Mammon membuka mata, kemudian mengerjap-ngerjapkannya sejenak. Udara di sekitarnya terasa dingin hingga menusuk tulang, namun ia tak ingat di mana ia sebelumnya. Pemuda berambut sebahu itu menoleh ke sekeliling, mencoba mengidentifikasi di mana ia berada.

"Bangun pemalas!" cetus sebuah suara yang lebih berat darinya. Mammon terkesiap dan sontak menoleh ke belakang, mendapati Fon tengah menatapnya dengan senyum lembut yang tersungging di bibirnya. Mammon mengerjapkan matanya lagi dan menatap pemuda itu secara menyeluruh, rupanya ia tertidur dalam keadaan punggungnya bersenderan dengan punggung Fon. Sebuah selimut wol kasar menyelimuti mereka, membuat Mammon sadar ia tengah berada di mana; perjalanan ke bagian utara Ravka, Tsibeya, untuk mencari kawanan Rusa Morozova. Ia baru saja lari dari Istana Kecil setelah mengetahui setiap detail kebohongan Sang Kelam, Fong, yang dikatakan Alaude—yang ternyata adalah adik dari pria bermanik hitam itu.

"Sang Kelam adalah Heretik Hitam. Dia adalah Sang Kelam dari generasi pertama—sebenarnya, tak ada penerus Heretik Hitam. Yang ada hanyalah Heretik Hitam itu sendiri, Heretik Hitam yang telah menciptakan Shadow Fold. Dia telah memalsukan berbagai kematian dan melayani banyak raja, tujuannya hanya satu—menemukanmu, Pemanggil Matahari, Dokuro Mammon!" Penjelasan panjang lebar Alaude kembali terngiang di telinga Mammon, membuat pemuda berambut violet itu kembali bergidik.

"Dataran Shadow Fold, dahulu adalah daerah subur yang makmur. Tapi semua berubah semenjak Sang Kelam menggunakannya sebagai tempat membuat Fold. Para volcra, makhluk karnivora pemakan manusia bersayap yang bergigi tajam dan berkuku panjang yang hidup di Shadow Fold, dahulu adalah para petani, istri, dan anak-anak mereka. Aku sudah memperingatkannya waktu itu, bahwa akan ada hal yang harus dibayar dari keserakahannya, tapi dia tidak peduli. Beginilah hasilnya. Para volcra itu tidak tahan sinar matahari, karena itu juga lah Fold selalu gelap gulita tanpa cahaya. Tapi karena kau semuanya akan berubah. Sang Kelam akan menggunakanmu untuk melumpuhkan para volcra dan membuatnya aman keluar-masuk Fold. Setelahnya, dia akan memperluas Fold ke dataran Shu Han atau Fjerda—ke tempat yang tak mau patuh padanya." Mammon ingat sekali bagaimana wajah Alaude kala itu, wajah datar yang biasanya selalu memakinya dengan panggilan herbivora itu diliputi kengerian.

"Kau bohong… Sang Kelam bukan orang seperti itu…" Mammon juga ingat ia juga sempat menyangkal hal itu.

"Kau sama saja …" Alaude mendesis. "Dengar aku tidak gila, dan aku tidak mengarang semua itu. Menurutmu, apa jadinya jika Shadow Fold lenyap, Mammon? Tentara Kedua dan Sang Kelam tak akan terlalu berpengaruh, dia hanya akan menjadi pelayan raja. Apa itu impiannya?" tanyanya. "Dia sama sekali tak ingin menghancurkan Fold, dia ingin menggunakannya. Dengan itu dia akan semakin berkuasa dan bahkan tak perlu menekuk lutut di hadapan raja. Dengan adanya dirimu ditangannya, di dalam kekuasaannya, maka dia bisa melakukan semua itu."

"Tidak! Aku tidak akan melakukannya! Aku bukan budak!" Mammon membentak tak terima.

"Kalau begitu lakukanlah," kata Alaude.

Mammon menghela napas panjang, kemudian meraih sebuah gaun wol kasar yang diletakkan Alaude di atas meja. "Baiklah, apa yang harus kulakukan?"

Alaude tak dapat menutupi kelegaan dari matanya. "Pergilah ke Os Kervo. Ada kapal bernama Verloren yang bersiap pergi." Pria berambut platinum blonde itu merogoh sakunya, kemudian menyodorkan sebuah surat pada Mammon. "Kau adalah budak seorang tukang kayu yang tengah dalam perjalanan menuju Ravka Barat menuju tuan barumu," lanjutnya.

Mammon mendengus. "Baik, aku paham. Sekarang berbalik dan aku akan berganti baju," suruhnya.

Alaude tanpa sadar menyeringai. "Kalau kau laki-laki, kenapa merasa risih juga dilihat laki-laki?"

"Muu! Berbaliklah Sialan!" Mammon mendelik. Dan saat itu, sebelum Alaude berbalik, Mammon dapat melihat sebuah senyum tipis yang terukir di wajahnya yang miskin emosi.

Ya, dan di sinilah Mammon; Tsibeya, bersama dengan Fon. Ia tak sengaja bertemu dengan Fon kala terdesak dan nyaris tertangkap kesatuan Tentara Pertama. Dan pemuda bermanik karamel itu memilih untuk meninggalkan resimennya dan pergi bersama Mammon. Dia jugalah yang memberi ide gila untuk mencari Rusa Morozova bersama dan membunuh makhluk itu dan menjadikannya Penguat Gelombang—benda untuk memperkuat kekuatan Grisha—untuk Mammon sendiri, tanpa bantuan Sang Kelam, lebih gilanya adalah Mammon menyetujuinya dan mereka benar-benar sampai di dataran beku Tsibeya.

"Fon … kita … ada di Tsibeya?" tanya Mammon terbata-bata.

Sebelah alis Fon naik sebelah. "Kau pikir di mana lagi? Jangan bilang kau bermimpi hal konyol seperti kebiasaanmu dulu di Keramzin," tudingnya.

"S- siapa yang memiliki kebiasaan bermimpi hal konyol, muu?!" bentak Mammon tak terima, namun wajahnya memerah, tanda ia mengakuinya.

Fon menyeringai. "Siapa ya?" tanyanya balik, berniat menggoda si pemuda violet.

"Itu tidak lucu, muu!"

"Terserah, tapi kita harus bergerak sekarang. Aku merasakan rusa itu datang," kata pemuda bermanik karamel itu seraya memasukkan selimut wol tadi ke dalam tasnya. Mammon tak mengatakan apapun, ia berdiri dari posisinya, lalu menguap lebar.

"Ng … Fon?"

"Hm?"

"Apa aku bisa bercerita tentang mimpiku?" tanya Mammon hati-hati.

"Seingatku kau tak pernah meminta izin untuk menceritakan apapun padaku," cetus Fon, namun bibirnya menggulum senyum lembut. "Kau bisa menceritakannya sembari kita berjalan, Mammon. Aku juga punya banyak hal yang harus kukatakan padamu."

Fon mengulurkan tangannya dan Mammon tanpa ragu meraihnya, tangan mereka saling menggenggam, berbagi kehangatan dari dinginnya udara Tsibeya. Mereka ke luar dari gua itu, lalu berjalan di atas tumpukan salju yang menutupi jalan setapak dengan waspada.

Mammon menceritakan semuanya ketika mereka berjalan—bahwa mereka kembali lagi ke Istana Kecil dengan pangeran kedua yang tak lain adalah Belphegor, lalu menyusun rencana yang matang untuk menghadapi Sang Kelam dan berencana mengalahkannya, lalu mereka bertengkar hebat karena Mammon terlalu terfokus pada pencarian keberadaan burung api untuk Penguat Gelombangnya yang terakhir, kemudian tanpa diduga Sang Kelam muncul dengan segudang persiapan penuh hingga membuat mereka terdesak dan Mammon memilih menyerahkan dirinya. Fon mendengarkan semuanya dengan saksama serta mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali.

"Begitulah … mimpi yang gila, kan?" Mammon tertawa, menertawai seluruh bunga tidurnya dan dirinya yang merasa itu semua begitu nyata.

Fon tersenyum, sudah lama baginya tak melihat Mammon tertawa lepas seperti itu. "Oh ya, Mammon," panggilnya sejenak tanpa menatap pemuda mungil itu, "boleh kutanya sesuatu?"

"Seingatku kau juga tak pernah meminta izinku untuk bertanya, muu," kata Mammon membalas yang tadi.

Fon menjitak pemuda mungil itu dengan sebelah tangannya yang lain. "Jangan berlagak pintar kau!" semburnya sambil tertawa. Mammon mengaduh, namun akhirnya ia tertawa juga.

"Apa kau merindukanku, Mammon?" tanya Fon begitu tawa mereka telah mereda.

"H- haahh?! K- kenapa tiba-tiba bertanya begitu, muu?!" Mammon tergagap, merasakan wajahnya memanas dan memunculkan semburat merah muda.

Fon terdiam, menunggu. Mammon menghela napas, sedikit bersungut ketika sadar bahwa ia memang harus menjawabnya.

"Aku merindukanmu—sangat merindukanmu. Setiap hari," jawab Mammon jujur, membiarkan wajahnya bersemu.

"Syukurlah kalau begitu," jawab Fon seraya menghembuskan napas lega.

"Memang kenapa, muu?" tanya Mammon seraya menatap punggung Fon lekat-lekat.

"Karena," Fon berbalik, menaikkan sudut bibirnya, membiarkan Mammon membelalakkan mata, "aku juga merindukanmu, Mammon."

Mammon terkesiap, napasnya tertahan. Manik karamel Fon berubah perlahan menjadi hitam, sosok Fon melebur dan sepersekian detik kemudian berubah menjadi sosok sang penguasa kegelapan lengkap dengan seringai lebar yang menghiasi wajahnya. Lebih buruknya, tangan penguasa kegelapan itu masih menggenggam tangan sang Pemanggil Matahari, menahan pemuda violet itu agar tak lari darinya. Mammon membelalakkan mata, seluruh tubuhnya gemetaran. Dan ketika Fong menyentuh wajah sang Pemanggil Matahari dan mendekatkan wajahnya ke telinga si pemuda, Mammon tetap gemetaran, namun tak dapat melawan.

"Kau tak akan bisa lari dariku, Mammon. Tidak akan pernah," bisik pria berwajah oriental itu dengan elegan.

Mammon merasakan air mata menggenangi pelupuk matanya. Aku tak akan berteriak, batinnya. Namun ia terlalu takut, ia seorang diri dan tak ada Fon di sampingnya untuk memberinya sebuah harapan dalam menghadapi pria ini. Pemuda berambut sebahu itu memejamkan mata erat-erat, lalu berteriak keras.

—Dan setelahnya Mammon mendapati dirinya terbangun dengan napas terengah-engah di kamarnya.

.

.

Title: Last Hope

Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira

Grisha Trilogy by Leigh Bardugo

Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibily harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.

.

.

.chapter 1.

.

.

Untuk angin:

Sampaikanlah ketidakberdayaanku

.

.

Mammon mengatur napasnya, membiarkan seluruh ruangan itu penuh dengan desah napasnya yang tak teratur. Peluh menetes dari keningnya, menandakan bahwa mimpinya barusan benar-benar telah merusak sebagian besar pemikirannya. Pemuda berambut sebahu itu memejamkan matanya, mendapati kegelapanlah yang didapatinya, lalu kembali membuka matanya.

Sudah dua bulan, dua bulan setelah ia menyerahkan dirinya pada Fong, Sang Kelam—ia baru saja teringat. Ia ingat bagaimana kacaunya penyerangan tiba-tiba itu, bagaimana darah memandikan nyaris seluruh tempat di istana, bagaimana darah dari tubuh-tubuh tak bernyawa menjadi karpet merah pijakan kakinya di atas tanah—Mammon kembali gemetaran, merasakan rasa bersalah dan ketakutan menyergapnya.

Mammon kembali menatap langit-langit ruangan itu, ia sadar ia berada di kamarnya—sebenarnya, kamar yang diberikan Fong sebagai kamarnya. Mammon tahu ia sudah bukan dirinya lagi semenjak jatuh dalam lengan kekar pria itu, sekarang dirinya adalah milik sang penguasa kegelapan. Seluruh hidupnya, setiap inci tubuh dan apa yang ada di dalam tubuhnya, serta kekuatannya adalah milik pria itu—bukan miliknya. Ia masih bisa mengingat bagaimana ia terbangun setelah tak sadarkan diri di gereja itu dan melihat sang penguasa kegelapan berada di tepi tempat tidurnya, bagaimana seringainya yang lebar itu menakutinya, bagaimana nada bicaranya yang elegan menyuarakan titah absolutnya.

"Kau hanya milikku, Mammon."

Suara sampul buku yang tertutup menyadarkan Mammon dari lamunan masa lalunya, ia menoleh pelan ke arah datangnya suara, dan kembali membelalakkan mata, merasakan tubuhnya kembali bergetar hebat.

Fong duduk bersandar pada sandaran ranjang tepat di sebelahnya, tangannya memegang sebuah buku yang berjudul Istorii Sankt'ya, seringai itu masih terpampang di wajahnya. Mammon menahan napasnya, sejak kapan pria bermanik hitam itu duduk di sana?

"Bagaimana mimpimu semalam, Mammon?" tanya Sang Kelam sembari menatap pemuda berperawakan bak wanita itu dengan seringai puas.

Ah, Mammon harusnya juga ingat bahwa sekali terjatuh padanya, maka tak ada jalan baginya untuk kembali.

.

.

.

Mammon bangkit perlahan, melirik tubuhnya sendiri. Ia merasa ingin menghela napas lega begitu mendapati dirinya masih berpakaian lengkap dengan gaun tidurnya.

Fong terkekeh melihatnya, ia bisa menebak pemuda itu tengah berpikir mungkin ia sudah melakukan sesuatu padanya. Dan sayangnya itu tidak terjadi—kecuali jika menghirup aroma rambut sang Pemanggil Matahari dan menelusuri tulang pipi pemuda cantik itu termasuk melakukan sesuatu.

"Para pelayan itu baru saja menaruh sarapan di sini, ingin kuambilkan juga?" tawar pria bermata hitam itu seraya menaruh bukunya di atas nakas. Ia turun dari tempat tidur dan Mammon tetap memilih tak bersuara. Fong mengambil segelas susu—bukan rasa stroberi kesukaan Mammon memang—lalu berjalan kembali ke tempat tidur.

"Ini." Fong menyodorkan susu itu pada si pemuda.

"Aku tidak mau makan," jawab Mammon tanpa menatap pria itu.

"Ini hanya sekedar minum susu, Mammon," ralat pria itu.

"Aku tak ingin ada apapun yang mengisi lambungku," kata Mammon berkeras.

"Kau harus makan, atau kau bisa sakit," kata Fong masih dengan menyodorkan segelas susu itu pada pemuda jelita di depannya.

"Grisha tidak sakit," jawab Mammon setengah mendesis.

"Grisha memang tidak sakit, tapi bukan berarti ia bisa tidak makan," kata Fong. Ia menarik kembali tangannya yang menyodorkan susu pada pemuda itu dan memandangi rambut sebahu violet sang Pemanggil Matahari yang berantakan.

"Anggap saja aku tengah menjalani pelatihan tanpa makan atau apapun," ketus Mammon setengah jengah, ingin mengakhiri percakapan ini secepatnya.

"Kalau begitu makanlah karena aku tak ingin melihat orang yang kucintai tidak berada dalam kondisi terbaiknya, Mammon."

Mammon ingin tertawa, tertawa sekerang mungkin. 'Orang yang kucintai'? Tak pernah ada cinta dalam setiap tindakannya! "Omong kosong. Kau tidak mencintaiku, kau hanya mencintai kekuatanku," desis Mammon seraya terkekeh sarkatis.

Fong terdiam, lalu terkekeh keras, menghentikan kekehan Mammon yang kecil. "Sampai kapan kau bisa menarik perhatianku, Mammon? Seorang gadis akan langsung menuruti perintahku sejak aku memintanya pertama kali dan kau di sini tetap menolaknya, bahkan dengan cepat menepis semua kata-kataku untukmu."

Mammon mendecih, tangannya mengepal erat. Ia ingin meludahi pria itu, namun tak berdaya. "Itu karena aku tak mencintaimu dan aku bukan seorang gadis," balasnya sengit.

"Tentu tidak, kau adalah gadisku," kekeh Fong seraya duduk di tepi tempat tidur. "Dan, memang benar aku mencintai kekuatanmu—" Ha! Sudah kuduga! Mammon tertawa sarkatis dalam hatinya. "—tapi aku tak berdusta ketika aku mengatakan bahwa aku juga mencintaimu, Mammon," sambung pria itu.

"Tak ada satupun hal yang bisa kau cintai dalam diriku kecuali kekuatanku," sahut Mammon seraya menggulum senyum mengejek.

"Apa yang tengah kau lakukan? Mencoba merendahkan diri di hadapanku untuk mendapat belas kasih dariku?" pancing Fong seraya menaikkan sebelah alisnya.

"Siapa yang meminta belas ka—"

BRUK!

Mammon merasa kepalanya berputar, tahu-tahu ia sudah berbaring dan pria bermanik hitam itu berada di atasnya, menyeringai tanda bahaya.

"Kau bilang tak ada apapun yang bisa kucintai selain kekuatanmu, hm?" tanya sang penguasa kegelapan memastikan, ia melebarkan seringainya karena Mammon tak menjawab dan lebih memilih menatapnya dengan pandangan benci.

"Kau salah, Mammon. Banyak hal yang bisa membuatku jatuh cinta padamu." Jemari Sang Kelam menelusuri paha putih si pemuda violet yang masih terbalut gaun tidurnya yang panjang, membiarkan Mammon merasa ada sengatan listrik yang membuatnya menegang. Mammon benci mengakuinya, meski ia membenci pria ini, sentuhan darinya selalu memabukkan baik itu dahulu hingga sekarang. Mammon menggigit bibirnya, menahan erangan untuk meluncur ke luar dari bibir mungilnya.

"Sikapmu yang selalu di luar perkiraan," jemari itu naik ke pinggang si pemuda, "kata-katamu yang terang-terangan mengatakan semua pemikiranmu tanpa peduli dengan siapa kau tengah berhadapan," lalu naik lagi ke bahu Mammon, "dan masih banyak hal lainnya," dan akhirnya berhenti di pipi sang Pemanggil Matahari. Fong mengelus pipi mulus itu lembut, lalu menelusuri setiap inci wajah pemuda di bawahnya yang setengah memerah, memejamkan mata erat, serta menahan erangannya.

Suara ketukan pintu menyelamatkan Mammon. Sang Kelam menolehkan kepalanya ke pintu dan menjawab dari dalam, "Ada apa?"

Suara dari luar menjawab takut-takut. "A- Anda dipanggil Rokudo Mukuro, moi soverenyi."

Ah, Rokudo Mukuro. Bagaimana Mammon tak mengenalnya? Ia adalah pengganti dari Daemon Spade, mendiang Tangan Kanan Fong yang merupakan seorang Pengoyak Jantung paling handal dan dirinya tewas di tangan G, salah seorang Pengoyak Jantung yang sudah berikrar untuk mengabdi pada Mammon, namun entah bagaimana kabarnya setelah penyerangan tiba-tiba dari Fong saat terakhir kali.

Mengenai penyerangan itu, ya, Fong membebaskan orang-orang Mammon—G yang terluka, Gokudera, Lampo, I-Pin, Haru, Spanner, Ugetsu, Yamamoto—ke luar, bahkan dengan mayat Fon di tangan mereka. Entah di mana mereka sekarang, Mammon sama sekali tak tahu. Akses informasi benar-benar dikendalikan Fong, ia bahkan sama sekali tak bisa menanyakan apapun dan tak tahu perkembangan luar di Os Alta setelah penyerangan itu.

Fong mendecih. "Katakan padanya tunggu saja aku di Ruang Perang," sahutnya.

"Da, moi soverenyi." Pelayan itu pasti tengah menekuk lutut dan langsung pergi dari depan kamar—Mammon tahu tanpa perlu melihatnya dan dari suara langkahnya yang terburu-buru.

"Sepertinya aku tak bisa bersenang-senang denganmu lebih lama, Mammon," kata pria bermanik hitam itu seraya memasang wajah kecewa.

Mammon memalingkan wajahnya, enggan menjawab. Fong menarik tubuhnya, kemudian duduk di tepi tempat tidur dan merapikan kefta yang dipakainya, lalu mengambil buku yang tadi diletakkannya di atas nakas.

"Aku akan meninggalkan sarapan yang kau tolak di sini. Makanlah sesuatu sebelum para pelayan itu tiba dan membereskan sisanya, aku tak ingin kau tak ada dalam kondisi penuhmu. Ada banyak hal yang menunggumu, Mammon," kata pria itu panjang lebar sebelum akhirnya melangkah menuju pintu kamar. Mammon bangkit dari posisinya menjadi duduk, ditatapnya punggung lebar pria itu heran. Pria itu berniat meninggalkannya sendiri tanpa penjagaan? Dia sudah berpikir Mammon tak akan bisa kabur dari sini?

"Kau—" satu kata yang meluncur begitu saja dari bibir Mammom sontak menghentikan langkah sang penguasa kegelapan, "—kau tidak memperketat penjagaan?" tanya sang Pemanggil Matahari terbata-bata.

"Untuk apa, hm?" Fong balas bertanya. Ia berbalik, menaikkan sudut bibirnya hingga terlihat elegan, Mammon kembali menahan napasnya.

"Kalaupun berhasil ke luar dari sini, kau tak punya tempat untuk kembali—kau sendiri yang bilang seorang yatim piatu tak memiliki rumah untuk kembali," lanjut pria itu tenang.

"Dan lagi—" sebelum Mammon mengatakan sesuatu, pria bermanik hitam itu kembali melanjutkan. Sudut bibir Fong sedikit naik, membuat Mammon waspada akan jawaban yang mungkin meluncur dari bibir pria berbisa itu.

.

.

"—pemuda yang kau cintai dan menjadi alasanmu untuk hidup itu sudah mati, kan?"

.

.

Mammon merasakan degup jantungnya bergemuruh, mata violetnya melebar, kepalanya terasa pusing, memberinya gambaran itu lagi—gambaran terakhir sesaat sebelum ia merasa semuanya gelap di penyerangan tiba-tiba dari sang penguasa kegelapan. Ia bisa mendengar suara pemuda itu lagi, tatapan memohon pemuda itu untuk tak pergi darinya itu menari di kepalanya, lengan kekar yang melingkari pinggangnya masih terasa hingga saat ini, dan Mammon masih ingat bagaimana tubuh kakunya berbaring bersimbah darah.

Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya, mengeratkannya hingga kuku-bukunya tampak sedikit memutih. Fong masih berdiri di depan pintu dengan tubuh menghadap Mammon, melepaskan seringainya menjadi senyum penuh percaya diri. Suara para pelayan di luar membuat mereka tersadar dari sunyi. Fong membalikkan badan, kemudian membuka pintu dan menutupnya dari luar, dan suara langkah kakinya yang angkuh terdengar menjauh dari kamar.

Mammon melepaskan kepalan tangannya, ia membalikkan tangannya, menatap sebuah luka kecil yang tak pernah lenyap dari telapak tangannya. Mammon ingat, dulu di Keramzin, rumah penampungan untuk setiap anak yatim piatu yang diambil dari pengungsian Perang Perbatasan dan dimiliki oleh seorang Duke, ia pernah memecahkan sebuah gelas keramik berwarna biru tua. Pemuda mungil itu mencoba memperbaikinya, namun justru membuat sebuah pecahan keramik menancap di telapak tangannya. Terlihat dari pintu dapur, Fon tiba dari perburuannya.

Mammon menyambutnya dan Fon terkejut begitu melihat tangan mungil pemuda itu bersimbah darah, pemuda bermanik karamel itu mencoba melihat luka Mammon, namun Mammon bersikeras bahwa pecahnya gelas keramik itu jauh lebih penting ketimbang luka ditangannya. Mereka berupaya memperbaikinya namun Nona M.M. yang cerewet itu tiba di dapur dan membentak mereka untuk tidak mengotori lantai dapur dengan darah, masing-masing dari mereka mendapat jitakan tepat di kepala sebelum akhirnya perempuan yang mengelola Keramzin tersebut mengobati luka Mammon. Luka itu adalah satu-satunya kenangan Mammon yang tersisa di Keramzin—sekaligus kenangan yang mengingatkannya pada Fon.

Mammon teringat lagi sisa potongan terakhir sebelum ia menyerahkan diri pada Fong Sang Kelam, bagaimana kerasnya tulang pipi Fon kala itu, bagaimana putus asanya ia meminta Mammon untuk tetap tinggal. Pemuda violet itu mengambil napas dalam-dalam, teringat pada jawabannya.

"Aku mencintaimu Fon—aku mencintaimu untuk seumur hidupku. Tak ada akhir dalam kisah kita."

Dusta. Mammon memaki dirinya. Matanya terasa panas, namun ia masih berupaya agar cairan bening itu tak meluncur turun dari pelupuk matanya.

Ya, dia masih mencintai Fon, dia akan terus mencintai Fon—untuk seumur hidupnya. Hidup seorang Grisha adalah hidup yang panjang. Kekuatan Grisha itu unik, mereka tidak menggunakan penggunanya, mereka justru memberi makan penggunanya. Semakin sering kekuatan Grisha dipakai, maka penggunanya akan semakin kuat. Dan semakin kuat kekuatan seorang Grisha, maka semakin panjang juga umurnya—umur Grisha dan kekuatannya berbanding lurus. Fong sendiri yang mengakuinya, mengakui bahwa kekuatan dalam diri Mammon nyaris sama dengannya, mengakui bahwa mereka adalah makhluk yang sama—meski hingga sekarang Mammon belum mampu menyaingi pria itu.

Tapi, tak ada akhir dalam kisah mereka? Mammon ingin tertawa oleh kata-katanya sendiri. Itu sungguh dusta yang tiada duanya. Palsu. Harusnya ia sadar bahwa realita tak sama dengan dongeng anak-anak. Dan ia telah mengatakan sebuah kebohongan pada orang yang paling dicintainya.

Kasih dalam cinta kita memang tak akan berakhir, Fon. Mammon menelan ludah pahit sebelum melanjutkan. Tapi pada akhirnya kisah kita tetap berakhir dengan kematianmu.

Pertahanan untuk membuat cairan bening itu tak jatuh pun bobol seketika. Angin semilir yang berhembus datang dan mengeringkannya, meski saat itu Mammon sangat ingin ada jemari lembut milik Fon yang menghapusnya.

—Ia sama sekali tidak berdaya.

.

.

.

"Gaah!" gusar G seraya mengacak rambut merahnya tak sabaran. "Ini gila! Sudah dua bulan dan dia masih tertidur seperti putri tidur dan berlagak ini semua tampak baik-baik saja?!" gusarnya.

"Oi! Jangan berisik di ruang pasien!" sembur Gokudera seraya membanting nampan makanan di tangannya ke meja kayu yang ada di ruangan.

"Kau yang gila! Aku juga! Kita sudah bertahan selama dua bulan di sini dan tak ada kabar apapun dari Os Alta mengenai Pemanggil Matahari. Bagus. Ini akan jadi akhir kita yang sesungguhnya." G memutar bola matanya, mendengus frustasi.

"Jangan konyol, oi!" hardik Gokudera. "Dia itu hanya manusia biasa—seorang Pelacak! Jangan menyamakan dirimu yang seorang Grisha dengannya!"

"Che!" G memutar bola matanya. "Lemah," cetusnya.

"Che! Sok kuat," balas Gokudera seraya mendecih. "Kau itu Grisha Pengoyak Jantung Pemanggil Matahari. Luka yang kau dapatkan hanya luka tebasan dari kekuatan Sang Kelam yang namanya 'Tebas'. Dan dia? Dia manusia biasa yang berkedudukan pelacak dari Tentara Kelas Satu yang terkena dampak serangan terakhir Mammon untuk Sang Kelam. Seingatku serangan itu bisa membahayakan nyawa dua Grisha terkuat itu," lanjut si pemuda perak panjang lebar, manik emerald-nya memilih menatap objek lain.

Jujur, sebenarnya Gokudera iri pada pemuda yang umurnya sepantaran kakaknya, G, itu—seorang pemuda yang tampak begitu lemah dan hanya bisa terbaring di ranjang ruangan tersebut dengan kelopak mata tertutup. Mungkin saat ini ia terlihat lemah, tapi sebenarnya dialah yang kuat. Ia mampu melepaskan diri dari kuncian G dan memosisikan dirinya pada serangan hidup-mati dua Grisha terkuat di tanah Ravka. Jika ia tak ada di sana, kemungkinan Mammon tewas pastilah akan lebih besar dan entah Sang Kelam akan ikut menyusul ke alam sana atau tetap hidup. Jika Mammon tewas sementara Sang Kelam tidak, maka tak ada harapan untuk negeri ini bisa terbebas dari belenggu tirani Sang Kelam.

"Oi," panggilan G yang itu membuat Gokudera menoleh kembali pada sang kakak, "kau yakin dia masih hidup, kan?" tanya pria bertato api itu tanpa menatap adiknya.

"Kau tahu apa, G? Ketika kau bersimbah darah dan terpaksa dibopong Ugetsu sementara aku dan Yamamoto harus menggendong pelacak ini, aku merasakan detak jantungnya nyaris lenyap dan aku yakin telah memastikan bahwa detak jantungnya sudah kembali berdetak normal dengan kekuatanku meski sebelumnya ia sekarat," ketus si pemuda perak.

"Ya, terima kasih sekali pada kekuatanmu itu. Dan kenapa kau tak pernah bilang kalau kau bisa menggunakan kekuatanmu sebagai Pengoyak Jantung untuk membuat jantung manusia itu kembali berdetak normal?" G mendelikkan mata senada rambutnya itu pada sang adik.

"Bukan urusanmu, Baka aniki. Pikirkan saja cara agar kita bisa ke luar dari sini dan lepas dari Sang Pendeta." Gokudera mendecih ketus.

"Ah ya, omong-omong soal Sang Pendeta, apa menurutmu dia bisa dipercaya?" tanya G seraya mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di samping tempat tidur.

"Dia memberi kita tempat untuk berlindung dan memulihkan diri, menyembuhkan luka-luka yang diterima kita, menyembunyikan kita di Katedral Putih ini dari para tentara Sang Kelam—mungkin … ya?" Gokudera mengangkat bahu, ia sendiri tak tahu.

Katedral Putih yang sekarang menjadi tempat para Grisha Dokuro Mammon yang selamat untuk memulihkan diri dari luka selama penyerangan terakhir adalah tempat di bawah tanah yang letak pintu masuknya telah lenyap dari peta Ravka, yang pasti letak pintu masuk yang mengarah ke dalam tempat yang dijadikan markas ini adalah sebuah gua yang terletak di sebelah barat Os Alta. Sang Kelam tak mungkin dapat menyadarinya—semoga.

Namun G malah mendecih. "Dia fanatik," cetusnya sembari memutar bola matanya.

"Fanatik, hm? Yaah, mungkin benar. Tapi sesungguhnya Dokuro Mammon tetaplah orang suci." Sebuah suara menjawab tanpa disangka. Kakak-adik itu segera menoleh, menemukan Sang Pendeta dalam balutan gaun putihnya dengan sebuah baskom kecil berisi air entah apa.

"Tch," G memalingkan wajah, mendengus keras melihat wanita itu. Si pemuda perak melirik kakaknya sejenak, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada wanita bergaun putih yang masih berdiri di ambang pintu.

"Padahal kalian telah berikrar akan melayani Dokuro Mammon, tapi tak kusangka kalian tak melihat kebesaran dan kesucian sang Pemanggil Matahari dibanding Grisha lain—oh, aku lupa kalian sendiri adalah Grisha." Kalimat terakhir tentu berusaha menyindir, G dan Gokudera dapat merasakannya. Wanita itu berjalan menuju satu-satunya tempat tidur yang ada di sana, kemudian menaruh baskom di tangannya di atas nakas.

'Benar-benar fanatik,' batin Gokudera setengah mendengus. Mungkin wanita ini sebenarnya adalah fans berat seorang Dokuro Mammon, atau mungkin memang kepalanya sudah tak bisa berfungsi dan hanya bisa mengagungkan sang Pemanggil Matahari dengan bualannya.

"Dia tak akan senang dipanggil begitu," cetus Gokudera. Tentu 'dia' yang dimaksud adalah Dokuro Mammon sendiri.

Mata Sang Pendeta menyipit. "Darimana dasar yang kau punya hingga menganggapnya begitu?" tanyanya sarkatis.

"Kami sudah berikrar untuk melayani Dokuro Mammon selama hidup kami, dan kami sudah melayaninya beberapa bulan terakhir," jawab Gokudera seraya mendesis, cukup kesal dengan percakapan ini.

"Yaah, mungkin benar," sahut Sang Pendeta tenang. "Tapi, aku melihat dan mengenalnya lebih dulu—tentang keajaiban dan keagungan yang terpancar darinya," tambahnya.

Para fanatik memang menyebalkan—sekaligus menggelikan. Gokudera mendecih tanpa suara.

"Ada urusan apa kau ke mari?" tanya G ketus, ia benar-benar tak senang dengan kedatangan seorang pendeta fanatik macam perempuan itu. Dan tentunya pria bertato api di sebagian wajahnya itu tahu persis bahwa yang bertugas untuk melihat keadaan pelacak yang masih terbaring itu adalah Byakuran, Penyembuh yang entah bagaimana dapat direkrut oleh Sang Pendeta, karenanya kedatangan wanita itu ke ruangan tersebut pasti memiliki maksud tertentu.

"Aku punya pertanyaan untuk kalian berdua," jawab Sang Pendeta tenang.

"Pertanyaan?" Gokudera membeo.

Sang Pendeta mengangkat sebelah alisnya sebagai respon pertama. "Aku sudah tahu hubungan kalian dengan Sankta Mammon, tapi apa hubungan Sankta dengan pelacak ini?" tanyanya kemudian.

"Wo, wo. 'Sankta'? Dia tak akan suka dipanggil begitu," cetus G.

"Sankta adalah orang suci," balas Sang Pendeta sengit.

"Sebelum kami melayaninya," Gokudera angkat bicara, "dia meminta kami untuk tidak mendengarkan omong kosong itu dan tidak menganggapnya orang suci atau apalah itu seperti isu yang kau sebarkan," lanjutnya.

"Itu bukan isu, Sankta memang orang suci."

G memutar bola mata, merasakan pembicaraan ini pasti tak akan ada habisnya. "Jadi intinya kau ingin bertanya tentang hubungan pelacak ini dengan Pemanggil Matahari, huh?" ulangnya.

"Tepat." Sebuah senyum lebar mengembang di wajah wanita itu.

"Kau bukan siapapun yang berhak untuk tahu," kata G tajam.

"Aku tak ingin siapapun tinggal di sini kecuali dia memiliki hubungan kuat dengan Sankta Mammon atau dia bersedia melayani Sankta dengan nyawanya, terutama jika dia ternyata adalah kaki-tangan Sang Kelam," jawab Sang Pendeta sengit.

"Dia bukan bagian dari Sang Kelam atau kaki-tangannya. Apa itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu?" tanya G.

"Namanya Hibari Fon," kata Gokudera tiba-tiba.

"OI!" G memelototkan matanya, namun Gokudera tak memedulikannya. Sang Pendeta tampak diam, menunggu.

"Dia adalah teman masa kecil Dokuro Mammon dari Keramzin, seorang Pelacak dari Tentara Pertama, memilih mengkhianati resimennya dan menyelamatkan Mammon saat pertama kali melarikan diri dari Istana Kecil. Satu-satunya Pelacak yang berhasil menemukan Penguat Gelombang Morozova pertama dan kedua—minus ketiga karena kita belum mencarinya. Selama beberapa bulan terakhir sebelum penyerangan tiba-tiba Sang Kelam menjabat sebagai tentara Pemanggil Matahari—sama seperti kami, dan juga—"

.

.

"—seseorang yang memiliki perasaan dan hubungan khusus dengan Dokuro Mammon."

.

.

.tbc.

.

.

A/N : Haaaah, akhirnya selesai juga chapter satu penpik mc (sok) serius ini o)—( /digiles. Gimana chapter satu? Udah cukup ahn? Oh maaf, maksud saya, udah cukup lumayan? Bisa bayangin plotnya? Ada yang masih ngambang? Jangan ragu buat review sama nanya ya XD

Chapter ini mulai setting-nya setelah dua bulan pasca penyerangan Sang Kelam yang di prolog. Di sini Mammon sengaja dikurung di Istana Kecil dan Sang Kelam mengambil alih pemerintahan istana yang kosong (soalnya anggota kerajaan sama beberapa Grisha berhasil lari, jadi Mammon dkk pas menghadapi Sang Kelam waktu di prolog itu rencananya cuma buat ngulur waktu aja, eh, ternyata Mammonnya malah menyerah /salahin Mammon/ /dicekek/). Sementara Grisha lain dan beberapa orang yang memihak Pemanggil Matahari seperti G, Gokudera, Fon, dsb mendapat pertolongan dari Sang Pendeta (hayo coba tebak siapa Sang Pendeta :")) /ditimpuk), mereka diterima di Katedral Putih yang dijadiin markas sama Sang Pendeta buat ngumpulin orang-orang yang mau mengabdikan hidupnya sama Pemanggil Matahari.

Eqa Skylight: Eqa-san nih udah nungguin ya XD aduh makasih, untung aja sesuai harapan ya, saya sempet ragu bakal bagus nggak ya :"D iya dong Fong agresif ;) kalo Aa' Fon… keliatan kan dia di mana di sini? /EI. Btw ini udah lanjut dan ini bukan threesome, tapi lebih ke harem ;) Iya kaaann, Mbak Leigh selalu aja php, php plot story tiba-tiba plot twist missal : Btw, makasih untuk review-nya, review lagi yaaa~ XD

Hikage Natsuhimiko: Wah jangan nangis, Nak. Ini baru awal lho D: /dor.

Mohon maaf untuk semua kekurangan yang ada di fanfic ini /bow/. Jangan lupa review ya! Saya tunggu review kalian semua :"3 Semua kritik, saran, komentar, pertanyaan, dsb langsung saja tuangkan di review ya XD

Yosh! Sampai jumpa di chapter selanjutnya dan karya yang lain ya!

-Salam-

Profe Fest