Sesi ciuman masih berlanjut hingga ke ranjang. Bahkan lebih panas dari yang pertama tadi saat berada di mobil. Persetan dengan Harklight yang menjadi saksi mata tunggal. Masa bodo dengan pelototan Eddelrittuo ketika menyambut mereka di pintu depan. Lidah mereka saling beradu, bahkan Inaho tidak segan melumatnya habis-habisan. Slaine tidak tahu kenapa ia juga menikmati ini. Hanya nafsu sesaat, mungkin? Keduanya pun berhenti saat merasa membutuhkan pasokan oksigen. Kegiatan berciuman seperti ini membutuhkan banyak tenaga.
"Kenapa tiba-tiba kau menciumku, sialan." Slaine mengusap bibirnya. Tidak percaya Inaho akan secara sukarela mencium dirinya. Ada apa dengan dia?
"Kau juga tidak menolak." Inaho berkelit. Slaine menatapnya tajam.
"Kau ternyata sangat pandai berciuman, huh, Kaizuka. Sudah berapa gadis yang kau tiduri?" tanya Slaine.
"... tidak ada."
Hening.
"... kau yakin tidak salah menjawab?"
Hening. (2)
"... apa yang salah menjadi perjaka?"
"Kaizuka, ini tidak lucu."
Keduanya saling menghela napas. Menghabiskan waktu di akhir pekan? Seperti orang pacaran saja. Slaine memijit keningnya, ya tidak apa-apa. Ia juga bosan tidak mendapat hiburan selama beberapa hari. Mungkin Inaho menciumnya karena stresnya sudah menumpuk. Slaine bisa memaklumi hal itu jika memang benar demikian.
"Kau ada rencana mau kemana?"
"Ke kuil yang kau bicarakan. Aku mencarinya di internet." Inaho beralih menjadi serius.
"Tumben kau percaya hal mistis." ejek Slaine.
"Mau bagaimana lagi, yang terjadi pada kita juga hal yang di luar nalar."
"Kapan?" tanya Slaine.
"Setelah kita menghabiskan akhir pekan? Minggu depan kita bolos saja."
"Waow, minggu depan ada ulangan dan membolos bersamamu? Tidak buruk juga, Kaizuka." Slaine bertepuk tangan. "Lalu, bagaimana dengan semua kewajibanmu menggantikanku?"
"Aku sudah mengaturnya. Minggu depan kukosongkan semua. Bagaimana bisa kau tahan dengan jadwal setan seperti ini?" Inaho menatapnya lurus.
"Yah, kau tahu. Untuk mengisi waktuku, aku harus melakukannya."
Inaho teringat lagi perkataan Slaine waktu itu. Mungkin benar, waktunya sendiri juga tidak banyak. Itulah mengapa Slaine berusaha menyibukkan dirinya. Untuk menutupi kekosongan hatinya.
"Ya sudah, kita tidur dulu sambil memikirkan rencana besok." Inaho merebahkan diri.
"Kau benar." Slaine turut melakukan hal yang sama. Ia tiduran di samping Inaho, sambil melihat kepada tubuhnya sendiri yang dihuni lelaki bermarga Kaizuka itu.
"Hei, kau ingat apa yang terjadi pada kita malam itu?"
Inaho menggeleng. "Tidak. Aku sudah berusaha, tapi tidak bisa."
"Begitu. Selamat malam, Kaizuka."
Slaine tidak bisa memejamkan matanya. Ia tidak bisa tidur tenang sementara ia sendiri telah mengetahui kenyataan di malam itu. Malam yang mengubah hidup mereka menjadi seperti ini. Apa tidak apa-apa ia merahasiakannya dulu dari Inaho?
Aldnoah Zero © Project A/Z, Olympus Knights, A-1 Pictures, Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama.
Inaho x Slaine
BL alias Boys Love, shounen-ai , hvmv dsj
AU. OOC. Typo(s).
Don't Like Don't Read. I've warned you!
"Perlu aku antar pulang?"
"Tidak, terima kasih. Supirku akan segera datang."
Malam itu, Inaho dengan sabar menunggui Slaine hingga dijemput. Meski Slaine bersikap tidak peduli kepadanya. Hari sudah malam, jadi berbahaya kalau di luar sendirian. Inaho diam-diam menikmati wajah manis Slaine saat cemberut.
"Dimana sih Harklight tidak datang juga." Slaine mondar-mandir seperti orang tua. Inaho hanya melihatnya. Di depan gerbang sekolah berdua begini, bisa-bisa mereka disangka satpam.
"Aku antar saja, ya, Slaine. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian." tawar Inaho kesekian kali. Ia ingin segera pulang, tapi tidak tega meninggalkan Slaine sendirian.
"Pulang saja sana sendiri. Aku akan tetap menunggu." dasarnya Slaine memang keras kepala. Inaho bisa memaklumi, tapi tidak untuk kali ini.
"Hentikan kebodohanmu itu, Slaine." Inaho menangkap lengan pemuda bermarga Troyard itu. Ia menyeret Slaine, tapi Slaine jelas saja berontak. Acara tarik menarik itu sampai ke tengah jalan yang sepi. Slaine tidak menyadari ada sebuah mobil melaju ke arah mereka. Inaho yang tahu lebih awal, refleks mendorong Slaine menjauh darinya. Dan hasilnya, Inaho yang menjadi korban. Ia tertabrak begitu keras hingga terpental sejauh beberapa meter. Slaine kehabisan kata saat melihat Inaho sudah tidak berdaya di jalan raya. Tubuhnya dilumuri oleh begitu banyak darah. Mengalir kemana-mana sampai Slaine mual melihatnya. Mobil itu lari dengan cepat. Hingga tak lama kemudian, Harklight datang.
"Slaine-sama, maaf saya—"
"K-Kaizuka ...!"
Foto saat pemakaman Inaho begitu menghantui Slaine. Mata itu terlihat seperti menatapnya ketika ia menghadirinya siang tadi. Slaine hanya diam di sana, tidak ingin melakukan apa-apa sampai teman-temannya ikut khawatir akan keadaannya. Ia tidak bisa tidur dengan tenang karenanya. Ia ingat, ia yang menangis paling keras saat berada di sana. Mungkin teman sekelasnya memandang heran. Bagaimana bisa Slaine sesedih itu saat saingannya sudah tidak ada? Kantung mata tercetak jelas di bawah matanya. Harklight, dan Eddelrittuo sangat khawatir melihatnya.
"Tuan muda, anda baik-baik saja?"
Slaine merasa begitu bersalah. Tidak berwarna hari tanpa seorang Kaizuka Inaho. Meski ia begitu menyebalkan. Andai saja dia tidak keras kepala dan lebih memerhatikan sekitar ... tidak akan jadi begini. Ia tidak akan seperti ini. Bagaimana bisa ia mengulang waktu? Seperti apa caranya?
Itu mustahil, bukan?
Slaine menyetel televisi di pagi hari seperti biasa, untuk melihat kurs pembuka hari ini. Ia tidak boleh melupakan tugasnya meski sedang bersedih. Sebuah liputan berita menarik perhatiannya, tentang sebuah sumur ajaib di Mie. Banyak orang tidak percaya, tapi pendeta di sana tidak menjawab dan menyuruh orang mencobanya sendiri dengan taruhan nyawa. Ia langsung membawa mobilnya dan pergi ke sana. Harklight pun juga tidak berusaha menuntut penjelasan, mungkin ia sudah mengerti jalan pikirannya.
Apakah Slaine sudah tidak waras? Hingga memercayai takhayul yang tidak jelas?
Jawabannya; iya. Dia memang sudah gila gara-gara si bungsu Kaizuka. Sejak lama.
Ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui di jalan demi sampai di tujuan. Otaknya sudah buntu diajak berpikir. Ia akan menerima semua cara meski kemungkinannya di bawah satu persen. Ia harus mencobanya, tidak peduli apa pun itu. Jika ia bisa, kenapa tidak?
Slaine harus berjalan kaki ke kuil itu. Tangganya sedikit berlumut dan licin, ia harus berhati-hati. Setiba di atas, ia melihat betapa sepinya kuil ini. Tentu saja, tidak akan ada orang yang percaya. Wartawan yang menayangkannya pasti merasa tertipu saat merekamnya. Namun, Slaine ingin berharap. Sekecil apa pun itu peluangnya.
"Ada perlu apa, anak muda?"
Slaine terkejut melihat seorang lelaki paruh baya menyapanya. Tetapi, ia segera membungkuk saat melihat pakaian pendeta yang dikenakannya.
"M-maaf mengganggu. Saya ingin tahu, apakah ... apakah benar perihal sumur ajaib itu?"
Pendeta itu tersenyum menanggapi pertanyaan Slaine. Ia kemudian berjalan ke suatu tempat. Slaine mengikuti tanpa diminta atau disuruh, dan mereka sampai pada belakang kuil.
"Kalau kau ingin mencobanya sendiri, silahkan. Tapi, ingat. Kau juga harus membayarnya dengan harga yang sama. Aku tidak tahu itu, tapi kau harus menyadari penuh akan hal ini."
Harga yang sama.
Tidak ada sesuatu yang bagus tanpa adanya imbalan, Slaine setuju untuk yang satu itu.
"Bagaimana caranya, ojii-san?" tanya Slaine.
"Basuh wajah dan tanganmu dengan air kuil, lalu masuk ke sumur itu. Kau akan tahu sendiri hasilnya."
Slaine akan mencoba segala cara untuk mengembalikan kehidupan Inaho. Pemuda itu mati sia-sia karena dirinya. Jika memang benar semua ini bisa dilakukan, apalagi yang harus ia tunggu? Jikalau tak berhasil, setidaknya ia telah mencoba.
"Aku akan menyelamatkanmu, Kaizuka."
.
.
.
"Slaine, dengar tidak?"
"Maaf, bisakah kau mengulangnya?" Slaine tidak fokus mendengarkan Inaho. Inaho hanya pasrah dan memilih merepetisinya.
"Kau mau film yang mana?" Inaho merotasi netranya. Slaine jadi aneh semenjak mereka berangkat tadi.
Slaine ingat hari ini mereka sedang pura-pura ngedate dalam rangka menghabiskan waktu di akhir pekan. Slaine asal-asalan menunjuk pada sebuah poster film berjudul The Bridge of Dreams. Inaho segera membayar tiket dan snack menggunakan uang milik Slaine.
"Kau lebih banyak diam, Slaine. Jika kau tidak enak badan, apa sebaiknya kita pulang?"
"Berhenti bersikap baik padaku, Kaizuka."
"Kau kenapa?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Inaho dan Slaine segera masuk ke dalam bioskop untuk menunggu film diputar. Keduanya duduk berjejeran dan mulai memakan camilan yang mereka bawa. Meski sebenarnya Slaine yang sepertinya niat sekali memakannya.
Film itu menceritakan seseorang yang terjebak oleh cinta terlarang. Konflik tiada ujung dan berbagai perselisihan. Begitu tabu dan indah disaat bersamaan.
"Apa kau pikir cinta terlarang itu salah, Slaine?"
"Entahlah. Aku tidak tahu."
Slaine tidak pernah menjalin hubungan serius sebelumnya, jadi ia tidak bisa menjawab pertanyaan Inaho dengan benar.
"Jika aku bilang—aku mencintaimu, apakah itu juga disebut cinta yang terlarang?"
Slaine melotot.
"Apa?!"
"Itu perumpamaan. Aku bilang 'jika'."
Slaine menyorot tajam. "Ini sama sekali tidak lucu. Carilah guyonan lain, Kaizuka."
"Lalu, kalau aku tidak bercanda?"
Hening.
"... Slaine?" Inaho melambaikan tangannya di depan pemuda itu.
"Apa kepalamu terbentur sesuatu pagi ini?"
"Aku hanya ingin bertanya." desis Inaho. Apa salahnya bertanya? Dia hanya penasaran dengan jawaban Slaine tentang hal seperti ini.
Slaine tidak menjawab lagi setelahnya. Hingga film yang mereka tonton selesai. Inaho berpikir bahwa Slaine mungkin tidak ingin menjawabnya.
"Kaizuka ..." panggil Slaine secara tiba-tiba. Inaho jelas saja menoleh ke arahnya. Ia menunggu hingga Slaine berbicara sesuai kehendaknya.
"Apakah kau ... bisa menghadapi kenyataan?"
"Kenapa tidak? Apa maksudmu, Slaine?" Inaho merasa aneh. Ia tidak mengerti konteks apa yang dimaksud oleh Slaine.
"Tidak apa, aku hanya ingin bertanya." ujarnya. Ia lalu keluar duluan dari tempat ini, kemudian Inaho menyusulnya.
"Tunggu, Slaine. Ada yang salah denganmu. Jelaskan semuanya kepadaku sekarang." Inaho memaksa Slaine berhenti dan memutar tubuhnya dengan menahan bahunya.
"Kau akan tahu sendiri jawabannya jika ini semua berakhir, Inaho."
Slaine menepis tangannya sendiri, menciptakan jarak dengan Inaho. Inaho tidak tahu apa yang ada di kepala lelaki yang sedang menghuni tubuhnya itu. Tapi, firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak enak. Slaine menyembunyikan sesuatu darinya, dan itu adalah hal yang buruk.
"Lebih baik kita nikmati hari ini, Kaizuka. Bukankah kau memang ada perasaan padaku? Mengapa kau tidak memanfaatkan ini sebaik mungkin?"
"Dan kencan dengan diriku sendiri?" Inaho merengut.
"Jangan pikirkan hal sedetil itu. Seharian ini aku milikmu, oke?"
Inaho sedikit ragu menjawab yang satu itu. Tapi, benar kata Slaine. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ia harus memanfaatkan hari ini sebaik mungkin.
"Baiklah. Setelah ini kau mau kemana?"
"Bagaimana kalau kita ke taman bermain? Aku ingin pergi ke rumah hantu, naik bianglala—"
"Oke, aku akan mendengarkanmu nanti. Sekarang kita jalan."
Slaine tersenyum manis dengan wajahnya. "Aku suka dengan orang yang pengertian. Mungkin saja aku bisa sungguhan jatuh hati padamu, I-na-ho."
Hari itu mereka habiskan dengan menjajal semua wahana di taman bermain seperti anak kecil. Dari sudut pandang Inaho, Slaine terlihat benar-benar menikmatinya. Tidak seperti ia yang biasanya tidak peduli hal-hal kekanakan begini. Yah, meski selalu saingan nilai itu juga agak kekanakan, sih.
Yang terakhir mereka naiki adalah ferris wheel. Slaine nampak sangat antusias meski antriannya amit-amit jabang bayi. Inaho akan menuntut Slaine nanti atas rasa pegal di kakinya jika mereka sudah kembali. Kapsul yang mereka naiki perlahan menanjak, menuju tempat tertinggi. Inaho hanya diam melihat Slaine di dalam tubuhnya yang memandangi seluruh kota dari atas sini. Ia bilang, skeneri malam hari adalah yang terbaik. Ia bisa melihat iluminasi dari kota.
"Slaine ..." Inaho memanggilnya.
"Ya, Kaizuka?" sahut Slaine tanpa menoleh ke arahnya. Tangannya masih menempel pada kaca, enggan dilepas. Manik teal miliknya terlihat ikut bersinar menjelajahi pemandangan yang ia lihat.
"Kenapa kau tidak jujur padaku? Meski kau selama ini menyebalkan, kau tidak pernah melakukan itu. Mengapa kau simpan semuanya sendirian?" Inaho tidak ingin Slaine menutupi apa-apa. Saat ini mereka sedang dalam kondisi yang cukup sulit, akan mencurigakan jika Slaine berbohong, bukan? Apalagi jika menyangkut bagaimana jiwa mereka bertukar. Inaho merasa berhak untuk tahu.
Slaine terdiam selama beberapa saat, sebelum meluruskan arah pandangnya pada Inaho.
"Mungkin itu hanya imajinasimu, Kaizuka."
"Aku yakin tidak sedang berimajinasi. Kenapa kau menutupinya?"
"Aku tidak menutupi apa-apa."
"Aku kecewa padamu, Slaine."
"Well, kalau kau bilang begitu pun, aku tidak keberatan." tukas Slaine.
"Kau tadi bilang aku akan tahu jawabannya setelah semua ini berakhir. Apa maksudmu dengan itu? Kau telah mengetahui kebenaran dan tidak memberitahukannya padaku?"
"Besok," ujar Slaine. "bisakah kau bersabar hingga besok? Aku akan menceritakannya padamu. Tapi jangan rusak kesenanganku saat ini, sialan."
Besok?
"Bisakah aku mempercayaimu setelah aku tahu kau pernah berbohong padaku?" sungut Inaho. Ini bukan saatnya mereka bermain-main.
"Yah, itu terserah kau saja. Kubilang besok ya besok, mengapa kau sangat keras kepala sekali?!"
"Kau tahu aku keras kepala, tapi kau sendiri masih bersikeras menyembunyikan kenyataan."
"E-eck, sialan kau, Kaizuka."
Kapsul mereka sudah berotasi ke bawah. Mau tidak mau, mereka harus turun. Mereka berdua kemudian pulang bersama ke rumah Slaine. Inaho akan mencoba memercayai perkataan Slaine sekali lagi. Karena ini adalah hal penting. Slaine menyupiri mobil hingga tiba di rumah. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berani buka suara. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Ketika mereka pulang, Slaine terkejut melihat mobil ayahnya ada di halaman depan.
"Gawat, ini sudah jam sembilan. Ouch, maafkan aku, Kaizuka. Aku tidak tahu kapan papa pulang."
"Kenapa kau minta maaf padaku?" Inaho bingung.
"Ah, kita turun saja dulu." Slaine melepas sabuk pengaman dan keluar. Inaho pun lantas menyusul.
Begitu Slaine mendorong pintu, yang ia dapati adalah raut marah Saazbaum. Inaho tampaknya sedikit mengerti, tapi ia akan diam dulu melihat keadaan.
"Menikmati waktumu, Slaine? Sudah berapa kali papa bilang, kau itu harus beristirahat jika sempat."
Slaine di dalam tubuh Inaho ingin berbicara, tapi ia tidak bisa dengan situasi sekarang. Sangat tidak memungkinkan. Harapan terakhirnya adalah Inaho yang sedang bersemayam di dalam tubuhnya.
"Aku pergi dengan temanku, apa itu juga tidak boleh?"
Hening.
Slaine tidak menyangka Inaho akan berkata seperti itu. Tapi sepertinya, hal itu justru memantik amarah di dalam Saazbaum.
"Harklight tidak mau mengaku, tapi Eddelrittuo bilang dia bukan temanmu."
Slaine akan membuat perhitungan dengan Eddelrittuo nanti. Rupanya ia yang melaporkannya pada Saazbaum. Kepala Pelayan sialan! Apa ia juga menceritakan soal ciuman itu? Keparat.
"Apa yang ada di dalam pikiranmu, Slaine, aku tidak habis pikir. Dan kau, yang mengaku temannya Slaine—keluar."
Slaine membulatkan matanya. Tidak menyangka ia akan diusir secara memalukan dari rumahnya sendiri. Situasinya terlalu sulit, dan harusnya Slaine menyadari hal itu. Tapi, tetap saja rasanya sakit. Ia hanya tidak mengira keadaan akan menjadi seburuk ini.
"Sla—Kaizuka hanya menemaniku, papa." Inaho turut membela diri.
"Berhenti di sana, Slaine." Slaine sendiri mencoba menenangkan Inaho. "Tidak apa, kita masih punya besok." dan dengan itu, Slaine di dalam tubuh Inaho segera angkat kaki dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata. Inaho tidak percaya, mengapa Slaine membiarkan hal ini terjadi padanya? Apa ia tidak merasa sedih?
"Slaine, papa ingin membicarakan sesuatu."
Inaho tidak punya pilihan selain menurut. Ia tidak bisa mengacau lebih jauh dengan tubuh ini.
"Besok kau akan pindah sekolah. Papa akan membawamu ke luar negeri."
Inaho merasa hancur berkeping-keping saat mendengarnya. Bagaimana ini? Segala sesuatunya berjalan di luar dugaan mereka.
"Tapi, pa—"
"Tidak ada penolakan. Kau tahu resikonya."
Inaho tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Inaho mematut dirinya di cermin. Paras Slaine terpantul jelas di sana. Dan Inaho hanya berdiam diri memandanginya.
"Jika saja kita sudah kembali normal... apa yang akan kita lakukan soal ini, Slaine? Apa yang akan kau lakukan jika kau masih berada di tubuhmu?"
Tidak ada yang menjawab.
Inaho merasa begitu lelah hari ini. Besok. Dia akan menggunakan waktu terakhirnya sebaik mungkin. Untuk meminta kenyataan dari mulut Slaine. Ia butuh kebenaran, ia ingin mengetahuinya. Lagipula, mengapa Slaine menyembunyikan hal ini darinya?
Inaho merasa aneh. Ia begitu mengantuk hari ini. Dan setelahnya, entah bagaimana ia sudah terlelap di ranjang besar milik Slaine.
.
.
.
"... -kun! Nao-kun!"
Inaho sayup-sayup mendengar suara kakaknya memanggilnya. Apa ia sedang bermimpi? Kepalanya pusing, tubuhnya pun terasa sakit semua. Perlahan membuka mata, ia melihat Yuki, kakaknya, menangis di hadapannya.
"Syukurlah, Nao-kun! Nao-kun!"
"Kami pikir kau tidak akan sadar, Inaho."
Inaho melihat sekeliling. Beberapa teman sekelasnya datang, bahkan Asseylum dan Lemrina yang jarang berbicara dengannya. Inaho melihat jarum infus menancap pada nadi tangan kirinya, dan ia melihat baju pasien yang melekat pada dirinya. Apa yang terjadi? Apa ia sudah kembali?
Tunggu, dimana Slaine?
Inaho mencoba bangun meski sakit. Yuki sudah berteriak panik dan melarang Inaho melakukannya. Tapi, Inaho adalah orang yang keras kepala. Ia tidak akan berhenti jika itu bukan kemauannya sendiri.
"Nao-kun, mau kemana?"
"Di mana Slaine? Di mana dia?"
Beberapa teman kelasnya yang datang terlihat terkejut saat Inaho menanyakan eksistensi rivalnya itu. Perasaan Inaho sudah tidak enak. Kemarin dia masih tidur di rumah Slaine dan—apa?
Asseylum maju menghampirinya, sambil memegang bahu Inaho, mencegahnya melakukan tindakan bodoh. Inaho menurut, ia berhenti dan hanya duduk di ranjang. Asseylum kemudian menceritakan semuanya. Kronologi kecelakaan yang menimpa ia dan Slaine pada petang hari tepat seminggu yang lalu. Kondisi mereka kritis selama enam hari, dan hanya Inaho yang selamat meski ia mengalami koma.
"Kau berbohong, 'kan, Seylum-san?"
"Tidak, Inaho-san. Slaine-san dimakamkan hari ini. Ia meninggal kemarin malam."
Tangis Asseylum pecah saat mengingatnya. Begitu pula dengan Lemrina yang mendadak meneteskan air mata. Seisi ruangan hanya berisi suara isakan. Inaho jelas menolak untuk percaya. Ia memandangi lantai dingin di bawah, hembusan AC entah sejak kapan terasa begitu menusuk tulangnya. Ngilu. Inaho menggeremetukkan gigi, wajahnya menjadi tidak bersahabat untuk sesaat.
Apa ini yang dimaksud oleh Slaine?
Inaho begitu marah padanya. Apa-apaan pemuda platina itu? Ia bahkan tidak menjelaskan apa-apa kepadanya!
Inaho begitu ingin menghajarnya saat ini juga. Ia ingin membuat luka di wajah saingannya. Ia segera mencabut infus, meski darah menetes hebat, keluar dari pembuluh nadinya yang berada di punggung tangan. Aksi nekat itu hendak dicegah oleh Asseylum yang kebetulan berada di dekatnya, tapi Inaho sudah tidak bisa dihentikan. Meski seluruh tubuhnya terasa sakit semua, ia harus melihat kondisi Slaine dengan mata kepalanya sendiri.
"Kenapa kau berbohong padaku, Slaine? Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi!" berani-beraninya Slaine pergi sendirian. Inaho tidak tahu apa-apa, dan Slaine meninggalkannya dengan sisa misteri tidak masuk akal ini. Jika mereka mengalami kecelakaan minggu lalu, kemudian apakah semua hari-hari yang ia lalui bersama Slaine hanyalah mimpinya belaka?
Inaho merasa sangat kesal. Ia memukul tembok rumah sakit disaat ia sendiri tertatih berjalan. Ia bingung dengan semua ini yang terlalu tiba-tiba.
Inaho tidak menang kali ini, Slaine berhasil mengalahkannya dengan begitu telak. Mungkin saja ia sedang menertawainya di alam sana, keras-keras sambil menjulurkan lidahnya. Inaho tidak akan bisa memenangkan pertandingan lain jika begini caranya. Siapa yang akan bersaing nilai lagi dengannya? Siapa lagi yang akan meladeni omong kosongnya? Siapa lagi yang akan berada di sisinya untuk mengalahkan dunia?
Ia selalu mengeluh karena Slaine membuatnya belajar tiga kali lebih keras daripada dulu, dan sekarang ia merasa benar-benar merindukan saat itu. Ia selalu mengeluh karena Slaine berhasil mengalahkannya dalam beberapa pelajaran, tanpa ia sadari bahwa ia menikmati itu semua.
Ia ingin semuanya kembali seperti semula. Apakah ini yang dibicarakan Slaine tentang 'kenyataan'? Apakah kenyataan ini yang harus ia hadapi sekarang? Kenyataan mengerikan seperti ini?
"Ugh."
Pandangan Inaho semakin mengabur ketika ia sampai di teras depan Rumah Sakit. Ia masih belum tahu apa-apa, ia akan menuntut penjelasan Slaine. Ia akan selalu menagihnya. Ia akan terus mengusiknya hingga mendapatkan jawaban.
Inaho teringat perihal kuil di Mie yang sempat dibicarakan Slaine. Apa mungkin di kuil itulah, Slaine melakukan sesuatu? Lalu, apakah dia juga bisa melakukan sesuatu yang sama?
Inaho ambruk saat ia hampir mendekati gerbang rumah sakit. Kakinya terasa begitu berat untuk berjalan. Saat itu, rintik air mengenai wajahnya. Inaho dapat mendengar beberapa teman meneriakinya dan terlihat menyusulnya yang kini jatuh tak berdaya. Disaat napasnya makin memendek, ia melihat seseorang datang menghampirinya dan mengulurkan tangannya. Pandangan Inaho memburam perlahan, kepalanya terasa begitu sakit. Ia berteriak sekuat yang ia bisa sebelum hilang kesadaran sepenuhnya.
Apakah ia ... sudah tidak bisa menggapai tempat Slaine lagi?
Untuk selamanya?
Hari ketujuh selesai.
A/N : terima kasih untuk semua yang membaca cerita ini dari awal huhu idk how to put an ending as always dan kenapa udah hari ketujuh tahu sendiri lah wkwkwkw. saya sendiri gak yakin mau tamatin sampe sini jujur aja emang saya cepetin karena bingung but ...percayalah gw lagi semedi nyari inspirasi buat spin-off atau mungkin lanjutan cerita ini yang entah kapan bakal rilis. terima kasih untuk yang sudah review chapter kemarin Thiiya ,Haru si Huru-Hara , Yuyu arxlnn, Kikuze , La memoria, Hanyo4, Myuzika HerAphrodite. Mohon maaf masih banyak kurang sana-sini, saya tahu harus belajar lebih baik dari hari ini.
kalau sempat bakal saya bales via pm karena kesibukan semester baru mulai menggunung. kalo mau bacot2 (?) silahkan ke facebook saja cari akun yg namanya Aiko Pandaa atau di akun sebelah punya saya yang asli (?) karena udah bisa diakses lagi akun yang Panda Dayo wkwkw pokonya terima kasih banget kalian semua yang udah baca.
siluman panda
