Periode 25: Bukan Teman Terbaikku
.
Matahari menjulang agung di langit Akihabara pada siang hari ini seakan hendak memegahkan dirinya dan mamaksa khalayak ramai untuk mengagumi terangnya.
Meski demikian, itu tidak ada gunanya seperti contoh para murid SMA Otonokizaka yang sedang beristirahat siang ini lebih memilih untuk berteduh di dalam ruangan kantin yang ber-AC ketimbang bersenang-senang bebas di lapangan. Namun, di atas atap sekolah yang luas ternyata masih ada seorang yang berdiri tegak di bawah naungan panas yang seharusnya membakar kulit itu.
Orang itu, bukan, gadis itu, hanya seorang diri bersandar di pinggir besi pagar atap sekolah SMA Otonoki sembari sesekali tersenyum tiba-tiba. Di bawah sinar matahari yang membumbung tinggi dia menikmati deruan angin panas yang menerpa seluruh tubuhnya. Rambut merahnya terbang merekah dengan indah terhempas oleh angin bagaikan nyala api yang berkobar terang.
Sesekali dia menundukkan kepala untuk mengamati gerombolan putri SMA yang ada dibawahnya sedang asyik berkumpul dan bercanda ria bersama teman-teman mereka. Ini adalah jam istirahat sekolah tentu saja normalnya mereka saling berkumpul dengan teman-teman mereka namun gadis ini memilih seorang diri di atas atap gedung ini.
Sendirian dan kesepian. Pasangan kata yang cocok menggambarkan suasana yang dialami oleh gadis itu namun dia seolah menampik pendapat tersebut dan menganggap keadaan ini sebagai hal yang biasa, bahkan saat ini dia tetap bisa tersenyum tanpa menunjukkan aura kesedihan sedikitpun.
Dia merasa senang hari ini, oleh karena...
"Maafkan aku kelamaan...!"
Gadis muda itu segera menoleh menyongsong arah sumber suara tersebut yang berasal dari ujung pintu masuk terlarang tempat tadi dia datang. Guratan senyuman segera terkembang lebih besar untuk menyambut tamu yang sejak tadi dia tunggu.
"Kau lama..." sahutnya agak kesal.
"Maaf, maaf... i-ini kan pertama kalinya aku berada di sekolah ini jadi tadi aku sekalian meminta bantuan dia untuk menemaniku mengelilingi sekolah dan setelah aku paham jalan menuju tempat ini maka aku segera bergegas kemari."
"Dia? Oh, 'dia'... Jadi, Kalian memang benar-benar sudah akrab sejak lama rupanya yah?"
"Ahahaha... nggak akrab-akrab banget sih. Kita cuma dua orang asing yang kebetulan di sebuah kejadian dan tiba-tiba dia mengajakku menjadi temannya. Yah, Ceritanya panjang, sih..." Gadis itu tersenyum menanggapi pertanyaan ketus yang dilontarkan sang lawan bicara.
"Hmm... Memang dasar yah anak itu.. selalu saja tidak ragu-ragu mengajak orang asing untuk berteman." Tanggapnya tersenyum kecut.
"Tapi, sungguh deh, kamu juga sama saja.. masih memakai isyarat lama dengan memegang kerah baju di tangan kiri sebagai tanda berkumpul di atap sekolah itu benar-benar gaya kamu banget sejak SMP."
"Well, aku cuma ngetes apakah kamu masih ingat atau tidak. Itu saja."
"Gugugu... kau ini bisa saja mengatakan hal seperti itu. Sifat tsundere-mu yang itu sama sekali tidak berubah yah?" sang gadis berambut panjang memukul pelan bahunya sambil tersenyum.
Kini kedua orang itu sudah berjumpa dan saling bertukar sapaan. Mereka berdua tidak perlu banyak basa-basi untuk memulai percakapan ini. semuanya mengalir bagaikan baru saja mereka bertemu kemarin.
Perlahan-lahan kedua gadis itu saling maju selangkah demi selangkah. Keduanya saling menggenggam tangan di antara jemari mereka dengan mata saling menyambut titik itu dengan ramah.
"Sudah lama yah, Maki-chan."
"H-Haik..." suaranya sedikit tertahan, tubuh sang putri itu gemetar penuh emosi. Tanpa pikir panjang dia segera membuang image angkuh dirinya yang biasanya dan membiarkan tubuhnya lepas sehingga dia bisa memeluk tubuh lawan bicaranya itu dengan lebih erat.
"Aku kangen kamu... Riko-chan!"
"Yosh... Yosh...!"
Siswi pindahan yang baru datang ke sekolah barunya itu segera menyambut sang puteri dengan pelukan ramah dan hangat. Tidak banyak kata yang terucap namun sambutan mesra dapat dirasakan melalui dekapan mereka berdua yang tidak ingin saling lepas kembali.
Pertemuan mereka di saat SMP kelas satu dan perpisahan setelah 2 tahun hingga pertemuan mereka sekarang telah membawa banyak kenangan yang tertunda. Kini sang putri, Maki-chan sangat berhasrat untuk mengutarakan seluruh perasaannya yang sejujurnya kepada rekan dia yang sebenarnya. Meskipun, ada perasaan cemas apakah gadis yang ada didepannya ini telah berubah tapi dia tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh saat ini.
Riko, murid pindahan itu di lain sisi, juga tidak banyak berkomentar banyak selain jemari tangan kanannya mengelus rambut merah panjang itu dengan lembut. Keduanya tidak tahu lagi harus berkata apa setelah ini. Mereka hanyalah dua orang teman yang sudah lama tidak bertemu dan tanpa mereka ketahui takdir telah menuntun mereka untuk bisa bertemu lagi sekarang.
Apakah waktu ini bisa bertahan lama? Seandainya dia mempu menghentikan waktu untuk beberapa saat tentu dia akan melakukan itu. pertemuan yang tiba-tiba ini benar-benar terasa tidak nyata.
Paras sayunya, genggaman tangannya yang lembut dan hangat, aroma tubuhnya yang khas, itu semua terasa tidak nyata baginya.
Segala sesuatu yang tidak pernah dia lihat selama dua tahun ini mendadak muncul membawa pesona indahnya. Riko, sekeping kenangan dari masa lalunya itu telah kembali dan Maki benar-benar berharap penuh supaya dia bisa mengisi kekosongan jiwanya yang dua tahun ini telah hilang. dia tidak ingin menangis tapi perasaan haru ini begitu berat mengisi hatinya.
Maki sempat tergelitik untuk mempertanyakan apakah rasa ini cuma dia saja yang merindukannya ataukah Riko juga turut merasakan hal yang sama?
Namun, belum sempat dia menyalurkan maksud hatinya. Suasana haru mereka itu tiba-tiba harus terhenti sejenak karena teralihkan oleh suara gaduh yang berasal dari balik pintu terlarang itu.
Apakah ada orang lain di balik pintu itu?
Maki tidak yakin namun dia samar-samar melihat ada sesosok gadis berambut pendek yang sedang menatap ke arah mereka saat ini.
I-itu?!
Perlahan Maki melepas genggamannya dan berlari menuju pintu tersebut. Samar-samar terdengar suara gaduh di balik pintu dan ketika dia membukanya,
"Rin?!" gumam gadis itu pelan namun tidak ada siapapun disana hanya angin kosong belaka. Sambil mengelus tengkuk belakangnya dia memegang dagu sambil berpikir. Dia yakin namun tidak dapat memastikannya. Rasa cemas dan khawatir yang kosong bercampur menjadi satu membentuk perasaan bersalah di dalam hati.
Permasalahannya, 'mengapa aku harus merasa bersalah begini?'
Badan Maki terpaku dingin memikirkan itu hingga seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Maki, kamu tidak apa-apa?!" tanya Riko dengan suara cemas. "A-Apakah ada seseorang disana?!"
Melihat kawan lamanya itu mengkhawatirkan dirinya maka Maki segera membuang perasaan buruknya dan beralih melanjutkan kembali atmosfer haru yang sejenak tertunda.
-oooo-
.
Rin terus berlari kencang melewati koridor sekolah yang lenggang karena para murid sekolah juga mulai kembali ke kelas mereka masing-masing. Pada saat itu Hanayo baru saja selesai keluar dari ruang klub untuk kembali ke dalam kelas dan menjumpai Rin yang terus berlari melewati dirinya dengan raut muka tegang.
"Rin! Kamu mau kemana? Kelas kita ada di sebelah sa-"
Suara itu tidak dia lanjutkan kembali karena orang yang dia ajak bicara juga tidak mau mendengarkan dan pergi begitu saja.a
"Hmm, ada apa sih dengan dia?"
Setelah itu, Hanayo kembali ke kelasnya bersama dengan teman-teman yang lain yang telah duduk di tempat mereka semula. Namun, Rin tidak kunjung kembali ke kelas hingga jam pelajaran keempat hampir berakhir.
Maki sesekali mengalihkan pandangannya ke meja Rin yang kosong dan itu berulang beberapa kali hingga pandangannya tertangkap mata oleh Riko dan Hanayo namun mereka juga sama-sama menggelengkan kepala.
Hingga pada akhirnya, tiba-tiba dari depan pintu terdengar suara keras dari seseorang yang membukanya.
"Permisiii~! Rin sudah kembali-nyaa~~~!" tiba-tiba suara nyaring dari gadis berpose kucing itu menggaung indah menghentak kesunyian kelas itu.
Hampir seisi kelas menjadi kaget dengan ulah tiba-tiba dirinya bahkan sang guru yang sedang menulis di papan tulis tanpa sengaja mencoreng kapur tulisnya hingga patah.
"K-Kau ini apa-apaan sih, Hoshizora-sana?! Dari mana saja kamu?! Mengapa baru datang sekarang saat pelajaran saya hampir berakhir?!" cerca sang guru namun Rin dengan tetap tersenyum malah menghampiri guru itu sambil membawakan sepucuk surat.
Ibu Guru pelajaran sejarah jepang itu lalu membuka dan membacakannya keras-keras di depan kelas.
'Yang Terhormat, ibu pengajar yang ada di tempat. Dikarenakan situasi badan pasien yang kurang sehat maka dengan ini saya memberikan ijin kepada murid atas nama Rin Hoshizora untuk beristirahat di ruang UKS hingga kesehatan siswa ini membaik. Mohon kebijaksaannya. Atas nama guru UKS, dr. Uzuki.'
Setelah membaca itu, raut muka ibu guru berubah menjadi sedikit gusar sambil bolak-balik melihat isi kertas itu dan wajah Rin. Rasanya sulit dipercaya bahwa gadis periang dan energik seperti dia bisa masuk ruang UKS dengan ijin resmi seperti ini.
"Ah, Kamu beneran sakit? Tumben?! Jadi, apakah kamu masih tidak enak badan, Hoshizora-san?!"
Wajah gadis itu memang tampak sedikit pucat dibandingkan keadaan biasanya namun senyumannya yang periang tidak berubah dan tetap terasa hangat untuk dipandang sehingga bisa ditebak jawaban yang akan diberikan oleh gadis itu.
Rin lalu tiba-tiba membungkukkan badan. "Mohon maaf, sensei. Rin mau mohon ijin pulang lebih cepat karena masih belum enak badan."
Ehh?! Hampir murid satu kelas Rin tampak kaget melihat respon yang diluar dugaan tersebut. gadis itu sakit beneran?! Apakah jangan-jangan...
"B-Baiklah... tapi apakah kamu yakin bisa pulang ke rumah dengan keadaan seperti ini?! apakah tidak sebaiknya kamu tetap berbaring di ruang UKS saja?!" saran sang guru.
"T-tidak... Tidak apa-apa, rumah Rin tidak terlalu jauh dari Otonokizaka kok. Rin masih kuat untuk pulang ke rumah."
"Kalau itu kemauanmu, pihak sekolah juga tidak berhak untuk melarangnya. Kalau begitu kamu juga harus melaporkan ini kepada guru wali kelasmu sebelum meninggalkan sekolah"
"Haik, terima kasih banyak..."
Setelah itu Rin kembali ke bangku meja dan mengemasi tas sekolahnya sebelum meninggalkan kelas. Pada saat itu keadaan kelas sedikit gaduh karena kebanyakan dari mereka juga turut berbisik pelan untuk menanyakan keadaan Rin yang mendadak tidak sehat.
Riko yang berada di belakang melihat Rin yang sedang mengemasi buku pelajarannya terlihat cukup cemas namun Rin terus meyakinkan teman-temannya bahwa dia baik-baik saja. Termasuk Maki yang berada di sudut meja lainnya meski sedikit membuang muka juga sangat perhatian dengan keadaan Rin saat ini.
Pada akhirnya Rin pulang meninggalkan sekolah dengan diantar oleh Shibuya-sensei yang khawatir dengan keadaannya yang sekarang.
Tanpa terasa waktu sekolah sudah menunjukkan jam pulang dan dengan tergesa-gesa Maki segera meninggalkan kelas menuju ruang UKS untuk mendapati Uzuki-sensei yang baru saja selesai berkemas untuk pulang. Dengan peluh yang masih membasahi mukanya dia lalu membuka mulutnya untuk berbicara.
"S-Sensei... d-dia kenapa?!"
"Maki-chan?! Kamu kenapa terburu-buru seperti ini?! dia, siapa yang kamu maksud?!" tanya wanita paruh baya itu dengan memiringkan kepala.
"Dia... Rin Hoshizora tadi berada di ruangan ini, bukan?!"
"Ah, gadis itu tadi pingsan di dekat kolam air pancur di taman. Beruntung, saya dan Shibuya-sensei sedang lewat sana jadi kami segera menemukanya dan membawa dia di ruang UKS untuk bisa beristirahat. Ada apa? Sepertinya kamu mengkhawatirkan dia sekali? Tidak ada yang perlu dicemaskan, dia hanya kecapekan saja." Terang Uzuki-sensei sang guru UKS kepada Maki.
Namun, setelah mendengar itu bukannya Maki menjadi tenang malah dia segera berbalik meninggalkan pintu dan berlari kencang meninggalkan sekolah menuju rumah Rin.
Sekitar 20 menit Maki terus berlari meninggalkan gedung sekolah menuju rumah Rin tanpa mengendurkan langkahnya. Sekitar sepuluh kali teleponnya berdering karena pengawalnya mulai bingung tidak mendapati nyonya mudanya di sekolah untuk mereka jemput.
-oooo-
.
'Ting Tong!'
Bel rumah itupun berdering setelah wanita dengan poni rambut sebahu itu sampai ke rumah Rin dengan nafas masih tersengal-sengal. Seorang ibu muda yang juga berambut pendek oranye kemudian datang untuk membukakan pintu tersebut.
"Se-Selamat sore, nyonya!" ujarnya membungkukkan kepala.
"Araa, bukankah ini temannya Rin? Kalau tidak salah namamu Maki, kan?"
"Haik, mohon maaf, apakah Rin ada di rumah, tante?"
"Ah iya benar, tadi Shibuya-sensei datang mengantarkannya pulang ke rumah. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anak itu karena dia terus diam seribu bahasa semenjak tiba ke rumah ini. apakah kamu tahu sesuatu, nak?"
Maki kemudian menceritakan tentang apa yang dia ketahui tentang kesehatan Rin berikut menceritakan perkataan Uzuki-sensei yang tadi diberitahukan kepadanya.
"B-Begitu yah, jadi dia tadi sempat pingsan di sekolah." tutur ibu Rin pelan. Dia segera mencemaskan kesehatan anaknya yang selama ini tidak ada perkembangan sama sekali.
"Kalau begitu, apakah kamu mau bertemu dengan dia? tampaknya kamu sangat mencemaskan keadaannya sekarang?"
"B-bukan begitu, tante... aku cuma mau mengembalikan bukunya yang tertinggal saja." Sangkalnya dengan muka memerah.
"Begitu yah? kalau gitu bagaimana kalau kamu masuk ke kamarnya saja. Mari, tante anta."
"Ahh, Maaf, merepotkan... Kalau begitu saya permisi..."
Maki dengan sopan meminta maaf untuk kedatangannya ke rumah Rin yang mendadak dan sang Ibu Rin turut menunggunya dengan sabar untuk melepaskan sepatu di depan rak sepatu mereka. Setelah itu, mereka berdua menaiki tangga ke ruangan Rin berada. Tampaknya gadis itu sedang tidur.
Sang ibu lalu mengetuk pintu kamarnya namun tidak terdengar suara balasan dari balik pintu itu.
"Rin-chan, kamu belum tidur kan, nak? Nih, ada temanmu yang mau berkunjung ke rumah?"
"Hah, siapa, ma?!"
"Maki-chan, sayang. Girlfriend-mu, yang datang kesini itu lho!"
"Ehh, g-girlfriend?!" muka Maki memerah mendengar itu. belum sempat dia protes tiba-tiba terdengar suara balasan dari Rin di balik pintu itu.
"Mama, kata girlfriendnya jangan digabung! Dia itu cuma temen doang, bukan pacar Rin?!"
"Ehh, emang artinya beda yah?!" timpal sang ibu melihat ke arah Maki yang mukanya memerah dan kepalanya tertunduk malu sambil angguk-angguk.
"Araa, maaf yah?! tante gak tau..."
"Tante? Duh, mama ini ngomong sama siapa sih?! Kok sama anak sendiri aneh banget! Udah lah, pokoknya anak itu suruh pulang aja sekarang! Bilang aja Rin lagi kena penyakit menular apa kek. Rabies kek?! Pokoknya penyakit parah yang bisa bikin menular dan bikin orang gila!"
"Arraa, tapi Makinya sudah ada di depan pintu kamarmu, sayang."
Mendengar itu tiba-tiba tidak ada suara balasan dari Rin melainkan langkah kaki yang terdengar keras menuju pintu tersebut.
"M-Maki...chan?! O-Ohayou?! Tumben, kamu ke rumahku, nyaa." Peluh sebesar jagung terlihat membasahi mukanya. Dia memberikan rona senyuman paling kikuk kepada gadis didepannya, sementara itu dia juga membuang muka menoleh kepada ibunya untuk memberikan rona wajah bengis paling imut dia punya.
"Ahh, katanya kamu gak mau ketemu aku, kan? Ya udah, aku pulang yah?!"
"Nyaa, jangan gitu dong Maki-chan! Aku becanda doang kok! Iya, kan, Mah?!"
"Ahh, jadi tadi itu becanda yah?! ahh, begitu deh... emang anak tante ini suka becanda sih. Hehehe..."
"Udah ah, mending mama turun aja deh biar Maki masuk ke kamarku sekarang. Udah yah, byee!" Rin lalu menarik tangan Maki dan segera menutup pintu kamar itu.
"Araa, kalo gitu Mama buatin teh sama kue dulu, yah?!"
"T-Tidak perlu repot-repot, tante..."
Maki segera membalas perkataan ramah itu namun tidak terdengar suara sang ibu. Tampaknya Ibu Rin sudah turun menuju dapur. Sembari membuang nafas, Maki lalu menyadari sepenuhnya bahwa saat ini dia berada di kamar pribadi Rin untuk pertama kalinya.
Meski tidak cukup girly, tapi Maki bersyukur bahwa kamar Rin ini tampak bersih dan tidak terlihat seperti kamar cowok yang penuh koleksi mainan atau khas berantakannya.
Bagaimana pun juga Maki semenjak pertama kali datang ke rumah Rin sudah menahan dirinya supaya tidak terlihat manja yang selalu minta dilayani. Dia sadar bahwa disini itu bukan kediamannya ini sehingga dia tidak terlalu banyak mengeluh dengan tempat yang tidak lebih besar daripada mess milik pegawai rumahnya.
Sekilas dia melihat-lihat keadaan di dalam rumah ini memang rapi dan bersih untuk bisa ditinggali bersama. Ada suasana hangat yang tidak dapat dia temukan di dalam rumahnya ada disini.
Ada sebuah foto besar yang terpajang di ruang keluarga yang menunjukkan Rin bersama dengan ibu dan ayahnya. Ibu Rin memiliki rambut pirang oranye seperti Rin dan ayahnya berambut hitam layaknya orang jepang pada umumnya.
Kini Maki juga bertanya-tanya apakah ibu Rin memiliki darah darah keturunan orang luar negeri? Pada umumnya rambut pirang orange itu tidak terlalu wajar untuk orang Asia. Semakin dia penasaran tentang itu dia juga samar-samar teringat kepada sesuatu namun tidak tahu harus bertanya tentang apa?
"M-Maki-chan, k-kamu ada perlu apa ke rumahku?" sapa gadis itu membuyarkan lamunan Maki. Gadis itu segera beranjak duduk di atas kasurnya yang berwana kuning hijau dengan posisi duduk bersilah.
"U-um, aku hanya ingin tahu keadaanmu. Apakah kamu baik-baik saja sekarang? Penyakitmu kambuh? Kenapa kamu tidak ke rumah sakit saja?"
"U-umm, aku rasa begitu..." jawabnya dengan senyum terpaksa. "Ini tidak seburuk yang kamu bayangkan kok. Aku cuma kecapekan saja hari ini. tinggal tidur seharian pasti besok juga bisa sehat lagi.
"J-Jadi... Cuma itu saja, kah?
"Ahh, aku juga ingin mengembalikan bukumu yang tertinggal di meja." Lanjutnya sembari mengeluarkan buku di dalam tasnya.
"Ehh?! Maafkan aku sudah merepotkanmu, Maki-chan! Rin kira Rin sudah mengemas semua bukunya ke dalam tas, nyaa!" gadis itu sedikit panik menerima buku yang diberikan oleh Maki.
"Tapi, Maki-chan seharusnya kamu tidak perlu repot-repot datang kemari, nyaa?! Letak rumahku ini kan terlalu jauh dari rumahmu. Lagian, kamu sebenarnya bisa menunggu untuk mengembalikan itu besok, kan?."
Gadis berambut merah itu tidak membalas perkataannya.
"Aku tadi mendengar penjelasan dari Uzuki-sensei bahwa tadi siang kamu sempat pingsan kan, Rin?"
"I-Itu… benar, nyaa" jawabnya lirih. "t-tapi kamu tidak perlu cemas, Maki-chan. Aku pingsan gara-gara kecapekan habis lari-lari doang, kok..!"
"Kamu berlarian dari atas tangga atap sekolah kan?!" sela Maki dengan suara datar.
"Enn… Kamu ngomong apa sih Maki-chan? Memang, ngapain juga aku berada di atas atap, nyaa?! Ehh.. bukannya itu gak boleh yah? Jangan bilang kalau tadi siang kamu…"
"RIN!"
"H-HAIK!"
"Sudahlah jangan berkata berbelit-belit lagi… Rin, tolong jawab pertanyaanku ini. Aku minta tolong supaya kamu jujur kepadaku. Apakah tadi siang kamu naik ke atas tangga atap sekolah?"
Suara Maki terdengar agak bergetar saat menanyakan itu seolah ada gejolak batin ketika ia menyampaikan kata-katanya sekarang. Namun, gadis yang dia tanya itu pun tidak mengeluarkan sepatah kata pun sehingga membuat Maki tergelitik untuk mendongakan kepala untuk melihat wajah Rin.
Gadis itu... gadis itu terhenyak untuk sesaat namun kepalanya tidak tahan untuk mengangguk. Dia menjawabnya dengan perbuatan yang sungguh canggung. Tidak bisa blak-blakan seperti Rin yang biasanya.
"Begitu yah?" gadis itu tersenyum lirih. Dia kemudian lanjut membuka suaranya kembali.
"Menurutmu…"
"hmm?"
"Apa yang kamu pikirkan saat melihatku bersama dia?"
"A-Aku… nggak tau, nyaa! Bingung!"
"Heh? Kenapa begitu?!"
"Aku tadi… sebenarnya cuma samar-samar melihatmu tadi jadi Rin gak kelihatan jelas tapi benar gak sih kalau gadis yang bersamamu tadi itu adalah Riko-chan?"
"Iya, kamu benar. Dia adalah Riko Sakurauchi."
"Ehh? Maki-chan sudah kenal dia sejak lama yah rupanya. Tadi Rin takut salah orang makanya Rin langsung buru-buru cabut dari tempat itu. Tapi…"
"tapi…?"
"Kenapa kamu memeluknya? Apakah kamu juga menciumnya seperti halnya kamu memperlakukanku di ruang UKS pada minggu sebelumnya?"
"A-Aku nggak…"
"Ah, maaf! Rin nggak siap mendengarkan penjelasan Maki-chan. Rin nggak mau nanti malam gak bisa tidur nyenyak karena kepikiran kata-kata Maki-chan! Udah, Rin lebih baik bakalan hapus memori itu dan anggap semuanya gak ada apa-apa, ok!"
"Tunggu…. Rin, dengarkan penjelasanku dulu!
"Nggak! Nggak mau! Lagipula memang gak ada yang perlu kamu jelaskan, kan! Sudahlah, mending kamu pulang aja deh ke rumahmu. Nanti mamamu malah telepon polisi buat cari kamu disini" kicaunya panic tidak mau menggubris perkataan Maki yang berusaha menenangkannya.
Maki sudah angkat tangan dengan kelakuan Rin yang kelewatan manja namun dia tidak mau bergeming dari tempatnya berada dan menatap gadis itu erat-erat. Dia memegang pundak gadis itu hingga badannya tidak berontak lagi.
"Sudah tenang!"
Gadis kucing itu menurut dan menganggukkan kepala pelan. Maki yang tetap memegang pundaknya kemudian menghela nafas sejenak sebelum memutuskan untuk berkata-kata lagi.
"Rin, kamu kok gini sih! Dengerin aku dulu dong! Aku sama Riko itu memang teman lama sejak SMP tapi kami terpisah dan tidak pernah bertemu lagi, baru hari ini aku pertama kali berjumpa dengan dia lagi. Dia itu teman terbaikku! Lagian kamu gak perlu ketus seperti itu dong! kamu ini udah kayak pacarku saja!"
"Ehh!"
"Ehh, nggak…nggak, lupakan kata-kataku yang terakhir!"
Muka mereka berdua sama-sama memerah setelah mendengar itu. Hening sejenak tidak dapat terhindar di dalam kamar yang tidak terlalu besar itu sehingga membuat gelagat mereka berdua menjadi salah tingkah.
"M-Maki-chan! Jawab jujur kepadaku, sebenarnya kamu anggap aku itu apa, sih?!"
"temen…" jawabnya cepat dan datar.
"Trus antara aku dan Riko mana yang jadi teman terbaikmu?!"
"kok tanyanya gitu sih?!"
"udah jawab aja!"
"Seperti yang tadi aku bilang Riko itu teman terbaikku, dan itu sudah terjadi sejak lama tentu saja aku milih dia!"
"Oh, gitu… jadi kamu udah gak butuh aku lagi?! Udah kalo gitu, kamu gak usah kesini lagi, Maki-chan!"
"Ehh, kok gitu sih ngomongnya… jangan ngambek dong! Nanti ekor kucingmu keluar lho kalo lagi ngambek."
"Habisnya!"
Belum sempat Rin menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Maki mendekatkan wajahnya dan mengecup pipinya yang terus cemberut.
"MAKI!"
Rin dengan mata terbelalak tidak dapat menyembunyikan kekagetannya pada saat merasakan kelembutan kecupan sang putri yang masih tertempel di pipi kanannya. Tangan kanannya masih meraba tempat tersebut yang kini telah berubah semakin memerah. Sementara itu Maki yang kembali menghela nafas hanya tersenyum simpul melihat tingkahnya.
"Ah, akhirnya kamu melihat mukaku juga."
"Maki, kamu kelewatannn...!" katanya sambil menjewer pipi putri itu hingga memerah. Setelah puas mengeluarkan emosinya dia kemudian memunggungi gadis itu sambil melipat tangannya.
Tapi...
Gadis itu tiba-tiba terkejut setelah merasakan sentuhan tangan yang sedang memeluknya dari belakang. Itu adalah Maki yang tiba-tiba mengeluarkan sifat manjanya kepada orang lain. Sifat yang tidak pernah dia tunjukkan kepada ibunya sekalipun.
"M-Maki...?!"
"please..."
"huh?"
"please, dont hate me... Rin."
"w-wha..."
Rin menoleh dan mendapati raut muka gadis itu muram seakan menahan tangis dan berusaha tegar sementara membisikkan kata-kata tersebut.
Hati orang mana yang tidak lulu melihat rona wajah seorang puteri sedang mengharapkan iba dari orang lain?
"A..Aku nggak benci kamu, kok."
"Benarkah?"
Rin tidak menjawab lagi selain menganggukkan kepala sebentar namun itu saja sudah cukup untuk membuat gadis itu tersenyum kembali.
"Terima kasih yah."
"Udah jangan dipikirin lagi.. udah sana, ambil tisu buat hapus air matamu." Katanya sambil menunjuk meja di sisinya.
"Tapi, kau tahu... kata-kataku itu tadi beneran kok, Riko adalah teman terbaikku."
"iya, aku ngerti. Aku cuma bercanda aja kok... sudah jangan diperpanjang lagi." Katanya dengan suara agak muram.
"Dan, itu artinya kamu itu bukan terbaikku, ngerti?!"
"Iya, iya... terserah kamu!" kali ini suaranya agak sedikit meninggi, terdengar jengkel.
"Kamu itu bukan teman terbaikku.. Kamu itu teman spesialku, ngerti?!"
"Iya, i... Heh?! Apa maksudmu?!"
"M-Maksudku, selama ini aku rela kehilangan teman terbaikku dan itu tidak terlalu berpengaruh banyak dalam hidupku. Tapi, jika aku kehilangan kamu maka aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa di masa depan."
"Maki..."
"Rin, kamu itu gadis spesial bagiku. Karena kamu, aku bisa memiliki hubungan yang baik dengan teman-teman di kelas dan kepada keluargaku sendiri. Seandainya aku tidak pernah bertemu kamu maka aku tetap menjadi gadis egois yang pendiam dan cuek sekali. Karena itulah kamu adalah teman spesialku."
"Jadi... Tolong jangan mati dulu."
Sementara mengatakan itu, suasana langit sore sudah berubah menjadi petang. Lampu di jalanan telah menyala secara otomatis. Dan gonggongan anjing dan kucing yang mengeong di jalan depan rumah Rin saling menyahut nyaring memberi tahu orang lain bahwa gelap telah datang.
Ada cairan hangat yang membasahi telapak tangan Rin yang digenggam erat oleh Maki itu. itu adalah butiran yang jatuh, sesuatu yang lebih mahal daripada seonggok berlian sekalipun. Itu adalah air matanya.
Sang puteri itu menangis sambil menahan suaranya supaya tidak pecah. Rin yang melihat itu tidak dapat berkata-kata lagi selain terpaku menatap momen ini.
Satu hal yang seharusnya Maki ketahui bahwa perasaan hangat itu juga telah menyentuh gadis bertipe sanguin ini dengan penuh rasa haru. Hatinya benar-benar telah meleleh ketika mengetahui orang yang ada disampingnya itu sedang mengutarakan perasaan yang sejujurnya.
Entah, mulai kapan mereka akan menyadari ini namun mereka berdua itu sudah seperti sepasang sepatu yang tidak mungkin bisa cocok dengan sepatu model lainnya. Mereka sudah saling mengakrabkan diri untuk tidak mau terpisah.
Memang, bukankah tidak berlebihan bila kita memang sudah seharusnya menghargai dan menjaga perasaan ini dengan sepenuh hati dan hidup. Karena hidup hanya ada untuk sekali saja. Belajar mengenal arti hidup yang baru tentu akan membuatmu semakin dewasa.
Jadi, bagaimana seharusnya kita menamakan perasaan ini sekarang?
.
-Periode 25: bersambung-
.
A/N: maaf banget yah baru bisa masukin cerita baru sekarang. Bener2 stuck pas nulis bagian paragraf awal cerita ini. lagi, banyak yang harus dikerjain juga jadi males buat lanjut nulisnya. maaf, maaf banget. btw, apakah masih ada yang baca cerita ini di tahun 2018 ini?
