Inaho tahu Slaine itu anak orang kaya, hidup enak, dan punya banyak pelayan.
Awalnya Inaho pikir semuanya akan enak-enak saja. Ya, siapa juga sih yang tidak ingin menjadi kaya mendadak seperti ini, hahaha.
Tapi, kepala Inaho pusing.
"Jadwal anda hari ini setelah pulang sekolah adalah les bahasa Prancis, kursus piano, les matematika, kemudian undangan peresmian restoran milik Rayet-san. Saazbaum-sama harus menunda keberangkatannya dari Arab karena masalah teknis—di sana tengah gencar serangan teroris." Harklight membacakan jadwal Tuan Mudanya selagi ia tengah menyemir sepatu sekolah Slaine yang tengah dikenakan Inaho saat ini.
"Sudah beres, Slaine-sama. Hari ini kepala pelayan mengusulkan sarapan dengan—"
Inaho ogah mendengar semua itu. Ia sungguh tidak mengerti dengan kehidupan orang kaya.
Bagaimana Slaine bisa tahan dengan semua ini?
.
.
.
.Aldnoah Zero © Project A/Z, Olympus Knights, A-1 Pictures, Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama.
Inaho x Slaine
BL alias Boys Love, shounen-ai , hvmv dsj
AU. OOC. Typo(s).
Don't Like Don't Read. I've warned you!
.
.
.
.
.
Kali ini Inaho tidak kabur lagi seperti kemarin. Harklight juga tidak bertanya macam-macam soal itu ketika sedang mengantarnya ke sekolah menggunakan mobil, jadi Inaho pikir melupakan adalah jalan terbaik.
"Bagaimana kondisi anda, Slaine-sama? Anda selalu saja menolak tawaran pengobatan ke luar negeri."
Inaho memang tidak tahu apa-apa tentang Slaine, namun ada bagian dari hatinya yang penasaran soal penyakit saingannya itu. Kemarin juga sewaktu ia melihat kotak bekal Slaine yang penuh obat-obatan, ia ingin bertanya tapi merasa tidak enak.
Heh? Tidak enak?
Inaho kacau. Buat apa dia merasa tidak enak pada Slaine?
Ini tidak benar.
Mobil yang ia naiki terhenti di depan sekolah menengah atasnya. Harklight mematikan mesin dan keluar, membukakan pintu untuk majikannya. Inaho yang tidak terbiasa diperlakukan begini hanya menurut meskipun sungkan pada Harklight karena usianya jauh lebih tua darinya.
"Kudengar cuacanya akan cerah, tapi, sebaiknya anda membawa payung lipat ini." Harklight menyerahkan payung lipat yang ia bawa kepada Inaho di tubuh Slaine. Inaho mengangguk.
"Hati-hati pulangnya, Harklight-san."
Harklight tersentak. Sedetik kemudian ia tersenyum tipis.
"Baik, Slaine-sama."
.
.
.
.
.
Inaho bertemu dengan Slaine di koridor. Slaine tersenyum sumringah menggunakan wajahnya.
"Pagi, Kaizuka." sapanya pelan. Inaho jijik sendiri, sebelum akhirnya melayangkan tendangan ke tubuh aslinya.
"Chop!"
Dug!
"Adu-du-du-duh! Aku bisa encok! Kau tak sayang tubuhmu sendiri?! Dan itu bukan chop!" omelnya. Inaho makin jijik melihat dirinya sendiri.
"Kau ini bisa berpura-pura jadi aku tidak, sih?" geram Inaho.
"Kau pikir aku betah memasang wajah datar sepertimu?"
Mereka saling mendecih dan memalingkan wajah satu sama lain. Slaine merengut sebal sambil menggembungkan pipinya. Sementara Inaho hanya mengalihkan pikiran ke hal lain.
"Pagi, Inaho-san, Slaine-san!"
Asseylum, salah satu teman sekelas mereka, mendadak muncul dari arah belakang. Asseylum lalu segera beralih pada raga Slaine, sambil bergelayut manja di lengannya.
Oh, tidak. Inaho tidak terbiasa dengan ini.
"Slaine...pulang sekolah nanti apa kau kosong? Ayo, kita nonton film."
"Aku ada acara." tolak Inaho. Toh, dia gak bohong.
"Yah...kupikir sekali-kali kita bisa kencan."
Diam-diam Slaine adalah seorang playboy?!
Inaho tidak tahu akan hal ini, atau bagaimana biasanya sikap Slaine ke Asseylum. Sepengetahuannya sebagai pengamat di dalam kelas, Slaine memang terlihat akrab dengan Asseylum maupun Lemrina yang setia bersamanya. Tapi, tentu saja ia tidak tahu pasti soal hubungan mereka sebenarnya.
Inaho melihat bahu tubuh aslinya sedang bergerak naik turun. Dan Inaho tahu Slaine sedang menahan tawa.
Ugh. Akan Inaho catat dalam daftar pembalasan dendam di kemudian hari.
.
.
.
.
Pelajaran kali ini, kelas mereka ke ruang seni yang luas untuk membuat kerajinan gerabah kecil. Guru mereka menjelaskan beberapa hal singkat serta membiarkan murid-muridnya bebas membuat bentuk yang mereka inginkan. Guru telah menyediakan tanah liat dalam jumlah banyak serta perangkat lain. Kali ini mereka harus membentuk satu kelompok dua orang agar penilaiannya lebih mudah.
"Slaine, masuk kelompokku, ya?" Lemrina nyamber Slaine—Inaho— yang tengah melamun.
"Enak saja, aku duluan, Lemrina!" Asseylum langsung protes. Mereka lalu beradu tangan, memperebutkan posisi siapa yang berhak sekelompok dengan Slaine. Bukan hal yang aneh bila itu Asseylum dan Lemrina; jadi sekelas memaklumi sambil mencoba melerai.
"Maaf saja." sebuah suara menghentikan pertengkaran tidak bermutu itu. Inaho (Slaine) datang sambil merangkul tubuh Slaine.
"Dia milikku kali ini."
Hening.
Hening.
"S-Slaine-san...aku...aku tidak menyangka..." Lemrina menutup mulutnya karena terkejut. Begitu pula Asseylum yang tampak syok berat.
"..ka-kalian...sejak kapan?"
Lalu keduanya pingsan. Seisi kelas panik dan ada beberapa yang menggotongnya menuju ruang kesehatan.
Slaine di tubuh Inaho hanya terkikik pelan, sementara Inaho yang berada di tubuh Slaine hanya memandang dongkol.
"Apa maksudmu?" Inaho berbisik dengan nada marah. Jelas saja, karena Slaine tengah memanfaatkan tubuhnya.
"Pfftt, ayolah. Kau juga tak mau ditempeli sama mereka, 'kan? Berterima kasihlah padaku." cengirnya.
"Setelah kau membuat seakan-akan aku yang menjahati perempuan?" bagi Inaho, tidak ada alasan untuk melukai perempuan meskipun ia kadang tidak suka terhadap mereka.
"Apa? Apa? Hmm?"
Daftar dendam Inaho bertambah.
"Ngomong-ngomong, bukankah kita terakhir kali bertemu di sini?" Inaho yang asli mengingatkan. Slaine mengangguk pelan.
"Tapi, kita kan tidak melakukan apa-apa." Slaine tampak berpikir.
"Kau berharap kita melakukan apa-apa?" tanya Inaho jenaka. Slaine mendengus.
"Tidak pernah dan tidak akan."
Mereka berdua lalu mengerjakan gerabah sebagai tugas mereka. Slaine menyarankan mereka sebaiknya membuat guci kecil dulu. Inaho taat melaksanakan—demi nilainya. Selera Slaine untuk benda-benda semacam ini tidak diragukan lagi. Slaine juga menambahkan, bagus apabila diberi motif nantinya. Berbekal pengetahuan yang ia miliki, Inaho merasa tertantang. Apa maksudnya Slaine tidak percaya ia bisa membuat guratan-guratan motif?
"Kau mau motif yang bagaimana?"
"Seperti guci di Kyoto..? Aku tidak tahu apa namanya. Tapi, aku terkesan dengan benda-benda antik di sana. Kita akan mendapatkan nilai sempurna jika kau berhasil membuatnya, muka panci." Slaine mengumpulkan tanah liat sebelum diposisikannya pada alat. Inaho benci mengakui, tapi memang Slaine lebih jeli dalam melihat sisi penilaian dari guru seni. Nilainya selalu berada di atas Inaho saat pelajaran ini, omong-omong.
"Nah, tunjukkan kemampuanmu padaku, Ka-i-z-u-ka-san."
Inaho tidak ingin diremehkan. Dengan hati-hati ia segera memulainya. Diputarnya poros dengan tangannya dan segera memulai proses pembuatan guci kecil dari tanah liatnya. Kata Slaine lebih bagus kalau jadi keramik, tapi tentu saja tidak akan ada cukup waktu untuk itu. Slaine membantu memutar, sementara Inaho kini beralih membentuk guci seperti apa yang ia bayangkan.
.
.
.
.
.
Istirahat ini mereka berdua kembali berakhir di atap, menukar bekal seperti hari kemarin. Namun Inaho terkejut, ada yang beda dari bekalnya. Selain telur juga ada beberapa sayuran dan daging.
"Kak Yuki yang memasak?" tanya Inaho heran. Meskipun pandai memasak, Inaho tidak yakin kakaknya bisa membuat yang semacam menu seperti ini, karena kakaknya tahu ia adalah bagian dari sekte pemuja telur.
"Aku yang memasakkannya untukmu, karena pola hidupmu tidak sehat. Kakakmu menangis bahagia, tau."
"Yang terakhir itu bohong." Inaho menatap bekalnya sendiri, —tidak ia sangka Slaine bisa memasak— sebelum beralih kepada bekal milik Slaine.
"Aku mau tanya, kenapa banyak obat-obatan di bekalmu?" Inaho menunjuk pil-pil yang terselip di bungkusan kecil bagian pinggir dalam kotaknya. Slaine cuma menghela nafas.
"Ya, karena aku sakit."
"Sakit apa?"
Slaine tidak menjawab.
Inaho merasa dia harus tahu sesuatu soal ini. Ia pikir, akan membuka beberapa jalan menuju ingatannya tempo hari saat mereka mulai bertukar tubuh.
Malam itu...apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
.
.
.
Slaine tidak tahu hidup Inaho membosankan begini.
Ketika pulang, hanya ada ia sendiri di rumah, dan harus menunggu kak Yuki selesai kerja jam delapan malam. Slaine belum bisa masak makan malam karena masih terlalu sore. Bahan-bahan kemarin juga masih banyak. Uang belanja yang selalu dihemat Inaho di celengan di atas meja nakas kamarnya, kini digunakan Slaine seenaknya. Slaine pikir ini cuma sementara saja, jadi tidak apa ia foya-foya. Ahahahaha.
Slaine menatap televisi bosan. Sedari tadi tidak ada acara yang bagus. Selama ini ia tidak pernah menikmati tayangan televisi selain berita di pagi hari—salahkan ayahnya untuk itu. Bahkan tanpa beliau pun, Slaine tetap harus menonton demi melihat kurs pagi. Sederhana, ia akan menjadi penerus usaha ayahnya. Dan ia menyukainya tanpa ia sadari. Ia merindukan hari-hari normalnya, dimana ia disibukkan dengan berbagai macam kegiatan. Bukan pengangguran seperti Kaizuka Inaho begini.
Tangan Slaine terhenti pada sebuah channel. Mereka sedang membahas hal-hal supranatural di sebuah kuil yang tak jauh dari wilayah ini. Sang pembawa acara menanyakan tentang apakah mungkin seseorang melintasi waktu atau melompati dimensi, dan pendeta itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
Merasa mendapat sedikit harapan sekali pun ia tidak percaya akan hal-hal yang tidak logis, ia bergegas menuju gagang telepon rumah dan menekan nomor ponselnya. Semoga saja Inaho membawanya...semoga saja Inaho membawanya...
Slaine mendengar suara sambungan yang terputus. Ah, pasti si bodoh itu tidak membawa ponselnya.
.
.
.
.
Inaho terkena skak mat.
Seumur-umur hidupnya, ia belum pernah merasakan hal seperti ini. Berhasil melewati les bahasa Prancis, ia tahu bahwa ia akan terpojokkan di kursus piano. Selama ini, menyentuh saja tidak pernah, apalagi memainkan. Ia tidak bisa menipu.
"Permainanmu dua hari lalu lebih bagus dari ini, Troyard-san!" sang guru les piano menatap garang ke arahnya. "kau seperti pemula saja, membaca not tidak bisa!"
Terserah. Inaho sudah tidak tahan.
.
.
.
"Nao-kun, kakak ingin mengajakmu ke panti."
Usai makan malam, Slaine yang tengah mencuci piring mendadak keselek. Yuki, kakak Inaho, hanya tersenyum bahagia.
"Bu-buat apa kita ke sana, kak?"
"Kakak kangen dengan mereka. Bukankah setiap sebulan sekali kita kesana?" Yuki ganti bertanya.
Mampus aku, batin Slaine. Ia tak punya pilihan selain mengangguk. Daripada ia akan dicurigai.
Yuki membawanya ke sebuah daerah di pinggir kota, sambil membawa beberapa kardus yang entah berisi apa. Yuki terlihat sangat bahagia. Slaine sudah mengantuk, jam sembilan adalah waktu tidurnya. Ia tidak mengerti mengapa Yuki datang malam-malam begini.
Yuki menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan tua dengan papan nama Deucalion. Kayu-kayu yang menjadi pagar sudah tak beraturan, dan halamannya ditumbuhi rumput liar yang tinggi. Mereka lalu berjalan masuk ke sana, melalui setapak sebagai jalur utama. Yuki mengetuk pintu beberapa kali, sebelum seseorang membukanya.
"Ah, Yuki-san, silahkan masuk. Wah, ada Inaho-kun juga." figur seorang nenek tua ditangkap oleh Slaine. Mereka kemudian masuk ke dalam sana.
Ternyata suasana di dalam begitu ramai oleh anak-anak. Mereka yang awalnya bermain sendiri, menjadi berhamburan saat melihat kedatangan Yuki.
"Yuki-nee~~~! Hadiahku mana?!"
"Yuki-nee, baju baru, baju baru!"
Yuki tersenyum ke arah mereka dan membelai lembut kepala anak-anak kecil itu.
"Maaf ya, aku kemalaman." Yuk berapologi dengan raut sesal. Ia merasa bersalah tidak bisa datang sore hari, dan mengganggu jam tidur anak-anak panti. Tapi, besok pun ia tidak bisa karena ada dinas di luar kota.
"Tidak apa, Yuki-nee, kan kakak sedang bekerja!" seru salah seorang anak. Yuki hanya tertawa pelan.
Sepertinya anak-anak di panti menyayanginya. Slaine dapat merasakan kehangatan tersendiri dari tempat ini. Mata bocah-bocah itu penuh dengan impian, tampak bersinar. Yuki lalu dipeluk bergantian. Ia benar-benar terlihat sebagai kakak yang baik. Mungkin karena ini, Inaho khawatir tentang kakaknya saat ia sedang menggantikan posisinya. Mungkin Inaho tidak merasa bahwa Slaine bisa menjaga Yuki?
Slaine mengetahui sesuatu yang baru hari ini. Tanpa sadar ia tersenyum tipis; kehidupan Kaizuka Inaho ternyata tidak semembosankan yang ia kira.
—Hari kedua selesai—
Balasan review
Blue Rose in Autumn : haihaihai xDv thanks for read before :D. Hahaa iyanih masih gabisa melupakan plot twist kimi no na wa jadi kebawa-bawa di pikiranku /gimana. Dan soal kw...karena aku bingung aja percayalah /gimana. Tapi mungkin akan ada beberapa bagian yang sama—meski gak semuanya. Terima kasih sudah mampir *love
Hanyo4 : hai yaz wkwkwkwkwk ini bakal...gula, kok #pret. Kalo ada angsanya aku gatau sih, doakan saja aku gak bingung #yha. Makasih udah baca dan ninggalin jejak, ya. Lafya mwah
. thanks for read to you all ;D
siluman panda
