Periode 24: Berkeliling Sekolah
.
"Apakah dia itu Nishikino Maki?" gadis itu bertanya dengan suara sangat pelan dan ragu.
Sejenak, perkataanya membuat aku mengernyitkan dahi. Beribu pertanyaan lain ingin keluar dari bibirku namun tidak satupun kata yang terucap. Apakah aku ini aneh?! Kenapa aku jadi sok kepo begini?! Aku tanpa sadar mendecakkan lidah.
"Ah—h, mohon maaf... Maaf kalau aku banyak bertanya dan menganggumu. Tolong lupakan saja, yah?" gadis itu menarik diri ke posisi duduk asalnya sambil tersenyum.
Bel pergantian kelas berdering, tanda jam pelajaran pertama selesai. Kali ini aku melihat sebagian besar teman-teman kelasku di bangku bagian belakang mulai datang untuk mengerubunginya untuk berkenalan lagi. Pada saat itu, aku mendapati bahwa gadis itu memang orang yang ramah. Setiap pertanyaan teman-temanku disambut dan dijawab oleh dia dengan baik.
Dia bercerita bahwa dia sebelumnya bersekolah di sekolah khusus musik di daerah Nagoya namun karena ayahnya mendapatkan kenaikan jabatan sehingga ayahnya bisa membuka toko retail yang baru dan keluarganya memutuskan untuk pindah kembali ke Tokyo, termasuk Riko yang terpaksa pindah ke kota lamanya.
Saat itu, Riko meski dikelilingi oleh teman-temannya yang menyambutnya dengan ramah dan terus menerus menanyainya namun tatapan matanya sesekali mencuri pandang ke arah lain, ke arah Maki yang duduk di bangkunya di sebelah kiri dekat jendela kedua. Gadis berambut merah itu meski mengetahui ada anak baru namun dia lebih memilih untuk mengalihkan perhatiannya ke luar jendela sembari memperhatikan 2-3 burung gereja hingga di sebuah pohon yang rindang.
Begitulah, karena gadis itu ada di belakangku maka sesekali aku dapat mencuri dengar tentang pembicaraan mereka. Dari setiap percakapan mereka ada satu topik pertanyaan yang sering diulang olehnya.
"Apakah gadis itu adalah Maki?"
Pertanyaan yang sama yang dia tanyakan kepadaku sebelumnya. Dan tentu saja jawaban mereka adalah sama. Tentu saja itu adalah Maki Nishikino, putri tunggal pemilik rumah sakit Nishikino yang termahsyur di Tokyo. Dan, lagipula untuk apa mereka berbohong?
Meskipun teman-teman kelasku menjawab pertanyaan itu namun kebanyakan dari mereka hanya sekedar menganggukkan kepala atau hanya menjawab 'Ya' saja. Tidak banyak hal yang membuat mereka tertarik untuk membicarakan topik tentang Maki. Bahkan untuk pertanyaan penting, 'Bagaimana kamu bisa mengenal dia?', 'Apakah kalian pernah bertemu?', atau 'Apakah dia itu temanmu?'
Namun tidak ada satupun yang berinisiatif untuk menanyakan itu. Demi Tuhan, Maki, sebenarnya apa sih yang kamu lakukan di sekolah sampai tidak ada seorangpun yang tertarik berbicara denganmu?
Gehehehe... Aku tersenyum ketika memikirkan itu semua. Kalau begitu, bukankah ini artinya Tugas Rin sekarang sudah semakin jelas. Well, setidaknya Rin lebih tertarik untuk mengeluarkan warna asli Maki yang indah dari dalam cangkang pendiamnya sehingga semua orang tahu tentang Maki yang sebenarnya. Slowly but sure, surely i wanna to do it for her.
Sementara itu Riko yang mendengar jawaban itu juga tidak berbuat banyak selain tersenyum diantara murah senyum yang sering ditebarnya ketika mendengar jawaban teman-temannya. Rin penasaran sih mungkin dia bertanya seperti itu tujuannya untuk mengumpulkan informasi, gitu?
Lalu bel istirahat berbunyi. Kali ini keadaan kelas semakin ramai termasuk beberapa temanku yang berlomba-lomba untuk mengajak Riko ke kantin untuk makan siang. Oh, aku sendiri tidak menyangka bahwa gadis ini dapat diterima dengan cepat di kelas ini. Rin bisa bilang setidaknya Sekolah Otonoki ini adalah sekolah yang berbudaya dimana setiap murid-muridnya adalah 'the man of culture'.
Di saat yang sama aku yang masih duduk di bangku mengamati Maki yang berdiri dari mejanya. Dia berjalan dengan santai menuju ke arahku, tidak lebih tepatnya ke arah Riko. Aku pikir dia pasti ingin bertemu Riko. Rin juga sedikit penasaran tentang hubungan mereka, sih. Eh, tapi aku salah. Ternyata dia hanya berjalan lurus dan melewati kami begitu saja dan keluar dari kelas melalui pintu belakang.
Padahal sejak tadi pandangan mata Riko tidak bisa lepas mengikuti langkah Maki hingga pintu keluar. Sejenak, Maki berdiri di pintu luar sambil memegang kerah bajunya dengan kedu tangannya seolah hendak meluruskan seragam atasnya. Sementara itu aku juga melihat Riko di mana dia malah tersenyum saat melihat itu. ya, hanya sekejab, tidak berlangsung lama, Maki sempat mencuri mata untuk melihat ke arah Riko dan pergi keluar begitu saja.
5 menit kemudian, Riko lalu pamit keluar kelas untuk melihat-lihat sekitar gedung sekolah. Sebenarnya ini bukan hal yang aneh namun tampaknya ini menimbulkan kegaduhan lain di dalam kelasku karena mereka kini berebutan menawarkan diri untuk menemani Riko. Yah, mau gimana lagi sih, mungkin inilah yang disebut dengan 'charm' itu, yah?.
Seseorang berdiri disampingku. Pada waktu itu entah mengapa Rin benar-benar tidak berminat untuk melakukan apapun selama jam istirahat ini. Pengennnya mager dan tidur-tiduran di meja sekolah ini. Bagaimanapun juga Rin pada akhirnya tidak melakukan itu setelah suara lembut itu memanggil namaku.
Aku menoleh, dan benar saja, pada saat itu sang gadis berambut merah jingga gelap itu memandangiku sambil sedikit membungkukkan badan melihat ke arahku. Dia menyeka rambut panjangnya yang menutup telinga kirinya saat melihat ke arahku. Dummy, tapi entah kenapa itu membuat wajah Rin memerah saat wajahnya memadangiku dengan dekat.
"A-Apa yang kamu mau, Sakura-chan?!" kataku sambil sedikit memundurkan badan karena kaget.
"R-Rin-san, a-apakah kamu mau menemaniku mengelilingi sekolah ini?! a-aku takut tersesat"
Bagus, setelah itu keributan baru mulai muncul. Teman-teman kelasku sedikit bingung kenapa Riko, sang anak baru ini bisa akrab denganku. Aku bisa melihat bulu kudukku berdiri saat melihat pandangan tajam mereka. Yah, mau gimana lagi. Pada akhirnya aku terpaksa keluar dari kelas sembari memegang tangannya.
Pada saat itu Riko masih memakai baju seragam lamanya. Dan aku yang menggandeng tangannya membawanya berkeliling sekolah yang ramai oleh para murid sekolah lainnya yang masih beristirahat. Karena anak kelas satu merupakan satu-satunya angkatan baru dan terakhir di sekolah ini maka aku bisa pastikan bahwa seluruh murid yang aku jumpai disini sebagian besar merupakan kakak kelasku.
Meskipun demikian kondisi ini bukanlah hal yang aneh di Sekolah Otonoki ini. Namun, ada sesuatu yang membuatku risih. Pandangan mereka itulah... tidak henti-hentinya mengarah kepada kami. iya sih, aku ngerti kalau baju seragam Riko yang berasal dari sekolah lain itu terlihat mencolok tapi gak harus kayak gitu kan ngeliatin kita?!
Yah, terserahlah. Apa mungkin mereka juga iri dengan kecantikan Riko?! Iya sih, memang anak ini cantik tapi masih cantikan Maki sih. B-Bukannya aku naksir atau gimana yah tapi dia itu memang putri sungguhan di sekolah Otonokizaka ini. oh iya, ngomong-ngomong si putri itu lagi kemana yah? kok aku belum ketemu dia dari tadi?!
Ya sudahlah, pada akhirnya aku menemani Riko berjalan-jalan mengelilingi gedung sekolah Otonokizaka. gedung sekolah ini sendiri bukanlah gedung sekolah yang besar. Terdiri dari gedung 3 lantai dan sebuah halaman depan sekolah digunakan sebagai lapangan luar untuk klub olah raga lari. Selain itu juga terdapat sebuah dojo yang biasanya digunakan oleh Umi-senpai untuk berlatih Kyudo dan Kendo dan kebudayaan jepang. Pada sisi lain terdapat ruangan aula serbaguna yang dipakai untuk kegiatan upacara dalam acara sekolah resmi juga dipakai untuk tempat latihan olahraga volly dan basket. Rin kalau pikir-pikir lagi sebetulnya sekolah ini memiliki kegiatan ekstra kurikuler yang beragam yah?!
Pada akhirnya aku berkesempatan untuk mengenalkan Riko kepada teman-temanku. Sungguhan, para senpai-ku itu yah teman-temanku juga, tahu!? Yah, setidaknya ini bisa sedikit menghilangkan kesalahpahaman tadi, sih.
.
.
Setelah itu Rin bertemu dengan Kayo-chin yang baru saja tiba di kantin. Kebetulan kami juga melewati tempat ini barusan. Riko lalu membungkukkan kepala kepada Kayo-chin yang tentu saja membuat dia menjadi sedikit canggung.
"S-Selamat siang, Koizumi-san. Otsukare..."
"Otsukare... Eh, Otsukare?!"
Sesaat Hanayo tampak bingung dengan ucapan Riko temasuk Rin yang tidak tahu harus menampiknya seperti apa.
"AHAHAHA... Riko-chan, kamu ini tegang banget sih.. Aku gak habis ngapa-ngapain kok. Cuma mau makan aja!"
"A-Ahahaha... I-Iya juga yah... M-Maafkan aku."
"Udah-udah, Riko pasti kurang fokus karena lagi laper, kan? Yuk, makan bareng aja gimana?!" ajakku sembari memegang perutku yang juga telah lapar."
"U-Umm, tapi Riko sudah bawa bekal bento dari rumah. S-sepertinya, aku lebih baik balik ke kelas aja deh. mumpung masih jam istirahat."
"Yah, kalau Riko bilang seperti itu. yah, terserah kamu, sih?! Baiklah, sampai ketemu nanti di kelas."
Setelah itu Rin dan Kayo-chin berpisah dengan Riko yang memutuskan untuk kembali ke kelas. Pada saat itu kita berdua makan siang bersama sementara Kayo-chin terus menanyakan perihal perkenalan antara aku dan Riko.
Yah, itu bukan sesuatu yang harus ditutupi sih. Tapi Rin sendiri juga gak ngerti harus ceritainnya mulai dari mana. Seandainya kehidupan itu semacam buku tertulis otomatis maka Rin bakalan tinggal kasih tunjuk halaman yang harus dibaca Kayo-chin begitu aja sih. Jadi, gak ribet.
Setelah makan siang, Kayo-chin pamit karena dia ada keperluan dengan klub ekstrakurikuler dia. yah sudah, Rin akhirnya jalan sendirian menuju kelas sih. Tapi ketika menuju arah keras aku mendengar suara 'BRAAKK'. Hmm, itu berasal dari atap sekolah. Memangnya pintu itu terbuka, yah? Kok bisa, biasanya kan wilayah itu dilarang masuk.
Jangan-jangan... Aku tiba-tiba mendapat firasat buruk. Nggak mungkin, tapi bisa aja sih. Bahkan jika itu yang terjadi maka sebenarnya itu hal yang wajar di negara ini. NGGAK! Tetap aja itu adalah hal yang buruk. Aku nggak mau ada kejadian kayak gitu... khususnya di sekolah ini!
Rin kemudian bergegas menaiki tangga itu dengan perasaan was-was. Firasatnya mengatakan untuk dia harus cepat namun pikirannya berkata supaya dia berjalan pelan supaya tidak mengagetkan 'orang itu'.
Selangkah demi selangkah, Rin menaiki tangga itu sembari memegang dinding penyangga bak hendak merayap. Saat itu suasana sedang sepi sehingga mau tidak mau dia harus mengatasinya sendiri. Dia terus naik sambil melihat ke atas seperti seorang mata-mata memasuki wilayah musuh. Tapi kali ini bukan seperti itu kejadiannya.
Rin pada akhirnya berhasil sampai di atas , tepatnya di belakang pintu yang terbuka itu. Awalnya, Rin menyangka pintu itu rusak tapi kemudian dia melihat bayangan melewati tempat itu. Bukan hanya satu, melainkan dua orang.
Meski sempit namun dia bisa melihat sosok itu dengan cukup terang. Keduanya berada 2 meter di depan pintu dan saling berhadapan. Rin tidak tahu apa isi pembicaraan mereka namun dia bisa mengenali sosok gadis yang sama-sama memiliki warna rambut yang hampir sewarna itu.
Sedetik kemudian, mata Rin terbelalak dan membuat hatinya berdegup kencang. Dia tidak tahu mengapa hatinya seperti ini namun itu sudah cukup membuat badannya gemetar dan tidak kuasa untuk harus menjauhi tempat itu. Di berkata kepada dirinya sendiri bahwa tidak seharusnya dia mendatangi tempat itu sejak awal.
"Aduuuuhhh..."
Dia berbalik dengan langkah cepat tapi itu malah membuatnya tersandung dan sempat terjatuh di anak tangga ke dua. Rin kemudian terus berlari dan pada akhirnya meninggalkan tempat itu untuk selamanya menuju ke kelas.
Di setiap perjalanan itu dia hanya bisa berucap satu hal,
"M-mereka berdua itu tadi... berciuman, kan?!"
.
Periode 24: End
