"Oi, Saint kecil, kau itu memang suka bersembunyi atau memang ingin menyusahkanku sih?" tanya Colonello dengan nada kesal. Mata biru mudanya menatap balik manik violet Mammon, namun Mammon dapat melihat sirat kelegaan yang tersembunyi dalam tatapannya.

"Hmph—ugugugu!" Mammon meronta, matanya memelototi lelaki pirang itu dengan kedua bola matanya, mulutnya masih terbekap.

"Apa, kora?! Kau mau memarahiku karena menarikmu ke mari?! Aku tidak punya pilihan! Mana bisa aku muncul dan berjalan seperti biasa di tempat ini sementara seharusnya aku sudah lenyap bersama G dan lainnya, kora!" sembur Colonello dengan tololnya.

"Ugugugugugu!"

"Apa hah?! Bicara yang benar dong, kora!"

Mammon melepaskan bekapan mulutnya. "Bagaimana aku bisa bicara kalau kau membekap mulutku, muu!?" protesnya kesal.

"Aa … maaf, maaf deh, kora," sungut lelaki pirang itu setengah terpaksa. Mammon mendengus, lalu menatap lelaki itu tajam.

"Apa yang kau cari di sini, Colonello?" selidik Mammon.

"Ah, aku datang menjemputmu, kora!"

"Haah? Menjemputku?" ulang Mammon sembari menatap lelaki pirang itu dengan tatapan 'apa-kau-sinting'.

"Aah. Kau nggak bisa di sini terus, kora! Di luar sana masih banyak yang membutuhkanmu," jawab Colonello serius. Mammon meluluhkan tatapannya, kalau Colonello tidak terprovokasi artinya yang dia katakan memang serius.

"Siapa yang butuh pertolonganku? Tolol," dengus Mammon sembari menatap objek lain dan menyunggingkan seringai mencemooh, mengejek dirinya sendiri.

"Justru kau yang tolol, kora!" bentak Colonello. "Dengar, G, Gokudera, dan seluruh Grisha yang berhasil kabur dari penyerangan terakhir—seluruh Grisha yang berada di pihakmu—masih menunggumu di luar sana tahu!"

Jantung Mammon kembali bergemuruh, matanya terbelalak, dengan cepat kembali menatap Colonello. "Kau bilang … apa?"

Colonello diam, namun mata biru mudanya tak beralih menatap sang Pemanggil Matahari, tanda bahwa dirinya serius—dan pemuda Dokuro itu tidak salah dengar.

"Kau bilang—" Mammon menahan napasnya, mencoba tak merasakan luapan asing yang memenuhi dadanya, "—G, Gokudera, dan yang lain … masih hidup?" tanyanya dengan suara tersekat.

.

.

Title: Last Hope

Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira

Grisha Trilogy by Leigh Bardugo

Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibily harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.

.

.

.chapter 4.

.

.

Untuk api:

Tolong bakarlah lagi semangatku, membaralah, dan terangi masa depan.

.

.

"Aah. Mereka semua—setiap Grisha yang berpihak padamu dan kabur dari gereja di Istana Kecil—masih hidup. Kami semua masih menunggumu, menunggu hingga muncul kesempatan membawamu dan menyusun rencana untuk menjatuhkan Sang Kelam lagi," jawab Colonello serius.

Mammon menatap kakinya yang berbalut sepatu kulit dengan mata melebar. Mereka masih hidup. Setiap hari Mammon memikirkan kematian dan larut dalam keputusasaan di Istana Kecil, tentang bagaimana ia akan menjadi alat Sang Kelam lagi, bagaimana ia akan menjadi monster untuk yang kedua kalinya sementara ternyata orang-orangnya ada di luar sana masih berharap dan percaya padanya, bahkan tetap menunggunya meski tahu bahwa Sang Kelam menjaganya amat ketat, bahkan mau melakukan hal berbahaya semacam ini; menyelamatkannya, menjemputnya.

"Mereka masih hidup …," gumam Mammon lirih, senang sekaligus terharu. Tiba-tiba juga ia merasa bodoh, kenapa ia meragukan para Grishanya dalam bertahan hidup? Karena mereka terbiasa hidup di Istana Kecil yang diliputi kemewahan? Karena ia ragu di mana sekiranya para Grishanya akan bersembunyi dari buruan Fong dan tentaranya?

"Tunggu, kalau begitu di mana kalian bersembunyi?" tanya Mammon sembari mendongakkan kepalanya, berusaha menatap Colonello yang lebih tinggi darinya.

"Kami menumpang di Katedral Putih. Selain cukup bagus dalam membuat isu dan menghasut orang, Sang Pendeta ternyata cukup pintar dalam menemukan tempat persembunyian," jawab Colonello.

Sang Pendeta, Luce! Bagaimana Mammon bisa lupa padanya? Mammon sudah mendengar kabar bahwa ia lenyap, bahkan ia sempat mengira dia sudah pergi entah ke mana dan melarikan diri, atau mungkin malah sudah masuk ke liang kubur.

"Katedral Putih?" Mammon membeo seraya mengerjitkan dahinya, sadar begitu ia tak mengenali nama tempat yang disebutkan Colonello padanya.

"Itu bisa nanti, kora!" sembur Colonello seraya menoleh ke segala penjuru. "Aku harus membawamu pergi dari sini dengan selamat untuk menemui yang lain di sana. Ayo!" Colonello menarik lengan sang Pemanggil Matahari, berupaya menyeretnya pergi.

"T- tunggu dulu!" Mammon mencoba tetap bertahan di tempatnya berdiri, mencengkram balik lengan Colonello yang menariknya.

"Apa lagi, kora?! Waktu kita tidak banyak! Kita harus pergi selagi orang-orang tolol yang juga diutus Sang Pendeta bersamaku mengulur waktu dan menyibukkan para Grisha!" sembur Colonello tak sabar.

"Kita tak bisa pergi begitu saja. Sang Kelam bisa memburuku dengan mengerahkan seluruh orangnya dan kalian bisa ditangkap!" kata Mammon.

"Itu bisa dipikirkan nanti, kora! Asal kau bersama kami, kami juga tak terlalu peduli, kora!" sergah Colonello.

"Justru karena itu kita tidak bisa memikirkannya nanti, muu!" Mammon bersikeras.

Colonello mendengus keras. Mammon tahu lelaki itu pasti benar-benar tak sabar untuk menariknya seperti sapi dan segera angkat kaki dari sini, tapi dia tidak peduli.

"Jadi, apa yang mau katakan, kora?" tanya Colonello setelah menarik napas dalam.

Mammon meneguk ludah sejenak sebelum akhirnya menatap balik manik biru langit milik lelaki pirang jangkung di hadapannya. "Sang Kelam memutuskan untuk membuatku menjadi alatnya sepenuhnya dengan cara menikahiku."

.

.

.

Suasana di arena ledakan yang cukup dekat dengan Istana Besar membuat para Grisha yang ada di tempat langsung kalang kabut. Para Corporalki terus berusaha untuk mengoyakkan jantung para otkazat'ya—orang buangan, orang biasa—itu, namun mereka cukup lincah untuk menghindari serangan Grisha. Beberapa Pemanggil juga hadir di sana dan mengirim angin ribut untuk melawan mereka. Sang Kelam juga hadir di sana, namun tak melakukan apapun. Pria bermanik hitam itu lebih memilih untuk menatap semua itu tanpa mengatakan apapun.

"Kufufu, moi soverenyi." Suara itu membuyarkan fokus sang penguasa kegelapan. Fong berbalik, menemukan Rokudo Mukuro dan beberapa orang di belakangnya tengah membungkukkan badan padanya bak seorang lelaki gentleman.

"Kau terlambat, Mukuro," kata Fong dengan nada rendah seperti mendesis, nada angkuh terdapat dalam setiap kata-katanya yang terlontar.

"Mohon maafkan kelalaian saya, moi soverenyi," ucap Mukuro lagi dengan kepala ditundukkan lebih dalam.

Sang Kelam tak menjawabnya, ia kembali membalikkan badannya, menonton pertarungan yang tengah berkecamuk itu tanpa ekspresi berarti seolah pertarungan tersebut tak lebih dari pertunjukan jalanan yang membosankan.

"Kau tak membantu?" tanya Mukuro sembari melangkah dan berhenti tepat di samping pria itu, ikut menonton pertarungan itu.

"Ada hal lain yang lebih penting untuk kulakukan," jawab Fong dingin. "Kuserahkan yang di sini padamu, Mukuro. Usahakan jangan bunuh para otkazat'ya itu, dan tangkap mereka hidup-hidup," sambungnya.

Sebelah alis Mukuro terangkat. "Sejak kapan kau menjadi seorang pengampun?" sindirnya.

"Siapa yang mengampuni mereka?" Fong balas bertanya, dibalasnya tatapan manik dwiwarna Mukuro dengan jelaga hitamnya yang dingin dan angkuh. "Mereka menggunakan bom asap dan bom cahaya yang mirip dengan para Grisha Pemanggil Matahari gunakan pada saat penyerangan terakhirku yang memukul mundur seluruh anggota kerajaan dan Grisha lain. Para Grisha yang tersisa dan berpihak pada Pemanggil Matahari kubiarkan hidup dan kabur saat itu. Artinya, orang-orang ini bekerja sama dengan mereka dan mengetahui di mana keberadaan para Grisha itu, bisa jadi juga orang-orang buangan ini adalah suruhan mereka—atau bisa juga pengalihan," jelas pria bermanik hitam itu panjang lebar tanpa menatap Mukuro.

"Hoo …," Mukuro menyeringai lebar. "Tapi, bagaimana jika mereka terus melawan saat kami berusaha menangkapnya, moi soverenyi?" tanyanya.

Fong menyeringai tipis, terlihat dingin namun juga berbahaya. "Kalau begitu, setidaknya sisakan satu orang diantara mereka."

"Moi soverenyi," jawab Mukuro seraya membungkuk. Ia menyuruh orang-orangnya pergi melakukan perintah itu dengan tatapan mata, orang-orang tadi segera lenyap dan masuk ke medan pertempuran.

"Lalu, hal penting apa yang akan kau lakukan?" tanya Mukuro masih setia berdiri di tempatnya.

"Sudah jelas, kan—" Fong menaikkan sudut bibirnya, kemudian berbalik dan menyunggingkan seringainya lagi pada Mukuro.

"—untuk menyelamatkan sasaran para otkazat'ya itu sekaligus calon pendamping hidupku, Dokuro Mammon."

.

.

.

"Hah?! M- menikah?!" teriak Colonello seraya melebarkan matanya.

Mammon meringis sembari menutup telinganya. "Kau itu bisa tidak sih mengecilkan suaramu sedikit?" sindirnya.

"Habis mana kusangka coba, kora! Kukira dia straight, ternyata bi. Denganmu lagi, kora!"

"Hei!" Mammon memelototkan manik violetnya.

"Maaf, maaf, bercanda kora." Colonello menggaruk belakang kepalanya—yang Mammon yakini pasti sama sekali tak gatal. Ia kembali menatap Mammon dengan tatapan seriusnya. "Lalu, kenapa kau tidak mau pergi? Bukannya kalau begitu kau dalam posisi terdesak? Kalau kau ikut—"

"Kalau aku ikut, Sang Kelam akan memburuku dan kalian tak peduli sampai ujung dunia sekalipun," potong Mammon tegas.

"Lalu apa, kora? Kau mau membuat kami menunggu lebih lama lagi dan membuatmu jadi alat Sang Kelam seutuhnya?" sembur lelaki pirang itu.

Mammon menatap ujung sepatunya, kemudian menggigit bibir bawahnya. Jika ia ikut maka Sang Kelam pasti akan mengejarnya, memburunya dan seluruh orang-orangnya menggunakan seluruh resimen yang dia punya. Mereka akan diburu seperti binatang, dicari hingga hari-hari terasa lebih baik mati. Mammon sudah pernah merasakannya, dan ia tak ingin para Grishanya merasakan hal yang sama. Andai Belphegor masih ada, setidaknya Mammon tak perlu mencemaskan keadaan dan jumlah mereka karena mereka punya sekutu seorang pangeran kedua Kerajaan Ravka. Tapi tidak mungkin juga membiarkan mereka menunggu lebih lama, setidaknya mereka harus menerima sesuatu sebagai tanda bahwa Mammon sudah menerima kabar tentang keberadaan mereka. Lagi pula mereka sudah cukup lama bersembunyi tanpa melakukan apapun.

"Oi, Mammon—"

"Penguat Gelombang ketiga Morozova."

"Hah? Apa?"

Mammon mencengkram lengan lelaki pirang itu kuat-kuat, menatap lurus manik biru langit si pemuda tanda bahwa ia tak main-main. "Dengar, katakan pada mereka bahwa aku memilih tinggal di sini agar keberadaan mereka tetap aman, kalian semua adalah harapanku. Tapi aku tahu menunggu saja juga tak akan membuat kita selangkah lebih maju mengalahkan Sang Kelam, kita harus menemukan Penguat Gelombang ketiga Morozova. G dan Gokudera tahu apa yang harus dilakukan, mereka selalu mengikuti rapatku dalam menemukan Penguat Gelombang itu dengan Belphegor dulu di Istana Kecil. Mereka pasti masih ingat hal terakhir yang kami bahas ketika rapat; aku menyangkutkan keberadaan penguat gelombang itu dengan julukan dari fanatik yang termakan bualan dari Sang Pendeta di luar sana, Rebe Dva Stolba. Oke, jangan pedulikan yang dimaksud putri di sana, fokus pada Dva Stolba yang berarti Dua Mil. Suruh mereka pecahkan apa maksudnya." Mammon mengatakan itu dengan cepat namun teratur sehingga Colonello dapat menangkap apa maksudnya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan di sini?" tanya Colonello tak puas.

"Aku juga akan mencoba melacak tempat itu dari sini. Firasatku mengatakan bahwa ini ada hubungannya dengan Keramzin, tempatku dulu dibesarkan, tapi aku tak yakin. Aku akan mencoba mencari lebih banyak dari buku yang diberikan Luce dulu padaku—Istorii Sankt'ya. Buku itu membuat Sang Kelam sadar bahwa satu Grisha bisa memakai lebih dari satu penguat gelombang dan tempat di mana Rusalye berada. Artinya buku itu juga memiliki petunjuk di mana tempat burung api," jawab Mammon panjang lebar.

"Lalu bagaimana jika G atau Gokudera tidak tahu apapun mengenai itu? Bagaimana kalau mereka tak memiliki petunjuk soal tempat burung api itu?" tanya Colonello lagi.

"Karena itu—" Mammon menatap Colonello dengan tatapan yang lebih yakin dari tatapannya ketika menjawab dua pertanyaan sebelumnya, "—aku akan memintamu untuk membawa seseorang."

.

.

.

"Jadi," Alaude menggeser bangkunya, menatap sang Pemanggil Matahari dan seorang lelaki pirang asing baginya yang masih berdiri mematung di depan pintu pondoknya dengan tajam, "ada keperluan apa hingga Saint Kecil dan Grisha Fjerda mau mendatangiku?" tanyanya datar.

Mammon maju selangkah dengan langkah yang mantap. "Tolong aku, Alaude. Tolong ikutlah dengannya," pintanya.

"Untuk apa?" tanya Alaude pendek.

"Bantulah kami untuk menemukan Penguat Gelombang ketiga Morozova," pinta Mammon.

Alaude mendengus keras. "Kutolak."

"Aku mohon Alaude!" pinta Mammon keras, suaranya sedikit putus asa. "Ini kesempatan terakhir kita—kesempatan terakhir-ku—untuk memperbaiki semuanya! Pergilah bersama mereka untuk mencari letak Penguat Gelombang ketiga itu."

Alaude menghela napas panjang. "Kau tak memikirkan apapun selain penguat gelombang itu. Sebentar lagi, kau akan sama dengannya. Dibutakan oleh ketamakan, haus akan—"

"Aku mohon, Alaude!" Entah sejak kapan Mammon sudah tiba di depan pria berambut platinum blonde itu dan menjatuhkan diri di depan si pria. Kepalanya tertunduk dalam, namun suaranya barusan seperti menahan tangis.

"Aku tak bisa melihat itu lagi …," kata pemuda violet itu lirih. Memori pahit itu kembali menariknya ke masa lalu, ia bisa melihat itu lagi, bagaimana suara ledakan yang memekakkan telinganya, bagaimana kerasnya terpelanting di lantai, seperti apa luapan sakit yang menyesakkan dadanya kala melihat orang itu terbaring kaku. Mammon mendongakkan kepalanya, menatap mata Alaude yang hanya tinggal sebuah dengan tatapan seriusnya.

"Aku sudah melihat bagaimana orang yang kucintai mati. Aku bahkan sama sekali tak bisa melihat tubuhnya dikuburkan di tanah dengan layak," Mammon mati-matian menahan agar suaranya tak serak dan air mata menuruni pelupuk matanya. "Karena itu, aku mohon padamu, Alaude. Bantu kami! Kau juga tak ingin melihat Sang Kelam berubah menjadi monster kan? Ini kesempatan terakhir. Kalau … kalau pada akhirnya aku bukannya menghentikannya dan malah menjadi sepertinya—" Mammon menarik napas, berdoa semoga pilihannya tepat.

"—bunuh aku dengan tanganmu sendiri."

Colonello membeku di tempatnya berdiri, namun dua bola mata biru langitnya memancarkan keterkejutan. Alaude menatap balik sepasang kelereng violet cantik milik pemuda mungil di depannya, menimbang pilihan yang akan diambilnya. Mammon balas menatap pria itu, membiarkan atmosfer di dalam ruangan menegang.

Alaude menghela napas panjang. "Baik, kuterima," putusnya.

"Jadi kau—" Mammon bangkit, wajahnya menyiratkan kelegaan.

"Jangan salah paham, Non," potong pria bermata satu itu seperti mendesis. "Aku memberimu kesempatan terakhir ini karena aku tak ingin melihat kakakku memperoleh penebusan dosa lebih awal."

"Ya, ya. Tentu saja, muu." Tapi Mammon tersenyum dengan wajah penuh kelegaan, menunjukkan ia tak terlalu memikirkan kata-kata Alaude barusan.

Alaude berdiri dari bangkunya. "Lalu, apa yang mau kau lakukan, Non?" tanyanya.

"Aku akan mengulur waktu dan menghadap Sang Kelam, lalu memintanya mengembalikan Istorii Sankt'ya yang diberikan Luce untukku," jawab Mammon mantap.

"Bagaimana dengan orang-orang suruhan Sang Pendeta di luar sana?" Colonello akhirnya ikut buka mulut.

"Itu dia. Aku ragu Sang Kelam akan membunuh mereka semua. Dia pasti akan menyisakan setidaknya satu orang untuk diinterogasi mengenai untuk siapa dia bekerja, di mana tempat persembunyiannya, dan lainnya. Aku harus muncul ditengah interogasi itu—harus. Mungkin aku bisa membebaskannya dan kalian bisa membawa orang-orang yang selamat bersama kalian," jawab Mammon.

"Aku ragu Sang Kelam memiliki kemurahan hati yang sebaik itu," cetus Alaude.

"Aku tahu," sahut Mammon. Ia teringat seperti apa bentuk kemurahan hati pria bermanik hitam itu yang sebenarnya jauh dari kata kemurahan hati.

"Lalu apa yang kau harapkan?" tanya Alaude sinis.

Mammon melemparkan tatapan tajamnya pada kedua lelaki itu, mengirim sebuah tekad yang terpancar dari sana.

"Aku akan meyakinkan Sang Kelam bahwa aku sudah terjatuh padanya—selamanya. Jika pernyataan itu dikatakan di depan khalayak ramai, maka persetase Sang Kelam melepaskan orang itu akan semakin meninggi. Setelahnya, ia akan dibiarkan keluar hidup-hidup dari Os Alta dan kuharap kalian bisa menjemputnya—" Mammon mengambil napas, merencanakan hal tersebut kurang dari kurun satu jam benar-benar membuatnya nyaris gila, membuat dadanya meletup-letup sinting tak terkira.

"—pertarungan kita dengan Sang Kelam baru akan dimulai sebentar lagi."

.

.

.

Jeritan melengking penuh kesakitan membelah ruang eksekusi istana. Seorang pemuda dengan pakaian biasa yang merupakan salah satu pelaku ledakan keras di dekat Istana Besar didudukkan di kursi eksekusi, beberapa tentara Sang Kelam mengelilinginya, menatap datar penderitaannya tanpa ekspresi. Pemuda itu baru saja dicabut kuku ibu jarinya, darah mengucur deras dari lukanya. Fong duduk di singgasananya tanpa ekspresi, sementara Rokudo Mukuro yang memimpin jalannya interogasi semi eksekusi itu tampak menyeringai puas.

"Apa kau sudah tahu jawaban atas pertanyaanku barusan?" tanya sang penguasa kegelapan sembari memangku dagunya.

Pemuda biasa itu tampak berusaha keras mengatur napasnya yang memburu, menahan air matanya agar tak meleleh lebih banyak lagi. Yang barusan pastilah amat sakit untuknya, namun ini cara tercepat untuk mendapat informasi dari pelaku ledakan tersebut yang sepertinya mengetahui di mana letak para Grisha Pemanggil Matahari yang kabur dari gereja saat Penyerangan Terakhir. Dan untuk informasi lain, hanya pemuda itu yang tersisa dari kelompoknya. Sang Kelam tampak memutar bola matanya, bosan sekaligus tak puas dengan semua ini.

"Rokudo Mukuro," panggil sang penguasa kegelapan, "bisa kau jelaskan kenapa hanya tinggal satu otkazat'ya yang kau sisakan untuk interogasi ini?" tanyanya tajam.

"Kufufu, mohon maafkan saya, moi soverenyi," kata Mukuro sembari membungkukkan badannya dalam, namun seringai di bibirnya sama sekali tak lenyap. "Orang-orang dari kelompok ini terlalu disayangkan untuk disisakan. Jadi, setidaknya, saya berhasil menyisakan satu orang dari mereka," jelasnya.

"Kau terlalu banyak bersenang-senang," dengus Fong. "Jangan lengah atau kau akan berakhir sama seperti Daemon Spade yang mati di tangan G, Pengoyak Jantung sang Pemanggil Matahari."

"Akan kuingat, moi soverenyi." Mukuro kembali membungkukkan tubuhnya lebih dalam. "Sepertinya mood Anda sedang tak bagus ya, moi soverenyi," selidik Mukuro seraya melirik sang penguasa kegelapan dengan mata dwi warnanya.

Fong terdiam, matanya tak berfokus pada satu arah, seolah dia tengah menyeberang jauh sekali ke dimensi yang lain.

"Aku tak berhasil menemukan Pemanggil Matahari," akunya.

"Oya?" Mukuro tampak mengerjapkan mata dwiwarnanya, namun seringainya tak mengendur begitu mendengarnya. "Apa Anda ingin kami ikut turun tangan untuk menemukannya?" tanyanya.

"Setelah interogasi ini aku akan menemukannya," jawab Fong tenang, namun begitu yakin dan angkuh. "Mammon tak akan bisa lari terlalu jauh dariku, apalagi setelah pelacak buangan itu tewas. Dia tak punya alasan untuk lari," sambungnya.

"Kufufu, bukankah Anda juga cukup meremehkannya?" tanya Mukuro seraya mengangkat sebelah alisnya.

Fong mengangkat sudut bibirnya, menyunggigkan seringai percaya diri. "Dia tak punya siapapun. Seluruh Grisha yang berpihak padanya menghilang—dan kita juga masih memburunya—, dia tak punya tempat untuk kembali, dan yang terpenting adalah otkazat'ya itu sudah mati," katanya dengan nada percaya diri.

Mukuro menaikkan sudut bibirnya, kemudian kembali menoleh pada pemuda biasa itu. "Nah! Katakan pada kami, di mana tempat persembunyianmu!" teriaknya dengan suara menggelegar.

Namun pemuda itu diam, tak mengatakan apapun selain 'hidup Sankta', 'berjayalah Pemanggil Matahari', dan lainnya.

"Kau tengah berhadapan dengan calon rajamu." Fong buka mulut, suaranya tetap tenang tanpa dinaikkan. "Jadi, beritahukan padaku, di mana kau dan kelompokmu membawa calon pendampingku."

"Ada apa kau mencariku, moi soverenyi?"

Sang Kelam melebarkan matanya sejenak, sebelum akhirnya memejamkan matanya dan menoleh ke asal suara. Mammon berdiri di ambang pintu ruang eksekusi istana, tatapan manik violetnya sama sekali tak gentar. Kedatangan sang Pemanggil Matahari barusan amat mendramatisir, bahkan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hening ruang eksekusi yang tadinya penuh jeritan melengking dan teriakan menggelegar.

Manik violet Mammon dan jelaga hitam Fong bersirobok dalam satu jalur pandangan yang lurus, keduanya sama-sama tak bersuara, menyampaikan suatu hal tersirat yang tak dapat dituangkan dalam bentuk kata-kata. Namun ada hal lain yang sang penguasa kegelapan sadari; bahwa sepasang kelereng violet bak kopian permata itu memancarkan tekad baja serta keinginan hidup yang jauh lebih kuat dari sepanjang hari-harinya di dua bulan terakhir ini, selama ia ditawan di Istana Kecil.

"Mammon," suara tenang Sang Kelam terdengar membelah atmosfer tegang yang melingkupi seluruh ruangan, "sungguh sebuah kebahagiaan tersendiri untukku dapat melihatmu baik-baik saja, Pemanggil Matahari-ku."

"Aku sendiri cukup lega melihat Anda tak terluka, moi soverenyi," sahut Mammon seraya menekuk lututnya.

"Apa yang membuatmu berpikir aku akan terluka?" tanya Fong.

"Para otkazat'ya ini meledakkan bom di dekat Istana Besar lalu membuat kekacauan di sana. Bukankah itu jauh lebih terlihat bahwa Anda lah yang dijadikan sasaran oleh mereka?" Mammon balik bertanya.

Sang Kelam menatap tajam keping violet Mammon, namun Mammon tetap berusaha membalasnya meski rasanya ia lebih ingin menatap ujung sepatunya ketimbang memandangi jelaga hitam licik tersebut.

"Itu cukup masuk akal," jawab Fong tenang. "Tapi pemuda yang merupakan anggota kelompok penyerangan tersebut terus menerus menyebut dan mengagungkanmu, Mammon."

"Lalu kenapa?" tanya Mammon tanpa beban. "Mereka mungkin termasuk para fanatik yang termakan bualan Luce di luar sana. Pendeta itu menghilang tanpa jejak dari istana bukan? Sejak awal aku bertatap muka dengannya, dia seperti tak menyukaimu, moi soverenyi. Mungkin dia berusaha menyingkirkanmu dengan menggunakan orang-orang yang berhasil dihasutnya atas namaku, itu semua agar terjadi perpecahan diantara kita," jelasnya panjang lebar.

"Perpecahan apa yang mereka inginkan, hm?"

Mammon meremas ujung kefta biru tuanya erat, mati-matian ia berusaha tak memuntahkan isi perutnya yang entah kapan terakhir kali diisi.

"Untuk … membuat kita bertikai sebelum penobatanmu sebagai raja dan peresmianku sebagai pendamping hidupmu, moi soverenyi," jawab Mammon sembari menekuk lutut dengan menundukkan kepalanya.

Sang Kelam terdiam, meneliti dari ujung kepala hingga ke ujung kaki pemuda berambut sebahu di hadapannya. Cukup lama hingga akhirnya ia menghembuskan napas.

"Aku paham. Ini pasti hal yang berat untukmu, Mammon," kata Fong penuh simpati.

Mammon meneguk ludah. "Terima kasih sudah bersimpati, moi soverenyi," ucapnya.

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan," Fong kembali menatap pemuda yang tengah dieksekusinya, Mammon menahan napas dan sontak menegakkan kepalanya syok, "kita buat otkazat'ya ini untuk membuka mulutnya dan mengatakan siapakah otak yang nyaris membuatku dan Mammon bertengkar kecil. Jika ia tetap tak mengatakannya, kita buat dia menderita hingga ia memohon sendiri untuk kematiannya dan—"

"—T- TUNGGU DULU!"

Sang Kelam kembali menoleh pada pemuda berperawakan seperti wanita tersebut, begitu juga setiap pasang mata lain yang dimiliki oleh setiap orang yang ada di sana. Mammon meneguk ludah paksa, berusaha tak terdengar membela mereka namun tetap dapat menyelamatkan orang-orang tersebut.

"Moi soverenyi, maukah kau mendengar pendapatku dalam hal ini?" tanya Mammon sembari membungkukkan badannya.

"Apa itu?" tanya Fong seraya melayangkan tatapan tajamnya pada sang Pemanggil Matahari.

"Bukankah akan lebih baik jika kita bebaskan pemuda ini? Agar ia bisa kembali pada dalang dalam penyerangan ini dan membuatnya menuturkan keagungan Anda pada mereka. Selain itu, agar mereka berpikir kembali bahwa … bahwa penyerangan mereka tidak berpengaruh apapun padamu, pada kita. Penyerangan seperti apapun … semua itu tak akan dapat memecahkan kita," jawab Mammon panjang lebar dengan kepala tertunduk dalam.

Tak ada suara apapun setelahnya, Mammon merasakan keringat mengalir lebih deras dari pelipisnya, bahkan tanpa sadar ia kembali meraba luka kecil di telapak tangannya yang masih berbekas hingga sekarang. Kumohon, setujulah. Kumohon jangan curiga. Kumohon. Kumohon—

"Baik. Aku paham." Kata-kata Fong langsung membuat Mammon menegakkan kepalanya, menatap pria bermanik hitam tersebut tak percaya, begitu juga dengan setiap orang yang hadir di ruangan tersebut. Fong menatap pemuda yang tengah dieksekusinya tanpa ekspresi, menyadari bahwa tatapan pemuda tersebut jauh lebih kepada Mammon dibanding dirinya.

"Akan sangat tidak pantas bagiku untuk menolak permintaan dari calon pendampingku. Karenanya, atas permintaan Pemanggil Matahari, akan kubebaskan pemuda ini agar lari tunggang-langgang pada pimpinannya dan tak mengganggu hubunganku dan Mammon," kata sang penguasa kegelapan tenang sebelum akhirnya kembali menatap pemuda itu tajam.

"Singkirkan dia dari hadapanku," titahnya lagi sembari berdiri dari singgasananya dan berbicara dengan Rokudo Mukuro. Beberapa tentara yang tadi sempat mengelilingi si pemuda maju, kemudian melepaskan ikatan pemuda tersebut. Mammon tak bergerak dari tempatnya berdiri, matanya tak beralih dari pemuda itu—yang juga sama menatapnya. Bibir pemuda itu bergerak terus menerus, membuat Mammon mau tak mau membaca gerakan bibir itu dan segera meneguk ludahnya.

"Terpujilah kau, Sankta. Terpujilah kau."

.

.

.

Satu per satu tentara pribadi Sang Kelam melangkah ke luar dari ruang eksekusi tersebut. Beberapa diantaranya melangkah ke luar sembari mencibir bahwa Pemanggil Matahari terlalu lembek dalam urusan tersebut, ada juga yang mengatakan bahwa Pemanggil Matahari hanya pintar mencari muka di depan otkazat'ya itu dan Sang Kelam. Namun Mammon tak memedulikan semuanya, ia sibuk dengan pikirannya sendiri sembari berjalan sepanjang lorong di Istana Kecil.

Apa Fong bisa tertipu semudah itu? Tidak, itu tidak mungkin. Lalu, apa ia berpikir aku memang sudah terlalu putus asa dan memilih untuk menurutinya? Bukan, kurasa bukan. Lalu kenapa? Apa yang dipikirkan pria itu. Dia bukan pria naif, aku tahu itu. Lalu kenapa?

"Kelihatannya kau sangat sibuk, Mammon."

Mammon tersentak, suara tenang dan dingin itu amat familiar baginya, mengiriminya sebuah sengatan kecil yang amat ditakutinya dan segera membuat kedua kakinya berhenti melangkah. Dengan cepat pemuda violet tersebut membalikkan tubuhnya, namun secepat itu juga Fong mengunci kedua tangannya dan menyudutkannya di dinding lorong. Mammon merasa pelipisnya meluncurkan keringat dingin, ia ketakutan.

Mata kedua lelaki itu bertemu pandang, namun dari segi manapun, jelaga hitam sang penguasa kegelapan jauh lebih tenang terkendali dibanding permata violet Mammon. Mammon meneguk ludah, ia berusaha menggerakkan kedua lengannya yang dikunci, namun menggerakan satu jarinya saja terasa amat sulit.

"Dengar ini, Mammon," kata Sang Kelam dingin. Suaranya begitu pelan seperti berbisik, namun terdengar mendominasi dan sedikit mengancam. "Aku tidak tahu apa rencanamu, aku belum tahu. Tapi, begitu aku tahu apa yang kau rencanakan, jangan pernah berharap kau bisa kabur dariku. Kau paham, kan?"

Mammon menggigit bibir bawahnya. Aku tidak akan berteriak. Aku tidak akan berteriak. Pemuda mungil itu mengatakan itu berulang kali dalam hatinya. Mammon ingin menutup matanya, namun jika ia melakukannya ia tak akan tahu apa yang akan dilakukan pria sinting ini ke depannya.

"Kau masih ingat apa yang pernah kukatakan dulu, Mammon?" tanya Fong. Bola matanya yang berwarna sama dengan kefta hitam yang dikenakannya tetap menatap Mammon tajam, tak mengalihkannya dari wajah cantik si pemuda mungil.

"Aku akan memburu semua orang yang kau kenal, semua orang yang kau sayangi. Aku akan melakukannya pada setiap eksistensi yang kau sayangi. Dan ketika aku tahu di mana mereka meringkuk untuk bersembunyi, aku akan memburu mereka, kemudian membunuh mereka semua—" Sang Kelam mendekatkan wajahnya, kemudian berhenti tepat di depan telinga Mammon yang mungil.

"—hingga tak ada siapapun yang kau miliki, kecuali aku," lanjutnya.

Tanpa membiarkan Mammon membuka mulutnya, pria berwajah oriental itu menjilati telinga itu, membuat Mammon mau tak mau merasakan sengatan kecil yang membuat sekujur tubuhnya serasa menegang.

"… H- hentikan— k- kumohon— Fong—"

Mata hitam sang penguasa kegelapan melirik wajah pemuda mungil tersebut, namun hal itu tak lantas membuatnya berhenti. Pria itu membuka mulutnya, kemudian menggigit telinga sang Pemanggil Matahari. Mammon menutup matanya erat sembari menggigit bibirnya, menahan suaranya agar tak ke luar.

Tak berhenti sampai di sana, pria bermanik hitam tersebut turun ke leher, kemudian kembali menggigiti leher jenjang yang menjadi tempat ikat tali dari tanduk rusa Morozova—Penguat Gelombang Pertama Morozova milik Mammon—berada, menjilatinya, dan melumatnya. Mammon merasa kakinya lemas, dan tanpa sadar meloloskan sebuah erangan kecil yang tertahan. Cukup lama mereka berada dalam posisi tersebut sebelum akhirnya Fong menjauhkan wajahnya dari leher kurus Mammon dan melepaskan kuncian pemuda mungil itu. Tubuh Mammon jatuh mengikuti gravitasi, ia membekap mulutnya, berusaha mengatur deru napasnya yang memburu dan wajahnya yang cukup memerah.

"—ku …" ujar Mammon lirih.

"Apa?" tanya Fong, tak mendengar kata-kata sang pemuda.

"Kembalikan bukuku …," desis Mammon dengan suara yang lebih jelas. Ia mengangkat wajahnya, kemudian menatap tajam wajah sang penguasa kegelapan yang masih menatapnya tanpa ekspresi meski rona merah di wajahnya belum sepenuhnya lenyap.

"… Istorii Sankt'ya. Buku yang diberikan Luce padaku—kembalikan itu sekarang juga!"

.

.

.

.tbc.

.

.

.

A/N : Aduh akhirnya ini bisa di-update ya o)—( /plak. Btw saya mau ngasih tau beberapa hal di sini. Penguat Gelombang Morozova atau penguat gelombang yang dipakai Mammon itu termasuk ke dalam penguat gelombang langka yang hewannya (penguat gelombang biasanya bagian dari hewan yang memiliki kekuatan magis tersendiri) bisa dibilang cukup purba. Penguat Gelombang Morozova yang disebut-sebut ini ada tiga, jadi semacam seperti puzzle gitu. Yang pertama adalah tanduk dari Rusa Morozova, rusa ini berbulu putih dan ada anggapan bahwa mereka hanya dongeng belaka—namun mereka sebenarnya sungguhan ada dan sering berpindah dari Tsibeya, bagian utara Kerajaan Ravka, dank e Fjerda. Kedua adalah gelang dari sisik naga air Rusalye. Sama seperti Rusa Morozova, Rusalye juga sering dikatakan sebagai makhluk dongeng, namun pada akhirnya berhasil ditemukan di wilayah jalur laut yang dinamakan Bone Road. Nah, yang terakhir disebutkan dalam buku Istorii Sankt'ya adalah burung api yang entah letaknya di mana. Sebenarnya yang berhasil menemukan Rusa Morozova dan Rusalye adalah Fon, nah lalu hewan-hewan tersebut dibunuh oleh Fong dan beberapa bagian pentingnya diambil lalu dijadikan penguat gelombang untuk Mammon.

Reader : Waah, terima kasih mau review ngepas pas saya mau ngelanjutin ini nih, jadi makin semangat deh~ /ei. Omong-omong aku rada bingung sama kata-katamu :"D /plak. Tapi, makasih banget dengan dukungan dan doamu. Aku terharu banget :")) Terima kasih banyak, semoga kamu tetap menikmati fanfic ini sampai terakhir, ya.

Kayaknya segini dulu deh penjelasannya. DAN AKHIRNYA NYAMPE JUGA PAS COLONELLO KETEMU MAMMON DAN MAMMON SADAR KALO SEMUA ANAK BUAHNYA MASIH HIDUP /o/ /saya sujud syukur/ eh tapi dia masih belum tahu kalau Fon masih hidup soalnya juga Colonello nggak bilang /plak. Sampai sini udah lumayan kebentuk ceritanya, mungkin sih /tamparin. Btw mohon maaf atas segala kekurangan dalam fanfic ini ya (sampe ada yang anuanu nyerempet lagi ihiy /plak). Semoga kalian menikmatinya hingga chapter ini /bungkukin badan/. Jangan ragu buat nanya dan komentar di kolom review ya ;) /kedipin/ /EI. Sampai jumpa di karya saya selanjutnya dan karya yang lain!

-Salam-

Profe Fest