ini kepada kliennya. Mungkin saya akan menyertakan rinciannya di kemudian hari.)
.
Sang ketua kelas berjalan dengan santai memasuki kelas yang mendapat penjagaan ketat itu. Dia hanya bisa menghela nafas saat mengetahui isi ruang kelasnya telah berubah bak pusat komando militer. Dia sedari tadi memang tidak ada disana. Ada sebuah tugas khusus yang dilakukannya untuk operasi ini. Bukan sembarang tugas melainkan serangan jitu menuju markas musuh. Teknik jitu melawan guru: adu domba dengan guru wali kelas.
Sesaat sebelum operasi "Happy Meal Down" ini dimulai, Maki mendapat perintah untuk melaporkan kejadian ini kepada Shibuya-sensei. Berkat bukti alibi yang cukup diberikan dia berhasil mengangkat dugaan kasus bullying yang cukup serius antara guru sejarah dengan murid kelas 1-A. Permasalahan ini menjadi cukup panjang hingga melibatkan campur tangan guru kepala sekolah untuk bisa menyelesaikannya. Ya, pada dasarnya mereka sedang melakukan kontroversi hati "playing victim" tingkat tinggi.
"Bagaimana?" tegur putri berambut merah tersebut
"Ahh, Maki-chan. Tenang saja, regu sayap timur akan segera kembali dalam dua menit lagi."
"Lalu, Rin?"
"Ahh, itu dia masalahnya sekarang, dia..."
"Ehh?! ADA APA DENGAN RIN?!"
"...Dia kabur menuju Akiba Gamers."
Tiba-tiba Maki menjadi bengong dan jemari mungilnya menggaruk kerutan tengah dahi kepalanya. Gadis itu tidak habis pikir dengan kelakuan iseng temannya yang seolah meninggalkan janjinya begitu saja.
"Heeehh?! Yappari, hal semacam ini pasti akan terjadi makanya aku tidak percaya kepadanya." gerutunya diikuti anggukan seirama dari teman sekelasnya.
Saat itu sang putri melihat ke arah kesekeliling temannya yang sudah memegang perut yang keroncongan. Dua menit, mungkin itu waktu yang singkat untuk menunggu namun hanya mengandalkan separuh pasukan untuk memberi makan mereka jelas masih kurang. Apalagi yang mereka mungkin bisa beli hanyalah beberapa potong roti isi saja.
Karena itulah...
"Halo, Hitori-san?" Maki mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pembantu pribadinya tersebut secara khusus. "Apakah kamu tahu caranya memesan pizza? Ahh, baiklah, kalau begitu pesankan aku sepuluh loyang pizza ukuran jumbo ke kelasku. Ehh, kalian mau pesan rasa apa?!"
Maki menelepon itu dengan suara agak keras meskipun dia sudah berbalik badan namun sesuatu terjadi ketika memalingkan mukanya menatap muka mereka lagi yang sudah penuh dengan air, air liur yang menetes, air mata yang mulai terisak, termasuk air keringat yang membasahi peluh mereka.
"Ehh, minna...?!"
"...KYAAAA!"
Jawaban itu terputus karena setelahnya seluruh gadis disana tiba-tiba memeluk Maki dengan penuh rasa haru. Dan siang hari di sekolah SMA Otonokizaka kembali menjadi penuh warna berkat anak kelas satu.
.
Periode 18: Selesai
.
*Untuk lebih detailnya tentang NAOJ silahkan baca sub-cerita saya yang lain: Stargazer.
.
.
Bagian Encore ke-3: Para Ilmuwan Yang Panik
Distrik 20, sebuah fasilitas penelitian astronotika yang dibuat mirip seperti Area 51 di Amerika. Tampak dari luar daerah ini merupakan tempat peluncuran roket ulang-alik dengan paparan antena-antena raksasa yang dipasang mengarah angkasa. Secara keseluruhan daerah ini tampak sepi dan berbahaya sehingga tidak sembarang orang yang bisa melewati tempat ini.
Berbicara tentang antena raksasa, tentu saja alat itu diciptakan untuk menerima sinyal dari satelit milik mereka di angkasa raya. Hal yang paling mudah diamati adalah laporan perkiraan cuaca setiap waktu. Tentu saja satelit itu tidak hanya digunakan untuk itu saja. Satelit super canggih itu diciptakan untuk mengawasi sistem IT super komputer dan menyimpan data yang beada di seluruh kota, terlebih lagi sistem ini digunakan untuk mengamati kegiatan wilayah itu secara utuh berkat bantuan CCTV yang telah terpasang di sudut-sudut jalan kota termasuk mencakup kegiatan penelitian rahasia yang berkaitan dengan rahasia sisi gelap sebuah kota.
Sistem itu dinamakan Tree Diagram.
Sebuah ruang transmisi, tempat berkumpulnya para ilmuwan dan angkasawan untuk mengamati data dan kegiatan yang ditampilkan oleh satelit tersebut. Kini tempat tersebut berubah menjadi panik ketika empat puluh orang yang ada disana sedang sibuk mengutak-atik data komputer mereka untuk mengetahui penyebab keanehan yang terjadi saat ini. Operasi pemantauan satelit mereka tiba-tiba terhenti dan di luar kendali mereka. Singkatnya, ada seseorang oknum yang menghentikan paksa penelitian mereka dari luar ruang kendali.
Dan di luar ruangan tersebut ada dua lelaki yang sedang mengarah ke ruang pusat data dengan langkah pelan.
"Jadi, ada apa ini sehingga kalian harus memanggilku pada jam makan siang seperti ini?" katanya mendengus kesal sambil membersihkan noda saus bekas steak yang menempel di bibirnya.
"Ma.. Maafkan saya, pak. Tampaknya ada kerusakan data komputer sehingga kami tidak dapat mengakses pergerakan satelit. Kami mendapat laporan bahwa satelit Orihime-1 telah bergerak menyimpang keluar dari orbitnya sekitar 40° sebelah barat semenjak sepuluh menit yang lalu dan sepertinya pusat kendali satelit sedang dikendalikan oleh orang luar."
"Hmm, maksudmu ada seseorang yang meretasnya?"
"S-Seperti itu, pak."
"Kerusakan data?"
"Masih dalam tahap recovery, pak."
Lelaki yang disegani itu lalu berhenti sembari mengembuskan nafas panjang. Dia tampak enggan untuk merespon masalah ini. Bukan karena tidak bisa namun karena ini semua terdengar konyol. Di tempat itu ada jeda evolusi teknologi sekitar 10-20 tahun dengan dunia luar. Sistem penelitian mereka diakui yang paling canggih di dunia bahkan membandingkannya dengan NASA atau JAXA sekalipun itu sama saja dengan membandingkan mobil F1 dengan bemo roda tiga.
(NASA: National Aeronautics and Space Administration adalah lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa Amerika Serikat dan penelitian umum luar angkasa jangka panjang. Organisasi ini bertanggung jawab atas program penelitian luar angkasa bagi masyarakat sipil, aeronautika, dan program kedirgantaraan. Src: Wikipedia | JAXA: Badan Penjelajahan Antariksa Jepang (宇宙航空研究開発機構 (Uchū-Kōkū-Kenkyū-Kaihatsu-Kikō?) bahasa Inggris: Japan Aerospace Exploration Agency, disingkat JAXA) adalah sebuah badan luar angkasa Jepang. JAXA dibentuk pada 1 Oktober 2003 sebagai hasil merger antara National Space Development Agency (NASDA), National Aerospace Laboratory of Japan; NAL, sebuah badan penerbangan dan Institute of Space and Aeronautical Science (ISAS), sebuah badan yang meneliti ruang angkasa dan planet. Src: Wikipedia | )
"Begitu yah. Jadi kalian sedang mencoba mengatakan ada salah satu oknum yang mencoba mengambil alih Tree Diagram, begitu?"
"T-Tidak pak, tapi..."
"Apakah kalian tahu betapa beresikonya sistem satelit ini apabila jatuh ke tangan orang lain, huh?"
"Sebut saja teroris. Apabila mereka dapat mengendalikan ini maka tidak hanya kota ini atau Jepang saja yang bisa mereka kuasai bahkan untuk menembus sistem pertahanan militer dunia bukanlah perkara yang sulit."
"Karena kita pernah bekerja sama dengan Perancis dan Amerika dimana mereka pernah meminta kerja sama kita untuk menciptakan sistem akses rudal nuklir mereka sehingga tentu saja ada salinan transkripsi cetak biru tempat itu yang juga tersimpan disana atau kalau perlu bisa saja mereka menggunakannya untuk meluncurkan bom nuklir dari sana dengan menggunakan Tree Diagram."
Dia mendecakan lidah sehabis mengutarakan pemikirannya. Ilmuwan itu cemas namun tidak panik seperti rekan-rekannya yang lain. Dia menyadari bahkan meskipun satelit itu bergeser namun tidak mungkin ada orang yang bisa merebutnya kecuali ada orang yang menggunakan roket ke angkasa untuk membajaknya langsung. Tapi itu tidak mungkin, hanya orang gila saja yang mampu melakukan itu karena Orihime-1 juga telah dilengkapi sistem persenjataan yang membuatnya dapat menghancurkan batu meteor sebesar lapangan sepak bola sekalipun yang hendak meluncur ke arahnya, apalagi pesawat ulang-alik biasa.
"Segera cari tahu siapa dalang di balik kejadian ini. Kita tidak bisa membiarkan kelompok teroris mengambil alihnya."
"Baik pak!"
Sejumlah pasukan keamanan cyber di tempat itu segera dikerahkan untuk mencari data para peretas komputer mereka. Sementara itu kedua lelaki itu telah sampai ke ruang panel kendali utama yang sudah mirip dengan suasana di dalam Hell Kitchen, minus masakan.
"Gawat, kita kehilangan sebagian data sekarang!" seru panik salah seorang yang mengamati layar mereka telah berubah menjadi warna merah dengan tulisan ALERT! WARNING! ERROR! Memenuhi layar mereka.
Sang kepala proyek, pria itu segera mengawasi itu melalui komputer salah seorang staff yang ada dipinggirnya secara sekilas.
"Hmm?! Sini, coba aku lihat?"
Namun dia kemudian mengernyitkan dahinya dan mulai tertawa terpingkal-pingkal yang membuat seluruh orang di tempat itu menghentikan aktivitas mereka.
"Bahahahaaaa...Jadi ini biang masalahnya? Huh?! Kalian bercanda kan?!"
"Ini cuma "Bugs"!"
(Bug (bahasa indonesia: kekutu/seranggaan): galat/kesalahan program adalah suatu kesalahan desain pada perangkat keras atau perangkat lunak yang menyebabkan peralatan atau program itu tidak berfungsi semestinya. Kekutu umumnya ditemukan pada perangkat lunak, bukan perangkat keras. Src: Wikipedia)
"Bahahaha... Kalian menyebut diri kalian ilmuwan tapi kalah dengan Bugs kecil semacam ini? Lebih baik buang saja gelar kalian sekarang!"
"Tapi pak..."
"Hanya Bugs!" lelaki itu mendengus dengan mata melotot.
"Kalian pasti terlalu bodoh jika tidak mengerti ini, padahal untuk mengatasi ini tinggal melakukan ini saja."
Dia menekan sebuah tombol yang segera menformat ulang data komputer induk. Reset dan Restart. Layar komputer berubah menjadi gelap dan kemudian dia memberi perintah kepada sistem integral cerdas yang mengendalikan ruangan tersebut.
"Aktifkan Firewall. Lakukan input username secara manual. Matikan PSK, ganti ke sertifikat digital."
(Firewall: Tembok api atau dinding api adalah suatu sistem perangkat lunak yang mengizinkan lalu lintas jaringan yang dianggap aman untuk bisa melaluinya dan mencegah lalu lintas jaringan yang dianggap tidak aman. Umumnya, sebuah tembok-api diterapkan dalam sebuah mesin terdedikasi, yang berjalan pada pintu gerbang (gateway) antara jaringan lokal dengan jaringan Internet. Src: Wikipedia)
Akses satelit kembali dalam hitungan menit. Sementara para ilmuwan tersebut hanya bisa termenung bengong mendapati aksi sederhana yang tidak pernah terpintas di otak cerdas mereka itu.
"Ah, akses terminal satelit sudah berhasil dihubungi pak. Tidak ada tanda-tanda pencurian data disini."
Sang kepala proyek hanya bisa mendecakkan lidah mendapati laporan positif itu.
"Kalian payah..!"
"Tapi, harus aku bahwa akui kelompok teroris yang meretas ini cukup pintar dan sungguh punya keberanian untuk melakukannya. Mereka berhasil menjebol suatu teknologi yang sudah maju 10-20 tahun dari peradaban dunia. Sungguh, bukan orang yang sederhana!"
"Ngomong-ngomong, apa yang telah mereka lakukan?" tanyanya sambil menggaruk dagu tanpa janggut. "Aku tidak percaya ini cuma sekedar perbuatan iseng belaka seperti halnya anak kecil yang meminjam mobil remot kontrol temannya."
Dalam waktu sekejab data peretas itu segera ditelusuri balik menggunakan data rekam IP yang terbaca dan...
"Pak, kami mendapat rekaman tentang kegiatan pantauan kamera satelit dari arah kota Tokyo."
"Tampilkan..."
Itu adalah hasil rekaman saat sebuah mobil terjebak di antara ratusan manusia yang hilir mudik melintasinya secara bersamaan. Disana kamera tersebut menyorot secara khusus pergerakan kedua gadis tomboy yang bergerak bebas.
"Hmm... Memang siapa kedua bocah itu?"
"Lalu sumber tracking?"
"Dari kota Tokyo, pak! Tapi..."
"Ada apa?"
"Kami mendapat lokasi bahwa itu adalah sebuah sekolah SMA."
"Hmm, aku mengerti.. Jadi terorisnya bersembunyi di dalam gedung itu yah?"
"Bisa kamu lacak pelakunya?"
"Ah, kami baru saja mendapatkan tampilan wajah pelakunya?"
"T-Tapi..."
"Heh, semudah itu?! Benar-benar teroris tidak profesional. Tampilkan." Tiba-tiba di layar muncul wajah close up seorang gadis SMA kurus, berambut coklat tua yang di kuncir dua serta kacamata geeky-nya sedang mengupil. "Heh?! K-Kau bercanda, kan?!"
Tidak ada bantahan balik dari mereka selain anggukan kepala dari mereka.
"Heh, sekolah apa itu tadi?"
"Sekolah SMA Otonokizaka, pak."
"Heh, Otonokizaka yah? Menarik juga."
Sang lelaki itu tersenyum penuh arti saat memandangi wajah gadis SMA di layar besar di screen utama sekarang.
.
.
Untuk sementara waktu, tulisan ini akan saya tangguhkan dulu. Jadi 2 minggu lagi tidak rilis. Selanjutnya, saya sedang berusaha merampungkan tulisanku yang lain "Simpati Gravitasi."
Saya pikir ini tulisan ini memiliki ide yang menarik untuk segera diselesaikan, menyusul buku berikutnya. Mungkin akan memakan waktu 2 minggu atau 1 bulan, semoga tidak terlalu lama.
See ya! :)
