"Ohayou..."

Aku menyapa sang fajar yang sudah membuatku terbangun dari tidur dan membuat mataku terbuka sembari merasakan udara sejuk pagi hari menyentuh kalbu.

Eh, aku tersenyum?

Yah, aku sendiri tidak menyadarinya sebelum melihat refleksi diriku di dalam cermin. Sungguh, Rin sendiri tidak terlalu mengerti mengapa Rin tersenyum simpul semacam ini, aneh kan? Ahahaha...

Aku mendengar suara ibuku di depan pintu kamarku sedan mengetok untuk memberitahukan putri kesayangannya ini supaya tidak telat masuk sekolah.

Nyaa, padahal masih jam 6 pagi tapi tampaknya Rin memang harus buru-buru bangun dan merapikan tempat tidurku, entah mengapa aku ingin cepat-cepat lekas ke sekolah. Sungguh, ini pagi yang benar-benar cerah, kan?! Semoga hari ini akan menjadi lebih baik lagi, pikirku dan...

"Ziiinnngggg... Zinnngggg... Ziiiiiiiinnngggg!"

?!

Aku menoleh ke sebelah kiri luar jendela di samping rumahku dan mendapati sekumpulan orang sedang berada di rumah itu. Hmm, aneh juga menurutku. Rin pikir rumah itu sudah lama tidak dihuni oleh siapapun namun kini para pegawai kontraktor sedang sibuk memindahkan perkakas rumah dan memasang rangkaian listrik dan pipa sambungan air.

Bukankah itu berarti?! Ah, mending tanya mama deh!

"Hmm, rumah tetangga? Mungkin saja yah? Mama belum dapat pemberitahuan apapun tentang itu." begitulah kata Mamaku yang sedikit membuatku kecewa dan setelah aku menghabiskan sarapan pagiku, roti selai dan susu, maka aku meninggalkan rumah dan menuju ke sekolah. Aku dengan sengaja aku melewati rumah tersebut. Kini, aku melihat sebuah grand piano sedang dimasukkan ke dalam rumah. Aku pikir pemilik rumah ini pasti orang kaya.

Sekitar dua puluh menit perjalananku menuju sekolah dengan jalan kaki. Biasanya aku hanya menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit dengan berlari, tentunya karena aku kebiasaan untuk telat, namun kali ini aku hanya ingin menghabiskan waktu pagi ini sedikit lebih lama lagi.

Aku tersenyum saat mendapati anak kucing yang sedang dimandikan oleh sang ibu dengan menjilati sekujur tubuh dia dengan lidahnya. Beberapa bunga-bunga kecil di antara rerumputan liar pinggir jalan juga terlihat indah saat aku mengamati mereka dengan seksama. Burung-burung gereja yang hinggap di pepohonan oak di dalam sebuah pekarangan rumah juga terlihat lebih ceria seakan sedang menyapaku.

Yah, tentu saja aku hanya bisa melihat itu dari kejauhan karena aku memiliki tubuh yang mudah terkena alergi dengan berbagai faktor yang bisa membuat daya tahan tubuhku menurun, seperti bulu kucing, serbuk bunga tertentu dan hewan-hewan kecil lainnya. Bagaimanapun juga aku bersyukur bisa melihat itu semua di pagi ini.

"Selamat pagi, Rin-chan!" aku menoleh dan melihat beberapa senpaiku di klub taman bunga sedang sibuk menyirami pekarangan sekolah. Aku lalu menyapa mereka dengan senyuman lebar dan mereka turut tertawa saat menyambutku. Sementara itu di halaman depan, beberapa murid dari klub kendo baru saja menyelesaikan lari pendek mereka dipimpin oleh Umi-senpai, tentu saja. Ahh, seharusnya aku tidak mendekatinya namun tampaknya dia tidak memperdulikanku malahan pandangan matanya tertuju jauh di ruang OSIS. Hmm, memangnya disana ada siapa yah, nyaa?!

Tidak mau membuang kesempatan manis ini, aku pun lalu segera memasuki gedung sekolah sebelum Umi-senpai menyuruhku untuk mengikuti kegiatan ini-itu. Aku menyapa Shibuya-sensei yang baru saja keluar dari ruang UKS. Ah, wajahnya seolah menahan malu saat mendengar sapaanku. Apakah Shibuya-sensei juga sedang sakit hari ini?! Aku sih nggak tahu yah.

Dan kini tibalah aku di dalam ruang kelasku yang berada di lantai 2 di gedung sekolah ini. Maki dan Hanayo lalu menyapaku dan bertanya tentang keadaanku sepulang acara kemarin. Aku tersenyum saat mengetahui perhatian mereka kepadaku dan itu mengingatkanku tentang kejadian yang tadi pagi seolah sempat terlupakan namun rasanya tidak hilang. Momen ketika Rippi-neesan mengantarkanku pulang ke rumah.

Dengan mengendarai mobil audi sport putih yang dimiliki kakak itu aku pulang secara terpisah meninggalkan Hanayo dan Maki. Rippi-neesan berkata bahwa dia ingin mengantarkanku pulang ke rumahku dan aku menyambut baik ajakan tersebut. setelah berpamitan dengan kedua temanku itu mobil tersebut melaju menuju ke rumahku. Di sepanjang perjalanan Rippi-neesan bercerita bahwa sebenarnya dia memiliki kenalan yang cukup akrab dengan beberapa juri disana. Salah satu juri itu juga turut membantu Rippi-neesan dalam pembuatan album rekaman serta beberapa konser sebelumnya. Itu menjelaskan bagaimana dia bisa mendapatkan tiket VVIP di dalam acara ini.

Setelah itu giliran aku yang bercerita tentang bagaimana aku bertemu dengan Sakurauchi Riko yang tidak muncul di dalam kompetisi ini. Meskipun sedikit kecewa namun kakak itu menasehati aku bahwa "Setiap pertemuan itu selalu berakhir dengan perpisahan namun bila itu adalah kehendak Tuhan yang jadi maka suatu saat mungkin kalian akan bertemu kembali." Dengan perkataan itu aku menyimpan janji kami berdua untuk bisa saling bertemu.

Bel pelajaran pertama berbunyi dan Shibuya-sensei memasuki kelas kami namun dia tidak hadir seorang diri saja melainkan beserta dengan seorang gadis lainnya. Melihat dari seragamnya sepertinya dia adalah siswi dari sekolah lain. Sepertinya ada murid pindahan di kelas kita? Ehh, di saat seperti ini? Di sekolah yang mau di tutup ini?!

Pada awalnya aku tidak memperhatikan sosok anak baru itu. Kemilau sinar matahari terik yang menyinari ruang kelas membuatku silau untuk memandang anak baru itu. Aku samar-samar hanya mengetahui bahwa gadis itu berperawakan tinggi dan langsing. Samar-samar terang sinar mulai meredup namun tetap saa aku tidak bisa melihat rupanya, seakan-akan wajah gadis itu sendiri memiliki terang sendiri yang menyilaukan.

Apakah itu adalah pesona...

Aku penasaran...

T-Tidak, aku kan tidak mengenal anak itu jadi buat apa juga aku penasaran dengan dia? aku memalingkan muka ke kiri dan kanan untuk melihat muka teman-temanku yang lain namun mereka tampak biasa-biasa saja. Mereka cenderung biasa-biasa saja dan tidak terlalu antuias dalam rangka menyambut anak baru ataupun mengikuti pelajaran jam pertama saat ini. Tapi, kalau begitu mengapa aku tidak bisa memandang wajah gadis itu?

Ah, dasar matahari sialan...

Kini aku mulai memaki

Setelah beberapa saat menunggu, sepertinya ada awan besar yang melewati wilayah Otonokizaka dan membuat teduh langit pagi ini. Pada saat inilah kesempatanku tiba! Inilah kesempatanku untuk mencari tahu tentang sumber rasa ingin tahuku, saat di mana aku bisa melihat dengan seksama rupa gadis itu. Kemilau yang telah memudar menampakkan wajah sebenarnya tentang sisi manusiawi dirinya.

Pertama adalah warna mata bak manik amber, lalu bentuk wajahnya yang membentuk oval runcing hingga ke dagu. Kedua, senyuman yang tampak cemas namun tetap manis. Ketiga, rambut panjang berwarna merah gelap. Eh, t-tunggu... m-mana mungkin... d-dia?!

Gadis itu kemudian memalingkan muka ke arah bangkuku dan mata kami sempat saling bertemu. Tepat seperti dugaanku, gadis itu juga terkejut saat melihatku. Sementara itu Shibuy-sensei berbalik ke arah papan tulis untuk menuliskan nama gadis tersebut. Kalau begitu bukankah dia...

"KAMU?!"

Suasana hening di dalam kelas ini tiba-tiba pecah seiring dengan suara pekik yang membuat mata seisi kelas tertuju pada satu orang. Tidak, itu bukan olehku. Bahkan, aku juga kaget saat mengetahui suara lantang itu. suara itu berasal dari seberang kursiku, 2 bangku deret sebelah kiri. Tepatnya berasal dari bangku sang ketua kelas, Maki Nishikino.

Gadis berambut merah itu berdiri di kursinya dengan mata terbelalak tidak percaya. Keringat dingin bisa terlihat membasahi punggung tangannya yang sedikit gemetar di atas meja. Sungguh, keheranan juga terpasang di wajahku saat melihat itu. Aku pikir hanya aku saja yang kaget saat melihat dia tapi kalau Maki juga memasang wajah terkejut seperti itu bukankah itu berarti dia juga mengenal...

Gadis yang berdiri di sebelah Shibuya-sensei itu lalu memasang senyum tipis.

"Perkenalkan, namaku adalah Sakurauchi Riko, murid pindahan dari SMA musik Takaruzaka. Mulai hari ini aku akan bersekolah disini karena mengikuti pekerjaan ayahku yang baru saja membuka toko baru. Teman-teman, mohon kerja samanya, yah. Terima kasih banyak."

Berikutnya, setelah Riko selesai memperkenalkan diri deru tepuk tangan berirama mengikutinya dan menenggelamkan rasa terkejut kami berdua. Maki yang sudah bisa mengendalikan diri lalu kembali duduk ke bangkunya sedangkan Shibuya-sensei lalu meminta agar salah satu bangku di belakang dibersihkan.

Beberapa posisi yang kosong di bagian belakang kemudian diatur supaya bisa menyesuaikan dengan tempat duduk yang ada. Setelah itu telah diputuskan bahwa tempat posisi duduk Riko berada adalah berada tepat di belakangku. Sejujurnya aku sama sekali belum bisa percaya bahwa orang yang aku temui minggu kemarin dan mengucapkan salam perpisahannya malah bisa aku temui lagi pada hari ini. Tapi, kalau ini benar-benar kenyataannya aku harus ngomong apa yah sama dia?

Sementara aku masih sibuk berpikir, tiba-tiba aku merasakan sesuatu sedang menjawil punggungku. Eh, aku kaget namun aku bisa mengira siapa yang melakukannya. Ya, gadis itu lalu melambaikan tangan kepadaku.

"Maaf, apakah kamu Rin Hoshizora, bukan?!" dia bertanya dengan senyum ragu. Pada awalnya aku juga bingung harus jawab apa tapi setelah melihat senyum ragu dia maka aku sadar bahwa ini gak seperti diriku seperti biasanya. Aku harus tersenyum dan kembali pada diriku yang seharusnya.

"Nyaa, kau benar!" aku tertawa dengan ciri khasku. Tampak senyuman merona mengembang padanya. Dia menghembuskan nafas panjang tanda bahwa dirinya sudah lebih relax sekarang. "Kalau begitu bolehkah aku bertanya satu hal, Rin-chan." Dia bertanya sedikit ragu dalam suara pelan.

"A-Apakah gadis berambut merah disana itu adalah Maki Nishikino?!" pada saat dia menanyakan itu seperti meyakinkan kebingunganku sebelumnya. M-maksudku, Riko sudah pernah mengenal Maki? Sejak kapan? Apakah hubungan kedua orang itu sebenarnya?! Sementara aku mempertanyakan itu, entah mengapa senyumanku perlahan-lahan memudar sebagaimana aku memalingkan muka dan melihat wajah Maki yang tampak cemas dan terus menatap ke arah kita.

-bersambung-