"Study Tour?"
Yuki membaca surat edaran yang diberikan adiknya kepadanya. Di sana tertulis ijin dan jadwal lengkap kegiatan siswa-siswi kelas dua SMA Vers yang hendak melakukan study tour ke Kyoto.
"Jadi kangen masa SMA-ku. Ehehe." Yuki tertawa pelan. "Bukankah Kyoto tempat yang bagus, Nao-kun? Kakak titip foto Kiyomizudera, ya."
Slaine hanya mengangguk mendengarkannya. Kemarin, saat pelajaran akan berakhir, Ketua Kelas membagikan surat edaran tentang study tour dari wali kelas mereka. Dan ia menyampaikan, apabila ada yang tidak mendapat ijin diharap segera melapor ke wali kelas. Beruntunglah Yuki sepertinya tidak keberatan—maksud Slaine, hanya ada Yuki dan Inaho di rumah ini, bukan? Slaine pikir ia akan mendapat penolakan.
"Te-terima kasih, kak."
Yuki membelai lembut kepala adiknya. "Yang penting hati-hati, ya. Ayo, kita berangkat."
Slaine mengangguk singkat.
Punya saudara itu...rasanya sangat menyenangkan.
.
.
.
.
Aldnoah Zero © Project A/Z, Olympus Knights, A-1 Pictures, Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama.
Inaho x Slaine
BL alias Boys Love, shounen-ai , hvmv dsj
AU. OOC. Typo(s).
Don't Like Don't Read. I've warned you!
.
.
"Asseylum, kita harus menyelidiki ini."
"Kau mengatakannya, Lemrina. Aku tidak keberatan."
Asseylum dan Lemrina kini tengah menjalankan misi untuk memata-matai Inaho dan Slaine. Mereka penasaran, apa yang menyebabkan Inaho dan Slaine yang selalu tidak rukun mendadak lengket. Untuk itu, mereka berdua akan menyelidiki hal ini.
Karena banyak keanehan.
Satu, Slaine tidak biasanya menjauhi mereka, sekali pun Slaine nampaknya tak menyukainya.
Kedua, mereka selalu menghilang saat jam istirahat, entah kemana.
Dan ketiga—mereka tidak tahu kenapa kedua pemuda itu terlihat akrab dengan jelas di depan mata. Terlebih ketika pelajaran seni lalu, dimana Asseylum dan Lemrina bahkan pingsan ketika melihat keakraban mereka.
Ada...sesuatu yang salah.
"Lemrina, kita harus mengikuti mereka saat istirahat nanti. Aku punya firasat kita akan mendapatkan sesuatu tentang ini." Asseylum berujar. Lemrina mengangguk setuju.
"Benar, Asseylum. Aku juga merasa aneh karena mereka selalu hilang bersama."
Percakapan kedua gadis itu terputus saat objek yang mereka bicarakan datang bebarengan. Sebelum keduanya duduk di bangku masing-masing. Bangku Lemrina berada dua bangku di depan Saine, sementara kursi Asseylum tepat di sebelah Lemrina. Pembicaraan ini harus dihentikan sejenak, dan gadis-gadis itu pura-pura sibuk memainkan ponsel.
.
.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi setelah pengumpulan angket selesai. Seperti biasa, tanpa kata, tanpa isyarat, dan tanpa menunggu; Inaho dan Slaine berjalan keluar kelas dengan jarak beberapa meter sembari menenteng sesuatu. Asseylum curiga itu bekal dari gadis kelas lain, pula Lemrina yang sudah panas dingin.
"Mereka cepat sekali." Asseylum dan Lemrina melangkah hati-hati agar tidak ketahuan. Kedua pemuda itu berbelok di persimpangan sudut, dimana ada tangga menuju atap sejauh yang Asseylum tahu. Mereka lalu menyusul setelah Inaho dan Slaine sudah tak terlihat lagi.
Asseylum sedikit membuka pintu atap yang baru saja tertutup. Area ini memang sepi dan jarang dilewati, tidak ada satu pun siswa-siswi yang tertarik ke sini karena letak tangganya jauh dari kelas-kelas.
"Bagaimana, Asseylum?"
Asseylum mengamati dari celah. "Mereka menukar bekal. Lihatlah." Asseylum memberikan ruang untuk Lemrina agar dapat ikut melihat. Lemrina menganga tak percaya kala menatapnya.
"Jadi...Slaine-san itu...belok?"
"Kita belum bisa memastikan—" saat kedua gadis itu kembali memandangi Inaho dan Slaine jauh di pojokan sana, keduanya lebih shock lagi. Wajah kedua lelaki itu berdekatan—terlalu dekat dari sudut pandang mereka.
"A-a-apa yang mereka lakukan? Ciuman?" Lemrina latah sesaat.
"Kita pasti salah lihat, Slaine-san sendiri pernah bilang dia benci dengan Inaho-san!" Asseylum sedang berusaha menyangkal apa yang baru saja mereka lihat sendiri. Sekali pun hal itu tak mengubah fakta yang telah terjadi.
"T-tapi, kalau sedekat itu...apalagi yang memungkinkan selain ciuman, Asseylum?!" Lemrina mengguncang bahu perempuan di sebelahnya yang masih terlihat syok berat. Sebenarnya ia juga tidak mau percaya, tapi logikanya bekerja sebagaimana mestinya.
"Lemrina, mereka berbalik. Ayo kita kembali duluan."
Asseylum segera menarik Lemrina dari sana, sebelum mereka ketahuan menguntit dua orang pemuda.
.
.
.
.
.
Asseylum dan Lemrina menuju ke halaman belakang yang sepi. Keduanya terengah-engah karena berlari-lari.
"Hahh...hahh..."
Asseylum berusaha mengingat-ingat, membandingkan perbedaan Slaine yang dulu dan yang barusan mereka lihat. Lemrina jatuh terduduk, air mukanya sama seperti Asseylum.
"Tidak mungkin..." Asseylum menggeleng, kepalanya terasa sakit. "Setelah kupikirkan, itu memang tidak mungkin. Slaine-san bukan orang yang seperti itu." Asseylum kemudian bergabung dengan Lemrina, mengistirahatkan jantungnya sebentar.
"Sejak kapan mereka mulai terlihat seperti ini, Asseylum?"
"Kurasa...sudah empat hari ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Err...mungkin Slaine-san kalah taruhan atau apalah?" Asseylum merasakan kakinya lemas.
"Tapi...masa secepat itu? Minggu lalu, mereka masih bermusuhan karena nilai Inaho-san lebih tinggi di pelajaran sejarah. Slaine-san menceritakannya kepada kita, 'kan? Kita bahkan mendengar sumpah serapahnya dan segala jenis mantera kutukan untuk Inaho-san."
Asseylum menarik nafas dalam-dalam, sebelum ekshalasinya keluar perlahan-lahan. Ia berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu, serta mendinginkan pikirannya.
"Kau benar. Aku masih mengingatnya. Kita bertiga nonton film bareng, kan, waktu itu?"
"Tapi...aku masih tidak ingin mempercayai ini, Asseylum. Ah, tunggu." Lemrina tersentak. Ia menoleh ke arah Asseylum di sebelahnya.
"Apakah kau pikir, Inaho sedikit berubah juga? Bukan hanya Slaine-san?"
"Aku tak begitu memperhatikannya. Jadi, kalau kau berpikir begitu, kurasa ada benarnya."
"Ingat saat di di laboratorium kemarin? Aku melihat Inaho-san membantu Slaine-san. Bukankah itu...terlalu aneh? Kita semua tahu Inaho tidak pernah membantu siapa pun."
"Jadi, maksudmu..." Asseylum memberi jeda di sana. "mereka benar-benar sudah...?"
Asseylum dan Lemrina kehabisan kata.
.
.
.
Sore ini, adalah jadwal piket Asseylum, Lemrina dan Slaine. Mereka sudah hampir selesai, dan tinggal menata bangku-bangku kembali ke posisi semula setelah menyapu semua bagian lantai.
Lemrina kemudian memberanikan diri bertanya. Karena menurutnya, tidak ada gunanya bila ia hanya berdiam diri.
"Slaine-san...apa yang membuatmu berubah?"
Inaho yang sedang bersemayam di tubuh Slaine memandang heran.
"Apanya yang berubah?"
"Tidak biasanya kau mengabaikan kami. Apakah ayahmu mengatakan sesuatu lagi seperti saat itu?" Asseylum turut berkomentar. Karena, ia sendiri juga ingin tahu.
Inaho tidak tahu harus bagaimana. Ia takut bila salah menjawab, dan akan membuat kedua gadis itu kecewa. Dan, ia tidak mengerti bagian ayah yang diucapkan mereka. Jadi, mereka telah mengenal ayah Slaine?
"Aku...tidak. Aku tidak berubah. Katakan padaku apa yang berubah dariku." Inaho mencoba bersikap yang menurutnya "gaya Slaine" tapi ternyata, Lemrina justru berkaca-kaca.
"Kau...bukan Slaine yang aku kenal."
Lemrina berbalik, sebelum berlari pergi dan mengambil tasnya. Derap kakinya terdengar makin menjauh dari sana. Inaho bingung, apa salahnya? Ia sudah bersikap sebiasa mungkin dan tak memperlihatkan sosok Slaine yang terlalu berbeda—menurutnya. Bukankah Inaho pernah bilang, ia tak tahu apa hubungan kedua gadis ini dengan Slaine.
"Maaf Slaine-san, kupikir...kau juga berubah. Aku tidak tahu ada apa, tapi—semoga kau kembali seperti yang dulu."
A-apa maksud mereka?
.
.
.
.
"Katakan padaku apa maksudnya itu?"
Via gelombang elektromagnetik, keduanya masih melanjutkan perseteruan bersifat nirfaedah. Inaho menelpon ke ponselnya sendiri, dan beruntung Slaine langsung mengangkatnya.
"Ada apa, muka panci? Aku sedang belajar."
"Begini, aku tidak tahu bagaimana sikapmu sehari-hari pada Asseylum dan Lemrina. Aku berusaha semampuku dan mereka...mereka pikir aku—ehem, kau, berubah."
"Oh, kau pasti menanyakan sesuatu yang aneh, ya?!" tuduh Slaine.
"Mana mungkin."
"Mungkin karena kau tidak menghibur mereka?"
"Maaf saja, aku bukan lelaki penghibur. Bagaimana caramu agar bisa membuat dua gadis itu jinak?"
"Kaizuka, aku tahu ini sulit. Ajaklah mereka nonton atau apalah. Hotel juga boleh."
"Kenapa hotel?"
"Itu hotel papaku."
"Kau pernah tidur dengan mereka?"
"Err—mungkin? Ah, sudahlah. Jadi, mereka bilang apa?"
"Mereka bilang kau berubah, dan saat aku bertanya, mereka malah bilang ini bukan kau. Ya, memang sih ini bukan kau."
"Pantas saja. Ajak saja mereka nonton film sambil mengejek dirimu."
"Kenapa aku harus memaki diriku sendiri di depan mereka?"
"Dengar, aku kemarin mendengar berita tentang kuil di kota sebelah. Kapan jadwalmu kosong, Troyard-san?" tanya Slaine penuh ejek.
"Kuil? Ada apa dengan kuil?"
"Pendeta di sana mengatakannya saat diwawancara reporter, ada sumur ajaib di belakang rumahnya yang mungkin dapat menjadi jawabannya."
"Kenapa kau percaya takhayul seperti itu?"
Slaine menggenggam ponsel Inaho erat. Ia tengah memikirkan sesuatu, namun guratan wajahnya lekas menghilang.
"Sudahlah, lakukan saja."
"Akan kuhubungi kau besok. Jadi, bagaimana dengan Seylum-san dan Lemrina-san?" Inaho merasa belum mendapat titik temu sedari tadi.
"Kau tidak mendengarkanku, ya. Mereka suka nonton film."
"Baiklah, selamat malam."
"Malam."
Slaine menutup ponsel flip Inaho yang kini digunakannya. Pagi tadi, ia mengingat sesuatu. Sebelumnya ia lupa mengapa dapat berakhir begini, dan mendadak ia mengingat semuanya dengan jelas. Malam itu, Inaho, dirinya—
"Waktuku tidak banyak."
Dan Slaine pun belajar lagi.
.
.
.
.
.
.
"Eum, maafkan aku soal kemarin, Asseylum, Lemrina. Bagaimana kalau kita nonton film sepulang sekolah nanti?"
Inaho menanyai mereka saat jam istirahat baru mulai, sedang Slaine berjalan keluar duluan dari dalam kelas.
"Eh? Benarkah, Slaine-san?" keduanya tampak berbinar.
Inaho mengangguk.
"Aku mau nonton film barat!" Lemrina tampak bahagia.
"Film Italia!" Asseylum melirik tajam kepada gadis satunya.
"Baiklah, nonton saja dua-duanya." Inaho memberi saran.
"Yeyyy!" Asseylum dan Lemrina melonjak gembira. Mereka langsung memeluk Inaho yang menghuni tubuh Slaine.
"Terima kasih, Slaine-san!"
"E-eum...aku mau ke toilet dulu. Kutunggu sepulang sekolah nanti. Dah." Inaho melambai sebentar ke arah mereka.
"Hati-hati, Slane-san! Perlu diantar tidak?" tanya keduanya.
"Ti-tidak usah." Inaho yakin Slaine sedang mengalami cinta segitiga dengan kedua wanita ini. Ia pun bergegas pergi dari sana dan menuju atap. Di atap, Slaine sudah menunggunya.
"Lama sekali. Kau menggoda mereka?" Slaine tertawa.
"Kau punya kisah cinta segitiga?" tanya Inaho saat Slaine menyerahkan bekalnya.
"Mereka berdua tunanganku."
Inaho keselek. Astaga, kenapa ia baru tahu? Tentu saja gadis-gadis itu lengket dengan Slaine karena ada sesuatu di antara mereka.
"Tunggu, mereka berdua tunanganmu? Kenapa kau bisa meminang dua gadis?" Inaho merasa janggal.
"Orang tua mereka meninggal dan menitipkannya pada papaku. Tapi, papaku pun takut jika ia nanti mati, jadi aku disuruh menjaga mereka. Sekarang mereka tinggal di hotel papaku, kadang mereka main ke rumahku. Kau belum pernah melihat mereka bertamu?"
"Kenapa kau mau-mau saja diatur begitu? Apa kau mencintai mereka?"
"Mereka seperti saudaraku. Dan aku tidak bisa menolak keinginan papa."
"Kenapa?"
Slaine rasa ia harus menceritakan semuanya di sini. Percuma juga menutupinya dari Inaho.
"Aku...bukan anak papa. Saazbaum-san adalah teman ayahku. Aku diadopsi olehnya saat ayahku meninggal karena penelitiannya mengenai sinar radiasi. Aku sering ikut ayahku saat meneliti. Dampaknya, diriku pun kena. Itu sebabnya aku harus minum obat untuk membunuh sel kanker yang masih aktif akibat radiasi di dalam tubuhku."
Inaho merasa terjebak sinetron yang sering ditonton oleh kakaknya.
"Kau—serius?"
"Apa wajahku tidak terlihat begitu?"
"Itu wajahku, Slaine."
Slaine menghela nafas.
"Lalu, kenapa kau berpikir aku harus berpaling dari hidupku? Semua yang ada di hidupmu, bukanlah cinta yang harus kau tolak."
Inaho merenung. Meresapi sesaat. Perkataan Slaine memang ada benarnya.
"Kau bahagia?"
"Menurutmu?"
"Mana kutahu, kau kan memakai tubuhku. Aku tak bisa melihat wajahmu."
"Lalu saat bercermin?"
Inaho terdiam sejenak, sebelum ia teringat akan sesuatu.
"Ups, maaf aku lupa membawa bekalmu karena tadi aku bilang mau ke toilet." sesal Inaho.
"Tidak masalah, aku tidak lapar." ujar Slaine.
"Aku akan meminum obatmu nanti, tenang saja."
"Tenang saja itu bukan obat yang harus kau minum setiap hari, jangan parno begitu, Kaizuka." Slaine tertawa.
"Mau kubagi bekalku?"
"Oh, Tuan Baik Hati."
"Kau mau atau tidak?"
"Baiklah, sedikit saja."
Mereka makan tanpa berbicara, menghabiskan bekal yang terbagi menjadi dua.
.
.
.
.
.
.
"Sudah lama kita tidak menonton film, ya, Slaine-san." Lemrina berujar di kiri Inaho. Wajahnya nampak berseri, diikuti dengan Asseylum di sebelah kanannya.
Inaho risih. Tapi, ia tidak boleh dendam terhadap perempuan. Kakaknya juga perempuan, ia akan berusaha sebaik mungkin.
"Slaine-san, kita makan dulu, yuk. Aku lapar." Asseylum menunjuk sebuah restoran di dekat luar teritori bioskop. Makan popcorn dan minum soda tidak mengenyangkan, omong-omong.
"Baiklah." Inaho sih tidak khawatir, karena ternyata dompet Slaine banyak isinya.
Inaho -_-
"Slaine, masih ingat saat dulu kita bertiga kesini?" Asseylum bertanya.
Gak, aku bukan Slaine—sayang, Inaho tak bisa mengatakannya.
"Waktu itu Slaine-san lupa bawa uang, ahahaa. Untung saja kita bertiga tidak digebuk pemilik restoran."
Mereka bertiga kemudian masuk ke sana dan memesan sejumlah makanan. Mereka kemudian mencari meja, memilih sebuah meja dengan papan kertas nomor sebelas di area tengah.
"Slaine, sebenarnya aku ragu menanyakan ini...eum...apa hubunganmu dengan Inaho-san?" Asseylum bertanya. Inaho keselek ke sekian kalinya. Ada saja hal tak terduga semenjak ia menghuni tubuh Slaine.
"Er—kami tidak ada hubungan apa-apa." jelas Inaho agar tak memperkeruh suasana.
"Bohong, kami melihat kalian berciuman di atap." Lemrina meliriknya tajam.
Inaho terbatuk hebat saat mendengarnya.
"A—ah, aku cuma meniup mata S—aku cuma meniup mata Kaizuka yang kelilipan." ngelesnya.
"Tapi, kau akhir-akhir ini sering berdua dengannya. Apa kalian sudah—pacaran?"
Krik.
Inaho tidak tahu harus bicara apa.
"Ehem..." Inaho berdehem sejenak. "kami tidak ada apa-apa, percaya—"
"Kami tahu Slaine tidak menyukai kami. Tapi, setidaknya jujurlah terhadap perasaanmu sendiri, Slaine. Jangan bohongi hatimu lagi." Asseylum mengalihkan direksi pada Inaho.
"Benar, kami tidak berhak melarangmu, karena kami, kau juga kehilangan hak mu, Slaine-san." Lemrina menambahkan.
"Apa yang harus kubuktikan jika aku dan Kaizuka tidak ada hubungan apa pun?"
Inaho merasa lidahnya keberatan ketika berucap demikian. Rasanya ada sesuatu yang salah.
Namun, bukankah ia adalah Slaine sekarang? Ia tidak boleh mengacau hidup Slaine lebih jauh.
Asseylum dan Lemrina saling memandang. Tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.
"Slaine-san, aku tidak—maksudku, aku hanya bertanya." Asseylum tersenyum kikuk.
"Lupakan." lama-lama Inaho merasa pusing juga. Berada di antara dua gadis membuatnya bingung harus bagaimana. Mereka saling diam kemudian, lalu mereka segera memakan setelah pesanan diantar.
Hari ini, Inaho bertekad akan meminta penjelasan dari Slaine.
.
.
.
.
.
.
"Kak Inaho, terima kasih! Jarang-jarang kau kemari!" seorang bocah berbinar setelah mendapat hadiah sebuah baju dari tubuh Inaho yang berisi jiwa Slaine.
Slaine hanya tersenyum, sebelum membagikan kembali baju dan mainan yang ia beli sepulang sekolah dari dalam kardus. Dan semua ini ia pakai dengan uang Inaho yang disimpan di dalam tabungannya.
Slaine tersenyum licik.
"Tumben sekali, Kaizuka-san." salah satu pengurus panti, Rayet Areash menghampirinya dan membantu membagikan kepada anak-anak.
"Rayet-san, memangnya tidak boleh?" Slaine garuk pipi.
"Bukannya begitu. Kau tampak seperti orang lain. Kau tahu, aku ketakutan." namun Slaine dapat melihat senyuman tipis dari Rayet.
"Kuharap kau sering mampir kemari."
Slaine swt. Ia hanya mengangguk pelan sebagai persetujuan.
Usai berbincang beberapa saat dengan para pengurus panti asuhan, kini Slaine dan Rayet sedang ada di halaman depan, menyaksikan tingginya ilalang yang justru menyamankan penglihatan Slaine. Selama ini ia jarang keluar rumah, dan ini adalah saatnya ia bisa bersenang-senang dengan tubuh Inaho. Tidak ada lagi yang menghalangi kebebasannya.
"Perlu kuantar ke terminal terdekat? Kasihan kalau kau jalan kaki, Kaizuka." tawar Rayet. Slaine menggeleng.
"Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku, Rayet-san."
"Kau terbentur sesuatu, Kaizuka? Ya sudah, pulang sana." Rayet menyilangkan kedua lengannya. Namun, sebelum Slaine sempat melangkah, tubuhnya tertarik ke belakang. Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi kirinya, sebelum akhirnya kehangatan itu menghilang, dan Rayet bergegas masuk ke dalam.
Slaine menyentuh pipi Inaho yang baru saja dicium sepihak.
"Kaizuka, kau mengerikan."
.
.
.
.
.
.
"Kami akan pulang duluan, Slaine."
Asseylum dan Lemrina berpamitan setelah diantar oleh Inaho dan Harklight. Inaho menghubungi Harklight tadi, dan minta dijemput. Selesai mengantar kedua gadis itu, Inaho meminta Harklight mengantarnya ke suatu tempat. Harklight hanya menurut, dan dengan senang hati mengantarkan tuan mudanya.
"Slaine-sama, kita mau kemana?"
"Antar saja. Aku ada perlu." Inaho membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Slaine. Namun, tidak kunjung diangkat. Inaho berdecak kesal dan menutup kembali ponselnya. Memangnya, sedang apa sih Slaine sekarang?
Inaho menyuruh Harklight berhenti tepat di depan rumahnya sendiri. Harklight tidak tahu menahu ini dimana, dan membiarkan tuan mudanya turun sendirian. Disaat itu, ia berpapasan dengan Yuki, kakaknya.
"Eh? Kamu siapa?" tanya Yuki ketika melihat Slaine. Kebetulan ia sedang pulang sore hari ini. Ia tidak begitu tahu banyak soal pergaulan Inaho, dan tentu bingung melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ehm, saya Slaine Troyard. Saya ada perlu dengan Kaizuka Inaho." Inaho mengubah gaya bicaranya. Ingin sekali dia memeluk kakaknya bila tak terhalang oleh tubuh ini.
"Oh? Nao-kun sepertinya belum pulang karena masih terkunci. Mungkin dia ada urusan, mari menunggu di dalam." Yuki membuka pintu rumah dan mempersilahkan Inaho untuk masuk. Inaho lantas melangkah, merasakan kerinduan pula akan rumahnya sendiri. Baru beberapa hari tidak kesini, rasanya seperti bertahun-tahun lamanya.
Inaho duduk di sofa, dan Yuki membuatkan teh untuknya sembari menunggu kepulangan sosok palsu adik wanita satu ini.
Tak berapa lama, ketukan pintu terdengar dan Yuki melihat adiknya sudah datang.
"Nao-kun, kau ada tamu." Yuki beranjak, ia menuju ke lantai dua, dan membiarkan kedua pemuda itu berbicara.
"Kaizuka?" Slaine yang baru saja kembali dari acara amal pribadinya hanya menatap heran.
"Kapan kita akan ke kuil itu? Jadwal harianmu benar-benar menyebalkan." keluh Inaho. Slaine duduk di sampingnya dan hanya mengangkat bahu.
"Yah, kau tau aku juga merindukan rumahku."
"Bagaimana kalau kau menginap saja di rumahmu hari ini? Besok hari Sabtu. Aku tak ada teman bicara di sana, itu sedikit mengesalkan."
Slaine bersiul. "Kau kesepian tanpaku, Kaizuka?"
Inaho berkedut marah, namun ia tak mengutarakannya. Slaine yang melihat wajahnya sendiri menahan amarah hanya terpingkal-pingkal.
"Apa-apaan itu, Kaizuka? Kau merajuk? Hahahaha."
Rahang Slaine keburu dicengkeram oleh Inaho.
"Ah, maaf. Tanganku terpeleset." sindirnya.
"Kaizuka, maafkan aku." Slaine tak punya pilihan selain meminta maaf.
Mereka lalu saling berpandangan kembali.
"Sepertinya idemu tidak buruk, Kaizuka. Aku akan berkemas." Slaine menuju ke kamar Inaho dan entah sedang apa karena cukup lama berkutat di dalam sana. Slaine menenteng koper setengah jam kemudian, dan ia hanya tersenyum.
Inaho jijik sendiri melihat dirinya tersenyum selebar itu.
"Kak Yuki, aku mau menginap di rumah Slaine!" Slaine berteriak.
"Oh? Hati-hati, Nao-kun! Jangan lupa kabari kakak!" balas Yuki dari atas.
"Slaine, bagaimana bisa kau berteriak seperti itu? Aku tidak pernah berteriak, tahu."
"Sesekali bukan masalah, Kaizuka, ayo." ajak Slaine. Wajah bahagia terlihat jelas. Ugh, kangen rumah, ya. Mereka keluar dari sana dan menaiki mobil yang dikendarai Harklight.
"Teman anda, Slaine-sama?" tanya Harklight.
"Ya, dia akan menginap malam ini." jawab Inaho seadanya.
Harklight mulai memanaskan mesin, lalu melajukan kendaraannya perlahan-lahan. Sambil membenahi cermin di atas dasbor, pandangan Harklight tak sengaja memergoki kejadian yang baru saja terjadi pada teritori jok di belakangnya. Namun Harklight hanya diam dan tak berani memberi komentar.
Keduanya berciuman.
.
.
.
Hari kelima selesai.
A/n : knp hari kelima? Wkwkwk karena day 4 dah selese di tengah2 #yha
Balasan review
her-sleep : entahlah aku juga gayakin ini bakal kemana #pret. Sakit hati? /ga. Terima kasih sudah jejak~~~
Kikuze : hayhayhay terimakasih sudah jejaq. Mr portable? Lech ugha #jangan. Terima kasih atas jejaknya ya mwah *emot ciyum*
Thanks for read
siluman panda
