Periode 20: Misteri Pertama
.
SMA Otonokizaka adalah sekolah khusus wanita yang terletak di daerah Kanda, Tokyo.
Meskipun Kanda terletak di pusat kota Tokyo dan berada satu area dekat Akihabara yang terkenal dengan hiruk pikuknya namun letak area ini seolah-olah terlupakan. Bagaimanapun juga ini tidak bisa disalahkan. Seiring dengan perkembangan jaman, pemerintah Tokyo terus berusaha meremajakan dan memperbaharui teknologi yang berkembang pada setiap daerah mereka namun tidak sedikit juga daerah yang sengaja dibiarkan begitu saja supaya tetap mempertahankan corak kultur lama yang sudah ada disana. Salah satunya adalah daerah Kanda. Bahkan, jika melihat ke belakang, terakhir kali wajah daerah ini mengalami perubahan adalah pada masa akhir perang dunia kedua.
Sebagaimana sekolah privat pada umumnya di jepang, para siswi di sekolah Otonokizaka masuk "full-day" pada hari senin sampai hari jum'at dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Meskipun ini adalah sekolah khusus namun sekolah ini tidak bisa dikatakan sebagai sekolah yang prestige selayaknyatidak banyak trofi kejuaraan yang dapat mereka koleksibahkan untuk tingkat regionalsekalipun.
Meskipun begitu tetap saja tidak bisa dikatakan bahwa sekolah ini tidak berguna sama sekali. Sebagai bukti yaitu masih berdirinya bangunan sekolah ini yang merupakan satu-satunya bangunan sekolah menengah atas swasta terakhir yang masih bertahan di daerah itu dan menjadi saksi bisu yang kokoh terhadap . Hanya saja, kabar buruknya adalah sekolah ini juga mengalami permasalahan yang sama sehingga menjadikannya segera "gulung tikar."
Hari ini adalah hari sabtu jadi tidak ada kegiatan sekolah yang berlangsung hari ini.
Ah, tentu saja itu tidak berlaku bagi guru sekolah disana yang masih sibuk mengurus laporan pekerjaan mereka di sekolah.
Namun, kita akan mengesampingkan cerita itu sekarang.
Mari kita pergi sekitar 1,5 KM di sebelah barat dari tempat ini. Lebih tepatnya berada di perumahan elit di daerah Shinjuku.
.
Selamat datang,
Saat ini kita berada di sebuah rumah megah bergaya eropa klasik dengan pualam putih yang mendominasi arsitekturnya. Desain rumah ini lebih cenderung terlihat seperti sebuah kastil dengan halaman hijau luas yang mengelilinginya, juga terdapat beraneka ragam bunga-bunga yang dirawat di setiap sudut halaman ini.
Kini disana terlihat ada tiga gadis yang sedang berkumpul dan bercengkrama bersama tanpa memakai pakaian resmi di depan pintu. Tampak ekspresi campur aduk yang diperlihatkan mereka.
Seorang diantara mereka tampak cukup tomboy dengan pakaian overall jeans biru muda yang melingkupi kaus lengan panjang berwarna putih di bagian dalamnya yang dikenakannya terlihat cukup riang dan antusias untuk menyambut sang pemilik rumah yang baru saja datang menemui mereka. Seorang gadis yang lebih fenim disebelahnya dengan pakaian kaus tipis yang dibalut oleh jaket kuning muda dan rok mini separuh lutut putih nampak cukup canggung dan takjub saat mengintip ke dalam pintu yang yang telah dibukakan oleh pemilik rumah. Dan gadis terakhir, sang pemilik rumah ini, gadis berambut merah scarlet itu tampil lebih santai dengan kaus tanpa lengan ungu dan celana mini berbahan kain merah menatap mereka keheranan dengan raut bosan.
(overall/overal: Jenis pakaian terusan berbentuk satu set dengan celana panjang dengan dua utas tali di bagian atas baju yang sering digunakan tukang mekanik atau tukang kebun. (pakaian kerja berupa baju dan celana panjang longgar, biasanya dipakai di luar pakaian yang dikenakan. Src: KBBI). Google image aja kalo gak paham)
"p-permisi." sang gadis feminim itu nampak canggung saat pertama kali memasuki rumah ini
"ayolah, Kayo-chin... cepat masuk, Maki-chan sudah nungguin kita lho!"
"ii-iyaa, aku tahu kok! J-jangan tarik-tarik gini dong, Rin-chan!"
Kegaduhan itu sudah bermula bahkan dari depan pintu rumah. Berdiri di hadapan mereka berdua para pelayan rumah Nishikino Maki yang telah berderet rapi untuk menyambut kedatangan para tamu Nishikino Maki yang masih sibuk untuk melepaskan sepatu.
Saat itu putri pemiliki rumah ini yang pertama-tama membukakan pintu telah beranjak pergi menuju kamarnya karena perannya diambil alih oleh para pelayan yang memaksa dia untuk tidak mengganggu pekerjaan harian mereka dalam rangka menyambut para tamu tersebut. Jadi, begitulah ceritanya sehingga Rin Hoshizora dan Hanayo Koizumi terpaksa ditinggilkan sendiran untuk sementara waktu.
Paras canggung tampak dari wajah Hanayo Koizumi saat menerima perlakuan spesial tersebut. Seorang maid menawarkan diri untuk membawakan tas mereka, seorang lagi sudah bersiap dalam posisi merendahkan badannya untuk menunggu mereka meletakkan sepatu dan membawanya rak sepatu dan sisanya kembali ke tempat mereka masing-masing. Berbeda dengan Hanayo Koizumi, Rin Hoshizora yang sebelumnya pernah berada di dalam rumah ini cukup mengerti dengan "budaya" rumah Nishikino Maki sehingga dia tidak terlalu merasa risih dengan perlakuan tersebut.
.
Singkat cerita, pada akhirnya mereka telah sampai ke dalam kamar Nishikino Maki yang berada di lantai 3.
"Hmm, kalian berdua mau sampai kapan berdiri disana? Ayo masuk."
"Ehh, h-haik.."
Kedua gadis itu hanya bisa terheran-heran melihat kamar Nishikino Maki yang begitu luas dan asri. Ruangan ini hampir nampak seperti ruang tamu "normal" apabila tidak terdapat sebuah ranjang ukuran King Size di bagian tengah. Hampir seluruh fasilitas yang orang biasa dambakan telah tersedia di dalam ruangan ini, seperti kulkas dan TV flat, AC, meja belajar, PC pribadi, dll.
Kamar Nishikino Maki nampak selalu terang, bukan karena cahaya lampu melainkan karena banyaknya jendela kaca satu arah yang terpasang dan menghadap persis ke bagian luar taman rumahnya. Sebuah pemandangan yang begitu asri dan sejuk dipandang mata oleh karena intensitas cahaya matahari yang memasuki ruangan ini bukan lagi sinar yang menyengat kulit namun juga sudah disaring oleh kaca jendela yang terbuat dari fiber optik khusus untuk menyerap sinar ultra violet dan radikal bebas lainnya sehingga berhasil menjanjikan panorama tersebut.
Pagi menjelang siang hari dan mereka secara resmi membuka kegiatan belajar kelompok perdana ini.
"Ok, Hari ini kita secara resmi memulai acara belajar kelompok kita." kata Nishikino Maki diiringi tepuk tangan dari kedua temannya yang duduk di sebelah kiri dan kanannya.
Sebelumnya di kamar tersebut Nishikino Maki telah menyediakan satu meja kotatsu ukuran sedang sehingga Rin Hoshizora dan Hanayo Koizumi dapat duduk bersebelahan di sisi lainnya dengan leluasa. Alasan mengapa Nishikino Maki memasang kotatsu adalah karena Rin Hoshizora yang memintanya secara pribadi karena tidak leluasa belajar menggunakan bangku seperti halnya di sekolah. yah, tentu saja benda itu tidak dalam kondisi menyala. Lagipula orang bodoh mana yang menyalakan kotatsu di musim panas.
(Kotatsu: Penghangat yang berbentuk meja pendek, di bawahnya ada pemanas listrik, lalu di atas meja tersebut dilapisi dengan futon (jenis perangkat tidur tradisional Jepang). Penghangat tersebut dipakai dengan cara memasukkan kaki sampai ke pinggang di bawah meja agar tubuh terasa hangat. Src: matcha-jp)
"Jadi, kita mau belajar apa dulu sekarang?"
"Hmm, sebelumnya kita harus mengetahui kelemahan pelajaran masing-masing dari kita." usul Hanayo Koizumi sembari mengeluarkan kertas ulangannya.
"Ah, baiklah..."
"Hmm, Rin Hoshizora.. Mana kertas ulanganmu?"
"Enn... Aku nggak usah, yah?"
"Heeeh? RIN HOSHIZORA!" Hanayo Koizumi mendelikkan mata dengan sangat intens kepada gadis tomboi itu.
"H-Haik! Moo, Kayo-chin nakutin!"
"Jadi, mana?!"
"Nih..."
Dengan agak terisak Rin Hoshizora mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya dengan ragu namun Hanayo Koizumi tanpa berbelas kasihan tetap merebutnya dan mengamati nilai di 6 lembaran kertas tersebut meskipun pada akhirnya dia hanya bisa geleng-geleng kepala saja saat menatap seluruh nilai di bawah rata-rata tersebut. Nishikino Maki kemudian mengambil alih lembaran kertas yang sudah ditinggalkan perebutnya namun sama seperti Hanayo, dia juga ikut mendesah nafas panjang.
"matematika: 40, sejarah jepang: 50, sastra jepang: 55, sains: 45, bahasa inggris: 70, komputer: 60." Nishikino Maki membacanya terang-terangan.
"HEH, APAAN INI?!"
"Nyaa, setidaknya berkat sering begadang main game jadinya nilai bahasa inggris dan komputer Rin Hoshizora jadi bagus kan, nyaa?!"
"Bagus?!... Rin Hoshizora, kamu itu beneran yah... B-BA-KA! Padahal kamu duduk di sebelah Hanayo Koizumi namun nilaimu itu benar-benar berbeda layaknya langit dan bumi"
"Kayo-chin sih gak mau bagi contekannya!" protes sang kucing sambil menggembungkan pipi menatap Hanayo Koizumi.
"Ehh, i-itu... hehehehe..."
"Gunakan otakmu sendiri, bodoh!"
"H-Haaiikk!" suara Rin Hoshizora mendadak melengking saat mendengar teguran Nishikino Maki yang menggebrak meja hingga hampir menumpahkan minuman di atasnya.
"Yah sudahlah, mau belajar apa dulu sekarang?"
"BTW, Kalian berdua sudah ngerjain PR?" usul Rin Hoshizora.
"Hmmm? Jangan-jangan kamu mau nyontek yah? Kerjain sendiri sana!"
"Yah, ketahuan deh!" sang gadis kucing itu memukul sebelah kepalanya dengan kepalan tangan kanan ringan sembari menjelirkan lidah kecilnya kepada Nishikino Maki yang melototinya.
Pada permulaan satu hari yang panjang di rumah Nishikino Maki tersebut, Rin Hoshizora dkk memulai kegiatan belajar mereka dengan mengerjakan tugas PR mingguan mereka. Masing-masing belajar dengan style mereka masing-masing. Ada yang sambil mendengarkan walkman, seorang lagi sembari nyemil, seorang lagi sibuk dengan ponselnya.
"Yappari, seharusnya aku membawa meja yang lebih tinggi saja." keluh Nishikino Maki melepas kacamata belajarnya.
"Ahh, begini saja sudah cukup kok, Nishikino Maki-chan." respon Hanayo Koizumi.
"Err, yang aku maksud bukan kamu, sih. Maksudku yah si gadis baka itu."
Nishikino Maki melipirkan matanya bersama Hanayo Koizumi untuk melihat Rin Hoshizora yang sudah separuh terbangun-tertidur saat menyandarkan dagunya ke atas papan meja panjang tersebut. Sementara itu suara "nyaa~~" terdengar manja memenuhi ruangan ini.
"Hora! Rin Hoshizora! Bangun! Bukannya kamu sendiri yang meminta belajar bareng?! Kenapa kamu sendiri malah tidur sekarang!"
"Eehh? Tapi Rin Hoshizora gak ngerti jawaban pertanyaan ini, nyaa! Kenapa aku harus membayar 4 apel sebesar 200 yen, padahal kalau beli di toko sebelah rumahku cuma bayar 40 yen saja! Ini pasti konspirasi permainan pasar! Pasti penjualnya curang! Lagipula ibu ini aneh, padahal mau beli 1 apel saja harus hitung total 3 apel, nyaa?!"
"Gezz, itu kan cuma soal matematika, baka! Kamu tinggal membaginya 1/4 dari 200 yen untuk menjawabnya. Ah, kamu itu kebanyakan alasan aja!"
"Moo, Lagipula kamar Nishikino Maki suasananya dingin banget jadi kepengen bobok!"
"Heh?! Mau aku matiin AC-nya!"
"J-Jangannnnnn!"
"Trus maumu apa?!"
"M.A.I.N!"
"Cuci muka sana!"
.
Pada akhirnya Rin Hoshizora terpaksa dikeluarkan dari ruangan itu untuk menuju kamar mandi kediaman Nishikino. Yah, tentu saja bukan Rin Hoshizora namanya kalau melakukan segala sesuatunya dengan normal. Bukannya menuju toilet, dia malah sibuk menjelajah setiap sisi rumah Nishikino Maki yang nampak lapang tersebut secara mengendap-endap sehingga tidak ketahuan oleh pembantu Nishikino Maki. Namun...
.
"Haa...ah? Sudah kuduga pasti bakalan begini... Yah sudahlah!" si gadis berambut merah itu tampak menahan dagunya dengan tangan kiri di atas meja menatap ponselnya.
"Hmm? Ada apa, Nishikino Maki-chan?"
"Nggak apa-apa. Hmm, sampe nomer berapa tadi kita sekarang?." kata Nishikino Maki sembari mematikan video live streaming CCTV rumah yang terpasang di smart phone miliknya.
.
"Heeehh, sugeee... Geeeddee!"
"I-Ini lemari isinya buku semua? Huh?!"
Saat ini Rin Hoshizora yang secara serampangan menjelajah rumah ini memilih jalur acak yang menuntun dirinya kepada sebuah ruangan gelap yang terletak di ujung tangga rumah tersebut. Kamar itu sebetulnya gelap dan tanpa penerangan lampu namun seperti kata Rin Hoshizora bahwa di kamar ini terkumpul buku-buku yang diletakkan di dalam lemari.
"Tunggu sebentar, kenapa banyak buku yang berserakan di bawah sini? Nyaa, bahkan keluarga Nishikino bukan orang yang terlalu rapi juga yah? Baiklah, Rin Hoshizora yang baik hati ini akan sedikit membantu untuk mengembalikannya ke tempat yang seharusnya."
Satu demi satu buku yang berserakan itu dikembalikan ke tempatnya namun sesuatu yang seharusnya merupakan kegiatan normal itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah kejadian tidak terduga ketika Rin Hoshizora selesai menaruh buku terakhir di sela buku-buku tersebut. Dia tiba-tiba mendengar bunyi "klik" yang membuat lemari itu bergetar dan berputar 90°.
[Heh?!]
[P-Pintu rahasia, nyaa?!. Tunggu sebentar? Entah kenapa ini seperti permainan RPG? Jangan-jangan di dalam ruangan ini ada peta harta karunnya, yah? Tapi, kalau di dalamnya malah ada monster gimana? Eeeh, S-Sugoi nyaa! Tapi, Apakah Rin Hoshizora boleh Masuk?]
(RPG: Role-playing video games. : Permainan peran video. Salah satu genre permain video dimana para pemainnya memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama. Contoh permainan ini adalah Final Fantasy. Src: Wikipedia)
"Kulo nuwunn..."
.
"Hmm, Rin Hoshizora-chan kenapa lama sekali yah? Jangan-jangan dia beneran tersesat yah?" kata Hanayo Koizumi sembari menaruh pensil mekaniknya.
"Ahh, mungkin dia jalan-jalan keliling rumah ini. Kamu ini kayak gak ngerti kelakuan Rin Hoshizora aja?"
"Err, memangnya kamu gak keberatan, Nishikino Maki-chan?"
"Hmm, aku?. Nggak masalah, sih. Lagipula tidak ada hal menarik yang berada di rumah ini."
Mendengar jawaban tersebut Hanayo Koizumi hanya bisa memberikan pandangan datar dan bengong ke arah gadis yang masih terpusat pada buku pelajarannya ini.
Alasan mengapa Hanayo Koizumi berekspresi seperti itu karena jawaban yang diberikan oleh Nishikino Maki itu sangat dingin dan tidak berperikemanusiaan. Ringkasnya, siapa sih orang yang tidak rela untuk bertukar tempat dengan dia saat ini? hidup dengan berbagai kelimpahan yang membuat iri orang lain setiap harinya? Tentu saja semua orang pasti menginginkan itu.
Dan dia mengatakan bahwa tidak ada hal menarik di rumahnya? Entah dia sedang merendahkan diri atau merendahkan derajat orang yang baru saja mengagumi rumahnya, seakan hendak mengatakan bahwa "seleramu itu terlalu rendah bagiku!".
Tapi, bagaimanapun juga yang bisa dilakukan Hanayo Koizumi sekedar memandang Nishikino Maki saja. Sebuah pandangan tidak berekspresi namun tajam yang hendak merasakan iri hati namun paham bahwa dia tidak berhak melakukan itu.
.
"Sebuah lorong, nyaa?!"
"Mou, kenapa gak ada lampu di dalam sini, nyaa?! Untunglah, HP Rin Hoshizora ada senternya jadi bisa dipakai untuk menerangi jalan. Err, apakah lorong ini ada ujungnya?"
.
"Yappari, sepertinya aku memang harus pergi untuk mencari anak itu sekarang."
"Hanayo, kamu itu terlalu cemas. Kenapa kamu tidak mencoba meneleponnya dulu?"
"T-Tapi?. Huft, kamu benar. Aku cuma teringat dengan kejadian di masa lalu, dulu sewaktu masih SD kami pernah bertamasya di dalam museum dan dia pernah terpisah dari rombongan dan tersesat di dalam toilet, tapi mana mungkin itu terjadi sekarang?. M-maksudku, Rin-chan sekarang sudah besar kan? A ha ha ha ha..."
Hanayo Koizumi menerima saran Nishikino Maki dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rin Hoshizora
"Moshi-moshi... Rin Hoshizora-chan, Kamu dimana?"
"Err, nggak tahu, Kayo-chin."
"Apakah tolilet rumah Nishikino Maki begitu jauh?"
"Err... I-Itu..."
"Hwoi, kamu ada dimana sekarang?"
"...Nggak tahu, beneran nggak tahu! Sejauh yang Rin Hoshizora lihat semuanya gelap!"
"Jangan-jangan kamu nyasar?!"
"I-itu... KYAAAAA!"
"RIN HOSHIZORA-CHAN!" Hanayo Koizumi berteriak penuh kecemasan saat mendengar suara balasan dari ponselnya itu. situasi tidak wajar ini jelas membuat Nishikino Maki tergerak untuk bertanya meskipun dia seharusnya menggerutu kesal sekarang.
"Eh, ada apa Hanayo Koizumi?"
"Entahlah, Rin Hoshizora-chan tampaknya benar-benar nyasar, dia cuma bilang gelap lalu di bagian akhirnya terdengar lengkingan keras. Sesuatu pasti sudah terjadi kepada anak itu."
"Sial, Sepertinya kamu benar. Aku tidak melihat ada anak itu disini." katanya memonitori video di ponselnya.
"Ehh, kenapa kamu memiliki alat semacam itu?! Tapi, kalau begitu dia ada dimana sekarang?"
"Hmm, sepertinya tidak ada tempat lain. Cuma ada satu tempat di dalam rumah ini yang lolos dari pengawasan CCTV. Itu adalah..."
.
"Aduhh!"
"Becek? Ah, HP rusak lagi!"
"Sepertinya Rin lebih baik kembali ke tempat asal aja deh. Tapi, ini dimana?. Oh iya, Rin kan barusan jatuh dari atas yah? Itu berarti... Heh, gimana caranya Rin supaya bisa kembali pulang?!"
"Sinar? Apa itu? Apakah mungkin bila Rin Hoshizora berjalan lurus ke depan akan menemui jalan keluar?"
Gadis itu ragu karena untuk pertama kalinya dia berada di tempat aneh semacam ini. Degup jantungnya berdebar kencang karena tidak tahu bahaya atau kejutan apa yang akan menanti dirinya namun berulang kali dia memikirkan itu tetap saja tidak mendapatkan jawabannya jadi dengan mantap dia memutuskan untuk beranjak meninggalkan tempat itu dan mulai berjalan mengejar sumber cahaya tersebut.
Tempat itu tidak terlalu jauh, cahaya terang yang dia lihat ternyata membawanya untuk mendongakan kepala ke atas. Sepertinya itu adalah sebuah ventalisi cahaya dengan ketinggian 10 meter yang masih tertutup kaca. Tidak jarang dia mencoba untuk berteriak namun tetap saja tidak orang yang menghampirinya. Menyerah, dia terduduk di tempatnya berada dan menatap ornamen di sekeliling jendela tersebut.
[Sepertinya aku pernah melihat ornamen itu di suatu tempat. Dimana yah? Hmm...]
Tiba-tiba dia menyadari sedari tadi bahwa ada sesuatu yang bercahaya berasal dari tubuhnya. Itu lebih tepatnya terletak di daerah lehernya. Terang itu berwarna merah jambu namun cahaya itu tidak berfokus kepada lehernya saja namun menyebar ke sekujur tubuhnya.
Rasanya aneh juga melihat fenomena tersebut, tidak ada sesuatu apapun yang terjadi cuma tampaknya cahaya aneh itu saja. Segera dia meronggoh ke bagian dalam kerah bajunya dan mendapati sumber cahaya itu ternyata berasal dari kalung miliknya. Ketika dia mengangkat kalung tersebut, cahaya yang melingkupi tubuhnya perlahan menghilang namun sebaliknya cahaya merah jambu itu turut menyebar menerangi seluruh lingkungan sekitarnya. Rin Hoshizora lalu menyadari bahwa asal cahaya ini berasal dari pantulan bias cahaya dari atas kepada kalung miliknya. Entah bagaimana caranya.
[A-Apa ini?]
Dia kemudian berdiri dan mengamati sekelilingnya. Nampak dengan jelas sebuah ornamen ciri khas eropa abad pertengahan tergurat dengan indah di dinding berbentuk melingkar tersebut. Sebuah patung dewi Athena terletak di pojok dekat pintu dia memasukinya. Sebilah pedang perak tergantung di sebuah perapian yang tertutup dan tatanan kursi taman yang dibentuk melingkar. Selain itu, corak untaian ornamen bunga mawar merah dan sakura berpadu menjadi satu menghiasi sekeliling ruangan tersebut. Bahkan dengan pancaran cahaya yang berasal dari kalungnya tersebut nampak bahwa ruangan tersebut berubah menjadi taman bunga mini yang cukup elok untuk dinikmati.
Namun, sesuatu yang lebih menarik baginya tergantung di bagian atas dinding dia menatapnya. Sebuah lukisan gambar cukup besar menggantung dengan agung. Sepintas Rin Hoshizora mengira itu adalah gambar keluarga Nishikino Maki namun dia sadar bahwa dia pasti salah karena meskipun salah satu gambar disana adalah seorang lelaki yang cukup akrab dalam ingatan Rin Hoshizora, ayahnya Nishikino Maki tapi kedua orang lainnya yang menjadi pusat foto tersebut adalah foto orang lain yaitu sepasang pengantin yang baru menikah dan jelas bukan dari keluarga Nishikino.
Gambar lukisan itu adalah seorang bule berambut pirang yang memakai tuxedo hitam pernikahan bersama seorang gadis bergaun pesta putih sedang memegang sekuntum bunga mawar. Anehnya, wajah wanita ini tidak asing lagi bagi Rin Hoshizora namun dia tidak berhasil menebaknya. Saat ini dia hanya bisa memaki dirinya yang telah merusakkan ponselnya. Andaikata dia bisa memotret lukisan tersebut mungkin dia bisa memperoleh jawabannya suatu hari nanti.
Bergegas dia mulai meninggalkan tempat itu dan menuju ke pintu keluar lainnya dan berharap bisa keluar dari tempat ini. sekali lagi dia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya dan tersenyum saat mengamati foto tersebut, seorang lelaki berdarah campuran korea-amerika, seorang lelaki bangsawan inggris dan seorang wanita muda berwajah asia.
.
Tepat ketika Rin Hoshizora keluar dari tempat tersebut dia mendapati bahwa pintu keluar dibelakangnya secara misterius telah menutup. Kini, tidak ada jalan keluar kembali selain terus maju. Ruangan yang berada di tempatnya sekarang bukanlah ruangan yang luas bahkan hampir mirip tabung silinder sempit yang memiliki atap terbuka. Sumur?. Untungnya dia samar-samar melihat sebuah tiang penyangga berbaris yang menjulang teratur hingga atas.
[I-Itu tangga...!]
Namun belum sempat sesuatu terjadi dari dalam dasar tempat dia menjejakan tanah. Sebuah gemuruh besar terdengar oleh anak itu. hatinya berdegup kencang saat dia hendak menyambut kejadian yang tidak diketahui itu. Tidak ada yang paham dengan kejadian tersebut. Suara yang terdengar berikutnya bukanlah suara manusia melainkan...
Itu adalah...
.
"Nishikino Maki-chan, kamu yakin Rin Hoshizora-chan ada disini?"
"Hmm, sepertinya. Mungkin." Gadis itu mencoba bersiul tanpa suara.
"Lalu kenapa kita berada diluar rumahmu, bahkan tepat di depan tamanmu ini."
"Hmm? Ahh, Kurang 2 menit lagi." katanya mengamati arloji di tangannya. Saat ini adalah jam 11:58
"Jadi, Hanayo Koizumi-chan, Kamu mau teh rossela?"
"...B-Boleh. Tapi, maksudmu apa Nishikino Maki-chan?! Dimana Rin Hoshizora sekarang?!" jawab Hanayo Koizumi panik namun kembali Nishikino Maki tidak merespon itu dan mengalihkan pandangannya kepada salah satu pelayan yang berada di sampingnya.
"Pelayan, tolong buatkan kami 3 cangkir teh rosella."
Pelayan wanita itu kemudian menundukkan badan dan segera pergi meninggalkan Nishikino Maki dan Hanayo Koizumi berdua di tengah taman pribadi tersebut.
"Nah, sekarang waktunya.." kata Nishikino Maki menggenggam tangan Hanayo Koizumi.
"...K-Kemana?"
"Bukannya kamu mau menemui anak baka itu?"
"Ohh..."
Saat itu Nishikino Maki membawa Hanayo Koizumi ke depan sebuah kolam ikan yang kosong. Awalnya Hanayo Koizumi tidak mengerti namun kemudian terdengar gemuruh air yang begitu keras seakan hendak mengamuk menerjang ke arah mereka namun itu saja, tidak ada sesuatupun yang terjadi. Alih-alih keluar air yang menyambut mereka bahkan saat ini terlihat sebuah pancuran air yang menyembur begitu kuat ke atas bak Geiser. dan di sela-sela suara gemuruh air itu terdengar suara pekikan wanita yang terdengar nyaring.
Nishikino Maki mulai menyeruput teh yang baru saja datang tersebut sementara Hanayo Koizumi hanya bisa membelalakan mata saat mendapati pemandangan di depan matanya. Seekor, sejumput, sesosok makhluk asing mulai terlihat terbang ke angkasa dari tengah semburan volume air yang begitu keras itu. itu adalah seorang manusia. Seorang gadis. Dia adalah Rin Hoshizora Hoshizora.
"R-RIN HOSHIZORA?! TERBANG?!"
"Wah, aku baru tahu lho kalau kucing ternyata bisa hidup di air. Ah, ini pasti spesies ikan baru, ikan kucing." sindir Nishikino Maki sembari kembali menyeruput tehnya.
"BhukBhukBhuk! Sialan loe! Gue mau mati tenggelem masih dikatain pula! Tolongin kek..."
"Yey! Salah sendiri... disuruh ke toilet untuk cuci muka malah main ke kolam buat renang sekalian! Yah, bagus deh, seenggaknya loe sudah bangun sepenuhnya, toh?!"
"Siapa yang mau renang juga, koplak?!"
Kali ini Nishikino Maki sudah maju ke tepi kolam dengan berkacak pinggang menatap wanita itu tajam. Sama sepertinya Rin Hoshizora juga menatap dia tidak terima.
"Oh iya, emang bukan renang sih, nyelem iyee.."
"e-eto, Nishikino Maki-chan?" terdengar suara Hanayo Koizumi yang sedang menarik punca bajunya dengan tatapan memelas. Melihat itu Nishikino Maki menghentikan egonya dan mulai memanggil pelayan yang sudah membawakan handuk untuk mengangkatnya dari dalam air.
Pada akhirnya Rin Hoshizora mengakhiri tengah siang hari ini dengan berbalut handuk tebal karena sekujur bajunya sudah basah kuyup.
.
Periode 20: selesai
.
.
Bagian Encore ke-5: Belahan Dunia Lain dan Reaksi Yang Asing.
.
"Hosh! Hosh! Hosh!"
Dia terengah-engah di atas futon tempat dia berbaring sebelumnya. Seberkas cahaya menembus jendela kamarnya menyapa kegelapan ruangan tersebut untuk sirna dan bergegas menyambut pagi. Tidak ada yang spesial di hari itu hanya saja dia merasa seluruh tubuhnya terasa lebih pegal daripada biasanya.
[Ugh, sakit?]
Kala itu dia memegang kulit pipinya yang terasa perih. Agak memar?, [hmm, sepertinya kemarin aku terjatuh dari tangga lagi yah?] terlihat daerah lebam pada kulit putih di sekitar pergelangan tangannya saat dia mengamati kedua buah telapak tangannya yang terbuka lebar. Dengan segenap tenaga dia memaksakan dirinya untuk bangun dan beranjak dari tempat itu. Bagaimanapun hari ini dia harus berangkat ke sekolah.
"Selamat pagi?" sapanya kepada kedua orang tuanya yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Ayahnya duduk di meja makan untuk membaca koran dan menikmati secangkir kopi seperti biasanya.
"Ah, Mari-chan? Jadi, hari ini kamu sudah bisa mengingat orang tuamu dengan benar yah?" komentar sang ibu yang direspon heran oleh putrinya tersebut. Sembari mengambil kursi di seberang meja tempat ayahnya duduk, dia duduk masih dalam keadaan seperempat mengantuk untuk menerima sarapan.
"Hmm, memangnya kenapa?" tanya sang anak keheranan.
"Kamu tidak ingat? Kemarin kamu membentak ayahmu dengan sebutan kacung lalu kamu membentak ibumu seperti pelayan seenakmu sendiri. Belum lagi ulahmu yang mendadak ngelatur berbicara bahasa inggris!" jawab sang ibu mengeluh.
Ayahnya sedang membalik halaman korannya sembari menghela nafas, "yah, setidaknya dia ingat mamasang kancing piyamanya dengan benar kali ini."
"Huh?"
"Kau itu hampir seperti orang yang tidak tahu adat dengan pakaian setengah telanjangmu kemarin."
Perkataan terakhir sang ayah itu benar-benar membuatnya sangat terhenyak dan mematung memerah sehingga dia begitu takut untuk menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi di hari kemarin. Memangnya dia melakukan apa? Kenapa dia tidak mendapatkan memori itu? Juga, apa yang membuatnya mengalami luka cidera sedemikian rupa pada sekujur tubuhnya?
[Tapi, kemarin? Bukannya kemarin hari rabu?]. Dia menoleh kearah dan kalender dan mendapi bahwa hari sudah melompat satu hari. [Ini hari jum'at?] kalau begitu mengapa dia tidak ingat apa-apa selama satu hari kemarin? Waktu berputar lebih cepat? Ataukah?
Samar-samar dia mengingat mimipinya yang begitu aneh. Itu adalah sebuah taman hijau rindang yang begitu besar. Kuda putih yang berlari kencang. Gedung sekolah menjulang tinggi yang nampak klasik. Dan...
.
"Mari-chan!"
Dia menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya dan mendapati seorang gadis berseragam sekolah yang sama dengannya sedang berusaha mengejarnya dengan langkah cepat.
"Nishikino-san?" sapanya kepada gadis berambut merah tersebut namun dia wajahnya nampak cemberut dan memukul belakang kepalanya tidak terlalu keras.
"Daaaameeeeee! Nishikino janai! Haruna da!"
"Ahh, ittai!" sontaknya sambil mengelus-elus kepalanya.
"Yokatta!" gumamnya sembari tersenyum. "Yah, setidaknya hari ini kamu sudah kembali normal kembali. Kamu tidak lupa memasang dasi dan kaus kakimu tidak kelihatan berantakan hari ini. selain itu..."
"Kyaaaa...!"
Tiba-tiba dia berdiri di belakang badannya dan berbalik memandang bagian bawahnya. "...Inspeksi terakhir." Dengan perkataan tersebut tangannya dijulurkan maju ke depan untuk menyingkap rok belakangnya yang menampakkan celana dalam putih bermotif kupu-kupu di dalam isinya.
"a-apa yang sebenarnya kamu lakukan?!" raut wajahnya bercampur aduk antara marah dan malu saat mengatakan hal tersebut. Dengan buru-buru dia menutup auratnya yang bukan tersingkap oleh angin melainkan oleh perbuatan sahabat karibnya sendiri.
"Huh? Kamu lupa yah? Ah, kukira kamu telah berubah menjadi seorang maso* sekarang."
Dengan jawaban tersebut dia menutup mulutnya seolah tidak ingin lagi membicarakan hal yang berkaitan dengan itu.
.
Saat ini dia telah sampai di dalam kelas di sekolahnya. Seperti yang telah diperkirakan, seluruh mata murid itu memandang gadis tersebut seolah-olah sedang melihat alien yang baru saja datang ke bumi untuk kedua kalinya. Tanpa banyak berprasangka dia menuju ke bangku tempat duduknya.
Hari ini seperti biasanya, meja tempat dia berada sekali lagi penuh dengan tumpukkan debu bahkan lebih daripada biasanya keadaan kali jauh lebih parah dengan bertambahnya kotoran sampah kelas yang entah mengapa terkumpul di bangkunya. Lalu, sebuah amplop surat berwarna merah juga terdapat di laci bangkunya.
Pagi ini, dia menghadapi hari yang panjang dimana dia sendiri harus memecahkan kepingan misteri lainnya yang masih akan terus berlanjut.
