"Ho, kau sudah cukup berani untuk memberiku tatapan itu rupanya, Mammon," komentar Fong seraya menatap dingin manik violet Mammon yang menatapnya penuh tekad kuat itu. Mammon terdiam, meneguk ludah paksa. Ia sadar bahwa ia masih lemah untuk melawan orang yang paling berkuasa di Ravka saat ini, namun jika tidak sekarang, maka tak akan pernah ada kesempatan untuknya melawan pria ini.
"Tapi," belum sempat Mammmon mengatakan sesuatu, Fong kembali memotongnya, "itu saja tidak akan cukup untuk membuatku tunduk," lanjutnya.
"Itu bukuku, Sialan! Kau harus mengembalikan hakku!" sembur Mammon seraya berusaha bangkit.
"Hakmu saat ini hanyalah diam dan berdiri di sampingku seperti seorang ratu yang baik-baik saja dan terlihat bahagia akan menjadi pengantinku," ralat Sang Kelam dingin.
"Siapa yang sudi menjadi—"
"Pengantinku?" potong Fong cepat. Mammon membungkam bibirnya, kembali meneguk ludah. Sungguh, apa selain memanggil kegelapan dan sebagai penguat gelombang hidup, pria ini juga punya kekuatan membaca pikiran?
"Kau memang tak akan sudi, Mammon, aku tahu itu. Tapi apa kau pikir kau bisa melawan kuasaku sekarang seorang diri?" tanya pria bermanik hitam itu dingin.
Aku tidak sendiri. Aku punya orang-orang yang bersedia membantuku dan bukan berlutut karena takut padaku, Sialan. Mammon mengalihkan pandangannya, berusaha tak terlalu mencolok atau pria itu akan tahu semua rencananya—bahwa dia hanya umpan belaka.
"Dan lagi, bukankah pidatomu di ruang eksekusi amat menyentuh, hm?" tanya Fong seraya menggulum sebuah seringai tipis. Mammon terkesiap, ia kembali menoleh ke arah sang penguasa kegelapan. Mata keduanya kembali bertemu, namun kali ini Mammon tahu pasti bahwa ia kini berada di bawah kuasa tatapan jelaga hitam yang amat mengintimidasi.
"Kau berperan sangat baik, begitu menyentuh hingga seluruh makhluk di sana merasa kau berkata seperti itu untuk menggodaku, untuk menyeretku agar lebih mencintaimu dan bersenang-senang denganmu daripada mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan kerajaan," Fong mendekatkan wajahnya pada pemuda mungil yang masih dalam posisi terduduk di lantai.
"Aku tidak tahu apa rencanamu, Mammon. Aku belum tahu," kata Sang Kelam dengan nada rendah hingga lebih terdengar seperti berbisik. "Tapi, setelah aku tahu, jangan berharap kau bisa melakukan hal sesukamu. Aku punya banyak waktu mengurusi kerajaan ini agar jatuh ke tanganku selamanya dan bermain-main dengan rencana anak-anakmu, Mammon," lanjutnya.
Mammon melebarkan matanya, Sang Kelam kemudian menjauhkan wajahnya dan kembali berdiri tegak di depan sang Pemanggil Matahari.
"Dengar ini, Mammon. Seperti yang kubilang, aku belum tahu apa rencanamu. Tapi kalau kau ingin berperan sebagai seorang yang mencintaiku dan tak sabar menjadi pendamping hidupku, maka aku juga akan berperan sebagai orang yang sama mencintaimu, rela melakukan apapun untukmu, dan tak sabar menjadikanmu milikku sepenuhnya," kata Sang Kelam panjang lebar.
Mammon membeku dalam posisinya, tak tahu apa yang dirasakannya. Apa dia harus bersorak senang karena Fong bersedia mengikuti alur mainnya atau memaki dirinya karena dengan begini Fong dan otak sintingnya akan melakukan hal lain yang lebih mengerikan padanya—mungkin seperti menciumnya di depan umum atau mungkin lebih gila lagi. Fong mengangkat sudut bibirnya, membiarkan seringai tipis kembali tersungging rapi di bibirnya.
"Selamat terjebak di permainanmu sendiri, Mammon," ucap Fong sembari membalikkan badan, kemudian kembali melangkah sepanjang lorong Istana Kecil, membiarkan Mammon yang masih terdiam membeku.
.
.
Title: Last Hope
Disclaimer: Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira
Grisha Trilogy by Leigh Bardugo
Warning: Grisha Trilogy!AU, BL, OOC, Fon dibuat menjadi dua orang, typo(s). Alternative ending dari Siege and Strom. Possibily harem. Mengandung spoiler Grisha Trilogy.
.
.
.chapter 5.
.
.
Untuk petir; yang suaranya tak pernah gagal mengejutkanku.
.
.
"Haaah," Colonello membuang napas panjang dengan berat. "Mammon itu benar-benar deh, kora! Seenaknya saja menyuruh ini-itu, padahal dia sendiri tak tahu apa yang tengah dihadapinya," gerutunya.
Colonello, Alaude, dan seorang pemuda yang tergabung dalam kelompok orang yang meledakkan bom di dekat Istana Besar kini tengah mengistirahatkan diri di hutan yang berada di sekitar Petrazoi. Untungnya mereka hanya memakan waktu setengah hari untuk menyelamatkan si pemuda otkazat'ya dari penjagaan beberapa tentara Sang Kelam yang tengah mengawalnya ke luar dari Os Alta, kemudian pergi dan sampai di hutan dekat Petrazoi hanya dalam setengah hari.
"Kau sendiri tak tahu apa yang tengah kau hadapi, Fjerdan," desis Alaude sembari duduk bersandar pada batang pohon besar di belakangnya. "Kau baru saja melibatkan dirimu dan mempertaruhkan nyawamu dengan membawaku pergi dari Istana Kecil dan menyelamatkan otkazat'ya ini," sambungnya. Mata pria itu yang hanya tinggal sebuah terarah pada pemuda biasa yang termasuk ke dalam kelompok orang yang meledakkan bom di dekat Istana Besar. Colonello membunuh semua tentara Sang Kelam yang mengawal si pemuda dan membawa lari pemuda tersebut—voila! Setelah tak berhasil membawa Pemanggil Matahari, kini Colonello terancam menjadi buron yang kepalanya akan dihadiahi beberapa keping emas.
"Kau jadi membuatku takut," kekeh si lelaki pirang seolah semuanya hanya sebuah permainan dan ia tak tengah membuat kesalahan. "Entahlah. Aku hanya percaya pada insting dan tak pernah menaruh kepercayaan pada siapapun. Kau tahu sendiri bagaimana Fjerda memperlakukan beberapa orang yang ketahuan adalah Grisha. Para Grisha itu dibakar hidup-hidup di tengah kota, aku melihat semua dari kami dipanggang seperti daging bakar yang siap disajikan di musim panas, yeah!" Colonello terkekeh, namun Alaude tetap diam dan membiarkannya bicara meski sejenak ia bicara seperti orang gila karena tertawa ketika bercerita ia melihat beberapa orang dibakar di depan matanya.
"Tapi, ya, akhirnya aku berhasil selamat sebelum orang-orang itu menemukanku. Yaah, sebenarnya beberapa sudah menemukan jati diriku sebagai Grisha, lalu aku membakar mereka dengan kekuatanku dan membiarkan mereka mengetahui bagaimana rasanya dibakar lebih dulu," Colonello mendongakkan kepalanya, menatap langit bertabur bintang, mengenang masa lalunya.
"Lalu aku menyusup ke kapal yang melewati perbatasan dan tiba di Novyi Zem entah bagaimana detailnya. Aku hanya ingat begitu tiba di sini rasanya aku cukup merasa aman. Awalnya aku ingin hidup damai di Novyi Zem, tapi kehidupan biasa memang tak cukup untuk seorang Grisha kan, kora?" Colonello mengalihkan tatapannya dan menatap Alaude sembari menyengir.
"Aku dengar bahwa Pemanggil Matahari ditemukan di sini dan cukup penasaran padanya. Aku menjejakkan kakiku di Ravka, kemudian mengabdi sebagai Tentara Kedua, lalu entah bagaimana bisa cukup dekat dengan Dokuro Mammon dan menjadi salah satu Grisha yang berpihak dengannya." Colonello mengakhiri kisahnya, ia mengantongi tangan kanannya, berusaha membiarkan waktu menariknya tetap di masa lalu.
"Wah wah, itu cerita yang cukup mengharukan," puji sebuah suara.
Colonello menyambar senjata laras panjang yang memang dibawanya dan memasang kuda-kuda. Alaude sendiri segera bangkit dan bersiaga, sepertinya Pemanggil Matahari memang tak cocok berperan menjadi umpan dan hanya memberi mereka setengah hari hanya untuk mengistirahatkan diri sejenak di hutan di sekitar Petrazoi tanpa sempat menjejakkan kaki di Katedral Putih.
Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, membuat Colonello dan Alaude semakin bersiaga, bersiap dengan segala kemungkinan terburuk—bahwa mungkin saja itu adalah salah satu tentara pribadi Sang Kelam. Dan jika itu sungguhan terjadi, maka mereka tak akan segan bertransformasi menjadi pembunuh di sini.
"Ohh~, Grisha dari Fjerda rupanya. Rambut pirang dan mata birumu itu benar-benar mencolok, setiap orang pasti akan langsung mengetahui dari mana asalmu. Aku jadi heran, bagaimana caramu bisa melarikan diri dari Os Alta dan terdampar di hutan Petrazoi ini?" tanya suara yang sama dengan nada main-main.
"Cara yang sama dengan cara yang kugunakan untuk kabur dari Fjerda," jawab Colonello sembari mengokang senjatanya.
"Hoo. Dan, apa ini? Kau guru dari Sang Kelam, kan? Sedang apa di tempat terpencil begini? Pondok dengan perapianmu tak cukup menghangatkanmu lagi?" tanya suara tersebut—masih sembari melangkah mendekat.
"Apa kau sebegitu ingin tahu?" desis Alaude sinis.
Suara itu tertawa pelan—dan sepertinya sedikit ditahan. "Apa yang kalian cari dengan berada di sini? Berusaha kabur ke mana?"
"Kau boleh tahu jika sudah menjejakkan kaki ke alam baka sana, kora!" cetus Colonello sembari menembakkan sebuah timah panas ke arah suara tersebut asal.
Sepertinya peluru itu dapat dihindari dengan mudah, terbukti setelahnya terdengar sebuah tawa dari suara yang sama.
"Kalian tak pernah tahu bahwa menembak anggota kerajaan bisa digolongkan tindak pengkhianatan, eh, ushishishi~." Orang itu tertawa. Colonello dan Alaude membelalakkan mata—meski Alaude lebih cepat menyamarkannya dan langsung mendengus—, pasalnya mereka mengenali suara tawa tersebut, suara tawa yang amat khas dan hanya dimiliki satu orang.
"Oh astaga …," Colonello tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Sudah kuduga kau belum mati," dengus Alaude sinis.
"Wah, wah. Jadi tersanjung, ushishi," kata suara itu, namun lebih santai.
Sosok pemilik suara itu ke luar dari balik bayang pepohonan, menaikkan sudut bibirnya penuh percaya diri namun di mata Alaude itu lebih terlihat seperti seringai tolol. Rambut pirang acak-acakan dengan poni panjang hingga menutupi matanya masih sama, namun sepertinya jadi lebih panjang ketimbang Colonello terakhir kali melihatnya di istana.
"Ushishishi~, yo. Sepertinya aku bisa dapat informasi penting dari Os Alta nih. Kalian baru saja kabur dari sana, kan?" tanya sosok itu—yang sebenarnya sama sekali tak membutuhkan jawaban.
Colonello dan Alaude berpandangan, sebelum akhirnya Colonello memilih membungkukkan badan layaknya ksatria dan Alaude hanya berdiri tak merespon.
"Maafkan kelancangan saya telah menembak Anda barusan, moi tsarevich," kata Colonello. "Dan suatu kehormatan juga dapat bertemu dengan Anda—"
"—Pangeran Kedua Kerajaan Ravka, Belphegor. Semoga kau selalu dilindungi demi kejayaan negeri ini, moi tsarevich."
.
.
.
"Jadi, apa saja yang kalian dapatkan dari Os Alta?" tanya Belphegor sembari ikut duduk diantara kedua orang tersebut.
"Bisa jangan pakai kata 'kalian'? Kau tak akan dapatkan apapun dariku," kata Alaude tanpa melirik kedua orang itu.
"Ushishi~. Aku lupa kalau tak mungkin guru dari Sang Kelam mau mebocorkan informasi," balas Bel seraya menyunggingkan seringainya yang khas. Alaude diam, tak berniat menanggapi.
"Bagaimana Anda bisa berada di sini, moi tsarevich?" selidik Colonello.
"Ushishishi, kapal buatanku itu tak semudah itu bisa ditemukan tahu." Bel menyeringai makin lebar, membanggakan diri. Namun, sedetik setelahnya seringai itu lenyap dan berganti menjadi ekspresi yang serius.
"Kalian tahu di mana Mammon?" tanya Bel serius.
Colonello mengangguk. "Dia dikurung di Istana Kecil, pergerakannya dibatasi dan diawasi hanya di sekitar istana. Aku sempat bertemu dengannya di istana," jawabnya.
"Kau bertemu dengannya? Bagaimana bisa?" selidik Bel.
"Yaah, sebenarnya aku penyusup yang baik. Karena itu juga aku bisa kabur dari Fjerda," Colonello menaikkan sudut bibirnya. "Aku menyusup ke istana, tapi beberapa orang yang kubawa—terdiri dari orang-orang yang Sang Pendeta kumpulkan dan bersumpah mengabdi pada Pemanggil Matahari—malah membuat ledakan di sekitar Istana Besar. Memang sih berkat itu juga seluruh Grisha teralih perhatiannya. Karena itu juga Dokuro Mammon bisa berada di Istana Kecil seorang diri tanpa pengawasan," jelasnya.
"Sang Pendeta? Kau bekerja sama dengannya?" tanya Bel lagi.
"Emm … kau yakin aku bisa memberitahukan itu di sini?" tanya Colonello. Manik biru langitnya melirik Alaude yang sedari tadi diam dan menghiraukan eksistensi mereka, namun matanya yang hanya tinggal satu itu tetap terbuka tanda bahwa ia tak tertidur.
"Aku tak akan dapat keuntungan apapun untuk mengetahuinya atau membocorkannya," kata Alaude kalem.
Bel terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Teruskan."
"Moi tsarevich," jawab Colonello patuh. "Para Grisha Dokuro Mammon mendapat bantuan dari Sang Pendeta dan bersembunyi Katedral Putih. Di sana, Sang Pendeta juga terus mengumpulkan orang-orang biasa yang bersedia bersumpah untuk setia pada Pemanggil Matahari. Aku mendapat tugas dari Sang Pendeta untuk membawa lari Dokuro Mammon dari Os Alta. Untuk itu juga Sang Pendeta mengutus beberapa orang biasa yang berhasil dikumpulkannya bersamaku. Dan, yaah, beginilah hasilnya. Hanya aku dan orang itu yang selamat," jelas Colonello panjang lebar. Lelaki pirang itu mengarahkan dagunya pada pemuda biasa yang tergabung dalam kelompok orang yang meledakkan bom di dekat Istana Besar, ia masih tak bersuara.
Bel terdiam, tangannya mengetuk-ngetuk akar pohon yang besar dan keluar dari tanah, berpikir sejenak. Untuk beberapa lama, suasana di sana diambil alih oleh sunyi. Kadangkala angin malam berhembus dan menggelitik kulit mereka, namun diabaikan.
"Lalu, kenapa Mammon memilih tak ikut bersamamu? Kau bilang kau berhasil menemuinya." Bel menatap Colonello tajam. Colonello bisa merasakan tatapan sang pangeran kedua meski kedua matanya tertutup poni panjangnya.
"Mammon memilih tak ikut denganku karena jika dia ikut denganku, maka Sang Kelam tak akan melepaskannya dan akan terus memburunya serta seluruh Grisha yang berpihak padanya sampai mampus—omong-omong, dia sendiri yang mengatakan ini. Dan dia memberiku instruksi rencana baru dan memerintahkaku untuk kembali ke Katedral Putih," jawab Colonello.
"Katedral Putih?" ulang Bel tak mengerti.
Colonello sebenarnya merasa cukup keberatan menjelaskan untuk kedua kalinya namun ia tetap menjawab. "Ada sebuah tempat yang lenyap dari peta Ravka selama bertahun-tahun, moi tsarevich. Tempat itu adalah gua yang ditemukan Sang Pendeta yang tempatnya di arah barat Os Alta."
"Dan ... tempat ini pintu masuknya?" tanya sang pangeran.
Colonello menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Bel tampak menimbang-nimbang, berusaha mencari pilihan terbaik yang harus diambilnya sekarang.
"Baiklah," Bel berdiri, kemudian merapikan pakaian ala bangsawannya. "Kau bisa menunjukkan jalan menuju tempatnya, Grisha Fjerda?" tanyanya.
"Anda—" Colonello membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Bel menyunggingkan sebuah seringai khasnya. "Aku yakin kau tidak tuli, Grisha dari Fjerda."
"Moi tsarevich," panggil sebuah suara dari kegelapan, berbeda dengan tiga lelaki tersebut, suara barusan lebih tinggi dan khas perempuan. Ketiga lelaki itu menolehkan kepala, Colonello dan Alaude sedikit bersiaga begitu mendengar langkah kaki, namun Bel tetap diam dalam posisi santainya.
Seorang perempuan berambut biru tua pendek sebahu dan memiliki sepasang bola mata berwarna merah bata—Lal Mirch namanya—melangkah mendekati ketiga—keempat jika si pemuda yang termasuk kelompok orang yang memasang bom juga dihitung—orang tersebut dengan langkah santai namun tegas. Ia terus melangkah hingga ketika jaraknya cukup dekat dengan Belphegor, ia berhenti dan segera berlutut dengan mengepalkan tangan kanan dan menaruhnya di dadanya.
"Kapal sudah berada di tempat yang aman dari pantauan, menunggu perintah Anda, moi tsarevich," kata Lal dengan kepala tertunduk.
"Ah, ya. Sangat membantu, Lal," jawab Bel santai.
"Kenalanmu?" tanya Colonello seraya mengarahkan mata birunya pada perempuan itu.
Bel menyeringai mendengar pertanyaan itu. "Orang kepercayaanku," ralatnya.
"Siapa mereka, moi tsarevich?" selidik Lal waspada. Mata merah batanya memandangi setiap lelaki di sana bergantian dengan tajam.
"Orang-orang yang berpihak pada Pemanggil Matahari," jawab Bel tanpa keraguan dalam nada suaranya.
"Begitu …," tanggap Lal lambat. Ia menghembuskan napas sejenak dan beranjak dari posisinya, kemudian mengarahkan pandangannya pada seluruh lelaki yang belum dikenalnya itu.
"Namaku Lal Mirch, orang kepercayaan pangeran kedua Belphegor sekaligus mata-mata yang sering mencari informasi mengenai Pemanggil Matahari," kata Lal memperkenalkan diri.
"Sering ke kota?" tanya Colonello sedikit terperengah. Lal menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Wao, lumayan," dengus Alaude, tanpa sadar ia menaikkan sudut bibirnya, tak mampu menyembunyikan keterkejutan sekaligus mengakui kehebatan wanita di depannya ini. Keluar-masuk kota mencari informasi sementara tentara Sang Kelam ada di mana-mana dan selalu mengawasi setiap penjuru? Hebat—kalau tak mau dibilang nekat, sih.
"Aku baru saja kembali dari kota di dekat sini, kudengar ada serangan dadakan dari orang-orang awam—dan tolol, kalau mau ditambahkan. Sepertinya pelakunya adalah kalian, eh?" selidik Lal seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Yaah," Colonello menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. "Sebenarnya bagian ledakannya itu untuk bagian terakhir, tapi orang-orang ini malah bertindak di luar rencana," katanya seraya melirik satu-satunya pemuda yang selamat dari kelompok yang meledakkan bom tersebut.
"Oh ya, Lal, mengenai kapal, pengurusannya akan kuserahkan padamu selama beberapa hari. Jaga dan awasi kapal," perintah Bel sembari ikut berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Apa Anda punya rencana baru, moi tsarevich?" tanya Lal seraya menatap sang pangeran.
"Aah. Aku akan mengikuti orang-orang ini ke Katedral Putih dan membawa seluruh Grisha yang mengabdi pada Pemanggil Matahari ke permukaan untuk bergabung dengan kita," jawab Bel.
Lal tersentak, mata merah batanya melebar. Membiarkan seorang pangeran kedua Ravka untuk ikut dengan orang-orang asing yang baru dikenal selama beberapa menit tanpa pengawalan? Dia pasti gila kalau langsung menyetujuinya.
"Tapi, moi tsarevich—"
"Tidak ada tapi, Lal. Ini keputusanku. Aku akan ikut dengan mereka sementara waktu dan kau harus menjaga kapal. Aku tidak punya orang lain lagi yang bisa kupercaya untuk melakukan ini," potong sang pangeran cepat.
"Sebuah keputusan harus dibuat berdasarkan keputusan yang matang! Anda seharusnya mengetahui itu, moi tsarevich! Anda tak bisa langsung memutuskan untuk ikut dengan orang-orang asing ini!" balas Lal keras kepala.
"Well, itu agak menyinggungku. Aku tak suka dikatakan sebagai 'orang asing'," celetuk Colonello.
"Aku tidak minta pendapatmu," desis Lal seraya menyipitkan matanya,
"Jadi, Lal, kau pikir aku akan mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang?" tanya Bel tajam.
"Mohon maafkan kelancangan saya berbicara seperti ini, moi tsarevich. Tapi saya mohon, tolong pertimbangkan lagi keputusan Anda. Anda adalah harapan terakhir Ravka dan Pemanggil Matahari di sini," kata Lal mengingatkan sembari kembali berlutut dan menundukkan kepalanya.
"Tidak ada yang harus dipertimbangkan lagi, Lal," sahut Bel. Ia berbalik, kemudian mendongakkan kepala dan memilih memandangi dirgantara malam itu. "Sudah waktunya bagi mereka untuk ke luar dari persembunyian, begitu juga dengan kita. Sebagai awal, bukankah tak salah membuat mereka disambut seorang pangeran?" lanjutnya sembari memamerkan seringai lebarnya yang khas.
"Kenapa harus Anda yang melakukannya?" tanya Lal. Kali ini ia memilih menatap sang pangeran dengan manik merah batanya.
Bel kembali berbalik, seringai tadi tetap bertahan di bibirnya, bahkan mungkin bisa dibilang malah semakin melebar. "Karena satu-satunya orang yang pantas merencanakan dan mendapat kehormatan untuk menyelamatkan seorang putri yang terkurung itu tugas seorang pangeran, kan?"
.
.
.
"Ada perlu apa para Grisha ini memintaku datang ke mari?" tanya Sang Pendeta tanpa basa-basi begitu memasuki ruangan di mana Fon dirawat yang sebelumnya juga dikatakan akan dipakai untuk kepentingan seluruh Grisha Pemanggil Matahari.
Seluruh Grisha—juga Fon—melempar pandangannya pada perempuan berbalut gaun putih panjang itu dengan tatapan curiga, namun Luce tetap balas memandangi mereka datar, bahkan terkesan angkuh.
Fon mengatur posisi duduknya, kemudian memecah bisu yang terjadi diantara mereka. "Pendeta, apa kau tahu di mana Colonello?" tanyanya.
"Kenapa kau bertanya padaku perihal Grisha Fjerda itu?" balas Luce tajam.
"Jangan sok bertanya balik," dengus Gokudera. "Hanya kau yang paling tahu siapa saja dari penghuni tempat ini yang keluar-masuk tempat persembunyian," lanjutnya ketus.
Luce tak menjawab, dipandanginya setiap orang di sana satu per satu cukup lama dengan tajam. Setiap orang di sana ikut membisu, mereka enggan bersuara untuk meredakan hening yang gerah ini bahkan beberapa juga lebih memilih menatap balik mata biru Sang Pendeta tajam. Cukup lama hening yang mencekik itu bertahan hingga akhirnya Luce menurunkan dagunya dan berbalik menyunggingkan senyum misteriusnya.
"Ini semua untuk kejayaan Pemanggil Matahari," jawab perempuan bergaun putih itu tenang.
"Apa maksudmu?" tanya Spanner yang akhirnya ikut buka suara di sana.
"Aku mengirimkan beberapa orangku dan Grisha Fjerda itu ke istana untuk membawa lari Sankta Mammon dari istana," jawab Luce tenang.
Semua tersentak, bola mata mereka melbar seketika. G yang memang bertempramen rendah sontak menggebrak meja yang kebetulan juga berada di dekatnya, sepasang bola mata magenta milik pria bertato api itu memancarkan kemarahan yang meletup-letup. "Kau sinting?! Itu sama saja dengan bunuh diri!" sembunya gusar.
"Grisha Fjerda itu tahu seluk beluk istana. Aku yakin itu bukan masalah untuknya. Ia bisa ke luar dari Fjerda seorang diri tanpa tertangkap tentara di sana untuk dibakar hidup-hidup, kan?" bela Luce tenang.
"Dengar ini, Sialan," G menunjuk-nunjuk wajah Sang Pendeta kasar, "di dalam sana ada musuh terbesar kita dan seluruh Grisha, Sang Kelam. Di luar dinding Os Alta, di setiap penjuru kota, Sang Kelam telah memerintahkan setiap Grisha pribadinya untuk melacak keberadaan kita termasuk Colonello. Benci mengakuinya, tapi hanya tempat ini yang aman dari semua itu. Menyuruhnya ke luar dari sini sama saja dengan mencari mati!"
"Aku tak peduli. Kalian seharusnya tahu prioritasku hanyalah Sankta. Aku tak peduli pada kalian," jawab Sang Pendeta tanpa beban.
G terlihat sekali sudah tak sanggup menahan amarahnya, pria itu melangkah, mencoba mendekati perempuan bergaun putih tersebut namun Fon lebih dulu mencegahnya dengan merentangkan sebelah tangannya demi mencegah pria bertato api itu lebih mendekati Sang Pendeta dan melakukan beberapa hal—seperti mengoyakkan jantungnya, mungkin.
"Pendeta, apa kau tahu kira-kira mereka ada di mana?" tanya Fon tenang, berusaha meminimalisir ketegangan yang mencekik mereka dalam ruangan.
"Menurut perhitunganku, seharusnya mereka sudah sampai saat ini. Tapi sepertinya terjadi beberapa hal yang ada di luar perhitungan," jawab Luce. Wanita itu kemudian menangkupkan kedua tangannya dan menaruhnya di depan dadanya seraya memejamkan mata, lalu berkata, "Semoga Sankta Mammon bersama mereka."
"Wah, sayang sekali, yang bersama 'mereka' bukanlah Pemanggil Matahari," celetuk sebuah suara.
Seluruh makhluk yang ada dalam ruangan itu tersentak, mereka segera mengalihkan pandangan masing-masing ke arah pintu, menemukan benda berbentuk persegi panjang yang semula menutup ruangan itu untuk menjaga privasi pembicaraan mereka di sana telah terbuka lebar entah sejak kapan. Seorang lelaki dengan langkah yang cukup angkuh berjalan mendekati mereka, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Ada dua orang—tiga sebenarnya, namun satu lagi tengah dibopong salah satu dari dua orang tersebut—yang mengikuti langkah lelaki itu, menambah keterkejutan seluruh makhluk yang tadinya tengah berseteru tegang sebelum mereka datang.
"Apa kabar kalian, para Grisha yang telah berikrar mengikuti Dokuro Mammon hingga akhir hayat?" tanya lelaki itu dengan dagu dinaikkan, namun suaranya justru memancarkan nada lega sekaligus senang dapat melihat mereka semua ada di sana.
"Itu—" Spanner kehilangan kata-katanya.
"Tidak mungkin …," desis Haru tanpa mengalihkan tatapannya seraya membekap mulutnya, matanya melebar tak percaya, namun kedua bola matanya memancarkan kelegaan.
Fon menghela napas, namun sebuah senyum tipis segera tersungging di bibirnya. "Apa kebiasaanmu untuk membuat kejutan itu belum lenyap?" tanyanya setengah tertawa mengejek.
"Kulihat kau sehat, eh, Hibari Fon," kata lelaki tadi tanpa memedulikan pertanyaan pemuda berkepang itu.
"Aku baru saja sadar dari koma, kalau kau mau tahu," ralat Fon tenang.
Lelaki tadi terkekeh. "Kau tidak berubah meski Mammon tak ada di sampingmu, eh," cetusnya.
"Kau sendiri juga tak berubah," Fon menaikkan sudut bibirnya samar, "Pangeran Kedua Kerajaan Ravka, Belphegor."
.
.
.
.tbc.
.
.
.
A/N : AKHIRNYA INI SELESAI JUGA CHAPTERNYA /O/ Kalian harus tau buat ini itu harus kayang terus jungkir balik dulu, abis saya ngerasa akhir-akhir ini gaya bahasanya kurang luwes(?) kayak pertama sih Orz Mohon maaf ya yang kecewa sama chapter ini, bahkan jumlah words-nya juga kurang dari biasanya lel. Saya juga mau curhat saya lelah dengan tugas ekonomi, akuntansi itu menyiksa! Sama kayak liat fisika! /gak /sotoy. Mana UAS pertama lagi ... /tepar/ /oi. Uh oh! Saya baru ingat! Yup yup, moi tsarevich itu panggilan untuk pangeran! /o/ Kalau moi tsar itu untuk raja dan moya tsaritsa untuk ratu.
Dan juga, saya mau berterima kasih sekali pada para pembaca setia fanfic ini dan siapapun yang menominasikan fanfiction ini ke dalam IFA, jujur saya juga kaget fanfic ini nongol tanpa saya ketahui, pokoknya terima kasih banyak untuk semua dukungan kalian saya bener-bener terharu :"D Selain itu, saya juga mau mengucapkan terima kasih pada para juri IFA 2015 karena fanfiction ini bisa masuk ke dalam polling untuk IFA 2015, terima kasih banyak! Saya nggak tahu harus bilang apa lagi, banyak perasaan yang berkecamuk dalam diri saya saat mengetahuinya. Memang hanya sekedar masuk polling, namun itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuk saya :"D intinya terima kasih tak terhingga untuk kalian semua ya! Oh ya, jangan lupa untuk mendukung fanfiction favorit kalian di IFA 2015! Sekarang sudah masuk bulan untuk polling lho! Mari ramaikan IFA 2015! /o/
Terus … dari sini, jujur, saya nggak tau harus ngejelasin apa, jadi kalau ada yang punya pertanyaan tuangin aja di kotak review, ya? Saya minta maaf untuk segala kekurangan dalam fanfiction ini mulai dari OOC, tipo, dsb. Saya tunggu review kalian yoo /o/
-Salam-
Profe Fest
