Suara Fong masih mendominasi di dalam Ruang Perang, sesekali ada beberapa Grisha yang ikut menimbrung, namun selebihnya lebih memilih untuk diam dan mendengarkan. Mammon berdiri tepat di ambang pintu Ruang Perang, tertawa sekeras-kerasnya dalam hati. Sudah ia duga pasti beginilah jalannya rapat hari ini. Tak ada seorangpun yang berniat untuk menyuarakan pendapat mereka, mereka dibutakan ketamakan dan keserakahan, lalu menyerahkan semua itu pada Sang Kelam untuk dijadikan ambisi.
Mammon teringat beberapa bulan lalu, ketika ia, Fon, dan lainnya bersama dengan Belphegor, Pangeran Kedua Kerajaan Ravka, kembali ke Istana Kecil dan menggelar berbagai rapat untuk keperluan mengantisipasi serangan Sang Kelam di Ruang Perang, tak ada satupun diantara mereka yang tidak pernah tidak menyuarakan isi kepala mereka. Bahkan kepala Mammon dan Bel rasanya sudah nyaris pecah ketika mendengar setiap opini mereka yang bersahutan—tiada habisnya.
"Jadi, pusatkan perbaikan Istana Utama dan Istana Kecil yang menjadi medan peperangan ketika peperangan. Para Fabrikator harus bekerja keras mulai dari sekarang, tapi aku ingin Etherialki dan Penyembuh juga ikut membantu. Setelahnya, kita akan mengutamakan perbaikan dalam Os Alta. Lalu, kita akan membicarakan hal-hal lainnya. Paham?" Itu suara Fon.
"Moi soverenyi," jawab setiap orang di sana kompak tanda mengerti. Mammon dapat memperkirakan bahwa mereka semua menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan pria berwajah oriental itu—dan mungkin ada juga yang berniat menekuk lutut mereka dalam keadaan duduk, itu akan sangat lucu.
Sang Pemanggil Matahari tak habis pikir dengan kendali Fong, pria itu dapat membuat semuanya terlaksana sesuai dengan pemikirannya, membiarkan mereka—kami—menari-nari di atas telapak tangannya. Ya, kami. Mammon mendengus, mencibir dirinya sendiri dapat jatuh menjadi alat pria tamak itu.
"Baik. Dengan itu, rapat ini kita tutup." Terdengar suara derit bangku, kemudian diikuti oleh derit bangku-bangku yang lain. Para Grisha itu pasti berniat menekuk lutut mereka sebagai tanda penghormatan, namun sebelum mereka melakukannya, Sang Kelam melanjutkan.
"Tapi, sebelum rapat ini benar-benar kita tutup, aku akan memperkenalkan satu orang yang sangat berpengaruh bagi kita ke depannya, satu orang yang akan membuat ambisi kita menyatukan Ravka yang telah terpecah belah ini kembali menjadi satu. Sebelumnya, orang itu sempat beristirahat, namun ia telah siap untuk kembali bertempur dengan kita." Mammon memang tak melihatnya, namun ia tahu Fong tengah menggulum senyum angkuhnya—senyum yang menandakan bahwa ia memang telah menjadi milik pria itu seutuhnya—untuk menjadi alatnya.
"Silahkan masuk." Itu tandanya, tanda yang memperbolehkan Mammon untuk menjejaki ruangan di depannya dan berhenti menjadi patung batu yang sebentar lagi akan menjadi pajangan yang bagus untuk depan pintu Ruang Perang.
Mammon menjeblakkan pintu di depannya, membiarkan benda persegi panjang itu terbanting dengan suara yang cukup keras—dan dramatis—bagi setiap orang di dalam ruangan. Setiap Grisha terlihat membelalakkan mata mereka, tersekat dengan kehadiran sang Pemanggil Matahari yang tak pernah terlihat lagi setelah penyerangan dadakan Sang Kelam. Oh, tentu saja mereka tak tahu, selama itu Fong terus mengurung Mammon di dalam kamarnya, jadi memang tak ada seorangpun yang tahu.
"Moi soverenyi," Mammon menekuk lututnya, membiarkan kefta biru Etherialki dengan bordiran emasnya mengikuti gerak tubuhnya. "Saya ucapkan selamat siang dan terima kasih telah menyambut kehadiran saya di sini, para Grisha sekalian—" manik violet Mammon bergulir, kemudian berhenti tepat ketika ia menemukan sosok Fong yang tengah berdiri angkuh di sana.
"—dan juga Sang Kelam, tentu saja. Terima kasih telah memperkenankan saya hadir di sini, moi soverenyi," lanjut pemuda mungil itu berusaha sopan dan menundukkan kepalanya.
—Memuakkan.
.
.
Title: Last Hope
Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira
Grisha Trilogy by Leigh Bardugo
Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibly harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.
.
.
.chapter 2.
.
.
Untuk bintang jatuh; yang sosoknya selalu lenyap sebelum sempat kusadari.
.
.
"Sankta tidak memiliki perasaan pada siapapun," kata Sang Pendeta dingin menanggapi pernyataan tegas dari Goudera.
"Jadi kau berpikir aku berbohong?!" bentak Gokudera tak terima. Pemuda perak itu maju selangkah, berniat membuat perhitungan dengan Sang Pendeta, namun G lebih dulu menghalangi jalan sang adik dengan cara merentangkan sebelah tangannya.
"Tahan emosimu, Aho," ketus pria bertato api tersebut seraya menggulirkan manik magenta miliknya pada pemuda yang lebih muda darinya itu tajam. Gokudera menatap balik tatapan tajam sang kakak, namun segera memalingkan wajahnya disertai decihan keras setelah ia menangkap adanya keseriusan dari pancaran bola mata pria bertato api itu.
"Nah, kau sudah mendapat jawabannya, Pendeta," kata G mencoba mengatur amarah dan suasana panas yang menjalar di dalam ruangan. Mata magenta miliknya menatap lurus bola mata biru Sang Pendeta. "Sekarang, beritahu padaku alasanmu menanyakan hal tolol barusan," desisnya.
"Jika dia tak berguna untukku, aku berniat untuk membuangnya," jawab Sang Pendeta enteng.
G menggebrak tepi tempat tidur. "Dia menyelamatkan hidup Pemanggil Matahari! Bisakah kau tak menganggapnya jauh di bawahmu?! Kau tak tahu apa yang terjadi saat itu! Kau hanya—"
"—Khh …"
Suara berat yang tersekat itu mengalihkan perhatian ketiga orang di sana, G bahkan merasakan tubuhnya tersengat begitu mendengar suara tersebut, pasalnya ia sadar betul suara milik siapa itu. Ketiganya menoleh ke tempat tidur, menemukan si pelacak berwajah Asia yang tengah mengerutkan keningnya—yang pasti tengah berupaya untuk membuka matanya. Bersamaan dengan helaan napas yang cukup panjang, manik karamel pemuda Asia itu terbuka, memberitahu semua orang yang tengah berkumpul di sana bahwa ia sudah sadar sepenuhnya.
"G …," panggil pemuda bermanik karamel tersebut yang tak lain adalah Fon itu lemah seraya menggulirkan matanya pada pria bertato api yang masih membeku di tempatnya.
"Demi pendeta fanatik ini, kau benar-benar sinting sialan!" sembur G seraya mendekati pemuda berambut kepang tersebut. Meski kata-katanya cukup kasar, terlihat pancaran wajah yang cukup lega begitu melihat pelacak itu bangun dari komanya.
Fon mencoba menggerakkan tubuhnya susah payah, ia menyenderkan punggungnya dan meringis. "Di mana ini?" tanyanya lemah.
"Katedral Putih. Kita mendapat sedikit bantuan dari Sang Pendeta," jawab G setengah hati, putaran bola matanya menjadi bukti.
"Katedral Putih?" Fon membeo seraya memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut.
"Ah, kau tak tahu ya …," Gokudera mencondongkan tubuhnya ke kasur. "Tempat ini lenyap dari peta Ravka selama ratusan tahun. Pendeta fanatik ini menemukannya dan menjadikan tempat ini markas yang digunakan untuk mengabdi pada Pemanggil Matahari," lanjutnya.
"Letaknya?" tanya Fon lagi.
"Daerah barat Os Alta," jawab G cepat. "Kau masih ingat apa yang terjadi saat terakhir?" tanya pria bertato api itu setelahnya.
Fon terdiam, ia mencoba mengingat-ingat, memorinya mengulang kembali kejadian terakhir yang diingatnya. Mereka terdesak di gereja kecil yang terdapat di Istana Kecil, nichevo'ya ciptaan Sang Kelam mengepung mereka, Sang Kelam muncul dan meminta Mammon menyerahkan diri, Mammon menurutinya, kegelapan yang dipanggil Mammon terus menerus, ia mencoba menghentikan Mammon, ledakan—
Fon membelalakkan mata, nyaris tesedak ludahnya sendiri. "Mammon! Di mana Mammon?!" tanyanya tak sabar. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun kepalanya berdenyut lebih menyakitkan dari yang sebelumnya.
"Tenangkan dirimu dulu, oi! Kau itu koma selama dua bulan!" ketus Gokudera seraya mendecakkan lidahnya.
Fon sama sekali tak mendengar jelas kata-kata sinis pemuda perak tersebut. "Di mana Mammon?" ulangnya, kali ini lebih tegas.
G menghela napas panjang, merasa bahwa memang ini tak akan selesai dengan mudah. "Sebelum kau mendengarnya, kuharap kau mau tenang sedikit," katanya.
Fon mendecih pelan, sebelum akhirnya mengikuti kata-kata pria bermanik magenta itu dan menyamankan diri dengan posisi masih tetap berbaring. G mengambil napas, kemudian mengeluarkannya lewat mulutnya.
"Dengar, ketika terakhir setelah ledakan keras di mana Mammon—sepertinya—mencapai batasnya dalam memanggil kegelapan Sang Kelam, kau, Mammon, dan Sang Kelam terlempar dan masing-masing mendarat di lantai gereja. Kau tergeletak nyaris sekarat dengan bersimbah darah, Mammon selamat—dan Sang Kelam juga, sayangnya," G mengambil napas sejenak.
"Kami lalu memilih menyelamatkanmu, tapi Mammon—" Fon merasa ada hawa tak enak yang melingkupi dirinya.
"—Mammon berhasil direbut dan kini menjadi tahanan Sang Kelam di istana."
.
.
.
Seseorang dengan jubah yang cukup panjang dan menutupi sebagian wajahnya terlihat berjalan mengendap-endap diantara pepohonan hutan. Berkali-kali kepalanya menoleh ke kanan-kiri, tangannya juga bersiaga di dekat pinggangnya, bersiap untuk segera mencabut pisaunya jika ada satu-dua orang yang memergokinya.
Begitu ia sampai di tempat yang ditujunya, ia membuka tudung kepalanya dan mengangkat dagunya agar semua dapat mengenalinya. "Ini aku," katanya memperjelas.
"Jadi bagaimana, Lal?" tanya sebuah suara yang berasal dari sebuah pohon besar di depan sosok berjubah tadi.
"Sama sekali tak ada tanda Pemanggil Matahari berhasil kabur dari Os Alta, moi tsarevich," jawab sosok berjubah tadi—Lal namanya—seraya berlutut.
"Jadi Mammon benar-benar tertangkap …," desis si pemilik suara dari pohon besar itu.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya, moi tsarevich?" tanya Lal.
Si pemilik suara bungkam sejenak, sebelum akhirnya menghela napas. "Kembali ke kapal. Kita akan terus bersembunyi sampai ada kabar tentang Pemanggil Matahari berhasil melarikan diri atau mengenai pengikutnya—atau pilihan terburuknya, sampai Sang Kelam menemukan kita."
.
.
.
"Kemarilah, Mammon. Kau tak selamanya harus menekuk lutut seperti itu," kata Sang Kelam penuh ketenangan, memecah sunyi yang tercipta di Ruang Perang.
"Moi soverenyi," jawab Mammon seraya kembali menegakkan tubuhnya dan mengangkat wajahnya. Ia kembali menatap Fong yang masih menggulum senyum tipis yang tampak memuakkan di matanya, lalu mengarahkan tatapannya pada para Grisha yang juga berkumpul di sana. Pemuda berambut sebahu itu menarik napas, kemudian berjalan dengan waktu yang sangat lama hingga akhirnya berdiri tepat di sebelah sang penguasa kegelapan.
"Seperti yang terlihat," Fong kembali buka suara, "Pemanggil Matahari, Dokuro Mammon, kini tengah berada diantara kita. Dia bersedia menjadi sekutu kita dan dengan ini maka kerajaan Ravka dapat kita kuasai dalam waktu dekat."
Mammon menggigit bibir bawahnya mendengarnya. Kau tak menjadikanku sekutumu, kau menjadikanku alatmu. Pemuda berambut sebahu itu tertawa sarkatis dalam hatinya.
"Bagaimana bisa—" kalimat tertahan itu segera membuat Fong dan Mammon mengalihkan perhatian mereka dan menoleh ke asal suara, "—bagaimana bisa Pemanggil Matahari menjadi sekutu kita, moi soverenyi?"
"Kau tahu," Fong menaikkan dagunya beberapa senti, "Mammon dan aku adalah makhluk yang unik. Kami adalah makhluk yang sama," jawabnya.
Mammon memilih mengepalkan tangannya dan mengunci bibirnya, menahan seluruh luapan emosi yang membakarnya. Ia benci kata-kata itu, namun ia tahu itulah fakta yang sebenarnya, fakta di mana mereka memang makhluk yang sama, sama-sama unik, sama-sama purba—atau mungkin lebih tepatnya, ia akan purba.
"M- maafkan saya, moi soverenyi!" Grisha itu menundukkan kepalanya dalam. Mammon mendengus, kemudian memilih membuang muka. Fong melirik sang Pemanggil Matahari dari sudut matanya, kemudian kembali mengedarkan padangannya pada setiap Grisha yang hadir di sana.
"Hadirin sekalian, mari kita sambut kedatangan Pemanggil Matahari diantara kita ini. Mulai sekarang, hormati dia juga. Dia adalah makhluk yang setara denganku, makhluk yang berhak berdampingan denganku," kata Fong seraya menggulum senyum tipis pada wajah Asia tampannya.
"Moi soverenyi." Para Grisha itu kembali menekuk lututnya dengan anggun, kepala mereka menunduk, namun Mammon menganggap bahwa itu adalah penghinaan untuknya—penghinaan karena berada di sebelah sang penguasa kegelapan dan menjadi alatnya.
"Dan juga, mulai saat ini, hanya dia yang akan duduk di sebelah kananku, duduk berdampingan denganku dalam satu jajaran kursi yang sama," lanjut Fong tenang.
Mammon mengerjitkan dahinya. Ia menoleh ke arah pria bermanik hitam itu dengan raut wajah tak mengerti, meminta penjelasan singkat atas maksud pengumumannya. Seingatnya, tak ada satupun yang bisa bersebelahan bersama Fong, dia penguasa kegelapan satu-satunya—kalau Alaude tak dihitung, tentu saja. Tapi, kenapa dia bisa?
Fong menyeringai tipis begitu melihat mimik wajah pemuda violet yang lebih muda darinya itu memancarkan kebingungan. Karena pada intinya, Fong lebih suka menjadi pihak yang membuat kejutan, meski juga bukan masalah baginya untuk menjadi yang dikejutkan jika Mammon yang mengejutkannya.
"Dan pengumuman terpenting pada pertemuan ini adalah mengenai pemerintahan sementara Kerajaan Ravka. Hingga pada anggota keluarga kerajaan ditemukan, aku yang akan memimpin kalian, sebagai Raja Ravka." Mammon bergidik begitu mendengarnya. Membayangkan Ravka jatuh ke dalam genggaman pria ini sama seperti melihat kehancuran dunia. Tak akan ada lagi harapan agar bisa terbebas dari Fold, hari-hari akan terasa nyaris persis seperti berada di neraka. Dia akan menjalankan tiraninya dan menggantikan tirani raja—yang artinya sama saja membawa kesengsaraan.
"Tapi, tentu saja, aku membutuhkan pendamping—selain Rokudo Mukuro yang telah menggantikan Daemon Spade." Fong mengarahkan pandangannya lurus ke depan, menatap para Grisha yang balas menatapnya ingin tahu. Mammon mengerjitkan dahinya, mencium aroma tak mengenakkan yang menguar dari perkataan demi perkataan Fong.
"Aku berniat untuk menikah—dengan Dokuro Mammon sebagai pendamping hidupku."
.
.
.
"Apa maksudmu, G?!" bentak Fon setelah terdiam selama beberapa sekon karena syok. Mammon direbut dan kini menjadi tahanan Sang Kelam? Lalu kenapa mereka malah diam di sini? Sinting!
"Kubilang tenang dulu, oi!" G balas membentak tak terima. "Kau itu koma selama dua bulan! Kita juga tidak punya tentara atau apapun untuk menghadapi Sang Kelam dan merebut Mammon kembali! Setidaknya … hanya ini yang bisa kita lakukan …," desis pria bertato api itu seraya membuang wajahnya.
Fon bungkam, memikirkan semua kata-kata G. Dia benar, benci mengakuinya tapi memang mereka kini tak memiliki apapun yang tersisa, penyerangan terakhir Sang Kelam yang tanpa diduga karena pengkhianatan pangeran pertama Ravka, Rasiel, telah membuat mereka kehilangan segalanya—tentara kedua dan pertama, pasukan Grisha, tempat berteduh, sekutu, semuanya.
"Tadi katamu, berapa lama aku koma?" tanya Fon memecah hening yang terjadi.
"Dua bulan," jawab Gokudera tanpa menatap pemuda bermanik karamel itu.
Fon menggeram pelan, ia benci dirinya karena tak mampu melakukan apapun. Orang yang ia cintai ada di tangan sang penguasa kegelapan yang berniat memanfaatkan kekuatannya—Mammon sudah pernah menceritakan semua rahasia Fong padanya saat mereka mencari Penguat Gelombang Morozova yang pertama. Dengan Mammon berada ditangannya, maka ia bisa dengan mudah menguasai Kerajaan Ravka.
Kita membutuhkan pelacak itu—untuk menemukan burung api. Fon ingat kata-kata penguasa kegelapan itu sebelum Mammon akhirnya merelakan dirinya. Artinya, Sang Kelam memang tak bisa melacak Penguat Gelombang Morozova yang ketiga tanpa dirinya. Sang Kelam tak akan mendapatkan Penguat Gelombang Morozova ketiga untuk melengkapi Penguat Gelombang Morozova yang ada tanpa dirinya—kecuali dia punya Pelacak yang sama hebatnya dengan dirinya. Bukan bermaksud sombong, tapi dari semua Pelacak dan Tentara Pertama yang berusaha mencari Penguat Gelombang Morozova, hanya Fon yang berhasil melakukannya. Dengan ini, setidaknya mereka bisa mengulur waktu meski sedikit. Tapi bagaimana dengan Mammon? Apa yang menanti Pemanggil Matahari di Istana?
"Bisa aku bertanya pada kalian satu hal lain?" tanya Sang Pendeta tiba-tiba. Ketiga lelaki itu menoleh padanya, mengerjitkan dahi setelahnya.
"Setelah bertanya, kuharap kau segera angkat kaki dari sini," cetus G seraya kembali menatap wanita itu.
"Tentu. Lagi pula, kurasa kau seorang Penyembuh setelah ini," jawab Sang Pendeta menggulum senyumnya yang misterius. "Terakhir kali kalian bersama Sankta, kalian benar-benar yakin dia berada di Istana Kecil?" tanyanya.
"Tentu, tentu saja," jawab G setengah hati.
Sang Pendeta melebarkan senyum misteriusnya. "Kalau begitu, aku akan ke luar dan memanggil Penyembuh," pamitnya.
"Tunggu, siapa kau?" tanya Fon.
Sang Pendeta masih mempertahankan senyum misteriusnya, kemudian menaikkan dagunya beberapa senti. "Salam, Pelacak. Dengan keberkahan Tuhan dan keajaiban yang diberikan-Nya lewat Pemanggil Matahari, aku bisa berada di sini membantu Sankta Mammon yang masih terkurung dalam sangkar kegelapan. Perkenalkan, saya adalah pendeta yang telah berikrar untuk melayani Pemanggil Matahari, Luce."
.
.
.
—PLAKK!
Fong menolehkan kepalanya ke samping dengan pipi sedikit kemerahan, jelaga hitamnya sedikit membesar, tanda ia cukup terkejut dengan tamparan tiba-tiba yang dilakukan pemuda mungil itu. Mammon mengatur napasnya yang memburu, manik violetnya sama sekali tak terlepas dari lelaki jangkung di depannya, menatapnya dengan amarah yang meletup-letup. Tak ada siapapun di Ruang Perang kecuali mereka, semua dibubarkan Sang Kelam untuk kembali ke posisinya.
"Kau tak pernah mengatakan apapun soal itu," desis Mammon penuh benci. Pemuda itu menurunkan tangannya, kemudian mengepalkannya erat.
"Karena itu aku memberitahunya padamu di sini, Mammon," jawab Fong seraya menatap balik pemuda violet di depannya, lalu membentuk senyum tipis.
"Aku tidak pernah menyetujuinya!" bentak Mammon penuh amarah, suaranya bergema di seluruh Ruang Perang.
"'Menyetujuinya'?" ulang Fong seraya menyipitkan matanya. Mammon menelan kembali sumpah serapah yang nyaris dilontarkannya, merasa ada sengatan kecil yang dikirim melalui pancaran mata sang penguasa kegelapan.
"Apa aku membutuhkan persetujuanmu sebelum memutuskan ini, hm?" tanya Fong. Mammon meneguk ludah, merasa ada hal tak beres yang tengah menunggnyunya. Fong menggulum seringai licik.
"Sejak kau menyerahkan dirimu padaku, sejak aku memberitahumu nama asliku, sejak kau menyerahkan dirimu di gereja itu untuk membebaskan orang-orangmu—kau sudah sepenuhnya menjadi milikku," lanjut Fong seraya mengambil langkah mendekati sang Pemanggil Matahari. Mammon terbelalak, tanpa sadar ia melangkah mundur, mencegah sang penguasa kegelapan untuk mencapai dirinya lebih cepat. "Apa yang akan kau lakukan harus dilandasi izinku lebih dulu," sambung sang penguasa kegelapan lagi.
Mammon menahan napasnya sembari tetap berjalan mundur, namun tak lama punggungnya bertabrakan dengan dinding ruangan yang dingin. Bulu kuduk pemuda mungil itu berdiri, matanya tak terlepas dari Sang Kelam yang kini berdiri tepat di depannya dengan melebarkan seringainya. Aku tidak akan berteriak. Mammon meyakinkan dirinya berulang-ulang, namun ia tetap merasakan sekujur tubuhnya gemetar hebat.
Fong memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah pemuda violet itu, kemudian berbisik tepat di telinga si pemuda. "Sebentar lagi kau akan menjadi pendamping orang yang paling berkuasa di Ravka—ratuku, Mammon. Dan saat itu terjadi, tak ada siapapun di dunia ini yang bisa merebutmu dariku, termasuk orang-orangmu. Tak ada satupun, Mammon," bisiknya.
Mammon menahan napasnya, merasakan kakinya tak akan mampu menahan berat tubuhnya yang terasa semakin berat ditarik ke bawah oleh gravitasi. Aku tidak akan berteriak. Aku tidak akan berteriak. Mammon terus mengatakan itu dalam hatinya, namun ia merasakan bagian dalam dirinya ketakutan, menjerit nyaring karena semua hal yang tak diduganya sebelumnya.
Mammon mendorong pria bermanik hitam itu keras, membuat sang penguasa kegelapan mundur beberapa langkah dan segera memelesat ke luar ruangan. Mammon terus berlari tak tentu arah, tangannya yang gemetaran membekap mulutnya, mencegahnya meloloskan suaranya. Mammon tahu ia ketakutan, rasanya ada suatu hal lain yang menyusup ke dalam dirinya dan membuatnya merasakan kengerian yang serasa mencekik.
Aku tidak akan berteriak. Aku tidak akan berteriak. Tidak akan. Mammon masih melafalkan kalimat itu berulang-ulang dalam dirinya, namun ia sadar ia ingin berteriak sekeras-kerasnya, sampai suaranya habis. Ia ingin menjerit hingga seluruh ketakutan yang mencekiknya lenyap, hingga seluruh kengerian yang dirasakan hilang tanpa jejak.
Mammon berhenti di sebuah lorong kosong yang sepertinya jarang dilewati. Pemuda itu menyenderkan punggungnya di dinding dan mengatur napasnya yang memburu. Ia kemudian menangkupkan tangannya di depan dada, merasakan detak jantungnya yang berdetum-detum keras dan tangannya yang gemetaran.
Mammon membuka mulutnya, hendak memanggil sebuah nama orang yang selalu dicintainya, namun belum sempat memanggil ia segera menutup mulutnya. Masa lalu kembali menariknya melintasi waktu, Mammon merasa kejadian itu kembali terulang di depan matanya. Bagaimana kerasnya ledakan itu, bagaimana lemahnya tubuhnya, bagaimana bau amis darah Fon yang menusuk hidungnya—lupakan! Lupakan! Mammon menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dadanya sakit, seolah baru saja ada yang menghujamnya dengan sebilah belati.
"Fon …," panggil pemuda itu lirih.
.
.
.
Dua lelaki itu saling berhadapan di ruang duduk ratu yang sepi, tanpa seorangpun kecuali mereka. Keduanya saling menatap satu sama lain, kemudian tanpa sadar mendekatkan wajah mereka dan berciuman. Tak lama keduanya melepaskan pagutan bibir mereka, kemudian kembali memandangi orang yang ada di hadapan masing-masing. Jelaga hitam itu menatap dalam keping violet milik pemuda yang lebih muda darinya, seolah mencari sesuatu di dalam permata itu.
"Mammon," panggil pria bermanik hitam dengan wajah Asia itu lembut.
"I- iya?"
"Aku ingin kau mengetahui namaku—nama asliku, bukan nama gelarku." Sang penguasa kegelapan menjulurkan tangannya, kemudian mengelus helaian rambut sebahu sang Pemanggil Matahari penuh kasih.
Mammon menahan napasnya, merasakan degup jantungnya bertalu semakin keras. Ia meneguk ludahnya sejenak, sempat terpikir dalam dirinya mungkin dia bisa menolaknya dan meminta maaf untuk semua yang terjadi malam ini.
"… Iya."
Sang Kelam terdiam cukup lama sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Fong."
"M- muu?"
"Mungkin hanya ini yang bisa kukatakan malam ini, Mammon. Aku harus ke Ruang Perang dan menemui Spade, tapi jangan berharap ini akhir dari segalanya—aku sama sekali belum selesai denganmu." Sang Kelam membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan dengan langkah tenang menuju pintu.
"K- kau—" Fong menghentikan langkahnya dalam keadaan memunggungi pemuda mungil itu. "—apa tidak apa aku menyimpan namamu?" tanya Mammon.
"Tentu. Aku juga yang menginginkannya, kan?" Sang Kelam berbalik, lalu melempar senyum tipis nan hangat yang membuat kedua pipi sang Pemanggil Matahari bersemu. "Sampai jumpa, Mammon. Ingatlah, aku dan kau sama sekali belum selesai." Sang Kelam membalikkan tubuhnya, kembali melangkah tenang menuju pintu dengan Mammon yang masih memperhatikan punggungnya. Senyum tipis itu masih tersungging di wajah si pria, namun tanpa sepengetahuan Mammon senyum itu berubah menjadi sebuah seringai lebar.
'Kau dan aku memang belum selesai, Mammon—karena ini baru awalanya saja, untuk menguasaimu.'
.
.
.
"Jadi, apa kalian sudah siap?" tanya Luce seraya berputar-putar tepat di depan meja persegi panjang yang ada di ruangan itu.
"Apa kau yakin dalam hal ini, Pendeta?" tanya seorang lelaki berambut pirang.
"Tentu saja. Dan aku sudah menanyakan letak paling pasti posisi Pemanggil Matahari sebelum mereka berpisah pada dua Grisha paling loyal yang melayani Sankta Mammon," jawab perempuan itu seraya menggulum sennyum misteriusnya.
"Jadi, semuanya, kuharap kalian tahu apa yang harus kalian lakukan." Luce berjalan mendekati meja, kemudian menunjuk sebuah wilayah yang ada dip eta yang diletakkan di atas meja.
"Sebagai orang-orang yang sudah berikrar akan melayani Sankta seumur hidup, kalian akan menyusup ke Os Alta dan membawa kabur Sankta Mammon dari Istana Kecil untuk ke mari memimpin kita. Mari kita satukan kekuatan kita demi Sankta! Karena hanya Sankta lah yang akan membawa kedamaian dalam negeri Ravka yang kita cintai ini! Bukan raja, bukan Sang Kelam, tapi hanya Sankta Mammon," kata Luce panjang lebar.
Seluruh orang kecuali pemuda pirang tadi segera menyahuti pidato singkat Sang Pendeta dengan serempak. Beberapa diantara mereka ada yang meneteskan air mata, dan beberapa diantara mereka ada yang ikut menambahkan dengan 'hidup Sankta!' dan sebagainya.
"Kalau tak salah kau bersedia bergabung, kan?" tanya Luce seraya menatap si pirang tadi dan membuat suasana kembali sunyi.
"Yaah, begitulah." Pemuda pirang itu nyengir lebar.
"Hm, bagus." Luce tersenyum puas. "Kau akan kujadikan kapten penyusupan ini, mengingat kaulah yang paling tahu seluk beluk Istana Kecil dan Os Alta. Bawa kembali Sankta dalam keadaan hidup—"
"—Grisha Pemanggil Api dari Fjerda, Colonello."
.
.
.
.tbc.
.
.
.
A/N : AKHIRNYAAAAA CHAPTER DUAAAA SELESAAIII /o/ btw, perasaan saya aja apa chapter ini rada garing, ya?._. Maaf ya kalau ternyata garing dan bikin boring abis, mana ini lebih pendek dari yang sebelumnya ya orz oh ya, bagian yang saya italic semua itu pas flashback ya XD btw sampai sini ada yang mau ditanyain lagi? Plot udah kebayang kah? Oiya nih, sekedar info, Ravka itu kan negara berbentuk kerajaan, nah di bagian utaranya ada negara lagi namanya Fjerda, Fjerda ini bisa dibilang musuhan sama Ravka karena tadinya Fjerda bagian dari Ravka tapi akhirnya misahin diri. Nggak cuma ada Fjerda doang kok, di bagian selatan sedikit ada negara lagi namanya Shu Han, negara itu juga tadinya bagian dari Ravka sama kayak Fjerda tapi memisahkan diri. Nah, dari semua negara yang ada, hanya Ravka yang memperlakukan Grisha dengan baik. Di Fjerda Grisha biasanya dibakar hidup-hidup dan di Shu Han mereka kalau nggak dijual biasanya dijadiin kayak eksperimen supaya tahu darimana kekuatannya (yang sebenernya sia-sia aja karena kekuatan Grisha itu memang karunia dari lahir dan bukan didapat dari melakukan suatu hal/?).
Omong-omong soal panggilan moi soverenyi yang dipakai Fong itu kayak panggilan gelar yang menandakan mereka orang yang cukup berperan di istana. Tiap panggilan berbeda mulai dari raja, ratu, pangeran, dan Sang Kelam. Moi soverenyi adalah panggilan untuk Sang Kelam, ada yang tahu moi tsarevich untuk siapa? :"3 /digeplak.
kak eju : Fic ini maso dari segi mana sih Kaak :")) ini belom terlalu maso kok :")) Fon mati, ah dia syudah bangkita dari kematian kok ini /dipites. Mammon diam-diam senang tersakiti, dia maso kok /gak. Kenapa G dan Gokudera bisa jadi bawahan ... karena ini AU? :")) /plak. Hahaha jangan baper dulu dong Kak, lalu chapter ini gimana? XD Makasih review-nya ya~~!
Hikage Natsuhimiko : Fong nyebelin tapi ... dia akar-akar sado lho ;) /hei. Fon syudah bangun nih, hurraaayyy /o/ Wah, makasih udah perhatian sama saya dan Mammon, saya terharu /pelukin/ /hei. Terima kasih review-nya~~!
Kayaknya penjelasan saya udah cukup sampai sini aja ya :)) btw, jangan lupa review ya! Saya seneng banget kalau ada yang mau ninggalin jejak, sekalian biar bikin saya semangat sama tahu di mana kekurangan fanfic ini XD akhir kata dari saya, sampai jumpa di chapter selanjutnya!
-Salam-
Profe Fest
