"Slaine-sama, ini sudah pukul enam. Anda harus mandi."
Suara ketukan daun pintu itu diabaikan oleh Inaho yang sekarang mendiami tubuh Slaine. Ia menarik selimut sebatas leher dan memilih tidur kembali. Bodo amat ama Harklight, lagipula dia juga tidak berani membantah Slaine, kan? Inaho merasa like a boss sekarang. Sekolah masuk pukul delapan, jadi masih banyak waktu luang, kan? Terlebih ia diantar pakai mobil mewah. Huahahahahhaa.
Maafkan batin Inaho yang tertawa nista.
Suara Harklight menghilang, dan Inaho pikir ia sudah aman. Lima menit lagi ia akan segera bangun, kok—ia masih ingin mempertahankan peringkatnya, terima kasih. Namun detik berikutnya suara gebrakan pintu mengejutkannya. Takut-takut, Inaho sedikit menyingkap selimutnya dan melihat seorang pria tua berambut cokelat gelap masuk ke kamar ini. Alamak, galak pisan mukanya.
Inaho teringat sesuatu sebelum menelan ludah. Ja-jangan-jangan—
"Slaine, cepat bangun. Aku tidak pernah mengajarimu jadi anak manja."
Ingin sekali Inaho mengatakan 'Maaf pakde, saya ini sebenarnya bukan Slaine.' tapi tidak bisa dan tidak mungkin. Memangnya siapa yang akan percaya terhadap omongannya? Terlebih, berdasar informasi dari Slaine, ayahnya ini tidak boleh dibantah sekalipun permintaannya aneh-aneh.
Yang tak Inaho tahu, aneh yang bagaimana?
"Ah, b-baik, ayah." Inaho bangkit dari sandiwaranya, dan duduk, sebelum melipat selimutnya sendiri karena merasa terintimidasi akan tatapan seorang bapak-bapak.
"Ayah? Biasanya kau memanggilku Papa. Kau terbentur sesuatu kemarin?"
Inaho berkeringat dingin.
Gawat, ia sudah salah langkah. Dalam hati ia menyalahkan Slaine, waktu itu Slaine juga memanggilnya dengan sebutan 'ayah' dalam penjelasan singkatnya, bukannya 'papa'.
Awas saja kau, Slaine.
"Cepat bersiap. Kita akan segera sarapan."
"Baik, papa." Inaho tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saazbaum—nama ayah Slaine yang sempat ia dengar dari Harklight— kemudian berbalik pergi, dan meninggalkan Inaho yang nyaris jantungan.
.
.
.
Aldnoah Zero © Project A/Z, Olympus Knights, A-1 Pictures, Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama.
Inaho x Slaine
BL alias Boys Love, shounen-ai , hvmv dsj
AU. OOC. Typo(s).
Don't Like Don't Read. I've warned you!
.
.
.
.
.
"Nao-kun, kau baik-baik saja?"
Slaine mengalihkan pandangan. Ia tahu segala sesuatu yang ia lakukan berbeda dari kebiasaan Inaho. Hanya saja...ia tidak bisa memakai pola hidup tak sehat lelaki itu. Sekali pun ini bukanlah tubuh aslinya.
Yuki membelikannya banyak telur saat pulang semalam, dan meminta Inaho memasak telur seperti biasa pagi ini karena katanya Yuki ketakutan melihat perubahan Inaho yang drastis.
"Tidak apa, kak, aku baik-baik saja, percayalah." Slaine tidak ingin ditanyai lebih lanjut. Ia adalah pribadi yang tidak suka ditanya-tanya hal tak penting. Lagipula, bekalnya sudah jadi, tidak ada alasan baginya untuk memasak lagi.
"Kau pasti kerasukan roh jahat!"
Astaga, darimana datangnya pemikiran bodoh seperti itu?
"Kakak akan memanggilkan pendeta! Tenang saja, Nao-kun. Kakak akan menyelamatkan jiwamu dari dasar kegelapan dan mengusir roh jahat itu!" seru Yuki sembari menangis buaya.
Slaine tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Eum, kak, aku harus berangkat sekolah. Terima kasih bekalnya!" Slaine melesat cepat; berlari ke sekolah adalah pilihan tepat.
.
.
.
"Bagaimana sekolahmu, Slaine?"
"Seperti biasanya, papa."
"Aku ingin mengantarmu ke sekolah."
Sarapan selesai pukul setengah tujuh, jam masuk sekolahnya pun masih lama. Namun Saazbaum bilang ingin mengantar Slaine —Inaho— ke sekolah. Harklight tentu saja mempersilahkan dengan senang hati karena menganggap Saazbaum rindu kepada Tuan Mudanya setelah berhari-hari tertahan di Bandara luar negeri.
Inaho masuk ke mobil berdua dengan Saazbaum. Pria tua itu lalu mulai memanaskan mesin mobil dan mengecek dasbor. Disaat sudah merasa cukup, ia menarik persneling dan mulai melajukan mobil. Inaho juga tidak keberatan—ia hanya merasa sungkan karena tiba-tiba harus bertemu dengan ayahnya Slaine.
Mereka tidak menuju langsung ke sekolah. Saazbaum berbelok ke kiri, ke arah lain. Inaho tidak berani protes, mengingat perkataan Slaine tentang ayahnya. Sekalipun aneh-aneh, ia tidak boleh membantah.
Mobil mereka terhenti pada pinggiran area pemakaman setelah perjalanan selama sepuluh menit. Inaho tidak tahu mengapa mereka berhenti di sini, tapi ia mengikuti langkah kaki Saazbaum. Ayah Slaine itu menuju ke sebuah makam yang terletak di bagian tengah. Tidak ada ukiran nama di sana, hanya ada bunga lili putih yang baru saja diberi oleh Saazbaum di atas makamnya, bersamaan dengan sesembahan lain yang sepertinya sudah lama—mengering.
"Maaf karena aku terlambat, seharusnya aku sudah pulang dua hari lalu untuk memperingatinya bersamamu."
Inaho sungguh tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan Slaine? Apakah ini adalah makam orang yang penting buatnya?
Inaho benar-benar tidak tahu apapun tentangnya.
"Semoga ayahmu bangga melihatmu tumbuh dewasa perlahan-lahan."
Inaho tidak mengerti apa yang dikatakan Saazbaum. Namun, ia menangkap sesuatu dari kalimat itu;
Kehidupan Slaine Troyard tidaklah seindah kelihatannya.
.
.
.
.
.
Hari ini ulangan matematika.
Baik Inaho maupun Slaine mengerjakan soal sebaik mungkin walaupun mereka berada di tubuh yang berbeda. Tempat duduk mereka berjarak dua bangku secara diagonal, dan tidak mungkin mereka menulis nama masing-masing di lembar jawab kemudian menukarkannya satu sama lain. Dead End.
"Ugh..."
Hampir satu jam murid-murid dibuat tidak berkutik. Sisa waktu masih satu jam lagi. Guru matematika mereka amatlah tegas, ketahuan menyontek, namanya langsung dicoret dari daftar partisipan ulangan. Tidak boleh membuat alasan.
Inaho dan Slaine berdiri bersamaan dari bangku mereka, kemudian mengumpulkan lembar jawab ke depan. Mereka saling melirik tidak suka, namun memilih diam saja.
"Contohlah Kaizuka-san dan Troyard-san, anak-anak." si guru pamer sesaat, kemudian mempersilahkan keduanya keluar ruangan hingga pergantian jam nanti. Inaho dan Slaine lalu berjalan bebarengan menuju pintu kelas, lalu menutupnya ketika telah tiba di luar.
"Sekarang, kita harus apa?" Slaine bertanya.
Inaho menoleh ke arahnya. "Jalan-jalan? Kau mau kemana?"
"Eum...keberatan jika ke perpustakaan?"
"Tidak masalah, di sana sepi."
Keduanya lalu beriringan menuju lokasi paling tenang dari semua tempat; perpustakaan. Tidak banyak siswa yang mampir ke sini kecuali mendekati musim ujian akhir semester. Dan sekarang belum saatnya.
Seperti yang mereka duga, sepi. Penjaga perpustakaan menyambut ramah mereka. Inaho dan Slaine memilih duduk di bangku dekat jendela. Agak menjauh dan tak terlihat dari tempat penjaga perpustakaan. Mereka saling duduk berhadapan, memandang satu sama lain secara intens.
Tentu saja keduanya tidak berniat membaca buku apapun sedari awal.
"Ada hal yang harus aku katakan padamu." Slaine membuka suara. "aku salah menilaimu, Kaizuka Inaho."
Inaho menggeleng. "Tidak, aku juga ingin mengatakan hal yang sama. Maaf, aku salah menilaimu."
Slaine menaikkan satu alisnya. "Apa yang terjadi? Kau tidak macam-macam dengan ayahku, kan?"
Inaho menggeleng cepat. "Dengar, ya. Aku lebih memilihmu daripada pria bau tanah itu."
Siulan menggoda terdengar. "Aku tersanjung, Kaizuka-san."
"Inaho saja. Aku juga memanggilmu dengan namamu, kan."
"Hah, kenapa harus? Suka-suka aku, dong."
Inaho merotasi netra tealnya. "Slaine, bisa kau ceritakan...apa yang telah terjadi di masa lalumu?" Inaho di tubuhnya menatapnya serius. Inaho terlanjur penasaran dengan semua yang sempat ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Kenapa kau ingin tahu? Kau fansku?" Slaine sejujurnya tidak pernah nyaman berbicara bila menyangkut topik ini, tapi, mungkin saja Inaho melihat sesuatu di rumahnya. Ia hanya mencoba maklum. Baginya, ini bukan masalah besar.
Inaho setengah bergumam. "Tentu saja tidak, protozoa."
Slaine diam. Netra merahnya ia kerling kesana kemari. Sedetik kemudian ia menggeleng sebagai jawaban. "Ah, itu tidak penting. Aku yang harusnya bertanya. Menurutku...kau berasal dari panti asuhan itu, kan?"
Inaho diam.
Bingo.
"Ya, begitulah. Ada masalah?" tanya Inaho balik. Ia tahu Slaine pasti dapat menebaknya dengan mudah—tapi kenapa menebak pemuda itu sendiri sangat sulit.
Slaine mengibas tangannya. "Tidak juga, hanya memastikan saja kalau asumsiku benar."
"Malam ini kau ada acara?"
"Oi, muka panci. Jangan aneh-aneh, setiap malam aku sibuk, tau. Jangan samakan aku denganmu, dan jangan memanfaatkan tubuhku." tukas Slaine tidak suka.
"Jika kita kembali normal, aku akan memanfaatkan tubuhmu sebaik-baiknya, aku berjanji." Inaho berintonasi penuh keyakinan serta keteguhan. Slaine swt mendengarnya. Kenapa Inaho selalu memasang wajah serius terhadap segala sesuatunya?
Slaine nampak risih dengan tatapan Inaho yang terlihat menginginkan suatu imbalan darinya. Penilaiannya yang satu ini berbeda dan ia yakin tidaklah salah; penjilat. Amat mengganggu dan menyebabkan iritasi. Meski pada akhirnya, ia tak menolak sepenuhnya.
"Bukan berarti aku mau denganmu, tapi kurasa tidak buruk juga. Aku butuh hiburan." ujarnya kemudian.
"Kau menerima perasaanku?" canda Inaho.
Slaine terlihat kesal. "Tidak. Aku tidak berkata begitu."
"Jahatnya."
"Maaf saja, Kaizuka-san."
"Inaho."
"Dasar keras kepala."
"Bukankah kau ingin hiburan?"
Slaine terlihat ragu. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya bergantian di lantai. Inaho masih menanti jawaban dari saingannya itu. Pertandingan lain sudah menanti bila mereka telah kembali. Inaho tidak bisa menahan senyumnya karena terlalu serius membayangkan kejadian di masa depan.
"Baiklah, Inaho. Aku menerima tawaranmu." Slaine sedikit memajukan bagian atas tubuhnya, menyondong pada Inaho. Ia meletakkan telunjuknya di antara celah ranum bibir pada tubuh aslinya.
"Jangan pernah menyesali pilihanmu, Tuan Kaizuka."
Inaho meraih tangan Slaine—dirinya— dan membalas ucapan rivalnya.
"Tidak pernah dan tidak akan, Slaine."
Mereka berdua lalu memilih kembali ke kelas setelah mengobrol ringan, dimana bertepatan dengan bel jam pelajaran berikutnya. Setelah ini mereka ada jam di laboratorium, dan keduanya harus mengambil buku di tas sebelum kesana.
"Nanti kita praktek apa?" Slaine bertanya. Ia tidak sempat membuka buku semalam.
"Reproduksi?" Inaho tetap setia dengan wajah datar itu.
"Kaizuka-san, mesum." Slaine memandang lurus ke arah depan, bersamaan dengan guru matematika yang baru saja keluar dari kelas mereka dengan membawa tumpukan kertas ulangan.
"Yo, Kaizuka-san, Troyard-san. Kalian lebih lengket daripada biasanya, ya?" komentarnya seraya berlalu pergi menuju ruang guru.
Telinga keduanya memerah. Melepaskan tangan mereka yang bertautan entah sejak kapan.
.
.
.
.
.
.
.
Kini menukar bekal di atap adalah sebuah rutinitas —setelah berhasil lari dari Asseylum dan Lemrina yang lengket terhadap Slaine. Inaho dan Slaine saling tersenyum tipis, sebelum duduk bersebelahan di dekat kawat teralis. Mereka menikmati cuaca cerah hari ini. Slaine memaksa Inaho meminum obatnya setelah makan—Inaho masih penasaran itu obat apa. Namun, ia enggan bertanya. Ia meyakinkan diri; bukan urusanku.
"Aku tak tahu kau pandai memasak." Inaho berujar seraya berusaha mengenyahkan pikiran aneh di dalam benaknya. Slaine tentu merasa bangga setelah dipuji demikian. Begini-begini, ia diam-diam belajar pada kepala pelayan di rumahnya sebagai bekal bertahan hidup kelak.
"Kepala Pelayan yang mengajariku. Tentu saja aku bisa memasak, kau pikir aku ini kau yang hanya bisa mengolah telur?"
Inaho ingin sekali menarik perkataannya tadi dan mengajak Slaine gelut di tengah lapangan. Berbicara dengan Slaine seakan memendekkan umurnya setiap saat.
"Ya, Mr. Kanpeki." dengus Inaho, agak tidak ikhlas.
"Kau mengakui kekalahanmu? Seperti bukan kau saja." Slaine tertawa. Inaho merasakan sesuatu yang aneh ketika pemuda itu tertawa. Padahal yang terpantul pada retinanya adalah fisik tubuh aslinya yang kini dihuni Slaine. Namun Inaho tetap saja membayangkan bahwa barusan itu paras Slaine— nampak amat sangat nyata baginya. Apakah ia baru saja berhalusinasi?
"Kenapa kau menatapku begitu? Ugh, kimo, Inaho." Slaine menutup kotak bekalnya dengan rapi sebelum ditukar kembali dengan milik Inaho.
"Kupikir...kau manis?"
Slaine tidak tahu, apakah Inaho sudah tak waras.
.
.
.
.
.
Slaine menatap langit malam sebelum tidur. Sebuah ritual wajib yang dimulainya sejak kecil. Ia takkan bisa tenang sebelum melihat pemandangan malam.
Dari bingkai jendela, ia mengamati. Ada banyak bintang di atas sana. Tak sengaja, sebuah bintang jatuh lewat. Slaine gelagapan dan bingung harus meminta apa sebelum bintang itu menghilang.
"Uh..oh...em...aku mau...ah! Kaizuka!"
Slaine tidak percaya mendengar apa yang barusan keluar dari mulutnya sendiri.
"Gak, gak, gak! Bukan itu! Aku tidak—"
Slaine terdiam. Ia menutup jendela kamar Inaho dan berbalik; menenggelamkan diri di kasur milik saingannya. Aroma Inaho masih melekat di sana, tercium enak.
"Sialan...kenapa kepalaku dipenuhi oleh muka panci itu..."
Slaine merasakan wajahnya memanas, untuk sebuah alasan tak teridentifikasi.
.
.
.
.
.
.
Inaho merasa senang hari ini.
Sepulang sekolah, jadwalnya memang padat karena tengah menggantikan Slaine yang saat ini pulang dan menjaga kakaknya. Namun, itu bukan masalah lagi.
Inaho cukup senang dengan kehadiran Saazbaum di jam makan malam. Saazbaum memang seorang ayah yang baik, ia bertaruh jika Slaine pasti amat menyayanginya. Pun ada Harklight yang selalu menemaninya kemana pun, dan ia tidak lagi sendirian.
Inaho mulai menyederhanakan semua pemikirannya, dan menerima semua yang terjadi kepadanya. Ini adalah kesempatannya merasakan kasih sayang orang tua—meski pun hanya sosok ayah yang ada. Sesekali ia teringat Yuki, berharap kakaknya juga bisa menikmati momen seperti ini.
Malam ini pun, Inaho merasa dapat tertidur nyenyak. Hari-harinya akan lebih berwarna mulai besok. Ia tersenyum tanpa sadar, pasti bagus jika mereka kembali ke tubuh masing-masing.
Entah sejak kapan, ia merasa ingin melindungi Slaine. Semenjak mengira-ngira dari kejadian tadi pagi, mungkin. Ia ingin tahu semua tentang Slaine, semuanya. Marahnya, sedihnya, bahagianya— Inaho tidak tahu kenapa. Yang jelas ia merasa senang saat memikirkannya. Wajah Slaine selalu mampir ke otaknya sejak lama, namun ia baru sedikit menyadarinya belakangan ini. Dan di waktu akhir-akhir ini, ketika ia bercermin, ia akan melihat wajah Slaine yang ada di sana.
Perasaan itu membuncah perlahan di dalam nuraninya, lambat laun memenjarakan hatinya. Tangan kiri Inaho bergerak turun, menyentuh bagian dada kiri yang berdetak lebih kencang daripada biasanya.
'Slaine membuatku sakit jantung.' —itu yang ada di pikirannya setelah menarik konklusi.
Inaho mengantuk akibat lelah. Ia tahu sekarang, kehidupan tidaklah seburuk yang ia kira seperti dahulu. Menghuni tubuh Slaine adalah salah satu alasan mengapa pandangan Inaho terhadap dunia bisa berubah. Inaho pikir, sendirian itu menyenangkan. Namun, ia juga tidak bisa merasakan kesenangan yang setara seperti saat ia bersaing dengan Slaine. Semua tentang pemuda itu mendadak menarik; membiusnya. Bagaimana sebutan untuk perasaan ini? Atau lebih tepatnya—kenapa ia bisa merasakan hal seperti ini?
Inaho sendiri tidak tahu, dan tidak ingin berusaha mencari tahu. Biarlah semua mengalir apa adanya, meski membutuhkan waktu lama sekali pun.
Kelopaknya terpejam sembari membayangkan wajah Slaine. Sangat adiktif. Ia merasakan ketenangan di hatinya, terbuai dalam khayalan indah kematian singkatnya.
Rasa-rasanya, ia ingin melupakan semua hal tentang kebenaran.
Tentang apa yang terjadi di malam itu.
.
.
.
.
—Hari ketiga selesai—
