Surat untuk Suamiku

Februari 2017, 11.00 KST

Aku mulai merasakan 'hidup' dalam pekerjaan belakangan ini. Yah, walaupun memang sejak awal aku selalu mengatakannya. Berulang kali. Karena terkadang manusia bisa berubah bukan hanya akibat keadaan, tapi juga karena seseorang.

Bekerja selama tujuh puluh dua jam dalam satu satu minggu sudah seperti agenda, walaupun sejujurnya sebagai ahli forensik hal tersebut sangat berlebihan. Mungkin akan terdengar wajar jika aku adalah seorang detektif seperti Jimin. Tapi nyatanya aku memang berlebihan seperti dia.

Tidak… aku bersikap berlebihan karena Park Jimin.

Jadi anggap saja kini aku sudah seperti partner kerjanya. Jimin bekerja hampir dua puluh empat jam sehari dan hanya libur saat ia tertidur. Sekali anak itu membuka mata, maka yang ia lakukan hanyalah mengurus kasus demi kasus. Dan seperti seorang penggemar fanatik, aku selalu penasaran apa saja yang sedang ia lakukan hingga harus berakhir ikut tenggelam dengan pekerjaannya itu.

"Mengerikan. Jadi selama sepuluh menit juru bicaranya menyampaikan pidato, pria itu sudah mati sambil membuka matanya. Dan semua orang disana selama sepuluh menit itulah tengah duduk dengan mayat."

Ya ampun, pilihan kata-katanya benar-benar indah. "Mulailah memanggil mayat itu dengan sebutan 'korban', Jimin. Kau secara resmi sudah ditugaskan menyelidiki kasus ini." Aku berani melayangkan sindiran semacam ini karena tahu bahwa Jimin tidak pernah marah. Mungkin hanya mendesis sebentar dan kemudian diam saja sambil mengumpat dalam hati bahwa yang kukatakan adalah benar.

"Penyebab kematian 'korban' adalah serangan jantung. Namun menurut sang dokter, Direktur Nam sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit itu. Seorang pemimpin perusahaan yang memiliki pola hidup sehat." Jimin membolak balik berkas di hadapannya. Kedua matanya sangat serius, dan menurutku itu sangat menarik. "Tapi… untuk seseorang yang sehat, mengapa tiba-tiba menyuruh seorang juru bicara untuk mewakilinya saat menyampaikan pidato?"

Benar. Inilah mengapa kematiannya langsung dilaporkan sebagai sebuah kematian tak lazim. Dan siang ini aku akan membedah tubuh korban untuk memastikan penyebab pasti serangan jantung seorang pimpinan salah satu perusahaan besar di Korea Selatan.

"Kau mau ikut saat pembedahan?" aku menatap Jimin dan melihatnya sedikit terkejut.

"Umm… apa… apa boleh aku hanya tahu hasilnya saja?"

Oh? Jimin terbata. Ini pertama kalinya ia menunjukkan sikap seperti itu padaku. Sorot mata yang biasanya penuh keyakinan kini jadi tak fokus dan menghindari pandanganku. Gestur yang biasa disebut dengan gugup. Sebuah perasaan khawatir atau ragu-ragu terhadap ketidakmampuan diri sendiri. Jadi memang ada yang membuatnya khawatir. Dan kurasa cukup besar untuk bisa membuatnya bekerja sangat keras di bagian lain.

Menarik…

Tapi untuk saat ini aku tidak akan bertanya kenapa padanya. Hal itu pasti akan sangat melukai harga diri untuk seseorang seperti Park Jimin.

"Tentu saja. Normalnya memang begitu. Mungkin aku akan menyesal saat kau bisa mengotopsi korban sendiri nantinya karena aku pernah menunjukkan padamu bagaimana caranya."

Jimin merengut, "Aku tidak sejenius itu, tahu." Dan jantungku berdebar kencang.

Untuk menghentikannya, aku mencoba kembali pada topik pembicaraan. "Yang membedah adalah aku, tapi yang akhirnya menangkap penjahatnya adalah kau. Jadi sebelum aku melakukan tugasku membedah, aku ingin tahu pendapatmu kira-kira siapa saja yang menginginkan kematian orang ini."

Jimin tidak berpikir panjang saat menjawab. "Dia orang besar. Ada banyak kandidatnya. Kolega, saingan bisnis, bahkan mungkin karyawannya sendiri."

"Kau bisa mengeliminasinya satu per satu." Aku menyodorkan lembaran kertas yang berisi artikel tentang Nam Ki Wan. Pimpinan utama Diamond Group.

"Maksudmu?" tanyanya sambil menerima kertas yang kuberikan.

Rasanya menyenangkan bicara dengan seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. "Jangan abaikan rumor."

"Akhir-akhir ini media memang banyak membicarakan perihal kelakuan anak laki-lakinya yang sangat buruk. Mabuk-mabukan, narkoba, dan membuat onar di tempat umum. Tapi hukum tidak bisa memenjarakan anak itu karena uang tebusannya sangat besar. Nam Ki Wan juga memberikan kompensasi berkali-kali lipat untuk kerugian yang disebabkan putranya itu."

Aku memiringkan kepala sambil masih menatapnya…

"Namjoon. Aku juga tidak suka dengan anak itu. Tapi seperti yang kau tahu, uang itu pengaruhnya sangat besar bahkan dalam dunia hukum."

Aku masih menatapnya…

"K-kau mau aku melakukan apa?"

"Kau pernah dengar tidak? Ungkapan kalau musuh yang paling berbahaya adalah seseorang yang paling kau sayangi."

"Jadi kau ingin aku menyelidiki anak laki-lakinya?"

"Yep…"

"Ahh… menyebalkan."


2 Februari 2017, 17.25 KST

Ini otopsi pertama yang aku lakukan di tempat yang baru. Sempat gugup karena biasanya aku hanya menjadi pembantu dan bukan pusat perhatian seperti tadi.

Sejak pembedahan dimulai, aku sudah mengira apa yang akan kutemukan. Korban memang diketahui meninggal karena penyempitan pembuluh darah di jantungnya. Namun nyatanya jika saat itu seseorang berhasil memompa dan mengembalikan denyut jantungnya, orang ini akan mengalami komplikasi lain. Ada pendarahan dalam lambung dan ususnya yang dalam waktu hitungan jam bisa berlanjut menjadi gagal ginjal, limpa, dan hatinya. Kematian yang malang bahkan dalam perspektif medis sekalipun.

[Tadi kau bilang apa?]

Jimin sudah ada di line telepon. Rekor baru baginya saat membaca pesanku. Aku hanya perlu menghitung sampai tiga sampai dia menelepon.

"Ricin, Jimin. Aku menemukan zat itu di tubuh korban."

[Jadi dia benar-benar diracun?]

Aku hampir tertawa mendengar suara Jimin yang penuh dengan semangat bercampur kaget. Sepertinya tugas menyelidiki putra korban membuatnya bosan setengah mati. Jadi setelah aku mengabari bahwa proses otopsi sudah selesai ia langsung saja menghubungi. Aku bahkan berani bertaruh kalau Jimin juga sudah dalam perjalanan kesini.

"Kau dimana?"

[Sepuluh menit aku sampai. Kuharap tidak ada orang brengsek yang membuat kemacetan di jalan.]

Aku mengirimnya pesan.

[Huh? Kau mau bertemu di luar? Bukankah akan repot membahas hasil otopsimu di luar rumah sakit? Nanti kalau berkasnya tercecer bagai—]

"Daging…"

[Apa?]

"Aku mau makan daging."


2 Februari 2017, 18.15 KST

Jimin membawaku ke sebuah restoran yang menjual daging panggang. Tempatnya tidak cukup ramai karena terletak di sebuah distrik pinggiran Seoul. Bangunannya juga sederhana dan terdiri dari dua lantai. Restorannya ada di lantai satu dan satu lantai lagi mungkin digunakan untuk tempat tinggal. Tempatnya sangat bersih.

Akan nyaman sekali makan di tempat ini, jika saja tidak ada…

"Aaakh!"

Aku meringis. Setidaknya teriakan kesakitan itu adalah akibat dari tulang hidung yang patah.

"Bocah kurang ajar! Kau pikir bisa jadi pahlawan di sini, hah?!"

Teriakan seorang pria paruh baya dengan badan yang besar tentu saja langsung mengisi setiap sudut ruangan di rumah makan yang memang tidak terlalu besar ini. Tangannya masih mengepal setelah menghajar wajah seorang pemuda yang kini tergeletak kesakitan. Di sekitar tubuhnya penuh dengan makanan yang akan disajikan. Sungguh perbuatan yang menyia-nyiakan makanan.

Beberapa orang yang kebetulan juga sedang makan di sana hanya diam tak ada yang berani ikut campur. Juga terlalu takut untuk meninggalkan tempat ini.

Aku mengamati pemuda yang masih memegangi wajahnya di bawah sana—hal yang sama juga dilakukan oleh Jimin. Kami berdua pun sepertinya masih menimbang apakah harus merelai atau membiarkannya saja. Toh tidak tahu siapa yang salah disini. Tapi mendengar pria itu berujar makin kasar, Jimin terlihat semakin geram.

"Tahu apa kau soal pelecehan seksual? Aku hanya meminta gadis sialan itu untuk membukakan botol soju!"

Sambil meraba bokongnya? Seharusnya kurekam tadi.

"Dia saja tidak menolak."

Orang itu menunjuk gadis muda yang sepertinya mau menangis.

"Jangan… lakukan hal itu lagi… di toko kami. Tidak… jangan datang… lagi kesini—"

Pria itu kembali kalap dan menendang. Semua orang yang disana berteriak meminta untuk berhenti, namun tidak ada satupun yang maju. Sampai akhirnya…

"Paman, sudahlah, dia bisa mati."

Akhirnya aku mendekati tempat kejadian perkara. Jimin yang sempat sudah mau melayangkan tinjunya masih geram di belakangku. Cukup sulit untuk menahannya. Karena mungkin alih-alih mengancam dengan lencananya, Jimin mungkin akan menimbulkan perkelahian yang lebih hebat.

"Siapa lagi kau ini?!"

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya karena sibuk membantu sang pemuda tadi untuk bangun. Wajahnya benar-benar kacau. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit jika tidak ingin hidungnya bengkok sepanjang sisa hidupnya.

"HEI! KAU INI SIAPA?! JANGAN IKUT CAMPUR—"

Seperti ada ratusan lonceng di kepalaku… tidak… mungkin ribuan. Karena rasanya seperti akan meledak. Hanya sepersekian detik aku menatap wajah marah pria tadi dan orang-orang di sekitarku berteriak. Kemudian segalanya berubah merah… aku tidak bisa mengingat apapun… dimana… jam berapa saat ini… kenapa aku ada di sini… kenapa… kenapa…

Entah berapa lama aku berjibaku dengan kesadaran ini. Namun semakin jelas pandanganku, aku semakin tak mengenali siapapun. Hanya saja… di depan sana… aku hanya mengingat orang itu… tangannya masih memegang pecahan botol kaca. Aku tidak mengingatnya… tapi aku merasakan kalau orang itu tidak baik… orang itu membuatku marah…

Setelah pandanganku stabil—walaupun masih terlihat merah di sana sini—aku bangun dan mengincar leher pria itu. Sontak semua orang berteriak. Tubuh besarnya tidak seberat yang aku bayangkan. Dia langsung limbung setelah kudorong. Salah satu meja di tempat itu hancur karena hantaman keras dari tubuhnya yang besar. Dia terlihat meronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman tanganku di lehernya. Sepuluh detik… lima belas detik… dua puluh detik… wajah pria itu semakin membiru dan orang-orang mulai mendekat untuk ikut menjauhkanku.

Tapi anehnya… aku semakin bersemangat. Aku semakin tidak ingin melepaskannya. Aku ingin melihat wajah di bawahku ini semakin membiru. Pasti terlihat sangat lucu. Jadi yang harus kulakukan adalah tetap mencekiknya.

Joon-ah…

Hah, suara itu lagi… dia pasti juga tidak ingin aku melepaskan cengekeraman ini.

Namjoon…

Oh? Kenapa panggilanku berubah?

"Namjoon lepas…"

Dia tidak memintaku untuk melanjutkan?

"Kim Namjoon, hentikan! Dia bisa mati!"

Kepalaku sakit lagi. Suara lonceng itu terdengar lagi. Namun semuanya aneh… tubuhku langsung kaku rasanya… seperti tidak ada kekuatan apapun. Aku melihat diriku dibawa menjaduh dari seseorang…

Apa yang sudah kulakukan?!

"Namjoon…"

Aku menoleh, Jimin sudah ada di sebelahku dengan wajah cemas. Kedua tangannya memegang kepalaku yang kini terasa sakit dan perih. Sebelah penglihatanku tertutup dengan sesuatu yang berbau karat. Darah…

Kurasa kepalaku terluka…

"Hei panggil ambulans… orang ini tidak bernapas!"


3 Februari 2018, 13.00 KST

Malam yang panjang dan mengerikan. Setelah ambulans datang, baik aku, pemuda di restoran, dan pria besar dan galak itu langsung dibawa ke rumah sakit untuk diberikan perawatan. Beruntung semua orang masih hidup ketika kami tiba. Aku mendapatkan beberapa jahitan di atas telinga kiri akibat terkena goresan kaca. Hasil CT scan tidak menunjukkan tanda-tanda geger otak. Darah mengalir murni dari luka luar.

Karena semalam polisi juga datang, aku harus menjalani pemeriksaan terkait keributan di rumah makan itu. Aku tidak ingat apa yang terjadi, tapi sepertinya aku melukai seseorang disana. Beruntung semua orang memberikan kesaksian bahwa semua ini bermula karena pria besar itu yang mengacau. Wanita muda yang saat itu hampir menangis bersaksi bahwa dia adalah korban pelecehan dan teman sesama pelayan disana yang mencoba menolong justru dihajar habis-habisan. Lalu berlanjut pada diriku yang juga terluka karena mencoba merelai.

Semuanya memang berjalan dengan baik karena ditambah Jimin juga ada di sana. Entah keyakinan macam apa yang membuatku berpikir kalau dia akan membelaku mati-matian di depan polisi. Jadi aku tidak khawatir.

Namun yang membuatku resah adalah… aku sama sekali tidak ingat dengan apa yang sudah kulakukan kepada pria besar itu semalam.

"Bagaimana lukamu? Masih sakit?"

Aku sudah selesai berpakaian lengkap saat Jimin datang bersama dengan dua orang lagi di belakangnya. Melihat perban di hidungnya, aku bisa menebak kalau pemuda itu adalah pelayan yang semalam kena pukul, dan gadis di sampingnya sudah pasti rekan kerjanya—atau mungkin pacar.

"Masih. Tapi aku baik-baik saja setelah minum penghilang rasa sakit." Aku menatap dua orang di belakang Jimin secara bergantian. "Bagaimana dengan kalian? Baik-baik saja?"

Pemuda yang semalam memperkenalkan diri dengan nama Kim Taehyung itu maju dan membungkuk padaku. "Hyungnim, maafkan kami! Karena kami kau jadi—"

"Eeey, aku lebih suka mendengarmu mengucapkan terima kasih daripada minta maaf."

Aku melirik Jimin yang langsung memutar bola matanya seolah berkata 'memangnya kau sudah berbuat apa untuk menolong mereka?'

"A-ah.. benar.." dia menunduk lagi. Kali ini wanita di belakangnya—kalau tidak salah namanya Kim Taerin—juga ikut menunduk dan mengucapkan terima kasih.

Ah, nama mereka terdengar sama. Berarti bukan teman atau pacar. Kemungkinan terbesar adalah kakak beradik.

Aku tertawa dengan kepolosan mereka berdua. Entah apa yang sudah kulakukan semalam, yang jelas Taehyung sangat senang karena pria besar yang sering mengacau di rumah makan itu akhirnya ditangkap karena pasal pelecehan dan penganiayaan. Serta ditambah dengan perusakan properti yang sering dilakukan sebelumnya di tempat yang sama.

"Kakakku menitipkan salam padamu. Dia tidak bisa kesini karena harus mengurus kedai. Tapi dia menyuruhku untuk mengatakan ini. Kau dan petugas Park boleh mampir kapanpun ke tempat kami. Dia akan memberikan menu terbaik kami secara gratis. Jadi jangan kapok datang kesana."

"Waah… lihatlah Jimin, aku dapat kupon makan gratis."

"Kau hampir mati—"

Aku memberikan tatapan 'jangan seperti itu di depan anak-anak ini'. Kemudian Jimin menurut dan akhirnya diam saja.

Setelah memberikan sesuatu yang sepertinya makanan, kakak beradik itupun pamit. Taehyung bahkan meminta nomor ponsel kami. Katanya hanya ingin berteman. Yah, berteman dengan pemilik rumah makan tidak akan merugikan. Disamping itu aku pasti akan selalu jadi tamu VIP disana.

"Ayo. Aku akan mengantarmu pulang." Jimin kembali bicara sambil membantu membawa tas berisi baju kotor yang penuh darah. Mungkin aku akan langsung membuangnya nanti sesampainya di rumah.

"Kau sudah mengambil hasil otopsi untuk kasus Nam Ki Wan?" aku baru ingat kalau kami tengah mengerjakan sebuah kasus.

"Kepala tim yang ke rumah sakit untuk mengambil. Aku menceritakan kecelakaan yang terjadi semalam, jadi memberiku izin untuk menjemputmu dulu."

Entah hanya perasaanku saja atau memang Jimin terlihat berbeda hari ini. Dia tidak bisa lama-lama menatapku saat bicara. Semalam memang terjadi sesuatu. Tapi pasti ada hal yang lebih besar yang membuatnya bersikap seperti ini terhadapku. Dan sesuatu itu bisa jadi hal yang sama dengan apa yang saat ini membuatku resah.

Kami berjalan menuju tempat parkir tanpa bicara lagi. Suasananya jadi semakin canggung saat kami menjauhi keramaian. Aku mencoba berpikir positif dengan menganggap Jimin cukup lelah karena semalam bisa jadi dia tidak tidur karena membereskan kekacauan di rumah makan itu. Aku sangat ingin bertanya apa yang sebenarnya aku lakukan sampai membuat pria besar itu menuntutku juga sebelumnya. Dia mengatakan aku mencoba membunuhnya. Tapi rasanya aku tidak ingat apapun. Mungkin aku bisa bertanya saat kami ada di dalam mobil.

Ketika kami tiba di tempat parkir, Jimin membantuku untuk membuka pintu karena kedua tanganku penuh dengan barang. Agak terkejut saat aku menemukan luka yang sudah kering namun terlihat masih baru di punggung tangan Jimin. Spontan langsung kuraih tangannya dan bertanya. Namun reaksi yang Jimin berikan membuatku lebih terkejut.

Ia menepis tanganku. Tidak hanya itu… aku melihatnya mundur selangkah seolah aku ini…


4 Februari 2017, Kantor Satuan Divisi Forensik Seoul, 08.55 KST

Mencoba menghilangkan keresahan yang aku rasakan semalaman akibat sikap Jimin, aku menerima pekerjaan sampingan untuk beberapa kasus kekerasan yang terjadi beberapa hari ini. Hasil Visum seorang ibu rumah tangga yang kerap disiksa oleh suaminya yang pemabuk, pria yang kehilangan satu jari akibat diinjak oleh pacarnya sendiri karena tidak ingin diputuskan, dan dua anak dibawah umur yang mengalami pneumonia karena dikurung oleh ibu tirinya di kamar mandi selama berhari-hari tanpa makan dan minum.

Semua kasus itu membuatku marah. Terutama untuk kekerasan kepada anak-anak. Bagaimana orang bisa dengan mudah menyakiti orang lain yang lebih lemah? Mereka bahkan tidak hidup di hutan belantara dengan filosofi 'yang kuat yang berkuasa'. Manusia kreatif lahir dari anak-anak yang bertahan hidup. Jadi bagaimana jika anak-anak itu bertahan dengan hal buruk yang selalu mereka terima? Bukankah mereka akan tumbuh menjadi lebih mengerikan dari pada orang-orang yang pernah menyiksanya.

Untuk mendinginkan kepala, akupun mengambil berkas otopsi kasus yang sedang ditangani oleh Jimin. Biasanya dia akan selalu mengabari perkembangan dalam penyelidikannya padaku. Tapi sudah hampir dua puluh empat jam tidak ada kabar.

Otopsi yang kulakukan menghasilkan kesimpulan bahwa korban tewas karena keracunan senyawa Ricin. Zat beracun yang dihasilkan dari sebuah tumbuhan jarak. Jenis yang bisa diracik sendiri dan tidak terlalu mahal. Tidak perlu mencari di toko-toko zat kimia sehingga pelakunya tidak akan meninggalkan jejak untuk mendapatkan racun tersebut.

Namun tidak banyak toko herbal di kota ini. Jadi apabila ingin dilakukan pencarian terhadap pelaku, semuanya bisa diawali dengan mendatangi toko-toko yang menjual obat-obatan herbal.

Ah, aku harus menemui Profesor Kim untuk menanyakan beberapa hal. Semoga dia ada di tempatnya.

Setelah meminta izin untuk meninggalkan ruangan kepada salah satu senior di sana, aku langsung keluar dan melangkah menuju ke ruangan Profesor. Ruangannya tidak jauh dari ruang kerjaku, hanya menyusuri lorong rumah sakit dan berbelok sepuluh meter ke kiri.

Namun saat aku hendak mengetuk pintu, tiba-tiba saja benda itu terbuka dan seseorang yang kukenal sudah berdiri disana. Sama-sama terkejut.

"Park Jimin? Kau disini? Kenapa tidak mengabari?" Aku mencoba bersikap biasa, walaupun tahu saat melihat wajah gugupnya, Jimin masih saja bersikap aneh. Aku ingin sekali bertanya. Tidak bicara dengan Jimin membuatku khawatir dan frustasi.

"Mmm… aku menemui Dokter Kim untuk minta penjelasan." Jimin menjawab pelan.

"Tentang apa?"

"A-apa lagi? Tentu saja kasus yang sedang kutangani."

"Kau bisa saja bertanya padaku." Aku melongok pak tua yang masih duduk di balik meja kerjanya. "Professor, sejak kapan kau sesenggang ini hingga memberikan konsultasi kepada tim penyelidik?" jujur saja, aku merasa dikhianati. Jimin jelas menghindar dan memutuskan untuk bertanya pada Profesor Kim Woosik ketimbang bicara padaku.

"Dasar bocah sialan, kau pikir aku ini apa? Memangnya aku terlihat seperti orang yang tidak mau mengerjakan pekerjaan bawahan?"

"Memang iya."

"Namjoon, aku harus segera pergi. Ada panggilan darurat. Maaf."

Setelah itu Jimin tidak memberikan aku kesempatan sedikitpun untuk membalas kata-katanya. Dia langsung pergi dan menghilang di belokan koridor tanpa menoleh sekalipun.

"Apa kau tidak terlalu keterlaluan mengatakan hal tadi di depan Detektif Park? Dia pasti menganggap kalau pekerjaan mereka hanya setara dengan bawahanku."

Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Perkiraanku tentang Jimin yang menghindar sejak kecelakaan di kedai malam itu membuatku berpikir kalau aku memang sudah melakukan hal besar. Sesuatu yang cukup membuat Jimin marah atau… takut?

"Maaf, Profesor. Aku sedang gusar akhir-akhir ini, dan fakta bahwa Jimin tidak mau bicara denganku membuatku semakin frustasi."

"Memangnya sejak kapan dia seperti itu denganmu?" Profesor Kim terlihat melepas kacamatanya dan menatapku dengan serius. Inilah sikapnya yang paling aku sukai. Dia tidak pernah mengabaikan masalah sekecil apapun yang dialami anggota timnya. Sebagai seorang yang lahir dengan bakat psikolog, dia percaya bahwa variabel emosi seseorang akan selalu ada dalam setiap kejahatan yang terjadi.

"Sejak kejadian pemukulan di rumah makan semalam. Kau pasti sudah dengar, kan?" aku meyakinkan sambil menunjuk bagian kepalaku yang masih diperban. "Dia seperti menghindar dan marah. Seolah aku sudah melakukan hal yang buruk saat itu. Padahal jelas-jelas aku ini korban.

"Namjoon-ah, apa saat kejadian itu kau tidak merasakan perubahan di tubuhmu? Katanya kau bahkan tidak pingsan saat berdarah. Seharusnya kau mengingat apa yang sudah terjadi."

Lagi-lagi, aku menghela napas panjang. "Aku mungkin mengalami amnesia ringan akibat benturan. Jadi tidak ingat. Tapi bukan berarti aku akan melakukan hal-hal yang buruk, kan? Jimin bukan orang yang akan marah jika aku hanya melakukan hal-hal yang konyol."

"Tapi kau memang melakukan sesuatu yang membuatnya marah… tidak… lebih tepatnya takut."

"Apa maksudmu?"

"Kim Namjoon. Ini mungkin baru hipotesa, tapi sepertinya aku akan serius menanganinya."

Bicara apa pak tua ini? Bisa tidak jangan berbelit-belit?

"Mulai sekarang kau harus dengarkan apa yang kukatakan."


6 Februari 2017. Divisi Unit Kejahatan Berat Kepolisian Seoul, 09.00 KST

"Oh, Dokter? Ada apa kemari?"

Kepalaku rasanya mau pecah setelah mendengar apa yang dikatakan profesor kemarin lusa. Hal itu membuatku hanya tidur selama sisa akhir pekan. Bekerja pun aku malas. Alih-alih aku yang menghubungi Jimin, justru dia yang meneleponku berpuluh-puluh kali. Namun aku tidak repot untuk mengangkatnya. Walau bagaimanapun aku ini orang yang cukup pendendam. Jadi biarkan saja dulu dia mengkhawatirkanku.

Terlebih setelah apa yang diceritakan oleh profesor Kim. Jika pak tua itu sudah menghubunginya, dia pasti sedang merasa sangat cemas padaku. Sekarang aku yakin kalau aku tengah tersenyum seperti orang gila membayangkan wajah Jimin yang khawatir.

Tapi tidak selama itu, hari ini aku kembali mendapat kabar bahwa tim kepolisian masih belum menangkap siapapun untuk kasus kematian direktur Diamond Group. Aku tahu keberadaanku disini pasti akan berguna, jadi aku datang ke kantor polisi pagi-pagi.

"Aku hanya mampir sambil sedikit bertanya sana-sini karena penasaran dengan kasus pembunuhan Nam Ki Wan. Karena sepertinya tidak ada perkembangan di media."

Petugas itu tersenyum getir. Aku tahu pasti perkataanku ini sangat benar. Mereka menemukan jalan buntu. "Aku juga heran, semua orang yang dicurigai memiliki alibi yang kuat. Bahkan sekretaris yang selalu menempel padanya pun tidak terlihat sedikitpun memiliki motif untuk membunuh."

"Bagaimana dengan anak laki-lakinya?"

"Sangat terpuruk. Terlalu dini untuk menerima semua harta yang diwariskan."

Aku menaikkan sebelah alis. "Aneh sekali. Jika melihat berita tentang tabiatnya yang selalu hura-hura itu, kupikir dia adalah orang yang paling senang dengan durian runtuh itu."

"Di umurnya yang sekarang sangat wajar untuk melakukan kesalahan tersebut jika tumbuh dengan harta dan dimanja. Apalagi tanpa tangan seorang ibu. Dia pasti seperti kehilangan pegangan hidupnya."

Mungkin yang paling benar adalah bahwa pemuda itu sekarang dalam bahaya besar. Tanpa pengaruh besar sang ayah diantara predator yang haus akan kekuasaan dan harta.

Tapi aku kesini bukan untuk memikirkan itu…

"Apa kau melihat Jimin?"

"Detektif Park? Oh sepertinya tadi aku lihat dia ada di ruangan penyimpanan barang bukti. Ingin kukawal? Kau sudah membawakanku kopi dan roti untuk sarapan. Jadi sepertinya aku bisa membawamu masuk kesana."

Aku bersiul tanpa suara. Setidaknya ide membawakan sarapan hasilnya tidak mengecewakan.


Brankas Barang Bukti, 09.18 KST

Jujur saja, aku sangat merindukan sosoknya. Jimin yang saat ini ada di hadapanku masih terlihat canggung dan menjaga jarak, walaupun dalam sorot matanya terlihat sekali kekhawatiran. Namun tidak seperti sebelumnya, setelah tahu alasan yang sebenarnya aku sudah berjanji untuk tidak memaksa Jimin. Walaupun tidak yakin apa yang terjadi padaku ini adalah hal yang akan berulang, ada baiknya jika berhati-hati.

"Jalan buntu? Butuh bantuanku?"

Jimin tersenyum. Ia sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa lega mendengarku bicara dengan nada yang terdengar sangat baik-baik saja.

"Tidak banyak yang mungkin bisa kau lakukan di sini. Sama sekali tidak ada yang bisa dicurigai digunakan sebagai media masuknya racun. Aku bahkan berpikir untuk meminta surat perintah penggeledahan ke dalam rumah Nam Ki Wan. Aku yakin bisa menemukan sesuatu disana."

"Kalau begitu biar kuantar."


Kediaman Nam Ki Wan, 10.23 KST

Kami tidak disambut dengan ramah. Mungkin lebih tepatnya karena tidak banyak yang menyambut. Tempat tinggalnya kosong. Satu-satunya keluarga sang direktur adalah anak laki-lakinya, kini tengah menjalankan perawatan psikologis di rumah sakit. Aku bertaruh hanya ada para kolega dan kenalan dengan berbagai tujuan yang kini menemani pemuda malang itu.

Tanpa berbekal surat perintah, aku dan Jimin masuk ke dalam tanpa ragu dan langsung melakukan pencarian. Petugas gedung apartemen yang memang sudah mengenali wajah Jimin tidak repot-repot untuk memeriksa legalisasi kunjungan kami kembali ke rumah korban. Mereka mungkin sedikit lega karena gedung itu bukanlah tempat kejadian perkara sehingga tidak merugikan jika suatu saat properti disana dijual. Hal itu membuat pihak gedung tidak terlalu ketat dengan polisi yang keluar masuk.

Tempat tinggal Nam Ki Wan tergolong tidak terlalu besar walau berada di komplek apartemen mewah. Ia membeli rumah dengan ukuran paling kecil di gedung tersebut. Tapi walaupun paling kecil, sebenarnya masih mampu menampung keluarga yang berjumlah sepuluh. Pemikiran yang ekonomis mengingat pria itu hanya memiliki seorang putra. Ia pun tidak akan memerlukan asisten rumah tangga banyak untuk mengurus semuanya.

Jimin dan aku langsung memasuki kamar utama yang merupakan kamar tidur Nam Ki Wan. Terasa dingin seperti sudah lama tidak dihuni. Untuk seseorang dengan jam kerja dan perjalanan bisnis yang tidak bisa diduga, wajar jika ruangan ini hanya seperti pajangan. Furnitur yang tidak berlebihan namun punya kualitas tinggi menempati kamar ini dalam kebisuan. Aku berjalan menuju meja kerja yang juga terlihat rapi. Hanya ada foto putra semata wayangnya disana. Aku tidak tahu seberapa besar rasa sayang yang ia berikan untuk anak itu sehingga berani membuat keributan di luar sana. Tidak ada foto mendiang istrinya sama sekali. Seolah setelah terkubur, wanita itu tidak pernah lagi diingat.

Aku mengeluarkan sarung tangan dan mengenakannya sebelum menyentuh barang apapun disana. Laci pertama tidak dikunci, berisi beberapa kotak kosong. Sepertinya kotak-kotak bekas jam tangan. Dan sebuah kunci yang kupakai untuk membuka laci kedua. Disana lebih penuh dengan barang seperti bolpoin dan alat tulis lain dengan jumlah banyak. Sepertinya ini laci untuk persediaan. Serta kunci lagi yang bisa kupakai untuk laci ketiga. Mungkin tempat ini bukan digunakan untuk menaruh benda-benda penting, namun caranya menaruh setiap kunci membuatku sangat penasaran maksud dibaliknya.

Ketika membuka laci ketiga aku tertegun. Pasalnya disana justru kosong. Aku mencoba mengetuk setiap bagian laci kalau-kalau ternyata ada ruang tersembunyi di sana. Tapi nihil. Itu memang laci kosong.

"Apa maksudnya?"

Aku menoleh dan menatap Jimin yang sedari tadi hanya memandang berkeliling. Sekali ia keluar entah untuk apa lalu kembali lagi dengan masih menatap ruangan. Seolah ada sesuatu yang tidak terlihat namun bisa ia rasakan.

"Jimin, aku belum melihatmu menyentuh apapun."

Dia sedikit tersentak karena aku bicara tepat di samping wajahnya. Tanda bahwa dirinya sedang sangat serius.

"Tadi aku masuk ke dalam kamar sebelah."

"Lalu kau menemukan sesuatu?"

Ia menggeleng. "Bukan itu. Hanya saja sepertinya ruangan disana lebih kecil dari kamar ini. Padalah jika diperhatikan dari luar, posisi pintu di dinding terpasang dalam jarak yang sama. Jadi seharusnya dua kamar ini punya ukuran yang sama luasnya."

Hanya dengan petunjuk itu aku langsung menebak kalau yang Jimin maksudkan adalah diantara kamar ini dan kamar sebelah ada ruangan yang sengaja disembunyikan. "Jadi kita tinggal mencari 'tuas' untuk membuka ruangan rahasia itu, kan?"

Jimin mengangguk dan kembali meneliti setiap detil perabot yang ada di sana. Ia mulai menarik, menggeser, dan mengangkat apapun yang mungkin bisa digunakan sebagai tuas untuk membuka ruang yang dimaksudkan.

Aku hampir menyerah, namun saat menatap kembali laci yang belum kututup tadi sesuatu seperti berbunyi 'klik' di kepalaku. Laci dengan cara menyimpan kunci yang unik. Saat itulah kedua mataku melihat tiga buah pajangan di dinding kamar. Di dalam salah satu frame yang tergantung terdapat lima buah boneka Matryoshka, boneka bersarang dari Rusia. Dengan satu teori dan kepercayaan dalam kepala, aku berjalan dan mulai mengambil boneka yang paling kecil. Setelah itu membuka boneka yang lebih besar di sebelahnya. Kosong. Seperti perkiraan. Kemudian aku mulai mengisinya dengan Matryoshka paling kecil tadi. Tidak berhenti sampai situ, aku membuka lagi boneka yang lebih besar di sampingnya, lalu mengisinya dengan dua boneka yang sudah aku satukan tadi. Begitu terus sampai boneka yang paling besar.

Seandainya Nam Ki Wan masih hidup, mungkin dia bisa menjadi teman diskusi yang hebat untukku. Pria ini sungguh memiliki cara berpikir yang unik. Setelah aku mengisi boneka terakhir dan menutupnya, tiba-tiba terdengar seperti kayu yang digeser dengan kekuatan besar. Aku dan Jimin tidak bisa menahan rasa takjub ketika akhirnya bisa membuka pintu ruang rahasia itu. Berat dari material kelima boneka Matryoshka adalah kuncinya.

Di dalam sana begitu dingin namun sangat terang. Ruangan yang tidak lebih besar dari kamaku di rumah hanya diisi dengan satu bufet panjang berwarna putih. Senada dengan dinding hingga kesannya seperti masuk ke dalam lemari pendingin. Sebuah foto besar terpajang di atasnya. Dengan bingkai yang juga berwarna putih, foto seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan berpakaian (juga) putih menyambut kami.

Dia Min Hyerin. Mendiang istri Nam Ki Wan.

Sebuah surat yang sepertinya ditaruh dengan sengaja agar bisa ditemukan, tergeletak di sebelah fotonya.


.

Untuk dibuka saat kau benar-benar merindukanku.…

Ketika memutuskan untuk membuka surat ini aku pastikan kau sudah membuat Yoongi kecilku tumbuh sebagai pemuda yang tampan dan siap untuk hidup sendiri…

Kita memang sudah membicarakannya dan aku sudah menyetujuinya.

Satu ciuman akan mengantarkanmu lebih dekat denganku…

Suamiku tersayang…

Aku merindukanmu…


8 Februari 2017, 11.30 KST

Kasus ini ditutup karena terbukti Nam Ki Wan meninggal karena bunuh diri. Janji sehidup semati dengan sang istri membawa seorang pria sukses rela meninggalkan semua yang ada di dunia ini, termasuk sang anak. Surat yang aku dan Jimin temukan di ruang rahasia di dalam kediaman korban merupakan alat yang digunakan untuk meregang nyawa.

Satu ciuman akan mengantarkanmu lebih dekat denganku…

Istrinya yang adalah seorang dokter, di akhir masa-masa hidupnya mungkin sempat membuat sebuah ekstraksi dari biji tanaman jarak yang ia transformasikan ke dalam bentuk kertas. Ricin yang memang sebuah senyawa beracun ia formulasikan sehingga menghasilkan alat pembunuh yang tidak terduga. Nam Ki Wan, pada hari peringatan sang istri akhirnya memutuskan untuk membuka surat tersebut dan menciumnya. Ia mendadak sakit sehari sebelum jadwal dimana dia harus mengisi sebuah pembukaan produk baru dari perusahaannya. Karena sudah tahu kematiannya sudah dekat, ia sengaja memerintahkan juru bicara untuk menggantikannya, sementara ia duduk diantara para tamu yang hadir untuk menghembuskan napasnya yang terakhir.

Aku diam-diam mengunjungi anak lelakinya di rumah sakit. Bentuk kasih sayang yang aneh memang sudah diberikan sang ayah pada anaknya sejak lahir. Alih-alih memberikan nama belakangnya pada sang anak, ia justru memberikan nama belakang sang istri untuk dipakai putra semata wayangnya itu.

Min Yoongi benar-benar berbeda dari rumor yang beredar. Ia mengaku sengaja melakukan hal-hal yang diluar batas norma karena sudah tahu dengan surat bunuh diri yang dipersiapkan kedua orang tua mereka. Ia berusaha terlihat tidak bisa hidup tanpa ayahnya dengan menimbulkan banyak masalah dimana-mana. Jika saja pemuda itu bisa menemukan cara untuk membuka ruang rahasia milik sang ayah, surat mematikan itu sudah pasti akan ia lenyapkan.

"Dia meninggalkan beban yang sangat besar padaku sekarang. Tapi entah mengapa aku seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan."

"Yang pasti kau akan kaya raya dan kesepian di usia muda."

"Bukankah itu sudah jelas? Jadi apa kau mau berteman dengan orang kaya dan kesepian ini?"

Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang justru terdengar seperti pembenaran. Dengan sangat percaya diri, aku mengatakan ini padanya. "Untuk itulah aku kemari. Aku akan jadi temanmu mulai sekarang."


-Surat Untuk Suamiku selesai-

.

.


4 Februari 2017, Kantor Satuan Divisi Forensik Seoul, Ruang ketua, 08.55 KST

"Dia seperti memiliki kepribadian ganda. Sorot matanya bahkan benar-benar sangat asing."

Profesor Kim Woosik menelaah perkataan Jimin baik-baik. Kim Namjoon tidak tercatat mengalami gejala-gejala itu saat ia menjadi petugas magang di daerah. Tapi mendengar pernyataan Jimin, kekhawatiran itu muncul kembali.

"Ada harga untuk bisa lepas dari DID, salah satunya adalah melupakan masa lalu."

Jimin menahan napasanya. "Lalu bagaimana jika gejala itu muncul kembali?"

"Aku belum bisa memastikannya. Kita harus mengamati lebih lanjut. Gejala psikologis itu muncul bisa karena keadaan yang secara tidak sadar membuatnya mengingat sesuatu yang ingin dia lupakan. Itu sebabnya dengan cepat otak kembali membentuk pertahanan diri dengan berusaha membentuk identitas lain. Kalau berdasarkan ceritamu, salah satu kejadian saat kalian berkelahi dengan orang dia rumah makan itu mungkin memiliki esensi yang sama dengan masa lalunya. Dan bagian yang paling mengkhawatirkan kita tidak tahu masa lalu seperti apa yang dialami Kim Namjoon untuk bisa menghindarinya."

Jimin diam saja, jika benar Namjoon memiliki kepribadian ganda, pribadi yang ia lihat malam itu terlalu mengerikan karena hampir menghilangkan nyawa seseorang.

"Berarti semua akan baik-baik saja jika dia tidak berusaha mengingat kembali masa lalunya?"

"Itu semua tergantung dari dirinya sendiri. Saat tubuh manusia dipaksa bekerja tanpa henti, mereka pasti seperti merasa sehat dan segar bugar. Namun masalah muncul saat tiba waktunya beristirahat. Tubuh seolah diberi kesempatan untuk memeriksa apakah terjadi kerusakan dalam dirinya. Karena tidak disibukkan dengan menghasilkan energi untuk bekerja, sel-sel tubuh langsung merasakan jika ada bagian yang tidak beres. Teori itu juga berlaku dalam perspektif psikologis seseorang. Bisa jadi Namjoon sudah menemukan kenyamanan dalam kehidupannya, sehingga tanpa sadar rasa sakit yang sempat ia lupakan kembali terasa."

"Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Jangan menjauhinya…"


-bersambung ke case 3-