Alaude tak mengalihkan pandangan matanya dari lidah-lidah api yang berkobar di perapian, bahkan ia sama sekali tak bergerak seinci pun untuk mengubah posisi duduknya. Suara pintu pondok yang berderit lantas tak membuat pria berambut platinum blonde yang sekarang memakai eye patch di mata kirinya itu segera menoleh. Ia tetap diam, tak berniat menanggapi sosok yang datang.
"Alaude." Panggilan itu berasal dari suara yang lebih berat dari si pria bermata satu, juga lebih tegas dan terdengar mantap seolah semua keinginannya sudah tercapai.
"Tutup pintunya. Kau membiarkan hawa panasnya ke luar," desis Alaude sinis tanpa menoleh pada sosok itu—sosok yang sudah lama dikenalnya.
Suara derit pintu yang menutup kembali bergema di dalam pondok, namun meski pintu telah tertutup, Alaude sama sekali tak berniat menoleh atau sekedar menyapa orang tersebut. Orang tersebut juga ikut diam dan memilih tetap berdiri tepat di depan pintu.
"Aku yakin kau bukan orang tolol yang berkunjung ke mari hanya untuk melihatku yang diam dan memandangi api sepanjang hari," cetus Alaude membelah hening yang terjadi.
Sosok itu menaikkan sudut bibirnya. "Kau tidak suka melihat kedatangan kakakmu, Alaude?" tanyanya.
"Katakan saja apa maksud kedatanganmu ke mari—" Alaude menggulirkan matanya, melirik sosok berkepang dengan sepasang mata hitam yang tengah tersenyum angkuh tersebut dari sudut matanya.
"—Moi soverenyi."
.
.
Title: Last Hope
Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira
Grisha Trilogy by Leigh Bardugo
Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibily harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.
.
.
.chapter 3.
.
.
Untuk bulan; yang memberiku cahaya di tengah kelamnya malam.
.
.
"Kau masih bersikap sinis, Alaude," kata Fong seraya menghela napas mahfum, jelaga hitamnya tetap menatap lurus si pria bermata satu yang masih tetap duduk di bangkunya.
"Apa tujuanmu ke mari, moi soverenyi?" ulang Alaude, dengan kalimat yang lebih ditekankan—meski sebenarnya lebih ke arah menyindir, lagi pula ia juga tak berminat berbicara dengan kakaknya itu. Matanya tak terlepas dari api yang menjilat-jilat di perapian.
"Aku berniat mengabarimu hal terbaru di istana," jawab Fong tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Alaude bisa mencium aroma angkuh dari setiap kata-katanya, namun ia memilih untuk bungkam.
"Aku akan menikahi Dokuro Mammon dan naik menggantikan posisi Raja Ravka," lanjut Fong tenang. Degup jantung Alaude mengeras, tanpa sadar pria bermata satu itu memelototkan matanya sedikit, namun ia segera menyamarkannya.
"Sinting. Kau pikir pernikahan kalian akan direstui seluruh masyarakat?" cibir Alaude sinis seraya mendecakkan lidahnya.
"Dia makhluk yang sama denganku, kekuatannya pun nyaris setara denganku, bukankah sudah sewajarnya aku ingin dia mendampingi hidupku?" tanya Fong sembari menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum penuh keangkuhan.
Alaude mendengus muak mendengarnya. "Kau tidak memintanya mendampingimu, kau berupaya menguasainya agar lebih leluasa menggunakannya, menggunakan kekuatannya," desisnya seraya menghujam tatapan tajamnya lagi pada sang penguasa kegelapan.
Fong terdiam sejenak, kemudian meloloskan tawa kecilnya yang angkuh. "Kau benar. Aku memang berniat menggunakannya." Pria itu menggelengkan kepalanya seraya berusaha meredakan tawanya.
Alaude meliriknya sinis. "Kau tak punya ambisi apapun selain menguasai Ravka—dan dia adalah pionmu untuk meraih ambisi itu. Dengan kekuatannya, dia akan melenyapkan para volcra itu dan kau akan bebas ke luar-masuk Fold sehingga kau bisa menggunakan Fold sebagai senjatamu untuk memaksakan tiranimu."
"Kau masih mengingatnya dengan jelas, eh, Alaude," kata Fong masih dengan menaikkan sudut bibirnya.
Alaude kembali memandangi jilatan api yang menari di perapian. "Kutebak dia menolaknya dengan keras," katanya.
"Dia menampar dan memakiku seperti caramu memakiku. Murid sama seperti gurunya," jawab Fong seraya menghembuskan napas.
"Dia sama sekali tak mencintaimu—sama seperti perasaanmu padanya," kata Alaude lagi.
"Aku tidak mencintainya? Aku akan menjawab mungkin, Alaude," jawab Sang Kelam tenang.
"Kau mencintainya?"
"Mungkin, Alaude." Bibir tipis Fong menggulum senyum simpul.
Alaude kembali mendengus mendengarnya, kali ini sembari memutar bola matanya yang hanya tinggal sebuah. "Kalau kau mengatakan itu saat dulu, mungkin aku akan percaya. Tahu kau punya hati saja aku tak menyangkanya," dengusnya.
Fong tertawa tertahan. "Kau benar-benar tak memercayainya, eh."
"Dia tidak pernah ingin menikah denganmu," kata Alaude tetap dengan nada datarnya.
"Dia tidak punya pilihan lain selain melakukannya," jawab Sang Kelam.
Alaude tak menjawab, ia kembali bungkam.
"Apa kau berpikir aku tak akan bisa menikahinya, Alaude?" tanya Sang Kelam lagi.
"Dia tidak mencintaimu," kata Alaude cepat.
"Belum, Alaude. Dia belum mencintaiku." Sang penguasa kegelapan menyelipkan seringai percaya dirinya. "Lagipula, meski ia tidak mencintaiku, otkazat'ya itu sudah mati," sambungnya.
"Kau pikir kau bisa mengalahkannya?" tanya Alaude tanpa sedikitpun melirik Sang Kelam.
"Apa maksudmu?" tanya Fong seraya menatap lurus sang adik yang masih duduk di bangkunya.
Alaude mengambil napas sejenak. "Pemanggil Matahari hanya mencintai Pelacak itu. Seperti apapun perlakuanmu padanya, dia hanya ingin agar Pelacak itu bersamanya. Aku memang hanya pernah melihatnya sekilas di gereja itu—dan sebenarnya aku juga tak terlalu tertarik. Tapi harus kau ingat, yang membuatnya mengubur dan berhasil memanggil kembali kekuatannya tidak lain adalah Pelacak itu," jelasnya panjang lebar.
Fong menatapnya dengan manik hitamnya yang tajam. Alaude memilih mengabaikannya dan tetap memandangi jilatan api yang menari di dalam perapian, namun tanpa sadar ia berkelana ke masa lalu. Pria bermata satu itu teringat hari itu, hari di mana Mammon datang untuk berlatih ke sekian kalinya di pondoknya ini ketika pertama kali memulai pelatihannya. Mammon memang sudah berhari-hari berlatih dengannya, namun tak sekalipun pemuda itu berhasil memanggil kekuatannya sendiri—kalaupun berhasil, itu karena ia menolong Mammon dengan menggenggam tangan pemuda mungil tersebut dan memberi aliran keyakinan sebagaimana kekuatannya sebagai penguat gelombang hidup selain memanggil kegelapan.
Setelah menutup pintu dan duduk disebelah bangku Alaude dengan menyentak, Mammon menunjukkan raut wajah kesal, raut wajah yang sulit digambarkan Alaude. Mammon mulai berkata kasar dan tak jarang menambahkan makian dalam kalimatnya untuk memanggil si pria bermata satu. Alaude membalasnya tenang, namun tak dapat menahan sudut bibirnya yang naik.
"Kenapa kau berada di sini, Nona? Kau berada di Istana Kecil, tempat paling indah dan megah yang menjamumu dengan berbagai kemewahannya. Kau ditempatkan tepat di sebelah Sang Kelam, tempat yang paling diinginkan seluruh gadis dan bahkan mungkin mereka akan lebih memilih untuk menjual ibu mereka hanya demi menukar posisinya denganmu. Tapi kau di sini, merengek dan merajuk penuh sengsara. Jadi, apa alasanmu, Nona? Di mana hati kecilmu sebenarnya berlabuh?" Alaude ingat pertanyaannya pada Mammon dulu, pertanyaan kecil yang membuatnya sadar bahwa masih ada harapan baginya untuk membuat Mammon lebih kuat agar dapat terbebas dari rantai besi Sang Kelam.
"Aku muak dengan semua ini!" Mammon menjawabnya gusar. "Aku lelah—aku muak dengan semuanya. Aku muak dengan semua pelajaran Grisha, aku muak menatap makanan yang tersaji di meja makan, aku muak dengan kefta tolol ini, aku muak dipanggil 'Nona' sementara aku laki-laki, aku muak padamu!"
Alaude menatapnya, namun segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, ada hal lain. Bukan itu semua yang membuatmu kesal. Katakan padaku."
"Aku muak dengan semuanya!" Mammon berdiri dengan gusar. Ia memelototkan manik violetnya pada Alaude, menyalurkan kemarahannya yang meletup-letup bak api. Pemuda itu mengepalkan tangannya erat, giginya bergemelutuk keras. Namun Alaude hanya diam, menatapnya dari atas ke bawah tanpa ekspresi.
"Apa? Kau ingin memukulku untuk menghempaskan kemarahanmu?" tanya Alaude datar.
"Mana kutahu!" gusar pemuda mungil itu. Ia berbalik, kemudian mengatur napasnya yang tak teratur. Pemuda berambut sebahu itu diam di tempatnya, tak melangkah pergi atau kembali duduk di bangkunya, hanya diam.
Alaude terus mengamatinya. Ia melihat wajah pemuda itu sekilas, bagaimana kemarahan serta kesedihan yang berkilat-kilat di manik violetnya, bagaimana ia ingin menumpahkan air matanya, bagaimana ia muak dengan sesuatu hal itu—hal yang belum diketahui Alaude. Entah bagaimana, Alaude melihat pemuda itu tengah mengarungi masa lalu, mencoba mengenang kembali suatu hal yang sepertinya baru saja dilupakannya. Ia kemudian mengambil napas panjang, berusaha menenangkan kemarahannya dan membuka kedua tangannya. Lalu sedetik setelahnya, cahaya yang menyilaukan mata berhamburan ke luar dan memenuhi pondok itu, memelesat ke luar jendela dan menyinari setiap sudut wajah Alaude. Alaude menarik sudut bibirnya, membentuk senyum puas.
"Bagus. Kita berhasil," sambutnya.
'Tapi hal itu sudah selesai. Pemanggil Matahari sekarang telah jatuh dalam kuasa kegelapan,' batin Alaude seraya menghela napas berat.
"Memang benar, bahwa dia mencintai otkazat'ya itu," Fong buka suara setelah terdiam cukup lama dan membiarkan Alaude selesai mengarungi memorinya, "tapi orang buangan itu sudah lama mati, Alaude," lanjutnya dengan nada rendah yang terdengar mengancam.
Tanpa membiarkan pria berambut platinum blonde itu membalas perkataannya, Fong berbalik dengan angkuh dan menyentuh pegangan pintu pondok, bersiap untuk melangkah ke luar dari sana, namun suara Alaude lebih dulu menahannya.
"Akan ada hal yang harus kau bayar dari semua tindakanmu, Kakak," desis Alaude tanpa berminat untuk berbalik atau sekedar melirik Sang Kelam yang berada dalam posisi memunggunginya.
"Dan hal yang harus kau bayar itu jauh lebih besar dari nyawa para petani, istri, dan anak-anak mereka yang telah menjadi volcra di dalam Shadow Fold," lanjut Alaude tanpa menaikkan nada suaranya.
Fong terdiam, sebelum akhirnya mendengus entah sudah ke berapa kali. "Aku tak peduli. Selama itu artinya aku bisa mencapai ambisiku dan menjadi Raja Ravka, aku tak pernah peduli apa yang harus kubayar dan kukorbankan," jawabnya. Pria bermanik hitam itu kemudian membuka pintu masuk pondok, lalu melangkah ke luar dan menutupnya dari luar.
Alaude masih membeku di bangkunya, matanya masih setia memandangi kobaran api yang masih menari tanpa lelah di dalam perapian. "Hal yang harus kau bayar itu jauh lebih besar dari nyawa orang-orang yang kau korbankan untuk membuat volcra—" pria itu menyipitkan matanya, kesedihan terpancar cukup samar dari matanya yang hanya sebuah.
"—dan bisa jadi, kali ini nyawamu lah bayarannya."
.
.
.
Lampo pasti masih akan melongo dengan mulut sedikit terbuka sampai pertemuan dadakan di kamar Fon yang digelar tanpa persiapan apapun itu dimulai jika saja G tidak mengibaskan tangannya di depan wajah pria berambut hijau berantakan tersebut tak sabar seraya menghardiknya, "Jangan melamun, oi!"
"M- maaf, G!" kata Lampo seraya memundurkan tubuhnya sedikit, tersadar tengah setengah menganga sembari memandangi pemuda Asia yang kini tengah duduk bersandar pada bantalan di kasurnya.
"Aku tahu, aku tahu. Kau juga tak menyangka dia masih hidup, kan?" tanya I-Pin seraya menggulirkan manik coklatnya pada Lampo.
"Oi! Bisa tidak sih kalian membicarakan hal lain? Objek yang kalian bicarakan tengah duduk di depan kalian tahu!" sembur Gokudera.
"Yaah, jangan salahkan kami. Kau tahu sendiri kan, waktu kita kabur dari gereja di Istana Kecil setelah Dokuro telah pingsan, dia orang yang menderita luka paling parah diantara kita," cetus I-Pin panjang lebar sembari mengangkat kedua bahunya.
"Mencoba berkata lagi, jangan harap jantungmu masih bisa berfungsi normal," ancam Gokudera seraya berancang-ancang mengoyakkan jantung gadis Asia itu.
"Yaah, bukan salahnya juga sih," Spanner ikut menimbrung sembari menggigit permen rasa stroberi yang kerap kali dimakannya. "Sebenarnya aku sudah merancang peti mati khusus kalau-kalau dia langsung meninggal setelah bangun dan memberi surat wasiat terakhir atau mungkin langsung menutup mata selamanya," cetusnya tak bersalah.
"… Sungguh sangat membantu, Spanner. Entah kami harus bersyukur atau mengutuk takdir karena kau ikut dengan kami ke mari," sindir Gokudera seraya mendengus keras.
"Sudah, sudah. Sebaiknya kalian berhenti, oke?" lerai Fon dengan nada setengah memaksa. Semua orang di sana saling berpandangan, kemudian kembali berfokus pada pemuda Asia berkepang tersebut.
G berdehem sejenak, meredakan atmosfer panas yang menyelubungi mereka sebelumnya. "Jadi, yaah, aku mengumpulkan kalian karena, pertama, Fon sudah bangun dari koma, dan kedua, karena kita harus secepatnya mengambil langkah untuk membawa kembali Dokuro Mammon," kata pria bertato api itu memulai pembicaraan.
"Kalau begitu langsung pada intinya saja," sergah I-Pin seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Bagaimana caranya kita membawa kembali Dokuro dengan jumlah kita yang sedikit sementara ia berada di tengah-tengah pengawasan ketat Sang Kelam dan tentaranya?" tanyanya sarkatis.
"Itu yang berusaha kita pecahkan, Nona Pintar," sindir G seraya menatap tajam gadis Asia itu.
"Tapi … bukannya itu tidak mungkin?" tanya Lampo sangsi. Ia masih bisa mengingat bagaimana penyerangan terakhir Sang Kelam hingga meluluhlantakkan Istana Besar dan Istana Kecil, di mana semua orang baik itu pelayan dan Grisha tewas mengenaskan. Rasiel yang merupakan pangeran pertama serta Giotto yang merupakan kapten tentara terbaik tewas dilahap nichevo'ya Sang Kelam, bahkan Lambo, salah satu Grisha Pemanggil Badai dari ordo Etherialki yang paling sering bertengkar dengannya yang seorang Pengoyak Jantung dari ordo Corporalki, juga tewas cukup mengenaskan di sana. Kalau mau jujur, Lampo masih cukup trauma dengan semua itu—bagaimana darah menjadi cat dinding dan pijakan kaki mereka, bagaimana tubuh-tubuh tak bernyawa menjadi penghias setiap jalan yang dilalui mereka, bagaimana jeritan yang melengking hingga membelah udara sebelum akhirnya mereka dilahap makhluk kegelapan Sang Kelam menjadi musik waltz yang menggantikan musik yang diputar di aula Istana Besar. Semuanya terlalu kacau dan … mengerikan.
"Tidak ada yang tidak mungkin," Fon menyergahnya tegas, tatapan manik karamelnya menajam, memancarkan keseriusan dalam kata-katanya.
"Kau lihat Dokuro Mammon, kan? Dia adalah salah satu contohnya, satu kemungkinan yang lahir diantara ketidakmungkinan. Satu-satunya Pemanggil Matahari yang lahir di tengah-tengah kemewahan yang menelantarkan anggota kerajaan dan ambisi Sang Kelam yang terselubung dibalik setiap tindakan patuhnya," kata G ikut angkat bicara.
I-Pin mengangkat bahunya lagi seraya menghela napas. "Sepertinya setelah memiliki anggota yang berhasil sadar dari koma selama dua bulan, kita punya anggota baru yang tertular fanatik," cetusnya.
"OI! Jangan menyamakanku dengan pendeta fanatik itu!" hardik G tak terima.
"Bisa kita berhenti? Aku ingin cepat-cepat meneruskan beberapa eksperimenku," cetus Spanner datar.
G mendecih sejenak, kemudian kembali berdehem dan melanjutkan, "Jadi … apa ada yang punya ide apa yang harus kita lakukan?" tanya pria bertato api itu.
I-Pin menepukkan tangannya. "Aku punya. Bagaimana kalau kalian sekap dulu Sang Pendeta dan kita ke luar dari sini? Berada di dalam gua selama dua bulan lebih sudah cukup membuatku muak," cetusnya.
"Seperti kita bisa menyekap orang fanatik itu saja," dengus G sinis.
"Dia kelihatan lemah—sangat lemah. Hanya bualannya saja yang bagus," balas I-Pin seraya berkacak pinggang.
"Sebenarnya, aku sedang mencoba membuat bom asap dan bom cahaya seperti waktu itu, tapi bisa dibilang sekarang lebih … efektif," Spanner angkat bicara.
"Entah kenapa terdengar kurang … meyakinkan," komentar Fon. "Bukan, bukannya aku meragukan alat buatan tangan jeniusmu, tapi … ada hal lain yang membuatnya kurang meyakinkan untuk mengeluarkan kita dari krisis ini," lanjutnya.
"Lho, kok?" Gumaman dari Ugetsu sontak membuat seluruh mata yang ada di sana segera mengalihkan pandangannya, menatap pria berambut hitam tersebut tengah menoleh ke segala arah, seolah mencari sesuatu dari seluruh penjuru ruangan.
"Oi, ada apa?" tanya G sedikit was-was. Pasalnya wajah Ugetsu terlihat cukup cemas, lagipula pria yang pembawaannya selalu tenang itu jarang mencari masalah ketika pertemuan serius seperti sekarang, apalagi sampai menyeletuk seperti tadi.
Ugetsu menatap seluruh rekannya, matanya memancarkan kebingungan sekaligus kekhawatiran karena tak berhasil menemukan apa yang dicarinya di dalam ruangan yang tengah mereka gunakan.
"Di mana Colonello?" tanya Ugetsu lirih.
.
.
.
Mammon mengetuk pelan pintu kayu pondok kecil di depannya, kemudian langsung membuka pintu itu sebelum mendengar pernyataan yang menyuruhnya masuk dari Alaude—Mammon tak terlalu peduli dengan itu, lagipula ia hapal mati bahwa pria bermata satu tersebut lebih memilih memandangi api ketimbang menjawab ketukan pintu dari luar. Mammon mendorong pintu kayu itu, mengintip ke dalam dan benar-benar mendapati Alaude yang duduk menatap perapian dengan posisi memunggunginya—persis sekali seperti dugaannya.
"Masuk, Nona. Kau membiarkan hawa panasnya ke luar," ketus Alaude tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Mau tak mau Mammon menaikkan sudut bibirnya, tersenyum tipis mendengar perintah yang tak pernah lenyap meluncur dari bibir Alaude semenjak pertama kali ia memulai pelatihannya. Menurut, pemuda violet itu menutup pintu kayu tersebut, kemudian mendekati Alaude yang masih tak bersedia menatapnya. Pemuda mungil itu kemudian sampai tepat di sebelah Alaude, dan tanpa meminta izin segera mendudukkan bokongnya di kursi kosong yang berada di sebelah pria itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Mammon berbasa-basi.
"Kau bisa melihatnya sendiri," jawab Alaude datar, matanya masih bertumpu pada api.
"Ng … Alaude …," Mammon cukup ragu memulainya, "aku … bisa aku meminta bantuan—"
"Berhenti di sana, Non."
Mau tak mau pemuda mungil itu membungkam mulutnya, lalu menatap Alaude tak mengerti. Alaude menggeser tempat duduknya, membuatnya kini duduk menyamping dan menatap sang Pemanggil Matahari tajam dengan matanya yang hanya sebuah. Mammon diam-diam meneguk ludah, merasa ada yang tak biasanya dari sikap Alaude padanya—maksudnya, ia tahu sikap pria bermata satu ini memang dingin, hanya saja ini tak seperti biasanya.
Tahu-tahu, pria berambut platinum blonde itu mendengus seraya menyeringai mengejek. "Bagaimana rasanya, Non?" tanyanya dengan nada mencemooh.
Mammon mengerjitkan dahinya, tak mengerti. "Apa maksud—"
"Bagaimana rasanya—menjadi calon pendamping penguasa kegelapan?" tanyanya sinis.
Mammon merasa tertohok, napasnya tertahan di tenggorokannya, jantungnya berpacu tak beraturan. Bukan, bukan seperti ini pertemuan yang diharapkannya dengan Alaude. Ia hanya ingin berbagi cerita dengan pria yang notabene adalah gurunya itu, ia ingin Alaude tahu bahwa ia tak sedikitpun setuju dengan keputusan Sang Kelam mengenai pernikahan itu. Ia berkunjung untuk meminta pendapat Alaude mengenai Penguat Gelombang ketiga Morozovanya. Kalau ia berhasil mendapatkan itu, mungkin ia bisa melawan tirani sang penguasa kegelapan—meski sekarang ia sendirian.
"Tung—dengar, Alaude, ini bukan seperti itu. Sang Kelam yang melakukan itu!" kata Mammon kalap.
"Dia melakukannya karena kau menyerahkan dirimu," kata Alaude tajam. "Kau seharusnya lari ketika di gereja itu," sambungnya.
"Dan menelantarkan yang lain di saat kritis hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri?! Persetan!" bentak Mammon tak terima, mata violetnya memelotot emosi.
"Aku sudah berusaha melenyapkanmu, bahkan karena itu aku tak peduli kehilangan mata ini," kata Alaude seraya menyentuh matanya yang tertutup eye-patch.
Ah, bagaimana Mammon lupa. Alaude yang memberitahunya semuanya mengenai sosok asli Sang Kelam, kebohongan yang selama ini disembunyikan pria penguasa kegelapan itu—semuanya. Alaude jugalah yang memberinya kesempatan untuk pergi selamanya untuk menghilang dan bebas. Sang Kelam mengetahuinya, dan ia terlalu murka mendengar semua kebenaran itu. Pria itu memberi Alaude sebuah tindakan atas pengkhiantannya dengan mengambil satu matanya—ya, Mammon sudah mendengar itu dari Alaude sebelum penyerangan di gereja kecil itu dan ia terpaksa menyerahkan diri.
"Dengar, Alaude, aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu—"
"Aku tak peduli apa yang terjadi padaku, Non," potong Alaude tajam. Ia menyipitkan matanya, membiarkan Mammon kembali menelan kata-katanya.
"Kau masih ingat apa yang kukatakan sebelum kau pergi pertama kali dari Istana Kecil?" tanya pria berambut platinum blonde itu.
Mammon mengangguk pelan, ia ingat betul jawaban pria itu, jawaban yang juga membuat tekadnya semakin kuat untuk meninggalkan Istana Kecil.
"Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau menolongku? Kalau kau adik dari Sang Kelam, kenapa kau menolongku, Alaude?" Mammon ingat ia bertanya hal itu pada pria bermata satu tersebut sebelum benar-benar pergi.
Alaude menggulum senyum tipis. "Dulu, ketika aku masih mengenal yang namanya keluarga. Aku dan kakakku itu seringkali bersaing dalam banyak hal, karena itu juga kami mampu mengendalikan kegelapan yang sama." Pria itu memejamkan matanya, mengenang memori yang sepertinya sudah lama sekali. "Kau berpikir aku tak menyayangi kakakku itu, tapi aku masih mengganggapnya keluarga, karena itulah aku tak akan membuatnya menghadapi penebusan dosa atau mati dalam ketamakannya."
Alaude menaikkan sudut bibirnya, tersenyum mengejek. "Aku membantumu pergi karena aku tak ingin kakakku menjadi monster. Keberadaanmu di sini sebelum penyerangan itu sudah cukup untuk membuatnya berharap ada cara lain yang akan membuatnya menguasaimu. Dan sekarang, karena kau telah menyerahkan diri. Tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk mencegah ketamakannya!" bentak Alaude dengan menaikkan nada bicaranya.
"Aku berusaha semampuku!" Mammon balas membentak. "Aku berusaha untuk mencegah lebih banyak korban, lebih banyak hal karena ketamakannya! Jadi aku datang ke mari untuk meminta bantuanmu!"
Alaude mendengus mencemooh, ia menggeser tempat duduknya lagi dan menatap api. "Apa yang bisa pria tua ini lakukan untuk membantumu, Non?" tanyanya.
Mammon berusaha mengatur deru napasnya. "Beritahu aku semua yang kau tahu tentang Penguat Gelombang Morozova," jawabnya.
"Lalu, apa yang kau lakukan ketika aku sudah memberitahumu? Kau akan berlari menuju calon pengantinmu dan merengek padanya untuk menemukan penguat gelombang itu?" tanya Alaude sinis tanpa berusaha menatap sang Pemanggil Matahari.
"Bantu aku, Alaude! Bantu aku menemukan Penguat Gelombang ketiga Morozova untuk melengkapi dua Penguat Gelombang yang sudah kukumpulkan!" mohon Mammon.
"Aku menolaknya. Aku tidak tahu apapun mengenai Penguat Gelombang Morozova yang ketiga. Kalaupun aku tahu, aku tak akan memberitahumu," cetus Alaude tegas.
"Aku tengah berusaha untuk menyusun rencana pergi dari sini dan menghancurkan Sang Kelam! Jadi, setidaknya beritahu aku apa yang kau tahu tentang Penguat Gelombang Morozova ketiga agar aku bisa lebih kuat dari Sang Kelam!" Mammon membekap mulutnya begitu menyelesaikan kalimatnya. Bukan itu yang ingin disampaikannya, ia hanya ingin agar Alaude membantunya dan ia bisa pergi dari istana lalu memperlambat gerak Sang Kelam untuk memenuhi ambisinya.
Alaude tertawa, tawa yang mencemooh. "Kau bicara cara untuk lebih kuat darinya. Kau bicara tentang kekuatan dan bukan cara untuk mencegahnya menjadi monster," katanya.
"Tidak, bukan—" Mammon mencoba meralat semua kata-kata yang sudah diucapkannya. "A- aku tak bermaksud, Alaude. Aku hanya ingin—"
"Cukup. Keluar," titah pria itu tegas, tanpa menatap sang Pemanggil Matahari.
"Tidak, dengar dulu, Alaude. Aku—"
"Keluar."
Mammon menahan napasnya, dadanya serasa sesak. Ia menatap lurus wajah Alaude yang masih enggan menatapnya dan memilih untuk memandangi api. Mammon tahu satu-satunya harapan dan orang yang bisa diajaknya bicara di tempat terkutuk ini hanya Alaude, tapi sekarang ia telah mengacaukan semuanya dan Alaude membencinya. Sekarang tak ada siapapun, dia benar-benar sendiri.
"Maaf …," kata Mammon lirih. Ia berdiri, kemudian berjalan mendekati pintu. Ketika hendak membuka pintu, pemuda violet itu menoleh ke belakang, memandangi punggung Alaude yang masih tak bergerak. Menggigit bibir bawahnya, Mammon membuka pintu, kemudian melangkah ke luar dan menutup pintunya.
.
.
.
—Kriieett …
"Hahi?" Haru mengerjapkan matanya begitu masuk ke dalam kamar yang Fon tempati, seluruh Grisha yang ada di sana memandangi mereka dengan wajah mengeras, seolah tengah berpikir amat keras.
"Ah, Haru. Kau lihat Colonello?" tanya Yamamoto tanpa basa-basi.
"Hahi? Colonello-san? Aku tidak lihat dia saat ke mari desu," jawab Haru seraya mengingat-ingat. Seingatnya, tadi hanya ada beberapa pengikut Luce yang dijumpainya di perjalanan.
"Kalau begitu, dari mana saja kau, Penjahit?" tanya I-Pin sembari melipat kedua tangannya di depan dada, kakinya mengetuk-ngetuk tanah, meminta jawaban.
"Itu … Haru membuatkan teh desu! Aku sadar aku memang tak bisa membantu apapun, tapi kurasa hanya ini yang kubisa …," kata Haru seraya memperlihatkan beberapa cangkir teh yang dibawanya menggunakan nampan.
"Jangan bilang kau membuatnya dari persediaan Sang Pendeta, aku takut dia mencampurnya dengan racun," cetus I-Pin mengeluarkan opininya.
"Sebenarnya aku juga sudah mencicipinya," kata Haru menambahkan.
"Oh, lupakan. Kita menggelar pertemuan ini bukan untuk duduk manis dan menyesap teh," dengus Gokudera.
Fon mengabaikan mereka semua dan menatap Haru. "Kau tahu di mana Colonello?" tanyanya.
Haru tampak menggeleng. "Aku tidak tahu di mana dia," jawabnya jujur.
"Oi, oi, apa mungkin dia kabur?" tuding Lampo.
"Tidak, dia tidak mungkin melakukan itu," sahut Fon yakin.
"Bagaimana kau bisa tahu? Dia dari Fjerda," cetus I-Pin.
"Lalu kau pikir dia akan kabur seperti tikus hanya karena itu? Kau lupa kalau Fjerda memilih untuk membakar para Grisha?" tanya Fon seraya menajamkan tatapan manik karamelnya.
"Memang bukan Fjerda tujuannya, tapi Sang Kelam!" cetus I-Pin. "Dia tahu di mana kita sekarang, dan Sang Kelam pasti sangat membutuhkan informasi itu. Dia bisa dapat uang dari sana."
"Tidak, dia bukan orang seperti itu," sahut Fon. Kali ini sebelah tangannya digunakan untuk mengelus dagunya. "Dia memang orang Fjerda, tapi dia bukan tikus licik semacam itu," tambahnya.
"Darimana kau bisa tahu?" tanya I-Pin sinis seraya berkacak pinggang.
"Pendeta …," kata Fon lirih.
"Hah? Apa?" tanya G sembari mengerjitkan dahinya.
"Tanyakan pada Sang Pendeta di mana Colonello …," suruh Fon dengan menatap setiap orang yang ada di sana, "entah bagaimana aku punya firasat wanita itu melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan kita dengan menggunakan Colonello."
.
.
.
Seorang lelaki berambut pirang dengan ikat kepala berwarna hijau berlari cepat diantara semak-semak istana yang cukup lebat. Lelaki itu mengawasi keadaan sejenak dari balik semak-semak dan mendapati beberapa Grisha dengan kefta merah tengah berdiskusi sejenak di lorong. Lelaki itu diam di tempatnya, menunggu sejenak sebelum akhirnya para Grisha itu lenyap. Lelaki pirang itu kembali berlari, memelesat dari semak ke semak, dari pohon ke pohon. Napasnya yang tak beraturan tak dipikirkannya, kakinya yang sudah merengek minta istirahat tak dipedulikan.
"Argh! Gila sekali, kora!" rutuk lelaki pirang itu pelan seraya mengacak rambutnya. Ia kembali bersembunyi dibalik sebuah pohon, kemudian langsung berlari setelah keadaan dirasa cukup aman. Sedikit lagi ia sampai di kawasan Istana Kecil, namun keberadaan orang yang dicarinya sama sekali tak terlacak olehnya.
"Sebenarnya dia di mana sih—Dokuro Mammon, Sankta Kecil itu?" tanyanya lebih pada diri sendiri.
.
.
.
"Bagaimana dengan keadaan di luar?"
"Tunggu sedikit lagi. Kita belum mendapat isyarat dari Grisha Fjerda itu."
"Tch, aku tak yakin dia bisa dipercaya. Jangan-jangan dia sedang membocorkan keberadaan kita pada Sang Kelam."
"T- tapi tidak mungkin, kan. Lagi pula, Sang Pendeta juga sudah percaya padanya."
"Jangan bodoh! Sang Pendeta itu buta—bahkan mungkin juga tolol sampai mau memercayai orang Fjerda!"
"Lalu kau mau apa? Kita belum dapat isyarat dari Grisha Fjerda itu, dan lagi kita juga tidak tahu seluk beluk istana untuk menemukan Sankta."
"Masa bodoh. Kita bisa menangkap hidup-hidup seorang Grisha dan memaksanya untuk memberitahu keberadaan Sankta, kurasa itu akan lebih cepat dibanding menunggu seperti ini."
"Sebelum kita berhasil melakukannya, Sang Kelam akan datang dan membabat habis kita semua. Dia bahkan juga bisa mendesak kita untuk memberitahu keberadaan Sang Pendeta dan para Grisha Sankta yang masih hidup."
"Sebelum itu terjadi, kita akan mengakhiri hidup kita lebih dulu."
"K- kau tidak bermaksud—"
"Terus menunggu juga tidak akan membuat Sankta terlepas dari belenggu Sang Kelam. Kita adalah orang-orang terpilih, orang-orang yang bersumpah mengabdikan hidup untuk Sankta! Kita ada di sini bukan semata perintah Sang Pendeta, tapi untuk kehadiran Sankta diantara kita!"
"Benar!"
"Setuju!"
"Hidup Sankta!"
"Nyalakan bomnya!"
Bunyi ledakan yang memekakkan telinga dan mengguncang tanah terdengar beberapa detik setelahnya.
.
.
.
Mammon nyaris kehilangan keseimbangannya jika saja ia tak menyenderkan tubuhnya di depan pintu pondok Alaude. Pemuda berambut sebahu itu segera menolehkan kepalanya ke berbagai arah, mendapati asap kelabu tebal yang menggumpal membumbung tinggi di dekat Istana Besar. Mammon menahan napasnya, apa mungkin itu para pembunuh bayaran Fjerda? Ia pernah diberitahu sekilas oleh Rokudo Mukuro bahwa orang-orang Fjerda dan Shu Han berencana membunuhnya setelah ia jatuh ke tangan sang penguasa kegelapan.
Mammon mendengus mengejek, mungkin dibanding tentara bayaran, mereka lebih cocok dikatakan sebagai orang-orang berpikiran pendek, apa mereka tak tahu bahwa Fong dapat menjatuhkan mereka dengan mudah seperti membalikkan telapak tangannya.
Sebuah ide sinting terlintas di benak sang Pemanggil Matahari tanpa diduga. Jika para pembunuh bayaran itu berulah di Istana Besar, bukankah itu berarti para Grisha yang lain akan sibuk menghadapi mereka? Mungkin Sang Kelam juga akan lengah sejenak karena serangan itu dan tak akan ada seorangpun yang akan memerhatikannya. Bukankah artinya ia bisa kabur? Masa bodoh apa yang menunggunya di luar sana, semenjak ia menyerahkan diri, Mammon merasa bahwa mati jauh lebih baik.
Pemuda berambut violet tersebut berlari ke arah Istana Kecil, berniat mengambil beberapa barang dari kamarnya. Pemuda itu melewati daerah pepohonan, berniat memotong jalan agar lebih cepat sampai di Istana Kecil.
—GREP!
Sebuah tangan mencengkram erat lengan sang Pemanggil Matahari tanpa diduga, lalu menariknya hingga punggung Mammon mencium dada bidang yang cukup keras—sepertinya ia seorang pemuda yang sering berlatih. Mammon berniat untuk menjerit, namun sebelum sempat melakukannya, tangan yang lain membekap mulutnya.
"Haaa, orang-orang tolol itu benar-benar sudah melakukannya sebelum perintah. Padahal sudah kubilang ledakan itu lebih cocok digunakan untuk melarikan diri, kora!" rutuk pemuda yang tengah membekap Mammon kesal.
'Eh?' Mammon melebarkan matanya. Bohong besar jika ia mengaku tak mengenali suara ini. Meski ia bukan salah satu suara yang masuk daftar Suara Yang Ingin Didengar Mammon Saat Ini, tapi suara pemuda itu mampu membuat Mammon merasakan secercah harapan. Mammon menolehkan kepalanya ke belakang, mendapati sosok yang sudah lama tak dilihatnya semenjak penyerangan terakhir sang penguasa kegelapan di istana, sosok yang ikut kabur bersama G, Gokudera, dan lainnya.
'Colonello?!'
.
.
.tbc.
.
.
A/N : Akhirnya chapter ini rampung juga, terus terang membuat terusan cerita ini bikin saya rada greget soalnya ending-nya udah kebayang dan terus menghantui saya sih /digeplak. Oiya, yang dimiringkan paragrafnya, itu balik ke masa lalu ya. Omong-omong gimana chapter ini? Makin absurd? Jangan sungkan bertanya di kotak review yaaa /o/
Kak eju : Haduh parah banget Kak, jangan-jangan Kakak ini termasuk sado? D: /gak. HAHAHHAHA JADI KAKAK SENENGNYA YANG KAYAK KAWIN PAKSA GITU?! /ngakak keras /saya keburu digeplak. Untung Kang Reborn, kayaknya nggak deh, saya bingung dia peran apa, tapi lihat nanti :")) Wah, aku jadi ngerasain Kakak tjintah Alaude x Mammon /bukan. Tenang Kak, untuk itu, biarkanlah dirimu berimajinasi /digeplak. Makasih ripiunya ya Kak XD
Terima kasih yang sudah menyempatkan diri membaca fanfiction ini sampai chapter ini, semoga nggak pada gonjang-ganjing dari chapter ke chapter ya orz mohon maaf untuk segala kekurangan yang ada di fanfic ini mulai dari OOC (pake banget), typo, ada gimana gimananya gitu(?), dan sebagainya. Yang mau cuap-cuap di kotak ripiu silakan, saya tunggu lho /kedipin/ /dihajarmassa. Sampai jumpa di chapter selanjutnya dan karya saya yang lain ya!
-Salam-
Profe Fest
