Tokyo Bunka Kaikan.

Bangunan yang diperuntukan untuk pagelaran konser musik ini terletak di Ueno, Tokyo. Ada dua lokasi hall di dalam bangunan besar ini. bagian terbesarnya dapat memuat sekitar 2.000 orang sedangkan bagian kecilnya dapat memuat sekitar 600 orang. Pada kompetisi piano tingkat SMA ini, hanya dipergunakan ruangan small hall saja karena itulah para penonton acara ini dibatasi untuk para undangan saja.

Sementara Rin yang mendapat surat undangan khusus duduk bersama Rippi di kursi VVIP yang terletak di depan. Sementara itu Maki dan Hanayo yang berangkat bersama tadi duduk di kursi VIP yang berada 4 bangku di belakang Rin.

Acara dimulai dengan penampilan musik dari setiap pianis yang merupakan SMA favorit di negara ini meskipun demikian diantara mereka bertiga hanya Maki saja yang bisa menikmati perlombaan musik ini, beberapa kali dia memberi komentar tentang penampilan unik dari masing-masing peserta sementara Hanayo yang turut mendengarkan hanya menganggukkan kepala saja, dan seperti yang kalian duga hanya Rin yang terlihat kebingungan dengan cara penilaian juri terhadap permainan musik dari para pianis. Bagi dia semuanya sama saja.

Oleh karena itu dia mengalihkan perhatiannya kepada selembaran pamflet yang memuat daftar peserta kompetisi musik ini.

.


.

"Sa-, Sa-, Sa-,..."

"Hmm...? kamu lagi ngapain Rin?" Rippi menegur Rin yang lebih sibuk mengamati tulisan di pamflet ketimbang menikmati pertunjukkan musik.

"Sa-, Sa... Ah, aku lagi mencari nama anak itu. nama dia siapa, yah? Sa-"

"Sakura-san?"

"Ahh, iya... nama itu! Tapi kenapa tidak ada nama dia, yah? Atau Rin kelewatan, yah?"

"Hmm, Coba kamu lihat lebih teliti. Bukankah dia sebelumnya pernah menyebutkan tempat asal berada?"

"Ahh, Iya, di Nagoya, Osaka." Rin dengan mata berbinar-binar menyalak agak keras namun suaranya tertahan oleh jemari Rippi yang spontan menempel di bibirnya, memberi tanda agar tidak berisik.

"Ah, ada. Ternyata memang ada anak bernama Sakura yang berasal dari kota itu. Ehh, jadi dia datang untuk mewakili sekolah "Takaruzaka Music High School", yah?. Hmm, Nama anak itu adalah..."

.


.

Sementara itu di bagian belakang , Maki yang asyik mendengarkan permainan musik piano itu teralihkan dengan interupsi Hanayo yang tiba-tiba memanggilnya dengan suara cemas nan lirih.

"Maki-chan, kamu yakin kita boleh duduk disini?"

"Kenapa? Apakah tempatnya tidak sesuai yang di tiket undangan? Atau kamu merasa kesulitan untuk melihat dari kursi ini?"

"Ehh, bu-bukan begitu. Tapi.."

"Hmm?" Maki merasa kebingungan dengan respon Hanayo yang tidak nyaman. Hanayo lalu melanjutkan perkataannya.

"Aku merasa tidak pantas saja. Aku bisa duduk di area tengah ruangan ini dengan kursi yang terlihat lebih mencolok daripada bangku lainnya dan berada beberapa meter dari belakang meja juri itu rasanya seperti... ehehehe..."

"Umm... yah karena itulah area ini dinamakan tempat duduk VIP?" jawab Maki datar namun itu ternyata membuat Hanayo lebih kaget dan tidak sengaja berteriak.
"Hehhh?!

"Sssttt, Apalagi sekarang! Kenapa kamu harus berteriak, sih?"

"Maki-chan, k-kamu yakin aku boleh duduk disini?"

"Kenapa? Kamu tidak suka disini? Mau aku carikan tempat duduk yang lain? Tapi agaknya sedikit sulit sih kalau mencari tempat duduk yang lain sekarang?"

"T-Tidak.. Tidak perlu."

"Lagipula, kalau kamu meninggalkan tempat ini berarti kita tidak bisa memperhatikan dia."

"Ahh, aku mengerti." Hanayo yang tersipu malu pada akhirnya bisa menjadi tenang.

"Ngomong-ngomong, kalau tidak salah kemarin dia pernah bilang kalau tujuan mereka kesini adalah untuk melihat pertunjukkan temannya, yah kan? Apakah kamu tahu sesuatu tentang itu, Hanayo?"

"Umm, kalau tidak salah dia menyebutkan nama temannya itu Sakura, kan? Entahlah, aku juga tidak terlalu tahu tentang itu."

"Yah, sudahlah.. Jika sudah tiba waktunya dia untuk tampil kita pasti juga akan mengetahuinya nanti."

.


.

Sekitar setengah jam berlalu saat acara kompetisi musik ini berlangsung. Tiba-tiba Maki merasa pandangannya teralihkan. Kali ini bukan kepada Hanayo namun dia merasa penasaran saat memalingkan pandangannya kepada Rin di tempat dududknya.

Hmm, ada apa dengan anak itu? kenapa dia merasa gelisah? Heh, dia pergi meninggalkan kursinya? Ke toilet? Hmm? Bukan, pintu toilet kan berlawanan arah dari tempatnya beranjak. Tunggu sebentar dia hendak meninggalkan ruangan ini?

"Maaf, Hanayo-san.. Aku tinggal sebentar yah?" kata Maki mohon diri.

"Ehh, kemana?"

"Toilet."

"Mau ditemenin?"

"Nggak usah deh..."

"Yakin?"

"Gezz... Kamu kira aku ini anak kecil?"

"Ahahahaha... Hati-hati, jangan sampai nyasar yah Maki-chan." Godanya sembari mengerlingkan mata.

"Hanayo!"

"sssssstttttt!" kini giliran Hanayo yang membalas perbuatan Maki yang tadi. Dan dengan perbuatan tersebut maka Maki meninggalkan ruangan hall untuk melacak keberadaan Hanayo yang menghilang entah kemana.

.


.

Tidak banyak ruangan yang dia ketahui di tempat ini sehingga membuat dia asal untuk mencari ke berbagai tempat. Pada awalnya dia mencari di toilet namun tidak mendapatinya. Setelah itu dia secara acak mencoba menemukan Rin diberbagai tempat yang berbeda seperti di ruang make up artis, ruang logistik, bahkan di dalam gudang namun tetap saja hasilnya nihil.

"anak itu kemana sih?" Maki yang hampir menyerah lalu mempertaruhkan seluruh keberuntungan yang dia punya kepada ruangan terakhir yang dia masuki. "i-ini dimana yah?"

"p-permisi..."

"Siapa disana?!" sebuah suara langsung menyalak saat dia baru saja membuka pintu tersebut. keadaan ruangan itu agak gelap sepertinya ini adalah ruangan main control, untuk mengatur sound dan lighting. Keadaan itu membuat Maki menjadi canggung karena dia tidak dapat melihat wajah orang yang diajak bicara.

"Mohon maaf, aku sedang mencari temanku yang nyasar kemari!"

"Ah, maaf... selain staff, orang lain dilarang memasuki ruangan ini."

Setelah mendengar itu Maki lalu membungkukkan badan dan bersedia untuk meninggalkan tempat tersebut. seberkas cahaya memantul di wajah Maki saat dia membalikkan badan namun tanpa disangka ternyata orang itu malah menghentikan Maki yang hendak keluar.

"ehh, kamu kan?!" kali ini orang tersebut menurunkan suaranya dan bergerak mendekati Maki.

"Ehh, suara itu... sensei?!"

.


.

Rin ternyata pada saat itu pergi meninggalkan ruangan konser dan berjalan tanpa arah hingga keluar dari gedung dan menuju ke Rest Area yang biasa digunakan oleh para tamu untuk menunggu jemputan mobil yang di parkiran. Di sanalah Rin menjumpai orang yang dia cari-cari. Gadis berambut merah panjang dengan pakaian kasual, jaket hoodie dan rok panjang kain katun merah muda itu sedang terduduk manis dengan pandangan mata sayu namun anggun.

Tanpa banyak bicara lalu Rin mendatangi gadis tanpa tergesa-gesa. Sepertinya dia berjalan terlalu pelan hingga tidak disadari oleh gadis tersebut hingga pada akhirnya Rin harus menepuk pundak gadis tersebut untuk membuyarkan lamunannya.

"Ahh, sudah kuduga... kamu pasti ada disini! Sakura-san, mengapa kamu tidak berada di ruang peserta."

Sesaat gadis itu tersenyum namun keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya menandakan bahwa gadis itu panik dan tidak mengetahui maksud perkataan orang yang mengajaknya bicara.

"K-Kenapa kamu membatalkan penampilanmu, nyaa?! Bukankah kamu sudah menunggu-nunggu kompetisi ini, nyaa?!" Rin berbicara untuk kedua kalinya dan kali ini gadis itu mengenali sifat khas dari cara bicara ini. Untuk kedua kalinya dia menjadi terkejut namun kali ini dia bisa menarik nafas lega.

"Ah, benar.. Kamu Rin-san, kah? Maaf, tapi mengapa kamu ada disini?" kali ini giliran Rin yang bingung dan dia tetap melanjutkan perkataannya. "Wah, pakaianmu bagus sekali? Kamu cantik sekali hari ini, Rin-san... Aku sama sekali tidak mengenalimu tadi."

"T-Terima kasih." Dia tersipu malu. "Hei... Tapi, bukan itu yang aku maksudkan! J- Jawab dulu pertanyaanku. Mengapa kamu... ahh." Perkataannya yang sedang tersipu malu itu terputus saat gadis yang memiliki mata bak manik amber itu berdiri dari tempat duduknya, meskipun itu ditujukan untuk menunjukkan sopan santunnya kepada orang yang dia ajak bicara.

Sakura pada saat itu memakai jaket hoodie lengan panjang yang sengaja tidak dikancingkan dan menggelantung di badannya. Namun Rin melihat ada sesuatu yang lain dari gestur tubuhnya, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi pada gadis cantik pemilik badan ramping bak dewi ini.

"I-Itu gips?"

"Ah, ketahuan yah? ehehehe... sebenarnya, beberapa hari yang lalu aku sempat mengalami sedikit kecelakaan jadi tanganku begini deh!" katanya sedikit tertawa.

"Ehh?! Maaf, Apakah masih sakit." Rin menurunkan suaranya berusaha bersimpati kepadanya.

"Ehehehe... sudah mendingan sekarang kok."

"Ah, begitu yah.. Rin mengerti sekarang. Maafkan aku, yah..."

"Maaf? K-Kenapa? Kamu gak salah apa-apa kok. Ini semua akibat keteledoranku saja. Seandainya aku tidak menelepon saat menaiki jembatan penyebrangan tentu tidak akan seperti ini."

"Umm, tapi bukankah Sakura-san merasa sedih sekarang?! Umm, m-maksudku kamu pasti kecewa tidak bisa tampil, kan?" gadis kucing itu melanjutkan perkataannya sementara dia meminta Sakura untuk duduk kembali beserta dirinya di sampingnya. "Sebenarnya pada hari ini Rin mendapat undangan dari Rippi-neesan untuk menyaksikanmu bermain piano, nyaa. B-bukan berarti aku memaksamu untuk bermain piano sih, hanya saja Rin selalu rindu menyaksikan orang bermain musik. Khususnya kepada orang seperti kamu, Sakura-san."

Gadis itu tersenyum. Sejujurnya dia merasa tidak enak hati dengan atmosfer suasana yang mendadak menjadi lebih kelam daripada sebelumnya. Gadis berambut merah jingga panjang itu seolah menjadi merasa semakin bersalah karena membuat orang yang dia kenali menjadi murung karena terlalu memikirkan dirinya.

"Rin.. Arigatou. Kamu benar, sejujurnya aku juga sempat merasa kecewa. Ini semua terlihat payah, yah. Padahal Sakura juga sudah berlatih sungguh-sungguh demi saat ini. tapi, yah mau bagaimana lagi. Mungkin ini adalah sebuah anugerah sehingga aku tidak tampil." Dia menghela nafas sejenak membiarkan gadis itu bingung.

"Sejujurnya, aku sendiri ragu dengan talenta permainan pianoku sendiri. aku tidak yakin apabila aku tampil disana apakah itu dapat membuat perbedaan dibandingkan kontestan yang lain? Apakah aku mampu menggetarkan hati para juri dan penonton disana. Karena itulah aku juga merasa... cidera ini adalah hukuman dari Tuhan karena aku tidak berani mengeluarkan kemampuanku yang sebenarnya."

"S-Sakura-san..."

"Tapi, berkat kamu, aku merasa semua ini belum berakhir kok. Ehehe..." gadis itu buru-buru memotong suara sendu Rin. "Perkataanmu itu, aku merasakan kehangatan perasaanmu di dalam kata-katamu itu yang merasuk ke dalam hatiku. Rin, i will not give up. Tahun depan, di tempat ini. Aku pasti akan kembali bermain piano lagi kok."

Melihat gadis itu tersenyum maka Rin juga bisa mengembangkan tawa khasnya kepada gadis tersebut.

"Tapi sebenarnya, bagaimanapun juga sebenarnya aku tidak terlalu kecewa sih, karena sebenarnya aku cukup lega setelah mengetahui bahwa aku tidak perlu memenuhi janji itu lagi."

"Janji?"

"Ahahaha... B-Bukan apa-apa." Muka gadis itu memerah setelah menyadari bahwa dia keceplosan sehingga membicarakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diceritakan kepada orang lain. "Cuma satu janji kecil. Yah, aku tidak tahu juga sih apakah dia mengingat janji itu. hmm... yah, itu tidak penting lagi sekarang.. mungkin dia sudah lupa setelah 3 tahun berlalu. Ehehehe..."

"Sakura-san?!" tidak biasanya suara Rin sedikit gemetar ketika sedang berbicara.

"Hmm...?"

"Tapi, bukankah itu menyedihkan? Aku tidak tahu tentang janji apa yang sedang kamu bicarakan itu namun aku pikir tidak ada salahnya bila kamu sedikit berusaha lebih keras untuk mewujudkan mimpi itu, kan?"

"T-Tapi... menurutku itu sudah tidak ada artinya sekarang."

"Kalau begitu, cobalah lagi! Cobalah terus hingga kamu berhasil mewujudkan mimpi itu... dan suatu hari, entah kapan dan bagaimana, ketika kamu bertemu dengan dia lagi maka kamu dapat tersenyum dan tertawa bersamanya karena –setidaknya- kamu berhasil mewujudkan mimpi itu. Bukankah itu adalah sesuatu yang indah?"

"Sasuga Rin, kamu itu selalu saja bisa menjadi penyemangat bagi orang lain, yah?"

Bagaimanapun juga Rin bersikeras untuk menyangkal perkataan tersebut namun itu sama sekali tidak mengubah perkataan gadis berambut panjang tersebut. Pada suatu titik, Rin lalu menyerah dengan pendiriannya dan tersenyum kecil. "Ehehehe... Mungkin itu sudah menjadi bakat alami Rin."

Gadis itu tertawa saat mendengar perkataan itu.

"Jujur, kamu itu adalah gadis yang unik. Aku jarang sekali bisa melihat orang sepertimu di Jepang. Aku yakin siapapun orang yang berteman denganmu pasti diberkahi dengan keberuntungan."

"Ehh, kamu terlalu berlebihan... tapi, mungkinkah... Riko-san, apakah kamu berteman dengan Rin?"

"Ehh, bolehkan?!"

"Tentu saja! Kalau begitu mulai hari ini kita berteman yah, namaku Rin Hoshizora."

"Arigatou... namaku Sakurauchi Riko."

Sembari mengatakan itu kedua gadis itu saling bersalaman dan tersenyum cerah dengan indah.

.


.

Sementara itu di ruang main control.

.

"Sensei, kenapa kamu ada disini?!" gadis itu berhenti melangkah dan segera berbalik kembali setelah mendengar suara familiar yang sudah lama tidak didengarnya.

"Oh, aku?! Aku adalah official staff di acara ini. Justru aku yang penasaran kenapa kamu berada disini?!"

"Ennggg... K-Kalau begitu maafkan aku, aku salah masuk ruangan... permi—" lagi-lagi suara itu memotongnya.

"Ehh tunggu, namamu Maki bukan?! Maki Nishikino, bukan?! Wah, sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Apakah mungkin kamu ada di tempat ini sebagai salah satu peserta kompetisi?! Eh, kalau begitu artinya kamu masih terus bermain piano lagi?"

"Maaf, tapi anda salah sangka. Aku tidak berada di tempat ini sebagai salah satu kontestan melainkan penonton biasa. Aku hanya menemani temanku yang sedang menonton di tempat ini. itu saja."

"Ohh..." suaranya menjadi pelan saat mengatakan itu.

"Tapi anda juga tidak salah saat mengatakan itu... Aku memang berlatih piano lagi sekarang."

"K-Kalau begitu bukankah ini menarik apabila kamu mengikuti kompetisini ini pada tahun depan?" tiba-tiba dia bersemangat kembali setelah mendengar itu.

"Ehh?! M-mana mungkin aku melakukan itu... dibandingkan dengan para peserta yang paling buruk di tempat ini aku sama sekali tidak ada apa-apanya..."

"Ohh, benarkah?! Lantas apakah kamu mau menyerah begitu saja?"

"Ituu..."

"...Beberapa saat yang lalu aku juga bertemu dengan anak kelas musik dari SMP kita yang ternyata mengikuti kompetisi ini namun dia mengundurkan diri di saat-saat terakhir karena suatu kejadian. Kamu pasti tahu siapa dia? Karena tadi dia sempat mengatakan bahwa alasan sesungguhnya untuk mengikuti kompetisi ini adalah untuk bertemu denganmu. Yah, apa boleh buat takdir berkata lain.. dia mengalami sebuah insiden dan kamu ternyata tidak mengingat apa-apa."

Maki terhenyak sejenak saat mendengar perkataan mantan guru musik SMP-nya itu. dengan mata terbuka lebar, nafasnya seolah memburu kencang.

"S-Sensei, apakah dia itu... Riko-chan?!"

"Ah, kamu mengingatnya yah?!"

"Di...dimana dia sekarang?!"

"Entahlah, mungkin dia masih berada di luar sekarang? Tapi, entahlah, yah... itu sudah 1 jam yang lalu."

"Terima kasih, sensei...!"

Setelah itu, Maki lalu pergi berlari meninggalkan ruangan itu dengan segenap tenaga yang ada mencoba menuju pintu luar tanpa memperdulikan make up yang dikenakannya.

.

.

Aku harus mengucapkan itu... tolong tunggu aku, Riko-chan!

.

.

"Bukk!"

"Aduuh, a-apakah kamu tidak apa-apa?! Huh, Maki-chan, kamu kenapa ada disini?"

Maki yang mukanya menjadi merah tiba-tiba menyadari bahwa dirinya baru saja membentur Rin di depan beranda luar gedung tersebut. Manik jingga itu seolah-olah memudar setelah dia berhasil menguasai dirinya kembali. Semangat yang secara ajaib dia pernah peroleh itu tiba-tiba menghilang dan membuatnya tidak antusias lagi.

"T-Tidak ada apa-apa. Kamu juga sedang apa disini?!"

"Ah, hanya menyapa seorang teman yang baru saja pulang dari tempat ini."

"A-Ahh, begitu yah? Ya sudahlah, apakah kamu mau balik lagi? Rippi-san dan Hanayo pasti sedang menunggu kita, kan?"

"Iya, kalau gitu bareng, nyaa!."

"Umm..."

Kedua gadis itu lalu pergi menuju ke dalam ruangan kompetisi namun kali ini ada yang berbeda. Kedua orang itu menjadi sama-sama tidak bersemangat dengan keadaan ini. Bahkan Rin dalam senyumannya terasa hampa dan murung.

.


.

10 menit sebelumnya.

.

"Nah, kalau begitu Riko-chan, kenapa kamu gak ikut aku masuk dan nonton bareng aja, nyaa?!"

"Ahh, maaf aku tidak bisa melakukan itu"

"Kenapa, nyaa?!" gadis itu menoleh dan tercengang mendengar penolakan tersebut.

"Setelah mendengar perkataanmu tadi aku semakin termotivasi untuk bermain piano."

"Trus? Hubungannya?!"

"Karena itulah aku sudah menetapkan bahwa tempat ini akan menjadi bukti kesuksesanku. Sebelum aku berhasil lolos audisi dan menjadi peserta kompetisi musik piano tingkat SMA di Jepang ini maka aku tidak akan memasuki tempat ini. karena itu, aku mohon tunggulah aku tahun depan yah!"

Gadis itu, Riko-chan, panggilan baru oleh Rin kepadanya tersenyum saat mengatakan hal tersebut namun hal sebaliknya terjadi pada Rin yang seolah kehilangan senyumanya.

"Tapi... baiklah, aku mengerti." Dengan terpaksa dia menunjukkan senyumannya.

"Nah, kalau begitu aku pulang dulu sekarang, Rin-chan."

"Hati-hati, selamat tinggal, Sakura-chan"

"Haik..."

Setelah itu Riko benar-benar pulang setelah sebuah mobil yang dikendarai oleh ibunya menjemputnya untuk mengantarkannya pulang.

"SAKURA-CHAN! GANBATTE,NYAAA! Aku akan menunggumu tahun depan."

Sebuah sahutan menutup pertemuan mereka dan Rin lalu berbalik menuju ke dalam Hall sebelum pada akhirnya dia menabrak Maki yang tergesa-gesa keluar.

.

.

"Tahun depan, yah? apakah aku masih bisa hidup sampai tahun depan?"

.

.

Periode 22: End