Periode 19: Rencana Awal

.

Suasana sekolah akademi Otonokizaka pagi ini sedikit agak gempar tidak lama setelah kedatangan beberapa lelaki berbadan tegap dengan pakaian kemeja hitam necis dan sepatu pantofel hitam mengkilap turun dari mobil limusin di halaman sekolah.

Pada awalnya, banyak yang mengira bahwa orang-orang ini adalah pengawal Maki, putri (paling) konglomerat yang ada di sekolah mereka. Namun mereka salah, bahkan Maki juga tidak mengenal orang-orang itu.

Orang-orang ini datang tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi wajah, dan pandangan mata misterius di balik kacamata hitam itu membuat anggapan umum dari para siswi Otonokizaka bahwa mereka adalah pasukan agen khusus seperti yang ada di film-film spionase.

Tidak banyak hal yang bisa diceritakan dari kedatangan mereka karena orang-orang ini langsung berjalan lurus menuju ruang kantor kepala sekolah sembari membawa sebuah koper yang dikemas secara khusus. Tampaknya paket tersebut harus diberikan kepada sang guru kepala sekolah.

Kedatangan mereka tidaklah sendirian, di belakang mereka juga terdapat seorang lelaki yang memakai jas laboratorium putih dengan rambut acak-acakan berjalan dengan santainya melintasi kelas 1-A.

Dia tersenyum, lebih tepatnya tersenyum nyengir saat memandang para gadis belia yang sedang belajar tentram di dalam kelas saat pelajaran berlangsung.

Tentu saja pandangan yang berlaku adalah sebaliknya bagi para siswi di dalam kelas yang memandangi dirinya. Di mata mereka para lelaki misterius itu adalah orang jahat dan khusus untuk lelaki yang berjalan paling belakang yang barusan tersenyum kepada mereka ada predikat khusus baginya yaitu lelaki mesum.

Lain tempat, lain masalah.

Sementara itu di dalam ruangan kelas yang baru saja di lalui oleh orang-orang itu ada dua gadis remaja yang duduk bersebelahan di pojok kelas sedang tampak tegang dengan tangan terlipat manis di atas mejanya memandang lurus arah papan tulis. Kedua gadis ini bukanlah murid teladan bahkan sebaliknya mereka sering dikategorikan sebagai biang kerok pembuat onar kelas namun kali ini mereka bisa duduk diam manis.

Mereka benar-benar memandang lurus ke arah papan tulis seolah-olah tidak ingin ikut-ikutan dengan kesibukan teman-teman kelas lainnya yang sedang berbisik-bisik membicarakan kejadian itu, seolah-olah mereka tidak ingin mengetahui fakta ada sebuah kegaduhan asing sedang terjadi di luar kelasnya.

Kedua orang itu tampak acuh dan malah terdiam bak patung, mencoba menjadi murid teladan yang manis namun yang ada sesuatu yang janggal yaitu peluh keringat yang mulai mengucur deras membasahi muka mereka. Tanpa berusaha memalingkan muka ke samping, mereka berdua sedang mencoba berkomunikasi satu sama lain.

.

"Psstt, Rin..."

"Hmm?!"

"A-Apakah kamu tahu kenapa hari ini ada orang asing yang datang ke sekolah?"

"E-Err, N-Nggak tahu sih, nyaa?!. Memangnya kamu ngerti, Yo?"

"Ahh, kamu lagi ngomong apaan sih, Rin?! Aku kan anak baik, tidak sombong dan suka menabung. M-mana mungkin aku ngerti tindakan yang berurusan dengan orang-orang bertampang mafia semacam mereka."

"K-Kalau kamu?"

"Ehh, m-menurutmu anak semanis dan se-ikemen diriku ini bakalan berurusan dengan orang-orang semacam itu?!"

Tapi bagaimanapun juga mereka mencoba memutar alur pembicaraan ini pada akhirnya muara akan mengarah kesitu, yaitu...

"...A-Apakah mungkin."

"...Apakah mungkin..."

"...J-JANGAN-JANGAN!"

"...JANGAN-JANGAN!..."

"AAAAAAAAA...AAAAAAAAA!"

Kedua gadis tomboy itu tidak melanjutkan perkataan mereka melainkan berteriak sembari memegang kepala masing-masing yang seakan hendak copot meninggalkan leher mereka.

.

Tidak!

Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian kemarin, operasi "Happy meal down!" yang direncanakan bersama seluruh teman sekelasnya. (Yah, meskipun ada hubungannya sih). Tapi apa yang lebih mereka khawatirkan bukanlah konspirasi kelas kemarin itu. Hal yang membuat mereka berdua lebih khawatir adalah sebuah perbuatan yang telah mereka lakukan saat berada di Akiba Games ketika hendak pulang kembali ke sekolah.

Siang kemarin, di sela waktu jeda yang sempit untuk makan siang dan jam pelajaran berikutnya. Setelah aksi kejar-kejaran dengan mobil guru BK yang tekun berusaha menangkap mereka berdua pada akhirnya mereka berhasil lolos berkat bantuan teman-temannya. Namun setelah itu mereka tanpa malu menghindari jalan menuju kembali ke sekolah dan malahan mampir ke dalam toko game.

Disanalah semuanya bermula,

Berawal dari mereka memainkan sebuah game machine yang terletak di luar toko. Itu adalah permainan crane dimana kamu bermain menggerakkan jepitan mesin crane untuk hadiah yang sudah disediakan. Itu adalah Zaku, robot mecha keluaran terbaru dari BONDAY yang mereka berdua incar. Yah, kalian pernah tahu cerita squidward dan gaji uang koinnya di film spongebob, kan? Begitulah cerita mereka sekarang. Tanpa sadar mereka sudah menghabiskan uang kembalian dari belajaan mereka untuk permainan itu. Kini, tibalah satu koin terakhir untuk harapan dan impian yang belum bisa digapai oleh jepitan itu.

Tinggal satu sentuhan saja dan seluruh usaha mereka yang sudah bersusah payah untuk menggiring kotak mainan menuju liang keluar akan segera tercapai. Mereka memainkan itu bersama-sama. Leo dengan akurat memberi tahu letak jepitan yang harus Rin tuju sebagai operator permainanan ini sekarang.

Pada awalnya semuanya sesuai dengan rencana, jepitan itu mulai bergerak ke arah kanan namun seperti yang sudah-sudah. Jepitan itu tidak mampu bertahan lama untuk hinggap ke liang hadiah. Jepitan itu lepas ke bawah secara berurutan sebelum mencapai liang namun memang bukan itu tujuan mereka!

Mereka memang mengarahkan pin jepitan itu menyentuh kotak mainan yang ada disampingnya dan hal itu dilakukan dengan sengaja sehingga kini tumpukan kardus hadiah itu bisa berdiri berjejeran membentuk sudut miring lurus hingga liang keluar. Inilah rencananya akbarnya bahwa mereka akan menyentuhkan kardus terakhir di bagian ujung kardus dan lalu...BOOM!

Mereka akan berjatuhan dan menghasilkan efek domino layaknya menjatuhkan satu keping sisi domino hingga titik akhir.

Itulah rencananya.

Seharusnya seperti itu.

Namun, pin itu tidak tergapai dan hanya berakhir menjatuhkan satu kotak itu sendiri tepat sebelum deretan awal dimulai. Sebagai catatan, Itu adalah uang (kembalian) terakhir mereka dan secara resmi usaha permainan mereka telah gagal secara sia-sia.

Amarah dan kesal jelas menjangkati mereka. Pada saat itu mereka memukul-mukul crane agar mainan itu bisa bergeser keluar namun tetap saja tidak ada yang berubah hingga gadis pemilik julukan singa itu tiba-tiba mengambil jarak ke belakang. Sebagai atlet Judo dia memasang kuda-kuda layaknya menghadapi musuh besar. Namun tidak ada musuh disana dan memang tidak ada orang yang ingin dilawannya. Dia cuma ingin melompat dan sedikit memberi "guncangan" kepada crane tersebut jadi pada akhirnya dia meloncat dengan mengayunkan kaki mungilnya mendorong alat itu.

Itu curang. Mereka tahu itu, namun dia begitu kesal sekarang.

Jadi pada akhinya, memang hadiah itu pada akhirnya bergeser keluar namun dampak dari tapak kaki maut ahli Judo juga bukan hanya itu saja. Mesin itu langsung rusak dengan penyok di bagian sisi terluarnya kira-kira sedalam 10 cm. Lampu mesin itu mati dan keluar asap hitam, disertai percikan listrik dari belakangnya.

Mereka tahu tidak ada gunanya lagi meminta bantuan dari pemilik toko dan segera setelah itu mereka memilih kabur meninggalkan tempat mainan dengan tangan kosong tanpa sempat meronggoh lubang keluar hadiah untuk mengambil mainan mereka.

.

"R-Rin-chan?! Gimana nih?!"

"A-Aku juga nggak tau, Leo!"

"Gimanapun juga kita harus tanggung jawab.."

"Heh, serius loh!"

"Iyalah... kita yang salah kok." jawab Rin di rundung kegalauan.

"Nanti kamu yang tanggung, aku yang jawab."

"Heh, bangke lo! Seenaknya sendiri!"

"Lha, yang ngerusakin kan kamu!"

"Lho, yang punya ide buat dorong-dorong kan kamu?!"

Saat itu kedua remaja yang bertingkah bak bocah lelaki yang sedang bertengkar itu sempat menimbulkan kegaduhan di antara kegaduhan yang telah terjadi. Namun...

Tiba-tiba...

Sebuah kapur melayang bebas.

Dengan kecepatan 0,5 mach kapur itu melayang bebas menghujam kening sang gadis kucing yang masih nyolot dengan argumennya.

"Adaawww!"

Rin berteriak mengaduh namun lengkingan "aduh" itu cukup membuat seisi kelas terhenyak dan menfokuskan perhatian mereka kembali terhadap sang guru yang sekaligus wali kelas mereka yang sedang mengajar, Shibuya-sensei.

"Gezz, dua orang yang ada dipojok sana silahkan berdiri di lorong luar kelas kalau masih berisik, yah?!"

"M-Maaf sensei."

Shibuya-sensei pada dasarnya bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Sifatnya yang lembut dan murah hati membuatnya akrab dengan para siswi yang diajarnya namun jangan pernah membuat dia marah karena sifat kelam dibalik senyum kalem misterius itu juga mampu membuatmu terhenyak.

Guru ini tidak akan banyak bicara untuk menegur seseorang, dia cenderung memilih untuk melakukan satu-dua tindakan efektif yang dapat segera dimengerti oleh muridnya, seperti menyewa preman bayaran untuk mengawasi murid mengerjakan hukumannya. Pokoknya, wanita berambut hitam panjang itu lebih cocok ditugaskan sebagai agen pembunuh profesional... atau seorang idol?!

Err, yang mana saja boleh. Sepertinya dia cocok melakukan kegiatan apa saja.

Pelajaran kelas kembali dilanjutkan dan kini tibalah waktu makan siang. Sementara itu para lelaki misterius itu juga baru saja meninggalkan gedung sekolah bersama kepala sekolah mereka, Mrs. Minami.

Pelajaran selanjutnya dimulai kembali namun kali ini ruangan kelas 1-A kehilangan satu orang. Ini aneh bagi Rin namun dia menduga bahwa gadis itu ada di ruang UKS untuk beristirahat disana sekarang. Pelajaran dilanjutkan setidaknya itu akan terasa lebih serius seandainya Hanayo tidak merasakan timpukan gumpalan kertas kecil yang mendarat di mejanya.

"sabtu besok, jadi kan? - Rin"

Gadis itu menoleh melihat ke belakang mejanya dan mendapati gadis itu sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. Dia lalu mengembalikan gulungan kertas yang sudah dibubuhkan jawaban di dalamnya. Dan percakapan via kertas berantai itu dimulai.

("Emm, aku sih bisa. Tapi gak bisa dirumahku. Ada tamu.")

"Kalau ke restauran kemarin aja gimana?"

("Umm, bisa aja sih. Tapi Maki?")

"Aku SMS dulu deh..."

Rin lalu mengeluarkan Ponsel ke bawah mejanya dan mulai mengetikkan pesan baginya.

"Maki-chan... Nanti sabtu besok bisa ke resto nggak? Rumahnya Hanayo gak bisa dipake. Lagi kotor katanya."

Tidak butuh waktu lama untuk dia mendapat jawaban balasan, namun...

("Enak saja, ngomong rumahku kotor! Rin-chan, aku kan udah bilang di rumahku ada tamu! X( ")

Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Hanayo sedang berbalik memandanginya dengan sangat kesal. Muka kikuk terpancar di wajah Rin saat menatap gadis tersebut, rupanya saat itu dia sedang mengirim pesan menggunakan channel grup LINE. Karena itulah Hanayo bisa mengetahui percakapan mereka.

["Umm... Aku gak bisa kayaknya! Maaf..."]

"Lho, kok gitu! Kamu gak ada jadwal les, kan?! Atau kamu kan bisa bilang ijin main ke rumah temen, simple kan?!"

["T-Tapi... itu kan namanya bohong?!"]

("Rin-chan, jangan memaksa dong.")

"T-Tapi, kan..."

Stiker sebel

(Stiker mikir)

[Stiker bengong]

Rin menatap Maki yang duduk di pojok kelasnya dengan pandangan sayu dan melihat gadis berambut merah itu sedang menggaruk batang hidung mancungnya hingga lurus ke atas dahi karena ragu. Selanjutnya dia kembali menundukkan kepala untuk mengetik pesan di ponsel

["Maaf, peraturan di rumahku membuatku dilarang berpergian ke tempat umum tanpa pengawalan. Tapi..."]

["Apakah kalian keberatan kalo melakukannya di rumahku?"]

"..."

Sesaat setelah membaca pesan teks tersebut suara sekitar ruangan mereka berubah menjadi hening. Tidak ada yang terjadi sebenarnya namun kedua gadis yang duduk di seberang blok kursi Maki itu merasa seperti mengalami pengalaman spiritual, sesuatu yang bahkan sepertinya tidak akan pernah eksis di dunia nyata.

Sepi, namun itu hanya sejenak saja karena setelah itu seisi ruangan kelas berangsur pecah akibat rasa keheranan yang ditimbulkan mereka berdua untuk merespon sang putri. Kehebohan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua bukannya teman-teman lainnya.

.

Tanpa terasa Jam 4 sore telah menjelang dan kini adalah waktu pulang sekolah SMA Otonokizaka.

Seluruh murid telah bersiap untuk mengemasi peralatan tulis mereka dan segera pulang namun masih ada satu murid yang belum kembali.

Hingga...

Pintu kelas itu terbuka dan menunjukkan sosok sang guru wali kelas mereka, Shibuya-sensei sedang menginterupsi kehadiran guru pengajar terakhir yang hendak menerima salam hormat pulang dari para muridnya.

Wassalam, Tentu saja ini mengecewakan namun pemandangan ini begitu serius dan haru sehingga membuat para siswi terheran-heran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Berbeda dengan jam ketiga, saat beliau mengajar tadi pagi.

Saat ini raut wajah Sensei nampak sedikit murung.

Sembari menundukkan kepala meminta maaf kepada guru pengajar yang masih ada di kelas beliau lalu memanggil nama seorang gadis yang tampaknya sedang menunggu di luar kelas. Gadis yang sedari tadi siang tidak menampakkan kehadirannya di tengah mereka.

"Perhatian, anak-anak. Ibu memiliki sebuah pengumuman penting."

Terus terang, para murid yang mendengar itu menjadi kecewa karena waktu kepulangan mereka harus tertunda. Gerutu menggema di dalam ruangan tersebut namun itu tidak berlangsung lama, karena...

"Karena suatu alasan yang bersifat pribadi maka hari ini merupakan hari terakhir Mutsuki Takamagahara bersekolah di SMA Otonokizaka. karena itulah..."

Sementara sang guru berparas cool itu terus berbicara, siswi yang berada di sebelahnya, sang gadis berperawakan kurus, berambut coklat tua yang di kuncir dua, dan berkacamata geeky itu mendengar seluruh pidato sang guru dengan sangat tenang sambil sesekali melemparkan senyuman kepada para pemerhatinya.

Meskipun begitu, sifat yang berbeda terpancar dari reaksi teman-teman sekelasnya yang lain karena mereka tahu benar siapa orang yang berdiri di depan kelas saat ini, mereka tahu benar alasan mengapa mereka harus benar-benar terkejut. Karena orang yang berdiri di depan mereka ialah...

Sang otak dari markas pusat operasi "Happy Meal Down", kejadian konspirasi bersama yang melibatkan satu kelas untuk melumpuhkan sebuah sistem keamanan sekolah dalam beberapa saat di hari sebelumnya.

Reaksi itu sama sekali tidak terduga, baik sang wali murid maupun murid di sebelahnya juga nampak terkejut ketika para murid kelas itu bereaksi berbeda 180° dari saat sebelumnya. Bahkan mereka sudah tidak ingin untuk pulang. Mereka hanya bisa berteriak kesetanan menuntut penjelasan lebih rinci dari kejadian yang begitu mendadak ini atau lebih banyak adalah permohonan agar gadis cupu itu bisa tetap bersekolah disini lagi.

Namun...

"Arigato minna, tapi ini sudah menjadi keputusanku sendiri untuk meninggalkan sekolah ini. Aku tahu mungkin sangat sangat sangat mendadak namun aku harus menerima tawaran ini. Kalian semua adalah teman-teman terbaikku dan aku sama sekali tidak menyesal untuk masuk SMA Otonokizaka."

Dia tersenyum sambil membuang nafas pendek.

"Untuk bersama-sama tertawa dan bersenda gurau memikirkan hal-hal yang tidak pernah bisa aku alami sebelumnya. Kalian adalah sumber inspirasiku, girls. Bagaimanapun juga aku senang sudah mengenal kalian selama lima bulan ini."

Dia mengatakan itu seperti tanpa beban berarti. Tidak ada emosi haru hanya perasaan riang belaka.

"...Namun, jangan salah sangka, yah?! Jangan pernah berpikir ini adalah kesalahan kalian, yah?! ha ha ha ha ha!"

"Singkatnya, Ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian kemarin kok?!" dia mengedipkan mata kanannya kepada mereka

"Ehhhhhhh?!"

Seluruh isi kelas menjadi terdiam kaku. Baik sang murid maupun guru wali murid yang tidak tahu kejadian kemarin menjadi bingung dengan arah pembicaraan ini.

"Karena itu, tolong jangan bersedih... Karena bagiku ini sama dengan promosi dan kesempatan emas yang selalu aku cita-citakan. Sekolah ini sukses menjadi batu loncatan awal untuk kesuksesanku di masa depan! Ho ho ho ho ho ho!"

"Mutsuki! Kamu ini ngomong apaan, sih?!"

"A-Ahh, baiklah.. baiklah aku akan jelaskan kepada kalian! Begini teman-teman. Aku hari ini baru saja mendapatkan kesempatan beasiswa untuk transfer sekolah ke sebuah SMA favorit yang selalu aku cita-citakan. Itu adalah sebuah SMA di Tokyo barat yang khusus mengajar para murid yang bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan."

"Apakah itu benar?"

Sang wali kelas hanya bisa mengangguk kepala lemah memastikan perkataan tersebut.

"Dimana tempat tersebut?"

"SMA Nagantejouki"

.

.

Maki dan Hanayo berdiri di depan gerbang memperhatikan suasana haru di hadapan mereka. Setelah masing-masing murid kelas menyampaikan pesan dan kesan yang penuh haru kepada anak yang hendak pindah sekolah, setelah itu kini giliran Rin yang menyampaikan perasaannya untuknya.

Sebenarnya ritual ini tidak wajib bahkan tidak direncanakan sebelumnya namun mereka menyampaikan itu secara spontan dan membuat penuh emosional. Angkatan anak kelas 1 terakhir itu begitu terpukul dengan kepergian salah satu rekan mereka ini. namun..

Rin tampaknya menjadi orang yang paling emosional dengan kehilangan ini. dia berkali kali mengucapkan kata-kata minta maaf kepadanya meski anak itu berulang kali telah menolak permintaan maafnya.

Jadi, begitulah kejadiannya bagaimana anak sekelasnya mengantar kepulangan Mutsuki-san yang telah dijemput oleh orang tuanya.

Mereka bertiga kemudian mengambil jalan pulang lain untuk bersama-sama meninggalkan sekolah. namun belum beberapa langkah mereka keluar, tiba-tiba datang satu mobil audi sport berwarna putih yang berjalan semakin pelan mendekati samping mereka.

Jelas ini bukan mobil milik Maki, karena dia sudah memberitahu pembantunya untuk tidak usah menjemputnya hari ini.

Deru suara klakson mobil memecah perhatian mereka bertiga ketika mobil itu berjalan mendekati mereka. Kaca hitam di belakang mobil perlahan mulai diturunkan untuk menampakkan isi penumpangnya.

Ketika itu orang yang pertama kali terkejut dengan kedatangan itu adalah...

"Rin-chan!"

Sang wanita muda itu melambaikan tangannya untuk menyapa ramah gadis yang berada di tengah dari ketiga siswi yang tengah berdiri keheranan itu.

"Nee-san?!"

"Hei, Rin-chan? Dia siapa?" bisik Hanayo.

"E.. he he he he he..."

Pertanyaan Hanayo itu pada akhirnya tidak terjawab setelah Maki juga ikut buka suara untuk merespon sang wanita muda itu

"Ahh, kamu kan?!"

"Hai, kamu pasti Nishikino Maki-san, kan? Senang berjumpa lagi."

"N.. Nee-san, apa yang sedang anda lakukan disini?"

Rin agak ragu untuk bertanya itu namun dia juga merasa sungkan setelah dua kali bertemu di hari yang berbeda secara berturut-turut. Agaknya sang wanita yang masih berada di dalam mobil itu tidak terlalu mempedulikan kondisi Rin bahkan dia menjorokkan tubuhnya ke bawah jok mobilnya untuk mengambil tas merahnya yang baru terjatuh. Dari sana dia mengeluarkan selembar kertas tiket untuk diberikan kepadanya

"Ahh, ini untukmu."

"Hmm?"

"Ini tiket kompetisi anak yang kemarin itu."

"Ah, Sakura-san, yah?!"

"Haik! Kebetulan aku kenal pemilik tempatnya jadi dia memberitahukan kepadaku jadwal penampilannya. Kamu bisa datang kan?"

"HAIK! Aku pastikan untuk bisa datang hari... nggghh!"

Tapi.. gadis itu memasang muka muram sedikit menarik alisnya.

"...minggu ini yah?"

"Umm?!"

Sesaat gadis itu menoleh ke belakang ke arah temannya yang masih tidak yakin dengan arah pembicaraan ini namun..

"Sudah, pergilah Rin." kata gadis berambut merah itu dengan lembut.

"Tapi..."

"...Tidak apa-apa."imbuh teman satunya sembari tersenyum. "Kita masih memiliki waktu semalaman untuk melakukan itu."

Rin menatap haru para sahabatnya itu namun agaknya wanita yang berada di dalam mobil itu juga merasa janggal dengan pemandangan ini sehingga dia memberanikan dirinya untuk bersuara kembali.

"Ehh, Mohon maafkan aku bila terlalu lancang untuk menanyakan ini tapi apakah mungkin sebenarnya kalian bertiga sudah ada janjian untuk mengadakan acara sendiri pada hari minggu ini, yah?"

"Haik, sebenarnya kami bertiga hendak belajar bersama selama malam sabtu-minggu ini."

"Ahh, Maafkan aku Rin!"

"T-Tidak apa-apa kok, Nee-san."

"Tapi..."

"..Daijobu!" sebuah suara lembut dari orang ketiga hadir untuk memecah keraguan Rin sembari mengangkat tangannya untuk menginterupsi percakapan mereka berdua

"...Hanya pastikan saja dirimu belajar sungguh-sungguh saat belajar kelompok besok." gadis berambut merah dengan iris mata berwarna ungu itu menghela nafas.

"L... Lagipula, ini semua adalah idemu, kan? Karena kamu yang telah menyeretku dalam kasus ini maka aku akan pastikan agar nilaimu tidak lebih rendah daripada kita bertiga. M—Meskipun, aku tidak pernah yakin dengan idemu bahwa melakukan belajar kelompok bersama dapat membuat nilaiku semakin membaik."

"Ahh, kamu benar juga sih, nyaa."

"Namun... Maka dari itu, sebaiknya aku menggunakan waktu ini untuk mengawasi kalian berdua agar sungguh-sungguh belajar dengan giat supaya bisa mengejar nilaiku. Kalau nilaiku lebih buruk setelah melakukan ini atau nilai kalian yang semakin jauh tertinggal dariku, mungkin saja aku tidak akan berteman lagi dengan kalian. Kalian sanggup?"

Bibir si gadis kaya itu terlihat menyeringai lebar sembari wajahnya didekatkan kepada wajah kedua sahabatnya itu. Situasi saat itu entah mengapa malah membuat kedua gadis berambut pendek itu menjadi horror.

"M-Maki-chan... Kamu terlalu dekat!"

"Maki-chan, serem, nyaa!"

Sementara itu sang wanita yang masih duduk di dalam mobil terlihat sangat menikmati suasana persahabatan itu sebagai sesuatu yang wajar.

"A ha ha ha ha ha... Senangnya jadi anak SMA!" dia mengakhiri salamnya sembari memberi aba-aba bagi sang supir sekaligus manajernya untuk bersiap tancap gas.

"Ahh, baiklah kalau begitu sampai jumpa minggu besok, Rin-chan."

"Arigato, Nee-san."

Sesaat kemudian mobil sport putih telah menghilang dari pandangan mereka dan meninggalkan trio gadis yang masih berada di trotoar jalan tersebut.

"Ah, jadi Rippi-san itu siapa, Rin-chan?" tanya Hanayo

"Ah, dia adalah seorang penyanyi lokal. Baru-baru ini kami bertemu kembali kemarin dan kebetulan kemarin kita berjumpa lagi di sekitar Akihabara saat menemui seseorang gadis yang sedang tersesat mencari sebuah tempat. Yah, begitulah kejadian singkatnya."

"...Hmm?"

"Ada apa Maki-chan?"

"Coba sini, aku lihat tiketnya, Rin?"

"Ah, silahkan..."

"...Hmm?"

"Hmm? Apakah kamu tahu sesuatu tentang acara ini Maki?" tanya Rin yang sedari tadi melihat gelagat aneh Maki yang nampak gelisah memikirkan sesuatu hal setelah melihat tiket tersebut.

"Tidak banyak." ucapnya singkat.

"Tapi aku sering mendengar tentang acara ini dari guru les pianoku."

"Intinya, acara ini adalah kompetisi piano SMA tingkat nasional dimana hanya peserta 40 besar dari setiap perfektur di Jepang yang bisa mengikuti kompetisi ini. Kalau kamu mengenal salah seorang dari mereka tentu dia adalah orang yang ahli memainkan piano"

"...Ahh?"

"Ada apa?"

"...T-Tidak."

"Aku hanya sedang berpikir seandainya Maki-chan mengikuti kompetisi ini tentu kamu akan memenangkannya."

"Ahh, ngomong apa kamu ini?! lagipula, sekolah kita kan gak ada ekskul musik, tentu saja aku tidak bisa mengikuti kompetisi semacam ini." katanya dengan pipi memerah.

"Tapi, kamu tentu ingin mengikuti kompetisi ini kan, Maki-chan?"

"E-Enggak juga, kok..."

.

Kala itu langit senja yang berada di atas mereka berwarna oranye kemerahan. Langit biru yang cerah sudah beralih menjadi gelap seolah ingin memberitahukan penghuni bumi bahwa waktu aktif mereka sudah usai dan kini waktunya untuk kembali ke rumah masing-masing.

Begitulah ketiga orang sahabat itu segera berlari menyusuri jalan trotoar untuk lekas sampai ke rumahnya masing-masing. Dan hari kamis telah berakhir, kemudian esok lusa mereka akan berjumpa kembali untuk agenda bersama yang telah mereka rencanakan di rumah Maki.

.

Periode 19: Selesai

.


Pojok Nulis: Maafkan saya belum up-date cerita ini selama beberapa waktu. Karena beberapa keperluan yang memakan waktu sehingga membuatku tidak sempat untuk menulis. Sejujurnya, aku juga tidak tahu apakah aku sudah kehilangan sense untuk menulis atau belum?


.

Bagian Encore ke-4: Pangeran dan Istana Bunga

Saat itu bunyi alarm berdering agak nyaring memecah keheningan pagi sebelum sinar mentari pagi memasuki jendela istana. Alunan irama musik mozard sengaja dipilih sebagai nada penanda alarm tersebut sehingga meninggalkan kesan mewah kepada penghuni istana lainnya untuk menerangkan bahwa sang penghuni kamar hendak bangun.

Namun...

"We will... We will... Rock You! We will... We will... Rock You!"

Hentakan keras dari nada dering ponsel itu segera membuat kedua kelopak matanya terbuka karena terkejut. Pemuda berambut pirang itu memiliki paras yang cocok menjadi aktor yang memerankan karakter film hollywood "ganteng-ganteng kok vampire", kulitnya yang putih seolah akan memantulkan cahaya matahari yang akan menyinari tubuhnya. Dia berpakaian setengah telanjang, piyama putih yang dikenakannya telah terbuka agak longgar sekarang. Saat ini dia segera meraih ponselnya untuk menghentikan kekacauan itu sebelum ada protes resmi dari penghuni istana lainnya atas gangguan yang ditimbulkan dari kamarnya.

"...Gezzz! seseorang pasti telah bermain-main dengan setting ponselku!"

Lelaki yang bernama lengkap Sir Edward Richard George Llywelyn itu berdiri dari tempat tidurnya menuju ruang beranda depan yang masih dingin, langit teduh hitam membiru dan fajar awal masih belum menampakkan dirinya. Seluruh pemandangan yang bisa dia lihat dari luar istana itu hanyalah suasana langit gelap yang berangsur-angsur menjadi biru tua sebelum memudar menjadi silau oranye kekuningan.

Di dalam istana itu ada peraturan khusus terhadap posisi istimewa keluarga istana.

Pada salah satu poin aturan utama adalah seorang rakyat biasa dilarang melihat atau bertemu tatap muka keluarga istana secara langsung dengan alasan apapun. Oleh karena itu adalah wajar jika sang pangeran tidak dapat menjumpai siapapun dari atas beranda luar itu.

Namun...

"Selamat pagi, pangeran Richard."

Seorang pelayan wanita muda yang baru saja menyapu bagian luar area istana sedang menatap sang pangeran di halaman taman dengan suasana akrab. Mulanya, pangeran terhenyak mendengar itu namun paras mukanya berangsur-angsur menjadi kesal dan sehingga membuat wanita muda tersebut salah tingkah dan menundukkan kepala lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" lelaki itu menekan kening yang berada di pangkal hidungnya agak dalam dengan tangan kirinya.

Sementara dia melakukan itu dia baru menyadari ada segumpal kertas yang memenuhi tangan kanannya. Dengan penuh heran dia membuka secarik kertas tersebut dan membacanya.

Isinya sederhana, sebuah tulisan inggris dan tulisan abjad aneh yang tidak dia mengerti di bagian bawahnya, yaitu: "Who Are YUO?!"

"YUO?" gumam pangeran pelan. "Siapa yuo itu?"

Sang pangeran lalu meremas gumpalan kertas itu semakin kecil dan membuangnya ke keranjang sampah. Dia lalu menuju ke kamar mandi untuk segera membasuh dirinya.

Di depan kaca wastafel itu dia mengamat-amati wajahnya yang masih setengah mengantuk dan sedikit mendesah tersenyum.

"Syukurlah itu semua cuma mimpi... Ahh, mimpi yang aneh."

Lelaki muda itu lalu meninggalkan ruangannya dengan mengenakan pakaian polo sport dan sepatu putih untuk melakukan aktivitas sehari-harinya: olahraga di pagi hari: jogging.

Saat itu tidak banyak pegawai istana yang dapat dia jumpai namun meskipun dia sempat bertemu hampir seluruh pegawai istana itu bersikap lebih ramah daripada biasanya, mereka bahkan seperti menganggap pangeran seperti salah satu keluarganya sendiri. Hanya saja respon sang pangeran tetap seperti tidak terganggu dengan hal tersebut melainkan memasang muka cuek bebek.

Namun ada sesuatu yang berbeda, ketika dia hendak keluar dari pintu istana ada salah satu kejadian yang membuat dia terkejut yaitu saat melihat kondisi taman depan istana yang dia banggakan. Mata lelaki itu hampi-hampir keluar apabila ia terus menatap pemandangan tersebut.

Biasanya taman itu hanya berupa hamparan rumput hijau yang membentang luas dengan kolam air mancur berkeramik pualam di bagian tengahnya namun pemandangan itu seluruhnya berubah ketika tanah hijau itu tumbuh beraneka macam bunga berwarna-warni yang menghiasi sekeliling kolam. Susunan bunga itu dibuat simetris sehingga terlihat setengah melengkung, tinggi di bagian luar dan merata pendek di bagian dalamnya.

"Pe-Pelayan! Pelayan!"

"A-Ada apa, pangeran muda?" salah satu pegawainya segera mendekatinya.

"...S-Siapa? Siapa orang yang berani-berani memberikan otoritas untuk menata tamanku ini?!"

"..."

Tidak ada suara, bahkan pegawai itu kelihatan ling-lung kesulitan untuk menjawabnya.

"Heh? Aku tanya sekali lagi siapa orang yang mengijinkan kalian menyentuh taman pribadiku ini?!" tandas sang pangeran dengan penuh amarah. Lalu sang pegawai muda itu dengan ragu-ragu menundukkan kepala mulai menjawabnya:

"M-Maaf pangeran muda... B-Bukankah pangeran muda sendiri yang memerintahkannya kemarin?"

"Kemarin? Hah?!"

Belum sepenuhnya dia bisa melancarkan protes kembali namun tiba-tiba perkataannya terpaksa berhenti karena disela oleh kehadiran sebuah helikopter yang hendak turun menuju helipad area istana. Lambang palang putih yang dominan dengan warna merah pada kulit capung terbang itu menandakan bahwa helikopter itu berasal dari negara skandinavia.

"Siapa itu?"

"Huh?!"

"Aku tanya siapa itu?!"

"M-Maafkan saya pangeran, tapi bukankah pangeran sendiri yang mengundang tamu tersebut untuk datang?"

"...B-Beliau adalah Putri Emilia dari Denmark."

.


.

Guest chapter 17: Awakakakk... Nih anak grup LLSS! di Line yak? siapa nih, ngaku?! XD. Cerita ttg Hanayo-Arc ada di cerita spin-off saya yang terbaru ini. Kalau kamu bisa paham cerita itu maka kemungkinan kamu bisa paham peran ceritanya di story ini. :3